Keesokan harinya..
Pagi-pagi sekali aku sudah bangun. Cuaca yang dingin membangunkanku dari tidur. Kulihat jam di kamar menunjukkan pukul 6 pagi. Aku masih telanjang, kulihat Indah dan Citra juga masih tertidur disampingku. Mereka juga sama-sama telanjang, nampak mereka sangat kelelahan. Kemudian aku teringat bahwa tadi malam kami baru mengadakan party sex. Gila juga Pak Indra dan Muklas. Indah yang kalah bermain poker harus rela tubuhnya menjadi santapan Pak Indra dan Muklas. Walau awalnya meronta-ronta tapi akhirnya dia pasrah juga. Dia dikerjaiin hampir orgasme berkali-kali. Penjaga villa itu sepertinya nggak ada habis-habisnya. Habis menggenjot Indah dia menggenjotku dan Citra lagi secara bergantian. Aku sudah 3 kali orgasme sedangkan Indah dan Citra masing-masing 4 kali. Total kami sudah orgasme 10 kali sedangkan mereka berdua baru satu kali satu kali. Mereka jauh lebih hebat dari cowok-cowok di kampus kami dan cowok-cowok yang pernah tidur denganku.
Kemudian aku bangun, masih terasa lengket pada mulut dan seluruh badanku, lengket gara-gara sperma atau air liur. Kulihat ke sebelahku Indah dan Citra juga nggak jauh beda, buah dada Citra yang sekal nampak kemerahan dan ada bekas cupang di sana sini. Sedangkan pada mulut dan wajah Indah banyak sisa-sisa sperma.
Aku coba untuk memejamkan mata, berusaha untuk tidur, tapi tidak bisa. Kemudian kuputuskan untuk mandi. Air yang sangat dingin di puncak dapat menyegarkan tubuhku. Pelan-pelan kurasakan enak di badanku. Sehabis mandi kuputuskan untuk lari pagi sambil menikmati udara puncak yang segar. Segera kugunakan celana pendek yang sangat ketat sehingga celana dalamku tercetak disana. Lalu kugunakan baju tangan panjang karena cuaca dingin. Kemudian aku lari pagi menikmati udara puncak yang dingin.
Setelah capek lari pagi, akhirnya aku balik ke villa. Citra dan Indah masih tertidur di kamar. Aku ingin membangunkan mereka tapi mereka masih tampak kelelahan sehingga kuurungkan niatku. Aku melap keringatku yang basah, kemudian aku ganti baju. Sebenarnya sih aku ingin telanjang saja sambil melakukan aktivitas di didalam villa. Tapi karena cuaca dingin kubatalkan niat "gila" ku. Kugunakan tanktop warna merah kesukaanku dan celana pendek yang fuul press. Sehingga menampakkan keindahan tubuhku. Aku tak henti-hentinya menatap tubuhku yang indah di meja rias. Aku saja sangat mengaguminya, gimana lagi dengan cowok-cowok?
Kemudian aku pergi ke dapur. Aku ingin memasak supermi, karena perutku sangat lapar. Aku ingin menghidupkan kompor tapi nggak ada korek api. Lalu kucari Pak Indra.
"Pak.. Pak Indra!" teriakku mencari Pak Indra. Ternyata Pak Indra sedang menyapu halaman di belakang.
"Pagi Neng!" katanya melihatku.
"Sudah bangun ya?"
Aku hanya mengangguk sambil meminta korek darinya.
"Neng, tadi malam asik banget ya" katanya sambil memberi korek
"Mau nggak nanti bapak entot lagi?"
Aku hanya mengangguk. Nggak ada puas-puasnya si tua bangka ini mengerjain tubuhku. Sudah hampir seharian kemarin dia memacu tubuhku dan teman-temanku, sekarang mau minta lagi.
"Tapi ntar aja ya pak, masih capek nih, lapar lagi!" kataku sambil pergi ke dapur.
Akhirnya aku memasak supermi dan makan. Sebenarnya aku ingin membangunkan kedua temanku. Karena aku ingin jalan-jalan bareng mereka. Tapi lagi-lagi kuurungkan niatku. Aku nggak tega juga menggangu tidur mereka. Mungkin nanti aja jalan-jalannya setelah mereka bangun, pikirku.
Setelah selesai makan aku pergi ke dapur untuk membereskan piring kotor. Selagi aku mencuci piring, Pak Indra datang kedapur. Kami bercakap-cakap tentang berbagai hal. Tentang istrinya yang sudah lama pergi meninggalkannya, sehingga dia sangat sulit untuk melampiaskan nafsunya jika lagi "pengen". Sambil bercakap-cakap Pak Indra tak hentinya melihat-lihat tubuhku. Dia mencuri-curi melihat dadaku dari celah tanktopku yang tak tertutup. Dia juga sesekali melihat pantatku yang bulat menonjol. Apalagi jika aku memakai celana ketat seperti ini. Pasti membuat libidonya serasa meledak-ledak
Kemudian Pak Indra mendekatiku dari belakang. Pertama-tama dia mengelus-elus lenganku yang putih mulus. Kubiarkan tangannya itu mengelus-elus tanganku. Dia mendekatkan mulutnya ke leher jenjangku. Dijilatinya dari atas sampai ke bawah. Tangannya yang kasar meremas-remas payudaraku dari luar sementara tangannya yang lain mengelus-elus pantatku.
Perlahan-lahan dilepaskannya celana ketatku beserta CDnya. Pantatku yang mulus dan sekal terpampang jelas didepan matanya.
"Ini baru namanya pantat" katanya sambil menepuk pantatku.
Kemudian disusul dengan melepas tanktop dan braku. Sekarang aku dapat melihat diriku yang telanjang bulat melalui cermin wastafel di hadapanku. Dan dari belakang kulihat dia sedang mengagumi tubuhku dan mengelus-ngelusnya. Tangan bergerak dari dada ke punggungku. Aku mendesah sambil menggigit bibirku. Bibirnya menjilati punggungku dan sesekali kepalanya menyeruak melewati ketiakku untuk mengulum payudaraku.
Kemudian dibentangkannya pahaku lebar-lebar, tangannya mulai merayap ke bagian selangkanganku. Jari-jari besar itu menyusup ke pinggir kemaluanku, mula-mula hanya mengusap-ngusap bagian permukaan saja lalu mulai bergerak perlahan-lahan diantara kerimbunan bulu-bulu mencari liangnya.
"Oh.." hanya itu yang keluar dari mulutku.
Kurasakan benda basah menggelitik klistorisku. Pak Indra kini berada di bawahku dan menjilati belahan kemaluanku, bukan cuma itu dia juga mencucuk-cucukan jarinya ke dalam lubang itu sehingga kemaluanku makin lama makin basah saja.
Aku sungguh tidak berdaya oleh permainan lidah serta jarinya pada vaginaku, tubuhku mengejang dan cairan cinta menyembur dengan derasnya, aku telah dibuatnya orgasme. Tubuhku lemas dan penuh keringat.
Kemudian dia menyelipkan penisnya diantara selangkanganku lewat belakang. Aku mendesis nikmat saat penis itu pelan-pelan memasuki vaginaku. Setelah masuk semuanya langsung digenjotnya. Mula-mula perlahan-lahan tapi lama-lama makin cepat. Aku tidak kuasa menahan desahan, sesekali aku menggigit bibirku menahan nikmat, serta menggeleng-gelengkan kepalaku ke kiri-kanan sehingga rambut panjangku pun ikut tergerai kesana kemari.
Cermin di depanku memantulkan bayangan wajahku yang sedang horny, mulutku mengap-mengap mengeluarkan rintihan terlebih ketika tangan kasar itu meremas-remas kedua payudaraku sambil sesekali dipermainkannya putingku yang sudah mengeras.
"Ooohh.. enak banget Neng " celotehnya.
Setelah 15 menit kurasakan genjotan Pak Indra makin lama makin cepat. Ditambah remasannya di payudaraku yang semakin kuat. Aku sungguh tidak berdaya oleh permainan penisnya pada vaginaku, tubuhku mengejang dan kurasakan cairan cinta menyembur dengan derasnya.
"Ooohh.. Neng.. bapak.. keluar!" dan disusul "Creett.. creet.." maninya menyemprot dengan deras ke vaginaku. Kurasakan maninya mengalir di sela-sela bibir vaginaku. Aku sangat lelah sekali. Dia menopang tubuhku agar tidak jatuh.
Kemudian dipapahnya tubuhku. Aku kira akan dibawa ke kamarku melainkan ke belakang melewati dapur. Dia membawaku kekamarnya, dibaringkannya tubuhku ke ranjang. Demikian lelahnya aku, sampai tubuh seperti lumpuh dan mata terasa makin berat. Sebelum terlelap aku masih sempat mendengarnya berkata dekat kupingku
"Vagina Neng enak banget, bapak jadi ketagihan nih!", kemudian aku tertidur dengan lelapnya.
Aku terbangun ketika kurasakan ada yang meraba-raba vaginaku. Aku mendesah nikmat, kubuka mata, Ahh.. aku terbangun.. aku Terkejut sekali. Begitu mata kubuka langsung nampak sesosok tubuh berada diantara kedua belah pahaku yang terbuka lebar. Ketika kesadaranku berangsur-angsur pulih nampak sosok lelaki muda berbadan tegap. Ternyata dia Muklas, wajahnya berada dekat vaginaku sambil mengorek-ngorek liang itu dengan jarinya.
"Sudah bangun Neng?" tanyanya sambil kepalanya tidak lepas dari vaginaku.
"Eh.. eh.." anggukku di sela-sela kenikmatan yang mulai merasuki tubuhku. Kulihat Pak Indra sedang beristirahat di kursi di pojok kamar sambil mengisap rokok.
Kemudian Muklas melepaskan bibirnya dari vaginaku dan melepas ikat pinggang usangnya, lalu membuka celana berikut kolornya. Maka menyembullah kemaluannya yang sudah menegang dari tadi. Penisnya lebih besar dari punya Pak Indra, berwarna hitam dan berurat, aku takjub melihatnya.
Beberapa saat kemudian dia merentangkan kedua pahaku, betisku dinaikkan ke bahunya
"Neng.. bapak ewe sekarang ya!" kata Muklas tidak sabaran.
Aku melihat miliknya mulai mendesak masuk ke vaginaku,
"Ahk..ahh..!" itulah yang keluar dari mulutku saat dia menekankan dalam-dalam penis supernya hingga amblas seluruhnya, aku meringis sambil mencengkram lengannya.
"Ooohh.." Muklas mendesah setelah berhasil menancapkan kejantanannya di dalam kemaluanku.
Aku mulai merasakan penis itu bergerak keluar masuk pada vaginaku, mula-mula gerakan itu lembut, namun lama-lama bertambah kencang dan kasar. Aku mendesah-desah tidak karuan. Ditambah lagi tangannya yang ikut serta menggerayangi dadaku. Semakin membuatku menjadi-jadi. Pak Indra yang semula tadi hanya menganggur mulai datang mendekati ranjang. Dia ikut menjamah dan memilin dadaku. Sambil sesekali meremasnya dengan kasar.
"Akkhh..!" eranganku tertahan tatkala bibirku dilumat Pak Indra dari samping. Akupun merespon cumbuannya, lidah kami saling beradu. Aku sudah telanjur dilanda birahi. Sambil mencium bibirku, Pak Indra meremas dadaku yang semakin tegak.
Kemudian Pak Indra melepaskan mulutnya dari bibirku. Penisnya sudah menegang langsung ditancapkannya ke mulutku. Aku memasukkan lebih dalam ke mulutku lalu mulai memaju-mundurkan kepalaku. Kujilat dan kuhisap. Selain menyepong tanganku turut aktif mengocok ataupun memijati buah pelirnya. Pak Indra tampak mendesah desah.
Kemudian Muklas balikkan tubuhku dan menyuruhku menunggingkan pantat, ternyata dia ingin doggy stile. Akupun mengangkat pantatku memamerkan vaginaku yang merah merekah .
"Oouuhh.. muk!" itulah yang keluar dari mulutku dengan sedikit bergetar saat penisnya amblas ke dalamku. Dia mulai mengayunkan pinggulnya mula-mula lembut dan berirama, namun semakin lama frekuensinya semakin cepat dan keras. Aku mulai menggila, suaraku terdengar keras sekali beradu dengan erangannya dan deritan ranjang yang bergoyang. Dia mencengkramkan kedua tangannya pada payudaraku. Hujaman-hujaman yang diberikannya menimbulkan perasaan nikmat ke seluruh tubuhku.
Pak Indra meredam suaraku dengan menjejelkan penisnya ke lidahku, sehingga membuatku tidak bisa lagi menjerit. Dia sangat rakus memaju mundurkan penisnya di mulutku, sambil sesekali tangannya bermain di payudaraku.
Diserang dari dua arah begini sungguh membuatku kewalahan hingga akhirnya terasa dinding-dinding kemaluanku berdenyut makin kencang dan erangan panjang keluar dari mulutku disertai mengejangnya tubuhku. Tubuhku lemas dalam pelukan mereka. Tapi keganasan Muklas belum tampak mereda, dia masih bersemangat menyodokkan penisnya tanpa mempedulikan vaginaku yang masih terasa ngilu.
Pak Indra semakin semangat memaju-mundurkan penisnya di mulutku, dan akhirnya ejakulasi lebih dulu di mulutku, dia melenguh panjang dan meremas-remas rambutku saat aku mengeluarkan teknik mengisapku, kuminum semua air maninya, tapi saking banyaknya ada sedikit yang menetes di bibirku. Muklas juga sepertinya sudah mau orgasme, tampak dari erangannya dan cengkeramannya yang makin erat pada payudaraku. Maka kugoyang pinggulku lebih cepat sampai kurasakan cairan hangat memenuhi vaginaku. Akhirnya disemprotkannya maninya di vaginaku. Aku langsung ambruk karena tak kuasa menahan berat badanku.
Mereka kemudian membiarkanku istirahat sejenak. Sambil cerita-cerita mereka tak pernah berhenti merabai tubuhku. Aku yang sudah lemah hanya bisa pasrah. Toh.. percuma melarang mereka, mana ada lelaki yang haus sex membiarkan wanita cantik berbaring telanjang dihadapannya. Terutama Muklas, dia tak pernah melepaskan tangannya dari dadaku. Kadang diremas, kadang dipelintir dan kadang diisap-isap. Hal itu membuat dadaku makin mencuat keatas dan berwarna kemerahan. Setelah memberiku waktu untuk istirahat. Kembali kulihat penis-penis mereka mulai bangkit lagi. Aku hanya bisa pasrah saat Pak Indra mulai meremas payudaraku. Payudaraku yang sudah berwarna merah semakin merah saja saat mulutnya menjilatinya. Aku kembali mendesah saat perlahan-lahan mulutnya turun ke perutku dan langsung menjilati vaginaku. Birahiku mulai naik lagi. Kemudian kutarik Muklas agar mendekat ke arahku. Kujilati penisnya yang belum tegang benar. Dia mendesah-desah sambil memegang rambutku.
Kemudian Pak Indra melepaskan mulutnya dan langsung tertidur telentang. Aku mengerti maksudnya. Tanpa diminta lagi aku mengangkangi tubuhnya yang sudah rebah telentang di atas kasur. Ada sedikit rasa senang karena ini merupakan salah satu posisi favoritku yang sering kulakukan bersama cowok-cowok yang kencan denganku. Aku tanpa ragu menuntun penisnya yang sudah kembali mengeras ke arah vaginaku dan aku mengambil posisi menduduki tubuhnya. Dengan bernafsu kugoyangkan pinggulku diatas tubuhnya, bahkan aku ikut membantu kedua belah telapak tangannya meremasi payudaraku. Muklas menonton adeganku sambil mengocok-kocok penisnya, kadang-kadang tangannya iseng merabai pahaku.
"Ayo goyang Neng.. oohh!" Pak Indra sepertinya ketagihan dengan goyanganku, begitu juga Muklas, dia tidak tahan hanya menonton saja. Dia berdiri di sebelahku, penisnya mengacung di depan mukaku.
"Emut Neng.. ayo buka mulutnya!" sambil menjejalinya ke mulutku.
Aku membuka mulutku dan melakukan apa yang dia inginkan.
15 menit dalam posisi 'woman on top' sampai akhirnya tubuhku bergetar seperti menggigil lalu "Aaahh..!!"
Dengan panjang keluar dari mulutku, kepalaku mendongak ke atas menatap langitlangit kamar yang sepertinya berubah jadi banyak. Tubuhku melemas dan ambruk ke depan, ke dalam pelukan Pak Indra. Dia peluk tubuhku sambil penisnya tetap dalam vaginaku, kami berdua basah kuyup oleh keringat yang mengucur. Tapi tampaknya dia belum juga keluar, kembali tubuhku dipompanya. Tubuhku bergoyang diatas tubuhnya.
Goyangan kami terhenti sejenak ketika Muklas tiba-tiba mendorong punggungku sehingga pantatku semakin menungging dan payudaraku makin tertekan ke wajah Pak Indra. Muklas membuka pantatku dan mengarahkan penisnya ke sana
"Aduuh.. pelan-pelan Klas, sakit tau.. aww!" rintihku waktu dia mendorong masuk penisnya. Bagian bawahku rasanya sesak sekali karena dijejali dua batang penis besar. Kami kembali bergoyang, sakit yang tadi kurasakan perlahan-lahan berubah menjadi rasa nikmat yang menjalari tubuhku. Aku menjerit sejadi-jadinya ketika Muklas menyodok pantatku dengan kasar, kuomeli dia agar lebih lembut dikit. Bukannya mendengar, Muklas malah makin buas menggenjotku. Pak Indra melumat bibirku dan memainkan lidahnya di dalam mulutku agar aku tidak terlalu ribut.
Hal itu berlangsung sekitar 20 menit lamanya, sampai aku merasakan tubuhku seperti mau meledak, yang dapat kulakukan hanya menjerit panjang dan memeluk Pak Indra erat-erat sampai kukuku mencakar punggungnya. Selama beberapa detik tubuhku menegang sampai akhirnya melemas kembali dalam dekapan Pak Indra. Namun mereka masih saja memompaku tanpa peduli padaku yang sudah lemas ini. Erangan yang keluar dari mulutku pun terdengar makin tak bertenaga. Tiba-tiba pelukan mereka terasa makin erat sampai membuatku sulit bernafas, serangan mereka juga makin dahsyat, putingku disedot kuat-kuat oleh Pak Indra, dan Muklas menjambak rambutku. Aku lalu merasakan cairan hangat menyembur di dalam vagina dan anusku. Mereka berdua pun terkulai lemas diantara tubuhku dengan penis masih tertancap.
Setelah sisa-sisa kenikmatan tadi mereda, akupun mengelap tubuhku yang basah kuyup kemudian berjalan menuju kamar mandi. Eh.. ternyata mereka mengikutiku dan memaksa ikut mandi bersama. Akhirnya kuiyakan saja deh supaya mereka senang. Disana aku cuma duduk, merekalah yang menyiram, menggosok, dan menyabuniku tentunya sambil menggerayangi. Bagian kemaluan dan payudaraku paling lama mereka sabuni sampai aku menyindir
"Lho..kok yang disabun disitu-situ aja sih, mandinya nggak beres-beres dong, dingin nih" Disambut gelak tawa kami. Setelah itu, giliran akulah yang memandikan mereka, saat itulah nafsu mereka bangkit lagi, akupun kembali digarap di kamar mandi.
Lagi asik-asiknya digenjot mereka berdua Citra dan Indah datang dan bergabung bersama kami. Kamar mandi itu menjadi tempat kami melakukan pesta sex. Sampai akhirnya kami sama-sama puas.
Demikian sebagaian ceritaku. Nantikan ceritaku yang lain..
E N D
Sabtu, 09 Juli 2011
Kamis, 30 Juni 2011
Perpisahan dengan Meta - 1
Pada bulan April Mas Pujo mendapat panggilan ke Jakarta. Ternyata Mas Pujo mendapat promosi untuk menduduki jabatan yang lebih tinggi di Bumi Nyiur Melambai. Promosi itu adalah sesuatu yang menggembirakan bagi kami tapi juga sekaligus menyedihkan. Karena itu berarti kami harus berpisah dengan orang yang paling kami sayangi, Meta.
Setelah hampir dua minggu dan telah membuat perencanaan yang masak, kami sepakat untuk berterus terang pada Meta. Acara kami buat di villa kami di kawasan Kopeng. Sengaja kami hanya berempat dengan Meta dan kami memilih tepat pada hari libur kerja yaitu Sabtu dan Minggu. Kepada suaminya Meta ijin akan mengikuti pelatihan Manajemen Mikro. Meta sebenarnya cukup merasa penasaran meskipun sebenarnya acara seperti ini telah sering kami adakan, tapi memang biasanya Meta tidak sampai menginap.
Kami berangkat terpisah karena Meta diantar oleh suaminya sampai ke tempat bus Patas, tapi sesampai di Salatiga kami telah menunggunya, lalu Meta turun dan terus bergabung bersama kami menuju Kopeng.
"Uhh..! Kesel aku Mbak, masak aku disuruh naik bus sendiri" sungut Meta begitu turun dari bus.
"Lho kan belum jadi direktur, ya sabar dulu dong sayang.." jawabku sambil membantu mengangkat koper bawaannya.
"Mbak, aku di belakang ama Mas Pujo ya, biar Mas Duta yang setir" pintanya padaku. Aku tahu betul akan kelakuannya itu, Meta ingin bermanja-manja dengan Mas Pujo.
"Iya deh.., asal Mbak tetep dibagi.." godaku.
"Iih.. Mbak kan udah tiap hari nyanding" balasnya. Mas Pujo cuma nyengir, sedang Duta sudah siap di belakang setir.
"Met.., apa tadi nggak dapat saweran di bus" goda Duta sambil menjalankan mobilnya.
"Iih.. Emangnya aku cewek apaan" jawab Meta menirukan gaya Nani Wijaya di serial Bajaj Bajuri sambil menggelendot manja pada Mas Pujo.
Memang Meta sangat menyayangi Mas Pujo, bahkan dialah yang paling pencemburu dibandingkan aku yang isterinya. Aku, Mas Pujo dan Duta juga amat sayang padanya. Bagi kami kebahagiaan yang kami rasakan selama ini memang untuk berempat. Kulihat Meta sudah mulai mengantuk di pelukan Mas Pujo.
"Mas pijit ya sayang..!" bisik Mas Pujo di telinga Meta.
Meta merapatkan pelukannya. Mas Pujo mulai memijit punggung Meta. Pijitan Mas Pujo memang benar-benar pijitan yang menenangkan karena aku pun sangat menyukainya. Bila sehabis ML biasanya Mas Pujo memijit punggungku sambil memelukku. Itulah Mas Pujo yang romantis, kata Meta.
Perjalanan Salatiga-Kopeng hanya sekitar 45 menit. Aku sendiri sebenarnya lelah setelah tadi malam kuhabiskan dua rondeku dengan kedua suamiku. Cumbuan Duta yang begitu lama membuatku benar-benar habis tenaga, belum Mas Pujo yang selalu mengambil babak akhir permainan kami. Mas Pujo memang sangat senang membenamkan kontolnya ke dalam memekku saat aku telah mencapai orgasme. Biasanya ia akan membenamkan kontolnya dan memelukku dengan penuh perasaan sambil menikmati remasan-remasan memekku, bahkan tadi malam sempat kram rasanya otot-otot memekku karena permainan mereka berdua.
Seperti biasanya aku meminta Duta untuk telentang dan membuka kedua pahanya dengan kepala bertelekan 2 bantal, lalu aku menaikinya dengan posisi membelakangi dan bertumpu pada kedua tanganku ke belakang. Posisi ini sangat aku sukai karena Mas Pujo dapat dengan mudah melumat clitorisku sementara Duta memompa memekku dari bawah sambil meremas putingku. Rasanya semua syaraf nikmatku tak ada yang terlewat menerima rangsangan dari keduanya.
Begitu aku orgasme yang ketiga dan Duta memuntahkan spermanya di memekku, langsung Mas Pujo mengambil alih dengan membenamkan kontolnya ke memekku. Mas Pujo menikmati kontraksi otot-otot vaginaku dan berlama-lama berada di sana, sebelum kemudian memompa memekku dengan penuh perasaan.
"Kok ngelamun Rien, kita dah nyampe nih..!" ujar Duta mengagetkanku sambil memasukkan kendaraan ke pelataran villa. Aku tergagap. Kulihat Pak Kidjan penjaga villa kami memberi salam.
"Meta, bangun sayang, kita udah nyampe nih..!" bisik Mas Pujo.
Yang dibisiki menggeliat sambil mengucek-ucek mata. Kembali dipeluknya Mas Pujo dan mereka berciuman lembut penuh perasaan. Entah mengapa sejak mula pertama Mas Pujo bercinta dengan Meta tak ada rasa cemburuku, aku malah bahagia melihat keduanya, tapi anehnya aku cemburu kalau Mas Pujo dengan yang lain.
Pada pukul 17.00 tepat kami sudah selesai memasukkan semua bawaan ke dalam villa dengan dibantu Pak Kidjan. Setelah itu kami suruh Pak Kidjan untuk mengunci pagar dan pulang karena kami katakan bahwa kami ingin beristirahat dengan tidak lupa memintanya agar besok jam 10 dia datang lagi.
Villa ini dibeli oleh Duta karena sebelumnya memang direncanakan untuk coba-coba usaha agribisnis. Bangunan yang ada hanya sederhana saja karena memang bekas bangunan Belanda yang terletak di tengah-tengah tanah seluas 1 hektar yang di depannya ada rumah penjaga yang jaraknya 75 meteran. Ada 4 kamar, yang dua besar dan ada connecting door, salah satunya ada 2 tempat tidur dan yang satunya single, dengan ruang tamu cukup luas, ruang dapur dan garasi. Kami sengaja memakai dua kamar yang besar itu.
"Mandi dulu gih.." pinta Mas Pujo pada saya dan Meta.
"Maas, Meta dimandiin Mas aja.. Ya" rengek Meta manja sambil memegang lengan Mas Pujo.
"Idih, kan udah becal, Meta kan bisa mandi cendili" goda Mas Pujo dicedal-cedalkan.
"Nggak mau.., Meta mau mandi ama Mas aja" jawab Meta merajuk sambil cemberut dan langsung minta gendong.
Aku dan Duta hanya senyum-senyum melihat tingkah mereka. Lalu Mas Pujo menggendong Meta berputar-putar. Bibir keduanya tampak berpagutan mesra. Sambil tetap berciuman mereka menuju kamar mandi, yang oleh Duta sudah diganti dengan jacuzzi besar yang cukup untuk berendam 4 orang dan ada air panasnya. Lalu Duta meraihku dan memelukku, kami berciuman.
"Nyusul yok.. Kita bisa saling gosok" ajak Duta dengan langsung menggendongku.
Di jacuzzi, Mas Pujo sedang memeluk Meta dari belakang sambil menciumi rambutnya, tapi aku yakin bahwa pasti tangan Mas Pujo yang satu tidak akan jauh-jauh dari puting susu Meta, sedang yang lain entah apa yang digosok, tapi karena di dalam air dan tertutup busa sabun jadi tidak kelihatan. Sementara itu yang dipeluk memejamkan matanya penuh kenikmatan sambil sesekali mendesis.
Aku turun dari gendongan Duta. Kulepas semua pakaianku hingga telanjang bulat, setelah itu ganti kulucuti pakaian Duta sampai tak bersisa. Kontol Duta yang besar masih belum bangun penuh, jadi masih setengah kencang. Dengan berbimbingan tangan kami masuk ke air dan Duta bersandar dekat Mas Pujo. Dengan meluruskan kedua kakinya, aku maju ke pangkuan Duta, kutempelkan bibir memekku ke atas kontol Duta dan kutempelkan dadaku ke dadanya. Hangatnya air dan sentuhan kulit kami terasa nikmat, benar-benar nikmat.
Dengan perlahan tapi pasti benda bulat dalam lipatan bibir memekku membesar mengeras dan berusaha berdiri tegak, tapi karena tertahan oleh belahan memekku, benda tersebut tak bisa tegak. Di sebelahku, Meta juga sedang menduduki barang yang sama seperti aku. Aku tahu pasti, bahkan aku yakin bahwa Mas Pujo masih belum memasukkan barangnya ke memek Meta. Kami berempat tak ada yang bersuara, hanya sesekali terdengar desahan lirih dari mulut Meta tetapi kami sama-sama tahu bahwa kami masing-masing sedang menikmati sesuatu yang tak dapat dilukiskan dengan kata-kata.
"Engh.. Egh.." tiba-tiba desahan Meta semakin keras diiringi geliat tubuhnya yang seperti cacing kepanasan.
"Aduh Mas, Meta nggak kuat.. Oh Mbak, ooh.. Mas Duta, ayo dong, Meta duluan" pintanya.
Kalau sudah begini biasanya Meta meminta Duta untuk segera membenamkan kontolnya ke memeknya. Aku beringsut meninggalkan Duta sementara Mas Pujo masih memangku Meta dari belakang dalam posisi kedua kaki lurus ke depan dan bersandar pada dinding jacuzzi. Duta mendekat dari depan sambil mengarahkan kontolnya ke arah selangkangan Meta dan Meta memberi jalan dengan mengangkangkan kedua pahanya. Perlahan dengan bimbingan tangan Meta, kepala kontol Duta memasuki memek Meta, jelas terlihat dari ekspresinya yang mendesis keenakan.
Perlahan Duta mulai memompa maju mundur terlihat dari riak air yang mulai menggelombang, sementara Mas Pujo memeluk Meta dari belakang sambil menciumi tengkuk dan belakang telinganya. Saat-saat seperti itu Meta nikmati dengan memejamkan mata sambil giginya beradu menahan nikmat yang luar biasa. Meskipun kontol Mas Pujo tidak melakukan penetrasi namun aku yakin, pasti ada yang mengganjal di anus Meta hingga itu membuat sensasi tersendiri untuknya. Tiba-tiba Meta melepaskan pelukan Mas Pujo dan ganti memeluk Duta. Sedang Mas Pujo masih tetap tidak dapat bergerak karena harus memangku dua orang yang sedang bersetubuh. Mas Pujo hanya mengusap-usap punggung dan pinggang Meta dari belakang.
"Aduhh Mas, Meta ngga tahaan, enghh.." desah Meta sambil memeluk Duta erat-erat dan dada Duta yang bidang terkena sasaran gigitannya.
Melihat itu semua aku menjadi sangat terangsang tapi kami bertiga sudah bersepakat bahwa kesempatan kali ini adalah milik Meta sepenuhnya, jadi aku mengalah dulu. Sementara itu kutukar air jacuzzi dengan air hangat tanpa membubuhkan sabun. Begitu air telah mulai berkurang, kulihat posisi Meta yang mengangkang sementara Duta memompanya dari depan dan kontol Mas Pujo tertindih di antara bokong Meta.
Sejenak Meta masih menikmati saat-saat indah orgasmenya. Kemudian Meta melepaskan diri dari Duta dan berdiri membalik menghadap Mas Pujo hingga praktis memeknya berada di depan mulut Mas Pujo. Diraihnya pinggul Meta dan Mas Pujo mulai menciumi dan menjilati memek Meta.
"Aahh sshh Mas kita ke kamar aja.. Meta nggak tahan nih" rengek Meta. Mas Pujo berdiri menggendong Meta dan meninggalkan kami berdua sementara Duta mulai berbalik menciumi payudaraku.
"Rien ikut yuk.." ajak Duta.
Aku ikut saja sambil berpelukan seperti Adam dan Hawa, kami menyusul Mas Pujo dan Meta ke kamar besar yang ada single bed-nya. Kulihat Meta telah telentang dan Mas Pujo menindihnya, sekali-sekali pinggulnya diangkat dan dihunjamkannya dengan penuh perasaan sampai melengkung. Kutarik Duta dan segera aku telentangkan diriku. Aku ingin kontol Duta yang masih tegak berdiri segera menusukku mengisi relung vaginaku. Aku ingin mempraktekkan sex yoga yang baru aku pelajari dengan Mas Pujo beberapa waktu lalu.
Sementara Mas Pujo dan Meta menikmati saat-saat indah itu, di sebelahku Duta membuka kedua pahaku lebar-lebar dan mengarahkan kontolnya ke memekku yang telah merekah. Perlahan-lahan, mili demi mili aku rasakan benda itu mulai memasuki memekku sebelum akhirnya benda keras itu telah dengan sempurna berada di peraduannya. Kemudian Duta menindihku dan memelukku dengan sepenuh perasaan. Aku sepenuhnya berkonsentrasi pada apa yang sedang kurasakan dan Duta mengikutinya hanya dengan diam, tanpa gerakan memompa hingga tanpa diperintah pun saraf-saraf nikmat di sepanjang lorong memekku bekerja, mula-mula hanya gerakan-gerakan halus.
Pada saat yang sama desiran-desiran nikmat juga mulai menjalari kedua payudaraku yang tertindih dada Duta. Semakin lama gerakan-gerakan halus di sepanjang lorong memekku berubah menjadi remasan-remasan dan mulai terasa getaran-getaran pada batang kontol Duta, bahkan kepala kontolnya terasa mulai melebar pertanda akan memuntahkan spermanya. Napas Duta semakin memburu, aku sendiri sudah tak ingat apa-apa. Konsentrasiku hanya satu yaitu pada rasa nikmat yang menggelitiki mulai ujung puting payudaraku sampai ke lorong-lorong memekku. Dan.. Creet.. Creett.. Crett.. Ketika akhirnya sperma itu membasahi relung-relung memekku, jiwaku seakan melayang menari-nari di atas awan sambil berpelukan dengan Dutaku sayang. Sejuta kenikmatan kurasakan di sekujur tubuhku. Sementara itu..
"Oohh.. Ahh aduh Mas.. Meta mau nyampe lagi Mas.." suara desahan Meta kembali menyadarkan aku dan kudapati Duta yang masih ngos-ngosan dengan bermandi peluh mendekapku.
"Terima kasih Rien.. Kamu luar biasa" bisiknya di telingaku. Aku menoleh ke samping. Mas Pujo juga sedang menjelang saat-saat akhir mendekati puncak. Tampak pinggulnya menghunjam selangkangan Meta dalam-dalam dan..
"Aahh.., adduhh Mmass.." Meta dan Mas Pujo hampir bersamaan mengejat-ngejat keenakan.
Akhirnya kami mengakhiri permainan sore itu setelah jam menunjukkan hampir pukul 19.00. Rasa lapar akhirnya datang juga mengingat kami belum makan malam. Bergegas kulepas pelukan Duta, lalu dengan telanjang bulat aku pergi ke dapur. Kubuka bungkusan-bungkusan bekal yang telah aku siapkan. Meta menyusul juga dalam keadaan telanjang dan akhirnya kami berempat menghadapi meja makan masih dalam keadaan telanjang tanpa ada yang sempat membersihkan diri bahkan dari celeh memekku dan memek Meta masih tampak meleleh sperma suami-suami kami.
Bersambung . . . .
Setelah hampir dua minggu dan telah membuat perencanaan yang masak, kami sepakat untuk berterus terang pada Meta. Acara kami buat di villa kami di kawasan Kopeng. Sengaja kami hanya berempat dengan Meta dan kami memilih tepat pada hari libur kerja yaitu Sabtu dan Minggu. Kepada suaminya Meta ijin akan mengikuti pelatihan Manajemen Mikro. Meta sebenarnya cukup merasa penasaran meskipun sebenarnya acara seperti ini telah sering kami adakan, tapi memang biasanya Meta tidak sampai menginap.
Kami berangkat terpisah karena Meta diantar oleh suaminya sampai ke tempat bus Patas, tapi sesampai di Salatiga kami telah menunggunya, lalu Meta turun dan terus bergabung bersama kami menuju Kopeng.
"Uhh..! Kesel aku Mbak, masak aku disuruh naik bus sendiri" sungut Meta begitu turun dari bus.
"Lho kan belum jadi direktur, ya sabar dulu dong sayang.." jawabku sambil membantu mengangkat koper bawaannya.
"Mbak, aku di belakang ama Mas Pujo ya, biar Mas Duta yang setir" pintanya padaku. Aku tahu betul akan kelakuannya itu, Meta ingin bermanja-manja dengan Mas Pujo.
"Iya deh.., asal Mbak tetep dibagi.." godaku.
"Iih.. Mbak kan udah tiap hari nyanding" balasnya. Mas Pujo cuma nyengir, sedang Duta sudah siap di belakang setir.
"Met.., apa tadi nggak dapat saweran di bus" goda Duta sambil menjalankan mobilnya.
"Iih.. Emangnya aku cewek apaan" jawab Meta menirukan gaya Nani Wijaya di serial Bajaj Bajuri sambil menggelendot manja pada Mas Pujo.
Memang Meta sangat menyayangi Mas Pujo, bahkan dialah yang paling pencemburu dibandingkan aku yang isterinya. Aku, Mas Pujo dan Duta juga amat sayang padanya. Bagi kami kebahagiaan yang kami rasakan selama ini memang untuk berempat. Kulihat Meta sudah mulai mengantuk di pelukan Mas Pujo.
"Mas pijit ya sayang..!" bisik Mas Pujo di telinga Meta.
Meta merapatkan pelukannya. Mas Pujo mulai memijit punggung Meta. Pijitan Mas Pujo memang benar-benar pijitan yang menenangkan karena aku pun sangat menyukainya. Bila sehabis ML biasanya Mas Pujo memijit punggungku sambil memelukku. Itulah Mas Pujo yang romantis, kata Meta.
Perjalanan Salatiga-Kopeng hanya sekitar 45 menit. Aku sendiri sebenarnya lelah setelah tadi malam kuhabiskan dua rondeku dengan kedua suamiku. Cumbuan Duta yang begitu lama membuatku benar-benar habis tenaga, belum Mas Pujo yang selalu mengambil babak akhir permainan kami. Mas Pujo memang sangat senang membenamkan kontolnya ke dalam memekku saat aku telah mencapai orgasme. Biasanya ia akan membenamkan kontolnya dan memelukku dengan penuh perasaan sambil menikmati remasan-remasan memekku, bahkan tadi malam sempat kram rasanya otot-otot memekku karena permainan mereka berdua.
Seperti biasanya aku meminta Duta untuk telentang dan membuka kedua pahanya dengan kepala bertelekan 2 bantal, lalu aku menaikinya dengan posisi membelakangi dan bertumpu pada kedua tanganku ke belakang. Posisi ini sangat aku sukai karena Mas Pujo dapat dengan mudah melumat clitorisku sementara Duta memompa memekku dari bawah sambil meremas putingku. Rasanya semua syaraf nikmatku tak ada yang terlewat menerima rangsangan dari keduanya.
Begitu aku orgasme yang ketiga dan Duta memuntahkan spermanya di memekku, langsung Mas Pujo mengambil alih dengan membenamkan kontolnya ke memekku. Mas Pujo menikmati kontraksi otot-otot vaginaku dan berlama-lama berada di sana, sebelum kemudian memompa memekku dengan penuh perasaan.
"Kok ngelamun Rien, kita dah nyampe nih..!" ujar Duta mengagetkanku sambil memasukkan kendaraan ke pelataran villa. Aku tergagap. Kulihat Pak Kidjan penjaga villa kami memberi salam.
"Meta, bangun sayang, kita udah nyampe nih..!" bisik Mas Pujo.
Yang dibisiki menggeliat sambil mengucek-ucek mata. Kembali dipeluknya Mas Pujo dan mereka berciuman lembut penuh perasaan. Entah mengapa sejak mula pertama Mas Pujo bercinta dengan Meta tak ada rasa cemburuku, aku malah bahagia melihat keduanya, tapi anehnya aku cemburu kalau Mas Pujo dengan yang lain.
Pada pukul 17.00 tepat kami sudah selesai memasukkan semua bawaan ke dalam villa dengan dibantu Pak Kidjan. Setelah itu kami suruh Pak Kidjan untuk mengunci pagar dan pulang karena kami katakan bahwa kami ingin beristirahat dengan tidak lupa memintanya agar besok jam 10 dia datang lagi.
Villa ini dibeli oleh Duta karena sebelumnya memang direncanakan untuk coba-coba usaha agribisnis. Bangunan yang ada hanya sederhana saja karena memang bekas bangunan Belanda yang terletak di tengah-tengah tanah seluas 1 hektar yang di depannya ada rumah penjaga yang jaraknya 75 meteran. Ada 4 kamar, yang dua besar dan ada connecting door, salah satunya ada 2 tempat tidur dan yang satunya single, dengan ruang tamu cukup luas, ruang dapur dan garasi. Kami sengaja memakai dua kamar yang besar itu.
"Mandi dulu gih.." pinta Mas Pujo pada saya dan Meta.
"Maas, Meta dimandiin Mas aja.. Ya" rengek Meta manja sambil memegang lengan Mas Pujo.
"Idih, kan udah becal, Meta kan bisa mandi cendili" goda Mas Pujo dicedal-cedalkan.
"Nggak mau.., Meta mau mandi ama Mas aja" jawab Meta merajuk sambil cemberut dan langsung minta gendong.
Aku dan Duta hanya senyum-senyum melihat tingkah mereka. Lalu Mas Pujo menggendong Meta berputar-putar. Bibir keduanya tampak berpagutan mesra. Sambil tetap berciuman mereka menuju kamar mandi, yang oleh Duta sudah diganti dengan jacuzzi besar yang cukup untuk berendam 4 orang dan ada air panasnya. Lalu Duta meraihku dan memelukku, kami berciuman.
"Nyusul yok.. Kita bisa saling gosok" ajak Duta dengan langsung menggendongku.
Di jacuzzi, Mas Pujo sedang memeluk Meta dari belakang sambil menciumi rambutnya, tapi aku yakin bahwa pasti tangan Mas Pujo yang satu tidak akan jauh-jauh dari puting susu Meta, sedang yang lain entah apa yang digosok, tapi karena di dalam air dan tertutup busa sabun jadi tidak kelihatan. Sementara itu yang dipeluk memejamkan matanya penuh kenikmatan sambil sesekali mendesis.
Aku turun dari gendongan Duta. Kulepas semua pakaianku hingga telanjang bulat, setelah itu ganti kulucuti pakaian Duta sampai tak bersisa. Kontol Duta yang besar masih belum bangun penuh, jadi masih setengah kencang. Dengan berbimbingan tangan kami masuk ke air dan Duta bersandar dekat Mas Pujo. Dengan meluruskan kedua kakinya, aku maju ke pangkuan Duta, kutempelkan bibir memekku ke atas kontol Duta dan kutempelkan dadaku ke dadanya. Hangatnya air dan sentuhan kulit kami terasa nikmat, benar-benar nikmat.
Dengan perlahan tapi pasti benda bulat dalam lipatan bibir memekku membesar mengeras dan berusaha berdiri tegak, tapi karena tertahan oleh belahan memekku, benda tersebut tak bisa tegak. Di sebelahku, Meta juga sedang menduduki barang yang sama seperti aku. Aku tahu pasti, bahkan aku yakin bahwa Mas Pujo masih belum memasukkan barangnya ke memek Meta. Kami berempat tak ada yang bersuara, hanya sesekali terdengar desahan lirih dari mulut Meta tetapi kami sama-sama tahu bahwa kami masing-masing sedang menikmati sesuatu yang tak dapat dilukiskan dengan kata-kata.
"Engh.. Egh.." tiba-tiba desahan Meta semakin keras diiringi geliat tubuhnya yang seperti cacing kepanasan.
"Aduh Mas, Meta nggak kuat.. Oh Mbak, ooh.. Mas Duta, ayo dong, Meta duluan" pintanya.
Kalau sudah begini biasanya Meta meminta Duta untuk segera membenamkan kontolnya ke memeknya. Aku beringsut meninggalkan Duta sementara Mas Pujo masih memangku Meta dari belakang dalam posisi kedua kaki lurus ke depan dan bersandar pada dinding jacuzzi. Duta mendekat dari depan sambil mengarahkan kontolnya ke arah selangkangan Meta dan Meta memberi jalan dengan mengangkangkan kedua pahanya. Perlahan dengan bimbingan tangan Meta, kepala kontol Duta memasuki memek Meta, jelas terlihat dari ekspresinya yang mendesis keenakan.
Perlahan Duta mulai memompa maju mundur terlihat dari riak air yang mulai menggelombang, sementara Mas Pujo memeluk Meta dari belakang sambil menciumi tengkuk dan belakang telinganya. Saat-saat seperti itu Meta nikmati dengan memejamkan mata sambil giginya beradu menahan nikmat yang luar biasa. Meskipun kontol Mas Pujo tidak melakukan penetrasi namun aku yakin, pasti ada yang mengganjal di anus Meta hingga itu membuat sensasi tersendiri untuknya. Tiba-tiba Meta melepaskan pelukan Mas Pujo dan ganti memeluk Duta. Sedang Mas Pujo masih tetap tidak dapat bergerak karena harus memangku dua orang yang sedang bersetubuh. Mas Pujo hanya mengusap-usap punggung dan pinggang Meta dari belakang.
"Aduhh Mas, Meta ngga tahaan, enghh.." desah Meta sambil memeluk Duta erat-erat dan dada Duta yang bidang terkena sasaran gigitannya.
Melihat itu semua aku menjadi sangat terangsang tapi kami bertiga sudah bersepakat bahwa kesempatan kali ini adalah milik Meta sepenuhnya, jadi aku mengalah dulu. Sementara itu kutukar air jacuzzi dengan air hangat tanpa membubuhkan sabun. Begitu air telah mulai berkurang, kulihat posisi Meta yang mengangkang sementara Duta memompanya dari depan dan kontol Mas Pujo tertindih di antara bokong Meta.
Sejenak Meta masih menikmati saat-saat indah orgasmenya. Kemudian Meta melepaskan diri dari Duta dan berdiri membalik menghadap Mas Pujo hingga praktis memeknya berada di depan mulut Mas Pujo. Diraihnya pinggul Meta dan Mas Pujo mulai menciumi dan menjilati memek Meta.
"Aahh sshh Mas kita ke kamar aja.. Meta nggak tahan nih" rengek Meta. Mas Pujo berdiri menggendong Meta dan meninggalkan kami berdua sementara Duta mulai berbalik menciumi payudaraku.
"Rien ikut yuk.." ajak Duta.
Aku ikut saja sambil berpelukan seperti Adam dan Hawa, kami menyusul Mas Pujo dan Meta ke kamar besar yang ada single bed-nya. Kulihat Meta telah telentang dan Mas Pujo menindihnya, sekali-sekali pinggulnya diangkat dan dihunjamkannya dengan penuh perasaan sampai melengkung. Kutarik Duta dan segera aku telentangkan diriku. Aku ingin kontol Duta yang masih tegak berdiri segera menusukku mengisi relung vaginaku. Aku ingin mempraktekkan sex yoga yang baru aku pelajari dengan Mas Pujo beberapa waktu lalu.
Sementara Mas Pujo dan Meta menikmati saat-saat indah itu, di sebelahku Duta membuka kedua pahaku lebar-lebar dan mengarahkan kontolnya ke memekku yang telah merekah. Perlahan-lahan, mili demi mili aku rasakan benda itu mulai memasuki memekku sebelum akhirnya benda keras itu telah dengan sempurna berada di peraduannya. Kemudian Duta menindihku dan memelukku dengan sepenuh perasaan. Aku sepenuhnya berkonsentrasi pada apa yang sedang kurasakan dan Duta mengikutinya hanya dengan diam, tanpa gerakan memompa hingga tanpa diperintah pun saraf-saraf nikmat di sepanjang lorong memekku bekerja, mula-mula hanya gerakan-gerakan halus.
Pada saat yang sama desiran-desiran nikmat juga mulai menjalari kedua payudaraku yang tertindih dada Duta. Semakin lama gerakan-gerakan halus di sepanjang lorong memekku berubah menjadi remasan-remasan dan mulai terasa getaran-getaran pada batang kontol Duta, bahkan kepala kontolnya terasa mulai melebar pertanda akan memuntahkan spermanya. Napas Duta semakin memburu, aku sendiri sudah tak ingat apa-apa. Konsentrasiku hanya satu yaitu pada rasa nikmat yang menggelitiki mulai ujung puting payudaraku sampai ke lorong-lorong memekku. Dan.. Creet.. Creett.. Crett.. Ketika akhirnya sperma itu membasahi relung-relung memekku, jiwaku seakan melayang menari-nari di atas awan sambil berpelukan dengan Dutaku sayang. Sejuta kenikmatan kurasakan di sekujur tubuhku. Sementara itu..
"Oohh.. Ahh aduh Mas.. Meta mau nyampe lagi Mas.." suara desahan Meta kembali menyadarkan aku dan kudapati Duta yang masih ngos-ngosan dengan bermandi peluh mendekapku.
"Terima kasih Rien.. Kamu luar biasa" bisiknya di telingaku. Aku menoleh ke samping. Mas Pujo juga sedang menjelang saat-saat akhir mendekati puncak. Tampak pinggulnya menghunjam selangkangan Meta dalam-dalam dan..
"Aahh.., adduhh Mmass.." Meta dan Mas Pujo hampir bersamaan mengejat-ngejat keenakan.
Akhirnya kami mengakhiri permainan sore itu setelah jam menunjukkan hampir pukul 19.00. Rasa lapar akhirnya datang juga mengingat kami belum makan malam. Bergegas kulepas pelukan Duta, lalu dengan telanjang bulat aku pergi ke dapur. Kubuka bungkusan-bungkusan bekal yang telah aku siapkan. Meta menyusul juga dalam keadaan telanjang dan akhirnya kami berempat menghadapi meja makan masih dalam keadaan telanjang tanpa ada yang sempat membersihkan diri bahkan dari celeh memekku dan memek Meta masih tampak meleleh sperma suami-suami kami.
Bersambung . . . .
Perpisahan dengan Meta - 2
Pagi itu aku bangun lebih awal karena memang aku dapat beristirahat penuh saat malamnya. Kulihat Mas Pujo masih memeluk Meta berhadapan, sedang dari belakang Duta tampak memepetkan tubuhnya terutama pada bagian bokong Meta, pasti batangnya masih menancap.
Kebiasaan Duta selalu membenamkan kontolnya sambil tidur dan hebatnya tidak lepas, tetap saja kencang di dalam memek. Sedang Mas Pujo pasti tangannya tak mau jauh-jauh dari puting, aku tahu persis kelakuan kedua laki-laki itu karena aku juga sering diperlakukannya demikian, bedanya aku tidak dapat tidur dengan kontol masih mengganjal memekku, sedangkan Meta bisa, mungkin karena kecapaian.
Dalam hal seks sebenarnya aku sudah puas sekali dipenuhi oleh Mas Pujo dan Duta tapi kehadiran Meta kadang membuatku ingin bereksperimen terhadap respons sex yang ditimbulkan oleh sesama jenis. Meskipun aku sudah sering main berempat, tapi biasanya aku atau Meta hanya bersifat pasif kurang dominan, sedangkan peran utama tetap pada kedua pria itu.
Pernah pada suatu hari Mas Pujo sedang tidak ada di rumah karena ada tugas ke luar kota selama seminggu dan Duta sedang ada di rumah setelah dari Jakarta selama hampir 5 hari. Kira-kira pada pukul 19.00, Meta datang ke rumahku. Nampaknya Meta tahu bahwa aku sedang berduaan saja dengan Duta. Kami duduk di ruang tamu. Seperti biasa Meta agak kurang tertarik untuk ML kalau dengan Duta. Aku pamit ke dapur untuk membuat minuman. Aku sedang menyeduh teh, ketika Duta tiba-tiba sudah berada di belakangku. Sebelum aku sadar apa yang terjadi, Duta sudah mendekapku dari belakang.
"Duta, jangan.. Jangan di sini sayang, aku kan lagi pegang air panas.. Gak boleh.. Ya sayang.." kataku manja sambil berusaha melepaskan diri.
"Rien..", bisiknya sambil menciumi leher dan telingaku.
"Rien.. Aku kangen banget sama Rien. Kasihanilah aku Rien.. Aku kangen banget", bisiknya sambil terus mendekapku erat-erat.
"Iya.. Iya tapi kan baru tiga hari masak udah gak sabar.." kataku sambil meronta-ronta manja dalam pelukannya.
"Aduhh. Mbaak jangan gitu.. Mas Duta sudah ngga kuat tuh.. Nggak kuaat kan Mas", bisik Meta tiba-tiba juga sudah berada di belakang Duta tanpa sehelai benang pun dengan sinar mata penuh nafsu.
Tangan Meta tiba-tiba meremas buah dadaku, menciumi leher dan belakang telingaku. Tangan kirinya merangkulku dan tangan kanannya tahu-tahu sudah meraba vaginaku sementara pelukan Duta mengendur memberi kesempatan. Aduh, gilaa, sentuhan Meta malah melambungkan nafsuku. Kalau tadi aku pura-pura meronta, sekarang aku malah pasrah, menikmati remasan tangan Meta di puting payudara dan di vaginaku.
Aku dibaliknya menjadi berhadapan, aku didekapnya, dan diciumi wajahku. Dan akhirnya bibirku dikulumnya habis-habisan. Lidahnya masuk ke mulutku, dan aku tidak sadar lagi saat lidahku juga masuk ke mulutnya. Meta menurutku saat itu agak kasar tetapi benar-benar romantis hingga aku benar-benar terhanyut. Sensasinya luar biasa, baru kali itu aku merasakan nikmatnya sentuhan sejenis.
Tanpa terasa Duta dan aku pun telah telanjang bulat, entah siapa yang melucutiku, mungkin Duta. Kalau situasinya memungkinkan, belaian sejenis ternyata malah menjadi lebih nikmat untuk dinikmati. Aku membalas pelukannya, membalas ciumannya. Kami semakin liar. Tangan Duta menyingkap belahan bokongku dan merogoh ke dalam vaginaku yang sudah basah dari belakang sedang tangan Meta mengerjai vaginaku dari depan.
Didekapnya clitorisku dan dipijat-pijatnya, diremasnya, dimainkannya jarinya di belahan vaginaku dan menyentuh clitorisku. Kami tetap berdiri. Aku didorong Meta mepet menyandar ke tubuh Duta, penisnya sudah tegang sekali, mencuat ke atas. Tangan kananku dibimbingnya untuk memegangnya. Penis Duta memang lebih besar daripada punya Mas Pujo. Secara refleks penisnya kupijat dan kuremas-remas dengan gemas.
Duta semakin menekan penisnya ke celah bokongku untuk menerobos vaginaku. Aku paskan di lubangku, dan akhirnya masuk, masuk semuanya ke dalam vaginaku. Duta dengan sangat bernafsu mengocok penisnya keluar masuk sementara kuangkat satu pahaku dan Meta telah merosot ke depan selangkanganku untuk mengulum clitorisku yang juga sudah mencuat. Benar-benar kasar gerakan Meta, tetapi gila, aku sungguh menikmatinya. Sementara penis Duta terasa mengganjal dari belakang dan nikmat sekali. Aku pegang bokongnya dan kutekan-tekankan agar mepet ke pangkal pahaku, agar mencoblos lebih dalam lagi.
"Duta.. Meta.. Aku ngga kuat.. Aduhh.. Kalian.. Curang.." bisikku dengan nafas memburu.
"Ooh.. Meet.."
Cepat kudorong pinggulku ke belakang, sehingga penis Duta bertambah dalam di vaginaku hingga aku mengejat-ngejat menikmati orgasme.
"Orghh.." Duta melenguh seperti kerbau disembelih pertanda akan memuntahkan spermanya.
Lalu tangan Meta segera mencabut dan menggenggam penis Duta yang memuncratkan spermanya di dalam mulut Meta hingga sebagian tumpah di lantai dapur. Kami berpelukan lagi sambil mengatur napas kami. Ya ampun, aku telah disetubuhi Duta dan dioral Meta dengan posisi Duta berdiri, sambil mepet ke tembok. Gila, aku menikmatinya, aku berakhir orgasme dengan sangat cepat, walaupun hanya dilakukan tidak lebih dari 20 menit saja. Mungkin ini karena sensasi yang kuperoleh dari permainan dengan sesama jenis juga.
*****
Pagi itu setelah selesai membersihkan diri di kamar mandi, timbul niatku untuk ganti mengerjai Meta sekaligus memberikan kenangan perpisahan untuknya. Sambil memisahkan pelukan Mas Pujo dengan Meta, aku yang sudah mandi dan masih telanjang bulat menyelinap di antara tubuh mereka.
"Biar aku yang gantiin peluk Meta Mas..", kataku pada Mas Pujo.
Mas Pujo bangun dan langsung ke kamar mandi. Kudekap Meta, kupegang puting susunya yang sebelah kiri sementara tangan kananku meraba vaginanya. Benar saja di memek Meta masih terganjal kontol Duta. Meta terbangun.
"Aku sayang sama Mbak Rien..", kata Meta sambil mencium bibirku.
"Kamu luar biasa deh Met.. vegymu masih bisa pegang.. the big gun", bisikku sambil tersenyum. Meta juga tersenyum nakal, sambil ganti membelai payudaraku.
"Punyaku kencang dan keset ya Mas? Mas Pujo suka bilang gitu. Meskipun udah buat lewat anakku", tanya Meta ke Duta manja. Yang ditanya hanya membuka matanya separuh.
"Mbak, punya Mbak Rien juga masih oke banget kan, nyatanya Mas Duta selalu ketagihan", kata Meta lagi. Kami berdua tersenyum dan mempererat pelukan kami.
Kuciumi Meta dari kening, mata, hidung hingga mulut. Disambutnya ciumanku dengan permainan lidahnya. Lama kami berciuman dan tanganku pun tak henti meremas teteknya yang kenyal. Lalu kubuka bibir vaginanya. Kemudian kususupkan tanganku ke dalam belahan memeknya di antara kontol Duta untuk kemudian jari tengahku kutarik ke atas hingga tepat menekan clitorisnya. Memek Meta telah banjir akibat kelenjar-kelenjar memeknya mengeluarkan cairan karena rangsangan tanganku dan dari kontol Duta yang mulai ditarik keluar masuk.
"Sshh.. Oohh.. Mbak.. Please.. Sshh.. Don't stop.. Aahh.." desah Meta.
Lalu jari telunjukku memainkan clitorisnya yang mulai menegang sementara Duta memompanya dari belakang dan mulutku telah beralih turun ke putingnya. Kuberanikan untuk menyodok-nyodok memeknya dengan dua jari. Agak kasar.
"Sshh.. Aahh.. Oohh Mbak.. Meta ngga tahann.. Sshh.."
Meta mulai mengacak-acak rambutku. Aku merosot ke arah selangkangan Meta, kuangkat paha Meta yang kiri dan aku bantalkan kepalaku pada paha satunya. Dengan posisi paha bawah menekuk begini aku dapat leluasa menjilati clitoris Meta dari depan sedangkan Duta tetap leluasa memompa dari belakang.
"Ohh.. Mbak.. Mas Duta.. Aku mau keluar.." Meta berteriak tidak tahan diperlakukan demikian. Kedua pahanya mulai bergerak akan dijepitkan pada kepalaku sambil terus menggoyangkan pantatnya, tiba tiba Meta menjerit histeris..
"Oohh.. Mbak bagaimana.. Ini.. Orgghh.." Meta terus mengejat-ngejat dengan ritmis pertanda dia sudah keluar.
Duta terus menggenjot pantatnya semakin cepat dan keras hingga mentok ke dasar memek Meta. Dan.. crett.. crreett.. ccrreett.. Dan keluarlah sperma Duta dari sela-sela memek Meta saat sperma Duta keluar. Aku langsung menyedotnya habis sampai bersih.
Rupanya Mas Pujo sudah selesai mandi dan begitu Duta mencabut kontolnya dari memek Meta langsung saja Mas Pujo menggantikan posisi Duta dengan tidur miring dan memasukkan kontolnya ke memek Meta dari belakang.
Mas Pujo mulai mengayunkan kontolnya, walau tampak agak kelelahan tapi Meta berusaha mengimbangi. Setelah agak lama Mas Pujo meminta Meta untuk berposisi menungging dengan tanpa melepaskan kontolnya. Otomatis Meta mengangkangiku dalam posisi 69. Aku terus saja mengambil posisi merengkuh bokong Meta dan mengganjal kepalaku dengan dua bantal agar mulutku dapat pas di clitoris Meta. Mas Pujo langsung mendorong pantatnya.
Aku terkesiap ketika kurasakan lidah Meta sudah memainkan clitorisku, sambil meremas tetekku yang dari tadi terbiarkan. Aku pun mengangkat pantatku dan menarik pinggul Meta hingga kami berpelukan dengan bantalan tetekku dan tetek Meta. Rasanya jiwaku melayang apalagi saat sesekali aku dapat meraih kontol Mas Pujo untuk kukulum dan memasukkannya lagi ke memek Meta.
"Aduuhh..,.. Met.." erang Mas Pujo sambil terus laju memompa memek Meta, dan dua buah pelirnya memukul-mukul ubun-ubunku.
Tiba-tiba ditahannya pantat Meta kuat-kuat agar tidak bergoyang. Dengan menahan pantat Meta kuat-kuat itulah Mas Pujo dapat memompa lebih kuat dan dalam, sedangkan aku dengan susah payah harus melumat clitoris Meta. Rupanya Mas Pujo kuat juga meskipun telah berkali-kali kemaluannya menggocek memek Meta tadi malam tapi masih tetap saja tidak menunjukkan adanya tanda-tanda kelelahan bahkan semakin meradang.
Kulepas mulutku dari clitoris Meta dan terus kutekan dengan jari tengahku sambil kugosok naik turun seperti bermasturbasi, dan tiba-tiba Meta mengapit kepalaku.
"Aduuhh.., Mbakk.., Aahh Mas.. Pujo," kudengar erangan Meta mulai tidak karuan saat aku terus melakukan gosokan pada clitorisnya.
"Mbak Rien..,.. Aku mau keluar.. Ahhgg.." desahnya lagi.
Mendengar desahan Metam aku dan Mas Pujo seperti dikomando, semakin gencar melakukan gosokan sambil tanganku naik turun untuk mempercepat rangsangannya dan Mas Pujo mempercepat tempo genjotannya. Dan tak lama kemudian.., seerrtt.., seerrtt kurasakan dua semburan lelehan putih dari bibir memek Meta serta kedua pahanya semakin mengapit kepalaku kuat-kuat. Lelehan warna putih pekat di tanganku kumasukan mulutku, terasa agak manis asin.
Setelah kedutan-kedutan memek Meta berhenti, kulihat kontol Mas Pujo yang masih tegar kuraih, kuhisap dan kukulum serta kujilat pada kemaluan yang membonggol itu dan hasilnya luar biasa.., aku merasa ukurannya bertambah besar dan mulai bekedut-kedut. Kuhisap lagi berulang kali sampai aku puas. Aku mulai merasakan adanya cairan manis keluar dari ujung kemaluan itu. Aku terus berusaha, mulutku mulai payah. Kugoyang-goyangkan telur kemaluan Mas Pujo.
"Ahh Rienn.." desah Mas Pujo.
Creet.. crett.. Saking kuatnya semprotan dari kemaluan Mas Pujo, kurasakan ada air maninya yang langsung masuk tertelan. Kuhisap terus sampai terasa tidak ada lagi air mani yang keluar dari kemaluan Mas Pujo. Kubersihkan kemaluan Mas Pujo dengan menjilatinya sampai bersih. Aku puas merasakannya. Aku bahagiaa. Sebentar kemudian kurasakan kemaluannya mulai mengecil dan melemas. Pada saat telah kecil dan lemas tersebut, aku merasa mulutku mampu melahap kemaluannya secara menyeluruh.
Kuangkat tubuh Meta tidur ke samping. Kami tidak berpakaian. Meta mulai merapatkan matanya sambil tangannya merangkulku dan tubuhnya yang berkeringat merapat ke tubuhku. Meskipun udara Kopeng dingin, tetapi tubuh kami masih kepanasan berkeringat akibat permainan tadi.
Siangnya pada jam 10.00, kami rapat dengan dihadiri Pak Kidjan penunggu Vila dan memutuskan bahwa pengelolaan usaha yang ada di Jawa termasuk kebun dan villa akan menjadi tanggung jawab Meta. Meta hanya menangis ketika kami sampaikan bahwa kami harus pindah, tapi dengan fasilitas dan keuangan yang ia kelola, Meta akan dapat menyusul kami sewaktu-waktu.
"Kami tak akan pernah melupakanmu Met..," itulah kata-kata kami kepada Meta sebelum kami akhirnya terbang ke Bumi Nyiur Melambai.
Tamat
Kebiasaan Duta selalu membenamkan kontolnya sambil tidur dan hebatnya tidak lepas, tetap saja kencang di dalam memek. Sedang Mas Pujo pasti tangannya tak mau jauh-jauh dari puting, aku tahu persis kelakuan kedua laki-laki itu karena aku juga sering diperlakukannya demikian, bedanya aku tidak dapat tidur dengan kontol masih mengganjal memekku, sedangkan Meta bisa, mungkin karena kecapaian.
Dalam hal seks sebenarnya aku sudah puas sekali dipenuhi oleh Mas Pujo dan Duta tapi kehadiran Meta kadang membuatku ingin bereksperimen terhadap respons sex yang ditimbulkan oleh sesama jenis. Meskipun aku sudah sering main berempat, tapi biasanya aku atau Meta hanya bersifat pasif kurang dominan, sedangkan peran utama tetap pada kedua pria itu.
Pernah pada suatu hari Mas Pujo sedang tidak ada di rumah karena ada tugas ke luar kota selama seminggu dan Duta sedang ada di rumah setelah dari Jakarta selama hampir 5 hari. Kira-kira pada pukul 19.00, Meta datang ke rumahku. Nampaknya Meta tahu bahwa aku sedang berduaan saja dengan Duta. Kami duduk di ruang tamu. Seperti biasa Meta agak kurang tertarik untuk ML kalau dengan Duta. Aku pamit ke dapur untuk membuat minuman. Aku sedang menyeduh teh, ketika Duta tiba-tiba sudah berada di belakangku. Sebelum aku sadar apa yang terjadi, Duta sudah mendekapku dari belakang.
"Duta, jangan.. Jangan di sini sayang, aku kan lagi pegang air panas.. Gak boleh.. Ya sayang.." kataku manja sambil berusaha melepaskan diri.
"Rien..", bisiknya sambil menciumi leher dan telingaku.
"Rien.. Aku kangen banget sama Rien. Kasihanilah aku Rien.. Aku kangen banget", bisiknya sambil terus mendekapku erat-erat.
"Iya.. Iya tapi kan baru tiga hari masak udah gak sabar.." kataku sambil meronta-ronta manja dalam pelukannya.
"Aduhh. Mbaak jangan gitu.. Mas Duta sudah ngga kuat tuh.. Nggak kuaat kan Mas", bisik Meta tiba-tiba juga sudah berada di belakang Duta tanpa sehelai benang pun dengan sinar mata penuh nafsu.
Tangan Meta tiba-tiba meremas buah dadaku, menciumi leher dan belakang telingaku. Tangan kirinya merangkulku dan tangan kanannya tahu-tahu sudah meraba vaginaku sementara pelukan Duta mengendur memberi kesempatan. Aduh, gilaa, sentuhan Meta malah melambungkan nafsuku. Kalau tadi aku pura-pura meronta, sekarang aku malah pasrah, menikmati remasan tangan Meta di puting payudara dan di vaginaku.
Aku dibaliknya menjadi berhadapan, aku didekapnya, dan diciumi wajahku. Dan akhirnya bibirku dikulumnya habis-habisan. Lidahnya masuk ke mulutku, dan aku tidak sadar lagi saat lidahku juga masuk ke mulutnya. Meta menurutku saat itu agak kasar tetapi benar-benar romantis hingga aku benar-benar terhanyut. Sensasinya luar biasa, baru kali itu aku merasakan nikmatnya sentuhan sejenis.
Tanpa terasa Duta dan aku pun telah telanjang bulat, entah siapa yang melucutiku, mungkin Duta. Kalau situasinya memungkinkan, belaian sejenis ternyata malah menjadi lebih nikmat untuk dinikmati. Aku membalas pelukannya, membalas ciumannya. Kami semakin liar. Tangan Duta menyingkap belahan bokongku dan merogoh ke dalam vaginaku yang sudah basah dari belakang sedang tangan Meta mengerjai vaginaku dari depan.
Didekapnya clitorisku dan dipijat-pijatnya, diremasnya, dimainkannya jarinya di belahan vaginaku dan menyentuh clitorisku. Kami tetap berdiri. Aku didorong Meta mepet menyandar ke tubuh Duta, penisnya sudah tegang sekali, mencuat ke atas. Tangan kananku dibimbingnya untuk memegangnya. Penis Duta memang lebih besar daripada punya Mas Pujo. Secara refleks penisnya kupijat dan kuremas-remas dengan gemas.
Duta semakin menekan penisnya ke celah bokongku untuk menerobos vaginaku. Aku paskan di lubangku, dan akhirnya masuk, masuk semuanya ke dalam vaginaku. Duta dengan sangat bernafsu mengocok penisnya keluar masuk sementara kuangkat satu pahaku dan Meta telah merosot ke depan selangkanganku untuk mengulum clitorisku yang juga sudah mencuat. Benar-benar kasar gerakan Meta, tetapi gila, aku sungguh menikmatinya. Sementara penis Duta terasa mengganjal dari belakang dan nikmat sekali. Aku pegang bokongnya dan kutekan-tekankan agar mepet ke pangkal pahaku, agar mencoblos lebih dalam lagi.
"Duta.. Meta.. Aku ngga kuat.. Aduhh.. Kalian.. Curang.." bisikku dengan nafas memburu.
"Ooh.. Meet.."
Cepat kudorong pinggulku ke belakang, sehingga penis Duta bertambah dalam di vaginaku hingga aku mengejat-ngejat menikmati orgasme.
"Orghh.." Duta melenguh seperti kerbau disembelih pertanda akan memuntahkan spermanya.
Lalu tangan Meta segera mencabut dan menggenggam penis Duta yang memuncratkan spermanya di dalam mulut Meta hingga sebagian tumpah di lantai dapur. Kami berpelukan lagi sambil mengatur napas kami. Ya ampun, aku telah disetubuhi Duta dan dioral Meta dengan posisi Duta berdiri, sambil mepet ke tembok. Gila, aku menikmatinya, aku berakhir orgasme dengan sangat cepat, walaupun hanya dilakukan tidak lebih dari 20 menit saja. Mungkin ini karena sensasi yang kuperoleh dari permainan dengan sesama jenis juga.
*****
Pagi itu setelah selesai membersihkan diri di kamar mandi, timbul niatku untuk ganti mengerjai Meta sekaligus memberikan kenangan perpisahan untuknya. Sambil memisahkan pelukan Mas Pujo dengan Meta, aku yang sudah mandi dan masih telanjang bulat menyelinap di antara tubuh mereka.
"Biar aku yang gantiin peluk Meta Mas..", kataku pada Mas Pujo.
Mas Pujo bangun dan langsung ke kamar mandi. Kudekap Meta, kupegang puting susunya yang sebelah kiri sementara tangan kananku meraba vaginanya. Benar saja di memek Meta masih terganjal kontol Duta. Meta terbangun.
"Aku sayang sama Mbak Rien..", kata Meta sambil mencium bibirku.
"Kamu luar biasa deh Met.. vegymu masih bisa pegang.. the big gun", bisikku sambil tersenyum. Meta juga tersenyum nakal, sambil ganti membelai payudaraku.
"Punyaku kencang dan keset ya Mas? Mas Pujo suka bilang gitu. Meskipun udah buat lewat anakku", tanya Meta ke Duta manja. Yang ditanya hanya membuka matanya separuh.
"Mbak, punya Mbak Rien juga masih oke banget kan, nyatanya Mas Duta selalu ketagihan", kata Meta lagi. Kami berdua tersenyum dan mempererat pelukan kami.
Kuciumi Meta dari kening, mata, hidung hingga mulut. Disambutnya ciumanku dengan permainan lidahnya. Lama kami berciuman dan tanganku pun tak henti meremas teteknya yang kenyal. Lalu kubuka bibir vaginanya. Kemudian kususupkan tanganku ke dalam belahan memeknya di antara kontol Duta untuk kemudian jari tengahku kutarik ke atas hingga tepat menekan clitorisnya. Memek Meta telah banjir akibat kelenjar-kelenjar memeknya mengeluarkan cairan karena rangsangan tanganku dan dari kontol Duta yang mulai ditarik keluar masuk.
"Sshh.. Oohh.. Mbak.. Please.. Sshh.. Don't stop.. Aahh.." desah Meta.
Lalu jari telunjukku memainkan clitorisnya yang mulai menegang sementara Duta memompanya dari belakang dan mulutku telah beralih turun ke putingnya. Kuberanikan untuk menyodok-nyodok memeknya dengan dua jari. Agak kasar.
"Sshh.. Aahh.. Oohh Mbak.. Meta ngga tahann.. Sshh.."
Meta mulai mengacak-acak rambutku. Aku merosot ke arah selangkangan Meta, kuangkat paha Meta yang kiri dan aku bantalkan kepalaku pada paha satunya. Dengan posisi paha bawah menekuk begini aku dapat leluasa menjilati clitoris Meta dari depan sedangkan Duta tetap leluasa memompa dari belakang.
"Ohh.. Mbak.. Mas Duta.. Aku mau keluar.." Meta berteriak tidak tahan diperlakukan demikian. Kedua pahanya mulai bergerak akan dijepitkan pada kepalaku sambil terus menggoyangkan pantatnya, tiba tiba Meta menjerit histeris..
"Oohh.. Mbak bagaimana.. Ini.. Orgghh.." Meta terus mengejat-ngejat dengan ritmis pertanda dia sudah keluar.
Duta terus menggenjot pantatnya semakin cepat dan keras hingga mentok ke dasar memek Meta. Dan.. crett.. crreett.. ccrreett.. Dan keluarlah sperma Duta dari sela-sela memek Meta saat sperma Duta keluar. Aku langsung menyedotnya habis sampai bersih.
Rupanya Mas Pujo sudah selesai mandi dan begitu Duta mencabut kontolnya dari memek Meta langsung saja Mas Pujo menggantikan posisi Duta dengan tidur miring dan memasukkan kontolnya ke memek Meta dari belakang.
Mas Pujo mulai mengayunkan kontolnya, walau tampak agak kelelahan tapi Meta berusaha mengimbangi. Setelah agak lama Mas Pujo meminta Meta untuk berposisi menungging dengan tanpa melepaskan kontolnya. Otomatis Meta mengangkangiku dalam posisi 69. Aku terus saja mengambil posisi merengkuh bokong Meta dan mengganjal kepalaku dengan dua bantal agar mulutku dapat pas di clitoris Meta. Mas Pujo langsung mendorong pantatnya.
Aku terkesiap ketika kurasakan lidah Meta sudah memainkan clitorisku, sambil meremas tetekku yang dari tadi terbiarkan. Aku pun mengangkat pantatku dan menarik pinggul Meta hingga kami berpelukan dengan bantalan tetekku dan tetek Meta. Rasanya jiwaku melayang apalagi saat sesekali aku dapat meraih kontol Mas Pujo untuk kukulum dan memasukkannya lagi ke memek Meta.
"Aduuhh..,.. Met.." erang Mas Pujo sambil terus laju memompa memek Meta, dan dua buah pelirnya memukul-mukul ubun-ubunku.
Tiba-tiba ditahannya pantat Meta kuat-kuat agar tidak bergoyang. Dengan menahan pantat Meta kuat-kuat itulah Mas Pujo dapat memompa lebih kuat dan dalam, sedangkan aku dengan susah payah harus melumat clitoris Meta. Rupanya Mas Pujo kuat juga meskipun telah berkali-kali kemaluannya menggocek memek Meta tadi malam tapi masih tetap saja tidak menunjukkan adanya tanda-tanda kelelahan bahkan semakin meradang.
Kulepas mulutku dari clitoris Meta dan terus kutekan dengan jari tengahku sambil kugosok naik turun seperti bermasturbasi, dan tiba-tiba Meta mengapit kepalaku.
"Aduuhh.., Mbakk.., Aahh Mas.. Pujo," kudengar erangan Meta mulai tidak karuan saat aku terus melakukan gosokan pada clitorisnya.
"Mbak Rien..,.. Aku mau keluar.. Ahhgg.." desahnya lagi.
Mendengar desahan Metam aku dan Mas Pujo seperti dikomando, semakin gencar melakukan gosokan sambil tanganku naik turun untuk mempercepat rangsangannya dan Mas Pujo mempercepat tempo genjotannya. Dan tak lama kemudian.., seerrtt.., seerrtt kurasakan dua semburan lelehan putih dari bibir memek Meta serta kedua pahanya semakin mengapit kepalaku kuat-kuat. Lelehan warna putih pekat di tanganku kumasukan mulutku, terasa agak manis asin.
Setelah kedutan-kedutan memek Meta berhenti, kulihat kontol Mas Pujo yang masih tegar kuraih, kuhisap dan kukulum serta kujilat pada kemaluan yang membonggol itu dan hasilnya luar biasa.., aku merasa ukurannya bertambah besar dan mulai bekedut-kedut. Kuhisap lagi berulang kali sampai aku puas. Aku mulai merasakan adanya cairan manis keluar dari ujung kemaluan itu. Aku terus berusaha, mulutku mulai payah. Kugoyang-goyangkan telur kemaluan Mas Pujo.
"Ahh Rienn.." desah Mas Pujo.
Creet.. crett.. Saking kuatnya semprotan dari kemaluan Mas Pujo, kurasakan ada air maninya yang langsung masuk tertelan. Kuhisap terus sampai terasa tidak ada lagi air mani yang keluar dari kemaluan Mas Pujo. Kubersihkan kemaluan Mas Pujo dengan menjilatinya sampai bersih. Aku puas merasakannya. Aku bahagiaa. Sebentar kemudian kurasakan kemaluannya mulai mengecil dan melemas. Pada saat telah kecil dan lemas tersebut, aku merasa mulutku mampu melahap kemaluannya secara menyeluruh.
Kuangkat tubuh Meta tidur ke samping. Kami tidak berpakaian. Meta mulai merapatkan matanya sambil tangannya merangkulku dan tubuhnya yang berkeringat merapat ke tubuhku. Meskipun udara Kopeng dingin, tetapi tubuh kami masih kepanasan berkeringat akibat permainan tadi.
Siangnya pada jam 10.00, kami rapat dengan dihadiri Pak Kidjan penunggu Vila dan memutuskan bahwa pengelolaan usaha yang ada di Jawa termasuk kebun dan villa akan menjadi tanggung jawab Meta. Meta hanya menangis ketika kami sampaikan bahwa kami harus pindah, tapi dengan fasilitas dan keuangan yang ia kelola, Meta akan dapat menyusul kami sewaktu-waktu.
"Kami tak akan pernah melupakanmu Met..," itulah kata-kata kami kepada Meta sebelum kami akhirnya terbang ke Bumi Nyiur Melambai.
Tamat
Pesta dirumah
Aku ingin memperkenalkan diriku kepada para pembaca Rumah Seks tentang pengalamanku. Namaku Nadya. Aku adalah gadis keturunan chinese yang berkulit kuning langsat. Badanku tidak terlalu tinggi hanya sekitar 155 cm dan berat 45 cm. Payudaraku berukuran sedang, sekitar 34B. Usiaku sekarang 22 tahun dan aku tinggal di pinggiran kota Jakarta
Aku sebenarnya bukanlah wanita penggoda. Cuman aku sering mendengar dari teman-teman kuliahku bahwa aku termasuk cewek yang berpenampilan sexy dan sering membuat para cowok turun naik jakunnya. Terlebih aku suka memakai kaos longgar, sehingga jika aku menunduk sering terlihat gundukan payudaraku yang terbungkus bra hitam kesukaanku.
Di rumahku sendiri, setiap habis mandi, aku selalu hanya membungkus tubuhku menggunakan kimono mandi warna biru muda berbahan handuk. Seringkali karena habis tersiram air yang dingin, membuat puting susuku tercetak di balik kimono. Kamar mandiku sendiri terletak di ruang tamu, dan sering pada saat aku mandi, pacar ciciku datang sedang ngapelin ciciku. Walau aku tidak pernah berpikiran ngeres, tapi sering aku melihat pacar ciciku menelan ludah jika melihat aku habis mandi hanya berbalut kimono itu.
Ayahku adalah seorang penyalur TKI yang akan diberangkatkan ke luar negeri. Sering kali ada TKI baik pria maupun wanita menginap di rumah sebelum diberangkatkan ke luar negeri. Hari Minggu kemarin papa baru saja membawa pulang 3 orang TKI pria berusia sekitar 20 tahunan yang kuketahui bernama Maman, Yadi, dan Mulyo. Mereka bertiga orang desa yang bertubuh kekar dan berkulit gelap. Mereka sedang menunggu akan berangkat ke Malaysia.
Pagi itu hari Senin, aku sendirian di rumah bersama ke 3 orang calon TKI itu. Mamaku sedang pergi ke Jakarta bersama papaku ada keperluan mendadak. Sementara ciciku pergi bersama pacarnya entah kemana.
Aku waktu itu habis beraerobik ria di rumah, dan kemudian ingin mandi. Seperti biasa kubawa saja kimono biruku ke kamar mandi. Dan setelah aku beberapa saat aku selesai mandi, maka kubalut tubuh telanjangku itu dengan kimonoku tanpa apa-apa lagi di baliknya.
Kemudian aku berjalan ke halaman belakang hendak menjemur pakaian dalam yang baru kupakai semalam untuk tidur. Kulihat para TKI itu sedang menikmati sarapan pagi. Mereka menyapaku ramah.
Kulihat mereka memandangiku saat aku memeras BH hitam dan celana dalam kuningku yang sexy itu. Sebenarnya aku risih juga dilihatin begitu, tapi aku pikir tanggung, sebentar lagi aku akan kekamar untuk ganti pakaian. Maka aku kemudian menjemur pakaian dalamku itu. Pada saat aku berjinjit untuk menaruh pakaian dalamku di jemuran, tak terasa kimonoku sedikit tertarik ke atas, padahal kimono itu hanya sepaha. Maka, tak elak lagi, bulu bulu vaginaku yang tidak tertutup itu sedikit kelihatan membuat mereka melotot.
Tapi aku tak menyadari hal itu, kemudian aku berbalik dan masuk ke kamar. Kamarku sendiri ada jendela besar ke halaman belakang. Aku ingat ada para TKI itu, maka korden aku tutup, namun rupanya tidak tertutup rapat dan masih bisa kelihatan dari halaman belakang.
Aku melepas kimonoku, dan mulai melotioni tubuh telanjangku ini. Aku tak sadar ada 3 pasang mata yang melotot memandangi tubuh telanjangku ini. Beberapa saat kemudian aku baru sadar saat melihat bayangan di cermin. Maka aku berteriak dan segera menutup payudara dan kemaluanku dengan tangan.
Ketiga TKI itu segera lari dan masuk ke kamarku yang memang tak pernah kukunci. Aku kaget melihat mereka bertiga masuk ke kamarku.
"Non, kami sudah melihat tubuh non yang mulus itu. Sebaiknya non tidak usah melawan karena di sini tidak ada siapa-siapa lagi " kata Mulyo cengengesan. Aku masih berusaha galak dan menyuruh mereka keluar.
Namun Maman dan Yadi segera maju dan memegangi tanganku. Kemudian aku mereka banting di ranjang. Aku kemudian berpikir daripada aku melawan malah mendapat celaka, maka lebih baik aku pasrah saja dan tidak melawan.
"Sabar-sabar, jangan pada main kasar gitu donk. Saya kan belum pernah gituan.. pelan2 kek" tegurku.
Mereka kemudian tidak lagi beringas, dan mendekatiku. Maman segera memelukku dan menciumi bibirku dengan ganas. Mula-mula aku berusaha menolak bibirnya yang bau itu, namun saat Yadi mulai menjilati payudaraku, dan Mulyo mulai mengelus-elus bibir vaginaku dengan tangannya yang kasar itu, aku mulai terangsang dan bibirku mulai membuka untuk membalas serbuan bibir Maman yang tangannya sibuk meremasi pantatku yang bulat itu.
Tanganku mulai meraba-raba celana mereka. Dan Yadi berinisiatif membuka celananya dan menyodorkan kontolnya yang lumayan besar itu ke tanganku. Aku agak kaget melihat kontol pria sebesar itu. Aku sudah sering melihat kontol milik pacar-pacarku namun tidak ada yang sebesar itu. Apalagi Maman dan Mulyo menyusul bugil. Ternyata kontol mereka begitu besar.
Aku sempat ketakutan, namun dengan halus, Mulyo memegang tanganku dan menaruhnya di batang penisnya. Akupun perlahan mulai mengelus penisnya. Maman melanjutkan menyusu di payudaraku yang montok itu.
Aku yang sudah makin terangsang, mulai bergantian menjilati batang penis Mulyo dan Yadi secara bergantian, sementara Maman kini mulai menjilati klitorisku yang memerah.
Tiba-tiba aku merasa ingin pipis dan akhirnya keluar cairan banyak dari vaginaku. Ketiga cowok itu segera saja berebut menjilati vaginaku sampai aku kegelian.
Yadi kemudian menelentangkan aku di ranjang. Aku merasa inilah saatnya aku akan kehilangan keperawananku. Saat Yadi menempelkan kepala kontolnya yang besar itu di bibir vaginaku aku sempat berusaha menolaknya. Namun dari belakang Mulyo mendorong Yadi sehingga kontolnya langsung amblas ke memekku. Aku menjerit kesakitan.
Namun Mulyo segera berinisiatif menjilati puting payudaraku sehingga aku kegelian. Yadi sendiri perlahan mulai menarik majukan kontolnya sehingga aku merasakan kegelian yang amat sangat di lubang vaginaku. Terasa kontolnya memenuhi lubang vaginaku.
Tiba-tiba sambil memelukku, Yadi menggulingkan aku sehingga aku berada di atasnya. Mulutnya segera menyerbu ke puting payudaraku yang menggantung bebas. Belum sempat aku berpikir tiba-tiba dari belakang Mulyo menyodokkan kontolnya yang besar itu ke dalam lubang anusku. Aku yang berteriak kesakitan, segera disumpal mulutku dengan kontol Maman samai aku nyaris muntah.
Kini dalam keadaan menelungkup, ketiga lubangku sudah dimasuki kontol yang berbeda. Namun aku merasakan sensasi yang luar biasa. Seluruh tubuhku serasa dilolosi. Aku mengalami orgasme sampai 3 kali.
Akhirnya aku merasa ingin orgasme lagi, dan bersamaan dengan orgasmeku, kurasakan Yadi menyemprotkan banyak sekali spermanya di dalam memekku. Kemudian aku jatuh lunglai di pelukan Yadi.
Mulyo kemudian segera menarikku duduk di pangkuannya sambil kontolnya masih menancap di lubang anusku. Dari belakang ia meremas-remas payudaraku yang berguncang-guncang. Maman yang belum klimaks, segera menyodokkan kontolnya ke dalam vaginaku yang nganggur itu.
Aku benar-benar sudah merasa kepayahan, hingga akhirnya aku merasa ingin keluar lagi. Tak lama kemudian aku benar-benar tak tahan lagi dan akhirnya aku menyemprotkan cairan orgasmeku yang kelima. Maman tak lama kemudian menyusul menyemprotkan maninya di dalam memekku.
Mulyo rupanya memang yang terkuat di antara mereka. Dia belum keluar, sehingga dia kemudian menunggingkan aku dan kontolnya pindah ke vaginaku. Dari belakang aku disodoknya sambil tangannya memeras-meras payudaraku.
15 menit kemudian dia akhirnya mencapai klimaks dan aku pun juga mencapai orgasmeku lagi. Kami berempat akhirnya lunglai di atas ranjang.
Kulihat jam, ternyata sudah hampir 2 jam kami melakukan pesta sex. Aku kemudian mengajak mereka untuk mandi bersama karena aku khawatir sebentar lagi papa mamaku pulang. Kemudian kami berempat mandi bersama. Di kamar mandi ketiga laki-laki itu selalu berebutan untuk menjamah tubuhku yang mulus ini.
Sungguh pengalaman ini tak terlupakan bagiku dan aku mulai mengerti nikmatnya sex sejak itu. Lain kali akan kuceritakan pengalamanku bersama tetanggaku.
Tamat
Aku sebenarnya bukanlah wanita penggoda. Cuman aku sering mendengar dari teman-teman kuliahku bahwa aku termasuk cewek yang berpenampilan sexy dan sering membuat para cowok turun naik jakunnya. Terlebih aku suka memakai kaos longgar, sehingga jika aku menunduk sering terlihat gundukan payudaraku yang terbungkus bra hitam kesukaanku.
Di rumahku sendiri, setiap habis mandi, aku selalu hanya membungkus tubuhku menggunakan kimono mandi warna biru muda berbahan handuk. Seringkali karena habis tersiram air yang dingin, membuat puting susuku tercetak di balik kimono. Kamar mandiku sendiri terletak di ruang tamu, dan sering pada saat aku mandi, pacar ciciku datang sedang ngapelin ciciku. Walau aku tidak pernah berpikiran ngeres, tapi sering aku melihat pacar ciciku menelan ludah jika melihat aku habis mandi hanya berbalut kimono itu.
Ayahku adalah seorang penyalur TKI yang akan diberangkatkan ke luar negeri. Sering kali ada TKI baik pria maupun wanita menginap di rumah sebelum diberangkatkan ke luar negeri. Hari Minggu kemarin papa baru saja membawa pulang 3 orang TKI pria berusia sekitar 20 tahunan yang kuketahui bernama Maman, Yadi, dan Mulyo. Mereka bertiga orang desa yang bertubuh kekar dan berkulit gelap. Mereka sedang menunggu akan berangkat ke Malaysia.
Pagi itu hari Senin, aku sendirian di rumah bersama ke 3 orang calon TKI itu. Mamaku sedang pergi ke Jakarta bersama papaku ada keperluan mendadak. Sementara ciciku pergi bersama pacarnya entah kemana.
Aku waktu itu habis beraerobik ria di rumah, dan kemudian ingin mandi. Seperti biasa kubawa saja kimono biruku ke kamar mandi. Dan setelah aku beberapa saat aku selesai mandi, maka kubalut tubuh telanjangku itu dengan kimonoku tanpa apa-apa lagi di baliknya.
Kemudian aku berjalan ke halaman belakang hendak menjemur pakaian dalam yang baru kupakai semalam untuk tidur. Kulihat para TKI itu sedang menikmati sarapan pagi. Mereka menyapaku ramah.
Kulihat mereka memandangiku saat aku memeras BH hitam dan celana dalam kuningku yang sexy itu. Sebenarnya aku risih juga dilihatin begitu, tapi aku pikir tanggung, sebentar lagi aku akan kekamar untuk ganti pakaian. Maka aku kemudian menjemur pakaian dalamku itu. Pada saat aku berjinjit untuk menaruh pakaian dalamku di jemuran, tak terasa kimonoku sedikit tertarik ke atas, padahal kimono itu hanya sepaha. Maka, tak elak lagi, bulu bulu vaginaku yang tidak tertutup itu sedikit kelihatan membuat mereka melotot.
Tapi aku tak menyadari hal itu, kemudian aku berbalik dan masuk ke kamar. Kamarku sendiri ada jendela besar ke halaman belakang. Aku ingat ada para TKI itu, maka korden aku tutup, namun rupanya tidak tertutup rapat dan masih bisa kelihatan dari halaman belakang.
Aku melepas kimonoku, dan mulai melotioni tubuh telanjangku ini. Aku tak sadar ada 3 pasang mata yang melotot memandangi tubuh telanjangku ini. Beberapa saat kemudian aku baru sadar saat melihat bayangan di cermin. Maka aku berteriak dan segera menutup payudara dan kemaluanku dengan tangan.
Ketiga TKI itu segera lari dan masuk ke kamarku yang memang tak pernah kukunci. Aku kaget melihat mereka bertiga masuk ke kamarku.
"Non, kami sudah melihat tubuh non yang mulus itu. Sebaiknya non tidak usah melawan karena di sini tidak ada siapa-siapa lagi " kata Mulyo cengengesan. Aku masih berusaha galak dan menyuruh mereka keluar.
Namun Maman dan Yadi segera maju dan memegangi tanganku. Kemudian aku mereka banting di ranjang. Aku kemudian berpikir daripada aku melawan malah mendapat celaka, maka lebih baik aku pasrah saja dan tidak melawan.
"Sabar-sabar, jangan pada main kasar gitu donk. Saya kan belum pernah gituan.. pelan2 kek" tegurku.
Mereka kemudian tidak lagi beringas, dan mendekatiku. Maman segera memelukku dan menciumi bibirku dengan ganas. Mula-mula aku berusaha menolak bibirnya yang bau itu, namun saat Yadi mulai menjilati payudaraku, dan Mulyo mulai mengelus-elus bibir vaginaku dengan tangannya yang kasar itu, aku mulai terangsang dan bibirku mulai membuka untuk membalas serbuan bibir Maman yang tangannya sibuk meremasi pantatku yang bulat itu.
Tanganku mulai meraba-raba celana mereka. Dan Yadi berinisiatif membuka celananya dan menyodorkan kontolnya yang lumayan besar itu ke tanganku. Aku agak kaget melihat kontol pria sebesar itu. Aku sudah sering melihat kontol milik pacar-pacarku namun tidak ada yang sebesar itu. Apalagi Maman dan Mulyo menyusul bugil. Ternyata kontol mereka begitu besar.
Aku sempat ketakutan, namun dengan halus, Mulyo memegang tanganku dan menaruhnya di batang penisnya. Akupun perlahan mulai mengelus penisnya. Maman melanjutkan menyusu di payudaraku yang montok itu.
Aku yang sudah makin terangsang, mulai bergantian menjilati batang penis Mulyo dan Yadi secara bergantian, sementara Maman kini mulai menjilati klitorisku yang memerah.
Tiba-tiba aku merasa ingin pipis dan akhirnya keluar cairan banyak dari vaginaku. Ketiga cowok itu segera saja berebut menjilati vaginaku sampai aku kegelian.
Yadi kemudian menelentangkan aku di ranjang. Aku merasa inilah saatnya aku akan kehilangan keperawananku. Saat Yadi menempelkan kepala kontolnya yang besar itu di bibir vaginaku aku sempat berusaha menolaknya. Namun dari belakang Mulyo mendorong Yadi sehingga kontolnya langsung amblas ke memekku. Aku menjerit kesakitan.
Namun Mulyo segera berinisiatif menjilati puting payudaraku sehingga aku kegelian. Yadi sendiri perlahan mulai menarik majukan kontolnya sehingga aku merasakan kegelian yang amat sangat di lubang vaginaku. Terasa kontolnya memenuhi lubang vaginaku.
Tiba-tiba sambil memelukku, Yadi menggulingkan aku sehingga aku berada di atasnya. Mulutnya segera menyerbu ke puting payudaraku yang menggantung bebas. Belum sempat aku berpikir tiba-tiba dari belakang Mulyo menyodokkan kontolnya yang besar itu ke dalam lubang anusku. Aku yang berteriak kesakitan, segera disumpal mulutku dengan kontol Maman samai aku nyaris muntah.
Kini dalam keadaan menelungkup, ketiga lubangku sudah dimasuki kontol yang berbeda. Namun aku merasakan sensasi yang luar biasa. Seluruh tubuhku serasa dilolosi. Aku mengalami orgasme sampai 3 kali.
Akhirnya aku merasa ingin orgasme lagi, dan bersamaan dengan orgasmeku, kurasakan Yadi menyemprotkan banyak sekali spermanya di dalam memekku. Kemudian aku jatuh lunglai di pelukan Yadi.
Mulyo kemudian segera menarikku duduk di pangkuannya sambil kontolnya masih menancap di lubang anusku. Dari belakang ia meremas-remas payudaraku yang berguncang-guncang. Maman yang belum klimaks, segera menyodokkan kontolnya ke dalam vaginaku yang nganggur itu.
Aku benar-benar sudah merasa kepayahan, hingga akhirnya aku merasa ingin keluar lagi. Tak lama kemudian aku benar-benar tak tahan lagi dan akhirnya aku menyemprotkan cairan orgasmeku yang kelima. Maman tak lama kemudian menyusul menyemprotkan maninya di dalam memekku.
Mulyo rupanya memang yang terkuat di antara mereka. Dia belum keluar, sehingga dia kemudian menunggingkan aku dan kontolnya pindah ke vaginaku. Dari belakang aku disodoknya sambil tangannya memeras-meras payudaraku.
15 menit kemudian dia akhirnya mencapai klimaks dan aku pun juga mencapai orgasmeku lagi. Kami berempat akhirnya lunglai di atas ranjang.
Kulihat jam, ternyata sudah hampir 2 jam kami melakukan pesta sex. Aku kemudian mengajak mereka untuk mandi bersama karena aku khawatir sebentar lagi papa mamaku pulang. Kemudian kami berempat mandi bersama. Di kamar mandi ketiga laki-laki itu selalu berebutan untuk menjamah tubuhku yang mulus ini.
Sungguh pengalaman ini tak terlupakan bagiku dan aku mulai mengerti nikmatnya sex sejak itu. Lain kali akan kuceritakan pengalamanku bersama tetanggaku.
Tamat
Pesta dengan gadis SMA - 1
Hari sudah lewat pukul 12.00. Aku sedang bergegas untuk pergi makan siang ketika handphoneku berbunyi. Kulihat di layar tampak sebuah nomor yang tidak aku kenal.
"Ya hallo.." sapaku.
"Pagi Pak Robert.. Ini Dian.. Masih ingat khan "
"Oh Dian.. Ya masih donk.."
"Pak sudah terima surat lamarannya?"
"Iya sudah.. Sekarang sedang diproses. Kamu sabar saja ya sayang.." jawabku sambil berjalan keluar ruangan kantorku.
"Tolong Dian ya Pak supaya diterima" pinta Dian di seberang sana.
"Beres Dian. Asal kamu ingat saja.. Apa yang saya suka dari kamu"
"Pasti Pak.. Saya tidak akan mengecewakan bapak. Segala perintah Pak Robert akan saya penuhi" Dian menjawab dengan antusias.
Bagi pembaca yang belum membaca kisahku sebelumnya, Dian ini adalah gadis salon yang pernah aku kencani. Mendengar suaranya di telpon membuat kenangan ketika aku menikmati tubuh mungilnya serta buah dadanya yang ranum kembali terbayang. Ahh mungkin nanti sehabis pulang kantor aku akan mampir di salonnya, pikirku.
Ketika aku hendak keluar kantor, kulihat Noni resepsionisku di lobby. Tampak cantik sekali dia hari itu, dengan blazer warna coklat dipadu dengan rok yang sewarna. Mungkin karena aku sedang ereksi membayangkan persetubuhanku dengan Dian, kuurungkan niatku untuk keluar kantor dan aku berbalik menuju ruangan kantorku kembali.
"Noni sebentar ke sini" perintahku lewat telpon.
"Ada.. Apa pakk.." jawabnya agak gugup
"Pokoknya sebentar ke sini. Cepat!!" perintahku lagi dengan suara agak kutinggikan.
"Babbaikk. Pak"
Mungkin dia sudah tahu apa yang akan terjadi pada dirinya sebentar lagi. Aku memang kadang memanggilnya ke ruanganku sekedar untuk memuaskan hasrat birahiku. Biasanya aku melakukannya sehabis jam kerja, ketika kantor telah sepi. Tapi terkadang aku memanggilnya untuk sekedar seks kilat agar dapat meredakan keteganganku, yang dapat membuat konsentrasi kerjaku terganggu.
Nonipun tak lama telah muncul di ruanganku. Setelah kusuruh mengunci pintu, aku perintahkan dia untuk duduk di sofa tamu. Wajahnya yang cantik tampak pasrah dengan keadaan yang mengharuskan dia untuk menjadi sarana pelampiasan nafsu kelelakianku.
Kuelus-elus pundaknya, dan kukecup pipinya.
"Kamu sudah berani kurang ajar ya.. Bikin saya terangsang.. Kamu harus tanggung jawab!" kataku sambil menjambak rambutnya gemas.
"Ehh.." hanya itu erangan yang keluar dari mulut Noni ketika rambutnya kutarik, sehingga aku dapat leluasa menciumi bibirnya yang indah.
Tangankupun segera melucuti kancing bajunya. Kuturunkan ke bawah cup BHnya sehingga buah dada Noni mencuat keluar. Kujilati dengan ganas buah dadanya yang membusung itu, sambil terkadang kuisap-isap putingnya. Nonipun kembali mengerang tertahan, seperti suara orang menangis.
Sementara perutku sudah mulai keroncongan. Sambil terus menikmati buah dada resepsionis cantikku ini, kulihat jam tangan Rolexku. Wah sudah jam 12.30, pantas aku sudah lapar, pikirku. Akupun ingin cepat-cepat ejakulasi sehingga dapat segera pergi makan siang.
Segera aku berdiri agak menyamping menghadap Noni yang masih duduk di sofa. Kubuka celanaku berikut celana dalamnya, sehingga kemaluanku melonjak keluar hampir mengenai wajahnya. Kurangkul kepala Noni dengan tangan kiriku, sementara tangan kananku menyorongkan kemaluanku untuk dihisapnya. Rasa hangat yang nikmat segera menjalar ditubuhku ketika kemaluanku menerobos mulutnya. Nonipun menghisapi kemaluan bosnya seperti seorang budak seks yang patuh.
"Ya.. Begitu.. Pintar kamu.." kataku memujinya, saat kulihat kepalanya yang maju mundur mengulum kemaluanku.
"Mentang-mentang cantik sudah berani merangsang ya.. Ayo isap terus.. Yeeah you little slut.." racauku lagi sambil meremasi rambutnya.
Beberapa saat kemudian kulihat lagi jam tanganku, sekarang sudah jam 12.45, sementara entah mengapa belum ada tanda-tanda ejakulasi akan aku alami. Mungkin karena terburu-buru, malah membuat ejakulasiku semakin lama. Sementara perutkupun semakin keroncongan.
Tak sabar, kutepis tangan Noni yang memegang kemaluanku. Lalu aku bergeser sedikit sehingga tepat berada di hadapannya. Kupegang dengan erat kedua belah pipinya, dan kugenjot kemaluanku ke dalam mulutnya. Semakin lama semakin cepat aku pompa mulut resepsionis ABGku ini sampai diapun tersedak-sedak. Kucabut keluar sebentar kemaluanku, sehingga Noni dapat mengambil nafas, lalu kembali kuhujamkan ke dalam rongga mulut dan kerongkongannya. Tampak air mata membasahi pipinya yang aku pegang erat.
"Hek.. Hek.." terdengar suara Noni mengerang menahan desakan kemaluanku di mulutnya.
"Ha.. Ha.. Dasar ABG.. Suka kontol kamu ya.. Enak khan kontol besar.. Pacarmu sudah jelek, kontolnya kecil pula.. Kasihan deh kamu" kataku melihat dia tersedak-sedak.
Kucabut kembali kemaluanku untuk memberinya waktu untuk mengambil nafas, dan kemudian kupompa kembali ke dalam mulutnya. Tak lama aku merasakan hampir mencapai orgasme. Kucabut kembali kemaluanku.
"Ayo sekarang hisap perlahan.. Yang lembut" perintahku.
Nonipun kembali dengan patuhnya menghisapi kemaluanku. Kali ini dia yang memaju mundurkan kepalanya saat mulutnya disesaki oleh kemaluanku. Sementara tangannya memegang pangkal batangnya.
"Jangan pakai tangan!!" kataku. Nonipun dengan cepat seperti ketakutan melepaskan pegangannya.
"Lihat sini dong.. Gimana sih!!" tegurku ketika dia memejamkan matanya ketika mengulum kemaluanku. Nonipun membuka matanya dan menatap ke atas, ke arahku.
Rasa puas hinggap di sekujur tubuhku dapat mengerjai karyawan cantik seperti Noni ini. Sambil berkacak pinggang kuperhatikan Noni dengan lembut menghisapi kemaluanku. Beberapa saat kemudian, ejakulasiku sudah tak tertahan lagi. Kupegang dengan erat kembali kepala Noni, dan kuhujamkan kemaluanku ke dalam kerongkongannya. Aku tak mau spermaku membasahi pakaianku.
Kulirik jam tanganku. Jam 1.05 siang. Akupun bergegas membenahi pakaianku.
"Ayo cepat.. Cepat!!" perintahku pada Noni yang masih menyeka bibirnya dengan tisu. Diapun segera membereskan BHnya dan menutup kancing bajunya. Kamipun keluar ruangan kantorku.
*****
Kuparkir mobil Mercy metalikku di basement sebuah mal yang tak begitu jauh dari kantorku. Beberapa waktu yang lalu sebuah bom meledak di depan hotel tak jauh dari mal tersebut. Semoga saja kali ini tak terjadi hal seperti itu.
Kubergegas menuju restoran steak kesukaanku. Setelah makan di restoran franchise dari Afrika Selatan itu, badankupun kembali segar. Pikirankupun kembali cerah, terlebih setelah aku sempat memuaskan dahaga seksualku tadi di kantor. Akupun memutuskan jalan-jalan sejenak di mal sebelum kembali ke kantor, sekalian untuk membeli HP keluaran terbaru.
Di salah satu lantai mal itu, banyak terdapat counter penjualan handphone. Akupun mampir ke salah satu counter, dan mencoba salah satu HP terbaru. Salah satu kelebihan dari HP ini adalah video recordernya yang dapat merekam hingga 4 menit. Sedangkan punyaku hanya bisa standard saja, kurang lebih 10 detik. Kuputuskan untuk membeli HP ini, dan sementara petugas counter telpon itu mengurus pembelianku, kulihat di counter sebelah, duduk dua orang gadis berseragam SMA. Mereka kadang melirik ke arahku, dan yang seorang tersenyum ketika mata kami saling beradu pandang.
Kubalas senyum gadis tersebut. Dia berparas tidak terlalu cantik, tetapi cukup manis. Berambut panjang, dengan kulit sawo matang dan badan yang sexy. Badannya tampak sintal dibalut seragam putih abu-abunya. Tampak buah dadanya yang membusung menantang. Sementara
Temannya berparas cantik, berkulit putih, dengan badan yang juga sexy walaupun buah dadanya tidak sebesar gadis yang pertama. Sekilas wajahnya mirip dengan bintang sinetron remaja di televisi.
Sebenarnya aku tidak begitu "in the mood" untuk berkencan dengan kedua gadis tersebut. Maklum, baru saja aku mencapai orgasme menggarap resepsionisku. Tapi ketika aku beranjak akan pulang dan melewati mereka, tiba-tiba saja kudengar seseorang bicara.
"Hey.. Oom.. Beliin kita pulsa dong..". Kutengok ternyata si gadis berkulit sawo matang itu yang bicara.
"Pulsa kita sudah habis Oom.. Tolong dong.. Oom baik deh" sambungnya lagi.
"Hus.." temannya yang cantik berkulit putih tampak sungkan dengan perkataan temannya.
Roknya yang agak mini memperlihatkan keindahan pahanya yang mulus berbulu halus. Dari celah baju seragamnya terlihat sekilas buah dadanya yang cukup besar terbungkus BH berwarna krem. Melihat pemandangan indah ini, berubah pikiranku. Ingin rasanya aku berkencan dengan mereka, terutama si cantik berkulit putih ini.
"Kenalan dulu dong.." jawabku.
Mereka kemudian satu per satu memperkenalkan diri. Si gadis berkulit sawo matang bernama Desi, sedangkan temannya bernama Putri. Memang cocok dengan wajahnya yang cantik seperti seorang puteri. Akupun kemudian membelikan mereka pulsa isi ulang seperlunya. Mereka tampak girang.
"Makasih ya Oom.. Si Putri sekarang bisa nelpon pacarnya lagi", kata Desi menggoda temannya.
"Iih.." Putri mencubit temannya itu sambil tertawa.
Memang dunia remaja itu menyenangkan. Mereka sangat ceria menikmati masa mudanya, belum terlalu memikirkan hal-hal yang terlalu serius. Just having fun, mungkin itu motto mereka. Akupun membatalkan rencanaku untuk kembali kekantor. Kuajak dua gadis SMA ini menemaniku jalan-jalan di mal tersebut.
"Oom beliin kita baju donk.". Kembali Desi merengek.
Memang si Desi ini lebih banyak omong, dan yang pasti lebih matre dibandingkan dengan Putri. Tetapi karena tidak mungkin memisahkan mereka berdua, aku ikuti saja kemauannya. Semakin berhutang budi mereka padaku, semakin besar kesempatanku untuk menikmati tubuh belia mereka.
Selesai shopping, kuajak mereka ke sebuah cafe di mal tersebut. Maksudku agar kita dapat berbincang-bincang supaya lebih akrab. Kupesan coffee latte buatku dan mereka memesan soft drink serta tiramisu. Kamipun berbincang-bincang panjang lebar.
Bersambung . . . .
"Ya hallo.." sapaku.
"Pagi Pak Robert.. Ini Dian.. Masih ingat khan "
"Oh Dian.. Ya masih donk.."
"Pak sudah terima surat lamarannya?"
"Iya sudah.. Sekarang sedang diproses. Kamu sabar saja ya sayang.." jawabku sambil berjalan keluar ruangan kantorku.
"Tolong Dian ya Pak supaya diterima" pinta Dian di seberang sana.
"Beres Dian. Asal kamu ingat saja.. Apa yang saya suka dari kamu"
"Pasti Pak.. Saya tidak akan mengecewakan bapak. Segala perintah Pak Robert akan saya penuhi" Dian menjawab dengan antusias.
Bagi pembaca yang belum membaca kisahku sebelumnya, Dian ini adalah gadis salon yang pernah aku kencani. Mendengar suaranya di telpon membuat kenangan ketika aku menikmati tubuh mungilnya serta buah dadanya yang ranum kembali terbayang. Ahh mungkin nanti sehabis pulang kantor aku akan mampir di salonnya, pikirku.
Ketika aku hendak keluar kantor, kulihat Noni resepsionisku di lobby. Tampak cantik sekali dia hari itu, dengan blazer warna coklat dipadu dengan rok yang sewarna. Mungkin karena aku sedang ereksi membayangkan persetubuhanku dengan Dian, kuurungkan niatku untuk keluar kantor dan aku berbalik menuju ruangan kantorku kembali.
"Noni sebentar ke sini" perintahku lewat telpon.
"Ada.. Apa pakk.." jawabnya agak gugup
"Pokoknya sebentar ke sini. Cepat!!" perintahku lagi dengan suara agak kutinggikan.
"Babbaikk. Pak"
Mungkin dia sudah tahu apa yang akan terjadi pada dirinya sebentar lagi. Aku memang kadang memanggilnya ke ruanganku sekedar untuk memuaskan hasrat birahiku. Biasanya aku melakukannya sehabis jam kerja, ketika kantor telah sepi. Tapi terkadang aku memanggilnya untuk sekedar seks kilat agar dapat meredakan keteganganku, yang dapat membuat konsentrasi kerjaku terganggu.
Nonipun tak lama telah muncul di ruanganku. Setelah kusuruh mengunci pintu, aku perintahkan dia untuk duduk di sofa tamu. Wajahnya yang cantik tampak pasrah dengan keadaan yang mengharuskan dia untuk menjadi sarana pelampiasan nafsu kelelakianku.
Kuelus-elus pundaknya, dan kukecup pipinya.
"Kamu sudah berani kurang ajar ya.. Bikin saya terangsang.. Kamu harus tanggung jawab!" kataku sambil menjambak rambutnya gemas.
"Ehh.." hanya itu erangan yang keluar dari mulut Noni ketika rambutnya kutarik, sehingga aku dapat leluasa menciumi bibirnya yang indah.
Tangankupun segera melucuti kancing bajunya. Kuturunkan ke bawah cup BHnya sehingga buah dada Noni mencuat keluar. Kujilati dengan ganas buah dadanya yang membusung itu, sambil terkadang kuisap-isap putingnya. Nonipun kembali mengerang tertahan, seperti suara orang menangis.
Sementara perutku sudah mulai keroncongan. Sambil terus menikmati buah dada resepsionis cantikku ini, kulihat jam tangan Rolexku. Wah sudah jam 12.30, pantas aku sudah lapar, pikirku. Akupun ingin cepat-cepat ejakulasi sehingga dapat segera pergi makan siang.
Segera aku berdiri agak menyamping menghadap Noni yang masih duduk di sofa. Kubuka celanaku berikut celana dalamnya, sehingga kemaluanku melonjak keluar hampir mengenai wajahnya. Kurangkul kepala Noni dengan tangan kiriku, sementara tangan kananku menyorongkan kemaluanku untuk dihisapnya. Rasa hangat yang nikmat segera menjalar ditubuhku ketika kemaluanku menerobos mulutnya. Nonipun menghisapi kemaluan bosnya seperti seorang budak seks yang patuh.
"Ya.. Begitu.. Pintar kamu.." kataku memujinya, saat kulihat kepalanya yang maju mundur mengulum kemaluanku.
"Mentang-mentang cantik sudah berani merangsang ya.. Ayo isap terus.. Yeeah you little slut.." racauku lagi sambil meremasi rambutnya.
Beberapa saat kemudian kulihat lagi jam tanganku, sekarang sudah jam 12.45, sementara entah mengapa belum ada tanda-tanda ejakulasi akan aku alami. Mungkin karena terburu-buru, malah membuat ejakulasiku semakin lama. Sementara perutkupun semakin keroncongan.
Tak sabar, kutepis tangan Noni yang memegang kemaluanku. Lalu aku bergeser sedikit sehingga tepat berada di hadapannya. Kupegang dengan erat kedua belah pipinya, dan kugenjot kemaluanku ke dalam mulutnya. Semakin lama semakin cepat aku pompa mulut resepsionis ABGku ini sampai diapun tersedak-sedak. Kucabut keluar sebentar kemaluanku, sehingga Noni dapat mengambil nafas, lalu kembali kuhujamkan ke dalam rongga mulut dan kerongkongannya. Tampak air mata membasahi pipinya yang aku pegang erat.
"Hek.. Hek.." terdengar suara Noni mengerang menahan desakan kemaluanku di mulutnya.
"Ha.. Ha.. Dasar ABG.. Suka kontol kamu ya.. Enak khan kontol besar.. Pacarmu sudah jelek, kontolnya kecil pula.. Kasihan deh kamu" kataku melihat dia tersedak-sedak.
Kucabut kembali kemaluanku untuk memberinya waktu untuk mengambil nafas, dan kemudian kupompa kembali ke dalam mulutnya. Tak lama aku merasakan hampir mencapai orgasme. Kucabut kembali kemaluanku.
"Ayo sekarang hisap perlahan.. Yang lembut" perintahku.
Nonipun kembali dengan patuhnya menghisapi kemaluanku. Kali ini dia yang memaju mundurkan kepalanya saat mulutnya disesaki oleh kemaluanku. Sementara tangannya memegang pangkal batangnya.
"Jangan pakai tangan!!" kataku. Nonipun dengan cepat seperti ketakutan melepaskan pegangannya.
"Lihat sini dong.. Gimana sih!!" tegurku ketika dia memejamkan matanya ketika mengulum kemaluanku. Nonipun membuka matanya dan menatap ke atas, ke arahku.
Rasa puas hinggap di sekujur tubuhku dapat mengerjai karyawan cantik seperti Noni ini. Sambil berkacak pinggang kuperhatikan Noni dengan lembut menghisapi kemaluanku. Beberapa saat kemudian, ejakulasiku sudah tak tertahan lagi. Kupegang dengan erat kembali kepala Noni, dan kuhujamkan kemaluanku ke dalam kerongkongannya. Aku tak mau spermaku membasahi pakaianku.
Kulirik jam tanganku. Jam 1.05 siang. Akupun bergegas membenahi pakaianku.
"Ayo cepat.. Cepat!!" perintahku pada Noni yang masih menyeka bibirnya dengan tisu. Diapun segera membereskan BHnya dan menutup kancing bajunya. Kamipun keluar ruangan kantorku.
*****
Kuparkir mobil Mercy metalikku di basement sebuah mal yang tak begitu jauh dari kantorku. Beberapa waktu yang lalu sebuah bom meledak di depan hotel tak jauh dari mal tersebut. Semoga saja kali ini tak terjadi hal seperti itu.
Kubergegas menuju restoran steak kesukaanku. Setelah makan di restoran franchise dari Afrika Selatan itu, badankupun kembali segar. Pikirankupun kembali cerah, terlebih setelah aku sempat memuaskan dahaga seksualku tadi di kantor. Akupun memutuskan jalan-jalan sejenak di mal sebelum kembali ke kantor, sekalian untuk membeli HP keluaran terbaru.
Di salah satu lantai mal itu, banyak terdapat counter penjualan handphone. Akupun mampir ke salah satu counter, dan mencoba salah satu HP terbaru. Salah satu kelebihan dari HP ini adalah video recordernya yang dapat merekam hingga 4 menit. Sedangkan punyaku hanya bisa standard saja, kurang lebih 10 detik. Kuputuskan untuk membeli HP ini, dan sementara petugas counter telpon itu mengurus pembelianku, kulihat di counter sebelah, duduk dua orang gadis berseragam SMA. Mereka kadang melirik ke arahku, dan yang seorang tersenyum ketika mata kami saling beradu pandang.
Kubalas senyum gadis tersebut. Dia berparas tidak terlalu cantik, tetapi cukup manis. Berambut panjang, dengan kulit sawo matang dan badan yang sexy. Badannya tampak sintal dibalut seragam putih abu-abunya. Tampak buah dadanya yang membusung menantang. Sementara
Temannya berparas cantik, berkulit putih, dengan badan yang juga sexy walaupun buah dadanya tidak sebesar gadis yang pertama. Sekilas wajahnya mirip dengan bintang sinetron remaja di televisi.
Sebenarnya aku tidak begitu "in the mood" untuk berkencan dengan kedua gadis tersebut. Maklum, baru saja aku mencapai orgasme menggarap resepsionisku. Tapi ketika aku beranjak akan pulang dan melewati mereka, tiba-tiba saja kudengar seseorang bicara.
"Hey.. Oom.. Beliin kita pulsa dong..". Kutengok ternyata si gadis berkulit sawo matang itu yang bicara.
"Pulsa kita sudah habis Oom.. Tolong dong.. Oom baik deh" sambungnya lagi.
"Hus.." temannya yang cantik berkulit putih tampak sungkan dengan perkataan temannya.
Roknya yang agak mini memperlihatkan keindahan pahanya yang mulus berbulu halus. Dari celah baju seragamnya terlihat sekilas buah dadanya yang cukup besar terbungkus BH berwarna krem. Melihat pemandangan indah ini, berubah pikiranku. Ingin rasanya aku berkencan dengan mereka, terutama si cantik berkulit putih ini.
"Kenalan dulu dong.." jawabku.
Mereka kemudian satu per satu memperkenalkan diri. Si gadis berkulit sawo matang bernama Desi, sedangkan temannya bernama Putri. Memang cocok dengan wajahnya yang cantik seperti seorang puteri. Akupun kemudian membelikan mereka pulsa isi ulang seperlunya. Mereka tampak girang.
"Makasih ya Oom.. Si Putri sekarang bisa nelpon pacarnya lagi", kata Desi menggoda temannya.
"Iih.." Putri mencubit temannya itu sambil tertawa.
Memang dunia remaja itu menyenangkan. Mereka sangat ceria menikmati masa mudanya, belum terlalu memikirkan hal-hal yang terlalu serius. Just having fun, mungkin itu motto mereka. Akupun membatalkan rencanaku untuk kembali kekantor. Kuajak dua gadis SMA ini menemaniku jalan-jalan di mal tersebut.
"Oom beliin kita baju donk.". Kembali Desi merengek.
Memang si Desi ini lebih banyak omong, dan yang pasti lebih matre dibandingkan dengan Putri. Tetapi karena tidak mungkin memisahkan mereka berdua, aku ikuti saja kemauannya. Semakin berhutang budi mereka padaku, semakin besar kesempatanku untuk menikmati tubuh belia mereka.
Selesai shopping, kuajak mereka ke sebuah cafe di mal tersebut. Maksudku agar kita dapat berbincang-bincang supaya lebih akrab. Kupesan coffee latte buatku dan mereka memesan soft drink serta tiramisu. Kamipun berbincang-bincang panjang lebar.
Bersambung . . . .
Pesta dengan gadis SMA - 2
Mereka masing-masing berusia 18 tahun, dan kelas dua sebuah SMA negeri. Dua-duanya adalah anggota cheerleader sekolah tersebut. Desi mengaku sedang tidak punya pacar, sedangkan Putri sudah punya seseorang. Desi sering menggoda kalau Putri adalah bunga SMAnya. Banyak yang mengejar-ngejarnya untuk dijadikan pacar.
"Bohong tuh Oom.. Jangan percaya.." kata Putri sambil merengut lucu ke arah Desi.
"Oom sih percaya.. Habis kamu cantik sih.." jawabku.
"Mirip ini lho.. Siapa sih yang di TV itu.. Oom pernah nonton sinetronnya."
"Oh.. Masayu Anastasia.. Memang mirip kok Oom.." jawab Desi.
"Mungkin kembar.. Cuma yang satu jadi bintang sinetron.. Yang ini jadi bintang mal.."
Kamipun tertawa mendengar celetukkan Desi. Sampai-sampai beberapa orang di cafe tersebut menengok ke arah kami. Beberapa pria tampak melihat dengan bernafsu kepada kedua gadis ini, terutama pada Putri. Sesudah bosan berada di cafe tersebut, kuajak mereka jalan-jalan keluar. Kamipun berjalan menuju tempat parkir di basement.
"Wow.., mobilnya keren banget Oom.. Sama kaya orangnya" kata Desi setelah kami sampai di mobilku.
Kubuka pintu mobilku dan Desipun duduk di kursi depan di sebelahku. Aku agak kecewa karena sebenarnya aku ingin Putri yang duduk di situ. Tak lama kamipun meluncur meninggalkan mal tersebut. Sesekali kulirik lewat kaca spionku, Putri yang sedang duduk dibelakang. Tampak dia menyadari kalau aku perhatikan, dan dia hanya tersenyum tersipu.
"Mau kemana nih?" tanyaku membuka percakapan setelah suasana hening sejenak.
"Terserah Oom aja deh" sahut Desi. Memang Desi ini kelihatannya lebih bandel dan berani.
"Oom capek nih.. Gimana kalau kita istirahat dulu di motel?"
"Desi sih Ok aja. Put, gimana loe?"
"Nggak ah.. Putri ada janji sama cowok Putri nih"
Aku sangat kecewa mendengarnya. Yang aku incar Putri, malah dapatnya Desi.
"Sebentar aja deh.. Kasihan khan Desi sendirian" kataku.
"Iya Put.. Gimana sih loe.. Gampang deh loe cari alasan aja" tukas Desi lebih lanjut.
Karena tidak ada jawaban dari Putri, kuanggap saja dia setuju untuk menemani Desi dan aku beristirahat di motel. Tak lama kami sudah sampai di motel langgananku. Desi dan aku turun di garasi dan menuju kamar.
"Gue tunggu di mobil aja ya Des"
"Duh gimana sih.. Udah deh loe ikut aja. Di dalam loe diam aja juga nggak apa kok" jawab Desi.
Akhirnya kami bertiga masuk ke dalam kamar motel itu. Seperti biasa, petugas motel datang untuk menarik pembayaran. Aku membook untuk 6 jam seperti biasa.
Setelah petugas motel pergi aku merebahkan diriku di atas ranjang. Putri tampak duduk di kursi yang tersedia di pojok kamar. Sementara Desi pergi ke kamar kecil.
Setelah muncul kembali, Desi kemudian ikut rebahan di ranjang bersamaku. Kulingkarkan tanganku pada pundaknya dan kuelus-elus dia. Tak ada rotan akarpun jadi, pikirku. Toh Desi juga lumayan manis dan badannyapun sexy. Tak lama akupun sudah menciumi bibirnya sambil tanganku meraba-raba dadanya.
"Put.. Sini donk.. Nggak apa cowok loe nggak bakal tau " ajak Desi.
"Nggak ah.. Des.. Gimana sih gue ditungguin cowok gue nih" jawabnya sambil mengambil HP dari tas sekolahnya.
"Udah deh loe telpon aja.. Cari alasan apa kek"
Putri kemudian tampak menelpon pacarnya. Sayup-sayup kudengar suaranya mengatakan kalau dia sedang ada tugas sekolah. Tak kudengar percakapan selebihnya karena Desi sudah menciumiku penuh gairah.
Kubuka baju sekolah Desi dan sekalian kubuka pengait BHnya. Begitu kuloloskan penutup dadanya, gumpalan daging kenyal Desi tampak begitu menggoda. Langsung kuciumi dan kujilati buah dada itu dengan rakus. Kuhisap-hisap putingnya sambil mataku menatap Putri yang tampak termangu menyaksikan sahabatnya sedang aku gumuli.
Kubuka juga rok abu-abu Desi sehingga tampak celana dalamnya yang berwarna hitam berenda. Kusibakkan celana dalam itu, sehingga jariku dapat meraba bibir vaginanya. Desipun melenguh nikmat ketika jariku menemukan klitorisnya. Sementara itu, mulutku masih dengan rakus menikmati buah dada gadis SMA ini.
Desi yang sudah sangat bernafsu kemudian berbalik menindih tubuhku. Dengan cepat dia melucuti kancing kemejaku. Dihisapnya puting dadaku satu persatu, sementara tangannya melucuti celanaku.
"Desi buka dulu ya Oom" katanya sambil bangkit duduk dan membuka seluruh pakaianku.
Tak lama akupun tinggal bercelana dalam, dan tampak kepala kemaluanku mencuat keluar tak mampu tertampung di dalamnya.
"Ihh.. Besar sekali Oom.. Put.. Sini deh loe lihat.. Punya si Oom gede banget" kata Desi sambil mengelus-elus kemaluan dari balik celana dalamku.
Desipun kemudian membuka celana dalamku, dan kemaluanku yang sudah berontak tampak berdiri tegak menjulang dengan gagahnya dihadapan mata kedua gadis remaja ini.
"Gila.. Gede banget.. Bikin Desi nafsu.." kata Desi sambil menundukkan kepalanya mulai menjilati kemaluanku.
Desi menjilati kemudian mengulum kemaluanku. Kulirik tampak Putri melihat adegan ini dengan muka yang memerah, dan tangannya tampak meraba-raba dadanya tanda dia mulai terangsang.
"Put.. Bantuin gue dong.." kata Desi sambil terus menghisapi kemaluanku. Kuelus-elus rambutnya yang panjang itu. Kadang tanganku berpindah ke dadanya yang sekal dan kupermainkan puting susunya.
"Put.. Enak banget Put.." desah Desi lebih lanjut sambil dia menjilati kemaluanku. Putri tampak sudah tak bisa lagi menahan nafsunya melihat sahabatnya sedang mengulum kemaluanku. Dia bangkit dari kursinya dan berjalan ke arahku.
Putri merebahkan badannya di sampingku. Langsung kurengkuh wajahnya yang cantik dan kuciumi dengan penuh gairah. Tangankupun bergerilya membuka kancing baju seragamnya. Dadanya yang putih bersih terbalut BH warna krem sangat mengundang hasrat siapapun yang melihatnya. Tanpa tunggu lebih lama lagi, aku langsung membuka BHnya. Buah dada Putripun tampak jelas di depan wajahku. Bentuknya yang padat dibalut oleh kulitnya yang putih mulus membuatku gemas. Kuciumi dan kuhisap buah dadanya sambil sesekali kujilat puting susunya yang berwarna merah muda.
"Sstt.. Hah.. Sstt.. Hah " Putri mendesis ketika buah dadanya yang ranum itu sedang kunikmati sepuas hati.
Sementara itu, Desi masih sibuk menjilati dan mengulum kemaluanku. Terkadang dihisapnya juga buah zakarku. Tatkala mulutnya memberikan kepuasan padaku, tangannya tampak sibuk meremas-remas buah dadanya sendiri. Setelah aku puas menikmati buah dada Putri, kudorong sedikit tubuhnya ke arah selangkanganku.
"Ayo isap punya Oom ya"
Tanpa menjawab, dia langsung menciumi dan menjilati pahaku.
"Nih Put.." kata Desi sambil mengeluarkan kemaluanku dari mulutnya.
Tangan Putri yang halus memegang batang kemaluanku. Dipandangnya dengan gemas kemaluanku, kemudian dia menurunkan kepalanya dan mulai menjilati kepala kemaluanku. Tak lama, dia sudah mengulum kemaluanku di dalam mulutnya yang memberikan kenikmatan luar biasa padaku. Sementara mulutnya mengulum, tangannya mengocok-ngocok batang kemaluanku.
Setelah beberapa lama, diberikannya kembali kemaluanku pada Desi. Dengan sigap, Desipun kembali menghisapi kemaluanku lagi. Demikian berlangsung terus menerus. Secara bergantian Putri dan Desi menghisap kemaluanku. Tampak kemaluanku yang besar menyesaki mulut kedua gadis pelajar belia ini.
Putri kemudian berdiri dan melepas pakaiannya. Tampak vaginanya bersih tak ditutupi rambut selembarpun. Dinaikinya tubuhku dan tangannya mengarahkan kemaluanku pada liang vaginanya. Diturunkannya tubuhnya dan kemaluankupun mulai menerobos liang vaginanya yang sempit.
"Ooh.. Des.. Besar banget nih si Oom.. Ahh.." desah Putri ketika kemaluanku telah berhasil memasuki liang kemaluan gadis remaja ini.
"Tapi enak khan.." tanya Desi menggoda
"Iya sih.. Aduh.. Oh.. Sstt.. Hah.. Hah.." erangnya lagi ketika aku mulai menggenjot vaginanya. Tanganku memegang pinggangnya sambil terus kupompa liang nikmat gadis cantik pelajar SMA ini.
Sementara Desi berpindah ke sampingku dan menyodorkan buah dadanya ke mulutku. Dengan senang hati kunikmati buah dadanya yang besar itu.
"Oom.. Gimana Oom.. Enak khan ngentotin Putri?" tanya Desi menggoda.
"Dia jarang lho mau begini.. Oom beruntung banget" katanya lebih lanjut.
Putri masih meliuk-liukan tubuhnya. Akupun terus menggenjot vaginanya dari bawah, sambil sesekali tanganku meremasi buah dadanya yang berayun-ayun menggemaskan. Setelah bosan dengan posisi itu, aku membalikkan tubuh Putri sehingga kami berada pada posisi missionary. Kugenjot kemaluanku dalam vagina gadis belia ini, sambil mulutku menciumi wajahnya.
"Ehmm.. Sstt.. Oom.. Enak.. Ohh" racau Putri ketika aku menyetubuhi tubuh mulusnya.
"Ayo isap puting Oom" perintahku. Putripun kemudian menghisap puting dadaku sementara aku terus memompa kemaluannya.
Tak lama tubuh Putripun mengejang, dan dia mengerang dan menggelinjang mendapatkan orgasmenya. Kutarik kemaluanku dari vaginanya, dan kuciumi Desi yang berada di sebelahku. Kulepas celana dalamnya, lalu kuminta dia menungging membelakangiku. Dengan gaya doggy style kusetubuhi Desi dari belakang.
"Aduh.. Oom.. Kuat banget.. Ohh.." erang Desi ketika aku memompa kemaluannya.
Kulihat Putri tampak lemas berbaring di ranjang menyaksikan persetubuhanku dengan Desi, sahabatnya.
"Oom.. Desi hampir sampai Oom.. Eh.. Eh.."
Tak lama tubuh Desipun menggelinjang mendapatkan orgasmenya. Masih kugenjot kemaluan gadis SMA ini, sambil sesekali kuremas buah dadanya yang bergoyang-goyang menantang. Aku merasakan sebentar lagi akan ejakulasi. Tak lama akupun menarik kemaluanku dan menyemburkan spermaku di bongkahan pantat Desi yang bundar.
*****
"Makasih ya Oom" kata mereka ketika aku turunkan di halte bus terdekat. Sebelumnya tak lupa kami bertukar no HP sehingga dapat kontak sewaktu-waktu.
Dengan perasaan puas dan bertambah muda, kubalikkan arah mobilku di putaran jalan. Karena hati sedang senang sehabis menyetubuhi dua gadis ABG, kuberikan uang lima ribuan pada Mr. Cepek yang sedang mengatur jalan.
"Makasih banyak bos" serunya senang.
Kukebut mobilku pulang menuju apartemenku. Tiba-tiba kuingat kalau aku baru saja membeli HP baru. Mengapa tidak kupakai tadi untuk merekam adegan persetubuhanku. Well.. There is always next time, pikirku.
Lagu "So Good" nya Al Jarreau mendayu-dayu dalam mobilku. Lagu itu tepat sekali menggambarkan perasaanku saat itu. It is so damn good..
E N D
"Bohong tuh Oom.. Jangan percaya.." kata Putri sambil merengut lucu ke arah Desi.
"Oom sih percaya.. Habis kamu cantik sih.." jawabku.
"Mirip ini lho.. Siapa sih yang di TV itu.. Oom pernah nonton sinetronnya."
"Oh.. Masayu Anastasia.. Memang mirip kok Oom.." jawab Desi.
"Mungkin kembar.. Cuma yang satu jadi bintang sinetron.. Yang ini jadi bintang mal.."
Kamipun tertawa mendengar celetukkan Desi. Sampai-sampai beberapa orang di cafe tersebut menengok ke arah kami. Beberapa pria tampak melihat dengan bernafsu kepada kedua gadis ini, terutama pada Putri. Sesudah bosan berada di cafe tersebut, kuajak mereka jalan-jalan keluar. Kamipun berjalan menuju tempat parkir di basement.
"Wow.., mobilnya keren banget Oom.. Sama kaya orangnya" kata Desi setelah kami sampai di mobilku.
Kubuka pintu mobilku dan Desipun duduk di kursi depan di sebelahku. Aku agak kecewa karena sebenarnya aku ingin Putri yang duduk di situ. Tak lama kamipun meluncur meninggalkan mal tersebut. Sesekali kulirik lewat kaca spionku, Putri yang sedang duduk dibelakang. Tampak dia menyadari kalau aku perhatikan, dan dia hanya tersenyum tersipu.
"Mau kemana nih?" tanyaku membuka percakapan setelah suasana hening sejenak.
"Terserah Oom aja deh" sahut Desi. Memang Desi ini kelihatannya lebih bandel dan berani.
"Oom capek nih.. Gimana kalau kita istirahat dulu di motel?"
"Desi sih Ok aja. Put, gimana loe?"
"Nggak ah.. Putri ada janji sama cowok Putri nih"
Aku sangat kecewa mendengarnya. Yang aku incar Putri, malah dapatnya Desi.
"Sebentar aja deh.. Kasihan khan Desi sendirian" kataku.
"Iya Put.. Gimana sih loe.. Gampang deh loe cari alasan aja" tukas Desi lebih lanjut.
Karena tidak ada jawaban dari Putri, kuanggap saja dia setuju untuk menemani Desi dan aku beristirahat di motel. Tak lama kami sudah sampai di motel langgananku. Desi dan aku turun di garasi dan menuju kamar.
"Gue tunggu di mobil aja ya Des"
"Duh gimana sih.. Udah deh loe ikut aja. Di dalam loe diam aja juga nggak apa kok" jawab Desi.
Akhirnya kami bertiga masuk ke dalam kamar motel itu. Seperti biasa, petugas motel datang untuk menarik pembayaran. Aku membook untuk 6 jam seperti biasa.
Setelah petugas motel pergi aku merebahkan diriku di atas ranjang. Putri tampak duduk di kursi yang tersedia di pojok kamar. Sementara Desi pergi ke kamar kecil.
Setelah muncul kembali, Desi kemudian ikut rebahan di ranjang bersamaku. Kulingkarkan tanganku pada pundaknya dan kuelus-elus dia. Tak ada rotan akarpun jadi, pikirku. Toh Desi juga lumayan manis dan badannyapun sexy. Tak lama akupun sudah menciumi bibirnya sambil tanganku meraba-raba dadanya.
"Put.. Sini donk.. Nggak apa cowok loe nggak bakal tau " ajak Desi.
"Nggak ah.. Des.. Gimana sih gue ditungguin cowok gue nih" jawabnya sambil mengambil HP dari tas sekolahnya.
"Udah deh loe telpon aja.. Cari alasan apa kek"
Putri kemudian tampak menelpon pacarnya. Sayup-sayup kudengar suaranya mengatakan kalau dia sedang ada tugas sekolah. Tak kudengar percakapan selebihnya karena Desi sudah menciumiku penuh gairah.
Kubuka baju sekolah Desi dan sekalian kubuka pengait BHnya. Begitu kuloloskan penutup dadanya, gumpalan daging kenyal Desi tampak begitu menggoda. Langsung kuciumi dan kujilati buah dada itu dengan rakus. Kuhisap-hisap putingnya sambil mataku menatap Putri yang tampak termangu menyaksikan sahabatnya sedang aku gumuli.
Kubuka juga rok abu-abu Desi sehingga tampak celana dalamnya yang berwarna hitam berenda. Kusibakkan celana dalam itu, sehingga jariku dapat meraba bibir vaginanya. Desipun melenguh nikmat ketika jariku menemukan klitorisnya. Sementara itu, mulutku masih dengan rakus menikmati buah dada gadis SMA ini.
Desi yang sudah sangat bernafsu kemudian berbalik menindih tubuhku. Dengan cepat dia melucuti kancing kemejaku. Dihisapnya puting dadaku satu persatu, sementara tangannya melucuti celanaku.
"Desi buka dulu ya Oom" katanya sambil bangkit duduk dan membuka seluruh pakaianku.
Tak lama akupun tinggal bercelana dalam, dan tampak kepala kemaluanku mencuat keluar tak mampu tertampung di dalamnya.
"Ihh.. Besar sekali Oom.. Put.. Sini deh loe lihat.. Punya si Oom gede banget" kata Desi sambil mengelus-elus kemaluan dari balik celana dalamku.
Desipun kemudian membuka celana dalamku, dan kemaluanku yang sudah berontak tampak berdiri tegak menjulang dengan gagahnya dihadapan mata kedua gadis remaja ini.
"Gila.. Gede banget.. Bikin Desi nafsu.." kata Desi sambil menundukkan kepalanya mulai menjilati kemaluanku.
Desi menjilati kemudian mengulum kemaluanku. Kulirik tampak Putri melihat adegan ini dengan muka yang memerah, dan tangannya tampak meraba-raba dadanya tanda dia mulai terangsang.
"Put.. Bantuin gue dong.." kata Desi sambil terus menghisapi kemaluanku. Kuelus-elus rambutnya yang panjang itu. Kadang tanganku berpindah ke dadanya yang sekal dan kupermainkan puting susunya.
"Put.. Enak banget Put.." desah Desi lebih lanjut sambil dia menjilati kemaluanku. Putri tampak sudah tak bisa lagi menahan nafsunya melihat sahabatnya sedang mengulum kemaluanku. Dia bangkit dari kursinya dan berjalan ke arahku.
Putri merebahkan badannya di sampingku. Langsung kurengkuh wajahnya yang cantik dan kuciumi dengan penuh gairah. Tangankupun bergerilya membuka kancing baju seragamnya. Dadanya yang putih bersih terbalut BH warna krem sangat mengundang hasrat siapapun yang melihatnya. Tanpa tunggu lebih lama lagi, aku langsung membuka BHnya. Buah dada Putripun tampak jelas di depan wajahku. Bentuknya yang padat dibalut oleh kulitnya yang putih mulus membuatku gemas. Kuciumi dan kuhisap buah dadanya sambil sesekali kujilat puting susunya yang berwarna merah muda.
"Sstt.. Hah.. Sstt.. Hah " Putri mendesis ketika buah dadanya yang ranum itu sedang kunikmati sepuas hati.
Sementara itu, Desi masih sibuk menjilati dan mengulum kemaluanku. Terkadang dihisapnya juga buah zakarku. Tatkala mulutnya memberikan kepuasan padaku, tangannya tampak sibuk meremas-remas buah dadanya sendiri. Setelah aku puas menikmati buah dada Putri, kudorong sedikit tubuhnya ke arah selangkanganku.
"Ayo isap punya Oom ya"
Tanpa menjawab, dia langsung menciumi dan menjilati pahaku.
"Nih Put.." kata Desi sambil mengeluarkan kemaluanku dari mulutnya.
Tangan Putri yang halus memegang batang kemaluanku. Dipandangnya dengan gemas kemaluanku, kemudian dia menurunkan kepalanya dan mulai menjilati kepala kemaluanku. Tak lama, dia sudah mengulum kemaluanku di dalam mulutnya yang memberikan kenikmatan luar biasa padaku. Sementara mulutnya mengulum, tangannya mengocok-ngocok batang kemaluanku.
Setelah beberapa lama, diberikannya kembali kemaluanku pada Desi. Dengan sigap, Desipun kembali menghisapi kemaluanku lagi. Demikian berlangsung terus menerus. Secara bergantian Putri dan Desi menghisap kemaluanku. Tampak kemaluanku yang besar menyesaki mulut kedua gadis pelajar belia ini.
Putri kemudian berdiri dan melepas pakaiannya. Tampak vaginanya bersih tak ditutupi rambut selembarpun. Dinaikinya tubuhku dan tangannya mengarahkan kemaluanku pada liang vaginanya. Diturunkannya tubuhnya dan kemaluankupun mulai menerobos liang vaginanya yang sempit.
"Ooh.. Des.. Besar banget nih si Oom.. Ahh.." desah Putri ketika kemaluanku telah berhasil memasuki liang kemaluan gadis remaja ini.
"Tapi enak khan.." tanya Desi menggoda
"Iya sih.. Aduh.. Oh.. Sstt.. Hah.. Hah.." erangnya lagi ketika aku mulai menggenjot vaginanya. Tanganku memegang pinggangnya sambil terus kupompa liang nikmat gadis cantik pelajar SMA ini.
Sementara Desi berpindah ke sampingku dan menyodorkan buah dadanya ke mulutku. Dengan senang hati kunikmati buah dadanya yang besar itu.
"Oom.. Gimana Oom.. Enak khan ngentotin Putri?" tanya Desi menggoda.
"Dia jarang lho mau begini.. Oom beruntung banget" katanya lebih lanjut.
Putri masih meliuk-liukan tubuhnya. Akupun terus menggenjot vaginanya dari bawah, sambil sesekali tanganku meremasi buah dadanya yang berayun-ayun menggemaskan. Setelah bosan dengan posisi itu, aku membalikkan tubuh Putri sehingga kami berada pada posisi missionary. Kugenjot kemaluanku dalam vagina gadis belia ini, sambil mulutku menciumi wajahnya.
"Ehmm.. Sstt.. Oom.. Enak.. Ohh" racau Putri ketika aku menyetubuhi tubuh mulusnya.
"Ayo isap puting Oom" perintahku. Putripun kemudian menghisap puting dadaku sementara aku terus memompa kemaluannya.
Tak lama tubuh Putripun mengejang, dan dia mengerang dan menggelinjang mendapatkan orgasmenya. Kutarik kemaluanku dari vaginanya, dan kuciumi Desi yang berada di sebelahku. Kulepas celana dalamnya, lalu kuminta dia menungging membelakangiku. Dengan gaya doggy style kusetubuhi Desi dari belakang.
"Aduh.. Oom.. Kuat banget.. Ohh.." erang Desi ketika aku memompa kemaluannya.
Kulihat Putri tampak lemas berbaring di ranjang menyaksikan persetubuhanku dengan Desi, sahabatnya.
"Oom.. Desi hampir sampai Oom.. Eh.. Eh.."
Tak lama tubuh Desipun menggelinjang mendapatkan orgasmenya. Masih kugenjot kemaluan gadis SMA ini, sambil sesekali kuremas buah dadanya yang bergoyang-goyang menantang. Aku merasakan sebentar lagi akan ejakulasi. Tak lama akupun menarik kemaluanku dan menyemburkan spermaku di bongkahan pantat Desi yang bundar.
*****
"Makasih ya Oom" kata mereka ketika aku turunkan di halte bus terdekat. Sebelumnya tak lupa kami bertukar no HP sehingga dapat kontak sewaktu-waktu.
Dengan perasaan puas dan bertambah muda, kubalikkan arah mobilku di putaran jalan. Karena hati sedang senang sehabis menyetubuhi dua gadis ABG, kuberikan uang lima ribuan pada Mr. Cepek yang sedang mengatur jalan.
"Makasih banyak bos" serunya senang.
Kukebut mobilku pulang menuju apartemenku. Tiba-tiba kuingat kalau aku baru saja membeli HP baru. Mengapa tidak kupakai tadi untuk merekam adegan persetubuhanku. Well.. There is always next time, pikirku.
Lagu "So Good" nya Al Jarreau mendayu-dayu dalam mobilku. Lagu itu tepat sekali menggambarkan perasaanku saat itu. It is so damn good..
E N D
Perawatan medis plus - 1
Februari, Senin 2004
Saya terbangun dipagi hari dengan perasaan sakit yang luar biasa. Kepala saya terasa berat, badan saya panas sekali, dan badan tidak terasa bertenaga. Saya mencoba bangun dan sarapan. Setelah makan, saya malah terasa semakin lemas. Akhirnya saya SMS sekretaris saya untuk bilang tidak masuk kantor karena sakit. Jam 11 siang saya terbangun, kepala terasa semakin berat dan lemas sekali.
"Something is wrong" gumam saya.
Saya minta pembantu saya untuk panggil taksi. Setelah taksi tiba, saya berangkat dan minta diantar ke rumah sakit swasta yang besar di daerah kuningan, Jakarta. Saya langsung masuk ke unit gawat darurat dan tim medis langsung menangani saya. Darah saya diambil untuk dites dan sebuah infus dipasang dilengan kiri saya. Sejam kemudian, dokter memberitahukan hasil lab yang menyatakan trombosit darah saya jauh dibawah normal. Saya diminta untuk diopname.
Sambil mengisi registrasi rumah sakit, saya minta kamar VIP dan menelepon orang tua saya bahwa saya diopname dan minta dibawakan baju ganti dari rumah saya. Setelah urusan beres, saya langsung diantar ke kamar VIP. Selesai makan siang dan obat, saya langsung tidur dengan pulas. Sore hari, orang tua saya datang membawa baju ganti, dsb. Saya wanti-wanti mereka untuk tidak memberitahu kakak atau saudara saya karena tidak mau diganggu selama diopname.
Selasa
Jam 5:45 pintu kamar saya terbuka, seseorang membawa sarapan disusul oleh seorang pria yang membawa kotak putih, rupanya ia perlu mengambil darah saya untuk dibawa ke lab. Kepala saya masih sakit, badan masih panas dan masih tak bertenaga. Selesai sarapan kembali saya tertidur. Jam 6:30, seorang suster masuk.
"Selamat pagi Pak Arthur, saya mandikan ya supaya segar" kata suster.
Saya membuka mata sedikit dan mengangguk. Si suster dengan cekatan membuka baju dan celana tidur saya. Seluruh tubuh saya dioleskan dengan sabun cair lalu digosok setelah itu dilap dengan handuk basah. Selama dimandikan, saya menutup mata saya karena masih pusing. Sesekali saya membuka mata, saya perhatikan si suster bernama Mia (bukan nama asli). Tubuhnya langsing, rambutnya pendek, dadanya terlihat membusung dibalik baju seragam perawatnya.
"Pak, mau dibersihkan daerah selangkangan?" suster Mia bertanya.
"Ya boleh aja" jawab saya malas-malasan.
Celana dalam saya dibuka dan kembali suster Mia mengoleskan sabun cair dan membersihkan daerah selangkangan lalu dilap dengan handuk basah. Selama dibersihkan didaerah selangkangan, kontol saya terkulai dengan lemas. Ternyata urat mesum saya sedang tidak beraksi sama sekali, hahahaha. Setelah beres, suster Mia membantu saya memakai pakaian yang bersih dari tas saya lalu saya mengucapkan terima kasih. Jam 8, dokter datang untuk memeriksa kondisi saya kemudian saya melanjutkan tidur.
Rabu
Rutinitas pagi hari kembali terulang, sarapan diantar lalu datang si pria yang meminta darah saya (udah kayak drakula minta darah) dan kembali suster Mia datang untuk memandikan saya. Kepala saya masih sakit walaupun tidak separah kemarin dan badah masih hangat. Kali ini sambil dimandikan, mata saya terbuka lebar dan tertuju pada TV walaupun sekali-sekali melirik ke tubuh suster Mia. Wajahnya saya perhatikan, ternyata cantik juga dia. Jika dilihat sepintas mirip Wanda Hamidah. Kalau tersenyum, maka sebuah lesung pipit akan terlihat di pipi sebelah kanan. Kembali suster Mia menawarkan untuk membersihkan daerah selangkangan, saya perbolehkan. Kontol saya masih terkulai lemas. Rupanya badan lemas memang tidak akan mampu membuat kontol berdiri.
Saya melewati hari ini dengan lebih banyak tidur supaya cepat sehat. Sekali-sekali saya nonton TV tapi setelah itu kembali tidur.
Kamis
Pagi ini saya merasa cukup segar, kepala sudah tidak lagi sakit, temperatur badan sudah kembali normal dan tenaga tubuh terasa sudah membaik. Tidak sabar saya menunggu dimandikan suster Mia. Selesai sarapan dan pengambilan darah, suster Mia datang.
"Halo selamat pagi, kelihatannya sudah segar Pak Arthur" kata Mia dengan tersenyum.
"Panggil Arthur saja, enggak usah pakai Pak. Iya, sudah jauh lebih baik" kata saya dengan tersenyum.
"Wah kalau begitu enggak perlu ya dimandikan, bisa mandi sendiri" goda Mia.
"Kalau saya sehat, saya tidak ada disini, suster" jawab saya sambil tertawa.
"Hahaha, bisa saja Arthur" kata Mia.
Mia membuka baju dan celana tidur saya. Saat mengoles dada dan punggung saya dengan sabun cair, saya melirik kearah dadanya, wah besar juga! Mia menggosok dada, punggung dan lengan saya. Bibir Mia yang merah terasa dekat sekali saat itu membasuh dada saya dengan handuk basah. Ingin rasanya menciumnya. Lalu Mia melanjutkan membersihkan paha dan kaki saya. Tangannya yang lembut saat menyentuh paha saya tiba-tiba membangunkan urat mesum saya dan langsung kontol saya berdiri, hore! Mia tetap melanjutkan membasuh paha dan kaki walaupun sekali-sekali saya menangkap matanya melirik kearah kontol saya.
"Mau dibersihkan selangkangannya?" tanya Mia.
"Boleh, silakan" kata saya sok cuek.
Tangan Mia meraih celana dalam saya dan perlahan ia menariknya kebawah. Kontol saya langsung terayun kearahnya. Mia lalu membalur sabun cair di daerah selangkanganku. Tangannya terasa lembut sekali dan kontol saya terasa semakin mengeras.
"Maaf ya kalau ereksi" jawa saya sedikit malu.
"Tidak apa-apa kok, normal kok" jawab Mia sambil tersenyum.
Duh senyumannya membuat jantung saya berdegup dengan kencang. Mia kelihatannya hati-hati untuk tidak sampai menyenggol kontol saya. Selesai mandi, Mia membantu saya memakai baju lalu saya nonton TV sambil menunggu dokter datang.
Jum'at
Saya sudah merasa sehat sekali. Saya kembali membayangkan kenikmatan dimandikan oleh si cantik suster Mia. Sarapan dan tukang palak darah pun datang, dan sekarang saatnya mandi. Pintu kamar saya terbuka dan tiba-tiba yang muncul bukan Mia melainkan suster lain yang sama sekali tidak menarik.
"Aarggh, shit, who the hell are you?, I want Mia" jerit saya dalam hati.
Suster itu menawarkan untuk dimandiin. Serta merta saya menolak, saya bilang saya cukup kuat untuk mandi sendiri. Suster itu membantu saya ke kamar mandi setelah itu meninggalkan kamar saya. Selesai mandi, dokter datang dan membawa hasil lab terbaru. Trombosit darah saya sudah kembali normal. Nanti siang saya diijinkan untuk membuka infus dan kalau segala sesuatu baik maka hari Sabtu boleh pulang. Saya agak sedih tidak ketemu Mia, seharian saya melewatkan waktu dengan nonton TV dan menanyakan ke sekretaris keadaan di kantor.
Malam hari setelah makan malam, orang tua saya pamit untuk pulang. Saya masih nonton TV untuk menunggu suster shift malam datang. Biasanya suster itu hanya akan memantau kondisi sebelum saya tidur. Tangan kiri saya sudah kembali bebas setelah jarum infus dicabut. Jam 21:30, pintu terbuka dan suster Mia muncul.
"Selamat malam Arthur, sudah sehat?" Mia bertanya dengan tersenyum.
"Halo Mia, saya sudah merasa sehat. Kok sekarang datangnya malam?" tanya saya.
"Biasa, rotasi jam kerja" kata Mia.
"Senang melihat Mia lagi" kata saya sedikit merayu, tanpa saya sadari saya menyentuh lengan Mia. Mia tersenyum dan membiarkan tangan saya memegang lengannya.
"Gimana kabarnya? Masih lemas?" tanya Mia.
"Sudah sehat, kan tadi sudah saya jawab" kata saya sedikit bingung.
"Bukan kamu, tapi adik kamu" kata Mia dengan pandangan menggoda.
"Coba saja kamu tanya sendiri" kata saya sambil tersenyum.
Dengan mata yang tetap tertuju pada mata saya, Mia mengulurkan tangannya ke arah kontolku. Ia meremas kontol saya dari balik selimut.
"Besar ya, Arthur" kata Mia.
"Buka aja celananya" kata saya.
Mia membuka celana piyama dan celana dalamku. Kontol saya langsung digenggam. Mia membungkukkan dadanya kearah saya dan saya langsung mencium bibirnya, saya buka kancing baju seragamnya lalu saya tarik BHnya kebawah. Payudaramia cukup besar, berukuran 34B. Putingnya berwarna coklat muda dan payudaranya terlihat sedikit menurun. Dengan gemas, saya cium bibir Mia sambil meremas dan memelintir puting Mia. Mia membalas dengan meremas dan mengocok kontol saya. Setelah berciuman agak lama, Mia melepaskan dirinya dan menghisap kontol saya. Lidahnya menyapu seluruh kepala kontol lalu ke batang kontol dan biji. Hmm, nikmatnya.
Saya mengangkat rok putih Mia dan terlihat celana dalamnya berwarna putih. Saya remas pantatnya yang tidak terlalu besar lalu saya elus vaginanya dari belakang pantatnya. Mia menggelinjang kegelian. Saya menyelipkan jari saya kebalik celana dalamnya dan mengelus-elus vaginanya. Terasa bulu-bulu kemaluan Mia disekitar vaginanya. Vagina Mia sendiri terasa basah dan licin. Wah kelihatannya Mia sudah orgasme, mungkin saat kita ciuman dia mengalami orgasme. Jari saya sibuk mengelus vagina dan memainkan klitorisnya. Nafas Mia mendengus-dengus dan ia menghisap kontol saya semakin keras.
Bersambung . . . .
Saya terbangun dipagi hari dengan perasaan sakit yang luar biasa. Kepala saya terasa berat, badan saya panas sekali, dan badan tidak terasa bertenaga. Saya mencoba bangun dan sarapan. Setelah makan, saya malah terasa semakin lemas. Akhirnya saya SMS sekretaris saya untuk bilang tidak masuk kantor karena sakit. Jam 11 siang saya terbangun, kepala terasa semakin berat dan lemas sekali.
"Something is wrong" gumam saya.
Saya minta pembantu saya untuk panggil taksi. Setelah taksi tiba, saya berangkat dan minta diantar ke rumah sakit swasta yang besar di daerah kuningan, Jakarta. Saya langsung masuk ke unit gawat darurat dan tim medis langsung menangani saya. Darah saya diambil untuk dites dan sebuah infus dipasang dilengan kiri saya. Sejam kemudian, dokter memberitahukan hasil lab yang menyatakan trombosit darah saya jauh dibawah normal. Saya diminta untuk diopname.
Sambil mengisi registrasi rumah sakit, saya minta kamar VIP dan menelepon orang tua saya bahwa saya diopname dan minta dibawakan baju ganti dari rumah saya. Setelah urusan beres, saya langsung diantar ke kamar VIP. Selesai makan siang dan obat, saya langsung tidur dengan pulas. Sore hari, orang tua saya datang membawa baju ganti, dsb. Saya wanti-wanti mereka untuk tidak memberitahu kakak atau saudara saya karena tidak mau diganggu selama diopname.
Selasa
Jam 5:45 pintu kamar saya terbuka, seseorang membawa sarapan disusul oleh seorang pria yang membawa kotak putih, rupanya ia perlu mengambil darah saya untuk dibawa ke lab. Kepala saya masih sakit, badan masih panas dan masih tak bertenaga. Selesai sarapan kembali saya tertidur. Jam 6:30, seorang suster masuk.
"Selamat pagi Pak Arthur, saya mandikan ya supaya segar" kata suster.
Saya membuka mata sedikit dan mengangguk. Si suster dengan cekatan membuka baju dan celana tidur saya. Seluruh tubuh saya dioleskan dengan sabun cair lalu digosok setelah itu dilap dengan handuk basah. Selama dimandikan, saya menutup mata saya karena masih pusing. Sesekali saya membuka mata, saya perhatikan si suster bernama Mia (bukan nama asli). Tubuhnya langsing, rambutnya pendek, dadanya terlihat membusung dibalik baju seragam perawatnya.
"Pak, mau dibersihkan daerah selangkangan?" suster Mia bertanya.
"Ya boleh aja" jawab saya malas-malasan.
Celana dalam saya dibuka dan kembali suster Mia mengoleskan sabun cair dan membersihkan daerah selangkangan lalu dilap dengan handuk basah. Selama dibersihkan didaerah selangkangan, kontol saya terkulai dengan lemas. Ternyata urat mesum saya sedang tidak beraksi sama sekali, hahahaha. Setelah beres, suster Mia membantu saya memakai pakaian yang bersih dari tas saya lalu saya mengucapkan terima kasih. Jam 8, dokter datang untuk memeriksa kondisi saya kemudian saya melanjutkan tidur.
Rabu
Rutinitas pagi hari kembali terulang, sarapan diantar lalu datang si pria yang meminta darah saya (udah kayak drakula minta darah) dan kembali suster Mia datang untuk memandikan saya. Kepala saya masih sakit walaupun tidak separah kemarin dan badah masih hangat. Kali ini sambil dimandikan, mata saya terbuka lebar dan tertuju pada TV walaupun sekali-sekali melirik ke tubuh suster Mia. Wajahnya saya perhatikan, ternyata cantik juga dia. Jika dilihat sepintas mirip Wanda Hamidah. Kalau tersenyum, maka sebuah lesung pipit akan terlihat di pipi sebelah kanan. Kembali suster Mia menawarkan untuk membersihkan daerah selangkangan, saya perbolehkan. Kontol saya masih terkulai lemas. Rupanya badan lemas memang tidak akan mampu membuat kontol berdiri.
Saya melewati hari ini dengan lebih banyak tidur supaya cepat sehat. Sekali-sekali saya nonton TV tapi setelah itu kembali tidur.
Kamis
Pagi ini saya merasa cukup segar, kepala sudah tidak lagi sakit, temperatur badan sudah kembali normal dan tenaga tubuh terasa sudah membaik. Tidak sabar saya menunggu dimandikan suster Mia. Selesai sarapan dan pengambilan darah, suster Mia datang.
"Halo selamat pagi, kelihatannya sudah segar Pak Arthur" kata Mia dengan tersenyum.
"Panggil Arthur saja, enggak usah pakai Pak. Iya, sudah jauh lebih baik" kata saya dengan tersenyum.
"Wah kalau begitu enggak perlu ya dimandikan, bisa mandi sendiri" goda Mia.
"Kalau saya sehat, saya tidak ada disini, suster" jawab saya sambil tertawa.
"Hahaha, bisa saja Arthur" kata Mia.
Mia membuka baju dan celana tidur saya. Saat mengoles dada dan punggung saya dengan sabun cair, saya melirik kearah dadanya, wah besar juga! Mia menggosok dada, punggung dan lengan saya. Bibir Mia yang merah terasa dekat sekali saat itu membasuh dada saya dengan handuk basah. Ingin rasanya menciumnya. Lalu Mia melanjutkan membersihkan paha dan kaki saya. Tangannya yang lembut saat menyentuh paha saya tiba-tiba membangunkan urat mesum saya dan langsung kontol saya berdiri, hore! Mia tetap melanjutkan membasuh paha dan kaki walaupun sekali-sekali saya menangkap matanya melirik kearah kontol saya.
"Mau dibersihkan selangkangannya?" tanya Mia.
"Boleh, silakan" kata saya sok cuek.
Tangan Mia meraih celana dalam saya dan perlahan ia menariknya kebawah. Kontol saya langsung terayun kearahnya. Mia lalu membalur sabun cair di daerah selangkanganku. Tangannya terasa lembut sekali dan kontol saya terasa semakin mengeras.
"Maaf ya kalau ereksi" jawa saya sedikit malu.
"Tidak apa-apa kok, normal kok" jawab Mia sambil tersenyum.
Duh senyumannya membuat jantung saya berdegup dengan kencang. Mia kelihatannya hati-hati untuk tidak sampai menyenggol kontol saya. Selesai mandi, Mia membantu saya memakai baju lalu saya nonton TV sambil menunggu dokter datang.
Jum'at
Saya sudah merasa sehat sekali. Saya kembali membayangkan kenikmatan dimandikan oleh si cantik suster Mia. Sarapan dan tukang palak darah pun datang, dan sekarang saatnya mandi. Pintu kamar saya terbuka dan tiba-tiba yang muncul bukan Mia melainkan suster lain yang sama sekali tidak menarik.
"Aarggh, shit, who the hell are you?, I want Mia" jerit saya dalam hati.
Suster itu menawarkan untuk dimandiin. Serta merta saya menolak, saya bilang saya cukup kuat untuk mandi sendiri. Suster itu membantu saya ke kamar mandi setelah itu meninggalkan kamar saya. Selesai mandi, dokter datang dan membawa hasil lab terbaru. Trombosit darah saya sudah kembali normal. Nanti siang saya diijinkan untuk membuka infus dan kalau segala sesuatu baik maka hari Sabtu boleh pulang. Saya agak sedih tidak ketemu Mia, seharian saya melewatkan waktu dengan nonton TV dan menanyakan ke sekretaris keadaan di kantor.
Malam hari setelah makan malam, orang tua saya pamit untuk pulang. Saya masih nonton TV untuk menunggu suster shift malam datang. Biasanya suster itu hanya akan memantau kondisi sebelum saya tidur. Tangan kiri saya sudah kembali bebas setelah jarum infus dicabut. Jam 21:30, pintu terbuka dan suster Mia muncul.
"Selamat malam Arthur, sudah sehat?" Mia bertanya dengan tersenyum.
"Halo Mia, saya sudah merasa sehat. Kok sekarang datangnya malam?" tanya saya.
"Biasa, rotasi jam kerja" kata Mia.
"Senang melihat Mia lagi" kata saya sedikit merayu, tanpa saya sadari saya menyentuh lengan Mia. Mia tersenyum dan membiarkan tangan saya memegang lengannya.
"Gimana kabarnya? Masih lemas?" tanya Mia.
"Sudah sehat, kan tadi sudah saya jawab" kata saya sedikit bingung.
"Bukan kamu, tapi adik kamu" kata Mia dengan pandangan menggoda.
"Coba saja kamu tanya sendiri" kata saya sambil tersenyum.
Dengan mata yang tetap tertuju pada mata saya, Mia mengulurkan tangannya ke arah kontolku. Ia meremas kontol saya dari balik selimut.
"Besar ya, Arthur" kata Mia.
"Buka aja celananya" kata saya.
Mia membuka celana piyama dan celana dalamku. Kontol saya langsung digenggam. Mia membungkukkan dadanya kearah saya dan saya langsung mencium bibirnya, saya buka kancing baju seragamnya lalu saya tarik BHnya kebawah. Payudaramia cukup besar, berukuran 34B. Putingnya berwarna coklat muda dan payudaranya terlihat sedikit menurun. Dengan gemas, saya cium bibir Mia sambil meremas dan memelintir puting Mia. Mia membalas dengan meremas dan mengocok kontol saya. Setelah berciuman agak lama, Mia melepaskan dirinya dan menghisap kontol saya. Lidahnya menyapu seluruh kepala kontol lalu ke batang kontol dan biji. Hmm, nikmatnya.
Saya mengangkat rok putih Mia dan terlihat celana dalamnya berwarna putih. Saya remas pantatnya yang tidak terlalu besar lalu saya elus vaginanya dari belakang pantatnya. Mia menggelinjang kegelian. Saya menyelipkan jari saya kebalik celana dalamnya dan mengelus-elus vaginanya. Terasa bulu-bulu kemaluan Mia disekitar vaginanya. Vagina Mia sendiri terasa basah dan licin. Wah kelihatannya Mia sudah orgasme, mungkin saat kita ciuman dia mengalami orgasme. Jari saya sibuk mengelus vagina dan memainkan klitorisnya. Nafas Mia mendengus-dengus dan ia menghisap kontol saya semakin keras.
Bersambung . . . .
Langganan:
Postingan (Atom)