Selasa, 29 Maret 2011

Musim panas di Los Angeles - 2

Aku terbangun saat kurasakan ada jari-jari halus meraba-raba dadaku dan ciuman di keningku. Jeanne telah lebih dahulu bangun dan dia membangunkanku. Kukecup bibirnya perlahan, kupagut dia, dan kami terlibat dalam sebuah "french kiss". Kuelus dan kuraba punggung putih mulus Jeanne sementara dia mengelus-elus rambutku.
"Frank, that was great!" bisik Jeanne di telingaku.
"Thank you so much. Where did you learn the secret?" sambung Jeanne.
"Sweetheart.." aku memberanikan diri memanggilnya "Sweetheart", dan dia tidak keberatan. Aku pikir, jadi deh sepertinya aku pacaran sama dia.
"Aku belum tahu cara taoist bercinta. Kenyataannya, aku mendengar itu sebagai teknik untuk mengatur qi saya menggunakan teknik yang sama yang digunakan taoist. Kalau kamu bisa sebarkan apa yang kamu sebut energi seksual sebagai penggantinya, maka kamu akan menambah qi kamu dan menumbuhkan ke dalam shen dan jin kamu," kataku menerangkan.
"Itu kenapa saya tidak merasakan secara lambat atau lemah setelah melakukan hubungan seksual. Saya dapat orgasme yang lebih tanpa ejakulasi sekali saja dan tetap melakukannya hubungan terus menerus. Saya dapat mengontrol ejakulasi saya," lanjutku.
"Oh, that's why I felt like I got a low electric shocked, felt tingle all over my body and a strange sensation when you got your orgasm."
"Well, that's also because I transferred my qi to circulate into your body, to rejuvenate and to mix your qi with my qi. It's a yin yang thing, you know."
Jeanne tersenyum dan mengecup bibirku. Gerbang kewanitaannya, entah sengaja entah tidak, menggeser batang kelelakianku.
"Sssh.. I know it, Honey.. I've read it from an ancient Chinese book. Now, relax and enjoy!"
Jeanne mulai menciumi sekujur tubuhku, menjilati dadaku dan menggelitiki putingku dengan lidahnya. Tangannya menjalari sekujur tubuhku dan meraba-raba batang kelelakianku, memainkannya, mengelus dan mengurutnya. Seketika batang kelelakianku bangun dari tidurnya. Kembali tegak tegang kaku. Jeanne tersenyum. Perlahan, disusurinya perut, pusar dan pinggangku dengan lidahnya. Aku merasakan geli-geli nikmat yang membuatku merinding. Kuusap-usap kepala Jeanne dengan penuh kelembutan. Kusisir rambutnya dengan jari-jariku dan sesekali kuraba-raba tengkuk dan balik telinganya.
Perlahan jilatan lidah Jeanne semakin turun ke arah selangkanganku. Jeanne menjilati paha kaki kananku bagian dalam, naik hingga ke lipat paha. Kemudian pindah ke paha kaki kiriku. Sama. Naik hingga lipat paha. Dengan jemari tangan kirinya yang halus, Jeanne memegangi batang kelelakianku, mendongakkannya, dan dia mulai menjilati daerah pangkal batang kelelakianku. Disusurinya batang kelelakianku dengan lidahnya hingga ke ujung topi bajanya (ya, aku memang disunat, demi kesehatan). Jeanne memutar-mutar ujung lidahnya ke arah lubang dan sekitarnya pada ujung batang kelelakianku. Rasanya luar biasa. Tangan kanannya menyusuri daerah ulu hati hingga pusarku (yang tercetak karena rajin sit up). Jeanne pandai sekali membuat diriku seperti melayang.
Dari ujung batang kelelakianku, Jeanne kembali menyusurinya hingga ke bawah, menjilat-jilat kantung "peluru" batang kelelakianku dengan sesekali mengecup dan agak menghisap kantung "peluru"-ku. Rasa aneh antara sakit, geli, dan enak menyergap otakku. Jeanne meneruskan jilatannya dengan cara menggeser, memutar dan menggelitiki pangkal kantung "peluru"-ku dengan lidahnya, terus hingga ke arah lubang pembuanganku. Dijilatinya lubang pembuanganku dengan cara memutar-mutar lidahnya. Rasa geli yang mengenakkan kembali menyergap otakku. Aku mendesah, mendesis. Rambut Jeanne agak kutarik dan kujambak.
"Jeanne.. It feels soo good!" desahku.
Jeanne memandangku dengan pandangan mata yang membuatku gemas. Ooh.. betapa cantiknya kamu Jeanne, pikirku. Perempuan cantik yang telanjang bulat di depanku dan sedang menjilati daerah paling privatku saat ini tiba-tiba berhenti melakukan jilatannya. Dia mendekati wajahku. Menciumku dengan mesra dan lembut bibirku. Lebih tepatnya, mengulum bibirku. Kemudian Jeanne membalikkan badannya dan membelakangiku, seperti posisi "69".
Jeanne memegangi batang kelelakianku dan mulai menghisap, mengulum dan menjilati batang kelelakianku. Kembali rasa geli dan nikmat menyerang kepalaku. Aku mencium wangi harum yang khas dari gerbang kewanitaan Jeanne yang terpampang menantang di depanku. Gerbangnya sudah mulai terbuka, berwarna merah muda dengan dihiasi rambut-rambut pubis yang halus dan dicukur rapi. Batang kelelakianku berdenyut-denyut di antara hisapan dan geseran lidah Jeanne.
Kupegangi dan kuelus pantat Jeanne dengan kedua tanganku. Kuarahkan gerbang kewanitaannya ke arah mulutku. Kujilati pinggiran gerbang kewanitaannya dan daerah sekitarnya. Jeanne mengerang di antara hisapan-hisapannya pada batang kelelakianku. Kumainkan lidahku pada gerbang kewanitaan Jeanne yang terasa mulai licin dan basah, sambil terus menebarkan aroma yang khas harum. Kulihat sebuah tonjolan kecil di antara belahan gerbang kewanitaannya. Kujilati benda itu. Jeanne mengerang dan mendesis, sejenak melepaskan batang kelelakianku dari mulutnya. Kujilat dengan lembut dan sesekali kugeser-geser dengan lidahku tonjolan kecil yang ada di belahan gerbang kewanitaan Jeanne. Kuvariasikan geseran dan jilatanku dengan sesekali menghisap-hisap tonjolan kecil milik Jeanne. Jeanne mendongakkan kepalanya dan mendesis-desis kenikmatan sambil ia menggoyang-goyangkan pantatnya.
Lidahku kembali menjilati dan menyusuri sekitar gerbang kewanitaan Jeanne. Lidahku berhenti di antara gerbang kewanitaan Jeanne dan lubang pembuangannya. Kujilati daerah itu dan kuputar-putar lidahku di daerah itu. "Oooh Frank.. You make me crazy!" kata Jeanne di antara erangannya. Jeanne mengurut dan mengocok batang kelelakianku sambil mulutnya menghisap ujung kepala batang kelelakianku. Setelah beberapa saat, kujilati juga lubang pembuangan milik Jeanne. Kuputar-putar lidahku di daerah itu. Jeanne mendesis-desis. Kedua tanganku tidak tinggal diam saat lidahku memainkan aktivitasnya. Terkadang jari-jari tanganku menggaruk mesra punggung Jeanne dengan lembut, atau meraba, mengusap dan memainkan bukit dadanya yang menggantung menantang di atas perutku.
Pernah satu saat, sebuah jariku memasuki gerbang kewanitaannya dan mengusap-usap dinding depannya dari dalam, daerah yang sering disebut orang sebagai daerah G-spot. Jeanne agak berteriak kecil saat kuusap daerah itu. Tangannya mencengkeram erat pahaku, mungkin menahan sensasi yang luar biasa baginya. Gerbang kewanitaannya terasa sangat basah pada jariku. Setelah beberapa lama kami saling menjilat, menghisap dan menikmati permainan ini, Jeanne tiba-tiba beranjak dari posisinya. "Honey.. I want it now!" katanya sambil memegang batang kelelakianku yang tegang tegak kaku menghadap langit-langit kamarnya. Jeanne mengangkangiku sambil membelakangiku. Ia mengarahkan batang kelelakianku ke gerbang kewanitaannya. Kubantu dia. Kugeser-geserkan ujung batang kelelakianku pada tonjolan kecil di antara belahan gerbang kewanitaannya. Jeanne memejamkan matanya. Mendesah.
Perlahan, batang kemaluanku memasuki liang kemaluan Jeanne yang sudah licin basah. Pelan.. lembut.. Jeanne perlahan menurunkan pantatnya, membuat batang kemaluanku masuk semakin dalam. Terus masuk.. hingga akhirnya tidak bisa lebih dalam lagi, menyisakan kira-kira seperempat dari panjang batang kemaluanku. Jeanne agak terpekik saat ujung kemaluanku menyentuh dinding cervix-nya. Kemudian Jeanne mulai menggoyangkan pantatnya naik-turun-naik-turun. Pada mulanya perlahan hingga beberapa gerakan, akhirnya Jeanne memainkannya semakin cepat. Aku dan dia menikmati sensasi yang luar biasa saat kedua alat kelamin kami menyatu dan saling bergeseran. Jeanne berulang kali mendesah, melenguh, mendesis, meracaukan kata-kata yang tak jelas kedengaran di telingaku. Aku sendiri menikmatinya dengan pikiran yang melayang. Mencoba menahan rasa geli dan nikmat yang menjalari sekujur tubuhku.
Aku mengangkat badanku sekitar 45 derajat dan bersandar pada headboard tempat tidur Jeanne. Tentu saja membuat otot-otot perutku menjadi kencang. Jeanne (sambil membelakangiku) bertumpu pada perutku dan terus mengayuh tubuhnya naik-turun pada selangkanganku divariasikan dengan memutar-mutar pinggulnya. Saat dia memutar-mutar pinggulnya, aku merasakan kemaluanku seperti disedot oleh sebuah vacuum yang kuat sambil dipuntir. "Aaaghh.. Jeanne.." teriakku sambil memegangi pinggangnya yang ramping dan putih mulus. Rasanya aneh sekali, campuran antara sakit, geli dan nikmat yang sukar untuk bisa aku ceritakan di sini. Kuraih tubuh Jeanne dari belakang. Kuremas-remas lembut kedua payudaranya yang terasa keras tapi kenyal. Putingnya aku pilin-pilin dengan mesra. Jeanne menghentikan sejenak ayunan pantatnya. Dia mendesah, mendesis. Aku merasakan batang kemaluanku dan liang kemaluan Jeanne sama-sama berdenyut-denyut. Kuciumi tengkuk Jeanne, sesekali kugigit-gigit ringan tengkuk, bahu kanannya, dan belakang telinganya. Sambil terus meremas, memilin dan memainkan payudara Jeanne, aku menjilati tengkuk hingga di antara kedua tulang belikatnya.
"Jeanne My Dear.. turn around!" pintaku pada Jeanne untuk membalikkan posisinya. Jeanne berbalik tanpa melepaskan batang kemaluanku dari liang kemaluannya. Batang kemaluanku serasa ada yang memuntirnya. Sekarang kami berhadapan. Aku dan Jeanne saling memeluk, saling meraba. Batang kemaluanku masih terasa berdenyut-denyut di dalam liang kemaluan Jeanne yang juga terasa berdenyut-denyut seperti menghisap batang kemaluanku. Kami berciuman dan melakukan "french kiss". Lidah kami saling berpagut, terkait. Bibir kami bertemu dan saling menggigit, menghisap dan mengulum. Rasanya nikmat sekali. Tanganku meraba dan jemariku dengan lincahnya bergerak di sekujur badan Jeanne, membuat Jeanne kegelian dan merinding. Kurasakan itu pada sekujur tubuhnya yang putih mulus tanpa cela.
Tanpa kuberitahu, tiba-tiba aku berdiri sambil mengangkat Jeanne. Jeanne terkejut dan mempererat rangkulannya pada leherku. Hanya sebentar, ia melanjutkan "french kiss" kami dan melingkarkan kakinya pada pinggangku. Kuangkat Jeanne dengan memegangi pantatnya. Kuayun-ayunkan pinggangku maju-mundur sehingga batang kemaluanku menusuk dan menghujam liang kemaluan Jeanne. Jeanne menggigit bibirku. Aku berjalan ke arah pintu kamar mandi sambil memondong Jeanne tanpa melepaskan batang kemaluanku dari liang kemaluannya. Setiap ayunan langkahku berarti setiap tusukan batang kemaluanku hingga menyentuh cervix Jeanne. Jeanne mengerang, "Oooh Frank! You're increadible!" kata Jeanne di antara desahan napasnya. Aku berjalan mondar-mandir di depan tempat tidur Jeanne dalam posisi ini. Bagiku sendiri, posisi ini tidaklah seenak dan sesensasional posisi yang sebelumnya, tapi bagi Jeanne, ini merupakan suatu posisi yang sangat menantang dan menggairahkan.
"Honey.. I'm almost there.. Sit on the edge of the bed, please..!" kata Jeanne. Aku segera berjalan menuju tempat tidur Jeanne dan duduk di pinggir tempat tidurnya. Kulebarkan kakiku sehingga Jeanne bisa lebih leluasa mengayuh liang kemaluannya bergeseran dengan batang kemaluanku. Kurasakan ada rasa geli yang luar biasa yang menerobos otakku. Aku mengerang. Lidahku kutekuk ke langit-langit mulutku. Kuatur napasku. Rasanya ada gelombang besar dari pinggangku yang hendak mencari jalan keluar melalui batang kemaluanku. Kutahan gelombang besar itu sedapat mungkin.
"Jeanne Sayang.. Aku hampir keluar sedikit lagi.." kataku.
"Let's do it together, Hon!" jawab Jeanne.
Kami berciuman kembali. Jeanne menghentikan ayunannya. Dia memelukku erat sekali. Aku terkejut! Kurasakan ada semacam aliran listrik statis pada ujung batang kemaluanku yang berasal dari cervix Jeanne! Kubuka mataku dan kulepaskan ciuman kami.
"You..?!" ujarku sambil penuh tanda tanya.
"Shut up and just do it!" dan Jeanne kembali menciumku dengan ganas.
Aku pun balas menciumnya. Kami berdua sama-sama diam dalam posisi berciuman.
Kurasakan aliran listrik statis mulai merayapi sekujur tubuhku. Kubiarkan. Dari diriku pun ada semacam energi yang menjalar dari tulang ekorku, naik ke tulang belakangku dan menyebar ke seluruh tubuhku. Gelombang besar yang kurasakan dan hendak mencari jalan keluar perlahan bisa kuatasi. Dengan teknik pernapasan yang kupelajari, ku-"tarik" gelombang besar itu ke arah pinggangku, ke arah dua titik yang disebut ming-men oleh ahli akupunktur. Kuputar gelombang besar itu di sana. Perlahan, aku pun merasakan ada aliran listrik statis yang mengalir dari titik 2 jari di bawah pusarku. Titik ini yang sering disebut oleh orang Cina sebagai titik dantien atau chakra pusar oleh orang India. Tenaga inilah yang disebut oleh orang India sebagai tenaga Kundalini. Inilah kunci dari cara taoist bercinta, yaitu pembangkitan tenaga terpendam dari dantien yang didapat dari tenaga seksual dan membuat genital orgasm menjadi "whole body and soul orgaSMS.
Sekujur tubuhku terasa hangat, begitu juga dengan tubuh Jeanne. Kami masih berciuman. Diam, menikmati sensasi yang luar biasa yang tidak akan pernah kami dapatkan dari orgasme genetik. Aku merasakan ada sesuatu yang berputaran pada tubuhku, dari bawah, naik, hingga melalui mulutku masuk ke mulut Jeanne dan dari mulut Jeanne kurasakan aliran lagi yang menuju ke bawah membentuk suatu siklus. Inilah yang disebut oleh para taoist sebagai kondisi tao, di mana yin dan yang bersatu membentuk harmoni. Aku merasa seperti melayang ke ruangan yang tanpa dimensi. Senyap. Pandangan mataku seperti melihat cahaya yang terang (walaupun aku memejamkan mataku). Rasa nikmat yang aneh disertai oleh rambatan sensasi menjalari setiap bagian tubuhku dan tubuh Jeanne. Kurasakan tubuhku merinding sekujur tubuh (bukan karena dinginnya AC, karena tubuhku terasa hangat). Kurasakan juga Jeanne merinding di sekujur tubuhnya. Rambut-rambut halus yang ada di tubuh kami berdua berdiri, seperti layaknya kalau tubuh teraliri listrik statis. Tubuh kami berdua mengejang. Akhirnya aku merasakan suatu yang sangat melegakan. Nikmat.. Cahaya terang yang "tampak" di mataku digantikan oleh kegelapan yang pekat. Sunyi..!
Pelan-pelan Jeanne melepaskan ciuman kami. Dia tersenyum penuh arti dan kemudian mencium keningku. Kupagut kecil dagu Jeanne saat dia mencium keningku. Aku merasakan kesegaran tubuhku seperti orang yang baru selesai berolahraga ringan. Jeanne perlahan melepaskan gerbang kewanitaannya dari batang kelelakianku. Dia beranjak dari pangkuanku dan memegang batang kelelakianku, kemudian dikulumnya batang kelelakianku yang masih tegak tegang dan kaku yang penuh dengan cairan kewanitaannya. Rupanya Jeanne membersihkan batang kelelakianku. Dia cuma sebentar mengulumnya, kemudian mengambil beberapa lembar tissue dan melap batang kelelakianku. Kukecup kening Jeanne sambil mengelus rambutnya.
Jeanne mengajakku kembali ke balik selimut. Kami berpelukan sambil masih dalam kondisi sama-sama telanjang bulat. Kami kemudian saling berciuman lagi.
"Frank.. You're wonderful!" kata Jeanne.
Aku cuma tersenyum dan mencium keningnya dengan penuh kelembutan. Kusisiri rambut Jeanne dengan jari-jari tanganku.
"Sayang.. kita bukan hanya melakukan seks, kita benar-benar bercinta. I felt so loved so much that I never felt that kind of feeling before. I love you, Frank!"
Aku terkejut mendengar kata-kata Jeanne, terutama yang terakhir. Ada kebahagiaan yang kurasakan di hatiku saat itu. Kupeluk Jeanne semakin erat, dan kucium dia.
"Jeanne.. do you mind if I ask you a personal question?" tanyaku setelah beberapa saat kami berciuman. Jeanne cuma menggeleng.
"Where did you learn that secret and how?" tanyaku penasaran.
Harusnya sudah kusadari sejak awal bahwa kalau dia mengerti tentang "rahasia" ini, tentu paling tidak dia tahu akan "teori"-nya. Ternyata memang dia juga menguasainya! Jeanne tidak menjawab. Dia hanya tersenyum dan meletakkan sebuah jarinya di bibirku, tanda bagiku untuk diam. "Are you hungry Frank?" tanya Jeanne untuk mengalihkan perhatian. Aku melihat ke arah jam dinding di kamar Jeanne. Shit! Sudah lewat tengah malam dan hampir jam satu pagi! Padahal, seingatku aku baru bangun dan memulai permainan kami ini sekitar jam sembilan. Mendadak aku merasakan perutku bunyi dan keroncongan. Seingatku, hari ini aku memang belum makan apapun. Jeanne tersenyum manis lagi (mungkin karena) melihat tampangku yang seperti orang linglung.
"Okay Honey.. I'm hungry too.. I'll make you something," kata Jeanne sambil dia beranjak dari tempat tidur. Tubuhnya yang putih mulus meliuk dan melenggok dan tak lepas dari pandangan mataku. Dia menyalakan lampu kamarnya dan berjalan menuju ke lemari pakaiannya. Membuka sebuah laci, mengambil sebuah celana dalam berwarna putih dengan hiasan bunga-bunga kecil berwarna-warni, mengenakan celana itu, mengambil sebuah T-shirt dan kemudian mengenakannya. Jeanne juga mengambil dan kemudian memakai sebuah celana jins pendek. Dia keluar dari kamar. Aku beranjak dari tempat tidur Jeanne dan menuju ke kamar mandi, di mana baju dan celanaku tertinggal. Saat aku mengenakan celanaku, aku mendengar teriakan Jeanne dari dapur.
"Sayang.. jangan kamu pakai T-shirt kamu! Aku ingin kamu telanjang dada! Aku suka dengan dada kamu! Sangat seksi sekali.." teriaknya. Aku menurut. T-shirt yang hampir aku kenakan batal aku kenakan. Dadaku memang bidang, karena aku juga menyukai olah raga panjat tebing di samping silat yang kulatih sejak kecil. Dadaku juga ditumbuhi rambut-rambut yang tidak terlalu lebat dan juga tidak terlalu jarang yang terus menyambung dari bawah.
Bersambung . . . .

Musim panas di Los Angeles - 3

Ketika keluar dari kamar Jeanne, aku mencium wangi makanan. Sepertinya Jeanne membuat nasi goreng dan oseng-oseng ayam dan udang dengan sayuran. Perutku dengan kurang ajarnya berkeruyuk. Kulihat Jeanne sibuk menyiapkan makanan dan menata meja makan. Kuhampiri dia dan kupeluk dari belakang. Kucium balik telinganya sambil tanganku dengan nakalnya meraba dadanya.
"Do you need help, Sweety?" bisikku pada telinganya.
Jeanne menepiskan tanganku dan membalikkan badannya.
"No thanks Honey. Just wait there, watch TV or something. It'll be a moment and not too long."
"Okay.."
Aku berjalan menuju baby grand piano yang ada di sudut ruangan. Kumatikan suara TV yang sedang menyiarkan berita CNN melalui remote control.
"Sweety.. this one is for you!" kataku sambil mulai memainkan tuts-tuts piano.
Aku memainkan sebuah lagu melalui denting piano. Malam itu (atau lebih tepatnya pagi dini hari) kulewati dengan makan bersama Jeanne (masakannya enak lho!) dan aku menginap di apartemennya.
Pagi itu aku bangun dengan pikiran yang berkecamuk. Jeanne masih tidur di dekapanku. Aku bisa merasakan hembusan napas halusnya. Berbagai macam perasaan silih berganti menerpaku. Aku merasa bahagia, sedih, senang, susah, gembira, dan entah apa lagi. Sukar sekali untuk bisa mengatakannya. Pikiranku melayang ke masa laluku.
Aku dilahirkan tahun 1969, anak tertua dari 2 bersaudara. Adikku, perempuan, lahir 3 tahun kemudian setelah aku (dia sudah menikah dan berputra seorang sekarang). Ayahku adalah seorang pegawai negeri. Aku benci ayahku! Dia bukanlah seorang bisa dijadikan contoh dan dibanggakan oleh anak-anaknya. Ayahku sering sekali memarahi ibuku di depan anak-anaknya. Bahkan terkadang tak segan-segan menempeleng ibuku! Tak jarang pula aku harus menerima hajaran dari ayahku kalau aku berusaha melindungi ibuku. Tapi apa dayaku, waktu itu aku masih kecil. Di kantornya, ayahku pun bukan orang yang dihormati. Tentu saja orang akan "hormat" di depan dia. Dia adalah seorang koruptor dan tukang main perempuan! Aku pun sebetulnya malu untuk menceritakan tentang dia.
Makanya, tak heran apabila aku tumbuh menjadi anak jalanan. Aku tumbuh menjadi anak yang nakal. Sangat nakal! Walaupun demikian, aku tetap punya prinsip. Aku berprinsip untuk tidak "melukai" diriku sendiri. Itu sebabnya aku tidak merokok, tidak minum minuman keras dan tidak berurusan dengan narkotik (walaupun nantinya aku menjadi salah seorang pengedar). Beberapa kali ayahku harus "menebusku" di kantor polisi atas tingkah lakuku yang sudah termasuk tindakan kriminal.
Akhirnya saat UMPTN tiba. Aku ingat akan kata-kata ibuku yang memintaku untuk belajar sungguh-sungguh, demi diriku sendiri dan demi ibuku. Aku turuti kata-kata ibuku. Tuhan memang memberiku otak yang encer. Aku diterima di perguruan negeri paling bergengsi di Indonesia. Berangkatlah aku ke Bandung.
Di kota ini aku tambah liar, bagaikan kuda yang lepas dari ikatan. Bayangkan, tidak ada yang perduli, kost dan hidup sendiri, punya banyak uang (yang aku tahu itu adalah uang haram hasil korupsi ayahku), mau apa lagi? Di kota ini pertama kali aku kehilangan keperjakaanku oleh seorang gadis manis yang tadinya cuma iseng aku pacari (dan dia aku perawani). Namanya Yolanda. Aku panggil dia Yo, saat itu dia kuliah di perguruan negeri lain yang juga ada di Bandung. Aku kenal dia pertama kali waktu aku jalan-jalan di Cihampelas. Setelah berkenalan, aku sering menelepon dia. Kami banyak ngobrol dan aku semakin tertarik dengan dia (walaupun dengan niat cuma iseng). Yo mempunyai darah Belanda dari ibunya. Dia berambut panjang, berkulit kuning langsat dan bermata coklat. Tidak terlalu tinggi, hanya rata-rata tinggi perempuan Indonesia.
Setelah sekitar 2-3 bulan, aku "jadian" dengan Yo. Aku tahu, Yo sangat mencintaiku. Suatu hari, Yo datang ke tempat kost-ku di daerah Bukit Dago. Dia datang sambil menangis (karena suatu hal yang membuatnya demikian). Aku mencoba untuk menghiburnya, memberikan dukungan dan menyatakan bahwa ada orang yang mencintainya. Entah siapa yang memulai duluan, akhirnya kami terlibat dalam suatu ciuman yang mesra, hangat dan sangat intim. Yo mendesah. Mungkin saat itu situasi sangat mendukung. Aku menggerayangi tubuh Yo, dan dia tidak menolak. Selama ini kami belum pernah berciuman seperti saat itu. Tanganku menyusup ke bajunya setelah kancing-kancingnya aku lepaskan. Bra yang dikenakan Yo berwarna krem, berukuran 34B. Kuraba dan kuremas perlahan buah dada Yo yang kanan. Dia mengerang. Mulut kami masih berciuman. Entah bagaimana ceritanya, akhirnya aku berhasil melepaskan "atribut" atas Yo, sehingga Yo telanjang dada. Kucium buah dada Yo yang putingnya berwarna coklat muda.
Kukulum dan kuhisap putingnya sambil kuremas-remas dengan tanganku. Waktu itu aku sangat berdebar-debar dengan pikiran yang tidak karuan. Banyak pertanyaan silih berganti di kepalaku, tapi tidak kuperdulikan. Aku pikir, kapan lagi? Yo mendesis dan mengerang saat buah dadanya aku "kerjai". Akhirnya, kami berdua sama-sama telanjang bulat. Bagiku, inilah pertama kalinya aku melihat tubuh mulus seorang perempuan secara nyata. Selama ini aku hanya mengetahuinya dari buku, majalah, atau film. Gerbang kewanitaan Yo ditumbuhi rambut-rambut halus yang lebat sekali dan ia memiliki gundukan mons pubis yang membukit. Pinggulnya benar-benar seperti "bodi gitar". Yo terbelalak melihat batang kelelakianku yang tegak tegang dan besar mengacung dan berdenyut-denyut. Dia menarik selimutku dan menutupi tubuh telanjangnya. Badannya bagus dan mulus! Aku memeluknya.
"Frank.. aku pengin, tapi aku takut!" kata Yo.
"Aku sayang kamu Yo.. Aku juga pengin. Pelan-pelan ya.."
"Aku pengin memberikan ini buatmu, Frank!"
Pelan-pelan, kucumbu Yo dan kurasakan gerbang kewanitaannya sudah sangat basah ketika jari-jari tanganku bermain di sana. Kuarahkan batang kelelakianku ke arah gerbang kewanitaan Yo. Yo membuka pahanya. Perlahan kumasukkan batang kemaluanku ke liang kemaluan Yo. Tidak berhasil! Susah sekali! Seret dan meleset. Aku mencoba beberapa kali. Setelah kupikir sudah pas pada lubangnya, aku tusukkan batang kemaluanku ke dalam liang kemaluan Yo. Yo memekik dan menangis di pelukanku. Kurasakan ada cairan hangat mengalir di batang kemaluanku. Kugoyang-goyangkan pantatku maju-mundur (waktu itu pengetahuanku tentang seks sangatlah minim, hanya lewat majalah dan video porno) seperti yang kulihat di film porno. Yo memelukku semakin erat dan air matanya mengalir. "Frank.. Sakit! Sakit sekali!" katanya di antara sesenggukannya.
Kukecup Yo dan kucabut batang kemaluanku dari liang kemaluannya. Aku melihat batang kemaluanku "berdarah" dan beberapa bercak darah menetes ke sprei tempat tidurku. Darah perawan Yo! Yo dengan tertatih-tatih bangun dan menuju ke kamar mandiku. Dia melap liang kemaluannya dengan tissue. Kuhampiri dia dan kupeluk dia. Kucium. Hari itu aku "tuntas"-kan dengan "self-service" di kamar mandi karena aku tidak tega melihat Yo kesakitan. Akhirnya kami berdua tidur telanjang berpelukan setelah kuganti sepreiku.
Aku dan Yo akhirnya bisa melakukan hubungan seks dengan nyaman dan kami berdua bisa menikmatinya setelah kami melakukan yang ke-3 atau ke-4 kalinya (aku lupa). Akhirnya aku jadi sangat mencintai Yo dan dia juga demikian. Dia sangat sabar dan dia pula yang membuatku untuk mulai "bertobat" dari segala kenakalanku. Aku berubah karena Yo.
Hingga suatu hari, aku mendengar kabar yang sangat mengejutkan dan membuat tubuhku lemas dan aku sempat mengalami pukulan yang telak. Yo meninggal dunia karena kecelakaan. Dan yang membuatku semakin menyesal adalah aku tidak sempat melihat jenazahnya, karena telah dikuburkan di sebuah pemakaman umum di Jakarta. Aku mendengar kabar ini sepulangku dari latihan survivalku selama seminggu. Begitu aku mendengar kabar ini dan aku sadar dari rasa terkejutku, aku segera berangkat ke Jakarta dengan motorku dan kularikan motorku dengan kecepatan sangat tinggi. Bayangkan, saat itu Bandung-Jakarta kutempuh hanya dalam waktu kurang dari 2 jam! Baru kuketahui dari keluarganya bahwa Yo telah dimakamkan. Aku segera menuju makamnya yang masih basah dan penuh dengan taburan bunga. Aku menangis di sana hingga tak terasa aku tertidur dan dibangunkan oleh orangtua penjaga makam.
"What's the matter, Honey..?" tiba-tiba pertanyaan Jeanne mengagetkan aku dan menyadarkanku pada situasiku yang sekarang. Jeanne memandangku dengan penuh tanda tanya dan ia mengusap dadaku, kemudian mencium dadaku. Kucium kening Jeanne dan aku menarik napas panjang. "Why are you crying..?" Jeanne mengusap setetes air mata yang menetes dari mataku saat bertanya kepadaku. Aku tersenyum padanya. "I just have a feeling about how happy I am now!" kataku sambil mengecup kening Jeanne. Maafkan aku Yo, kataku dalam hati. Aku jatuh cinta pada perempuan ini. Semoga kamu berbahagia di alam sana, batinku.
"I'm still tired, Frank. I want to continue my sleep," kata Jeanne, dan dia memelukku semakin erat. Kuelus rambutnya. "It's all right, Baby.. Go back to sleep. I'm fine." Kulirik jam dinding di kamar Jeanne yang samar-samar kulihat menunjukkan sekitar pukul sepuluh pagi. Aku sendiri pun masih malas beranjak dari tempat tidur, lagipula hari ini adalah hari libur.
Kembali pikiranku melayang dan melamun. Setelah ditinggal oleh Yo untuk selamanya, aku sempat seperti orang linglung yang kehilangan semangat kira-kira selama 2-3 bulan. Orang yang menyadarkanku adalah kakak seperguruanku yang sangat perhatian dengan diriku. Dia mengetahui perubahan pada diriku. Akhirnya, dia berhasil meyakinkanku untuk "get over it" dan "get real" dengan situasiku. Katanya lagi, Yo akan sangat marah dan kecewa bila laki-laki yang dicintainya ternyata sangat lemah. Aku sempat marah padanya dan kutantang dia berkelahi. Tentu saja dia menolak, tapi kupaksa karena aku sudah mata gelap. Rupanya dia memang jagoan (biarpun dia kelihatan seperti biasa saja). Dengan mudah aku dikalahkannya dan aku dilumpuhkan hanya dengan 2 kali totokan 2 jarinya. Dia menasihatiku seperti dia menasihati adiknya. Aku sadar dan bisa mengerti. Dari dia aku belajar silat dengan giat dan tekun untuk mengisi hari-hariku di samping belajar lebih sungguh-sungguh pada pelajaranku di bangku kuliah.
Di tahun yang sama, petaka datang lagi. Ayahku menceraikan ibuku karena dia kawin lagi dengan perempuan lain. Aku sangat marah saat itu. Kudatangi ayahku di kantornya dan kuhajar dia hingga bibir dan hidungnya pecah berdarah. Sampai-sampai aku harus diamankan oleh para satpam kantor ayahku karena aku mengamuk.
Akhirnya aku dikirim oleh ibuku ke Amerika Serikat dengan biaya dari harta pembagian ayahku. Aku hanya dibiayai untuk semester pertama, selanjutnya, aku harus membiayai hidupku sendiri. Ibuku "menantang"-ku dan aku menerima tantangannya untuk bisa hidup dan survive di negeri orang. Setelah kutunjukkan kemampuanku pada semester pertama kuliah, akhirnya semester berikutnya aku mendapatkan beasiswa. Untuk hidup, aku bekerja apa saja dan di mana saja. Di negeri orang inilah aku mengenal arti hidup sesungguhnya. Karena keberuntunganku, aku diterima bekerja di sebuah perusahaan konsultan engineering. Dari situlah aku mulai menata hidupku dan bisa seperti sekarang.
Aku masih ingat pertama kali aku melihat Jeanne. Waktu itu aku lagi duduk-duduk di sebuah bangku putih panjang di Palm Court di UCLA setelah selesai kuliahku hari itu. Entah mengapa aku begitu tertarik dengan dia yang melenggang tepat di depanku. Baru kuketahui bahwa dia adalah seorang mahasiswi dari jurusanku juga.
Aku tersadar dari lamunanku saat Jeanne melepaskan pelukannya dan membalikkan badannya memunggungiku. Aku mendesah pelan, dan tersenyum sendiri. Kupeluk Jeanne dengan mesra dan kulanjutkan tidurku.
TAMAT

Memerawani gadis tomboy

Namaku Indra, seorang mahasiswa dari jogja umurku sekarang 21 tahun. Kisah ini adalah kisah nyataku yang aku alami bersama dengan anak tetanggaku sekitar 1 tahun yang lalu. Waktu itu aku masih kuliah dan Ayu, sebut saja begitu, umurnya masih sekitar 18 tahun dan baru saja lulus dari SMU.
Ayu orangnya supel dan mudah bergaul dengan siapa saja. Maka dari itu semua orang dilingkungan tempat tinggalku kenal dengan dia. Selain itu juga Ayu aktif dalam berbagai kegiatan dilingkungan kami seperti halnya karang taruna dan dia selalu terpilih menjadi ketua panitia dalam setiap kegiatan dilingkungan kami. Sifatnya yang energik itulah yang disukai siapapun. Satu lagi sifat yang sulit dipisahkan darinya yaitu, dia seorang gadis tomboy, walaupun dia sering marah jika disebut begitu.
Sikap Ayu padaku sudah seperti adikku sendiri. Dia seringkali main ke rumahku untuk sekedar bercengkerama dengan keluarga kami. Dan juga pada tetangga yang lain dia juga begitu. Karena begitu akrabnya denganku sehingga dia sering keluar masuk kamarku untuk sekedar membangunkanku dari tidur mengajakku bercanda atau kadang-kadang dia juga tak segan untuk curhat denganku.
Kebiasaan itulah yang selalu dilakukannya hingga pada suatu saat aku lupa mematikan komputer yang ada di kamarku setelah aku mengerjakan paper untuk mata kuliah Ilmu Sosial Dasar semalam suntuk. Karena kelelahan aku tertidur dimuka komputer dan aku tinggalkan komputerku dalam keadaan menyala. Sebagai anak muda menyimpan gambar-gambar porno dari disket ke disket atau bertukar VCD porno adalah hal yang wajar diantara aku dan teman-temanku. Rasa khawatirku muncul dan aku bergegas bangun.
".. Mas, koq komputernya enggak dimatiin sih..?" tanya Ayu sambil menggeser-geser mouse.
Untung saja ia hanya main game solitaire. Aku banting lagi tubuhku yang masih setengah nyawa ke kasur busa yang ada dilantai.
".. Iya.. Semalem.. Abis ngerjain tugas.. Aku ketiduran, Yu.." kataku sambil bermalas-malasan dikasur.
".. Iya.. sudah sana mandi..! Mana bau ih.. sudah sana..!" bentak Ayu sambil bercanda menirukan gaya Ibuku yang biasa membangunkanku dengan kata-kata itu.
".. Hoahh..!!" aku menguap sambil menggeliat mengumpulkan nyawa.
".. Idih.. Baunya kemana-mana.. sudah sana mandi.. mau mandi enggak.. Hah?!" kata Ayu sambil merapat padaku dan memukul guling ke mukaku..
".. Aduh.. Duh.. Aduh.. He.. He.. He.. Aduh..!!" aku pura-pura sakit sambil tertawa terkekeh.
".. sudah.. Sana.. Mandi.. Sana!!" bentak Ayu sambil terus memukul-mukul dengan bantal ke mukaku
Tak tahan diserang bertubi-tubi aku akhirnya menyerah dan bergegas ke kamar mandi sambil mengambil handuk dan pakaianku. Hari itu hari sabtu jadi aku tak perlu tergesa-gesa karena hari itu hari libur. Ada yang aneh karena Ayah dan Ibuku yang biasanya ada dirumah kini tidak ada. Setelah itu aku kembali ke kamarku.
".. Yu.. Ibu sama Ayahku kemana..?" tanyaku pada Ayu
".. Lho.. Mas.. Koq.. enggak tahu sih..?" Ayu balas bertanya
".. Nggak.. Ada apa..?" tanyaku lagi..
".. Ibu sama Ayah Mas.. Tadi pagi sudah berangkat ke Bekasi.. Katanya mau lihat anaknya Mas Robi.." cerita Ayu.
Mas Robi adalah abangku. Anaknya yang juga adalak keponakanku yang umurnya baru 2 tahun sakit. Ayah dan Ibuku menengok keponakanku yang adalah cucu mereka juga.
".. Oh.." aku baru mengerti.
".. Iya.. Nah tadi Ayah sama Ibu Mas Yanto nitip rumah ke aku.." kata Ayu.
".. Oh.." sahutku.
".. Ah.. Oh.. Ah.. Oh.. Apanya sih..?!" hardik Ayu sambil bercanda.
".. Ah.. Nggak.." kataku sambil memperhatikan Ayu.
Wajah Ayu sepertinya biasa-biasa saja. Hanya kulitnya yang putih mulus yang membuatnya terlihat cantik. Rambutnya yang dipotong pendek semakin membuat ia kelihatan tomboy. Tubuhnya sintal dan padat menyiratkan kalau ia seksi. Dalam hatiku ingin sekali menikmati tubuhnya itu yang aku rasa lebih nikmat daripada pelacur kelas kakap sekalipun. Aku atur strategi bagaimana caranya supaya aku bisa menikmati tubuhnya.
".. Kenapa sih, Mas..?!" tanya Ayu yang membuat lamunanku buyar seketika.
".. Akh.. Nggak.. Eh.. Ayu sudah sarapan belom..?" tanyaku mengalihkannya.
".. Kenapa sih.. Mau Ayu buatin yah..?" kata Ayu.
".. Aduh kamu tuh baik sekali sih.." kataku memujinya.
".. Iya dong.. Siapa dulu dong.. Ayu.." katanya membanggakan diri sambil meinggalkan kamarku.
Aku buka gambar-gambar porno di folderku. Aku pajang besar-besar untuk memancing Ayu supaya melihatnya. Aku ingin tahu reaksinya. Tak lama kemudian memanggilku.
".. Mas sudah tuh.." katanya.
Aku meninggalkan komputerku dalam keadaan gambar terdisplay besar-besar dimonitor. Perkiraanku benar saja. Ayu kembali ke kamarku. Aku sengaja membiarkannya melihat gambar-gambar porno itu karena ingin tahu reaksinya. Sementara itu aku sarapan diruang makan. Setelah itu aku kembali ke kamarku.
Tak kusangka dan tak kuduga Ayu ternyata membolak-balik gambar-gambar yang ada difolderku sambil melihat gambar-gambar yang lain. Aku hanya memperhatikannya dimuka pintu tanpa sepengetahuannya. Aku tak bisa melihat wajahnya karena ia membelakangiku entah bagaimana mimik mukanya. Perlahan aku dekati dia berbicara.
".. Ehm.. Lagi ngapain, Yu..?" tanyaku.
".. Ehm.. Nggak.. Eh.. Eh.. Aduh.. Maaf.. Yah, Mas.. Eh.. Ayu nggak sengaja.. Maaf sudah buka-buka foldernya Mas.." kata Ayu. Ku lihat mukanya merah dan berkeringat.
".. Ah.. Nggak pa-pa.. Koq.. Itu juga buat ngilangin stress aja.." kataku dengan ringan.
".. Aduh.. Gimana.. Nih. Maaf yah.. Mas.." kata Ayu memohon maaf padaku. Padahal aku tahu kalau Ayu malu setengah mati.
".. Enggak.. Nggak pa-pa.. Koq.." kataku lagi.
Kali ini aku menuntun tangannya yang memegang mouse supaya lebih aktif lagi membuka gambar yang lain. Aku rasakan keringat dingin yang membasahi tangan Ayu.
".. Rileks aja oke.." kataku sambil meniup tengkuk leher Ayu. Teknik ini untuk membangkitkan birahi wanita.
".. Emh.. Mas.." sahut Ayu.
".. Tuh lihat.. Ditunggingin gitu terus ditubles deh pantatnya.." kataku mengomentari gambar doggy style.
".. Ih.. Masak sih.. Mas.. Hiiy.. Jorok.. Ih..!" kata Ayu terkaget-kaget.
Tanganku membimbing tangannya yang memegang mouse untuk melihat gambar selanjutnya. Kali ini gambar seorang gadis mengulum-ngulum penis pria yang berukuran besar dan panjang.
".. Kalau yang ini.. Serem.. Ah.." bisikku sambil terus meniup tengkuk lehernya.
".. Ih.. Jijik.. Ih.. sudah ah, Mas.. Liat yang lain aja.." bisik Ayu
Tanganku terus membimbing tangannya yang memegang mouse hingga gambar berikutnya. Kali ini gambar vagina yang dijilati oleh pria. Ayu terbelalak.
".. Tuh.. Dijilatin.. Tuh.. Enak kali yah..?!" bisikku ditelinganya.
".. Ih.. Apa nggak jijik tuh, Mas..?!" tanya Ayu terheran-heran.
".. Nggak.. Enak.. Koq.. Liat aja tuh cowoknya ke enakkan gitu.." kataku.
".. Ih.." Ayu masih terlihat jijik.
".. Kalau kamu mau.. Mas mau tuh jilatin.." bisikku sambil menawarkan.
".." Ayu diam saja
".. Gimana, Yu.. Kamu mau nggak.. Enak koq.." rayuku.
".. Engh.. Nggak.. Ah.." kata Ayu.
".. Ih.. Enak.. Enak banget.. Koq, Yu.." rayuku lagi.
".. Mas.. Nggak jijik..?" tanya Ayu.
".. Nggak sayang.. Malah.. Mas yang keenakan.." rayuku lagi.
".. Ih.. Eng.." Ayu masih jijik.
".. Oke deh.. Gimana kalau mulai dengan ini dulu.." kataku sambil mengulum bibirnya dalam-dalam.
".. Emh.." hanya itu suara yang aku dengar dari mulut Ayu.
Aku yang berdiri dibelakang Ayu kali ini mengulum bibir Ayu dalam-dalam. Ciumanku aku arahkan ke tengkuk lehernya sambil kujilati tengkuk leher yang putih mulus itu.
". Emh.. Mas.. Ohh.." hanya itu suara dari mulut Ayu membalas seranganku.
Ciuman dan jilatanku aku arahkan ke dagu dan leher Ayu terus ke bawah. Tapi kausnya masih menghalangi aksiku.
".. Ayu.. Bajunya, Mas.. Buka yah..?" bisikan rayuanku.
".. Emh.." hanya itu suara yang keluar dari mulut Ayu. Aku tak tahu apakah itu berarti ya atau tidak.
Perlahan-lahan aku tarik bajunya Ayu tak memberontak sedikitpun. Aku teruskan menarik kaus itu hingga terlepas. Tak ku sia-siakan kesempatan ini sambil terus membuka BH-nya. Aku tarik kancing BH-nya yang berukuran 36B. Aku lihat tulisan itu pada tanda label pada BH-nya. Kini tubuh Ayu sudah topless dan siap aku gempur bagian atasnya. Perlahan-lahan aku papah Ayu ke kasur yang ada dilantai kamarku. Aku baringkan ia dan aku teruskan aksiku tadi.
".. Ayu.. Mau diterusin enggak nih.." tanyaku. Aku takut nanti ia melapor pada orangtuanya kalau ia diperkosa.
".. Engh.. Mmhh.. Main atas aja yah.. Mas.. Sshtt.." pintanya dalam keadaan horny.
Rupanya Ayu sudah beberapa kali main pas foto dengan teman-temannya dulu waktu disekolah. Jadi ia sudah tak heran lagi dengan yang beginian.
Kali ini bibirku mengulum dan lidahku menjilati buah dada yang bulat dengan puting susu berwarna coklat kemerahan mengacung ke atas. Aku mengulumnya sambil lidahku memainkan puting susu itu. Tanganku menggerayangi buah pantatnya yang padat berisi. Aku teruskan dengan membuka celana pendek yang dikenakannya. Kali ini Ayu agak bertahan. Dia tidak mau menaikkan pinggulnya supaya celananya mudah diperosotkan. Sementara itu aku melepaskan celana pendek kolorku dan juga kausku hingga aku hanya celana dalam saja.
".. Emh.. Jangan.. Mas.. Sshh.." pinta Ayu dalam desahannya.
".. Gimana.. Mas.. Bisa ngejilatin itunya Ayu..?" tanyaku.
".. Engh.. Jangan.. Mass.. Sshh.. Main atas aja.." pinta Ayu.
".. Nggak koq.. Yu.. Mas Cuma mau liat ama jilatin itunya kamu aja.. Mas nggak akan ngapa-apain deh.." rayuku.
Setelah itu Ayu seperti membolehkanku. Terbukti kali ini ia mengangkat sedikit pinggulnya supaya celananya bisa diperosotkan. Aku ambil dua sekaligus celana dalam dan celana luarnya sehingga Ayu langsung telanjang bulat. WOW! Kini tubuh yang selama ini aku idam-idamkan terpampang jelas di depan mata.
".. Ih.. Mas.. Tapi Mas.. Jangan yah.." pintanya supaya aku juga tidak telanjang.
".. Lho.. Kenapa sayang..?" tanyaku.
".. Engh.. Jangan.. Deh.." pintanya lagi sambil kedua tangannya mencoba menutupi bagian paling pribadinya.
".. Kenapa.. Kamu takut..?" tanyaku.
".. Engh.. Cukup deh.. Gini aja.. Ayu takut, Mas.." katanya dibalik nafasnya yang menderu.
Aku tahu kalau Ayu masih perawan dan aku juga tak mau merusaknya. Hanya ingin memainkannya saja. Aku perhatikan bentuk tubuh Ayu yang benar-benar indah itu. Buah dada yang bulat dengan puting susu coklat kemerahan mengacung menantangku. Perut yang mulus putih bersih dan kencang. Paling utama bagian dibawah perut yang ditutupi bulu-bulu halus. Dibalik bulu halus itu terdapat bongkahan daging merah dengan celah yang sempit dari situ tersembul seonggok daging kecil seperti kacang merah merekah.
".. Ayu.. Punya kamu indah.. Banget.. Sayang.." kataku sambil mendekati vaginanya dan langsung mengulumnya..
".. Oufh.. Sshhtt.. Engh.. Emh.. Sshtt.. Ough.." Ayu melenguh dan mendesah penuh kenikmatan ketika bibirku mengulum bibir vaginanya.
".. Gimana enak.. Kan sayang..?' bisikku.
".. Emh.. Sshtt. Ough.. Sshhtt.. Ough.. Sshhtt.. Ough.." suara desahan itulah yang keluar dari mulut Ayu.
Aku kulum-kulum kelentitnya sambil sesekali lidahku menerobos celah sempit dibawah kelentitnya. Aku julurkan lidahku dalam-dalam hingga lidahku aku merasakan seperti ada yang menghalanginya. Aku semakin yakin kalau Ayu masih benar-benar perawan. Sementara itu cairan putih bening tak henti-hentinya keluar dari kelentitnya membasahi lidah dan bibirku. Aku jilat dan aku hisap lalu aku telan cairan kenikmatan itu seperti halnya aku kehausan.
Cukup lama juga aku menjilati liang vagina itu. Sambil mulutku bermain di liang vaginanya tanganku melepas celana dalamku. Satu-satunya kain penutup tubuhku yang menutupi batang penisku. Tanpa sepengetahuannya aku berhasil melepas celana dalamku. Kini tubuhku dan tubuh Ayu sama-sama polos dan telanjang bulat. Kali ini tinggal Ayu saja yang menentukan apakah boleh atau tidak batang penisku yang sudah panjang dan keras untuk menerobos liang vaginanya.
Tak lama kemudian nafas Ayu semakin cepat dan mulutnya meracau seperti ingin menjerit.
".. Auwfh.. Sshtt.. Engh.. Emh.. Augh.. Enaxx.. Mmasshh.. Sshtt.. Ough.." begitu erangnya dan kali ini aku tahu kalau Ayu sedikit lagi akan mencapai orgasme.
Disini aku atur siasat. Aku hentikan jilatan dan kulumanku ke liang vagina Ayu hingga Ayu hampir sadar. Wajahnya yang tadi merekah kini perlahan-lahan kembali normal. Ada sedikit kekecewaan diwajah Ayu.
".. Ayu.. Sayang.. Kamu mau.. Kan..?" tanyaku.
".. Mas.. Engh.. Ayo dong.." begitu pinta Ayu ditengah-tengah desahan nafasnya yang tersengal.
".. Iya.. Sayang.. Tapi kamu mau.. Nggak..?" tanyaku lagi.
".. Iya deh.. Mas.. Ayu mau apa aja yang Mas suruh.. Tapi.." aku melihat Ayu seperti mengiba padaku.
".. Oke.. Deh.. Punya.. Mas.. Boleh kan dimasukin..?" tanyaku.
".. Iya.. He.. Eh.. Egh.. Ayo.. Dong.." Ayu meminta padaku.
".. Ayo.. Apa.. Ayo.. Apa.. Sayang.." tanyaku pura-pura.
".. Ayu mau yang tadi.." pinta Ayu.
".. Yang tadi.. Yang mana..?" tanyaku pura-pura.
".. Engh.." Ayu meminta dengan manja sambil menjambak rambutku dan mengarahkan pada liang vaginanya.
".. Yang ini sayang.. Emgh." aku teruskan lagi jilatanku..
".. Iyah.. Ough.. Emh.. Yesshh.. Ough. Emh.. Sshhtt.. Oufh.. Sshhtt.. Oughh.." begitu desah Ayu menimpali jilatanku hingga Ayu hampir orgasme lagi dan..
".. Ayu.. Mas.. Boleh yah.. Masukin.." tanyaku sambil batang kontolku sudah menunggu dibibir vaginanya.
".. Emggh.." Ayu mendesah sambil matanya terpejam dan siap menerima batang kontolku.
".. Boleh.. Nggak sayang.. Emh..?" tanyaku sambil memainkan batang kontolku dibibir vaginanya .
".." Ayu terdiam namun ia sediki mengangkat pinggulnya dan aku langsung siap mencobloskan batang penisku yang sudah keras dan panjang ini ke liang vaginanya. Namun baru didorong sedikit batang penisku seperti terpeleset begitu terus menerus hingga..
".. Augh.. Sshhtt.." Ayu merintih.
".. Dikit.. Lagi. Yah.. Sayang.. Enaxx.. Koq.." rayuku.
".. Augh.. Pelan-pelan.. Mas.. Aduh.. Sshhakit.." rintih Ayu aku lihat sedikit airmata dimatanya.
Aku dorong perlahan-lahan batang penisku hingga
".. SLEB.. SLEB.. BLESS!!" batang penisku berhasil amblas ke liang vagina Ayu.
Aku diamkan sesaat batang penisku didalam liang vagina Ayu. Aku biarkan otot-otot vagina Ayu supaya terbiasa dulu dengan batang penisku yang baru saja menerobos liang vaginanya. Batang penis yang selama ini belum pernah menerobos liang vagina Ayu kini merintih.
".. Sshhtt.. Auh.. Sshhtt.. Sakit.. Mas." aku lihat sedikit airmata dimata Ayu.
".. Iya.. Sayang.. Aku tahu.. Sebentar lagi enak koq.. Yah.." kataku sambil mengulum bibirnya.
Setelah itu aku liukkan perlahan-lahan pinggulku untuk memainkan batang penisku didalam liang vagina Ayu. Ayu yang tadi merintih kesakitan kini kembali mendesah penuh kenikmatan.
".. Oufh.. Sshhtt.. Engh.. Emh.. Sshtt.. Ough.." begitu suara desahan Ayu mengiringi liukan dan terjangan batang penisku
".. Ouh.. Yu.. Kamu enaxx.. Banget.. Yu.. Egh.." kataku memuji-mujinya.
Posisi tubuh kami aku atur. Kaki Ayu aku lingkarkan dipinggulku dan kedua kakiku terlipat supaya batang penisku benar-benar pada posisi yang enak diliang vagina Ayu. Permainan ini terus berlangsung hingga dua puluh menit kemudian.
".. Ough.. Eghh.. Ough.. Ough.. Egh.. Emh.. Sshhtt.. Ough.. Shhtt.. Ouggh.. Sshtt.. Ough.." mulut Ayu mendesah-desah penuh kenikmatan sambil meracau.
".. Masshhtt.. Augh.. Enaxx.. Banget.. Mmhh.. Sshhtt.. Oughh.. Sshhtt.. Ough.. Shhtt.. Ough.." tangan Ayu memeluk punggungku erat-erat sambil kedua kakinya mencengkram erat-erat pinggangku. Ayu sebentar lagi orgasme.
".. Tenang.. Sayang.. Aku juga bentar lagi.. Koq.." kataku sambil mempercepat liukkan pinggulku dan akhirnya..
".. Augh.. Augh.. Aarghh.. Emh.. Emh.. Ouh.." Ayu mengerang panjang dan diakhiri dengan desahan-desahan lambat. Aku rasakan otot-otot divaginanya berdenyut-denyut seperti menyedot batang penisku. Diperlakukan begitu, batang penisku jadi terasa berdenyut-denyut akan ada yang keluar lalu tak lama kemudian.
".. Oooh.. Ayuu.. Enaxx.." kataku sambil diikuti dengan semburan cairan kenikmatanku menembak dirahimnya.
CROT.. CROT.. CROTT..! batang penisku menyemprotkan cairan sperma penuh kenikmatan. Aku merasakan denyutan-denyutan yang dahsyat dibatang penisku. Setelah itu bibir kami berpagutan sambil menikmati sisa-sisa kenikmatan orgasme yang kami rasakan. Perlahan Ayu mengendorkan cengkeramannya dan kembali rileks.
".. Makasih banget yah, Yu.. Kamu mau begini sama aku.." kataku sambil membelai rambutnya.
".. He-eh.. Makasih juga yah, Mas.. Ayu enggak sia-sia kehilangan keperawanan kalau seenak ini.." kata Ayu yang membuatku kaget.
".. Jadi kamu nggak nyesel..?" tanyaku.
".. Nggak.. Eh.. Malah.. Ayu jadi ingin dan ingin terus beginian sama.. Mas.." sahutnya blak-blakan.
".. Eh.. Bagus deh.." kataku sambil menariknya ke pangkuanku dan kami kembali berciuman.
Lalu setelah cukup terangsang aku dan Ayu kembali bersenggama dengan berbagai posisi. Hari itu tak kurang dari empat kali kami bersenggama di kamar hingga siangnya kami sama-sama kelelahan lalu tertidur. Sorenya setelah bangun dari tidur kami mandi berdua dan masih melakukannya di kamar mandi.
Setelah kejadian itu aku dan Ayu masih melakukannya jika ada kesempatan hingga setahun kemudian. Ayu pindah ke daerah untuk kuliah. Hingga detik ini aku tak tahu bagaimana kabarnya ia sekarang ini.
Tamat

Pengalamanku dengan tutik - 1

Sore itu jam di tangan ku sudah menunjukan angka 18.45, berarti sudah 30 menit aku berdiri di depan pabrik menunggu bis yang akan mengantar aku pulang belum dapat juga. Oh ya aku ceritakan dulu tentang aku, aku berusia 34 tahun sekarang ini, sudah punya dua orang anak dan seorang istri. Keluarga kami bahagia walaupun hidup kami pas pasan.
Aku tinggal di kota M di Jawa Timur kota yang dingin dan dinamis, di mana penduduknya banyak yang cantik karena banyaknya pendatang yang masuk dan cakep cakep untuk laki lakinya. Sedang kerjaku jauh di luar kota di kota P, tapi karena sudah kerasan di kota M jadi kami sekeluarga tidak mau pindah atau bertempat tinggal di kota P, aku lebih mengalah Pulang Pergi untuk kerja yang memakan hamper 2 jam perjalanan antara kota M dan P. Sedang cirri 2 aku tinggi tubuhku 170 cm, berat 68 Kg, bentuk yang ideal dan seksi untuk seorang cowok, sehingga jika berangkat atau pulang kerja ketika naik bis umum banyak mata melototiku, karena fisik juga tampang aku yang lumayan ok.
Itulah sekilas tentang aku. Dan sekarang aku lanjutin ceritaku di atas.
Setelah lebih kurang 30 menit berdiri menunggu bis, Hujan rintik turun, karena memang sudah mulai siang mendung menyelimutinya. Tapi beruntung tepat hujan rintik turun Bis umum yang aku tunggu tunggu sudah kelihatan. Setelah berhenti aku naik, ternyata tidak banyak penumpang yang naik. Aku memilih duduk di kursi isis dua tengah tengah bis, karena kursi yang mulai depan sudah terisi.
Setelah membayar aku pasang walkman aku dan mulai memejamkan mata meresapilagu lagu yang kubawa, dan tanpa kusadari aku tertidur, aku terbangun ketika seseorang membangunkan aku minta tempat duduk di sampingku, karena aku terlalu minggir menempati kursiku, sehingga tempat sebelahku tidak cukup untuk di dudukinya. Aku buka mataku ternyata seorang wanita sebaya denganku.
" Permisi mas! " katanya sambil minta tempat kepadaku.
" Oh silahkan Mbak " jawabku sambil menggeser pantatku memberi tempat duduk kepadanya.
Setelah duduk, wanita itu melepas jaketnya, dan ternyata cumin memakai kaos ketat tanpa lengan dengan kerah tinggi sehingga buah dadanya yang besar mungkin sekitar 36 B terlihat menantang pandanganku untuk mencuri curi kearahnya, sehingga kantukku langsung hilang dengan kehadirannya.
Rambutnya yang hitam panjang dibiarkan terurai, sehingga menambah daya seksinya yang menantang dengan bibir merah menyala, yang seakan akan menantang setiap pria untuk mengulumnya.
" Mau kemana Mbak? " tanyaku memberanikan diri bertanya setelah Bis memasuki sekitar Kecamatan K.
" Pulang Mas kekota M! " jawabnya sedikit angkuh, mungkin sebel aku ajak mengobrol.
Aku diam lagi, nyaliku langsung surut lagi. Dan untuk mengusir keheningan dan ketidak enakan suasana, aku pasang lagi walkmanku yang tadi udah aku lepas ketika pertama kali wanita itu duduk di sampingku. Sampai di kota M aku tidak menegurnya lagi.
Itulah awal mulanya perjumpaanku dengan wanita itu, Hingga beberapa hari lagi aku ketemu lagi dengan nya.
Malam itu aku pulang agak malam sekitar jam 19.30 baru dapat bis. Seperti biasanya aku duduk di kursi isi dua. Malam itu wanita yang kemarin dulu aku sapa agak angkuh naik lagi tapi tidak duduk di sampingku, dia duduk agak di depan kursiku. Melihat dia duduk ddi depan kursiku sendirian aku memberanikan diri pindah tempat duduk di sampingnya. Wanita itu diam saja ketika tau aku duduk di sampingnya, malah dia tersenyum dan memberi aku tempat duduk di sampingnya.
" Lho Mbak kok sudah dua kali ini bareng terus sih?, apa Mbak kerja di sisni juga? " tanyaku sedikit takut-takut.
" Oh enggak kok mas, ini hanya kebetulan saja habis bermain ke tempat saudara!" Jawabnya sambil tersipu malu.
" Emang punya saudara di daerah sini? " tanyaku menyelidiki.
" Iya Mas di daerah sekitar aku naik tadi!" terangnya sambil menawarkan permen kepadaku.
" Kok sendirian saja Mbak main ke tempat saudara? apa tidak di marahin suami? " tanyaku lagi sambil tersenyum menggoda.
" Aku sudah sendirian kok mas! "
" bener nih sendirian? " tanyaku lagi kegirangan mendengar keterangan darinya.
" Iya aku sudah janda, suamiku tidak ketahuan tempatnya, meninggalkan aku setelah anak kami lahir!" jawabnya memastikan aku yang kelihatan kurang percaya.
" Mbak kerja di mana? atau nganggur di rumah? " Tanyaku lagi.
" Kerja mas!, Kalau Mas sendiri? "
" Aku juga kerja..!, Mbak kerjanya di mana? "
" Jaga took di malang!, Mas kerja di mana? "
" Dipabrik di daerah Kota P " jawabku memastikan.
Itulah sepenggal pembicaraanku ketika pertama kali bertemu. Setelahg pertemuan itu, tepatnya tiga hari setelah pertemuanku dengannya, aku mencoba menelponnya di tempat dia bekerja.
" Hallo.. apa kabar? " sapaku .
" Hallo.. baik, ini sapa? " balasnya kebingungan.
" Ini Aries.. yang bareng kamu kemarin..! Ini Mbak Tutik ya? " tanyaku menyakinkan.
" Iya Mas lagi di mana sekarang? " balasnya ramah seraya tersenyum.
" Udah di sini, pulang jam berapa kamu? " Tanya aku menggoda.
" Bentar lagi mas!, emang mau njemput nih? " godanya menantang.
" Emang kaga ada yang marah nih? " balasku memastikan.
" Kaga mas, kalo mau tunggu aja aku di depan!" jawabnya seraya menutup telp tanpa memberi kesempatan padaku untuk menjawab, jadi mau gak mau aku terpaksa menjemputnya di depan tempat kerjanya.
Jam 21.15 aku sudah sampe di depan tempat kerjanya yang ternyata sudah tutup. Aku bingung mencari dimana dianya menunggu, setelah tengok kanan, kiri ternyata Tutik tampak berlari kecil menghampiriku, keluar dari sebuah gang di samping tempat kerjanya.
" Lama ya nunggunya? " sapanya sambil tersenyum ramah padaku.
Aku diam beberapa saat terperangah melihat penampilannya malam itu. Tutik terlihat begitu seksi dengan kaos ketat warna hitam dan celana street warna hitam begitu kontras dengan warna kulitnya yang begitu putih.
" Kok diem sih di tanyain? Ayo berangkat! " sapanya lagi sambil mencubit lenganku.
" Ayuk! " jawabku sambil menstarter sepeda motorku.
" Kemana nih?" tanyaku setelah berjalan beberapa saat.
" terserah mas, aku manut aja? " jawabnya sekenanya sambil melingkarkan Tanya keperutku.
" kamu sudah makan belum? " tanyaku lagi.
" Sudah tadi sore?, emang Mas belum makan? " balasnya.
" Sudah kalo nasi kalo orang belum!" Jawabku bercanda.
" Waouuw! " teriakku takkala tangan Tutik mencubit perutku.
" Kenapa? sakit ya? " tanyanya sambil cekikikan, merasa senang aku menjerit kesakitan.
" Tidak Mbak? cuman kecewa!, Habis nyubitnya salah tempat sih Mbak? " godaku makin berani.
" Emang mintanya di cubit mana? " tanyanya penasaran.
" Bawahnya donk.. tapi kaga di cubit! " sahutku sambil menoleh .
" Emang mau? " Balas Tutik seakan menantang.
Kena nih pikirku..
" Mau donk.. emang itu mauku kok, tapi kalo Mbak juga mau! " balasku sambil cengengesan.
" Kaga ah paling juga kecil lagian.." sahutnya menggoda.
Tapi aku juga kaga kekurangan akal, belum sempat meneruskan pembicaraannya ke genggam tangannya dan kuletakan di atas Penisku yang sudah mulai tegang. Ternyata Tutik tidak menolak juga, malah sekarang diam sambil mengelus elus Penisku yang makin membesar.
" Wah ternyata besar juga ya punya kamu!" bisiknya di belakang telingaku.
" Kamu mau? " tanyaku menantang sambil meremas tangan kirinya.
Tutik diem saja sambil tersenyum, dan pikirku dia tidak menolak kalau aku ajak untuk bersenang senang malam ini.
Dan tanpa minta persetujuannya ku larikan motorku kearah Kota B Yang memang sangat asyik pemandangannya dan suasana kotanya, juga dingin udaranya.
Tutik diam saja, malah semakin erat pelukan tangan kirinya, sedang tangan kanannya tidak pernah lepas dari Penisku yang sudah sangat tegang sekali oleh urutan dan elusan tangannya. Bahkan kadang-kadang dia mengerang tanda birahinya juga sudah memuncak. Dan tanpa minta persetujuanku resulting celanaku di bukanya. Aku yang mengerti maksud dan tujuannya, ikut membantu membuka resulting dan melonggarkan sabuk dan kancing celana jeansku. Setelah terbuka Tangan kanannya tidak hanya mengelus dan mengurut Penisku lagi malah kadang-kadang di kocoknya Penisku. Aku diam saja merasakan elusan dan urutan tangannya yang terlihat sudah sangat berpengalaman, bahkan aku kadang-kadang menggoda dengan kata-kata yang romantis sehingga kadang-kadang tangan kirinya mencubit perutku lagi, sampai aku berteriak minta di hentikan baru di lepaskan cubitannya.
Setelah sampai di Kota B, aku langsung mencari Hotel yang sekiranya pas untuk isis dompetku.
" Malam pak, ada yang bias saya Bantu? " tanya petugas jaganya seorang laki-laki.
" Malam juga, apa masih ada kamar yang kosong Pak? " balsaku sambil melihat brosur yang di tawarkan padaku.
" Tinggal ini Pak yang kosong! " katanya sambil menunjuk no dan lokasi kamarnya pada denah brosur itu.
" Oh ini saja Pak! " sahutku sambil menunjuk kamar no 31 yang bertarip Rp 75.000,00 semalam, kamar kelas standart.
Setelah selesai membereskan administrasinya, aku di antar room boy menuju kamar yang aku pesan. Setelah masuk dan room boy meninggalkan kami berdua, Tutik langsung memeluk dan mencium bibirku, dan aku yang sudah sangat terangsang mulai berangkat tadi langsung melumat bibir seksinya sambil berdiri di muka pintu yang sudah aku tutup. Resleting yang baru saja aku betulin ketika mau masuk hotel tadi sudah di buka lagi dengan kasar oleh Tutik. Dan tangan nya langsung mengelus elus Penisku seperti ketika berangkat tadi, malah beberapa saat kemudian dia berjongkok di depanku dan mengulum Penisku dengan rakusnya tapi sangat enak rasanya. Ternyata Tutik sangat berpengalaman dalam hal ini, walaupun agak kasar mengulumnya tapi tidak pernah sampai terkena gigi putihnya yang sangat terawat rapi seperti gigi pengiklan pasta gigi.
Setelah berjalan sekitar 15 menit berdiri di depan pintu, kutuntun Tutik sambil tetap berciuman seakan tidak mau melepaskan sekejapun lumatan bibirnya, ke tepian ranjang. Lalu aku duduk di tepi ranjang sambil tetap berciuman, sedang tangannya juga tak lepas dari penisku. Sambil membungkuk, kulepas kaos ketatnya, dan tampaklah buah dadanya yang putihbersih menantang, dengan ukuran sekitar 36 B, ku alihkan lumatan bibirku ke payudaranya, dan kupangku dia di atas pahaku.
Tutik mendesah kegelian tatkala kumisku mengeser geser di atas puntingnya, kepalanya mendongak ke belakang sambil bergerak ke kanan dan kekiri merasakan kegeliannya yang sangat hebat, sedang kedua tangannya mendekap kepalaku seolah takut kehilangan moment mencium payudaranya. Sedang kedua tanganku meremas remas pantatnya yang besar nan kenyal sambil meraba raba pahanya, kadang kadang ke masukan tangan kananku ke duburnya.
Bersambung . . . .

Pengalamanku dengan tutik - 2

Setelah puas melumat payudaranya, aku menjatuhkan badanku ke ranjang sehingga sekarang Tutik berada diatas tubuhku yang sudah tidak berbaju, dan seperti sudah tahu ke mauanku, Tutik meranggkak di atas tubuhku, sambil melepaskan celana jeansnya dan CDnya, dia duduk diatas mulutku yang sudah siap untuk menjilati memeknya yang terlihat bersih tanda di rawat dengan baik. Aku dengan sangat bernafsu menjilati memeknya yang mulai basah oleh lender wanitanya dan air liurku. Sedang Tutik tangannya tidak mau ikut diam dengan setengah membalik badan dia meremas remas penisku yang masih terbungkus CD dan celana yang terbuka resultingnya. Aku juga demikian, kedua tanganku meremas payudaranya yang terayun ayun oleh gerakan badannya yang merasakan kegelian memek dan payudaranya.
Setelah sekian lama kami ber alih posisi, Tutik membalikan badannya dan melepasCD dan celana panjangku. Ketika membungkuk ku korek korek memeknya dengan kedua jariku. Setelah terlepas dia langsung menghisap penisku, dan memeknya di pampangkan didepan mulutku, kami ber main 69.Sedang tangan kananku meremas remas pantatnya sedang tangan kiriku meremas remas payudaranya. Tutik menghisap sambil mengocok penisku dengan tangannya, Sambil mengerang ngerang kegelian. Sedang aku kadanga kadang ku telusukan jari tanganku ke duburnya yang berwarna coklat tua tapi bersih.
Setelah puas saling melumat, Tutik merangkak turun dan mengatur posisi memeknya di atas penisku yang sangat tegang seperti tonggak kayu tapi berbentuk pedang bulat, karena saking tengannya penisku. Setelah merasa pas, pantatnya diturunkan pelan-pelan sambil menggoyang kan pantatnya kekanan dan kekiri pelan pelan, karena saking sempitnya memeknya dan besarnya penisku.
Hampir lima menit Tutik baru bisa memasukan penisku kelubang memeknya, itupun baru setengahnya, dia menjerir kegelian sambil meremas sendiri payudaranya, sedang aku memegang pinggangnya supaya tidak terlalu cepat keluar masuknya. Setelah masuksemua, Tutik mulai membungkuk dan menurun naikan pantatnya sambil terus mendesah kegelian.
" Achh, uenakk sayy! " teriaknya kegelian sambil terus menggenjot pantatnya naik turun.
" Terus say, goyang pantat kamu! " teriakku membalas sambil tetap memegang pinggangnya.
" Kenapa enak begini say!, Punya kamu sungguh besar dan nikmat banget! " ceracaunya tak karuan.
" Punya kamu juga Say..!" Balasku.
Setelah sekitar lima menit menggoyangkan pantatnya dalam posisi seperti itu, aku duduk, sehingga Tutik seperti aku panggku dari belakang. Sambil terus bergoyang kuremas payudara Tutik dari belakang. Kepal Tutik mendongak dongak takkala kupelintir puntingnya dank u cium leher belakangnya.
" Say.. terus say..! " teriaknya.
" Enak say? "bisikku sambil mencium belakang telinga kanannya.
" Iya terus say.. Sampai pagi mau kan..!" balasnya sambil mendesah desah.
Setelah terlihat agak kendor goyangannya, kubalik badan Tutik sehingga sekarang kami saling berhadapan. Sambil kulumat Bibirnya aku merayap ketepi ranjang, lalu aku berdiri sambil mengendang Tutik dengan tanpa merubah posisi penisku yang masih menancap di dalam memeknya. Ketika berdiri, Tutik lansung menggoyangkan pantatnya naik turun sambil bergelayut di leherku, sementara tanganku menyangga pantatnya sambil membantu menaik turunkan badanya. Kepalanya kembali mendongak merasakan kegelian yang sangat hebat.
" Say..! " teriaknya ketika kurasakan cairan wanitanya kembali keluar setelah tadi waktu aku jilatin memeknya juga sudah keluar.
Berarti sudah dua kali Tutik mencapai orgasmenya. Sedang aku belum merasakan apa apa.
" Say kamu sungguh Hebat!, pelupuk mataku sampai merasakan kegeliannya, merinding rasanya seluruh badanku say.." racaunya tanpa menghentikan ayunan pantatnya.
Setelah sekian lama berdiri aku berjalan mendekati meja rias, kududukan Tutik tanpa melepas posisi penisku di meja rias, lalu ku angkat kedua kakinya, Tutik tanpa disuruh menyandarkan badannya di kaca meja rias itu. Setelah sekira pas posisinya ku genjot pantatku maju mundur sambil sesekali ku goyang kekanan, kekiri, dan memutar. Tutik makin meracau tak karuan.
Setelah kira kira berjalan lima menit, kulepaskan penisku dan aku langsung berjongkok di depam memeknya, dan kulumat lagi memeknya yang sudah sangat basah oleh lender kewanitaannya. Kembali Tutik meracau tak karuan ketika kelentitnya ku sedot sedot, sambil tangannya mendekap kepalaku seakan akan dia tak mau melepaskan sedotan bibirku dari kelentitnya yang merah menantang.
Setelah puas mempermainkan kelentitnya kupindahkan lumatan bibirku ke bibir memeknya yang berwarna merah muda, juga lidahku kujulurkan menusuk nusuk lubang vaginanya yang sangat menantang. Setelah puas kutuntun Tutik berjalan ke tepi Ranjang dan kududukkan di sudut Ranjang, lalu kudorong badannya sehingga badannya tidur di ranjang sedang kakinya menjuntai di tepi ranjang. Terus ku ambil dua bantal dan kutaruh di bawah pantat Tutik. Tutik yang mengerti maksud aku langsung mengangkat pantatnya ke atas. Setelah sekira pas posisinya kembali ku jilati memeknya sebelum aku masukan penisku ke dalam memeknya dalam posisi di ganjal bantal sehingga memeknya terlihat menyembul tapi makin sempit.
" Cepet Mas masukin punyamu..!" Teriaknya ketika ku mainkan kepala penisku di bibir vaginanya.
Aku tersenyum melihat rona wajanya yang terlihat makin seksi dalam keadaan awut awutan di amuk gelombang birahinya yang memuncak. Sedikit demi sedikit kudorong penisku masuk vaginanya yang semakin sempit dalam posisi pantat di ganjal. Setelah masuk semuanya aku diamkan beberapa saat sambil melumat bibirnya.sedang tangan kiriku meremas remas payudaranya dan tangan kananku menyangga tubuhku yang berada di atas tubuhnya. Kira kira selama lima menit kami berpanggutan seperti itu sampai terasa sesak nafas kami berdua.
" Say, kenapa baru sekarang kita ketemu? " Tanya nya seakan menyesal.
Aku cuman tertawa tanpa menghiraukan ceracaunya. Lalu aku genjot perlahan lahan memknya yang semakin sempit itu rasanya di dalam vaginanya penisku di remas remas oleh dinding vaginanya yang bergerigi dan terasa legit atau keset atau istilah lainnya yang tidak aku tahu. Tapi yang jelas sangat berbeda banget rasa Vagina Tutik dengan vagina vagina wanita lain yang selama ini aku setubuhi.
Vagina Tutik sama sekali tidak berbau, dan sangat keset, tidak sampai banjir banjir. Sepuluh menit sudah aku bergoyang di atas tubuh Tutik dengan posisi ini, setelah puas kuanggkat kedua kakinya, dank e genjot maju mundur pantatku menyodok nyodok memeknya. Dalam posisi ini Tutik makin mengerang erang kegelian. Kepalanya bergoyang ke kanan kiri menahan kegeliannya.
Lalu kurusuh dia merambat agak keatasagar kakinya tidak menjuntai lagiaku mengikuti di atas tubuhnya tanpa melepas posisi penisku yang tertanam di dalam memeknya.
Setelah sampai di tengah tengah ranjang, kugenjot lagi pantatku dalam posisi konvensional. Sambil kulumat bibirnya hingga beberapa saat lamanya. Lalu kami berguling tanpa melepas penisku. Setelah Tutik di atas dia merubah posisinya duduk seperti naik kuda dan terus menggoyangkan pantatnya naik turun. Kedua tanganku meremas remas kedua payudaranya dari depan. Setelah agak lama, Tutik aku suruh berputar sehingga seperti posisi semula kami bersetubuh. Lalu kutarik tubuhnya dan dengan ku pegang pinggangnya mulai lagi goyangan pantatnya. Di posisi ini, Tutik mengeluarkan lender kewanitaannya lagi sehingga sudah tiga kali Tutik mencapai orgasme.
Setelah terlihat capai, tubuh Tutik kutarik sehingga jatuh di dadaku, lalu kuciumi lehernya dan ka, mi bergulingan lagi tanpa melepas penisku yang masih tertanam di dalam memeknya. Setelah aku diatas tubuhnya lagi, aku mulai lagi bergoyang Tutik tampak semakin merasakan keperkasaanku di atas ranjang. Raut wajahnya tampak sekali merasakan kepuasannya.
" Say aku puas sekali merasakan permainan kamu say..! " katanya memuji kehebatanku.
" terus say.. Goyang lagi say.. tusuk memekku dengan senjatamu say.." rengeknya sambil menggeleng gelengkan kepalanya.
Aku terus menggejot memeknya dari belakang sampai sekitar sepuluh menit lamanya.
Lalu kusuruh Tutik menungging atau posisi Doggly style, tapi sebelum kumasukan penisku dari belakang, ku cium lagi memeknya dari belakang kadang kadang kujilati juga lubang duburnya.
" Say jangan daerah itu jijik donk!" larangnya walau tanpa merubah posisi menungginggnya.
Aku tersenyum saja sambil terus menjilati lubang duburnya dan memeknya secara bergantian. Setelah puas kutusukan lagi penisku dari belakang ke dalam memeknya.
" Say! " teriaknya ketika aku telusupkan penisku kedalam memeknya.
Entah terasa sakit atau geli aku tidak tahu yang jelas penisku sangat enak banget rasanya sehingga sampai tidak dapat menjelaskan namanya.
" Enak say..!? " tanyaku setelah kugoyang pantatku maju mundur sambil memegang payudaranya, sehingga seperti main kuda.
" Enak banget say.. Kamu bener bener hebat dan pandai sekali mempermainkan aku. Aku sampai kuwalahan banget say..! " sahutnya sambil terengah engah kenikmatan.
" Mau terus begini say..? sampai pagi kuat..? " godaku sambil memutarkan goyangan pantatku.
" Mau say mau sekali.." jawabnya sambil menengok aku. Dan pas menengok ku lumat bibirnya sampai terasa sesak nafas kami berdua.
" Say.. Aku keluarin di mana nih..? Dalam atau luar? " tanyaku beberapa saat kemudian, setelah aku merasa mau keluar.
" Dalam aja say, aku pingin merasakan kenikmatan air manimu yang begitu hebat ini! " balasnya sambil tersenyum puas.
" Apa kamu suad mau kena lagi say?" tanyaku lagi.
" Bentar lagi say..kita bareng bareng ya say? "
" OK.." Jawabku singkat sambil mempercepat maju mundurnya goyangan pantatku.
" Say aku mau keluar!" teriaknya beberapa saat kemudian.
" Aku juga say " jawabku singkat.
" Ayo say aku sudah tidak kuat lagi.." teriaknya sambil menggeleng gelengkan kepalanya.
" Sekarang say.." Teriakku sambil mendekap tubuhnya dari belakang, ketika airmainku mulai muncrat kedalam vaginanya, dan goyanganku semakin aku percepat.
Tutik tidak menjawab, tapi tangan nya mencekram selimut dan kasur pertanda mencapai klimaks seperti aku. Setelah beberapa saat terdiam kami mengelosor sambil berpelukan dari belakang, dan tanpa sadar tertidur dengan posisi miring sambil memeluk tubuhnya dari belakang.
Malam itu kami sempat melakukan lagi sekali lagi dan tertidur lagi sampai matahari sudah berada di atas tubuh. Jam di tanganku kulihat sudah pukul 10 siang. Setelah mengambil sarapan di kursi teras kami berdua mandi bareng di bath up, dan melakukan lagi sampai keluar lagi air maniku yang ketiga kali. Sebelum jam check out tiba kami keluar dari hotel, pulang dengan perasaan puas yang tak terhingga walau seluruh badan terasa capai sekali.
Tamat

Pengalaman di rumah sakit

Dua tahun yang lalu kakekku menderita sakit, kemaluannya tersumbat sehingga dia harus menjalani operasi. Setelah berembuk dengan anak-anaknya, karena aku adalah cucunya maka aku tidak berani memutuskan sendiri karena ada yang lebih berhak yaitu anak-anaknya termasuk ayahku.
Setelah sepakat semuanya, akhirnya kakekku dibawa ke RS di kota S, karena kebetulan anak-anaknya tinggal di kota S. Kemudian kakekku masuk diopname di RS itu di kelas tiga, kebetulan waktu itu pasiennya sedikit karena dari enam bed hanya terisi tiga plus kakekku. Nah disini awal ceritanya, bed di sebelah kakekku penyakitnya sama dan ditunggui oleh istri dan dua orang anak perempuannya, yang satu sebut saja Minah dan adiknya Nani keduanya cukup manis, rambutnya ikal, kulit kuning langsat terutama kakaknya Minah berdada cukup besar, pinggulnya juga oke, kulit kuning, kebetulan dia memakai rok yang agak tinggi sehingga dari betis sampai setengah paha kalau sedang duduk kelihatan jelas, jadi aku bisa melihat kemulusannya, padahal dia orang kampung tapi tidak kalah dengan perempuan kota.
Hari kedua aku hanya saling berkenalan dan bercerita mengenai penyakit yang diderita oleh bapaknya, begitu juga aku karena kami sama-sama sedang menunggu pasien. Terus terang saja tadinya aku malas sekali harus tidur di RS, tapi apa boleh buat terpaksa karena tidak ada yang menunggu, tetapi pada saat malam hari suasana berubah sungguh mengasyikan karena melihat pemandangan yang cukup menghibur, pemandangan di bawah bed sebelah karena yang menunggui pasien tidur dengan menggelar tikar di bawah bed pasien dengan selimut sudah tidak pada posisi semula, maka akan terpampang paha mulus sampai ke CD-nya yang kelihatan menggelembung seperti bukit kecil.
Hari ketiga sekitar jam sebelas pagi mereka mulai mengajakku jalan-jalan untuk sekedar menghirup udara segar karena di ruangan terus membuat kita suntuk. Kami jalan-jalan ke luar rumah sakit, segar sekali rasanya.
"Kita ngebaso yuk", aku memberanikan diri mengajak mereka.
Mereka tidak menjawab tapi mereka mengikuti kemana aku pergi, sambil makan bakso kita sambil ngobrol.
"Min asalnya dari mana", aku memberanikan diri bertanya, lalu dia cerita bahwa dia berasal dari kota ini maksudnya S, dan dia cerita kalau adiknya Nani punya suami dan seorang anak tapi suaminya pergi merantau, katanya sih ke Jakarta sana bekerja, namun sudah beberapa bulan tidak pernah ada kabar beritanya.
"Kalau abdi mah sudah setahun jadi janda", katanya sih cerainya karena faktor ekonomi. Entah aku ini kesepian karena aku selalu menginap di rumah sakit atau mungkin otakku yang ngeres, begitu mendengar janda otak ngeresku langsung membuat strategi untuk menggodanya.
Pada sore harinya kita biasa berkumpul di masing-masing bed karena kami bersebelahan, jadi aku bergabung dengannya. Sekitar jam sepuluh malam semua pasien sudah tidur sedangkan Nani serta ibunya sudah membaringkan diri di bawah tempat tidur pasien, tinggal aku dengan Minah yang masih ngobrol dengan volume suara kecil, sambil ngobrol tidak lupa aku selingi dengan rayuan gombal dan kupegang-pegang tangannya, rupanya rayuanku mengena juga karena waktu kupegang tangannya lalu kubelai rambutnya dia tidak berusaha menolak. Lama-lama aku makin berani memasukkan tanganku ke dalam selimutnya (waktu itu selimutnya hanya selembar kain batik) kuletakan telapak tanganku di lututnya. Sedikit demi sedikit kunaikkan telapak tanganku ke pahanya, karena malam itu Minah memakai rok pendek warna kuning dan atasnya berbaju hangat dan BH saja (karena katanya bajunya kotor semua), Minah hanya menatap mataku akhirnya aku nekat kukecup bibirnya dan tidak lupa sebelumnya aku melihat kekiri dan kekanan maklum kita kan lagi di rumah sakit, sementara telapak tanganku terus naik semakin berani menyusuri pahanya.., terus.., terus.., dan terus akhirnya sampai di puncak menyentuh CD-nya yang menutupi daging yang empuk kuusap-usap sampai akhirnya aku berusaha menarik CD-nya agar ke bawah.
"Jangan A.., nanti ada yang melihat", bisiknya, dia manggil AA padaku.
"Tenang.., AA hanya ingin megang aja", kataku, lalu dia tenang kembali
"Min BH-nya buka yah, biar aku bisa menyedot payudaramu", sambil tangan kiriku berusaha membuka pengait BH-nya yang berada di punggungnya, setelah itu aku buka dua buah kancing baju hangatnya tersembulah buah dada yang putih dan masih mengkal dan di tengahnya ada bundaran merah kecoklat-coklatan tanpa basa-basi lagi kusedot puting susunya dan, "sshh.., sshh.., sshh.., aahh.., AA.., nikmat A.., terus A", bisiknya.
Sementara tangan kananku terus kumasukkan ke dalam CD-nya dari sebelah pinggir terus.., sampai pada belahan vaginanya dan terus.., jari tengahku sedikit kumasukkan dan kugesek-gesekan, rupanya sekarang dia sudah merasakan enaknya karena tiba-tiba dia menggeser pahanya sehingga tanganku leluasa mengacak-acak vaginanya dan kumasukan jari tengahku ke dalam lubang yang becek dan licin sementara tangan Minah kubimbing untuk memegang stik pendekku dan mengocok-ngocoknya. "AA.., aduh.., AA.., aku mau keluar Ohh.., aahh", sambil mulutnya mengaga dan matanya terpejam, dia akhirnya mencapai orgasme.
Aku juga merasa tidak tahan karena penisku mulai bangun dan meronta, rupanya ingin muntah juga, kusuruh dia tiduran kepalanya di atas pahaku karena waktu malam aku hanya memakai kain sarung saja jadi leluasa aku keluarkan penisku dan kusuruh dia berkaraoke.
"Min AA juga pengen nih jadi tolong penis AA dikemut biar keluar", bisikku. Rupanya dia mengerti juga, dan terus dia memasukan penisku ke dalam mulutnya lalu dihisap-hisapnya.
Sementara dia menghisap penisku, kuremas-remas payudaranya yang putih, mulus dan puting susunya merah, dan karena dia tiduran posisinya jadi aku leluasa membuka CD-nya. Woowww.., sekarang terlihat vaginanya yang berbulu agak tebal dan ikal. Lalu kuelus bulu vaginanya. Rupanya Minah terangsang lagi karena terlihat pinggulnya bergeser-geser. "A.., ayo telunjuknya masukin lagi, aku juga kepengen lagi". Aku menuruti saja kemauannya.
Sementara itu Minah masih terus mengulum penisku dan sesekali menjilatinya dari biji peler sampai kepala penis, "Terus Min.., terus nikmat sekali", bisikku. Sekitar lima menit kucolok vaginanya dengan jari tengahku, sementara Minah menyedot dan menjilati penisku, dan akhirnya aku tidak tahan lagi penisku akan menyemburkan sperma.
"AA.., terus.., AA Minah mau keluar lagi", bisiknya.
"Ia Min AA juga mau keluar kita bareng yah". tidak menunggu jawaban darinya, aku terus keluar-masukkan jari tengahku ke dalam vaginanya dia juga asyik menyedot penisku.
"aahh.., sshh.., AA Minah hampir keluar.., sshh.., aahh", desahnya manja.
"Ia Min AA juga.., sshh.., aahh.., sshh.., aahh".
Akhirnya Minah dan aku sama-sama keluar bareng dan penisku menyemprot di dalam mulut Minah.
"AA.., ahh nikmat gurih", katanya, dia menelan spermaku.
Aku melakukan itu sampai beberapa malam dan akhirnya kakekku sembuh dan terus kubawa pulang kembali ke Bandung setelah itu aku tidak pernah lagi tahu kabarnya keluarga Minah, dan kini kakekku sudah meninggal dunia.
TAMAT

Adik dapat, kakak juga dapat

Setelah permainan cintaku dengan Evi sore itu, kami jadi sering melakukannya apabila ada kesempatan. Kadang kami bercinta di Kamar Evi dan kadang di kamarku. Evi yang masih berusia 22 tahun itu bercerita tentang hilangnya kegadisannya oleh pacarnya ketika masih SMA. Menurut ceritanya dia dijebak pacarnya untuk minum-minum ketika perayaan ulangtahunnya yang ke 17. Ketika dia mulai mabuk dia dibawa pacarnya dan di perkosa di hotel. Tragisnya dia diperkosa secara bergantian oleh 2 orang teman pacarnya saat itu.
Paginya setelah sadar dia di antar pulang dan pacar maupun kedua temannya menghilang entah kemana. Setelah lulus SMA akhirnya dia memutuskan untuk kuliah di Bali jurusan hotel dan tourisme. Sejak kuliah di Bali pun dia sudah beberapa kali melakukan sex dengan beberapa teman kuliah-nya. Hubungan kami pun cuma sebagai teman, tidak lebih, hubungan kami berdasarkan suka sama suka. Mungkin karena usia ku yang lebih muda. Hanya saja aku dapat previlege untuk tubuhnya kapan saja aku mau. Hubunganku dengan Evi pun tidak diketahui oleh Silvi kakaknya yang sudah bekerja di salah satu hotel di kawasan Jimbaran.
Silvi, tidak kalah cantiknya dengan Evi. Keduanya memiliki kulit yang putih bersih. Silvi lebih dewasa dalam pembawaan dan enak juga diajak ngobrol. Karena Silvi juga cantik aku sering bercanda dengan Evi mengatakan ingin tahu rasanya bila berhubungan dengan Silvi. Evi kadang tertawa dan kadang marah kalo aku berkata begitu. Walau marah, Evi akan hilang kemarahannya kalau kucumu lagi.
Seperti halnya sore itu, Ketika aku baru pulang kuliah, kulihat kamar Evi terbuka tetapi tidak ada orang didalamnya. Karena situasi kost yang sepi akupun masuk ke kamarnya dan mendengar ada yang sedang mandi dan akupun menutup pintu kamar Evi. Sudah seminggu lebih aku menginap di Denpasar karena sedang ujian akhir.
Setelah pintu kututup, kupanggil Evi yang ada dikamar mandi.
"Vi, lagi mandi yah? tanyaku basa-basi.
Tidak ada jawaban dari dalam kamar mandi. Akupun melanjutkan.
"Kamu marah yah Vi?, Maaf yah aku gak kasih tahu kamu kalo aku mau nginep di Denpasar. Hari ini aku mau buat kamu puas Vi. Aku akan cium kamu, bikin kamu puas hari ini. Aku aka.
"Mandi kucing kan kamu Vi mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki." Rayuku.
Masih tidak ada jawaban dari dalam kamar mandi.
"Vi, ingat film yang dulu kita tonton kan. Aku akan bikin kamu puas beberapa kali hari ini sebelum kau rasakan penisku ini Vi. Aku akan cium vaginamu sampai kau menggelinjang puas dan memohon agar aku memasukkan penisku".
Terdengar suara batuk kecil dari dalam kamar mandi.
"Vi, kututup pintu dan gordennya yah Vi". Akupun berbalik dan menutup gorden jendela yang memang masih terbuka.
Ketika gorden kututup, kudengar pintu kamar mandi terbuka. Akupun tersenyum dan bersorak dalam hati. Setelah aku menutup gorden akupun berbalik. Dan ternyata, yang ada dalam kamar mandi itu adalah Silvi, kakak Evi, yang baru saja selesai mandi keluar dengan menggunakan bathrope berwarna pink dan duduk diatas tempat tidur dengan kaki bersilang dan terlihat dari belahan bathropenya.
Kaki yang putih terawat, betisnya yang indah terlihat terus hingga ke pahanya yang putih, kencang dan seksi sangat menantang sekali untuk dielus. Belum lagi silangan bathrope di dadanya agak kebawah sehingga terlihat dada putih dan belahan payudaranya. Kukira ukuran Branya sedikit lebih besar dari Evi, karena aku belum pernah menyentuhnya.
"Evi sedang ke Yogya, dia sedang Praktek kerja selama 2 bulan" Kata Silvi sambil memainkan tali bathrope-nya.
"Jadi selama ini kamu suka make love ya sama Evi, padahal aku percaya kamu tidak akan begitu sama adikku"
"Maaf Mbak, aku gak tahu kalo yang didalam itu Mbak Silvi" Kataku sambil mataku memandang wajah Silvi.
Rambutnya yang hitam sepundak tergerai basah. Dada yang putih dengan belahan yang terlihat cukup dalam. Paha yang putih mulus dan kencang hingga betis yang terawat rapih. Kalau menurutku Silvi boleh mendapat angka 8 hingga 8,5.
"Lalu kalo bukan Mbak kenapa?, Kamu enggak mau mencium Mbak, buat Mbak puas, memandikucingkan Mbak seperti yang kamu bilang tadi?" Tanya Silvi memancingku.
"Aku sih mau aja Mbak kalo Mbak kasih" Jawabku langsung tanpa pikir lagi sambil melangkah ke tempat tidur. Sebab sebagai laki-laki normal aku sudah tidak kuat menahan nafsuku melihat sesosok wanita cantik yang hampir pasti telanjang karena baru selesai mandi. Belum lagi pemandangan dada dan putih mulus yang sangat menggoda.
"Kamu sudah lama make love dengan Evi, Ren?" Tanya Silvi ketika aku duduk di sebelah kirinya. Aku tidak langsung menjawab, setelah duduk di sebelahnya aku mencium wangi harum tubuhnya.
"Tubuh Mbak harum sekali", kataku sambil mencium lehernya yang putih dan jenjang.
Silvi menggeliat dan mendesah ketika lehernya kucium, mulutku pun naik dan mencium bibirnya yang mungil dan merah merekah. Silvi pun membalas ciumanku dengan hangatnya. Perlahan kumasukkan lidahku ke dalam rongga mulutnya dan lidah kami pun saling bersentuhan, hal itu membuat Silvi semakin hangat.
Perlajan tangan kiriku menyelusup ke dalam bath robenya dan meraba payudaranya yang kenyal. Sambil terus berciuman kuusap dan kupijat lembut kedua payudaranya bergantian. Payudaranya pun makin mengeras dan putingnyapun mulai naik. Sesekali kumainkan putingnya dengan tanganku sambil terus melumat bibirnya.
Aku pun mengubah posisiku, kurebahkan tubuh Silvi di tempat tidur sambil terus melumat bibirnya dan meraba payudaranya. Setelah tubuh Silvi rebah, perlahan mulutku pun turun ke lehernya dan tanganku pun menarik tali pengikat bathrope-nya. Setelah talinya terlepas kubuka bathropenya. Aku berhenti mencium lehernya sebentar untuk melihat tubuh wanita yang akan kutiduri sebentar lagi, karena aku belum pernah tubuh Silvi tanpa seutas benang sedikitpun. Sungguh pemandangan yang indah dan tanpa cela sedikit pun.
Payudaranya yang putih dan tegak menantang berukuran 36 C dengan puting yang sudah naik sangat menggairahkan. Pinggang yang langsing karena perutnya yang kecil. Bulu halus yang tumbuh di sekitar selangkangannya tampak rapi, mungkin Silvi baru saja mencukur rambut kemaluannya. Sungguh pemandangan yang sangat indah.
"Hh" Desah Silvi membuyarkan lamunanku, Aku pun langsung melanjutkan kegiatanku yang tadi terhenti karena mengagumi keindahan tubuhnya.
Kembali kulumat bibir Silvi sambil tanganku mengelus payudaranya dan perlahan-lahan turun ke perutnya. Ciumanku pun turun ke lehernya. Desahan Silvi pun makin terdengar. Perlahan mulutku pun turun ke payudaranya dan menciumi payudaranya dengan leluasanya. Payudaranya yang kenyal pun mengeras ketika aku mencium sekeliling payudaranya.
Tanganku yang sedang mengelus perutnya pun turun ke pahanya. Sengaja aku membelai sekeliling vaginanya dahulu untuk memancing reaksi Silvi. Ketika tanganku mengelus paha bagian dalamnya, kaki Silvi pun merapat. Terus kuelus paha Silvi hingga akhirnya perlahan tanganku pun ditarik oleh Silvi dan diarahkan ke vaginanya.
"Elus dong Ren, Biar Mbak ngerasa enak Ren" Ucapnya sambil mendesah.
Bibir vagina Silvi sudah basah ketika kesentuh. Kugesekan jariku sepanjang bibir kemaluan Silvi, dan Silvi pun mendesah. Tangannya meremas kepalaku yang masih berada di payudaranya.
"Ahh, terus Ren", Pinggulnya makin bergyang hebat sejalan dengan rabaan tanganku yang makin cepat. Jari-jariku kumasukkan kedalam lubang vaginanya yang semakn basah.
"Ohh Ren enak sekali Ren", desah Silvi makin hebat dan goyangan pinggulnya makin cepat.
Jariku pun semakin leluasa bermain dalam lorong sempit vagina Silvi. Kucoba masukan kedua jariku dan desahan serta goyangan Silvi makin hebat membuatku semakin terangsang.
"Ahh Ren", Silvi pun merapatkan kedua kakinya sehingga tanganku terjepit di dalam lipatan pahanya dan jariku masih terus mengobok-obok vaginanya Silvi yang sempit dan basah.
Remasan tangan Silvi di kepalaku semakin kencang, Silvi seperti sedang menikmati puncak kenikmatannya. Setelah berlangsung cukup lama Silvi pun melenguh panjang jepitan tangan dan kakinya pun mengendur.
Kesempatan ini langsung kupergunakan secepat mungkin untuk melepas kaos dan celana jeansku. Penisku sudah tegang sekali dan terasa tidak nyaman karena masih tertekan oleh celana jeansku. Setelah aku tinggal mengunakan CD saja kuubah posisi tidur Silvi. Semula seluruh badan Silvi ada di atas tempat tidur, Sekarang kubuat hanya pinggul ke atas saja yang ada di atas tempat tidur, sedangkan kakinya menjuntai ke bawah.
Dengan posisi ini aku bisa melihat vagina Silvi yang merah dan indah. Kuusap sesekali vaginannya, masih terasa basah. Akupun mulai menciumi vaginanya. Terasa lengket tapi harum sekali. Kukira Silvi selalu menjaga bagian kewanitaannya ini dengan teratur sekali.
"Ahh Ren, enak Ren", racau Silvi. Pinggulnya bergoyang seiring jilatan lidahku di sepanjang vaginanya. Vagina merahnya semakin basah oleh lendir vaginanya yang harum dan jilatanku. Desahan Silvi pun makin hebat ketika kumasukkan lidahku kedalam bibit lubang vaginanya. Evi pun menggelinjang hebat.
"Terus Ren", desahnya. Tanganku yang sedang meremas pantatnya yang padat ditariknya ke payudara. Tnagnku pun bergerak meremas-remas payudaranya yang kenyal. Sementara lidahku terus menerus menjilati vaginanya. Kakinya menjepit kepalaku dan pinggulnya oun bergerak tidak beraturan. Sepuluh menit hal ini berlangsung dan Silvi pun menalami orgasme yang kedua.
"Ahh Ren, aku keluar Ren", aku pun merasakan cairan hangat yang keluar dari vaginanya. Cairan itu pun kujilat dan kuhabiskan dan kusimpan dalam mulutku dan secepatnya kucium bibir Silvi yang sedang terbuka agar dia merasakan cairannya sendiri.
Lama kami berciuman, dan perlahan posisi penisku sudah berada tepat didepan vaginanya. Sambil terus menciumnya kugesekkan ujung penisku yang mencuat keluar CD ku ke bibir vaginanya. Tangan Silvi yang semula berada disamping bergerak ke arah penisku dan menariknya. Tangannya mengocok penisku perlahan-lahan.
"Besar juga punya kamu Ren, panjang lagi" Ucap Silvi di sela-sela ciuman kami.
Sambil masih berciuman aku melepaskan CDku sehingga tangan Silvi bisa leluasa mengocok penisku. Setelah lima menit akupun menepis tangan Silvi dan menggesekkan penisku dengan bibir vaginanya. Posisi ini lebih enak dibandingkan dikocok.
Perlahan aku mulai mengarahkan penisku kedalam vaginanya. Ketika penisku mulai masuk, badan Silvi pun sedikit terangkat. Terasa basah sekali tetapi nikmat. Lobang vaginanya lebih sempit dibandingkan Evi, atau mungkin karena lubang vaginanya belum terbiasa dengan penisku.
"Ahh Rensha.. Begitu sayang, enak sekali sayang" Racaunya ketika penisku bergerak maju mundur. Pinggul Silvi pun semakin liar bergoyang mengimbangi gerakanku. Akupun terus menciumi bagian belakang lehernya.
"Ahh.." desahnya semakin menjadi. Akupun semakin bernafsu untuk terus memompanya. Semakin cepat gerakanku semakin cepat pula goyangan pinggul Silvi. Kaki Silvi yang menjuntai ke bawah pun bergerak melingkari pinggangku. Akupun mengubah posisiku sehingga seluruh badan kami ada di atas tempat tidur.
Setelah seluruh badan ada diatas tempat tidur, akupun menjatuhkan dadaku diatas payudara besar dan kenyalnya. Tanganku pun bergerak ke belakang pinggulnya dan meremas pantatnya yang padat.
Goyangan Silvi pun semakin menjadi-jadi oleh remasan tanganku di pantatnya. Sedangkan pinggulku pun terus menerus bergerak maju mundur dengan cepat dan goyangan pinggul Silvi yang semakin liar.
"Ren.. Kamu hebat Ren.. Terus Ren.. Penis kamu besar keras dan panjang Ren.. Terus Ren.. Goyang lebih cepat lagi Ren.." begitu racau Silvi di sela kenikmatannya.
Aku pun semakin cepat menggerakkan pinggulku. Vagina Slvi memang lebih enak dari Evi adiknya. Lebih sempit sehingga penisku sangat menikmati berada di dalam vaginanya. Goyangan Silvi yang makin liar, desahan yang tidak beraturan membuatku semakin bernafsu dan mempercepat gerakanku.
"Mbak aku mau keluar Mbak" Kataku.
"Di dalam aja Ren biar enak" desah Silvi sambil tangannya memegang pantatku seolah dia tidak mau penisku keluar dari vaginanya sedikitpun.
"Ahh" Desahku saat aku memuntahkan semua cairanku kedalam lubang rahimnya.
Tangan Silvi menekan pantatku sambil pinggulnya mendorong keatas, seolah dia masih ingin melanjutkan lagi, matanya pun terpejam. Aku pun mencium bibir Silvi. Dengan posisi badanku masih diatasnya dan penisku masih dalam vaginanya. Mata Silvi terbuka, dia membalas ciuman bibirku hingga cukup lama. Badannya basah oleh keringatnya dan juga keringatku.
"Kamu hebat Ren, aku belum pernah sepuas ini sebelumnya" Kata Silvi.
"Mbak juga hebat, vagina Mbak sempit, legit dan harum lagi." Ucapku.
"Memang vagina Evi enggak" senyumnya sambil menggoyangkan pinggulnya.
"Sedikit lebih sempit Mbak punya dibanding Evi" jawabku sambil menggerakkan penisku yang masih menancap di dalamnya. Tampaknya Silvi masih ingin melanjutkan lagi pikirku.
"Penis kamu masih keras Ren?" tanya Silvi sambil memutar pinggulnya.
"Masih, Mbak masih mau lagi?" tanyaku
"Mau tapi Mbak diatas ya" Kata Silvi.
"Cabut dulu Ren"
Setelah dicabut, mulut Silvi pun bergerak dan mencium penisku, Silvi mengulum penisku terlebih dahulu sambil memberikan vaginanya padaku. Kembali terjadi pemanasan dengan posisi 69. Desahan-desahan Silvi, vagina Silvi yang harum membuatku melupakan Evi sementara waktu.
Hari itu sejak pukul lima sore hingga esok paginya aku bercinta dengan Silvi, entah berapa kali kami orgasme. Dan itu pun berlangsung hampir setiap malam selama Evi belum kembali dari Praktek Kerjanya di yogya selama 2 bulan lebih. Kupikir mumpung Evi tidak ada kucumbu saja kakaknya dulu.
*****
Mohon kepada para pembaca meluangkan waktu untuk memberi penilaian terhadap cerita ini. Terima kasih
Tamat