Rabu, 23 Februari 2011

Pemuas nafsu Bos

Aku cepat-cepat memakai celana dan merapikan bajuku, ketika kudengar ketukan di pintu. Demikian pula Sheila. Dia merapikan rambut dan bajunya. Awalnya blus yang dipakai sudah terbuka seluruh kancingnya, sehingga dadanya yang putih dan indah itu terlihat. Sheila lalu duduk di meja kerjanya dan menyuruhku membukakan pintu.

Agaknya Rosita yang datang dengan map ditangan. Dia melihatku dengan pandangan aneh. Entah apa yang dipikirkannya. Aku melihat jam ditangan hampir pukul 14.30. Waktu makan siang sudah habis. Pantas saja Rosita, sekretaris Sheila, sudah kembali mengerjakan tugasnya.

Sheila tengah membaca proposal yang dibawa Rosita, sementara aku hanya diam saja di sofa ruangan Sheila. "Mungkin cukup untuk siang ini, Wim. Lakukan tugas yang kuberikan tadi dengan baik", kata Sheila memecah kesunyian di antara kami.

Aku hanya mengangguk, lalu keluar dari ruangan itu. Sheila adalah bosku langsung. Usianya 34 tahun. Tetapi dia belum menikah. Padahal, menurutku, dia sudah memiliki segalanya. Rumah, mobil dan penghasilan besar. Entah kurang apalagi dia, sehingga sampai sekarang masih melajang.

Antara aku dengan Sheila bukan hanya sebatas hubungan atasan bawahan lagi, melainkan lebih dari itu. Sebab, Sheila selalu menuntut aktivitas seksual, jika kami hanya berduaan. Padahal aku sendiri sudah menikah. Wina, istriku, termasuk tipe wanita yang setia. Dia memang bukan wanita karier. Namun dia mencoba mengerti pekerjaanku. Kami sudah menikah tiga tahun, dan belum juga dikaruniai anak.

Sebenarnya aku tak pernah punya niat untuk berselingkuh. Di dalam hatiku juga tidak ada niatan untuk menggantikan Wina dengan wanita lain. Tetapi godaan dari Sheila sungguh membuatku tak mampu untuk menolak. Kecantikan Sheila sebenarnya bukan hal utama yang menarik lelaki, termasuk diriku. Tetapi justru dengan wajahnya yang biasa-biasa saja, dia berkesan sensual dengan kulit putih dan tubuh ramping tanpa lemak. Ditambah lagi dengan kegesitan dan kedinamisan geraknya, membuat laki-laki banyak mengaguminya.

Di kantorku saja, beberapa manajer dan direktur tertarik padanya. Tetapi anehnya, dia tetap dingin menanggapinya. Entah apa sebabnya dia justru memilihku untuk melayaninya di tempat tidur. Pada awal mulanya aku selalu hormat padanya. Lebih-lebih karena aku termasuk pegawai baru di kantor ini. Itu sebabnya aku berusaha menunjukkan kesungguhanku dalam bekerja.

Pada suatu siang aku dipanggil keruangannya. "Wim, perusahaan mengirimku untuk menemui klien di Bandung. Aku ingin kamu ikut agar suatu saat kalau aku berhalangan datang kamu bisa menggantikan tugasku", katanya.

Aku senang sekali mendengar hal itu. Berarti Sheila percaya kepadaku. Aku mengabarkan hal ini kepada Wina. Dia sama sekali tidak curiga, meskipun aku bilang hendak menginap di hotel bersama bos wanitaku. "Aku percaya kepadamu. Ini juga demi kemajuan kariermu", katanya memberi semangat.

Kami berangkat dengan kereta. Sepanjang perjalanan, kami banyak mengobrol tentang hal-hal pribadi. Termasuk perkawinanku dan harapanku. Tetapi aku susah sekali mengorek tentang pribadinya, karena ia hanya tertawa saja ketika kutanya mengenai pria idamannya.

Pukul 22.00, kami tiba di salah satu hotel berbintang di Bandung. Agaknya perusahaan kami hanya menyediakan sebuah kamar untuk Sheila. "Tidak mengapa Win, kita bisa menggunakan bed ekstra untuk kamu. Hitung-hitung pengiritan", katanya membaca kebingunganku.

Sebenarnya aku canggung sekali harus tidur sekamar dengan wanita lain. Lebih-lebih wanita itu adalah bosku. Namun aku tidak kuasa menolak perintahnya. Lagipula aku tidak punya uang untuk itu. Kulihat Sheila tidak canggung berada sekamar denganku. Dia malah seenaknya membuka blazer, dan hanya menggunakan kamisol dan celana pendek, lalu masuk ke kamar mandi Aku hanya duduk terdiam saja. Rasa sungkanku ternyata lebih banyak mempengaruhiku, sehingga aku tidak bisa bersantai.

Tak lama kemudian Sheila keluar dengan hanya menggunakan mantel handuk, rambutnya yang sebahu basah.
"Wim, kamu gak mau mandi?, sekalian kamu mandi kan saya bisa bertukar pakaian", katanya.
"Baik Bu, saya juga mau mandi sekarang ini", kataku.
"Kalau tidak sedang di kantor, atau menemui klien, kamu panggil aku dengan Sheila aja, Bukankah usia kamu lebih tua ketimbang saya?".
"Baiklah, Sheila", jawabku sambil segera masuk ke kamar mandi. Saat mandi aku kembali membayangkan istriku yang ada di rumah, kelembutannya, tak terasa aku seperti dekat dengannya, ada letupan-letupan kecil dari gariahku yang membuat alat kelaki-lakianku menggeliat-geliat dan mengeras. Dan aku memain-mainkan beberapa saat lamanya dengan menggunakan sabun seperti biasanya.

Ketika aku membuka pintu kamar mandi dan keluar, aku melihat Sheila masih sedang mengeringkan rambut dengan menggunakan hair-dryernya. Tetapi Sheila sudah mengenakan gaun tidur putih yang amat tipis. Saking tipisnya sehingga aku bisa melihat bahwa tidak ada pelindung yang menutupi keindahan payudaranya, hanya terlihat Sheila menggunakan CD warna putih saja.

Sinar lampu kamar yang remang-remang ditambah dengan lampu dari meja rias membuat baju tipisnya menerawang. Sebagai lelaki normal aku menelan ludah melihat pemandangan ini. Aku bisa melihat lekuk-lekuk tubuhnya yang indah. Pinggangnya yang ramping membuatku berdecak kagum dalam hati. Tetapi aku tidak berani memandangnya dengan lama-lama.
"Wim, Saya sudah menelepon ke bagian house keeping, ternyata Ekstra Bed sudah habis", katanya.
"Ah tidak kenapa-napa kog Sheila, Saya bisa tidur di bangku saja", jawabku.
"Jangan Wim, malam ini kamu harus beristirahat penuh, sebab besok kamu harus menjalankan tugas pertama kamu dengan sebaik-baiknya, sayapun tidak keberatan kamu tidur di ranjang" jawab Sheila sambil mematikan lampu ruangan, dan kami pun berusaha tidur.

Satu jam telah berlalu, namun mataku tidak bisa terpejam. Kulihat Sheila sepertinya sudah tidur. Akupun berusaha memejamkan mataku supaya bisa cepat tidur. Tiba-tiba aku merasakan adanya dekapan halus di dadaku. Aku mengintip dari sebelah mataku, ternyata sheila masih tertidur mungkin aku dianggapnya sebagai guling. Aku tidak berani membangunkannya, kudiamkan saja dan aku kembali berusaha tidur. Kira-kira beberapa menit kemudian kurasakan tangan Sheila berpindah tempat dari dadaku tiba-tiba berpindah menempel di atas celanaku, tepatnya di atas kemaluanku.

Akupun tetap membiarkannya, dan tetap berusaha untuk tidur, tapi tetap aja gagal. Adanya tangan lembut menempel di atas penisku, membuat jantungku berdegup kencang. Tanpa bisa kukendalikan lagi, darah-darah di dalam pembuluh tubuhku bergerak dengan cepatnya kearah kemaluanku. Dan kurasakan aku tidak mampu lagi menahan aliran tersebut, hingga kurasakan kemaluanku mulai mengeras secara perlahan-lahan sampai akhirnya menegang dan sangat keras, sedangkan tangan Sheila tetap saja bertengger di atas kemaluanku.

Tiba-tiba aku merasakan adanya gerakan halus yang datangnya dari jari-jari Sheila, seperti gerakan mengelus-elus kecil ke seluruh batang penisku. Aku tetap diam saja tidak berani memberikan reaksi, namun tetap aku merasakan seluruh elusan-elusan tangannya yang lembut, membuat penisku kini menjadi ereksi dengan sempurna. Dan aku sangat menyesalkan ketika tiba-tiba tangan Sheila berpindah tempat menuju ke perutku. Ah kenapa harus berpindah tempat, pikirku dengan kesal.

Namun kekesalanku tampaknya tidak berlangsung lama, karena aku merasakan perlahan-lahan tangan Sheila kembali turun ke arah bawah, namun sampai di perbatasan celanaku tangan Sheila kembali diam. Ah Sheila jangan menyiksaku seperti ini doaku memohon. Seperti bisa membaca seluruh pikiranku, tangan Sheila kembali mulai bergerak-gerak kecil, dan astaga! kini tangan Sheila tidak bergerak di atas celanaku, tetapi secara perlahan tetapi pasti tangannya masuk ke dalam celanaku dan mencengkeram dengan lembut batang penisku yang sangat 'tegang'. Dan beberapa saat kurasakan tangannya bergerak turun naik, batang kemaluanku dikocok-kocok dengan lambut, napasku sudah tidak beraturan lagi, dan tiba-tiba wajah Sheila mendekat ke wajahku.

"Wim, kamu belum tidur kan?" tanyanya lembut. Aku membuka mataku dan kulihat Sheila sudah dekat sekali dengan wajahku.
"Belum Sheila", jawabku.
"Ehm.., Wim, maukah kamu menggangap aku sekarang ini sebagai istrimu, aku membutuhkan kasih sayang dan kehangatanmu malam ini", pintanya. Seperti terhipnotis saja aku mengangguk kecil setelah menyaksikan dadanya yang putih mulus dan masih kencang tidak tertutup karena belahan baju tidurnya yang rendah.

Begitu mendapatkan signal setuju dariku, Sheila tanpa sungkan-sungkan lagi kini mencumbuku dengan panasnya, Ciumannya yang dahsyat membuatku mengikuti seluruh kegairahan yang tertumpah dari Sheila. Dalam gairah yang menggebu-gebu tanpa terasa pakaian yang kami gunakan satu persatu terlepas dan akhirnya kami bergelut tanpa menggunakan apa-apa lagi. Sheila memang luar biasa, aku hanya bisa menahan napas ketika Sheila memain-mainkan lidahnya dan mengulum seluruh batang penisku dengan lincahnya. Dan akupun membalas dengan hebatnya dengan merangsang seluruh bagian-bagian payudaranya apalagi ketika aku melumat habis clitoris yang terdapat di vaginanya, tampak tubuh Sheila menggelinjang-gelinjang tak kuasa menahan nikmat. Malam itu kami lalui berdua dengan penuh kepuasan.

Pagi harinya aku baru sadar dan bahkan setengah tidak percaya mengingat kejadian tadi malam yang begitu mengesankan. Aku masih melihat Sheila tertidur pulas tanpa busana di sampingku. Aku baru saja hendak bangun, ketika Sheila menggeliat bangun dan tersenyum kepadaku.
"Kamu hebat, Wim. Aku sampai kewalahan loh", katanya. Kemudian dia naik ke atas perutku, lantas mendekatkan kepalanya ke wajahku. Dalam keadaan itu, dua benda lembut menyentuh dadaku. Agaknya dia ingin membuatku terangsang. Dan, kami berdua seperti lupa diri lagi.

Sejak itu hubunganku dengan Sheila berubah. Kami sering melakukan hubungan seksual, pada waktu senggang di kantor. Ini memang sangat memungkinkan pada waktu jam makan siang. Agar tidak mencolok, kami berangkat dengan kendaraan masing-masing. Kemudian bertemu di tempat yang telah ditentukan. Menjelang sore kami kembali ke kantor, dengan kendaraan masing-masing.

Sudah hampir enam bulan ini aku melayani gairah Sheila di ranjang. Selama ini hampir setiap hari aku harus mencumbunya agar hasrat seksnya terpuaskan. Aku juga tak tahu, apa yang membuatku begitu mudah berpaling kepadanya. Sebenarnya aku tak sepenuhnya melupakan Wina, Sheila hanya menuntut pelayananku pada jam kamtor saja. Pada malam hari dia tak pernah menghubungiku. Apa sebenarnya yang dinginkan Sheila?

Dia sepertinya tidak menginginkan hubungan yang serius denganku. Keinginannya bertemu denganku hanya karena dia tidak mampu menahan hasrat seksualnya. Dia tak pernah menanyakan, bagaimana hubunganku dengan Wina. Terus-terang, kadang-kadang aku merasa kredibilitas pekerjaanku tidak terlepas dari pengaruhnya sebagai atasan.

Kadang-kadang aku berniat untuk menolak ajakannya bermain seks. Namun, aku takut karierku akan macet total lantaran tidak mengikuti keinginannya. Selama ini aku merasakan karierku mengalami sedikit kemajuan, setelah aku selalu mengikuti seluruh perintah-perintah 'lainnya'. Sheila banyak membuka order buatku sehingga penghasilanku dapat bertambah.

Sekarang kami sudah jarang berkencan di hotel. Tetapi itu bukan berarti aktivitasku melayaninya juga berhenti. Tempat kencan kami berpindah ke ruang kerjanya. Ketika jam makan siang, Sheila memanggilku di ruangannya, Dari gerak-geriknya, aku tahu pasti dia meminta 'jatahnya' siang ini.
"Aku lapar Sheila, Aku ingin makan siang dulu", elakku.
Tetapi Sheila justru tersenyum, "Nih aku telah menyiapkan makanan untukmu" katanya sambil menyodorkan sepiring nasi siap saji.

Rupanya dia menyiapkan segalanya. Aku tidak punya alasan lagi untuk menghindarinya. Dengan lambat kuhabiskan makan siangku karena aku tahu aku akan membutuhkan tenaga yang banyak untuk melayani Sheila. Dan begitu makan siangku selesai, Sheila tidak mau membuang waktunya. Aku duduk di sofa hitam, sementar Sheila duduk di atas pangkuanku. Wajahnya dihadapkan persis di wajahku, lantas dia mulai menciumiku.

Sheila membuka kancing bajuku satu persatu, sembari terus mencumbuiku. Sampai pada kancing terakhir, tangannya dengan lincah bergerak ke celanaku. Dan cerita selanjutnya akan panjang kalau diceritakan, yang jelas aku dan penisku berusaha setengah mati supaya tidak 'kalah' selagi tangan-tangan Sheila mengocok-ngocok penisku dengan bernafsunya.

Tingkah Sheila tidak hanya berhenti di situ saja. Dengan gaya erotis dia mulai membuka bajunya satu persatu sampai tak tersisa sehelai benangpun. Kemudian membaringkan tubuhnya yang telanjang itu dikarpet dan menarik tanganku untuk mendekat. Melihat tubuhnya dalam posisi ini membuat darah kelaki-lakianku menggelekak. Sejurus kemudian aku sudah menindih tubuhnya dan melakukan 'tugas siangku' sampai dia mengerang karena klimaks yang dirasakan.

Karena kemampuanku memberikan klimaks kepada Sheila di dalam setiap memenuhi hasrat seksualnya itulah, maka hampir setiap hari Sheila memintaku untuk datang ke ruangan kerjanya untuk 'melaksanakan tugas'. Harus kuakui akupun mendapatkan pengalaman bercinta yang hebat, setelah mengenal Sheila.

TAMAT

Pengalaman di Mess

Cerita ini terjadi sekitar satu setengah tahun yang lalu. Nama saya Anton (bukan nama sebenarnya) dan bekerja di sebuah perusahaan nasional di Jakarta. Saya mengepalai bagian penjualan, dan otomatis saya sering pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan, apalagi bila ada peluncuran produk baru. Sekitar satu setengah tahun yang lalu, saya ditugaskan ke Manado. Di sana kebetulan perusahaan kami mempunyai mess yang biasa digunakan oleh tamu-tamu yang datang dari kota lain. Mess-nya sendiri cukup besar, dan di halaman belakang ada kolam renangnya.

Selama di Manado saya ditemani oleh Lulu (nama samaran) yang juga mengepalai bagian penjualan di sana. Sebagai gambaran, Lulu tingginya sekitar 165 cm, berat sekitar 54-55 kg dan kulitnya putih mulus. Umurnya sekitar 28 tahun, dan menurut saya orangnya sangat menarik (baik dari segi fisik maupun personality). Beberapa hari di sana, kami pergi mengunjungi beberapa distributor di Manado, dan Lulu juga sempat mengajak saya jalan-jalan seperti ke danau Tondano ditemani beberapa rekan kantor lainnya.

Hubungan saya dengan Lulu menjadi cukup dekat, karena kami banyak menghabiskan waktu berdua walaupun sebagian besar adalah urusan kantor. Lulu sangat baik pada saya, dan dari tingkah lakunya saya dapat merasakan kalau Lulu suka pada saya. Pertama-tama saya pikir kalau mungkin itu hanya perasaan saya saja. Walaupun dalam hati saya juga suka dengan dia, saya tidak berani untuk mengatakan atau memberi tanda-tanda kepada dia. Toh, saya baru beberapa hari kenal dengan dia dan memang untuk urusan wanita saya tergolong pemalu. Bagaimana kalau dia ternyata tidak ada perasaan apa-apa ke saya? Wah, bisa hancur hubungan baik yang telah saya bina dengan dia beberapa hari itu.

Suatu sore setelah pulang kerja, Lulu seperti biasa mengantar saya pulang ke mess. Saya menanyakan apakah dia mau mampir dulu sebelum pulang. Lulu setuju dan masuk ke dalam mess bersama saya. Kami ngobrol-ngobrol sebentar, dan saya ajak Lulu ke halaman belakang untuk duduk di kursi panjang dekat kolam renang. Kolam renangnya sangat menggoda, dan saya tanya Lulu apakah dia mau menemani saya berenang. Dia bilang kalau sebenarnya dia mau, tapi tidak bawa baju renang dan baju ganti sama sekali. Saya menawarkan untuk memakai celana pendek dan kaos saya.

"Nanti sekalian mandi di sini saja sebelum kita pergi makan malam.." kata saya.
Lulu setuju dan saya ke kamar untuk mengambil kaos dan celana pendek untuk dipinjamkan ke Lulu. Saya sendiri juga berganti pakaian dan mengenakan celana pendek saya yang lain.

Setelah berganti pakaian, kami pun berenang bersama. Karena baju kaos yang saya pinjamkan berwarna putih dan bahannya cukup tipis, buah dada Lulu yang ukurannya di atas rata-rata tercetak cukup jelas walaupun dia masih memakai bra. Kami berenang sekitar 20 menit, dan setelah selesai saya pinjamkan Lulu handuk untuk mandi di kamar saya yang kebetulan lebih bersih dari kamar mandi yang ada di ruang depan. Saya sendiri mandi di ruang depan.

Begitu selesai mandi, saya ke kamar saya untuk melihat apakah Lulu sudah selesai atau belum. Ternyata Lulu masih di kamar mandi, dan beberapa menit kemudian keluar dengan hanya memakai handuk yang dililitkan di badannya. Handuk yang saya pinjamkan tidak terlalu besar, sehingga hanya mampu menutupi sebagian buah dada dan sedikit pahanya. Belahan dadanya terlihat jelas dan mungkin sedikit lebih turun lagi putingnya akan terlihat. Dengan rambut yang masih basah, Lulu terlihat sangat seksi.

Lulu berdiri di depan pintu kamar mandi dan bilang kalau dia harus mengeringkan bra dan CD-nya yang masih basah. Waktu Lulu mengangkat kedua tangannya untuk menyibakkan rambutnya, handuknya terangkat dan kemaluannya terlihat. Saya tidak tahu apakah Lulu sadar atau tidak kalau handuknya terlalu pendek dan tidak dapat menutupi kemaluannya. Rambut kemaluan Lulu lumayan lebat.

Lulu kemudian duduk di ranjang saya dan menanyakan apakah dia boleh menunggu sebentar di kamar saya sampai pakaian dalamnya kering. Tentu saja saya membolehkan, dan setelah mengobrol beberapa saat, Lulu menyandarkan badannya ke sandaran ranjang dan menjulurkan kakinya ke depan. Kakinya yang panjang terlihat mulus. Melihat itu semua, kemaluan saya mulai menegang.

Saya tanya dia, "Sambil nunggu celana kamu kering, mau aku pijitin nggak..?"
"Mau dong, asal enak yah pijitannya.."
Saya minta dia membalikkan badannya, dan saya mulai memijati kakinya. Beberapa saat kemudian saya mulai memberanikan diri untuk naik dan memijat pahanya. Lulu sangat menikmati pijatan saya dan sepertinya dia juga sudah mulai terangsang. Hal ini terbukti dengan dibukanya kedua kakinya, sehingga kemaluannya terlihat dari belakang, walaupun tubuhnya masih dibalut handuk.

Saya pun mulai memijat pahanya bagian dalam, dan terus naik sampai ke selangkangannya. Lulu diam saja, dan saya memberanikan untuk mengelus kemaluannya dari belakang. Juga tidak ada reaksi selain desah nafas Lulu tanda bahwa dia sudah terangsang dan menikmati apa yang saya lakukan.
"Lulu, buka yah handuknya biar lebih mudah.." kata saya.
Tanpa diminta lagi, Lulu membalikkan badannya dan melepaskan handuknya, sehingga tubuhnya sekarang telanjang bulat di depan saya. Buah dada Lulu ternyata lumayan besar dan sangat indah. Ukurannya mungkin 36C dan putingnya berwarna kemerahan.

"Ton, buka dong celana pendek kamu..!" pintanya.
Saya berdiri dan melepaskan celana yang saya kenakan. Kemaluan saya sudah sangat menegang dan saya pun naik ke ranjang dan tiduran di sebelah Lulu.
"Kamu diam saja di ranjang, biar aku yang buat kamu senang..," katanya.
Saya pun tidur telentang, dan Lulu naik ke badan saya dan mulai menciumi saya dengan penuh nafsu.

Beberapa menit kemudian ciumannya dilepaskan, dan dia mulai menjilati badan saya dari leher, dada dan turun ke selangkangan saya. Lulu belum menjilati kemaluan saya dan hanya menjilati selangkangan dan paha saya sebelah dalam. Saya sangat terangsang dan meminta Lulu untuk memasukkan kemaluan saya ke dalam mulutnya. Lulu mulai menjilati kemaluan saya, dan sesaat kemudian memasukkan kemaluan saya ke dalam mulutnya. Ternyata Lulu sudah sangat ahli. Pasti dia sudah sering melakukannya dengan bekas pacarnya, pikir saya. Memang sebelum itu Lulu pernah berpacaran dengan beberapa pria. Saya sendiri saat itu masih perjaka. Saya memang juga pernah berpacaran waktu kuliah, tetapi pacaran kami hanya sebatas heavy petting saja, dan kami belum pernah benar-benar melakukan hubungan seks.

Saya minta Lulu untuk membuat posisi 69, sehingga selangkangannya sekarang persis di depan hadapan wajah saya. Sambil Lulu terus mengulum dan menjilati kemaluan saya, saya sendiri juga mulai menjilati kemaluannya. Ternyata kemaluannya berbau harum karena dia baru saja selesai mandi. Rambut kemaluannya juga lebat, sehingga saya perlu menyibakkannya terlebih dahulu sebelum dapat menjilati klitorisnya. Kami saling melakukan oral seks selama beberapa menit, dan setelah itu saya minta Lulu untuk tiduran. Dia merebahkan badannya di ranjang, dan saya mulai menjilati buah dada dan putingnya.

Lulu sudah sangat terangsang, "Hmm.. hmm.. terus Ton.. terus..!"
Saya terus menjilati tubuhnya sampai ke kemaluannya. Rambut kemaluannya saya sibakkan dan saya jilati bibir kemaluan dan klitorisnya. Cairan kemaluannya terasa di lidah saya. Tubuh Lulu menggelinjang hebat dan pantatnya diangkat seolah-olah ingin saya menjilatinya lebih dalam lagi. Tangannya menekan kepala saya sampai hampir seluruh wajah saya terbenam di kemaluannya. Saya semakin bersemangat memainkan ujung lidah saya yang menyapu kemaluan Lulu, dan kadang-kadang saya gigit perlahan klitorisnya.

Lulu benar-benar menikmati apa yang saya lakukan, dan semakin membuka pahanya lebar-lebar. Dia terus menekan kepala saya dan menaik-turunkan pinggulnya.
"Ah.. ah.. ah.. I'm coming, I'm coming..!" teriaknya.
Saya terus menjilati klitorisnya dengan lebih cepat, dan sesaat kemudian dia berteriak, "Ahh.. Ahh.. Ahh.." tanda kalau dia sudah orgasme.

Kemaluannya sudah sangat basah oleh cairan kemaluannya.
Lulu melenguh sebentar dan berkata, "Ton, masukin dong, saya mau nih..!"
Saya bilang kalau saya belum pernah melakukan ini, dan takut kalau dia hamil.
"Jangan takut, saya baru saja selesai mens kok, jadi pasti nggak bakalan hamil.."

"Kamu di atas yah..!" kata saya.
"Ya udah, tiduran sana..!"
Saya tiduran dan Lulu duduk di atas saya dan mulai memasukkan kemaluan saya ke vaginanya dengan perlahan. Wah, nikmat sekali.. ternyata begitu rasanya berhubungan seks yang sesungguhnya. Lulu mulai menggoyang-goyangkan pinggulnya dan kedua tangannya diangkat ke atas. Saya memegang kedua buah dadanya sambil Lulu terus bergoyang, makin lama makin cepat.

Beberapa saat kemudian saya sudah tidak tahan lagi dan ejakulasi sambil memeluk tubuh Lulu erat-erat. Belum pernah saya merasakan kenikmatan seperti itu. Kami pun berciuman dan kemudian ke kamar mandi untuk membersihkan badan yang penuh dengan keringat. Di kamar mandi saya menyabuni tubuh Lulu dari atas ke bawah, dan hal yang sama juga dia lakukan ke saya. Khusus untuk kemaluannya, saya memberikan perhatian khusus dan dengan lembut menyabuni klitorisnya dan memasukkan jari saya untuk membersihkan vaginanya yang basah oleh air mani saya. Kelihatan kalau Lulu sangat menikmati itu, dan kakinya pun dibuka lebar-lebar.

Selesai mandi, kami kembali ke kamar dan membicarakan apa yang baru kami lakukan. Terus terang saya tidak pernah berpikir untuk melakukan hubungan seks dengan Lulu secepat itu, karena kami belum lama kenal dan semuanya juga terjadi dengan tiba-tiba. Lulu bilang kalau sebenarnya dia suka dengan saya dari awal, dan memang sudah mengharapkan untuk dapat melakukan ini dengan saya.

Setelah kejadian itu, kami beberapa kali melakukan hubungan seks di mess sepulang dari kantor. Karena di mess tidak ada pembantu (pembantu hanya datang di pagi hari untuk membersihkan rumah atau mencuci baju), kami bebas melakukannya di luar kamar baik di ruang tamu, halaman belakang dan juga kolam renang. Benar-benar beberapa hari yang tidak dapat saya lupakan. Sayang hubungan kami tidak berlanjut setelah saya kembali ke Jakarta karena jarak yang memisahkan kami.

Sebenarnya saya pernah minta Lulu untuk pindah kerja ke Jakarta, tapi dia tidak mau dengan alasan orang tuanya tidak mengijinkan, karena dia anak satu-satunya. Juga mungkin bagi Lulu saya hanyalah salah satu pria yang lewat dalam hidupnya.

TAMAT

Pahit manisnya Rin kekasihku

Melanjutkan cerita pengalaman saya yang pertama dengan judul" Pengalaman Pertama Dioral", setelah Mbak Ami mengakhiri untuk tinggal di rumah orang tua saya dan selanjutnya masuk ke asrama Akademi Perawat, sayapun meninggalkan kota Yogya untuk kembali ke Bandung karena masa liburan sekolah sudah berakhir.

Kebetulan pada saat itu, saya mempunyai seorang kekasih teman satu sekolah, nama panggilannya Rin. Dia adalah anak ke 3 dari 8 bersaudara. Rin tinggal di Bandung bersama kakaknya sedangkan orang tua dan adik-adiknya menetap di luar Jawa. Selama berpacaran dengan Rin, saya belum pernah melakukan seperti apa yang saya lakukan dengan Mbak Ami di Yogya. Paling maksimal saya hanya mencium pipi atau kening Rin, itupun saya lakukan jika ada acara khusus.

Seperti biasanya, karena usai sekolah sore hari maka saya mengantarkan Rin pulang ke rumahnya di daerah Bandung Barat. Biasanya setelah sampai dirumah Rin saya langsung pulang, tapi hari itu saya sengaja untuk masuk dulu ke rumah Rin.

"Kamu mau saya temanin dulu apa nggak?" tanya saya kepada Rin.
"Temanin yach.., besok khan tanggal merah, lagian kakakku lagi nonton di luar", jawab Rin dengan ringannya.
"Ok, kalau gitu mobilnya saya masukin ke carport aja, nggak usah diparkir di jalan", balas saya sambil membuka pintu pagar rumahnya.

Setelah memasukkan mobil, saya terus masuk ke ruang tamu dan duduk. Tidak begitu lama Rin ke ruang tamu sambil membawa teh hangat untuk saya.

"Aku ganti baju dulu, kamu minum dech" kata Rin kepada saya.
"Iya, aku nunggu di sini aja lah, kamu jangan lama-lama ganti bajunya" kata saya.

Tidak begitu lama, Rin telah kembali dengan menggunakan kaos dan celana pendek. Dia duduk di samping saya, begitu saya perhatikan ternyata satu kancing bagian atas kaosnya dibuka. Hal itu menimbulkan rangsangan untuk mencumbunya.

"Rin, kakakmu kira-kira pulang jam berapa" tanya saya.
"Yach.. Paling juga jam 10 an sampai rumah, kenapa?" tanya Rin kepada saya.
"Nggak.. Ya berarti masih ada waktu cukup" sahut saya lagi.
"Emang.. Mau apa?" tanya Rin menyelidik

Kemudian saya menarik badan Rin untuk bersandar di badan saya dan saya tanya," Boleh saya cium kamu?"

Tanpa menunggu jawaban dari Rin, saya sudah mendaratkan bibir saya di bibirnya. Uch.. Rin pun membalas ciuman saya ini dan dia juga membuka mulutnya dengan maksud agar lidahnya bisa menggapai lidah saya.

"Rin.. Aku sayang sama kamu" kata saya seraya menghentikan untuk sesaat ciuman di bibirnya.
"He.. Eh, aku juga" balas Rin sambil terus menggigit bibir dan lidah saya.

Sambil mencium, tangan saya juga sudah mulai mengelus punggungnya dan kemudian bergeser ke lengannya dan berhenti sejenak di sekitar ketiaknya. Tangan Rin pun semakin kencang memeluk badan saya, kelihatannya Rin sudah terbawa emosinya dan dia juga kelihatannya menikmati ketika saya mulai mencium belakang telinga dan lehernya.

"Shh.. Ach.. Ko, geli" desah Rin sambil ke dua tangannya memegang kepala saya.
"Rin.., suka ya..?" tanya saya sambil terus menciuminya dan tangan saya mengelus-elus lengannya.

Ciuman saya dari leher kemudian turun ke bagian bawah leher dimana kancing kaosnya sudah terbuka satu. Hanya sebentar ciuman saya di daerah itu, kemudian ciuman saya geser lagi ke bibirnya. Sambil berciuman, saya pindahkan tangan saya ke buah dadanya dan saya usap-usap dari luar kaosnya dengan sekali-kali saya remas.

"Ko.. Jangan.. Sakit" bisik Rin sambil kepalanya mendongak ke atas.

Tangan sayapun terus mencoba untuk masuk melalui kancing yang telah terbuka dan langsung menyusup ke dalam cup bra nya.

"Ach.." desah Rin, sambil tangannya ikut memegangi tangan saya, ntah maksudnya melarang atau mempertahankan tangan saya untuk terus mengolahnya. Tetapi.., setelah beberapa saat saya meremas buah dadanya, tiba-tiba..

"Plak.." tangan Rin pun menampar pipi saya.

Kaget juga saya dengan tamparan dia itu, saya pikir saking enaknya di remas buah dadanya sehingga dia menjadi begitu tenyata sebaliknya, dia kaget karena diremas-remas buah dadanya.

"Kamu.. Ngapain Ko.." tanya Rin kepada saya.
"Ech.., kenapa kamu nggak mau" saya balik bertanya.
"Iya.. Jangan nggak boleh khan" balas Rin.
"Ya sudah.. Maaf ya" kata saya sambil kemudian saya membetulkan duduk saya.

Untuk beberapa saat kami berdua terdiam, mungkin Rin menyesali apa yang baru saja terjadi dan saya menyesali karena apa yang saya rencanakan tidak terpenuhi padahal penis saya sudah mengeras karena terangsang. Dengan berat hati, saya akhirnya minta ijin untuk pulang.

"Kamu kesel yach.. Saya nggak mau" tanya Rin kepada saya.
"Nggak, kenapa, saya tidak mau memaksa khok" jawab saya kemudian.
"Ko.., saya sayang sama kamu tapi saya belum bisa untuk menerima apa yang tadi kamu lakukan dan jika hal itu kita lakukan pasti ingin mengulang terus" begitu penjelasan Rin kepada saya.
"Nggak apa-apa khok, nggak usah kamu pikirin lagi dech Rin" balas saya sambil berdiri untuk pulang.
"Saya pulang ya dan maaf soal tadi" kata saya kepada Rin, kemudian saya kecup keningnya.
"Iya dech hati-hati nggak usah ngebut" kata Rin.

Setelah kejadian malam itu, hubungan saya dengan Rin tetap berlangsung terus dan paling maksimal saya hanya mengecup bibirnya sebentar tanpa ada aktivitas lainnya. Tidak terasa hubungan kami sudah mencapai 2 tahun dan kami berdua lulus dari SMA di Bandung. Saya melanjutkan ke salah satu perguruan tinggi terkenal di Yogya dan Rin kuliah di Bandung. Kami hanya berkomunikasi dengan telepon atau surat dan bertemu jika masa kuliah sedang libur dan tidak terasa telah lebih dari 1 tahun kami berhubungan jarak jauh.

Sampai suatu malam, sehabis kuliah saya dibonceng oleh teman kuliah saya yang bernama Ipin melintas dikawasan Malioboro biasa mau cuci mata karena sudah sumpek dengan kuliah seharian dan saya dikagetkan ketika melihat satu rombongan yang menarik perhatian saya dimana saya lihat Rin berada di antara rombongan itu.

"Ipin, kita ikutin rombongan itu, kayaknya aku liat Rin dech" kata saya.
"Hah.. Masa sich, khok kamu bisa nggak tahu kalau dia ke Yogya" balas Ipin dengan nada kaget.

Ipin tahu kalau saya punya kekasih di Bandung yang namanya Rin.

"Iya nich.. Jangan-jangan aku salah liat, tapi kita ikutin aja lah paling nggak kita bisa tahu mereka nginap dimana" balas saya kemudian.

Akhirnya saya dan Ipin mengikuti rombongan itu dan saya pastikan kalau yang saya liat itu adalah Rin tidak salah lagi. Kita ikuti sampai mereka masuk ke sebuah hotel di samping stasiun.

"Sudah, samperin aja Ko, cuek aja.. Khok dia nggak kasih kabar sama kamu" kata Ipin kepada saya ketika melihat saya ragu mau ikut masuk ke hotel itu atau tidak.

"Ayo.. Lah, parkirin aja motornya kita datengin" balas saya kepada Ipin.

Setelah memarkir motor, saya dan Ipin mendatangani receptionist dan menanyakan rombongan yang baru masuk tersebut.

"Selamat malam Mbak, mau nanya apa yang barusan rombongan dari Universitas 'xx' dari Bandung" tanya saya kepada Mbak di receptionist.
"Iya, betul Mas, sudah 2 hari rombongan itu disini, besok pagi sudah mau check out ke Semarang" jawab Mbak nya itu.
"Bisa saya minta tolong dihubungi dengan salah satu dari rombongan itu namanya Rin?" tanya saya kepada si Mbak.
"Sebentar ya Mas, saya coba dulu" jawab si Mbak receptionist itu sambil mengangkat gagang telepon.

Tidak beberapa lama Rin terlihat menuju counter receptionist dan saya lihat muka dia kaget karena melihat saya.

"Hi.., khok tahu saya ada di sini" tanya Rin.
"Iya, tadi liat lagi jalan rame-rame di Malioboro" jawab saya ke Rin.

Setelah memperkenalkan teman saya Ipin kepada Rin, kemudian saya bertanya lagi ke Rin.

"Khok kamu nggak kasih kabar kalau mau ke Yogya" kata saya.
"Iya, sorry ya saya nggak sempet kasih tahu, besok juga sudah mau ke Semarang, disana 2 malam terus balik lagi ke Bandung. Kita lagi studi banding" balas Rin.

Tidak lama kemudian, datang seorang temannya Rin yang setelah dikenalkan ternyata bernama Rohim. Dengan nada yang agak sok dia bertanya kepada Rin,
"Siapa Rin?"
"Oh, ini temanku waktu SMA di Bandung, sekarang kuliah di Yogya" jawab Rin dengan nada ragu.

Saya kaget juga melihat wajah Rin yang ragu dan kenapa juga dia bilang saya temannya khok bukan pacar atau apalah.. padahal saya dengan Rin sudah menjalin hubungan dekat selama 3 tahun lebih. Demikian percakapan awal yang tidak mengenakan dan akhirnya saya tidak mau berlama-lama di hotel tersebut dan saya bilang kepada Rin.

"Ok, nanti setelah kamu sampai di Bandung kasih tahu saya dan saya akan ke Bandung".

Dengan hati yang kesal dan dengan berbagai macam pertanyaan yang berkecamuk di kepala, saya dan Ipin pulang. Ipin pun tahu perasaan saya tetapi dia diam saja tidak mau mengungkit masalah itu.

"Sudah.. Ntar ke Bandung aja, di clear kan"komentar Ipin singkat, padat dan jelas.

Beberapa minggu setelah kejadian di Yogya dan liburan kuliah sudah mulai sayapun pergi ke Bandung dengan menggunakan bis malam. Setibanya di Bandung, setelah istirahat sebentar di rumah, saya berangkat menuju ke rumah Rin dengan membawa oleh-oleh. Dengan perasaan hati yang agak galau, saya menekan bel rumahnya dan tidak begitu lama Rin membukakan pintu pagar rumahnya.

"Eh.. Ko, apa kabar, kapan sampainya?" tanya Rin.
"Tadi subuh naik bus malam. Ini dibawain bakpia untuk di rumah" jawab saya sambil masuk ke rumahnya.
"Kok sepi, sedang pada pergi?" tanya saya lagi.
"Iya, lagi ke Ciwidey mau lihat Situ Patenggang" jawab Rin.
"Sebentar ya, saya buatkan teh dulu untuk kamu" kata Rin sambil berjalan ke arah dapur.

Sayapun kemudian duduk dan seperti biasanya di bawah meja tamu terdapat beberapa album dan saya mengambil satu yang paling atas. Mungkin ada foto-foto baru yang bisa saya lihat sambil menunggu. Sayapun membuka lembar demi lembar halaman album tersebut dan setelah beberapa halaman saya terkejut karena terdapat beberapa foto Rin berdua dengan Rohim dalam posisi seperti sepasang muda-mudi yang sedang mabuk asmara.

Ketika Rin datang dengan membawa teh hangat, saya tanyakan perihal foto-foto tersebut dan..

"Oh.. Itu, ya cuma iseng aja foto berdua pas waktu di Yogya dan Semarang" Rin menjawab dengan mimik muka yang tampaknya dibuat setenang mungkin. Tetapi saya bisa menangkap semua itu.

"Tapi.. Nggak ada apa-apa khok" kata Rin kemudian.

Dengan rasa kesal, saya tutup album itu.

"Kamu pacaran sama dia?" tanya saya kepada Rin.
"Nggak.. yach akhir-akhir ini nggak tahu kenapa saya dekat dengan dia" jawab Rin dengan nada yang sedikit ragu.
"Kamu sich Ko.. Pake kuliah di Yogya, jadi saya nggak ada yang nemenin di Bandung" lanjut Rin mencoba untuk memberi penjelasan.
"Maaf ya Rin, saya jadi nggak bisa nemenin kamu di Bandung" kata saya.

Kemudian saya meminum tehnya dan setelah itu saya tarik badan Rin untuk mendekat ke saya dan langsung saya cium bibirnya. Bibir kamipun saling bertemu dan terus sampai lidaHPun ikut bertaut. Wach.. sudah tambah pengalaman nich si Rin, saya berkata di dalam hati.

"Rin.. Saya kangen ma kamu" kata saya.
"Iya.. Aku juga, terus Ko.. Ach.." desah Rin membalas ucapan saya.

Sayapun tidak hanya mencium bibirnya saja tapi bergerak terus menelusuri telinga, leher dan kembali lagi ke bibirnya. Tangan sayapun mulai bergerilya dengan mulai membuka kancing dari kaos yang dipakai, saya buka satu persatu dan akhirnya terbuka semuanya yang mengakibatkan saya bisa melihat dengan jelas bra yang menutup dua buah bukit kembarnya.

Dengan sedikit ragu-ragu, saya sentuh bagian atas buah dadanya dan sekali-kali saya elus dengan mengitari bagian yang menggunung dari buah dada Rin.

"Ach.. Enak Ko.. Geli.." kata Rin sambil mendesah manja.
"Boleh saya remes?" tanya saya..
"Iya.. Ayo.." pinta Rin

Dengan rasa heran karena dulu Rin tidak mau, sayapun kemudian meremas dari luar cup bra nya dan setelah beberapa lama saya beranikan untuk menurunkan tali bra nya dan menarik sampai ke perutnya. Tampaklah dua buah bukit kembar yang masih ranum dengan putingnya yang agak menonjol.

"Rin.. Bagus punyamu" kata saya sambil mengelus dan mendekatkan bibir saya untuk mengecup dan mengulum putingnya.
"Ko.. Ayo, isap putingku ya" pinta Rin.

Tampaknya Rin sudah mulai terangsang dan saya pun tidak menyia-nyiakan permintaan Rin itu. Sambil mengulum putingnya dengan bergantian kiri dan kanan sambil meremas-remas buah dadanya, saya merasa tangan Rin mulai turun ke arah penis saya yang sudah tegang.

"Ko.. Keras sekali punyamu" kata Rin sambil mengelus-elus penis saya dari luar celana saya.
"Buka Rin.." saya berkata kepada Rin dan tanpa ragu-ragu Rin pun membuka risleting celana saya dan mengeluarkannya.

Kemudian Rin pun mulai meremas-remas penis saya dan mengocoknya.

"Rin.. Enak, terus.. Ach.." desah saya dimana mulut saya terus mengulum dan mengisap putingnya bagian kiri dan kanan.

Melihat Rin semakin terangsang, saya memberanikan tangan saya untuk menjamah daerah terlarangnya. Saya usap sambil menekan ringan jari saya di bagian kewanitaannya dari luar celana pendek yang dipakainya.

"Ko.. Khok tangannya ke situ?"tanya Rin sambil terus mendesah.
"Kenapa, kamu nggak mau?"saya balik bertanya.

Ternyata Rin diam saja bahkan desahannya semakin kuat. Melihat keadaan itu, saya semakin berani untuk menurunkan celana pendek Rin yang hanya memakai karet sekaligus dengan celana dalamnya. Untuk sekejap, Rin menahan laju tangan saya, tetapi setelah saya berhasil menurunkan celananya, akhirnya Rin diam saja dan bahkan merenggangkan ke dua kakinya.

Jari-jari tangan saya pun terus mengolah lahan yang selama ini ditutupinya, saya usap-usap dan sekali-kali jari tengah saya masuk ke dalam lubang kewanitaannya. Aktifitas ini saya lakukan untuk beberapa menit sampai akhirnya daerah kewanitaannya menjadi basah.

"Rin.. Mulai basah tuch" kata saya .
"Iya.. Enak Ko, terus Ko.., mau.." balas Rin dengan suara yang mendesah.

Kemudian saya menarik badan Rin agar berbaringkan di sofa ruang tamu dan tanpa ada penolakan Rin pun sudah berbaring. Aktivitas dari jari-jari tangan saya teruskan untuk mengolah lubang kewanitaan Rin, sambil terus memilin secara perlahan klitorisnya dan sekali-kali masuk ke dalam lubangnya, tangan saya pun berusaha untuk merenggangkan ke dua paha Rin agar lebih mudah. Tanpa adanya penolakan, entah karena sudah terangsang, Rin membuka lebar-lebar ke dua pahanya sehingga aktivitas jari saya semakin mudah di sekitar lubang kewanitaannya.

"Rin.. Aku masukin ya" pinta saya..
"Jangan.. Aku nggak mau" jawab Rin.

Rin menjawab begitu sambil terus menggoyangkan pinggulnya sehingga jari-jari tangan saya keluar masuk di lubangnya. Tangan Rin sendiri sekali-kali menahan laju tangan saya. Aktifitas mulut saya juga terus berlanjut di sekitar buah dadanya karena saya ingin membuat dia benar-benar terangsang dan akhirnya bersedia untuk bersetubuh.

Sayapun mencoba untuk berbaring di samping Rin sambil terus mengolah lubang kewanitaannya dan tangan Rin pun semakin meremas dan mengocok penis saya yang sudah benar-benar keras. Setelah beberapa lamai, sayapun sudah tidak tahan lagi dan mulai manaiki tubuh Rin agar penis saya bisa mendekat ke lubang kewanitaannya Rin.

"Tahan.. Ya.." kata saya kepada Rin dengan nada memerintah secara halus.
"Jangan Ko.. Aku nggak mau" kata Rin sambil mencoba untuk menahan penis saya yang sudah berada di depan lubangnya dan Rin berusaha untuk merapatkan kakinya tetapi tidak bisa karena saya berada di antara ke dua kakinya.

Sayapun terus memajukan penis saya, setelah bagian kepala penis saya tepat berada di lubang kewanitaannya saya mendorong agar kepala penisnya bisa masuk.

"Ach.." saya mendesah sambil terus mendorong agar penis saya bisa masuk seluruhnya.
"Ko.. Jangan.. Aduhh.. Sakit" kata Rin sambil berusaha untuk mendorong badan saya.
"Tahan Rin, sedikit lagi masuk semua.." kata saya selanjutnya.

Sampai akhirnya penis saya masuk seluruhnya dan kemudian saya diamkan sebentar agar lubang kewanitaan Rin beradaptasi dengan penis saya yang baru masuk. Setelah beberapa saat saya diamkan, saya coba untuk memaju dan mundurkan penis saya.

"Oh.. Rin.. Enak sekali, sempit sekali.." desah saya sambil terus memompa rongga kewanitaannya.
"Ko.. sudah.. Ko.., jangan diterusin" kata Rin dengan nada hampir menangis.

Saya terus saja memompanya.. Slruup.. Slruup.. Begitulah suaranya ketika penis saya maju mundur. Raut muka Rin mulai memerah dan matanya pun mulai menutup seakan akan menahan rasa sakit di bagian lubang kewanitaannya. Namun demikian, jika saya perhatikan dari gerakan pinggulnya yang mulai bergoyang, saya yakin Rin mulai merasakan nikmatnya penis saya.

Rin terus menggoyangkan pinggulnya seirama dengan maju mundurnya penis saya dan setelah beberapa lama dengan posisi saya di atas, dari penis saya terasa ingin mengeluarkan air mani.

"Rin.. Sebentar lagi saya mau keluar"kata saya.
"Ko.. Sudah.. Jangan diterusin" pinta Rin dengan air mata yang mulai keluar dan saya tetap tidak peduli dan terus memompanya.
"Rin.. Saya keluar.. Ach.. Ach.." saya mengerang tertahan karena merasakan nikmatnya keluar di dalam lubang kewanitaan yang hangat.

Sayapun mengeluarkan banyak sekali air mani di dalam lubang kewanitaan Rin. Untuk beberapa saat saya diamkan penis saya untuk tetap di dalam lubang kewanitaan Rin. Sampai penis saya mengecil, baru saya tarik dan saya lihat air mani saya mengalir keluar dari lubang kewanitaan Rin dibarengi dengan bercak berwarna merah dan jatuh di sofa tempat kami barusan melakukan aksi persetubuhan.

"Rin.. Saya sudah ambil perawan kamu" kata saya kepada Rin.
"Iya.. Ko, kamu khok teganya begitu" balas Rin dengan suara agak parau.
"Saya bakalan hamil nggak, khan nggak boleh kita melakukan ini" lanjut Rin masih dengan suara yang agak parau.

Kemudian Rin berdiri dan berlari ke dalam kamarnya dan ke kamar mandi untuk membersihkan lubang kewanitaannya dari air mani yang telah saya keluarkan di dalam lubang kewanitaannya..

Setelah kejadian itu, saya berhasil beberapa kali bersetubuh dengan Rin sampai akhirnya dia memutuskan hubungannya dengan saya dan kemudian menikah dengan Rohim tanpa memberitahu saya sama sekali.

Saat ini, Rin tinggal di Jakarta dan sudah mempunyai 2 orang anak dari Rohim. Saya menyesal karena tidak bisa menjadi suaminya tetapi setelah saya pikir-pikir lagi ternyata saya lebih beruntung karena telah memperoleh keperawanan Rin dan saya tidak tahu bagaimana Rin menjelaskan kepada Rohim pada saat 'malam pengantin'nya berlangsung.

Rin, saya minta maaf karena saya telah membuat kamu berpikir keras untuk menjelaskan status keperawanan kamu kepada Rohim. Untuk Rohim, jangan paksa Rin untuk menjelaskan siapa yang mengambil keperawanan Rin. Dan untuk kalian berdua.. Rin dan Rohim, mudah-mudahan perkawinan kalian langgeng tanpa mempermasalahkan hal-hal yang telah lampau.

E N D

Oh Yarmi pembantuku

Kira-kira empat bulan lalu, aku pindah dari rumah kontrakanku ke rumah yang aku beli. Rumah yang baru ini hanya beda dua blok dari rumah kontrakanku. Selain rumah aku pun mampu membeli sebuah apartemen yang juga masih di lingkungan aku tinggal, dari rumahku sekarang jaraknya 3 km. Selama aku tinggal di rumah kontrakan, aku mengenal seorang pembantu rumah tangga, sebut saja Yarmi. Dia juga pelayan di toko milik majikannya, jadi setiap aku atau istriku belanja, Yarmi-lah yang melayani kami. Dia seorang gadis desa, kulit tubuhnya hitam manis namun bodinya seksi untuk ukuran seorang pembantu rumah tangga di daerah kami tinggal, jadi dia sering digoda oleh para supir dan pembantu laki-laki, tapi aku yang bisa mencicipi kehangatan tubuhnya. Inilah yang kualami dari 3 bulan lalu sampai saat ini.

Suatu hari ketika aku mau ambil laundry di rumah majikan Yarmi dan kebetulan dia sendiri yang melayaniku.
"Yarmi, bisa tolong saya cariin pembantu.."
"Untuk di rumah Bapak..?"
"Untuk di apartemen saya, nanti saya gaji 1 juta."
"Wah gede tuh Pak, yach nanti Yarmi cariin.. kabarnya minggu depan ya Pak."
"Ok deh, makasih yah ini uang untuk kamu, jasa cariin pembantu.."
"Wah.. banyak amat Pak, makasih deh.."

Kutinggal Yarmi setelah kuberi 500 ribu untuk mencarikan pembantu untuk apartemenku, aku sangat perlu pembantu karena banyak tamu dan client-ku yang sering datang ke apartemenku dan aku juga tidak pernah memberitahukan apartemenku pada istriku sendiri, jadi sering kewalahan melayani tamu-tamuku.

Dua hari kemudian, mobilku dicegat Yarmi ketika melintas di depan rumah majikannya.
"Malam Pak.."
"Gimana Yar, sudah dapat apa belum temen kamu?"
"Pak, saya aja deh.. habis gajinya lumayan untuk kirim-kirim ke kampung."
"Loh, nanti Ibu Ina, marah kalau kamu ikut saya."
"Nggak.. apa-apa deh Pak, nanti saya yang bilang sama Ibu."
"Ya, sudah kalau ini keputusanmu, besok pagi kamu saya jemput di ujung jalan sini lalu kita ke apartemen."
"Ok.. Pak."

Keesokan pagi kujemput Yarmi di ujung jalan dan kuantarkan ke apartemenku. Begitu sampai Yarmi terlihat bingung karena istriku tidak mengetahui atas keberadaan apartemenku.
"Tugas saya apa Pak..?"
"Kamu hanya jaga apartemen ini, ini kunci kamu pegang satu, saya satu dan ini uang, kamu belanja dan masak yang enak untuk lusa karena temen-temen saya mau main ke sini."
"Baik Pak.."
Dengan perasaan agak tenang kutinggalkan Yarmi, aku senang karena kalau ada tamu aku tidak akan capai lagi karena sudah ada Yarmi yang membantuku di apartemen.

Keesokannya sepulang kantor, aku mampir ke apartemen untuk mengecek persiapan untuk acara besok, tapi aku jadi agak cemas ketika pintu apartemen kuketuk berkali-kali tidak ada jawaban dari dalam. Pikiranku khawatir atas diri Yarmi kalau ada apa-apa, tapi ketika kubuka pintu dan aku masuk ke dalam apartemenku terdengar suara dari kamar mandiku yang pintunya terbuka sedikit. Kuintip dari sela pintu kamar mandi dan terlihatlah dengan jelas pemandangan yang membuat diriku terangsang. Yarmi sedang mengguyur badannya yang hitam manis di bawah shower, satu tangannya mengusap payudaranya dengan busa sabun sedangkan satu kakinya diangkat ke closet dimana tangan satunya sedang membersihkan selangkangannya dengan sabun.

Pemandangan yang luar biasa indah membuat nafsu birahiku meningkat dan kuintip lagi, kali ini Yarmi menghadap ke arah pintu dimana tangannya sedang meremas-remas payudaranya yang ranum terbungkus kulit sawo matang dan putingnya sesekali dipijatnya, sedangkan bulu-bulu halus menutupi liang vaginanya diusap oleh tangannya yang lain, hal ini membuat dia merem-melek. Pemandangan seorang gadis kira-kira 19 tahun dengan lekuk tubuh yang montok nan seksi, payudara yang ranum dihiasi puting coklat dan liang vagina yang menonjol ditutupi bulu halus sedang dibasahi air dan sabun membuat nafsu birahi makin meningkat dan tentu saja batangku mulai mendesak dari balik celana kantorku.

Melihat nafsuku mulai berontak dengan cepat kutanggalkan seluruh pakaian kerjaku di atas sofa, dengan perlahan kubuka pintu kamar mandiku, Yarmi yang sudah kembali membelakangiku, perlahan kudekati Yarmi yang membasuh sabun di bawah shower. Secara tiba-tiba tubuhnya kupeluk dan kuciumi leher dan punggungnya. Yarmi yang terkaget-kaget berusaha melepaskan tanganku dari tubuhnya. "Akh.. jangan Pak.. jangan.. tolong Pak.." Karena tenaganya lemah sementara aku yang makin bernafsu, akhirnya Yarmi melemaskan tenaganya sendiri karena kalah tenaga dariku. Bibir tebal dan merekah sudah kulumatkan dengan bibirku, tanganku yang satu membekap tubuhnya sambil menggerayangi payudaranya, sedangkan tanganku yang satunya telah mendarat di pangkal pahanya, vaginanya pun sudah kuremas.
"Ahh.. ahh.. jja. jjangan.. Pak.."
"Tenang sayang.. nanti juga enak.."

Aku yang sudah makin buas menggerayangi tubuhnya bertubi-tubi membuat Yarmi mengalah dan Yarmi pun membalas dengan memasukkan lidahnya ke mulutku sehingga lidah kami bertautan, Yarmi pun mulai menggelinjang di saat jariku kumasukan ke liang vaginanya. "Arghh.. arghh.. enak.. Pak.. argh.." Tubuh Yarmi kubalik ke arahku dan kutempelkan pada dinding di bawah shower yang membasahi tubuh kami. Setelah mulut dan lehernya, dengan makin ke bawah kujilati akhirnya payudaranya kutemukan juga, langsung kuhisap kukenyot, putingnya kugigit. Payudaranya kenyal sekali seperti busa. Yarmi makin menggelinjang karena tanganku masih merambah liang vaginanya. "Argh.. akkhh.. akhh.. terus.. Pak.. enak.. terus.." Aku pun mulai turun ke bawah setelah payudara, aku menjilati seluruh tubuhnya, badan, perut dan sampailah ke selangkangannya dimana aku sudah jongkok sehingga bulu halus yang menutupi vaginanya persis di hadapanku, bau harum tercium dari vaginanya.

Aku pun kagum karena Yarmi merawat vaginanya sebaik-baiknya. Bulu halus yang menutupi vaginanya kubersihkan dan kumulai menjilati liang vaginanya. "Ssshh.. sshh.. argh.. aghh.. aw.. sshh.. trus.. Pak.. sshh.. aakkhh.." Aku makin kagum pada Yarmi yang telah merawat vaginanya karena selain bau harum, vagina Yarmi yang masih perawan karena liangnya masih rapat, rasanya pun sangat menyegarkan dan manis rasa vagina Yarmi. Jariku mulai kucoba dengan sesekali masuk liang vagina Yarmi diselingi oleh lidahku. Rasa manis vagina Yarmi yang tiada habisnya membuatku makin menusukkan lidahku makin ke dalam sehingga menyentuh klitorisnya yang dari sana rasa manis itu berasal. Yarmi pun makin menggelinjang dan meronta-ronta keenakan tapi tangannya malah menekan kepalaku supaya tidak melepaskan lidahku dari vaginanya.

"Auwwhh.. aahh.. terus.. sedapp.. Pakkh.."
"Yar.. vaginamu sedap sekali.. kalau begini.. setiap malam aku pingin begini terus.."
"Mmm.. yah.. Pak.. terus.. Pak.. oohh.."
Yarmi makin menjerit keenakan dan menggelinjang karena lidahku kupelintir ke dalam vaginanya untuk menyedot klitorisnya. Setelah hampir 30 menit vagina Yarmi kusedot-sedot, keluarlah cairan putih kental dan manis serta menyegarkan membanjiri vagina Yarmi, dan dengan cepat kujilat habis cairan itu yang rasanya sangat sedap dan menyegarkan badan.

"Ooohh.. ough.. arghh.. sshh.. Pak, Yarmi.. keluar.. nihh.. aahh.. sshh.."
"Yar.. cairanmu.. mmhh.. sedap.. sayang.. boleh.. saya masukin sekarang.. batang saya ke vagina kamu? mmhh.. gimana sayang.."
"Hmm.. boleh Pak.. asal.. Ibu nggak tahu.."
Yarmi pun lemas tak berdaya setelah cairan yang keluar dari vaginanya banyak sekali tapi dia seakan siap untuk dimasuki vaginanya oleh batangku karena dia menyender dinding kamar mandi tapi kakinya direnggangkan. Aku pun langsung mendempetnya dan mengatur posisi batangku pada liang vaginanya. Setelah batangku tepat di liang vaginanya yang hangat, dengan jariku kubuka vaginanya dan mencoba menekan batangku untuk masuk vaginanya yang masih rapat.

"Ohh.. Yarmi.. vaginamu rapat sekali, hangat deh rasanya.. saya jadi makin suka nih.."
"Mmmhh.. mhh.. Pak.. perih.. Pak.. sakit.."
"Sabar.. sayang.. nanti juga enak kok, sabar ya.."
Berulang kali kucoba menekan batangku memasuki vagina Yarmi yang masih perawan dan Yarmi pun hanya menjerit kesakitan, setelah hampir 15 kali aku tekan keluar-masuk batangku akhirnya masuk juga ke dalam vagina Yarmi walaupun hanya masuk setengahnya saja. Tapi rasa hangat dari dalam vagina Yarmi sangat mengasyikan dimana belum pernah aku merasakan vagina yang hangat melebihi kehangatan vagina Yarmi membuatku makin cepat saja menggoyangkan batangku maju-mundur di dalam vagina Yarmi.

"Yar, vaginamu hangat sekali, batangku rasanya di-steam-up sama vaginamu.."
"Iya.. Pak, tapi masih perih Pak.."
"Sabar ya sayang.."
Kukecup bibirnya untuk menahan rasa perih vagina Yarmi yang masih rapat alias perawan sedang dimasuki batangku yang besarnya 29 cm dan berdiameter 5 cm, wajar saja kalau Yarmi menjerit kesakitan. Payudaranya pun sudah menjadi bulan-bulanan mulutku, kujilat, kukenyot, kusedot dan kugigit putingnya. "Ahh.. ahh.. aah.. awww.. Pak.. iya Pak.. enak deh.. rasanya ada yang nyundul ke dalam memek Yarmi.. aahh.." Yarmi yang sudah merasakan kenikmatan ikut juga menggoyangkan pinggulnya maju-mundur mengikuti iramaku. Hal ini membuatku merasa menemukan kenikmatan tiada tara dan membuat makin masuk lagi batangku ke dalam vaginanya yang sudah makin melebar.

Kutekan batangku berkali-kali hingga rasanya menembus hingga ke perutnya dimana Yarmi hanya bisa memejamkan mata saja menahan hujaman batangku berkali-kali. Air pancuran masih membasahi tubuh kami membuatku makin giat menekan batangku lebih ke dalam lagi. Muka Yarmi yang basah oleh air shower membuat tubuh hitam manis itu makin mengkilat sehingga membuat nafsuku bertambah yaitu dengan menciumi pipinya dan bibirnya yang merekah. Lidahku kumasukan dalam mulutnya dan membuat lidah kami bertautan, Yarmi pun membalas dengan menyedot lidahku membuat kami makin bernafsu. "Mmmhh.. mmhh.. Pak.. batangnya nikmat sekali, Yarmi jadi.. mmauu.. tiap malam seperti ini.. aakh.. aakkhh.. Paakkhh.. Yarmi keeluuaarr.. nniihh.."

Akhirnya bobol juga pertahanan Yarmi setelah hampir satu jam dia menahan seranganku dimana dari dalam vaginanya mengeluarkan cairan kental yang membasahi batangku yang masih terbenam di dalam vaginanya, tapi rupanya selain cairan, ada darah segar yang menetes dari vaginanya dan membasahi pahanya dan terus mengalir terbawa air shower sampai ke lantai kamar mandi dan lemaslah tubuhnya, dengan cepat kutahan tubuhnya supaya tidak jatuh. Sementara aku yang masih segar bugar dan bersemangat tanpa melihat keadaan Yarmi, dimana batangku yang masih tertancap di vaginanya. Kuputar tubuhnya sehingga posisinya doggy style, tangannya kutuntun untuk meraih kran shower, sekarang kusodok dari belakang. Pantatnya yang padat dan kenyal bergoyang-goyang mengikuti irama batangku yang keluar-masuk vaginanya dari belakang.

Vagina Yarmi makin terasa hangat setelah mengeluarkan cairan kental dan membuat batangku terasa lebih diperas-peras dalam vaginanya. Hal itu membuatku merasakan nikmat yang sangat sehingga aku pun memejamkan mata dan melenguh. "Ohh.. ohh.. Yar.. vaginamu sedap sekali, baru kali ini aku merasakan nikmat yang sangat luar biasa.. aakkh.. aakkhh.. sshh.." Yarmi tidak memberi komentar apa-apa karena tubuhnya hanya bertahan saja menerima sodokan batangku ke vaginanya, dia hanya memegangi kran saja. Satu jam kemudian meledaklah pertahanan Yarmi untuk kedua kalinya dimana dia mengerang, tubuhnya pun makin merosot ke bawah dan cairan kental dengan derasnya membasahi batangku yang masih terbenam di vaginanya. "Akhh.. aakkhh.. Pak.. Pakkhh.. nikmatthh.."

Setelah tubuhnya mengelepar dan selang 15 menit kemudian gantian tubuhku yang mengejang dan meledaklah cairan kental dari batangku dan membasahi liang vagina Yarmi dan muncrat ke rahim Yarmi, yang disusul dengan lemasnya tubuhku ke arah Yarmi yang hanya berpegang pada kran sehingga kami terpeleset dan hampir jatuh di bawah shower kamar mandi. Batangku yang sudah lepas dari vagina Yarmi dan masih menetes cairan dari batangku, dengan sisa tenaga kugendong tubuh Yarmi dan kami keluar dari kamar mandi menuju kamar tidur dan langsung ambruk ke tempat tidurku secara bersamaan.

Aku terbangun sekitar jam 10.30 malam, itupun karena batangku sedang dikecup oleh Yarmi yang sedang membersihkan sisa-sisa cairan yang masih melekat pada batangku, Yarmi layak anak kecil menjilati es loli. Aku usap kepalanya dengan lembut. Setelah agak kering Yarmi bergeser sehingga muka kami berhadapan. Dia pun menciumi pipi dan bibirku.
"Pak.. Yarmi puas deh.. batang Bapak nikmat sekali pada saat menyodok-nyodok memek Yarmi, Yarmi jadi kepingin tiap hari deh, apalagi di saat air hangat mengalir deras di rahim Yarmi.. kalau Bapak gimana? Puas nggak.. sama Yarmi..?"
"Yar.. Bapak pun puas sekali.. Bapak senang bisa ngebongkar vagina Yarmi yang masih rapat.. terus terang.. baru kali ini Bapak puas sekali bermain, sejak dulu sama istriku aku belum pernah puas seperti sekarang.. makanya saya mau Yarmi siap kalau saya datang dan siap jadi istri kedua saya.. gimana..?"
"Saya mah terserah Bapak aja."
"Sekarang saya pulang dulu yach.. Yarmi.. besok aku ke sini lagi.."
"Oke.. Pak.. janji yach.. vagina Yarmi maunya tiap hari nich disodok punya Bapak.."
"Oke.. sayang.."

Kukecup pipi dan bibir Yarmi, aku mandi dan setelah itu kutinggal dia di apartemenku. Sejak itu setiap sore aku pasti pulang ke tempat Yarmi terlebih dahulu baru ke istriku, sering juga aku beralasan pergi bisnis keluar kota pada istriku, padahal aku menikmati tubuh Yarmi pembantuku yang juga istri keduaku, hal ini sudah kunikmati dari tiga bulan yang lalu dan aku tidak tahu akan berakhir sampai kapan, tapi aku lebih senang kalau pulang ke pangkuan Yarmi.

Ohh.. Yarmi, pembantuku? Istri keduaku?

TAMAT

Noni, resepsionis cantik

Aku sekarang berumur 37 tahun dan berprofesi sebagai direktur di sebuah perusahaan swasta. Ayahku adalah pendiri dari grup perusahaan ini yang terdiri dari beberapa perusahaan ini. Sebagai "putera mahkota", aku sangat disegani oleh para karyawan di kantor, termasuk para direktur dan manager professional lainnya. Mereka, para professional itulah yang sebenarnya banyak memberikan kontribusi pada perusahaan, sedangkan aku hanya santai-santai saja dan sekedar memberi instruksi sana-sini.

Di kantor, aku terkenal sebagai seorang playboy. Sebenarnya bukan di kantor saja tetapi sejak SMA dulu. Ditunjang dengan perawakan yang ganteng (kata orang-orang nih) dan berbadan atletis (aku masih keturunan indo dari pihak ibu), juga dukungan financial yang melimpah, tak sulit untuk mendapatkan wanita cantik untuk aku ajak tidur. Seperti kemarin dulu, ketika aku sedang jalan-jalan di mall saat waktu kerja (maklum boss he.. He..) aku menjumpai dua cewek ABG. Mereka baru duduk di bangku SMA, terlihat dari seragam yang mereka kenakan.

Setelah aku ajak makan dan shopping, tak lama mereka sudah melenguh-lenguh aku setubuhi di hotel yang berdampingan letaknya dengan mall itu. Aku sangat puas menikmati tubuh muda dua ABG itu. Mereka masih agak lugu dalam melayaniku, tampak dari cara mereka mengulum kemaluanku yang masih ragu-ragu. Mereka beralasan karena ukurannya terlalu besar sehingga tidak muat di mulut mereka yang mungil, tetapi setelah aku paksa mereka melakukannya juga. Kemudian dari jeritan dan erangan saat aku penetrasi vagina mereka yang sempit, aku berkesimpulan mereka masih jarang melakukan hal ini.

Sedangkan di kantor, aku sering mengajak sekretarisku untuk sekedar bobo siang sehabis makan siang. Lia, sekretarisku itu adalah lulusan D3 dari akademi sekretaris terkenal di Jakarta. Berbody sexy, dengan kulit putih dan berwajah cantik. Dia sudah bertunangan dengan temannya sejak SMA (cinta pertama katanya). Aku kadang kasihan dengan tunangannya itu, yang setiap hari menjemput saat pulang kantor, karena aku telah sering mereguk kenikmatan birahi dari kekasihnya. Bahkan pernah saat dia sedang menunggu di lobby, aku sedang asyik menikmati Lia di dalam kantorku.

Hari ini aku pergi ke kantorku yang terletak di kawasan Kuningan agak siang, karena habis nonton pertandingan piala eropa tadi pagi. Dengan mata yang masih agak mengantuk, aku memasuki lobby kantorku yang terletak di lantai 25.

"Selamat pagi Pak Robert"
"Pagi"

Aku lihat ke arah si penyapa, ternyata dia adalah Noni, receptionist yang sedang tersenyum manis. Noni ini sudah lama aku incar sejak lama, dan berbeda dengan gadis lain yang gampang jatuh ke dalam pelukanku, dia dengan halus selalu menolak jika aku ajak bahkan sekedar makan siang berdua saja. Memang tampaknya dia adalah gadis baik-baik.

Berumur masih 18 tahun, baru lulus SMA dan sedang mengumpulkan biaya untuk kuliah, dia tampak begitu menggemaskan. Gairah gadis muda dengan wajah yang manis, dan tubuh yang proporsional, meskipun masih kalah sexy dari Lia, tapi wajahnya yang imut-imut itu yang mengusik hasrat kelelakianku. Memang aku sangat suka menikmati gadis ABG seperti dia, terutama yang masih belum banyak pengalaman sexnya.

Sampai di ruanganku, Pak Johan tak lama menemuiku untuk membicarakan mengenai proposal proyek yang sedang ia siapkan. Aku tak bisa konsentrasi dalam mendengarkan uraiannya, karena aku masih memikirkan si Noni ABG cantik resepsionisku itu.

"Pak Johan, bagaimana kalau kita bicarakan besok saja, saya sedang agak nggak enak badan nih"
"Oh.. Baik Pak.. Maaf kalau saya mengganggu bapak.."

Beres sudah. Si Johan sudah aku singkirkan. Dalam hatiku aku berpikir yach atur sajalah proposalnya.. Pokoknya kalau nggak gol.. Tinggal aku pecat saja dia he.. He..

Kembali lagi entah mengapa pikiranku kembali ke Noni. Aku harus mengatur rencana agar aku bisa menikmatinya nanti. Segera aku panggil Lia sekretarisku untuk membawa file Noni dari HRD.

"Ini Pak.. Filenya" Lia menyerahkan file yang kuminta.
"Ada lagi yang diperlukan Pak?"
"Kamu suruh Noni menghadap nanti setelah jam kantor selesai" jawabku.

Lia tampak cemburu karena dalam hati dia sudah tahu apa yang akan terjadi nanti. Well, too bad Lia.., walaupun kamu cantik, tapi hari ini aku sedang ingin yang lain. Mungkin besok giliran kamu lagi, kataku dalam hati. Tak sabar aku menunggu jam kantor selesai. Sekitar jan 17.30, terdengar ketukan di pintuku.

"Masuk"
"Selamat sore Pak.." Noni menyapaku dengan penuh hormat.
"Oh.. Noni ayo masuk.. Silakan duduk"

Nonipun duduk di depanku. Tampak dia agak ketakutan aku panggil. Tapi itu tidak mengurangi kecantikannya, dengan blazer coklat yang menutupi baju dalamnya yang tidak bisa menutupi sembulan dadanya yang segar. Roknyapun agak mini sehingga pahanya yang putih tampak menanti untuk aku jamah.

"Ada apa Pakk.." tanyanya agak gugup. Ha.. Ha.. Dia sudah agak terintimidasi nih, pikirku.
"Begini Noni.., karena performance perusahan kita kurang memuaskan akhir-akhir ini, sehingga kita perlu melakukan rasionalisasi karyawan" aku berkata sambil menatap matanya yang mulai tampak kemerahan menahan air mata. Dia sudah merasa akan bahwa dia termasuk yang akan di PHK.
"Kamu termasuk yang harus kita PHK. Jadi kamu bisa mengurus pesangon kamu di HRD besok pagi. Maaf ya Noni.." kataku sambil berharap siasatku ini akan berhasil.
"Tapi Pak.." jawab Noni sambil mulai terisak-isak.
"Saya kan tidak berbuat salah apa-apa. "

Dalam hatiku aku tertawa mendengarnya. Tidak punya salah? Setelah menggoda kelelakianku begitu lama dan selalu menolak rayuanku? Ha.. Ha.. Salah besar kamu Noni..

"Saya juga harus membantu ibu saya yang sedang sakit Pakk.. Tolong saya Pak Robert.. Saya perlu uang untuk operasi Ibu..", dia sudah semakin terisak-isak di depanku.

Melihat gadis cantik tak berdaya seperti ini, nafsuku semakin bergolak.. Aku ambil tisu di meja kerjaku dan aku pindah duduk di sebelahnya sambil memberikan tisu itu padanya.

"Sudahlah jangan menangis.." kataku sambil mengelus-elus pundaknya.
"Tapi Pak.. Saya tolong jangan dipecat Pak.. Tolong.." katanya sambil menyeka air matanya.
"Yach.. Noni saya bisa saja membantu kamu, tapi kamu juga harus membantu saya"
"Bantu apa Pak.. "

Wah ini sih pertanyaan retoris pikirku. Aku yang duduk disebelahnya langsung meraba pahanya sambil menciumi pipinya yang masih agak basah karena air mata itu.

"Jangan Pak.." katanya sambil menghindar.
"Ya sudah kalau tidak mau dibantu" jawabku agak kesal karena menahan nafsuku yang sudah tak tertahankan. Noni masih duduk diam terpaku sambil meremas-remas kertas tisu.
"Ya sudah Noni.. Pergi sana" aku mengusir dia. Semoga saja Lia belum pulang sehingga aku bisa menyalurkan hasratku ini. Noni masih diam. Aku kembali merengkuh pundaknya sambil menciumi pipinya. Kali ini dia tidak menghindar. Berhasil.. Aku bersorak kegirangan dalam hati.
"Tapi jangan bilang siapa-siapa ya Pak.. Soalnya saya sudah punya pacar"
"Tentu saja sayang.." kataku sambil meremas rambutnya, dan menariknya sehingga wajahnya tepat berada di depan wajahku.

Langsung aku cium dan kulum bibirnya yang tipis merekah itu.. Sementara tanganku telah membuka blazernya sehingga pundaknya yang mulus telah terpampang didepanku. Aku ciumi pundaknya yang mulus dan tali BHnya pun aku gigiti gemas. Sementara tanganku sibuk meraba dan meremas pahanya yang putih bersih itu. Tak tahan aku untuk tidak menikmati buah dadanya yang membusung itu. Aku ciumi dadanya yang masih terbungkus baju dalamnya.

"Emmhh.. Emhh" Noni mulai mengerang menahan nikmat yang mulai dia rasakan.

Tangankupun dengan terampil membuka baju dalamnya sehingga dia tinggal mengenakan BH yang kelihatannya terlalu kecil untuk menampung buah dadanya yang besar itu. Aku ciumi dadanya kemudian aku turunkan cup BHnya sehingga buah dadanya mencuat keluar. Oh.. My god.. Indah sekali buah dada Noni ini. Putingnya kecil berwarna merah muda, yang sudah mengeras. Buah dadanyapun kencang dan kenyal seperti halnya buah dada gadis muda belia seperti dirinya. Langsung aku kulum dan jilat putingnya, sambil tanganku meraba pahanya sampai ke celana dalamnya.

"Ohh.. Pak.. Jangan Pak.." Noni mengerang..

Jangan? Dalam hatiku aku tertawa geli. Mulutnya berkata jangan tapi reaksi tubuhnya berkata lain. Mungkin jangan berhenti maksudnya? Tanganku sudah mengelus-elus kemaluannya yang sudah basah oleh cairan nikmatnya.

"Ayo sayang kita pindah ke sofa" ajakku.
"Jangan Pak.."
"Ayo..!!" perintahku sambil menarik tangannya.

Sebelum dia duduk, aku cium dahulu dia sambil melepas baju dalam dan rok mininya. Tampak dia cantik sekali dengan hanya berpakian dalam begitu. Apalagi buah dadanya sudah mencuat keluar dari BH hitam yang dikenakannya.

"Ayo duduk" perintahku.

Dia duduk di depanku sehingga wajahnya tepat berada di depan kemaluanku. Dengan cepat aku membuka semua pakaianku sehingga tinggal mengenakan celana dalam saja.

"Cepat cium" kataku sambil menyorongkan kemaluanku yang masih terbungkus celana dalam itu padanya.

Nonipun sudah tampak pasrah dan dia mulai menciumi kemaluanku. Tak tahan, aku suruh dia membuka celana dalamku itu sehingga kemaluanku yang sepanjang 20cm dan seukuran hampir sama dengan pergelangan tangannya melonjak keluar. Noni tampak kaget sehingga agak menjerit tertahan melihat ukuranku itu.

"Kenapa sayang"
"Ihh Pak.. Besar sekali.. Noni takut Pak.."
"Nggak apa.. Ayo diisap" perintahku.
"Ampun Pak.. Jangan Pak.. Nggak muat Pak.."
"Ayo cepat" kataku sambil meremas rambutnya dan mendorong kemaluanku sehingga menyentuh bibirnya.

Aku memang paling kesal dengan karyawanku yang belum apa-apa sudah bilang nggak bisa padahal belum mencoba. Entah dalam pekerjaan kantor sehari-hari atau dalam hal Noni ini untuk memuaskan kejantananku. Nonipun membuka bibirnya dan mulai menjilati kepala kemaluanku. Tangannyapun mulai mengocok kemaluanku sambil kadang-kadang membelai buah zakarku. Rupanya dia sudah merasa percuma saja menolak sehingga lebih baik menikmati saja aktivitas kita ini.

Kemudian dia sudah mengulum kemaluanku. Akupun berdiri berkacak pinggang didepannya, sementara dia sibuk memberikan kehangatan mulutnya pada bos besarnya ini. Kadang-kadang aku meremas rambutnya yang berjepit rambut berbentuk hati berwarna merah muda sehingga menambah kecantikan kemudaannya.

"Ayo lebih dalam", kataku sambil berkacak pinggang memberi perintah.

Tampak Noni bersusah payah mengulum kemaluanku walaupun tampaknya baru setengah yang bisa dia masukkan kemulutnya yang mungil. Akupun tak sabar, lalu aku dekap kepalanya dengan kedua tanganku, dan aku maju mundurkan kemaluanku di mulutnya. Terasa sesak tapi sangat nikmat menjalar tubuhku.

"Hmmhh.. Mulutmu enak Noni.. Yach ayo terus hisap.. Pintar.. Good girl..", erangku menahan nikmat duniawi.

Setelah kurang lebih 15 menit menikmati hisapan dan kuluman Noni si gadis lugu ini, aku duduk di sofa dan memerintahkan dia untuk menaiki tubuhku. Aku sibakkan celana dalam hitamnya sehingga vaginanya yang sempit itu telah siap untuk menelan kemaluanku.

"Ahh.. Ampun Pak.. Sakit..", erangnya ketika kemaluanku mulai menerobos bibir vaginanya.

Aku tak mempedulikan erangan minta ampunya dan langsung menyodokkan kemaluanku sambil menggoyang-goyangkannya ke kanan dan kekiri. Masuknya agak susah sehingga setelah sedikit aku sodokkan aku goyangkan dulu, baru bisa aku sodokkan sedikit lagi ke dalam. Sementara itu mulutku sibuk menikmati buah dada belianya.

"Pak.. Ampun Pak.. Ahh.." erangannya terdengar makin keras.

Kemaluanku kini sudah 3/4 yang masuk dalam vaginanya. Kemudian aku pegang pantatnya yang sexy itu dan aku kocok keluar masuk kemaluanku dalam lubang surgawinya.

"Pak.. Sudah Pak.. Ampun Pak.. Noni hampir sampai.."

Aku semakin cepat menggenjot Noni, sampai akhirnya dia menjerit tertahan karena mulutnya menggigit tangannya sendiri. Mungkin dia malu untuk menjerit terlalu keras saat orgasme. Memang dia pada dasarnya adalah gadis yang sopan dan baik. Aku belum puas menikmatinya, lalu aku suruh dia menungging di sofa dan aku setubuhi dia dari belakang.

"Pak.. Pak.. Jangan Pak.. Noni sudah capai Pak.." katanya sambil merintih.

Aku terus genjot dilakang sambil sesekali aku jambak rambutnya sehingga kepalanya terdongak kebelakang, sehingga aku bisa menciumi wajahnya yang imut itu. Tanganku pun tidak ketinggalan meremas buah dadanya yang besar dan bergoyang saat aku setubuhi kemaluannya dengan gaya doggy-style itu.

Saat aku sedang asyik menggenjot Noni.., tiba-tiba Lia masuk ruanganku. Rupanya aku lupa mengunci ruanganku tadi.

"Ada apa Lia..?" tanyaku sambil tersenyum sambil terus menyetubuhi Noni.

Nonipun sudah kembali terangsang dan tidak memperdulikan kehadiran Lia. Dia tetap mengerang tertahan sehingga menambah suasana mesum di ruangan itu.

"Ini Pak.. Saya perlu tanda tangan Bapak" jawab Lia sambil merengut cemburu.

Tampak dia memang sengaja ingin melihat aku mengerjai Noni, sehingga bekerja lembur.

"Maaf.. Pak kalau mengganggu.." katanya masih dengan nada cemburu.

Aku ambil surat dari tangannya dan langsung aku tandatangani sambil terus menggenjot Noni.

"Nih.. Udah jangan ganggu saya lagi.. Kamu nggak liat saya sedang sibuk?" kataku dengan suara agak marah.
"Kamu liat khan saya sedang beri training si Noni ini supaya pintar.." kataku sambil menarik rambut Noni sehingga wajahnya menghadap ke Lia.
"Udah pergi sana.. Nanti kalau giliranmu ditraining saya akan panggil OK" kataku sambil tersenyum padanya.

Tampak wajah Lia memerah menahan nafsu melihat adegan persetubuhanku dengan Noni.

"Baik Pak.." jawabnya sambil keluar ruangan.

Tetapi setelah keluar ruangan dia tampak mengintip dari balik vertical blind jendela ruanganku. Ha.. Ha mungkin dia penasaran dan bernafsu sekali melihatku mengerjai Noni. Sementara itu aku balikkan tubuh Noni di sofa dan langsung aku genjot lagi dari depan.

"Aahh.. Pak.. Ampun Pak.. Noni hampir sampai lagi.." erangnya.

Aku cium dia saat dia mencapai orgasmenya yang kedua. Sementara itu akupun sudah merasa akan mencapai puncak. Kucabut kemaluanku dari vagina Noni, dan aku suruh dia kulum dan isap lagi. Aku lirik ke vertical blind dan ternyata masih ada bayangan Lia di sana. Aku ingin dia melihat aku ejakulasi di mulut dan wajah Noni resepsionis yang cantik ini.

"Ayo isap terus Noni.. Kamu luar biasa.. Pintar sekali.." kataku memuji kerja kerasnya.

Aku melihat ke vertical blind sambil tersenyum, tak lupa menyibakkan rambut Noni sehingga Lia dapat melihat dengan jelas saat aku ejakulasi nanti.

"Ahh.. Ohh.. Ohh.. You little slut.." erangku saat cairan ejakulasiku keluar membasahi wajah dan mulut Noni.
"Ayo bersihkan.. Isap sampai bersih.." perintahku.

Nonipun terpaksa menjilati bekas cairan sperma dari kemaluanku. Setelah bersih, kamipun masing-masing mengenakan pakaian kami kembali, dan Noni mengambil tisu untuk menyeka bekas sperma dari wajahnya.

"Maaf Pak.. Terus bagaimana dengan nasib saya.." tanyanya memelas.
"Yach.. Kamu bisa terus bekerja di sini asalkan kamu mau memuaskan saya seperti tadi.. OK?" jawabku.
"Baik Pak.. Terimakasih Pak.."

Ha.. Ha.. Memang enak menjadi bos besar.. Sudah habis-habisan menggenjot gadis muda, masih diberi ucapan terimakasih lagi..

"Ya sudah kamu bisa pulang sekarang" kataku sambil mengemasi barang-barangku juga.

Kamipun keluar dari ruanganku, dan aku lihat meja Lia sudah kosong mungkin sudah pulang tidak tahan melihat adegan live-show aku dan Noni. Sampai di lobby aku bertemu dengan pacar Noni yang ternyata sudah menunggunya untuk mengantar pulang.

"Selamat sore Pak" sapanya penuh hormat.
"Ini Budiman Pak.. Pacar saya" Noni mengenalkanku pada pacarnya.
"Dan ini Pak Robert.. Direktur perusahaan ini"
"Oh ya.. Sori ya lama nunggu tadi?" tanyaku sambil tersenyum. Noni tampak menunduk malu.
"Nggak apa kok Pak" kata Budiman.
"Yach tadi saya harus memberikan sedikit training pada Noni untuk meningkatkan produktivitasnya di perusahaan ini" kataku menjelaskan.
"Ternyata dia pintar.. Kamu beruntung lho punya pacar cantik dan pintar seperti dia" kataku.
"Oh iya Pak terimakasih Pak.." Budiman berkata senang dan penuh hormat.

Ha.. Ha.. Aku tertawa dalam hati.. Noni terdiam saja tersipu mendengar pujianku di depan pacarnya tersayang itu. Akupun menaiki lift untuk menuju gedung parkir. Setelah itu aku langsung tancap gas Mercy silver metalikku untuk segera sampai di rumah untuk tidur karena badanku sudah pegal-pegal habis menyetubuhi Noni tadi. Kusetel lagu Al Jarreau, sambil berdesah puas. Sukses rencanaku hari ini. Noni sudah takluk di tanganku.

Sekeluar dari komplek gedung perkantoranku, tiba di lampu merah, aku melihat Budiman sedang menggonceng Noni dengan motor bututnya. Noni melihat ke arahku sambil tersenyum malu. Akupun tersenyum padanya sambil berharap semoga aku tidak cepat bosan menikmati tubuhnya, sehingga dia tak perlu aku pecat untuk aku ganti dengan yang baru.

*****

Bagi para pembaca, terutama para wanita, yang ingin berkenalan, dapat menghubungiku di alamat e-mailku.

E N D

Oops I did it again with Sinta

Hi, rekan-rekan pembaca, kali ini aku akan menceritakan pengalamanku yang lain yang tidak kalah menariknya dari kisah-kisahku sebelumnya seperti, "Hadiah Bagi Pahlawan" dan "Farewell to Diana". Kembali kuperkenalkan dulu diriku, namaku Leo, sekarang kuliah semester 7 di sebuah universitas swasta di Jakarta, umur 22 tahun dan tinggi badan 178 cm.

Kejadiannya masih dengan orang yang sama dengan kisahku yang sebelumnya, yaitu Sinta. Dia adalah teman sekampusku yang berbeda fakultas, selain itu dia juga teman kostku. Tingginya kira-kira 160 cm, umur 21 tahun, keturunan Chinese sepertiku, rambutnya kini sudah panjang sebahu lebih di-highlight kemerahan. Sifatnya yang periang dan lucu membuatnya mudah dekat dengan orang lain. Namun Sinta ini agak nakal, sehingga tidak heran ketika umur 16 tahun sudah kehilangan keperawanannya, dan sampai sekarang sudah 3 kali pacaran. Dua kali pacaran di SMA yang berumur pendek, dan yang sekarang yang ketiga dengan temanku yang sedang belajar di luar negri.

Saat itu Sinta baru pulang dari rumah sakit setelah beberapa hari lamanya menginap di sana akibat jatuh dari tangga kampus. Walaupun sudah keluar rumah sakit, tapi kaki kirinya masih diberi obat dan belum dapat berjalan dengan benar, sehingga harus dibantu dengan tongkat. Ya, selama masa-masa itulah dia menjadi 'ratu' di kost kami, beberapa keperluan seperti makan dan urusan beli membeli dibantu oleh teman-teman kostnya termasuk aku.

Suatu malam aku baru belanja di mini market dekat kostku, sekalian kubelikan juga barang-barang titipan Sinta. Waktu itu sudah hampir jam 9 malam, tapi kamar Sinta masih menyala, maka aku menyempatkan diri berkunjung ke sana sekalian menyerahkan barang-barang titipannya.

"Masuk aja, belum dikunci kok..!" sahut suara dari dalam ketika pintu kuketuk.
Sinta sedang duduk di ranjang sambil nonton TV, "Eh, Le tolong sekalian ambilin rokok gua dong di laci meja dong..!" pintanya.
Kuberikan sebungkus rokok itu padanya dan dia menyulutnya sebatang.
"Masih melek juga lu Sin, ngga ngantuk nih..?" tanyaku.
"Ya gimana bisa ngatuk, hampir seharian di ranjang melulu kok, lu kok baru dateng sekarang sih, gua BT banget nih, acara TV-nya pada garing lagi, uuhh.., sebel..!" gerutunya.
"Kan gua sibuk Sin, temen-temen lain kan tadi juga banyak yang main ke sini kan."
"Iya, tapi kan sepi kalo ngga ada lu buat temen ribut." jawabnya sambil tersenyum nakal.

Kami akhirnya ngerumpi macam-macam sampai tidak terasa sudah lebih dari jam 10 malam, dan kulihat Sinta sudah menghabiskan 2 batang rokok.
Sebelum dia hendak mengambil kotak rokok untuk mencabut batang yang ketiga, aku mendahuluinya dan berkata, "Udah Sin, ini udah ketiga loh, lagi sakit gini kok makan asap terus sih, mau cepet mati yah..?"
"Aahh.., kok gitu sih, gua di rumah sakit ngga boleh ngerokok nih, kembaliin sini..!"
"Jangan ah Sin, ngga baik, lu kan belum sembuh betul..!" kataku sambil mengoper ke tangan yang satu lagi, sehingga kotak rokok itu makin menjauh darinya.
Sinta hanya dapat menggapai-gapai karena kakinya masih pincang sebelah.

"Iihh.., yang lagi sakit kan kaki gua, ngga nyambung lu ah, mana sini..!"
"Udah ah, besok aja lagi, udah segitu banyak masa ngga cukup sih..?"
Sinta lalu melipat tangan dan membuang muka terhadapku, "Jahat..! Lu beraninya cuma sama cewek pincang, sebel..!"
Nah, keluar deh salah satu 'jurus'-nya kalau keinginannya tidak dituruti, paling pusing deh kalau dia sudah begini.

"Alahh, udahlah Sin, gua sih udah ngga mempan sama cara gituan, ini kan buat kebaikan lu juga." bujukku mencoba menenangkannya.
"Eeemmhh.. Leo jahat, awas loh, pokoknya ntar gua bilangin ke Vivi lu dulu pernah gituin gua sama Ci Diana..!" ancamnya, lalu dia berbaring dan menarik selimut sampai menutupi kepalanya.
"Aduh, Sin jangan gitu dong, kita damai aja deh ya..?" kataku sambil menggoyangkan badannya.
Tapi dia tetap diam di balik selimut, maka kudekatkan posisiku dengannya dan mengguncang-guncangkan badannya lebih keras.

"Sin.., Sin..! Wah, marah euy, sori dong Sin, gua kan cuma main-main aja, gitu aja kok marah sih..!"
Tiba-tiba dia membuka selimut dan menyambar tanganku yang memegang rokoknya. Aku yang tidak menduga gerakannya tentu saja kaget dan kehilangan keseimbangan, sehingga ikut tertarik ke depan. Dengan tidak sengaja aku menyentuh payudaranya, namun anehnya kami malahan terdiam dalam posisi itu. Wajahku hanya 5 cm dari wajahnya, aku dapat merasakan di balik dasternya itu dia tidak memakai BH. Wajah Sinta memerah dan memelototiku, tapi entah karena kekuatan apa, wajah kami makin mendekat saja seperti magnet.

Tanpa pikir panjang lagi, langsung kulumat bibir Sinta yang indah itu. Kami berciuman mesra, kini mulut kami mulai membuka dan beradu lidah. Sinta begitu agresif memainkan lidahnya di mulutku, teknik berciumannya sangat profesional, maklum walau lebih muda tapi pengalaman sex-nya lebih banyak dariku.

Ciumanku mulai turun ke telinga dan lehernya, sementara tanganku meremas dadanya. Kubuka selimut yang menutupi tubuhnya, lalu kusingkap pakaian tidurnya sehingga tampak kedua belah pahanya yang panjang dan putih mulus dengan kaki kiri yang terbalut perban itu.
"Le.., pintunya, pintunya kunci dulu dong, ntar ada yang tau..!" katanya.
Aku baru sadar dan segera kukunci pintu dan kumatikan lampu kamar dan menyisakan lampu neon 10 watt di dekat ranjang.

Setelah kubuka seluruh pakaianku dan menyisakan CD-ku, kudekati dia yang terbaring pasrah. Aku menaikkan dasternya perlahan-lahan sambil mengelus-elus tubuhnya yang mulus. Sekarang yang tersisa di tubuh Sinta hanya sebuah celana dalam putih tipis yang menampakan bulu-bulu kemaluanya yang lebat. Aku berbaring di sisinya dan memulai seranganku dengan mengecup lembut bibirnya, sementara tanganku mulai merambat ke bawah mengusap-usap kemaluannya yang masih tertutup CD.

Nafas Sinta sudah mulai memburu dan mengeluarkan suara-suara tidak jelas seperti mengigau, mulutku terus turun menuju payudaranya. Puting susunya yang mungil berwarna pink itu kuemut disertai dengan gigitan-gigitan kecil. Di tempat lain, tanganku menyusup ke dalam CD-nya, jari-jariku bermain di vaginanya yang mulai basah. Mula-mula kugosok-gosok dan kupermainkan klistorisnya dengan lembut, sampai tiba-tiba kusodokkan jariku ke dalam liang itu agak keras, sehingga Sinta tersentak dan menjerit kecil.

"Awww.., Leo. Gitu ihh.. ngagetin orang melulu, sebell..!" katanya sambil mencubit dadaku.
Aku tersenyum licik dan berkata, "Apa Sin..? Kaget..? Gimana kalo gini lebih kaget ngga..?"
Habis berkata, aku langsung menusuk-nusukkan jariku dengan cepat pada vaginanya, sehingga dia menggelinjang-gelinjang seperti cacing kepanasan.
"Aahh.. oohh.. Le.. jelek..! Awww.., sebel ihh..!"
Aku tambah bergairah mendengar jeritannya itu, kutambah lagi seranganku dengan mengulum daun telinganya dan sesekali kujilati lubang telinganya. Sinta semakin erat memelukku.
"Le.., oohh.. udah dong.., jangan siksa gua.. ahh..!"

Saat tubuhnya mulai mengejang, aku menghentikan seranganku pada vaginanya dengan maksud mempermainkan nafsunya.
"Yahh.., kok udahan sih, padahal kan bentar lagi..?" protes Sinta dengan nafas masih memburu.
"Hehehe.., sabar Sin, ini baru pemanasan, liat aja nanti..!"
Kukeluarkan tanganku dari celana dalamnya, dan kulihat jari-jariku belepotan cairan bening dari liang kemaluan Sinta. Kuoleskan cairan itu pada payudara kirinya.
"Eemmhh Leo, jorok iihh..!"
Aku tidak perduli omelannya, dan kuteruskan dengan menjilati dadanya yang sudah kuolesi dengan love juice, rasanya memang aneh tapi sungguh nikmat, apalagi bercampur dengan payudara montoknya Sinta, sukar dilukiskan rasanya.

Setelah puas menyusu, aku mengambil posisi berlutut diantara perutnya, dan Sinta yang sudah tahu kemauanku segera bangkit dan duduk di ranjang. Kini batang kemaluanku yang masih terbungkus celana dalam tepat di depan wajah Sinta. Mula-mula dielus-elusnya gundukan keras itu dengan tangan dan pipinya, lalu dibukanya CD-ku hingga menyembullah benda di baliknya yang sudah mencapai ukuran maksimal.
"Ckk.. ck.. ck.. gile, lucky banget tuh si Vivi bisa sering diservis ama 'adek' lu ini, gua paling cuma kalo si Andry pulang aja..," katanya sambil mengelus-elus penisku.

Bibir Sinta mulai turun menuju kedua bola 'pusaka'-ku, dijilati dan diemutnya benda itu. Setiap jengkal kemaluanku tidak luput dari jilatannya, hingga kemaluanku basah kuyup oleh ludahnya, tapi dia belum juga memasukkan penisku ke mulutnya.
"Sin, cepet dong, kok cuma dijilat aja, ngga tahan nih..!" kataku tidak sabar.
"Eeiitt, sabar Le, ini kan baru pemanasan, tunggu dong, kalau makan es krim waktu panas-panas kan harus pelan-pelan baru kerasa enaknya."
Sialan, pinter juga nih anak membalasku tadi, tapi bener juga perkataannya, kalau terlalu buru-buru memang kurang terasa nikmatnya.

Kini diarahkannya penisku ke mulutnya, mula-mula diciumnya kepala kemaluanku, kemudian perlahan-lahan mulut mungilnya mulai membuka, sedikit demi sedikit batangku ditelan sampai menyentuh di tenggorokkannya, sebelum mulai dia melirik padaku dulu dengan tatapan nakalnya. Harus kuakui, sungguh hebat si Sinta ini dalam bercinta, penisku dikulum-kulum dalam mulutnya, divariasikan dengan permainan lidahnya. Terkadang dia juga menjilati lubang kencingku, sehingga aku tidak tahan untuk tidak mendesah.
"Uuuhh.., aakkhh.. edan.. belajar darimana.. lu.. aahh.. Sin..? Enak banget ahh..!"
Tanpa menghiraukan pertanyaanku, dia terus mengkaraoke penisku, kepalanya maju mundur dan sesekali dia melirik wajahku untuk melihat reaksiku.

Dalam waktu kurang dari 15 menit, akhirnya, "Creet.. creet.. creet..!" beberapa kali 'adik'-ku muntah-muntah di mulut Sinta disertai desahan panjangku.
Hebatnya, dia tidak melepaskan penisku dari mulutnya, dia tampak berkonsentrasi menghisap dan menelan habis semua cairan itu. Penisku serasa disedot vacum cleaner saja waktu itu, tidak sedikitpun spermaku menetes keluar dari mulutnya. Baru setelah tidak ada yang muncrat lagi, dia perlahan-lahan melepaskan penisku.
Dia tersenyum padaku dan berkata, "Wah, payah lu, baru sebentar udah ngecret, si Andry aja masih tahan lebih lama dari lu loh..!"
"Habis udah konak banget sih Sin, lagian lu kok karaokenya enak banget, beda sama Vivi dan Ci Diana, swear loh..!"
"Iyalah Le.., Vivi dan Ci Diana kan cewek alim, ngga bandel kaya gua.."

Sinta kembali berbaring, celana dalamnya kulepas dengan hati-hati, terutama saat melewati kaki kirinya, karena takut menyakitinya.
"Sin, jangan terlalu ribut yah, kalo si Thomas dan Ami denger bisa gawat..!" kuperingatkan dia karena posisi kamar ini tidak begitu strategis, sementara Sinta kalau ML ribut banget.
Pantas kalau Andry pulang ke Indonesia, Sinta sering tidak pulang ke kost, rupanya si Andry juga mau cari aman.

Aku mengatur posisi, Sinta berbaring miring dan kaki kanannya kuangkat. Meskipun unvirgin, tapi kemaluannya masih rapat dan kencang (pasti rajin dirawat nih), penisku lumayan susah juga menembus vaginanya, untung ada love juice dan ludah yang melumuri penisku sebagai pelumas. Perlahan-lahan penisku mulai tertanam pada liang itu diiringi desah kenikmatan Sinta. Saat kurasa penisku sudah masuk penuh, kuhentikan sejenak aktivitasku agar Sinta dapat terbiasa dan menikmati dulu.

Sambil kubelai rambutnya, kusentakkan pelan pinggulku, makin lama gerakkanku makin cepat, bahkan sesekali aku melakukan sodokan keras terhadapnya. Sinta menjerit-jerit sambil menggigiti jarinya berusaha agar jeritannya tidak terlalu keras. Hampir setengah jam kami bertahan dengan posisi itu, kurasakan dinding kemaluannya mulai berdenyut-denyut menyebabkan penisku makin tertekan. Tubuhnya meronta-ronta dengan liar, jeritan yang keluar dari mulutnya pun makin histeris. Mendengar rintihan tidak karuan itu, aku makin ganas saja, payudaranya kuremas-remas dengan brutal, sehingga dia makin kesetanan.

"Le.., ahh.. akkhh.. boleh.. ohh.. di dalam.. akhh..!" katanya lirih.
Kami akhirnya mencapai puncak kenikmatan bersama, spermaku tertumpah di rahimnya, sebagian meleleh keluar karena cukup banyak. Kulumat bibirnya agar jeritannya terhambat. Sambil berpelukan dan berciuman, kami menikmati sisa-sisa orgasme. Kulepaskan penisku dari vaginanya, tubuh kami sudah licin dan basah oleh keringat yang membanjir.

Setelah tenagaku pulih, aku menggendong dan mendudukkannya di meja belajar. Sebenarnya aku mau melakukan doggy style, karena Sinta paling enak digarap dengan posisi ini (baca "Hadiah Bagi Pahlawan"). Namun dengan kondisi kaki seperti ini tentu tidak nyaman baginya, maka kugarap dia dengan posisi duduk di meja. Tubuhnya menggelinjang liar di atas meja sampai setumpuk buku di dekatnya berjatuhan ke lantai akibat tersenggol olehnya. Mulutnya juga aktif mengimbangi dengan ciuman dan jilatan baik pada mulut, leher, dan telingaku.

Kali ini aku akhirnya berhasil meng-KO-nya setelah sodokan-sodokan khasku membuatnya orgasme lebih awal dan memintaku berhenti. Namun aku terus menggenjotnya beberapa menit sampai aku mencapai klimaks.
"Ha.. ha.. ha.., akhirnya ngaku kalah juga lu Sin..!" kataku dengan bangga.
"Licik, gua kan masih sakit, tunggu aja kalo gua sembuh nanti Le..!" balasnya.
Walaupun aku menang darinya, namun terus terang aku sendiri merasakan kelelahan yang amat sangat. Butuh waktu dan tenaga extra untuk menaklukkan gadis berpengalaman seperti dia.

Aku menggendongnya kembali ke ranjang, kami berbaring menyamping berhadapan.
Lalu dia tersenyum, sambil mencolek hidungku dia berkata, "Nakal juga yah lu, tega-teganya ngentotin ceweknya sobat sendiri."
"Ah, lu juga Sin, masa cowoknya saudara lu (Sinta dan Vivi masih saudara jauh) juga lu ajak gituan..!" balasku.
"He.. he.. he.. ngga apa-apalah sekali-sekali selingkuh, yang penting kan hati gua tetap buat Andry dan hati lu tetap buat Vivi, ya ngga Le, it just sex, not love..," jawabnya.

Aku mengambil dan mengenakan kembali pakaianku, lalu kubantu dia memakaikan pakaiannya. Waktu sudah menunjukkan lebih dari jam 12 malam.
"Sin, gua mau balik dulu, cepet sembuh yah, bye..," kataku sambil mengecup keningnya.
Sampai di kamar, aku langsung tertidur kelelahan. Lain kali akan kuceritakan pengalaman lain yang tidak kalah menarik, terutama dengan pacarku yang belum kuceritakan sampai sekarang.

TAMAT

Pacarku gadis bule - 1

Namaku Har, aku berumur 34 tahun, statusku sudah punya isteri dengan anak tiga laki-laki semua. Kata teman-teman kuliahku aku memang jantan di ranjang hal ini terbukti bahwa anakku laki-laki semua. Menurut teman-temanku untuk mempunyai anak laki-laki suami harus jantan di ranjang karena sperma calon anak laki-laki akan bertahan hidup bila kemaluan wanita sudah basa atau istilah kasarnya becek dan untuk membuat vagina tersebut basa membutuhkan pemanasan dan permainan sex yang lama kalau tidak anaknya akan menjadi perempuan.

Maka dari itulah teman-temanku bilang bahwa aku jantan walaupun badanku tidak besar dan tinggi. Aku bekerja di salah satu perusahaan ekspedisi tour and travel. Kebetulan setiap summer season banyak bule yang ikut ke program perusahaanku dan banyak sekali. Rata-rata mereka masih mahasiswa yang muda dan cantik yang mayoritas datang dari Inggris dan Amerika.

Pengalamanku ini terjadi ketika tahun 2001 di mana pada musim summer perusahaanku mulai membuka program tour and travelnya. Pada musim itu banyak sekali turis mahasiswa yang datang dari mancanegara yang datang ke lokasi program kami. Lokasi program kami berada di luar pulau Jawa di pulau terpencil yang memang khusus untuk turis tersebut. Pada saat program sedang berjalan akupun berangkat ke lokasi tersebut untuk menjalankan program perusahaanku.

Setelah beberapa minggu aku melaksanakan kegiatan bersama-sama turis tersebut yang kebanyakan wanita muda, cantik dan seksi aku berkenalan dengan salah seorang turis yang sangat cantik dan seksi dengan tubuh besar (sesuai dengan tinggi dan postur tubuhnya) dan tinggi yang bernama Hildy. Sejak perkenalan itu kami sering bercengkerama dan mengobrol dengan akrabnya. Bahkan bila kita bertemu sehari salah satu dari kami akan mencari yang lainnya dan seringkali bila tidak bertemu sehari dia selalu "I miss you".

Hingga pada malam minggu ketika kami sedang berpesta aku dan Hildy mengobrol sambil dia menenggak minuman keras dan bir. Aku sudah lama berhenti minum minuman keras hanya sekali-sekali saja dan malam itu aku hanya minum seteguk dua teguk saja. Ketika malam semakin larut aku berpisah dengan Hildy dan dia bersama lelaki lain yang temanku juga. Sebetulnya aku sangat menginginkan sekali menghabiskan malam itu dengannya dan aku ingin sekali bermain seks dengannya tapi aku masih takut kalau-kalau akan di tolak jadi aku biarkan dia bersama temanku yang memang bule juga.

Karena suasananya begitu ramai dan semua orang sedang bermabuk ria aku melihat Hildypun mabuk berat dan aku perhatikan dia mulai berbuat tak senonoh dengan membuka baju di pantai bersama lelaki tersebut. Tentu saja aku kaget dan langsung menghampiri sambil menegurnya.

"What are you doing with him? you drunk Hildy" aku menegurnya dengan nada agak tinggi.

"What's wrong with me Har? we are just having fun don't worry" Hildy menjawab dengan sedikit kekecewaannya karena aku telah mengganggu kesenangannya.

"No, you cann't do that Hildy that is not good for us and for local community.. so please put on your dress now" aku sedikit memerintah dengan nada yang agak tinggi.

"No Har, we are having fun now and you know, you are annoying me Har"

"I don't care about that, I just want you to put on your dress now and go home if you still do that and please tell him too"

"No!" dia menjawab agak keras dan itu membuatku semakin marah sekali karena dia tidak mau mengikuti saranku. Akhirnya dengan nada yang lebih keras dan kasar aku lontarkan kepada dia dan lelaki tersebut.

"If you wanna fuck with him please! But not in here take him your hut and fuck in there"..

"Why are you so rude Har? I don't like you.. and why are you doing this?" dia mulai marah dan menangis.

Aku tetap bersikeras menyuruhnya berhenti dengan mengancam akan melaporkan kepada ketua kami biar mereka dapat sangsi. Akhirnya lelaki yang bersamanya takut dan pergi, kemudian Hildy mengenakan kembali pakaiannya sambil duduk di tanah dengan masih hanya menggunakan celana dalam. Kemudian aku menasihatinya dan akhirnya dia dapat memahami kenapa aku berbuat seperti itu.

"Tell me Har, why are you doing this to me?" dia masih bertanya dengan pertanyaan yang sama dengan matanya agak sembab karena menangis.

"Because you are my friend and I don't want something happen to you"

"But why?"

"Because I like you" aku spontan menjawa pertanyaannya karena di desak terus.

"I like you too Har" aku senang dengan jawabannya dan tanpa diduga Hildy langsung mencium bibirku.

Aku agak gelagapan karena tidak menyangka akan dicium tapi naluri lelakiku langsung muncul dan akupun membalas ciumannya. Ciuman kami semakin liar dan bernafsu, aku semakin tidak dapat menahan gejolak yang ada dalam diriku. Karena tidak tahan lagi, tanganku langsung bergerilya ke buah dadanya dan kemudian turun ke sela-sela selangkangannya. Aku mainkan lubang kemaluannya dari luar celana dalamnya dan dia membuka kakinya lebar-lebar. Kami masih tetap berciuman dan tanganku masih bermain di daerah selangkangannya. Kurasakan celana dalamnya semakin basah oleh cairan yang terus keluar dari dalam vaginanya, kugesek-gesek terus selangkangannya dan dia semakin mengerang sambil menciumku dengan penuh nafsu.

Birahiku sudah memuncak dan penisku sudah berdiri tegak di balik celanaku. Karena kondisi dan situasi yang tidak memungkinkan karena saat itu kami berciuman di pinggir pantai maka kamipun menghentikan permainan seks kami takut kalau ada orang yang akan melihat perbuatan kami walaupun kita sama-sama sedang berada di puncak birahi tapi kita tahan. Setelah mengobrol beberapa saat kamipun berpisah ke rumah masing-masing dan dia berjanji akan menemuiku besok untuk membicarakan tentang kelakuannya.

Keesokan harinya kamipun bertemu dan aku ajak dia ke rumahku karena aku harus mempersiapkan keperluanku untuk pergi ke pulau lain guna membantu temanku melaksanakan progamku. Di rumahku kami sempat berciuman tapi tidak sampai bermain seks. Aku dan dia berpisah untuk satu hari dan aku merasakan betapa rindunya tidak bertemu dengannya satu hari. Di lokasi baruku aku mencari sesuatu yang menarik untuk dijadikan hadiah dan aku temukan cinderamata yang indah sekali. Setelah satu hari berpisah kamipun bertemu lagi dan aku kaget sekali karena tidak biasanya sikap Hildy berubah. Aku terus berfikir apa gerangan yang terjadi sehingga sikapnya berubah seperti itu. Ternyata aku baru tahu bahwa ada seseorang telah membocorkan statusku kepadanya dan aku tidak dapat mengelak lagi ketika dia menanyakan itu. Karena takut kehilangannya akupun berbohong bahwa aku dan isteriku sedang pisah tapi belum bercerai dan dia agak lega walaupun sedikit kecewa karena aku tidak bilang sebelumnya.

Setelah keadaan tenang akhirnya aku sampaikan bahwa aku memiliki sebuah hadiah untuknya dan dia boleh mengambilnya kapan saja di rumahku. Ketika malam tiba, Hildy menghampiriku dan bilang kalau dia ingin mengambil hadiahnya malam itu. Kemudian kami pulang sama-sama ke rumahku.

Hildy sangat senang sekali dengan hadiah yang aku berikan dan dia memberikan kecupan dan ciuman. Tentu saja aku langsung menyambut ciumannya dan kamipun bergumul sambil berciuman di atas ranjangku. Nafasku dan nafasnya semakin memburu, dengan erangan-erangannya yang membuatku semakin bernafsu. Kumainkan lidahku di dalam mulutnya dan diapun memainkan lidahnya. Kami saling berpagut, tanganku tidak tinggal diam, tanganku merayap ke balik BHnya dan payudaranya yang putih mulus serta besar kuremas-remas sambil putingnya kupelintir-pelintir erangan Hildy semakin keras.

Aku buka bajuku dan Hildypun membuka bajunya hingga kami telanjang bulat. Aku cium lagi bibirnya, lalu ke bagian leher dan terus ke dua gundukan susunya yang aduhai. kuhisap pentilnya yang berwarna coklat muda aga kemerah-merahan, semakin kupercepat hisapan dan permainan lidahku di pentilnya erangan Hildy semakin keras. Sambil masih mengisap pentilnya tanganku bergerilya di sela-sela selangkangannya. Kurasakan rambut-rambut halus yang lebat di sekitar lubang kewanitaanya membuatku semakin bernafsu. Kuelus-elus rambut di vaginanya lalu jari-jariku memainkan klitorisnya yang sudah basah sejak dari tadi. Mulutku masih terus bermain di kedua susunya saling bergantian dan jari tengah tangan kanan terus memainkan klitorisnya sambil sekali-kali masuk ke dalam liang kenikmatan tersebut. Aku semakin dalam memasukkan jari tengahku ke dalam lubang kenikmatan tersebut. Kulihat Hildy semakin liar dan kepalanya ke kanan dan ke kiri menahan nikmatnya sensasi yang aku berikan.

"Oohh Har.. yes.. oh God.. yes.. yes good.. keep going.. Har" erangannya semakin menjadi-jadi di sela-sela kenikmatan yang aku berikan.

Kulihat cairan di dalam vaginanya semakin banyak, lalu aku hentikan permainan jari dan mulutku di kedua susunya. Kemudian aku berpindah ke bawah kakinya dan berjongkok, tanpa aku perintah kakinya telah dibuka lebar-lebar sehingga belahan vaginanya dapat dengan jelas kulihat dengan bulu-bulunya yang agak pirang. Di bagian selangkangan sebelah kiri persis di atas vaginanya aku melihat sebuah tato bergambar burung dara yang berwarna.

Kuperhatikan tato tersebut dan aku akui dengan tato tersebut gairahku nafsuku bertambah dan tato itu menambah keseksian tubuhnya terutama bagian daerah kewanitaannya. Kukecup tato itu lalu aku turun dan kecium setiap jengkal di daerah sensitif tersebut, bulu-bulunya kugesek-gesekkan di mukaku. Lalu ciumanku turun ke bawah lagi dan kusingkapkan bulu-bulunya dan lidahku mulai menelusuri daerah kewanitaanya dari atas hingga lidahku berhenti di klitorisnya. Sambil kuperhatikan wajahnya yang cantik itu kujilati dan kusedot klitorisnya yang berwarna kemerah-merahan karena kulitnya yang bule.

Nafas Hildy semakin memburu dan sesekali menjerit karena tidak menahan nikmatnya ketika klitorisnya kusedot. Mata Hildy masih tertutup dengan mulut yang terbuka sambil mengeluarkan erangan. Kini lidahku turun lagi ke lubang vaginanya, lalu kubuka lubang surga tersebut dengan kedua tanganku, maka aku semakin dapat melihat dengan jelas isi dalam gua tersebut. Setelah kuperhatikan kumasukkan lidahku ke lubang tersebut dan jari tanganku yang lain memainkan klitorisnya. Kedua kaki Hildy menegang seakan-akan ingin merapatkan kakinya. Sambil kutahan dengan kedua tanganku agar kedua kakinya tidak merapat kuhisap dan kutusuk terus lubang vaginanya dengan lidahku.

"Oohh.. Har.. keep going.. oohh harder.. faster baby.. oohh.. keep going.. ohh yess.. i am cumming.. am cumming.. oohh yess..!"

Untuk pertama kalinya Hildy mengalami orgasme dengan kakinya yang menegang dan lidahku masih terus menjilati lubang surganya. Kurasakan cairan terus keluar dari vaginanya, aku menikmati harumnya cairan tersebut dan tak henti-hentinya kujilat terus cairan tersebut.

Senjata rudalku sudah sangat tegang dan kurasakan lubang vagina Hildy sudah basah sekali oleh cairan dan ludahku. Tiba-tiba Hildy menarik badanku untuk berada di atas tubuhnya, lalu akupun menuruti apa maunya Hildy. Aku beranjak ke posisi di atas tubuhnya kemudian aku cium lagi bibirnya dan dengan bernafsunya Hildy membalas ciumanku bahkan lidahnya yang mengambil alih kendali di dalam mulutku. Sambil masih berciuman kuarahkan rudalku yang sudah memakai sarung kondom dengan tanganku untuk memasuki lubang surganya. Tanpa mengalami kesulitan rudalku dengan mudahnya memasuki lubang vaginanya hal ini karena memang vagina Hildy sudah basah sekali.

Kurasakan tulang panggul di dalam vaginanya menjepit penisku dan serasa lubang vaginanya agak sempit. Lalu kugenjot pantatku dengan irama naik turun dan setiap kali kumasukkan rudalku ke dalam vaginanya kurasakan gesekan tulang panggul di dinding vaginanya yang membuat batang penisku semakin menegang dan mengeras dan sensasi yang kurasakanpun semakin dasyat. Nafas Hildy semakin memburu dengan erangan yang halus kuperhatikan wajahnya memberikan ekspresi yang sedang kenikmatan. Matanya terkadang ditutup dan dibuka dengan kepalanya yang bergoyang ke kiri dan ke kanan merasakan nikmatnya rudalku yang keluar masuk vaginanya.

Mata Hildy terbuka dan menatapku tajam sambil mulutnya mengeluarkan erangan kecil, "Ohh yess.. ohh you bastard.. you make me crazy, Har.. ohh yes keep going.. harder.. ohh.." Mata kami masih saling berpandangan dan tubuh Hildy menegang, dia merasakan orgasme yang kedua.

Aku masih terus menusuk vaginanya yang sudah basah sekali oleh cairannya. Rudalku masih terus melakukan irama keluar masuk lubang vaginanya. Lama kami bermain seks saat itu hingga Hildy merasakan orgasme 4 kali dan 1 kali sewaktu pemanasan. Hingga akhirnya jebol juga pertahananku di ronde ke 4. Kamipun berpelukan dan berciuman lagi sambil merasakan nikmatnya bersetubuh yang cukup lama dan memuaskan. Aku masih memeluk Hildy dengan keadaan kami masih telanjang dia berkata:

"You know Har, I've never met a guy as strong as you before..you are so strong and I really satisfied. It is crazy because I've never get 5 times orgams, it's really really great".

Aku merasa bangga dan tersanjung dengan pujiannya itu. Ternyata walaupun badanku tidak tinggi besar dan dengan penisku yang standar orang Indonesia bisa memuaskan gadis bule yang badannya jauh lebih besar.

"Really..? I am glad to hear that Hildy.. I like to have a sex with as well.. it is so fucking great".

"Western man never give me cumm as many as you did Har.. mostly, they are selfish and they don't care about us whether we satisfy or not. They just think their satisfaction, but with you I feel new sensation cause you are not selfish and you can make me satisfy with many cums.. he he."

"Thanks Hildy.., I satisfied as well and you have a great pussy and I like your boobs as well.. but the most I like you is you are so pretty and you know your tatoo it is great it makes me passion everytime I look it he he.."

Dengan bangga akupun memberinya pujian. Kami sama-sama kecapaian dan masih saling berpelukan dan terkadang berciuman kamipun tidur dengan tubuh masih telanjang bulat. Hingga akhirnya pada tengah malam dan pagi harinya kami melakukannya lagi berulang-ulang. Malam itu aku bermain sex 4 kali dengannya dan ronde yang kita lewati sampai 5-6 ronde.

Bersambung . . . .