Kamis, 30 Desember 2010

Rumah kontrakan

Namaku Dewi. Tiga tahun yang lalu waktu aku masih kuliah di Jakarta, aku tinggal di rumah kontrakan dengan tiga teman lainnya. Di kontrakan itu kami tinggal berempat, aku dan Wendy teman kampusku serta dua pria anak kampusku juga walaupun mereka berbeda jurusan. Sebelumnya aku tinggal di tempat kos, juga di daerah Tomang, dan Wendy yang mengajakku untuk mencari rumah kontrakan di dekat kampus. Setelah dipikir-pikir memang lebih enak untuk tinggal di rumah kontrakan karena yang tinggal tidak terlalu banyak seperti tempat kos pada umumnya dan juga biayanya tidak jauh beda karena semua pengeluaran bisa dibagi berempat.

Sebagai gambaran, waktu itu usiaku masih 20 tahun. Badanku tidak terlalu tinggi, 162 cm, tapi buah dadaku besar (36C) sehingga aku sering pakai baju yang longgar supaya tidak terlalu menarik perhatian. Menurutku wajahku tidak cantik-cantik amat, tapi memang tidak sedikit pria yang naksir aku, apalagi saat itu aku belum punya cowok. Waktu di SMU sampai tingkat pertama aku pernah pacaran tapi kemudian mantan cowokku ketahuan menyeleweng walaupun waktu itu aku sudah menyerahkan segalanya ke dia. Perlu waktu cukup lama bagi aku untuk mengobati sakit hatiku padanya.

Salah satu pria yang tinggal di kosku (sebut saja namanya Andi) sangat baik padaku dan aku punya perasaan kalau dia naksir aku. Andi selalu memberikan perhatian yang lebih kepadaku dan sering membawakan makan malam untukku. Sebenarnya aku juga suka padanya, tapi karena dia sendiri tidak pernah mengungkapkan perasaannya kepadaku, aku bersikap biasa-biasa saja padanya. Kami sudah beberapa kali pergi nonton atau makan berdua tapi Andi belum juga berani bilang atau memintaku untuk jadi pacarnya.

Pada saat libur lebaran, aku memutuskan untuk tidak pulang ke kota asalku di Sumatra Selatan. Andi juga tetap tinggal di Jakarta sedangkan kedua temanku yang lain pulang. Pembantu juga pulang kampung, jadi tinggal aku dan Andi saja yang tinggal di rumah. Karena tidak ada pembantu, aku terpaksa melakukan pekerjaan rumah seperti mencuci pakaian ataupun membersihkan rumah. Pada hari Minggu pagi sekitar jam 9 aku ke halaman belakang rumah untuk mencuci pakaianku. Biasanya kalau hari Minggu pagi Andi main tennis dengan teman-temannya sehingga waktu itu aku pikir tidak ada siapa-siapa di rumah.

Aku masih mengenakan baju tidurku, daster berwarna biru muda yang pendek dan tidak mengenakan bra. Biasanya aku selalu mengenakan bra bila keluar kamar, tapi pagi itu aku cuek saja karena aku pikir aku sendirian di rumah. Waktu mencuci pakaian aku duduk di kursi pendek. Rokku aku singkapkan dan kedua kakiku aku buka lebar agar mudah untuk mencuci pakaian. Arah dudukku menghadap jendela kamar Andi dan dari arah jendela, pahaku dan celana dalamku bisa terlihat jelas. Badanku juga berkali-kali membungkuk dan bila aku membungkuk buah dadaku sesekali terlihat karena potongan dada dasterku cukup rendah. Apalagi posisi dudukku dekat dengan jendela kamar Andi.

Waktu itu aku benar-benar tidak tahu kalau Andi ternyata tidak main tennis dan masih ada di kamarnya. Setelah aku hampir selesai mencuci pakaian aku menengok ke arah kamar Andi dan sangat kaget kalau ternyata dia berdiri di kamarnya sambil memandangi aku dari jendela. Memang aku tidak bisa melihat dia dengan jelas karena di luar terang sedangkan kamar Andi cukup gelap, apalagi masih ada kaca yang membatasi dia dengan aku. Aku sungguh terperanjat menyadari posisi dudukku dan bahwa Andi sudah berdiri di situ dari tadi sambil melihatku. Cepat-cepat aku atur posisi dudukku dan membetulkan posisi rokku. Andi kemudian keluar dan berjalan ke arahku. Dia minta maaf kalau dari tadi dia diam saja dan tidak kasih tahu aku kalau dia ada di kamar. Sambil menengok ke arah celananya dia juga bilang kalau penisnya berdiri karena terangsang melihatku. Mendengar itu mukaku langsung merah karena malu.

Siang harinya Andi mengajakku keluar makan dan untuk pertama kalinya dia mengungkapkan perasaannya kepadaku. Aku mengiakan dan memang sudah cukup lama aku menanti saat itu. Kami kemudian pergi nonton di Plaza Senayan dan begitu sampai rumah petang harinya Andi untuk pertama kalinya mencium aku. Aku balas ciumannya dan kemudian dia menarikku ke kamarnya. Kami berciuman sesaat dan tangannya mulai nakal dan menggerayangi buah dadaku walaupun aku masih mengenakan baju lengkap. Andi kemudian mengajakku ke kamar mandi. Aku bilang kalau aku malu dan tidak mau mandi bersama dia. Tapi kemudian dia menarikku ke kamar mandi dan kami kembali berciuman hebat.

Tangannya mengambil air di gayung tanpa sepengetahuanku dan tiba-tiba menyiramkan air ke kepalaku. Aku kaget setengah mati, tapi kemudian tertawa juga. Baju yang aku kenakan basah kuyup. Waktu itu aku mengenakan kemeja putih lengan panjang dan celana jeans. Walaupun masih mengenakan bra, buah dadaku tercetak jelas di balik kemejaku yang basah kuyup. Andi kemudian mundur ke arah dinding dan memintaku untuk melepaskan semua pakaianku.

Tidak tahu apa yang merasuki aku, waktu itu aku menuruti saja apa yang dia minta. Perlahan-lahan aku buka semua kancing bajuku dan setelah terbuka, kemejaku aku lempar ke lantai kamar mandi. Kemudian aku mulai melepaskan celana jeansku sehingga aku berdiri di hadapannya dengan hanya mengenakan celana dalam dan bra. Andi bilang kalau buah dadaku ternyata lebih besar dari apa yang dia pikir selama ini. Kemudian Andi mengambil air lagi di gayung dan mengguyurkannya ke badanku. Celana dalamku langsung basah kuyup dan bulu kemaluannku tercetak jelas di balik celana dalamku yang basah. Aku langsung bereaksi menutupi kemaluanku dengan tanganku sambil tangan satunya menutupi buah dada dan kedua putingku yang sekarang juga tampak samar-samar karena braku juga basah.

Andi hanya memandangi aku dan memintaku untuk melepaskan semua yang aku kenakan. Seperti kena sihir aku membalikkan badan dan melepaskan bra dan celana dalamku. Kemudian aku berbalik lagi dengan posisi tangan kanan di buah dadaku dan tangan kiri menutupi kemaluanku. Aku hanya berdiri menunduk dengan perasaan malu luar biasa karena baru pertama kali itu aku telanjang di depan Andi. Andi memintaku untuk menurunkan kedua tanganku ke samping dan masih dengan menunduk kedua tanganku aku turunkan perlahan-lahan. Badanku gemetar hebat karena malu dan kini aku berdiri telanjang bulat di hadapan Andi.

Buah dada dan putingku yang berwarna kecoklatan tidak ditutupi apa-apa lagi, juga kemaluanku yang ditumbuhi rambut cukup lebat. Andi masih berdiri menyender di dinding kamar mandi dengan baju lengkap dan terus memandangi aku sambil bilang kalau aku seksi. Lama kelamaan rasa maluku mulai hilang dan aku beranikan diri melihat ke arahnya. Andi lalu juga melepaskan semua pakaiannya dan dia berdiri di hadapanku dengan penis yang tegang dan mengarah ke atas.

Andi kemudian menghampiriku dan kembali mencumbuiku. Ciumannya mulai turun ke buah dadaku dan Andi lalu menghisap dan menjilati putingku. Memang itu adalah titik kelemahanku. Bila putingku dijilat atau dihisap, aku pasti langsung lupa daratan. Aku mulai mendesah-desah dan Andi semakin bernafsu menjilati putingku sambil tangannya turun dan memainkan clitorisku. Vaginaku mulai basah dan kedua kakiku aku buka lebih lebar agar Andi bisa memainkan clitorisku lebih bebas lagi. Aku sudah sangat terangsang ketika Andi mengajakku mandi.

Dia mengguyur badanku dengan air lagi berkali-kali dan kami mulai menyabuni satu sama lain. Andi mulai dengan buah dadaku, punggungku, pantatku dan kemudian ke selangkanganku. Kakiku aku buka lebih lebar lagi dan lututku aku tekuk sedikit. Sambil menciumiku, Andi terus menyabuni vagina dan klitorisku. Bibir vaginaku dibuka sedikit olehnya dan kemudian dia mulai menyabuni bagian dalam vaginaku. Andi melakukannya dengan lembut sehingga aku tidak merasa sakit atau perih. Setelah itu giliran aku yang menyabuni dia. Selangkangannya aku sabuni, juga penisnya yang masih berdiri tegak. Aku tahu Andi menikmati itu karena dia tidak mau aku berhenti. Kira-kira lima menit kemudian kami mengguyur badan kami yang masih bersabun dan lalu mengeringkan badan dengan handuk.

Andi kemudian memintaku berbaring di ranjangnya. Aku berjalan ke ranjangnya dan tiduran telentang menghadap Andi yang berdiri di depan ranjangnya. Lama dia memandangi aku sampai kemudian menyuruhku membuka kedua kakiku. Aku sudah sangat terangsang dan aku turuti permintaannya. Kedua kakiku aku buka lebar, kedua tanganku aku angkat di atas kepala dan aku biarkan Andi menikmati tubuh telanjangku. Andi kemudian berdiri di atas lututnya di sisi ranjang dan menarik badanku ke arahnya. Sekarang pinggulku persis di sisi ranjang dan Andi memegang kedua lututku.

Kedua kakiku dia buka lebar-lebar dan Andi mulai menjilati selangkanganku, dimulai dari pahaku bagian dalam. Andi kemudian menjilati bibir vaginaku. Aku sudah sangat terangsang dan vaginaku basah. Sambil memejamkan mata aku terus mendesah hebat, apalagi setelah Andi mulai menjilati klitorisku. Mendengar desahanku, Andi semakin bernafsu dan sekarang dia membuka bibir vaginaku dan mulai menjilatiku dari arah bawah sampai klitorisku. Katanya cairan vaginaku sedikit asin tapi tidak berbau sama sekali. Memang aku sangat hati-hati untuk menjaga kebersihan vaginaku. Andi terus menjilatiku sampai aku orgasme. Setelah aku orgasme, Andi berdiri dan dengan perlahan-lahan memasukkan penisnya ke vaginaku dan mulai menggoyangkan pinggulnya maju mundur. Rasanya sungguh nikmat dan menurutku bercinta dengan Andi lebih enak dibandingkan dengan pacarku yang dulu karena dia sangat berhati-hati untuk tidak menyakitiku.

Beberapa menit kemudian Andi memintaku untuk berubah posisi sehingga aku sekarang duduk di atas dia. Perlahan-lahan aku masukkan kembali penisnya ke vaginaku dan aku mulai menggoyangkan pinggulku di atas dia. Kedua tanganku aku angkat ke atas dan tangan Andi mulai meremas-remas dan memainkan buah dadaku. Andi bilang kalau buah dadaku besar dan kenyal. Aku terus menggoyangkan pinggulku, ke depan belakang dan juga naik turun sampai aku orgasme untuk kedua kalinya. Tidak lama kemudian Andi bilang kalau dia sudah mau keluar dan cepat-cepat aku lepaskan penisnya dari dalam vaginaku. Waktu itu kami tidak siap dengan kondom dan aku tidak mau sampai hamil, jadi terpaksa aku harus cepat-cepat lepaskan.

Kemudian aku pegang penisnya dan mulai mengocok-ngocok penisnya sampai Andi orgasme. Spermanya keluar banyak sekali sampai muncrat ke leher dan dadaku. Setelah orgasme Andi terlihat lelah dan kemudian aku peluk dia dengan erat. Kami berpelukan cukup lama dan baru setelah itu ke kamar mandi lagi untuk membersihkan badan kami. Apa yang baru kami lakukan benar-benar pengalaman yang tidak terlupakan. Malam itu aku tidur di kamar Andi setelah kembali bercinta dengan berbagai posisi sebelum tidur. Keesokan harinya kami berdua tidak keluar rumah dan menghabiskan waktu untuk bercinta atau bermalas-malasan di kamar. Selama beberapa hari di rumah berdua, Andi tidak membolehkan aku untuk mengenakan pakaian. Dengan tanpa mengenakan apa-apa kami melakukan berbagai aktivitas seperti memasak, mencuci pakaian, membersihkan rumah dan nonton TV. Awal-awalnya aku masih merasa aneh berjalan-jalan di sekitar rumah tanpa pakaian, tapi lama-lama aku menikmati juga kebebasan itu. Aktivitas-aktivitas gila itu harus kami hentikan setelah pembantu dan kedua teman kontrakanku kembali ke Jakarta.

Hubunganku dengan Andi berlanjut sampai kuliah kami selesai. Selesai kuliah Andi kembali ke Surabaya untuk membantu usaha ayahnya dan aku sendiri kerja di Jakarta. Setahun pertama kami masih meneruskan hubungan lewat telpon dan sekali-sekali Andi datang ke Jakarta. Awal tahun ini Andi mulai jarang menelponku dan banyak pikiran negatif berkecamuk di benakku. Karena takut kejadian yang sama menimpaku lagi, aku memutuskan hubungan baik-baik dengan Andi. Aku tidak tahu apakah saat ini Andi sudah punya pacar lagi atau tidak. Terus terang aku tidak mau tahu dan aku hanya mau mengenang saat-saat indahku dengan Andi. Aku yakin satu saat aku pasti akan mendapatkan penggantinya.

Tamat

Saat Ambon berwarna biru

Saat usia TK, aku pernah memergoki kedua orang tuaku 'menunaikan tugas' rumah tangga, karena tempat tidurku hanya terpisah oleh kain gorden dengan kedua orang tuaku. Pada usia SD, hobby mengintip orang mandi telah membakar otakku untuk lebih 'encer'. Sampai kemudian sejak SMP pelajaran 'mempermainkan jari' telah kulampaui dengan penuh keberanian dan kenekadan setiap kunaiki kendaraan umum, gara-gara hobby baruku nonton film biru.

Saat di SMA, seorang teman menertawakan ketololanku karena belum pernah melakukan onani dan hanya mengandalkan mimpi basah sementara adik-adik kelas antri untuk menjadi mangsaku (mengingat saat itu aku aktif sebagai ketua OSIS). Dan akhirnya keperkasaanku terjajal setelah lulus SMA sebagaimana telah kuceritakan di edisi sebelumnya (Daun berembun & Pulau berminyak).

Ketika sekolah di Selandia dan Belanda, pengalamanku bertambah sedikit demi sedikit sampai akhirnya menjadi co-pilot dan berpetualang ke pelosok negeri. Salah satu kisahnya adalah berikut ini.

Ini adalah yang kelima kalinya aku mendapat schedule 5 hari Ambon-Ternate. Kali ini capt. Frank yang hobby bobok masih menjadi bosku, di dampingi seorang pramugari montok bernama yuni dan pramugara gebleg bernama Ardi. Seperti biasa hari pertama adalah hari perkenalan antar crew. Capt. Frank orangnya gempal tapi funky, terkenal jago 'cari' cewek kepulauan di kalangan senior. Ardi seorang pramugara senior yang tak kalah gila dengan para captain 'girang'. Yuni pramugari senior berwajah manis bertubuh montok karena memakai spiral sebagai pengaman kalo terjadi 'insiden'. Sementara aku hanyalah ampas bila dibandingkan mereka bertiga pada saat itu.

Malam kedua setelah last landing, Om Frank kutemui sedang ngobrol dengan petugas restaurant hotel Ambon Manise, sembari menunggu ketiga anak buahnya makan malam bersama.

Lima menit kemudian kedua rekan lainnya menyusul kami. Kami makan malam diselingi gelak tawa sembari ngobrol tentang pengalaman-pengalaman erotis selama tugas terbang, sementara aku cuma menjadi pendengar yang 'memendam' perasaan. Demikian juga schedule hari ketiga. Pada malam keempat nampak kejenuhan mulai menggelitik kami berempat, namun nampaknya si captain dan sang pramugara telah memiliki jam terbang cukup banyak untuk menyelesaikan masalah mereka masing-masing. Yuni nampaknya juga tak berminat untuk merasakan kegerahan mereka berdua, hal ini nampak sekali karena selama tiga hari ini Yuni lebih lengket padaku, maklum dia mending milih sasaran yang lebih 'empuk' kalau terpaksa. Hal ini diperkuat ketika pada malam terakhir (hari kelima) Yuni semakin berani mencari kesempatan ngobrol berdua denganku. Memang aku nggak good looking amat, cuma kalau sudah nggak kuat nahan apa mau di kata, begitulah kira-kira opininya di satu kesempatan kami berdua.

Malam itu, pukul tujuh, Yuni menelepon, katanya ingin ngobrol. Kucari berbagai dalih agar itu tak terjadi. Yuni memanggilku ke kamarnya, biar lebih enak ngobrolnya. Karena aku tidak mau dimasukkan ke daftar gosipnya, aku tantangin biar dia ke kamarku. Eh, dasar sudah kebelet kali, Yuni menyambut tantanganku, setelah menutup telepon, dia mengetuk pintu kamarku. Sekarang aku yang panik. Yuni masuk ke kamarku dengan daster mini, kakinya yang mulus terlihat indah. Kemontokannya memang tidak bisa disangkal. Tergoda juga sih.., but prinsip is prinsip.

Kini Yuni di depan mataku, tinggal sontok dan tanpa tawar lagi namun keberuntungan masih di pihakku. Telepon berdering, ternyata co-pil dari pesawat lain yang ternyata temanku, juga nge-RON (Rest Over Night) di tempat yang sama. Namanya Hari.

"Jul.., lagi ngapain lu?"
"Bengong.., kenapa?"
"Bantuin gue dong!"
"Bantuin? emang kenapa?"
Lalu Hari bercerita, katanya saat dia jalan-jalan sempat berkenalan dengan tiga ABG setempat, manis-manis, tapi hari kewalahan mengaturnya. Hari kemudian minta bantuanku untuk menemaninya.
"Thanks god..", batinku karena aku akhirnya punya alasan cabut dari terkaman macan dan dengan sedikit 'speak', aku terlepas dari cengkraman Yuni, yang kemudian kembali ke kamarnya dengan muka di tekuk.

Singkat cerita, kami (aku & Hari) berhasil di kadalin oleh tiga ABG lokal Ambon tapi aku tak terlalu sekecewa Hari yang telah bermimpi sebelum tidur. Sekembali ke hotel kutelepon Yuni, namun dengan suara malas Yuni memaafkanku yang telah meninggalkannya dalam keadaan horny tadi. Yah, padahal aku sudah sedikit berubah pikiran. Kututup telepon, lalu turun ke bawah hotel, di mana ada bar & karaoke di sana. Kupikir ada baiknya melepaskan ketegangan, karena besok hari terakhir di Ambon (setelah itu aku belum pernah ke Ambon lagi hingga sekarang Ambon dilanda tragedi)

Di tempat karaoke, aku datangi bartender yang juga merangkap petugas hotel. Namanya Alex dan kami biasa bertukar cerita tentang kehidupan malam. Menjelang jam dua belas, sudah empat lagu kunyanyikan bergantian dengan pengunjung lainnya. Jam satu, karaoke akan tutup. Akibat minum bir, rasa kantukku telanjur lenyap.

Jam setengah satu Alex mengahampiriku, "Jul".
"Ada apa Lex?"
"Liat cewe sebelah kananmu, tempat duduk paling ujung!"
"Iya, kenapa Lex?", tanyaku setelah melihat seorang wanita bertubuh sintal, berbaju rapi bercelana jeans ketat.
"Katanya, dia tertarik kaos kamu, dia nanya itu kaos joger apa bukan.."
Memang, kebetulan aku memakai kaos joger hijau tua bertuliskan: "Ma'af anu saya cuma 'L' "
"Cakep nggak Lex? dari sini terlalu gelap"
Alex hanya mengankat dua jempolnya. "Kamu kenal Lex?"
"Dia sering ke mari jul.., katanya baru sekali liat kamu, kalo boleh kaosmu mau dia beli, katanya kaos joger cuma ada di Bali.."
"Lah, ntar gua pake apa Lex?"
Alex diam menunggu reaksiku

"Terus bilang apalagi Lex?"
"Dia nanyain nama kamu sama asalmu.. katanya mukamu seperti orang jawa.."
"Kamu kasih tau aku kerja di mana?"
"Beta bilang aku belum kenal juga Jul.."
"Ok.., kali ini mau tolongin aku gak Lex?"
"Pasti Jul, asal jangan lupa temen aja.., apa yang Beta bisa bantu?"
"Tolong kasih nomor kamarku ke dia, suruh dia ambil sendiri kaosnya di kamarku, nggak usah bayar.."
"Oke boss.!"
"Dan.."
"Ada lagi..?"
"Kasih aja nama asliku, tapi bilangin kalo aku gigolo dari Jawa"
"Udah..?"
"Udah itu aja, sekarang aku mau ke kamar dulu, persiapan.."
Alex nyengir, tapi dia paham luar kepala akan maksudku. Setelah meyelipkan beberapa lembar uang tip dan membayar bir, aku kembali ke kamar.

Tiba di kamar, semua perabot yang berhubungan dengan profesiku kumasukkan ke dalam lemari, dari sepatu, koper, topi, dasi, ID.., pokoknya ruangan kurapikan dengan kilat agar terkesan aku sedang berlibur di Ambon.

Ternyata dugaanku benar, telepon berdering. Setelah kuangkat terdengar suara merdu seorang wanita.
"Kaosnya udah dibungkus Dik..?"
"Eh.., udah Mbak.., kirain nggak beneran..", jawabku menangkap isyaratnya.
"Kamar 306 kan?"
"Betul Mbak.."
"Saya ke sana?"
"Saya tunggu Mbak.."
"Krekk!", telepon ditutup. Dag.., dig.., dug juga aku menunggu saking tegangnya. Sengaja kubuka pintu sedikit, tak sampai 2 menit, pintu kamarku terbuka dengan pelan. Kemudian nampak seraut wajah cantik melongok kamarku.

"306?"
"Masuk aja Mbak.."
Wanita cantik berumur sekitar 28 itu masuk. Rambutnya dipotong saggy, lurus hitam sepundak, matanya sendu sedikit kubil, hidungnya bangir, mulutnya mungil indah, lehernya jenjang, kulitnya putih, dadanya nampak penuh, sekitar 36B. Tubuhnya indah sekali deh, pinggangnya ramping, kakinya indah.

Sejenak aku tercekat, ada sedikit sesal jika membohongi manusia secantik ini ada juga remang di bagian belakang leherku.
"Jangan-jangan bukan manusia..", pikirku.
"Halo..?", suaranya menyadarkanku.
"Eh.., ng.., iya Mbak.., ini..", jawabku agak parau sambil menunjuk ke arah bungkusan kaos joger.
"Kepalang tanggung", begitu pikirku pada akhirnya.
"Nova.."
"Lina.."
Tangan lembutnya menyambut tanganku yang mulai dingin.

"Duduk dulu Mbak..", kataku sok santai sambil melangkah ke arah kamar mandi.
Di kamar mandi aku menenangkan diri. Kutarik napas dalam-dalam.
"Sabar Jul..", begitulah kira-kira kata hatiku.

Sekitar dua menit kemudian darahku sudah mengalir lebih tenang. Ketika keluar dari kamar mandi, Lina sedang menelepon. Lina menoleh, menutup telepon dan tersenyum.
"Siapa Lin?"
"Ngga ada suara, telepon kaleng kali"
Aku tersenyum kecut, "wah pasti si Yuni", pikirku.
"Udah makan?"
Lina mengangguk, kuambil dua kaleng green sand dari kulkas kecil, dan kusodorkan rokok A mild menthol. Lina mengambil sebatang rokok, dan langsung menyalakannya. Selanjutnya, kami bercerita tentang pengalaman kami. Ternyata Lina adalah seorang wanita panggilan khusus tamu penting hotel. Tarifnya lumayan tinggi meski masa itu belum jaman likuidasi. Lina bercerai di usia 22 dengan satu anak laki-laki berusia tiga tahun, keturunan China campur Manado. Malam ini kebetulan tidak ada "tamu penting" katanya. Lalu Lina bercerita tentang riwayatnya mencari nafkah over night seperti ini.

Untuk mengimbanginya, aku mengarang cerita tentang seorang gigolo muda yang belajar memulai profesinya di Bali, yaitu aku sendiri. Kuceritakan saat itu aku baru berlibur ke Ambon sekalian ke rumah teman lama. Setahuku, Lina mengajak bertukar cerita karena telah diberitahu oleh Alex bahwa aku seorang gigolo.

"Nov, aku nunggu pagi di sini ya?!"
"Tenang aja Lin.., anggap aja aku pacarmu.."
Lina mecibir mendengar jawabanku.
"Kalau cape tiduran aja Lin.."
"Kamu aja Nov, tanggung udah jam tiga, jam lima aku pulang kok.."
Aku tersenyum, sekarang aku melangkah ke arah tempat tidur, "Ya udah, aku aja yang selonjorin kaki, sory ya aku duduk di tempat tidur".
Lina tersenyum lalu menunduk. Kulihat pipinya memerah. Kugeser dudukku, kami saling berpandang sejenak, lalu kuberi isyarat dengan mata agar Lina duduk di sebelahku. Dengan pelan Lina beranjak ke arahku. Mukanya makin memerah, menambah debaran di hatiku.

Tiba-tiba dengan tak kuduga Lina melepaskan bajunya, "Takut kusut kalo pulang Nov.."
Kututupi mata takjubku akan keindahan tubuh bagian atasnya yang kini hanya mengenakan BH hitam tipis. Tampak dua belahan itu tak tertampung dengan sempurna dan sedikit menyembul di sana sini. Lina masih menunduk saat sisi pantatnya menyenggol pinggangku.
"Ada yang lain lagi yang kau pikirkan..?", tanyaku agak bergetar.
Lina menggeleng lembut.
"Apakah pikiran kita sama?"

Kali ini Lina mengangkat wajahnya mencoba menatapku. Matanya.., indah sekali. Kudekatkan wajahku perlahan, mataku tak pernah lepas dari matanya. Lina hanya memiringkan sedikit kepalanya. Bibir kami saling menyentuh, melebur dengan lembut lalu menghangat. Kuraih tangan Lina, kurangkulkan ke leherku. Bibir Lina semakin hangat, kuraih pinggang Lina, kutarik sedikit ke bawah hingga rebah tanpa melepaskan pagutan kami. Kini bibir Lina semakin aktif, kulepaskan pagutanku.., Lina terkejut lalu menatapku. Kusambut lagi dengan ciuman yang lebih menggelora. Lidah kami bergelut dan menari di dalam.

Saat panas mulai hinggap, kutarik tubuhnya dengan pelan hingga Lina duduk di pangkuanku. Kini Lina yang melepaskan ciumannya terlebih dahulu, matanya terbalik memutih lalu kepalanya mendongak penuh. Dengan cepat kusambut leher jenjangnya, putih dan harum. Kujilati dengan nafas agak memburu.

Lina melenguh, badannya menggelinjang, jari-jari tanganku di punggungnya mulai mencari tali pengikat BH-nya.., dan berhasil.., kini permainan benar-benar dimulai. Sambil mengatur nafas jilatanku menurun ke arah dadanya, lidahku berputar-putar di sekitar putingnya yang pink kehitaman. Tubuh Lina bagai menari di pangkuanku, pantatnya mulai bergoyang dengan liar sampai akhirnya, pertahanannya bobol saat lidahku berekreasi di putingnya, menekan, memutar, menghisap, menarik-narik kecil puting indahnya.

Tiba-tiba dengan cepat Lina mendorong dadaku dengan kuat, aku terkejut. Kini posisiku telentang. Lina di atasku, sekarang matanya tak sendu lagi, dengan agak kasar Lina menarik kaosku ke atas. Setelah terlepas, lidahnya langsung memburu puting susuku yang mungil, menjilati dadaku yang agak kerempeng, menjilat-jilat seputar pusarku. Tanganku tak bisa kugerakkan dengan leluasa karena kedua tangan Lina mencengkeramnya bagai sedang memperkosa.

"Ssst.., jangan bergerak dulu..", begitu bisiknya.
Kemudian Lina berdiri di tempat tidur, dengan agak terburu dia loloskan celana jeans ketatnya. Sengaja mataku agak kusipitkan agar tak terlihat terlalu terpesona akan keindahan tubuhnya, dan yang tak kalah indah adalah momen saat celana dalam hitamnya diturunkan. Striptease di manapun akan kalah dengan apa yang kulihat saat itu.

Lina jongkok, kini dengan pelan, layaknya memang telah berjam terbang tinggi, Lina menarik ritsluitingku dengan pelan, namun sigap sekali saat menarik lepas blue jeansku. Nampak sekilas kilatan matanya yang cerah saat melihat apa yang ada di balik GTman-ku Dilepaskannya CD-ku sebatas paha dan diarahkannya ke arah mulut untuk gerakan wajib BF. Bagaikan mengulum pindy pop ukuran jumbo, Lina membuat mataku kini terbalik memutih.

Lina mengurut-urut kepala penisku dengan bibirnya. (yang aku heran, bibirnya tipis, tapi rasanya tebal bukan main). Belum puas memperlakukan jagoanku bagai ice cream, kini Lina menyedotnya, tak sekedar menghisap lagi, sampai akhirnya mulutnya penuh dengan air maniku. Lina menelannya lalu membersihkan mulutnya.

Kini giliranku. Tanpa skenario, Lina telah merebahkan tubuhnya. Kuraba pahanya, kujilati dengkulnya, kubalik tubuhnya, kutarik sedikit pinggangnya hingga menungging lalu kuciumi pantatnya. Lina terus menggelinjang, lenguhannya menambah semangat juangku, kedua jempolku membuka belahan pantatnya dan kuciumi dengan teratur dari paha menuju ke arah pantatnya lalu sampai ke duburnya dan kujilati duburnya.

Lina mengerang beberapa kali, kualihkan tanganku ke vaginanya, kuelus-elus sambil menjilati lubang anusnya yang sangat bersih. Lina membalikkan tubuhnya, rambutku dijambak, ditarik ke arah vaginanya. Geliatnya berhenti sejenak saat mulutku mulai menciumi paha bagian dalamnya, kepalaku dibenamkan ke arah vaginanya. Aku bertahan.., kujilati sekitar vaginanya dan kuamati clitorisnya.

Woww, mungkin inilah Clitoris yang paling besar yang pernah kulihat. Ya, clitorisnya berwarna merah daging mentah, besar sekali.., benar-benar menyembul jelas untuk ukuran clitoris yang biasanya. Sementara, nafas Lina sudah tak karuandan kini lidahku kujulurkan mengarah ke clitorisnya yang luar biasa besarnya. Kujilat dengan mesra, Lina menjerit tertahan, tubuhnya sangat tegang lalu mengendur. Tiap kujilat tubuhnya mengeras. Dengan gemas kukulum clitorisnya. Setelah amblas di mulut, kumainkan dengan lidah. Lina mencengkram kepalaku dengan kuat, sesekali kusedot-sedot lalu jilat, ambil nafas. Hal ini membuat Lina semakin menggelepar. Bodoh amat, sudah berapa kali dia orgasme. Saat itu Lina telah membanting-banting kepala dan pantatnya ke kasur, tangannya mencengkram kencang kepalaku, sementara keringat telah membasahi tubuh kami berdua.

Beberapa saat kemudian, penisku yang telah gemas terasa berdenyut-denyut, meminta bagian, sudah berkali-kali Lina mengerang. Kutarik tangannya agar melepaskan kepalaku. Akupun sudah tak kuat menahannya, tatapan Lina bak macan saat melihat penisku siaga satu di depan lubang surgawinya. Tangannya memegang erat tempat tidur.

Perlahan dengan napas tersengal-sengal kakinya diangkat, ditariknya sebuah bantal, ia taruh di bawah pantatnya. Kini tampak jelas kini lubang vaginanya yang telah menganga, menahan rindu. Kutekan sedikit pahanya ke arah dadanya. Kusorongkan penisku dengan pelan dan jantan. Saat penisku menyentuh bibir luar, Lina sudah mengerang dan tubuhnya menegang namun pantatnya tetap tabah menyangga lubang senggamanya. Saat setengah masuk, Lina berhenti bergerak, matanya semakin sendu, tatapannya jauh masuk ke alam mayaku. Dengan sedikit hentakan, kumasukkan penisku yang menyebabkan mata Lina mendelik, mulutnya terbuka tapi tak mampu berteriak. Perlahan kuputar, kuaduk, kukocok dengan pelan nan mersa.

Lambat laun Lina mulai mengikuti irama yang kumainkan. Saat irama telah sama, bagian bawah tubuh kami seperti senyawa lalu tenggelam, bergoyang semakin cepat.., semakin cepat.., lalu pelan lagi. Kami tak mengganti posisi, dengan satu posisipun kami telah melanglang berbagai buana pagi itu.

Setelah klimaks, kami tetap berpelukan. Penisku masih dalam pelukan vaginanya yang penuh cairan. Terasa punggungku sedikit perih, nampaknya kuku Lina menggoreskan kenangan di situ. Ada beberapa menit kami melebur dalam nafsu yang mulai terasa hangat di hati. Kami berpelukan lama dalam posisi ini. Kubiarkan Lina menikmati buaian sisa orgasmenya sampai kemudian kubalik posisi agar dada Lina agak lega. Kubelai rambut Lina yang basah oleh keringat, wajahnya sayu dengan sisa-sisa kepuasan

"Lin, udah jam lima kurang lima.."
Lina tersenyum dan kami bangkit dari tempat tidur menuju ke kamar mandi. Di bath up kami berendam berpelukan. Lina kudekap dengan mesra dan kami tak banyak bercakap lagi sesudah itu.

Pukul lima seperempat kami keluar dari kamar mandi. Setelah memakai pakaiannya, Lina memelukku erat seakan tak ingin dilepaskannya. Tepat jam setengah enam, Lina melangkah ke arah pintu setelah sebelumnya memagut bibirku cukup lama. Dengan anggukan halus kulepas tatapan mata Lina saat keluar dari pintu kamarku. Aku tersadar ketika dering telepon memecah lamunanku, terdengar suara captain Frank di sana, "Kamu ikut pulang nggak?"
"Lima menit lagi capt", kataku kosong.

Setelah berpakaian lengkap, aku turun ke lobby, ternyata mereka berempat telah menungguku check out. Di perjalanan menuju bandara, captain frank berbisik "lembur ya?" (lembur = lempengin burung). Aku tersenyum kaget, rupanya yang semalam meneleponku adalah si captain gebleg.

TAMAT

Saya merasa bersalah - 1

Saya bekerja di kantor pusat salah satu bank swasta nasional terkenal. Saya bertugas di bagian system analyst. Pekerjaan saya cukup menyenangkan dan menantang bagi saya, dan saya rela bekerja sampai larut malam. Sejak saya masuk ke bagian ini, jam tidur saya jadi praktis berkurang. Sebenarnya saya sungguh beruntung. Penghasilan saya lumayan besar dan karir saya sungguh bagus. Banyak yang mengatakan saya 'is on the right track'. Istri yang saya nikahi setengah tahun yang lalu saya sangat mencintai saya, demikian pula saya mencintainya sepenuh hati saya. Rasanya saya tidak akan pernah bisa mencintai wanita lain seperti istri saya sekarang.

Karir saya dan istri saya menyebabkan kami belum bisa bergabung dalam satu atap. Saya dan istri saya tinggal di dua kota yang terpisah cukup jauh. Kami saling kunjung-mengunjungi secara bergantian setiap 2 minggu sekali. Sungguh pun keadaannya demikian, kami merasa bahagia. Kehidupan seks kami berdua sangat baik. Saya merasa bersyukur istri saya bukanlah wanita yang anti seks. Ia sangat aktif dalam seks, bahkan cenderung memiliki nafsu seks yang sangat besar, demikian pula dengan saya. Sex bagi kami adalah suatu yang indah, nikmat dan sakral.

Istri saya sangat pandai memuaskan keinginan seks saya. Seperti juga saya, ia sangat antusias dengan eksperimen-eksperimen dalam hubungan seksual sepanjang masih dalam norma kesopanan dan kewajaran. Dalam berhubungan seks saya dan istri saya selalu mendapatkan orgasme, dan kami selalu berusaha agar kami berdua sama-sama menikmati puncak dari hubungan seks ini yang tidak dapat kami lakukan setiap hari.

Biasanya, istri saya lebih banyak mendapatkan orgasme dari saya, karena selain ia lebih aktif, prinsip yang kami anut adalah 'lady first'. Dari eksperimen-eksperimen yang kami lakukan berdua, saya jadi mendapatkan banyak pengetahuan dan pengalaman bagaimana membuat seorang wanita mencapai orgasme saat berhubungan seksual, mulai dari persiapan, pemanasan, pemilihan posisi, dan pengaturan waktu agar si wanita dapat lebih dulu atau setidaknya bersamaan dengan saya mendapatkan orgasme. Pendek kata, tidak ada yang salah dalam kehidupan seksual saya dan istri saya. Dua minggu sekali kami bertemu 2 hari penuh, dan sepanjang hari kami melakukan aktivitas seksual tanpa jemu 5-15 kali. Bukankah itu sama saja dengan melakukannya setiap hari sekali?Saya tidak pernah tertarik mendalam secara seksual terhadap wanita lain, dan tidak pernah berusaha untuk itu. Saya sudah merasa lebih dari cukup dengan istri saya saja. Sampai suatu hari ada kejadian yang akhirnya mengubah semuanya.

Saya mendapatkan pimpinan baru di divisi saya. Ia seorang wanita yang setelah beberapa hari saya bergaul dengannya, bekerja sama dalam berbagai project, saya menjadi kagum terhadap kepandaian, ambisi, dan kerja kerasnya. Secara fisik ia adalah seorang wanita yang menarik, dengan kulit putih mulus, wajahnya bisa dikatakan sensual karena bentuk bibirnya sangat indah dan selalu tersenyum, tubuhnya tidak tinggi tapi proporsional dan seksi. Tetapi saya tidak pernah berpikir ke arah seksual karena selain saya hormati ia sebagai atasan saya, ia juga sudah memiliki suami. Ia memiliki kegemaran bekerja di kantor sampai larut malam, sama dengan kebiasaan saya. Jadilah sekarang setiap malam saya selalu berdua dengannya di kantor bekerja hingga larut malam. Suaminya dengan setia menjemputnya setiap pukul 22.00. Saya pun biasanya pulang sekitar jam yang sama.

Saya tidak pernah membayangkan hubungan saya dan bos saya itu berkembang lebih jauh dari sekedar hubungan bawahan dan atasan. Saya paling benci selingkuh antar teman sekantor. Saya merasa itu tidak mungkin terjadi pada diri saya. Saya yakin tidak mungkin.

Malam itu, saya dan dia seperti biasa bekerja hingga larut malam karena ada system baru yang akan diimplementasikan. Malam itu agak panas dan saya merasa penat sekali. Saya ingin mandi air hangat di kamar mandi kantor, seperti sering saya lakukan sehari-hari. Saya mengambil kunci kamar mandi dan pamit kepada Inne, nama atasan saya itu. Saya katakan saya ingin mandi dahulu. Ia cuma memandang sambil tersenyum penuh arti. Saya tidak tahu apa sebabnya.

Mandi air hangat begitu mengasyikan. Rasanya pori-pori di kulit jadi terbuka, kotoran dan rasa penat hilang. Saya suka berlama-lama diguyur air panas dari shower. Tiba-tiba saya dengar ketukan di pintu, saya tunggu sebentar sebelum menjawab, terdengar suara dari luar. Suara Inne. Ia mengatakan ingin meminjam kunci kamar mandi untuk masuk ke kamar mandi wanita di sebelah kamar mandi yang saya gunakan. Saya gugup karena saya masih telanjang bulat. Akhirnya saya buka pintu sedikit dan saya tetap bersembunyi di balik pintu sementara tangan saya mengulurkan kunci kamar mandi kepada Inne. Di luar dugaan saya, saya merasa tangan Inne menggenggam erat tangan saya dan tiba-tiba pintu kamar mandi saya terdorong ke dalam. Sebelum saya sadar, ternyata Inne sudah di dalam kamar mandi dan telah menutup serta mengunci pintu kamar mandi.

Saya salah tingkah, saya tidak mengenakan penutup badan apa-apa. Dengan panik saya membalikkan badan saya. Tapi itu tidak ada gunanya, di depan saya terpasang cermin besar dan Inne bebas mengamati ketelanjangan saya. Semenjak saya beranjak dewasa, belum ada wanita lain selain istri saya yang melihat tubuh saya dalam keadaan telanjang bulat.

Masih dalam kegugupan saya, Inne mendekat dan langsung merangkul saya dari belakang. Tangannya tiba-tiba meremas kemaluan saya. Saya tersentak, dan berusaha menolak. Saya ingat istri saya. Tapi tiba-tiba badan saya dibalik dan sepasang bibir yang ranum milik Inne mendarat di bibir saya. Inne menciumi saya dengan penuh nafsu, sementara tangannya tidak henti meremas dan mengelus batang kemaluan saya yang otomatis menegang dan makin keras. Saya masih berusaha mengatakan, "Jangan Inne, ini salah." Tapi Inne seperti seorang pemangsa yang tidak ingin melepas buruannya.

Saya merasa jadi korbannya. Ya, saya di bawah kekuasaannya. Saya adalah bawahan dia adalah atasan. Tapi lama-kelamaan perasaan ini, juga perasaan bersalah kepada istri saya, makin lama makin hilang, tertutup oleh nafsu saya yang dibangkitkan oleh tindakan Inne. Saya lupa segalanya.

Naluri seksual saya sebagai lelaki akhirnya bicara. Saya balas ciumannya dengan nafsu juga, tangan saya mulai meraba-raba bagian sensitif dari tubuh Inne mulai dari dadanya yang tidak terlalu besar tapi bagus bentuknya, pantat, paha, sampai akhirnya ke kemaluannya. Pelan-pelan saya membuka pakaiannya, mulai dari blazernya, terus blusnya, lalu rok panjang ketatnya. Inne secara cooperative membantu saya melucuti pakaian yang menempel di badannya. Kini ia tinggal memakai pakaian dalam saja (BH dan celana dalam).

Bodinya memang menggiurkan. Saya tidak mengatakan bodinya lebih bagus dari istri saya, tapi dalam keadaan seperti ini, saya menjadi semakin bernafsu karena keindahan tubuh yang terpampang di hadapan saya.

Dalam waktu yang tidak terlalu lama, BH-nya pun saya lepas. Dua buah payudara yang berukuran sedang tapi indah bentuknya karena terawat muncul. Saya tidak tahan dan segera saya mulai menjilati, mencium, dan memainkan payudara dan putingnya yang mulai mengeras. Inne mengerang pelan setiap saya isap puting payudaranya. Saat mengerang, tangannya meremas kemaluan saya lebih kuat. Matanya terpejam dan dagunya terangkat menandakan Inne benar-benar menikmati permainan ini. Sementara saya memainkan puting payudara, tangan saya juga berkelana meraba celana dalamnya. Basah dan lembab. Ah, Inne rupanya nafsu sekali. Jari saya, saya masukkan ke celana dalamnya sampai saya menemukan belahan kemaluannya. Clitorisnya saya gosok secara pelahan. Hasilnya nyata, Inne makin liar mengerang dan badannya mulai mengejang.

Tiba-tiba semua kegiatan saya terhenti karena Inne menarik kepala saya dari dadanya dan menarik keluar tangan saya dari celana dalamnya.
"Ada apa, Inne?" tanya saya. Inne cuma tersenyum penuh arti.
Tiba-tiba ia berlutut di hadapan saya dan meraih batang kemaluan saya. Secepat kilat ia langsung menciumi batang saya yang sudah benar-benar mengeras tanda siap tempur. Batang kemaluan saya dijilati dari ujung sampai ke pangkal penis. Ughh, saya mengerang-erang karena sensasi kenikmatan. Belum cukup ia menjilati kemaluan saya, penis saya dikulum dan diisap-isah. Sensasi kenikmatan akibat sedotan mulutnya menjalar ke seluruh tubuh saya. Inne menggerakkan kepalanya maju mundur jadi saya merasakan penis saya seperti saat sedang coitus. Saya merasa saatnya hampir tiba. Jika saya teruskan maka saya akan orgasme.

Saya berhasil menarik penis saya tepat pada waktunya, sehingga saya sempat menarik nafas panjang untuk meredakan ketegangan dan menetralisir keadaan penis saya yang hampir kolaps. Inne tampaknya mengerti dan setuju bahwa permainan belum usai. Secepat ia berdiri, secepat itu pula saya berlutut dan langsung menarik turun celana dalam satin berwarna pink yang sudah begitu basahnya oleh cairan vaginanya. Di hadapan saya tampak kemaluan Inne ditutupi dengan bulu-bulu halus yang tampaknya terawat dengan baik. Langsung saya cium daerah pubisnya, reflek Inne membuka kedua kakinya dan dengan bersandar di dinding kamar mandi ia berdiri mengangkangi kepala saya.

Saya tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, langsung saya jilati kemaluannya, clitorisnya saya jilat dan saya isap pelan-pelan. Basah dan tambah basah kemaluannya akibat perpaduan antara cairan kewanitaannya dengan ludah saya. Vaginanya beraroma khas sekali, dan saya sangat menyukai aroma ini karena membuat saya makin nafsu. Sementara Inne semakin liar dan setengah berteriak kenikmatan sambil tangannya menjambak kuat rambut saya.

Kira-kira tiga menit kemudian, badan Inne tiba-tiba mengejang kuat, dan Inne berteriak setengah tertahan. Otot-otot di vaginanya saya rasakan berkontraksi secara ritmis, dan jambakan di rambut saya makin kuat. Inne orgasme selama 20 detik. Peluh di sekujur badannya, dan ia bersandar lemas di dinding. Saya berdiri dan menatap wajahnya. Matanya setengah terbuka dan bibir tersenyum. Saya cium bibirnya dengan lembut.
Inne langsung mendekap saya dan berbisik, "Kamu hebat. Terima kasih. Ini nikmat sekali."
Pelukannya makin erat, dadanya menekan dada saya. Ah, betapa lembut dada indahnya Inne. Inne berbisik", Kamu belum, Er."
"Enggak apa-apa. Kamu kelihatannya capek. Saya senang kalau kamu menikmatinya", balas saya.
"Enggak. Kamu juga harus dapet!" kata Inne, sambil tiba-tiba mencium bibir saya dengan nafsu. Badannya tidak lemas lagi.
Entah mengapa saya ingat istri saya. Saya terdiam. Pasif. Inne mengetahuinya bertanya, "Kenapa? Kamu ingat istri kamu?".
Saya mengangguk lemah. Inne membalas, "Kalau gitu kita tidak usah coitus, kita lakukan petting saja".
"Apa bedanya", sergah saya.

Inne tidak mau kalah dan menerangkan bahwa paling tidak kita 100% mengkhianatinya karena kita tidak melakukan coitus. Sebelum sempat saya berbantah lagi, ia menarik tubuh saya, sambil meraih penis saya dan mengarahkan ke kemaluannya, kemudian menjepit penis saya di kemaluannya dengan dua pahanya. Inne menggerak-gerakkan pinggulnya dan saya merasakan bibir kemaluannya yang tebal dan basah menggosok-gosok penis saya. Saya nafsu sekali dan akhirnya saya ikut menggerakkan pinggul saya seirama dengan gerakan pinggul Inne. Sekitar 3 menit kami lakukan petting dalam keadaan berdiri, sampai saya berinisiatif mengangkat badan Inne dan mendudukkan di meja toilet, kemudian kembali melakukan petting dengan posisi kaki inne di atas pundak saya. Untuk mempertahankan sentuhan penis saya pada clitoris dan bibir kemaluannya, Inne menggunakan jarinya menekan penis saya. Uh, kami berdua berpacu dalam perjalanan menuju puncak kenikmatan. Saling mengerang. Nikmat sekali.

Tanpa saya sadari, tangan Inne memegang penis saya dan mengarahkan ke lubang vaginanya dan ughh.., penis saya masuk ke dalam lubang yang licin itu. Vaginanya masih kencang sekali, sehingga saya merasa seperti diremas-remas saat saya meneruskan gerak maju mundur pinggul saya. Saya dan Inne sudah lupa janji saya tadi. Kami asyik berpacu sampai akhirnya tubuh Inne kembali mengejan kuat dan dari mulut Inne keluar jerit tertahan, "aahh". Inne orgasme lagi dan itu berlangsung selama setengah menit, selama itu pula vaginanya berkontraksi seperti memijat penis saya. Saya merasa inilah saatnya saya orgasme. Saya percepat gerak saya dan tepat sebelum sperma saya tumpah, penis saya tarik keluar vagina dan sperma saya semprotan ke atas perut Inne. "Ugh.., ugh.., uugh", Banyak sekali sperma saya yang keluar.

Tubuh saya langsung lemas, begitu pula Inne. Kita saling berpelukan, sampai akhirnya saya berinisiatif mengajaknya membersihkan badan kita dengan air hangat berdua, dan kami mandi berdua di bawah siraman air hangat.
Ketika kami berpakaian, Inne bertanya, "Kamu menyesal?" Saya jawab tidak. Tidak ada yang patut disesali. Semua telah terjadi. Saya dan Inne sama-sama mendapatkan apa yang kita cari. Saya hanya ingin ini tidak terjadi lagi. Saya merasa berdosa pada istri saya. Tetapi secara jujur saya akui pengalaman yang saya lalui tadi dengan Inne merupakan suatu hal yang membuat saya terhanyut. Saya menyukai gaya Inne yang aktif, seperti istri saya juga.

Saya dan Inne kembali ke tempat kerja kami, dan berbuat seolah tidak terjadi apa-apa. Inne menunggu sampai suaminya menjemput. Kami pulang bertiga bersama-sama. Syukurlah suaminya tidak curiga.

Sejak peristiwa saya dan Inne di kamar mandi kantor malam itu, hidup saya menjadi tidak tenang rasanya. Tindakan saya mengkhianati istri benar-benar menjadi beban dalam pikiran. Saya tidak tahu apakah saya masih punya muka untuk bertemu dengan istri saya nanti. Saya yakin saya bisa menutupi hal ini ke istri saya, tetapi hati nurani saya tidak bisa kompromi. Haruskah saya menyalahkan Inne, sementara saya juga punya andil dalam kejadian itu. Sayalah suami yang tega mengkhianati cinta istrinya.

Hal yang paling membuat saya makin merasa bersalah adalah di balik semua penyesalan saya, saya ternyata menikmati dan menginginkan peristiwa itu terulang. Saya memang berjanji untuk tidak melakukannya lagi, tapi alangkah sulitnya berurusan dengan nafsu. Makin saya berusaha melupakan, makin timbul keinginan saya untuk mereguk kenikmatan yang terlarang bersama Inne. Benar kata orang, janganlah berbuat dosa karena sekali kita berbuat dosa akan sangat sulit bagi kita untuk keluar darinya. Hal itu terjadi pada diri saya.

Bersambung .... . .

Saya merasa bersalah - 2

Di kantor saya berusaha seprofesional mungkin, saya tidak mau kejadian malam itu tercium oleh rekan-rekan kerja saya. Saya serba salah juga. Inne adalah atasan saya, tapi begitu memandangnya langsung saja saya teringat tubuh telanjangnya yang pernah saya nikmati. Inne sering secara sembunyi-sembunyi menatap saya dengan pandangan nafsunya. Sering juga ia mengelus tangan saya. Sepertinya ia menunggu kesempatan untuk memangsa saya. Jujur saja, saya juga berdebar menanti kesempatan ini. Oh, betapa bejatnya diri saya.

Seperti biasa malam itu Inne dan saya bekerja hingga larut malam. Saya asyik di depan komputer di ruang saya. Ruang saya hanyalah sebuah partisi setinggi 1.5 meter, sementara ruang Inne berupa sekat permanen tanpa pintu. Di ruangan divisi saya hanya ada satu ruang kerja yang tertutup dengan pintu milik kepala divisi saya (atasan langsung Inne), lainnya hanyalah partisi biasa dan sekat permanen tanpa pintu.

Inne datang menghampiri saya. Ia membawa sesuatu di tangannya, ternyata sebuah VCD. Saya tebak pasti sejenis film biru. Tebakan saya tidak salah. Inne mengambil tempat duduk dan duduk di sebelah saya, dekat sekali.
"Er, setel ini dong. Kata temen filemnya oke. Ada ceritanya nggak asal main saja. Saya ingin nonton nih", pinta Inne.
"Kenapa kamu nggak nonton di rumah saja sama suamimu?"
"Ih, boro-boro, suami saya benci sekali film seperti ini. Ia bilang tidak realistis, tipuan, dibuat-buat dan sebangsanya. Pokoknya dia selalu nolak kalo saya ingin nonton ini bersamanya. Jadi sama kamu saja yah. Khan komputer kamu multimedia", Inne berkata sambil meletakkan tangannya pada selangkangan saya dan sedikit meremasnya. Seperti kerbau dicocok hidungnya, saya melaksanakan keinginannya. VCD itu saya setel, kami berdua menonton.

Film yang kami setel memang bagus. Sangat membangkitkan nafsu. Ditambah lagi atmosfer yang ada di antara kami berdua sudah berselaputkan nafsu. Kami berdua mulai saling merangsang. Tangan Inne membuka ritsliting celana panjang saya, kemudian dengan terampil mencari-cari barang berharga milik saya yang ada di balik celana dalam saya. Setelah ketemu, jemari yang halus itu mulai digosok-gosokkan ke penis saya yang sudah mulai mengeras. Uh, saya merasa nikmat sekali.

Saya pun tidak mau kalah. Tangan saya telah masuk ke sela-sela blusnya dan BH-nya mulai saya jelajahi mencari-cari puting payudaranya. Inne menggeliat-geliat ketika putingnya saya permainkan. Film yang kami tonton makin membuat kami makin hanyut dalam nafsu. Tangan saya mulai beralih menyibak rok mini Inne sambil mengelus-elus pahanya yang putih mulus mulai mencari-cari jalan masuk ke balik celana dalam Inne yang sudah begitu basah oleh cairan vagina Inne. Saya jadi teringat bau khas vagina Inne yang memabukkan saya.

Bibir kami pun bertautan dan saling mencium dengan penuh nafsu. Ciuman bibir memang sangat efektif untuk membangkitkan nafsu dan sangat pribadi sifatnya ketimbang hubungan seks itu sendiri. Seorang pekerja seksual tidak keberatan untuk melakukan hubungan seks dengan setiap orang yang membayarnya, tapi jangan coba-coba minta ciuman bibir. Belum tentu ia bersedia. Ciuman bibir hanya bisa terjadi jika kedua pihak telah saling percayai. Makin meninggi nafsu yang muncul pada diri kami masing-masing akibat ciuman bibir itu. Lidah saya dan lidahnya saling bertautan, sementara kedua bibir kami makin erat.

Saya kemudian melepaskan bibir saya dari bibir Inne, lalu berlutut. Kepala saya masuk di sela-sela paha yang telah terbuka karena rok mininya telah saya singkap. Saya cium-cium selangkangannya. Hmm.., bau vagina ini benar-benar saya suka. Rasanya sampai naik ke ubun-ubun. Dengan hidung saya mainkan kemaluannya yang masih ditutupi celana dalam. Uh.., uh.., uh.., suara Inne melenguh seirama dengan gerakan hidung saya. Inne benar-benar menikmati yang saya perbuat.

Dengan kedua tangan saya, celana dalam Inne saya pelorotkan sampai pergelangan kaki. Inne membuka pahanya lebar-lebar dan saya melihat dengan jelas kemaluannya yang masih sangat terawat itu. Dengan lembut saya melakukan oral seks dan dibantu jari-jari saya. Clitorisnya yang tegak menantang saya jilat dan isap-isap, sementara jari saya bermain di sekitar lubang vaginanya. Vaginanya makin basah dan bau vagina itu juga makin keras sehingga saya makin bersemangat melakukan oral seks.

Kedua tangan Inne mencengkeram kuat kedua sandaran tangan di kursi tempat ia duduk. Badannya menggelinjang-gelinjang diselingi sesekali badannya mengejang menahan sensasi luar biasa nikmatnya. Benar seks itu nikmat, dan saya pun semakin bersemangat untuk merangsang alat kelamin Inne dengan bibir, lidah dan tangan saya. Lidah saya dengan nakal bermain-main di sekitar clitoris yang makin menegang. Tubuh Inne bergerak liar sampai akhirnya dengan pantat terangkat dari kursi, tubuhnya mengejang kuat disertai dengan teriakan tertahan. Cengkraman tangannya makin kuat. Inne mendapatkan orgasme, puncak dari kenikmatan seksual. Saya pun tidak mau kehilangan kesempatan langka ini dengan tetap melepaskan mulut dan lidah saya dari kemaluannya saat Inne orgasme.

Istri saya juga tidak pernah keberatan dengan oral seks, tapi sangat jarang baginya mendapatkan orgasme saat kami melakukan oral seks. Istri saya jauh lebih mudah orgasme dengan petting dan coitus. Saya juga jarang berhasil membuatnya orgasme dengan rangsangan tangan. Itulah sebabnya bagi saya membuat wanita orgasme dengan oral seks adalah suatu hal yang luar biasa. Saya merasa saya pria paling jantan di dunia ini.

Sekitar 10 detik tubuhnya kaku menikmati saat-saat paling indah ini, sampai akhirnya Inne terduduk lemas. Saat itu saya berikan ciuman lembut di bibir Inne. Mata Inne terpejam. Inne membalas ciuman saya dengan lembut pula, kemudian ia berbisik di telinga saya, "Er, makasih. Kamu memberikan saya hal yang luar biasa."
Inne sepertinya kelelahan sekali. Hal yang aneh, saya mulai berpikir untung rugi. Saya belum mendapatkan apa-apa. Saya balas berbisik, "Saya belum dapet, nih. Kamu capek yah".
"He-eh", jawab Inne.

Tapi saya tidak peduli. Inne saya seret ke ruang kepala divisi yang memiliki pintu tertutup. Dengan lemas Inne menurut. Pintu ruang kepala divisi saya tutup dan saya kunci. Tubuh lemas Inne saya baringkan di atas meja, sementara celana dalam Inne yang masih ada di pergelangan kakinya saya lepas. Saya memerosotkan celana panjang saya dan celana dalam saya turunkan sepaha sampai penis saya yang sudah mengacung kuat bebas. Penis saya saya geser-geserkan di bibir kemaluan Inne yang masih basah. Spontan Inne menggelinjang kegelian. Tangan Inne meraih penis saya dan membimbing masuk ke lubang vaginanya. Saya memulai kayuhan cinta ini. Penis saya keluar masuk vaginanya yang licin tapi erat. Pemandangan yang sangat exciting. Penis saya seperti dipijat-pijat.

Jari Inne ikut memainkan clitorisnya sendiri. Inne sangat menikmati setiap gerakan penis saya keluar masuk ke dalam vaginanya. Kembali Inne mengelinjang. Ia bilang, "Er, nanti saya dapet lagi.."
Saya bilang, "Enggak pa-pa, saya juga sebentar lagi".
Saya baru merasa benar-benar puas jika dalam berhubungan seks, lawan saya mendapatkan kepuasan lebih banyak dari saya. Bukan berarti saya adalah tipe pelayan seks. Bukan. Ini semata-mata hanya untuk memuaskan ego saya sebagai laki-laki. Bagi saya, hanya laki-laki jantanlah yang mampu membuat wanita menikmati hubungan seks. Makin sering ia membuat wanita orgasme makin jantanlah ia.

Gerakan penis saya menusuk vagina Inne makin saya percepat, seiring dengan rintihan dan lenguhan Inne yang makin cepat seirama dengan gerakan saya. Saya merasa saat saya sudah dekat, tetapi melihat Inne belum juga terlihat mendekati puncak, saya berusaha meredam ketegangan yang merambati penis saya. Saya konsentrasi dan menarik nafas panjang agar orgasme saya dapat tertunda. Tiba-tiba tangan Inne menarik pinggul saya rapat ke arah tubuhnya sehingga saya tidak dapat melanjutkan gerak saya.
"Ada apa Inne", tanya saya heran.
"Saya ingin ganti posisi", kata Inne. Saya menjawab dengan anggukan kepala.

Seiring dengan bangunnya Inne dari meja tempat ia berbaring, saya melepaskan batang kemaluan saya dari vaginanya. Ugh, saya dapat kesempatan untuk menenangkan ketegangan penis saya yang sudah siap menumpahkan sperma. Inne membalikkan badannya membelakangi saya dan dengan kaki tetap berpijak di lantai ia menelungkupkan badannya di meja. Rupanya Inne ingin posisi dog style. Saya menyambut posisi itu dengan langsung mengarahkan penis saya ke bibir kemaluannya dan pelan-pelan menemukan lubang vaginanya. Kembali saya menggenjot tubuh Inne dari belakang. Mula-mula pelahan. Makin lama makin cepat. Inne melenguh dan merintih dengan nikmatnya. Ih, ah, uh terlontar dari bibir Inne. Sesekali saya membungkukkan badan saya, rambut Inne saya jambak ke belakang dan bibir ranum Inne saya lumat dengan nafsu. Innepun membalas dengan nafsu yang tak kalah besar.

Inne tiba-tiba menjerit. Walaupun ia berusaha menahan, namun jeritan itu tetap saja keluar. Inne kelihatan berusaha sekuat tenaga menahan diri agar tidak bersuara, namun rasa yang menguasai tubuhnya tak tertahankan. Kembali Inne mendapatkan orgasme, saya tandai dari tubuhnya yang kejang-kejang secara ritmis. Itu berlangsung kurang lebih lima detik. Saya masih tetap meneruskan kayuhan penis saya maju mundur. Vaginanya yang makin basah akibat orgasme membuat suara pada saat penis saya bergesekan dengan dinding vagina.

Tidak berapa lama kemudian, Inne menjerit dan mengejang lagi. Tubuhnya bergerak-gerak secara ritmis selama 10 detik. Inne mengalami orgasme beruntun, dan yang kedua kelihatannya lebih kuat dibandingkan yang pertama. Suara-suara yang keluar dari bibirnya yang sensual benar-benar membuat saya ingin cepat-cepat merasakan orgasme juga.

Saya makin percepat gerakan ayun saya. Makin cepat makin kuat sampai saya merasa saatnya akan datang bagi saya. Saya hampir sampai di puncak kenikmatan. Saat saya sedang menimbang apakah sperma saya akan saya keluarkan di dalam vaginanya atau di luar, kami mendengar pintu masuk ruang divisi terbuka dan kedengaran ada langkah seseorang. Sialan saya baru saja mau dapat orgasme, nggak jadi deh. Kami berdua dengan secepat kilat tanpa suara kami segera membenahi pakaian kami masing-masing. Untung baju-baju kami terbuat dari bahan anti wrinkle jadi tidak ada bekas kusut. Inne segera merapikan rambutnya. Sementara otak saya berputar mencari cara bagaimana agar kami tidak tertangkap basah oleh siapapun orang itu yang memasuki ruang divisi kami.

Terdengar gumamam, "U-uh, si Inne mana yah." Suara suami Inne, Harry. Saya berunding secara berbisik-bisik dengan Inne bagaimana kami bisa keluar dari ruangan tempat saya dan Inne berada secara bergantian tanpa kecurigaan suami Inne. Saya memutuskan keluar terlebih dahulu sambil memikirkan cara Inne keluar dari situ dengan aman. Bagian selanjutnya akan sangat tergantung dari improvisasi saya dan Inne.

Setelah Inne berada di balik pintu, dan kami saling menilai pakaian dan keadaan kami sudah tidak mengundang kecurigaan, saya dengan hati-hati memutar anak kunci tanpa suara dan langsung membuka pintu ruangan kepala divisi, keluar dari ruangan itu dengan langkah yang saya usahakan sewajar-wajarnya. Pintu ruang otomatis menutup sendiri.

Pura-pura saya terkejut dan berkata, "Eh, Mas Harry. Cari Inne yah. Wah, Inne tadi katanya ke lantai 4 mengambil print out data."
"Oh, ya?" kata Harry datar.
"Mau dicari, Mas? Mari saya temani. Saya sebenarnya juga ingin mengambil hasil download data", saya berharap Harry mau ikut saya dan Inne bisa keluar dengan selamat tanpa ketahuan. Tapi..
"Enggak usah, deh. Saya tunggu saja di sini, nanti Inne khan ke sini, janjiannya khan saya jemput di sini. Kalo nanti saya ke bawah malah bisa jadi seperti main petak umpet", jawaban Harry memupuskan harapan saya. Saya harus cari jalan lain. Sejalan saya telah mengatakan akan ke lantai 4, saya berarti harus meninggalkan ruang ini.

Saya meninggalkan ruang itu sambil berpikir keras dan mencari jalan keluar dari 'big problem' secara mulus. Was-was juga saya. Jangan sampai Harry iseng membuka pintu ruang kepala divisi. Aduh jangan deh. Di lantai 4, dengan tanpa harapan saya memandang ke luar ke pelataran parkir. Saya melihat mobil Inne parkir di tempat yang agak gelap. Timbul ide nakal saya. Saya telepon satpam lantai 6 tempat ruangan saya dan saya katakan saya satpam lantai dasar, minta tolong dia untuk mencari pemilik mobil mazda familia merah, mobil Harry, yang ada di ruang system analyst untuk memindahkan mobilnya ke tempat yang lebih aman dekat lobi. Untungnya satpam yang saya telepon percaya. Saya menunggu sampai akhirnya melihat Harry berjalan ke mobilnya. Langsung saya bergegas ke lantai 6.

Sampai di sana saya langsung membuka ruang kepala divisi, Inne terkejut dan pucat, tapi begitu sadar yang membuka pintu adalah saya dan saya memberikan isyarat aman, ia langsung bertanya, "Gimana, Er?"
"Udah. Entar kalo Harry datang lagi ke sini. Kompak saja kita bilang tadi ketemu di lantai 4, dan kamu baru saja ambil report di mainframe", jawab saya.

Kami berdua langsung mengatur posisi duduk di ruang kerja masing-masing, disaat genting itu Inne masih sempat mencium bibir saya. Sialan nih orang. Enggak tahu keadaan gawat. Harry datang lagi. Kelihatannya ia tidak curiga karena Inne langsung menyambut dengan mesra. Syukurlah. Mereka berbenah, dan pamit kepada saya.
"Er, saya duluan, yah. Eh, pekerjaan kamu yang tadi belum selesai, yah, nanti deh saya bantu menyelesaikannya", Inne berkata begitu kepada saya sambil menatap penuh arti, tapi mimiknya membuat saya mengerti arti kata-katanya.
"No problem. Masih panjang kok waktunya. Thanks", jawab saya sekenanya sambil tersenyum. Duh, Inne memang menyukai menyerempet bahaya rupanya.

Ketika saya tinggal sendirian di ruangan. Saya kembali ingat istri saya. Lagi-lagi saya tak mampu menahan hasrat ini. Inne menggairahkan sekali. Saya teringat pesan salah satu direksi saat saya mau menikah dan memutuskan untuk tinggal terpisah dengan istri saya. Katanya yang namanya suami istri itu haruslah jadi satu. Bahaya jika terpisah jauh. Suami istri adalah satu kesatuan. Jika salah satu lebih dekat dengan pihak ketiga, di situ pasti muncul masalah. Saya kini telah membuktikan kebenaran kata-katanya.

VCD yang saya putar di Komputer di telah habis. Saya merenung, inikah yang kehidupan yang saya pilih. Saya benar-benar tidak bisa melepaskan diri dari Inne. Secara seksual kami saling membutuhkan. Tidak lebih dari itu. Saya yakin di antara kami berdua tidak ada perasaan ingin memiliki. Kami memiliki keluarga sendiri-sendiri, dan kami tidak ingin merusak segala yang ada. Terlalu mahal untuk dipertaruhkan.
Saya putar CD di komputer saya, lagu milik Tom Grant mengalun dengan lembut dan manis. Sementara pikiran saya makin tidak tenang, "Bagaimana saya bisa menatap wajah istri saya di akhir minggu ini?"

TAMAT

Score kami nol-nol - 1

Pembaca sekalian, Ini adalah kisah nyata yang benar-benar terjadi padaku.

January 1997
Namaku Ari (Maaf nama asliku belum waktunya aku beritahu), saat itu usiaku hampir 30 tahun, seorang sarjana teknik. Dengan berbekal pengalaman kerja 5 tahun, tidak sulit bagiku untuk melamar kerja, karena waktu itu tepat sebelum krismon dan Jakarta masih sedang giat membangun.
Aku pindah kerja dan diterima di perusahan baru. Pada hari pertama masuk kerja, dengan berdebar aku masuk ke ruang reception. Aku melihat seorang receptionist wanita yang sexy dengan rok pendek.
"Ari ya, Ari sudah ditunggu, duduk saja dulu ya. Saya Sheena." (Sheena bukan namanya, ini adalah nama emailnya) Sapanya saat melihat aku menghampiri.
"Terima kasih Mbak", jawabku singkat.
Sebagai karyawan baru aku tidak punya pikiran macam-macam. Tidak terasa sudah lebih sebulan aku bekerja di perusahan itu, tidak pernah sekalipun aku menunjukkan perhatian padanya, maklumlah aku sudah berkeluarga dan istriku masih lebih cantik dari padanya.

Namun belakangan ini ia terasa lebih sering berada dalam jarak pandangku. Dia menjadi lebih sering menghampiri seorang pria bule yang memang duduk bersebrangan dengan mejaku. Kadang-kadang bercanda dengan si bule itu sambil melihatku. Pikiranku polos saja
"Ah, inikan kantor bule, barangkali suasananya lebih santai." demikian pula dari hari kehari.

Maret 1997
Suatu hari saat jam makan siang sambil menunggu relasi aku duduk makan di ruang receptionis di depan meja Sheena yang kebetulan juga lagi makan siang pula. ia tiba-tiba nyeletuk
"Makannya dikit amat, lagi diet ya".
"Oh lagi nungguin temanku Mbak." jawabku singkat.
"Teman apa Temen" kejarnya.
"Dia itu relasi kita juga kok!" sambil menatapnya.
"Sorry ya Ri, Sheena cuma bercanda. Oh ya ngomong-ngomong Ari sudah berkeluarga ya, enak nggak sih?"
"Memangnya kenapa Mbak?" tanyaku.
"Aku mau tanya sesuatu, tapi kalau panggil aku jangan pakai Mbak, kan sudah tahu namaku" tegasnya.
"Oh boleh, eh Sheena mau tanya soal apa?" aku tanya lagi.
"Tapi Ari janji dulu nggak boleh tersinggung, soalnya agak sedikit pribadi" tegasnya lagi.
"OK nggak ada masalah kok, kalau bisa aku jawab ya aku jawab saja." jawabku penasaran juga
"Pasti mau tanya soal besarnya gaji yang aku terima" pikirku.

"Kalau Ari ML dengan istri biasanya berapa lama baru keluar?" tanyanya serius.
Aku sebenarnya kaget, tapi aku pura-pura bersikap biasa saja, jawabku
"Aku kan nikahnya sudah lama, sekalinya sih paling cepat 50 menitanlah, memang agak jauh kalau dibanding dulu waktu pacaran atau baru nikah".
ia jadi diam, termenung sejenak.
Aku tegur, "Hei, kok diam, kenapa? Sheena mau nikah?" tanyaku.
"Gini lho Ri, pacarku memang minta aku menikahinya, cuma.."
Dia berhenti sejenak untuk tarik napas lalu lanjutnya
"Aku kok nggak bisa keluar-keluar, dia juga sering keluar agak cepat, paling lama 25 menit coba? Aku nggak tahu siapa yang salah, jelasnya aku nggak pernah keluar." jelasnya sambil menatapku.
Karena tak tahu mau omong apa, aku jawab
"Wah, ya nggak tahu ya. Bisa saja kamu normal dia yang nggak, bisa juga dia normal kamunya yang luar biasa"
"Terus gimana dong ya, selama ini ya begitu terus" kelihatan putus asa.

"Kalau mau tahu jawabannya ya mau-tak-mau harus kita coba apa benar kamu yang tidak normal" jawabku.
"Maksudmu gimana" tanyanya bersemangat.
"Aku harus ML sama kamu baru bisa tahu jawabannya." kataku asal-asalan.
"OK. Kapan?" ia langsung menjawab.
Aku kaget juga, karena tidak sangka ia bakal setuju. Waduh bagaimana ini, pikirku
"Gimana alasannya ke istriku"
"Gimana kalau Sabtu ini saja, tapi enaknya dimana ya?" jawabku setengah nggak niat.
"OK. Di hotel IBS saja ya" katanya. Kan dekat, cuma di seberang situ doang.
"OK. Pager aku ya kalau sudah tiba" kataku.
Di tahun 1997, Mobile Phone belum populer, kami masih pakai pager. Tidak terasa jam makan siang sudah selesai, temanku tidak datang juga. Kami berdua kembali ke meja masing-masing melanjutkan pekerjaan seperti biasa.

SABTU, Maret 1997.
Kurang lebih jam 9.00 pagi, aku pamitan pada istriku dengan alasan meninjau proyek di lapangan. Dengan mobilku, Aku berangkat ke hotel IBS dan menunggu di Lobby. Tidak lama kemudian Sheena muncul di Entrance. Tidak ada ciuman, tidak ada gandeng tangan. Seolah-olah sudah sepakat, kami sama-sama book dan diantar ke room kami. Kurang lebih jam 10.30 kami sudah berdua di dalam kamar hotel.
DO NOT DISTURB Sign kupasangkan ke gagang pintu. Pintu kamarpun lalu kututup. Sheena menaruh hand-bag nya ke atas kursi kamar, lalu naik keranjang untuk relax. Ranjang di kamar terdiri dari 2 single bed. Akupun naik ke ranjang dimana ia berada, kami masih sama-sama berpakaian penuh.

Sheena tiduran membelakangiku, maklum kenalpun belum lama. Aku mulai membelai rambutnya dari belakang dengan tangan kananku. Perlahan-lahan tanganku turun ke lengannya, ke pinggangnya, lalu ke perutnya. Nafasnya mulai dapat kudengar. Dari luar bajunya, tangan kananku mulai merayap ke buah dada kanannya, sambil tangan kiriku membelai kepalanya. Kudekati kepalaku ke lehernya, kucium leher dan belakang telinganya, tangan kananku tetap membelai buah dada kananya.
Tak lama, nafasnya berubah menjadi erangan lirih, tubuhnya mulai sedikit berbalik. Kini tangan kananku dapat menjangkau buah dadanya yang sebelah kiri.
"Enghh.. Ari.. Ari..", lirihnya.
"Kenapa sayang..," bisikku di telinganya.
"Enghh.." ia terus mendesah.

Kutarik bajunya agak ke atas, tangan kananku masuk menyelip ke dalam bajunya, kini buah dadanya kubelai dan kuremas dari luar BHnya. Lama-lama aku bosan dengan BHnya, tangankupun menyelip dari bawah ke dalam BHnya. ia mengerang lebih keras lagi.
"Uuuhh.. Ari Gala.."
"Sayang.. dadamu masih kencang sekali sayang, Ari buka ya sayang," bisikku lagi ke telinganya.

ia tak lagi menjawab, namun erangannya tak dapat berhenti karena sentuhan tanganku yang menyelip ke dalam BHnya, putingnya yang sudah mengeras itu kujepit lembut diantara jari telunjuk dan jari tengahku. Putingnya tak bisa dipelintir karena ketatnya BH yang dipakai. Akhirnya bajunya kulepas total, tanganku mulai ke kancing BHnya, seketika itu juga BHnya lepas.
"Oh.. Wow.." dalam hatiku, tanganku berhenti sejenak. iapun kaget dan bertanya
"Ada apa Ri??"
"Nggak.. Nggak apa-apa kok. Dadamu itu bagus sekali sayang" kataku, jelas karena ia belum menyusui. Aku masih ingat bahwa Sheena punya tahi lalat di belakang pundaknya dan di bawah buah dadanya.

Karena malu ia sudah setengah telanjang sedangkan aku masih berpakaian lengkap, ia langsung berbalik lagi membelakangiku. Aku melepas baju, celana dan pakaian dalamku lalu kemudian naik keranjang, kudekati telinganya dan berbisik
"Say, aku lepasin ya.. ".
ia lagi-lagi tidak menjawab. Perlahan-lahan kulorotkan celana panjangnya, kini tinggal celana dalamnya yang kecil sehingga bulu-bulu kemaluannya tersembul di kiri-kanannya. Kubelai vaginanya dari luar celana dalamnya, terasa basah oleh cairan kemaluannya. Akhirnya celana dalamnya kutarik ke bawah dan kulepas sekalian lewat kakinya. ia masih saja tidur membelakangiku.
Kupeluk tubuhnya dari belakang hingga penisku menyentuh pantatnya. Tangan kananku akhirnya dapat menelungkup buah dadanya dengan bebas, ibu jari dan telunjukku memelintir lembut puting-puting susunya.

Anehnya sudah sejauh ini penisku sama sekali masih lembek. Belum ada tanda-tanda ereksi.
Kusentuh-sentuhkan terus penisku pada pantatnya, tetapi tetap saja lembek. Aku mulai cemas, apa yang terjadi, apakah karena tidak biasa menyeleweng sehingga demikian. Aku berusaha menyembunyikan kepanikanku.

Dalam hatiku "Wah, apa jadinya bila penisku terus tidak dapat bangun, jelas hari Senin nanti mukaku mau taruh dimana saat ketemu dia di kantor"
Rupanya iapun sudah mulai kelihatan berubah, mungkin agak kesal. Dia berbalik, akhirnya kami hanya berpelukan saja. Kedua puting dadanya tiba-tiba mengeras menekan dadaku, tiba-tiba kurasakan rangsangan yang kuat sekali, penisku menegang seketika. Ketika itu aku naik di atas tubuhnya, mencium bibirnya, mencupang belakang lehernya, terus turun ke arah bawah, kedua bukit ranumnya. Tanpa buang waktu lagi tangan kiriku meremas dan mulutku menyedot buah dada kanannya sedang kedua jari tangan kananku menjepit lembut puting kirinya.

Seketika itu juga ia menjerit tertahan
"Ari gila.. adduuhh gila.."
Setelah puas menyedot dada kirinya, kini giliran dada kanannya. Jepitan jariku pada puting kanannya kulepas namun langsung kusedot dengan mulutku, putingnya yang ada di dalam mulut kusentuh-sentuh dengan lidahku, kuremas pangkal buah dadanya dengan tangan kananku. Tangan kiriku menjepit puting kirinya yang tadi sudah memerah karena kusedot. Lagi-lagi ia menjerit, kali ini keras sekali, tangannya langsung memegang penisku yang sudah tegang.
"Auh.. engh," teriakannya perlahan-lahan melemas. Ciuman dan sedotanku kini kulepas dari kedua puting dadanya, namun kedua tanganku tetap meremas dan memilin-milin kedua putingnya.

Ciuman bibirku pelan-pelan turun keperut lalu ke pusarnya, karena aku terus turun ke bawah, genggaman tangannya ke peniskupun lepas, tapi aku masih terus turun sampai pada sisi atas celah vaginanya. Vagina Sheena sungguh mempesona, adalah yang terbagus yang pernah kulihat. Langsung kubuka mulutku, kedua bibirku kutempelkan pada kedua bibir vaginanya. Lidahku langsung mengoles celah yang masih rapat sekali itu.
ia seketika langsung berteriak
"Ouh, Ari.. Kamu gila Ari.." badannya mengejang dan jadi sedikit melengkung bangun ke atas. Aku terus menikmati belahan kemaluannya, kusibakkan bulu-bulunya yang tipis lalu kubuka kedua bibir kemaluannya lalu kubenamkan mulutku kelubangnya sambil menjulur-julurkan lidahku. Kedua kaki dan pahanya kubentangkan kekiri dan kekanan agar lebih bebas menjelajahi semua daerah kewanitaannya.

Lidahku menyapu-nyapu kedua bibir kemaluannya, lalu mengoles belahan dagingnya yang kemerahan itu keatas dan kebawah. Kujilati klitorisnya dengan memutar-mutarkan lidahku disekelilingnya. Lubangnyapun kusedot, kadang-kadang hidungku kutenggelamkan ke lubang kemaluannya itu. ia terus menerus mendesah
"Engh.. enghh.." dan napasnya jadi berat. Setelah ia mendapatkan nafasnya kembali, aku telah berbaring di sebelahnya sambil memainkan jari-jariku di puting susunya.

Sesaat kemudian kurasakan tangan kirinya menyentuh pahaku dan merayap kearah batang kemaluanku. Digenggamnya batang kemaluanku sambil jari telunjuknya mengoles-oles kepala kemaluanku meratakan cairan bening yang keluar dari lubang penisku. Sambil tetap memegang mainannya, ia naik setengah ke atas tubuhku, melumat bibirku, tangan kanannya membelai rambutku. Ciumannya perlahan-lahan turun kebawah lalu berhenti di dadaku. Tangan kanannya menjepit putingku yang kiri, mulutnya merayap dan akhirnya mencapai putingku yang kanan. Lidahnya lalu keluar menjilati putingku, tangan kirinya masih tetap juga menggengam batang kemaluanku dan mengoles-oles topi bajaku.
Aduh.. rasanya nikmat sekali, kurasakan batang kemaluanku betul-betul sudah menjadi keras. Aku hanya bisa memeluk kepalanya dan membelai rambutnya saja.

Ia kemudian bergerak turun ke bawah, tangan kanannya melepas jepitannya pada putingku dan merayap kearah kemaluanku. Tangan itu akhirnya mencapai kedua biji pelirku yang kemudian dielus-elus dengan lembut. Sejenak kurasakan cairan beningku makin banyak keluar karena nikmat yang menderaku. Aku mencoba untuk melirik kebawah, kulihat Sheena telah menempelkan hidungnya ke ujung kemaluanku. Sisi bawah topi bajaku diletakkan di antara bibir atas dan hidungnya, lidahnya bergerak keatas dan ke bawah menjilati sisi bawah batang kemaluanku dekat topi bajaku. Tangan kanannya yang tadinya menggengam diturunkan memegang pangkalnya saja agar lidahnya lebih leluasa menjilati batangku.

Bersambung . . . .

Score kami nol-nol - 2

Tanpa aba-aba ia membuka mulutnya dan melahap kepala bajaku, dikulumnya dengan lembut, lidahnyapun kurasakan menyapu-nyapu semua bagian kepala kemaluanku. Tak lama kemudian kurasakan adanya sedotan yang kuat pada kepala kemaluanku hingga agak sakit, akupun melirik lagi kebawah, kulihat mulutnya menjadi kempot sekali. Sambil tetap menjaga tekanan sedotannya itu, tangan kanannya kini mulai meninggalkan pangkal batang kemaluanku, merayap kearah dadaku. Lagi-lagi puting kiriku jadi sasaran jepitannya.
Aahh..
Luar biasa sekali Sheena ini, tangan kanan menjepit putingku, tangan kiri membelai kedua biji kemaluanku sedangkan mulutnya menyedot keras kepala kemaluanku. Lalu Tiba-tiba saja ia melepas sedotannya dan berkata,
"Rasain.. Gimana?? Enak nggak??"
Dengan lemas, aku menjawab, "Iya, aduh enak banget, aku jadi cemburu sama pacarmu"
ia tersenyum sambil berkata, "Mau lagi??"
Tanpa pikir lagi kujawab, "Iya.. iya dong Say"

Sambil menatapku, kepalanya bergerak turun, mulutnya diarahkan ke batang kemaluanku. ia sengaja hanya membuka sedikit saja mulutnya sehingga agak sesak dimasuki batang kemaluanku. Kali ini ia tidak berhenti di topi bajaku saja, ia mencoba memasukkan sepanjang mungkin batangku ke mulutnya. Meskipun batang kemaluanku bukan yang terpanjang di dunia, tetap saja tidak bisa masuk semuanya. Pelan-pelan ditarik keluar sampai ke leher batang kemaluanku, lalu dimasukkan kembali dengan cepat sambil matanya menatapku. Sensasi yang timbul sungguh luar biasa dan selalu kuingat. Wanita yang satu ini memang lain dari yang lain. Akhirnya aku menjadi tidak tahan lagi. Aku membalikkan tubuhku sedemikian rupa sehingga ia berada di bawahku, lalu kubuka kedua pahanya dan mengarahkan ujung kemaluanku pada celah vaginanya.

Ah.. Kurasakan batang kemaluanku pelan-pelan menerobos celah vaginanya yang seret. Masih kuingat rintihannya. Kuteruskan tekananku sampai kurasakan ujung kemaluanku menyentuh sesuatu yang agak padat. ia masih terus merintih. Aku tak tahu apa itu, namun tusukanku kuhentikan dan kudiamkan dulu. Kedua tangannya kupindahkan keatas kepalanya lalu kepegang kuat sambil merapatkan tubuhku keatas tubuhnya kemudian kupompa dia cepat sekali, secepat yang kumampu. Tubuhnya terpental-pental akibat pegas ranjang dan akibat timpaan-timpaan tubuhku. Kedua tangannya tak dapat digerakkan karena kupegang kencang.

Sheena hanya dapat menggeliat sambil sedikit menggoyang pantatnya. Sengaja kutindih rapat tubuhku agar sebanyak mungkin kulit kami bergesekan. Selama pacuan kami berdua tidak mengambil napas. Untuk itu selalu kuselang pelan agar kami berdua dapat ambil napas dulu lalu memacu lagi dan seterusnya. Disaat pacuannya kuredakan, kami berdua menengok ke cermin melihat tubuh-tubuh telanjang kami berdua dengan batang kemaluanku tertancap ke dalam lubang kemaluannya. Sambil melihat ke cermin, kami lanjutkan masuk keluarnya batang kemaluanku secara perlahan. Aku rasa kami berdua tidak mungkin bisa melupakan saat-saat indah itu. Sampai saat ini bayangan di cermin itu masih kuingat.

Sheena memujiku, "Ari.. kamu luar biasa.. aku nggak sangka ada yang bisa kaya gini."
"Ah rasanya biasa saja kok.. mungkin yang lain juga sama, kayaknya memang suami kamu yang agak kurang tahan" jawabku, sambil tetap mengayun batang kemaluanku keluar masuk lubang kamaluannya. Kadang-kadang ayunan pantatku kubuat cepat sekali hingga ia menjerit,
"Aduh.. awh.. Ari gila.."
Kami berdua terus berperang dalam posisi itu. Peluh telah membasahi kedua tubuh kami, terutama punggungku dan celah buah dadanya. Gesekan tubuhku dan tubuhnya kini menjadi licin karena keringat. Tidak terasa jam sudah lebih dari 12.00 artinya sudah hampir 1 1/2 jam dan kami masih saja dalam posisi yang sama. Aku mulai sadar bahwa memang Sheena ini agak susah untuk dibikin keluar. Bisa jadi dulu Sheenapun berpikir serupa padaku.

Karena terus-terusan berada pada posisi push-up kedua tanganku mulai kecapaian. Rupanya iapun tahu makanya ia bilang, "Capek ya? Coba sekarang kamu diam dulu ya."
Akupun diam sejenak dengan batang kemaluanku masih terbenam ke dalam lubang kemaluannya. Tiba-tiba kurasakan adanya jepitan kencang melingkari batang kemaluanku, padahal baik tubuhku dan tubuhnya sama sekali tidak bergerak. Sejujurnya selama menikah belum pernah kurasakan yang demikian.
ia lalu bilang, "Mas, coba tarik sekarang."
Akupun lalu menarik batangku. Oh.. sensasinya luar biasa.. begitu topi bajaku mencapai "cicin penjepit" miliknya terasa sulit untuk ditarik keluar, akhirnya aku masukkan kembali. Sheena tersenyum penuh kemenangan melihat keherananku.

ia bilang, "Terus terang dari tadi aku tidak pakai jepitanku karena aku takut kamu keluar dahulu padahal aku belum apa-apa, sekarang aku tahu kamu kuat juga, makanya aku nggak nganggap remeh lagi, nah sekarang gantian kamu yang dibawah ya."
"Ehm, aduh.. tangan sudah pada capek nih," jawabku bebalik sambil memeluk tubuhnya agar penisku tidak lepas dari vaginanya.

Rupanya Sheena ingin "ajar adat" padaku. Dengan masih tertancap batang kemaluanku, ia melipat kedua kedua tanganku keatas kepalaku dan dipegang dengan kedua tangannya. Mulutnya langsung menyumpal mulutku sambil mengayun pantatnya naik turun sampai ke leher topi bajaku. ia selalu menarik dengan perlahan namun menurunkannya dengan cepat demikian seterusnya. Kedua buah dadanya mengesek-gesek dadaku. Mataku kini menutup karena nikmat yang kurasakan. Melihat aku masih dapat bertahan ia lalu meningkatkan irama serangannya, kini ditambah lagi dengan jepitannya yang luar biasa itu. Seretnya gesekan dengan batang kemaluanku membuatku megap-megap. Untuk pertama kalinya aku yang mengerang panjang untuk bertahan, "Uh.." agar tidak sampai keluar dahulu.

Kurang lebih 10 menit aku "menderita diperkosa" dengan serangan-serangan dahsyat darinya tanpa stop sama sekali namun untungnya aku masih bertahan, meski sedikit lagi aku pasti akan "keluar". Sheena lalu pelan-pelan mengurangi kecepatan naik turunnya bahkan didiamkan batang kemaluanku di dalam vaginanya namun jepitannya justru dikeraskan hingga batangku rasanya seperti diperas.

Mulutnya dilepaskan dari mulutku, terus turun hingga mencapai puting susuku. Sambil tetap menjepit batang kemaluanku, ia menyedot putingku. Oh.. rasanya aku hampir di puncak rangsangan, penisku sudah berdenyut. Melihat aku sudah 'tidak karuan lagi' ia meningkatkan lagi serangannya dengan menaik-turunkan pantatnya sambil tetap menjepit, inilah senjata pamungkasnya.
Mati-matian aku bertahan, "Enghh.. enghh" karena aku tidak mau ia menjadi pemenang dalam ronde pertama ini. Aku beruntung rupanya Sheena tidak begitu kuat kalau mengayun non-stop terus sambil berada di atas karena memang sangat memakan tenaga.

Lebih dari 15 menit sudah lewat, score kami masih nol-nol belum ada yang keluar. Sheena collapsed di dadaku dengan kemaluannya masih tertancap penisku yang masih tegang, napasnya memburu karena olah raga push-up naik turun tadi.
Pikirku "Huh.. kalau saja dia bertahan menyerang aku sedikit lagi, pasti aku sudah keluar.."
Dengan napas yang masih memburu ia berkata, "Haduhh gila kamu Ri, tahu nggak cowokku itu kalau aku jepit sambil naik turun kaya tadi, nggak aku sedot putingnyapun dia sudah keluar dari tadi-tadi. Kamu ini bener-benar edan."
Dalam hati aku bilang, "Aku sudah hampir K.O. lho" lalu kujawab, "Iya, tapi aku tadi juga udah kelengger kok akibat serangan kamu. Sekarang jelas bahwa memang kamu agak nggak normal. Itu jepitannya kok bisa gitu? Aku nggak pernah tahu ada yang bisa begitu?"
"Memangnya istrimu nggak pernah ngejepit?" tanyanya.
"Jujur, aku nggak pernah ngalami bahkan nggak pernah tahu kalau ada yang bisa kaya kamu"
"Udah ah.. ngomomg gombal melulu.."
"Ya udah.. kita mulai lagi ya. Sekarang gantian lagi, aku di atas ya"

Kupeluk tubuhnya lalu kami berdua berbalik dengan tetap menjaga agar batang kemaluanku tetap menancap di vaginanya. Cairan beningku dan cairan vaginanya sudah membasahi bulu-bulu kemaluanku dan seluruh daerah kemaluannya.
Sheena lalu punya ide, "Mas coba cabut dulu deh"
"Lho kenapa??"
"Cabut aja dulu, nanti juga tahu"
Pelan-pelan kucabut batang kemaluanku yang masih tegang namun licin dan memerah di sekitar leher dan topi bajanya.
"Mas.. masukin lagi deh"

Akupun nurut saja. Karena baru dicabut, lubangnya masih terbuka sehingga mudah diarahkan. Namun kurasakan ada yang lain karena kepalanya kini tidak bisa masuk sampai ke dalam karena tertahan "cincin penjepitnya" itu. Kucoba lagi dengan menekan yang lebih kencang, tetap tidak ada hasilnya. Rasanya ukuran kemaluanku tidak besar-besar amat, tapi nyatanya meski masih tegang mengeras, sudah ada pelicin dan sudah ditekanpun masih belum bisa lewat 'cicin' miliknya.
Akhirnya aku bilang, "Oke.. untuk yang ini aku nyerah. Buka dikit dong sayang".
Sheena tertawa kemenangan, lalu kurasakan cincinnya melonggar sedkit. Tanpa buang waktu, aku tekan lagi, kali ini masuklah batang kemaluanku. Setelah melewati cincin penjepitnya itu, jepitannya dikeraskan lagi.

Inilah kelebihan Sheena yang tidak kujumpai pada wanita lain. Kali ini aku meminta ia memeluk tubuhku dengan erat saat aku memompa lubang kemaluannya. Setiap batang kemaluanku masuk, ia selalu heboh ngucapin, "Awhh.. kamu gila.. awhh.. kamu gila.."
Lebih dari 20 menit non-stop aku memompa batang kemaluanku masuk keluar lubang vaginanya, belum ada tanda-tanda ia akan "keluar". Aku mulai capek lagi dengan posisi push-up. Keringatpun keluar tidak sedikit, padahal kamar berAC.

Haus mulai terasa karena keringat dan cairan tubuh yang keluar terus menerus. Tidak terasa jam sudah menunjukkan hampir jam 1, artinya hampir 2 1/2 dua setengah jam non-stop bersenggama, score kami masih nol-nol. Ini sudah mulai lewat jam makan siang. Meskipun rasanya tanggung, bercinta sambil perut lapar juga tidak enak, jadi meskipun terpaksa, ya kami sepakat peperangan ditunda. Meskipun batang kemaluanku sudah dicabut, aku dan Sheena masih malas mau pakai baju lagi dan turun untuk makan, akhirnya kami minta agar makan siang diantar saja kekamar.

Sambil menunggu makanan diantar, kami saling memeluk dan berciuman. Iseng-iseng aku masukkan jari telunjukku ke dalam vaginanya lalu kudiamkan dan memintanya untuk menjepit sekerasnya. Dengan jujur kurasakan jepitan keras di jari telunjukku. Ini sungguh luar biasa, bayangkan jari telunjuk yang begitu kecil, bisa dijepit keras, apalagi batang kemaluanku, jelas saja tadi tidak bisa masuk waktu cincinnya sengaja dikecilkan.

Sesaat kemudian Sheena menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh dan vaginanya. Akupun akhirnya ikut masuk ke kamar mandi untuk shower. Sheena lalu membersihkan batang kemaluanku yang masih tegang sambil terus mengelus-elusnya. Sayangnya sebelum sempat Sheena memberikan kuluman mautnya, bel kamar berbunyi, pelayan hotel telah tiba membawa menu makan siang yang kami pesan tadi.

Pembaca sekalian, selesai makan siang kami kembali bercinta dengan panas. Karena cairan beningku sudah keluar banyak, aku jadi makin sulit untuk mencapai puncak. Sampai jam 5 sore, score kami tetap nol-nol. Pembaca dapat menghitung sendiri berapa lama kami bercinta.

Dengan berbagai gaya yang dicoba, aku tetap tidak mampu membuat Sheena orgasme. Sebaliknya juga karena tidak mau mengalah, aku juga tidak berhasil dibuat orgasme olehnya. Mengingat kami berdua harus pulang ke rumah jika tidak ingin dicurigai oleh istriku maupun oleh pacarnya, dengan berat hati kami berdua terpaksa berhenti menerima score NOL-NOL.

Menjaga agar selingkuh tetap tidak ketahuan sangatlah sukar, kesalahan kecil saja sudah cukup untuk membuat masalah. Pada akhirnya aku dan istriku kini telah separated dan saat ini menunggu proses divorce.

Pembaca sekalian, kiranya demikian dulu ceritaku ini, akan aku lanjutkan lagi, karena tentunya pembaca mungkin ingin tahu siapa pemenang diantara kami. Bagi pembaca wanita yang ingin diskusi, bagi cerita pengalaman, atau kenalan, jangan ragu kirim email ke email saya. Sejak krismon yang lalu, saya tinggal di Australia, namun masih suka datang ke Bali dan Jakarta.

E N D

Selasa, 28 Desember 2010

Multi orgasme Indah

Setelah Indah duduk dan istirahat kamipun membuka percakapan, Indah begitu ramah dan pintar mengolah kata-kata sehingga suasana dan obrolan menjadi sempurna, dan akrap, inilah yang menjadi bagian terpenting bagi kami dalam mengolah permainan sex yang sempurna untuk menciptakan multi orgasme, karena percakapan dan pengenalan satu sama lain dapat memberikan dorongan terciptanya sex yang baik.

Kekecewaan dia dengan suaminya yang kurang bisa memberikan kehangatan sangat dipengaruhi persoalan kurangnya komunikasi, tidak adanya keterbukaan, dan kelelahan suami dapat saja menyebabkan tidak harmonisnya hubungan sex yang seimbang, karena di lain pihak istri menjadi haus akan sentuhan dan kehangatan laki-laki, siapapun dia orangnya, yang penting bisa memberikan kehangatan.

Percakapan terus berlanjut, yang akhirnya aku arahkan pada situasi untuk menciptakan suasana yang tenang, dan romantis, ku nyalakan radio dengan lagu-lagu yang lembut, yang bisa memberikan suasana damai, dan menyejukkan hati, dengan maksud untuk menghilangkan beban pikiran yang mungkin berada pada kami berdua.

Akhirnya rangsangan-rangsanganpun aku mulai dan Indah terlihat mendongak menahan birahi yang sudah semakin tinggi, terlihat bibirnya merekah basah, aku nggak tahan dan spontan kucium dan kulumat bibirnya, ternyata dibalas dengan buas oleh Indah, bibir kami menyatu dan lidah kami saling mengulum, tangan kami bergerilnya mencari titik-titik rangsang, ciumanpun berlangsung cukup lama, kemudian tanganku berusaha untuk membuka pakaian yang dikenakannya, bibirku beralih ke telinga Indah, dia pun berteriak.
aahh.. say geli.., geli say
Tapi itu tidak kuhiraukan terus aku hisap-hisap lembut telinganya, kemudian bergeser ke belakang telinganya yang ternyata merupakan salah satu titik kelemahan Indah, dia begitu terangsang.

Heemm say.. oaauu, geli, enak truss akkhh.., oouu.. geli say aaooww
Dia trus merintih geli, enak katanya, bajunya terbuka langsung kulempar ketepi.
Wooww kamu benar-benar cantik, Say
Putih mulus dengan payudara yang menantang yang tertutup BH hitam, kuraba kaitan BH-nya, kulepas dan wow putih mulus dengan dua bukit payudaranya yang menantang, ku sentuh putingnya yang sudah mengeras dan memerah.
aahh.. aakhh
Dia begitu semakin terangsang akibat telinga dan putingnya ku mainkan badannya liar mengelinjang keenakan.
oouuhh say, teruss, enaak say.
Indah terus mengeluh dan keenakan membuatku semakin terangsang untuk menikmati tubuhnya, kupindahkan bibir turun kebawah, ku jilati lehernya yang putih mulus, ku kecup berulang-ulang hingga dia kegelian, turun terus kebawah kudapati putingnya, lalu kuhisap lembut, keras dan lembut lagi.
aahh.. ouuhh teruss say.. enak sayy.
Tampak putingnya sudah semakin memerah, kujilati dan ku hisap bergantian puting kanan lalu kekiri, seperti bayi yang kehausan, dia semakin menggelinjang liar tubuhnya, dan berteriak-teriak, tanganku juga turut aktif, ku raba perutnya halus ketekan sedikit demi sedikit antara pusar dan memeknya, keras teraba dan tumbuh bulu-bulu halus disekitar itu.

Kubuka celananya dan kuploroti, tangan Indah turut membatu hingga aku tidak mengalami kesulitan untuk menelanjanginya.
Lagi-lagi pemandangan yang sempurna, kulihat gundukan kecil menantang disela-selah selangkangannya, ditutupi CD warna hitam, ku raba, ku jamah dan ku usap selangkangannya, pahanya halus mulus, dia semakin liar dan segera kubuka CD hitamnya kuraba dan ternyata sudah basah, dia begitu terangsang dan sangat menikmatinya, lama kumainkan itilnya, dengan jariku dia berteriak keras, Akkhh.. sayy enakk sayy suaranya bergetar diiringi liarnya liuk-liuk tubuhnya, jariku liar keluar masuk kedalam memeknya kutekan lembut.
Aoo.. enak.. ahh sayy, teruuss, aakkh, dia nggak tahan.

Lama kumainkan jariku didalam dan menekan halus itilnya, dia trus mengeliat liar tubuhnya, kulepas bibirku dalam putingnya langsung ku papah dia menuju kasur dan merebahkan indah duduk di tepi kasur, sambil berjongkok ku hisap itilnya, lidahku bermain di rongga memeknya dia melengguh panjang
Akkhh.. say.. enak, say aku mau pipis nih akhh
Keluarkan, jawabku karena kutau itu adalah orgasme yang akan terjadi.
Akkhh.. keluar sayy.. akk, enakk, ngilu.. akh.. ngelayang saayy aku ngelayang.. akkhh
Tidak habis-habisnya dia berteriak, badannya bergetar, kubiarkan dia mengekpresikanya, lidahku trus bermain halus menghisap lembut itilnya, akhirnya dia lemas dan berbaring merebahkan badannya di kasur, tubuhnya masih mengejang, namun lidahku masih truss bergerilya didalam memeknya, menghisap lembut itilnya, membantu dia mengekpresikan gairahnya, agar lepas dan melayang.

Tiba-tiba Indah bangkit langsung memeluk dan menciumku.
Thanks honey, kamu pintar sekali.
Yup say, gimana enak?
Woow fantastik sekali, melayang, terbang nih rasanya, aku kalah 1:0 nih sama kamu.
Sambil bicara Indah langsung meraih selangkanganku dan menangkap senjata andalanku, dia memohon.
Beri saya ini Hon?.
Tanpa menunggu jawaban, dia langsung membuka celana panjang dan CD saya, langsung senjata andalanku keluar dengan berdiri tegak, menantang. Indah langsung terbelalak matanya melihat benda dihadapannya, dia pegang erat seolah tidak rela burung itu terbang meninggalkannya.
Fantastik honey, bener kamu bilang, panjang betul, hampir menyentuh puser kamu nih
He he he, aku pun tertawa.
18 cm Hon.., centi demi centi hingga ujung memek kamu akan tersentuh senjataku ini.
Tanpa menunggu waktu lagi dia langsung mengelus meremas halus, dan mengocoknya senjataku.
Ackkh.. enak honey.., trus say.. akkh, aku melenguh keenakan.
Sambil tanganku bermain di payudaranya, kuremas halus dan kusentuh putingnya lembut. Indah pun terbangkit lagi gairahnya, kemudian diarahkan senjataku ke mulutnya, hanya bisa masuk setengah dari senjataku dimulutnya, dihisap lembut, maju mundur berirama, senjataku masuk dalam mulutnya.

Enak honey akkhh
Aku merasakan kenikmatan yang tiada tara, ternyata Indah terlalu pintar dalam memainkan senjata ku.
Akkhh enak.. geli say.. trus say, aku memohon.
Lama dia memainkan senjataku, akhirnya dia terangsang berat, akibat suara-suara yang keluar dari mulutku, dan sentuhan-sentuhan tanganku pada titik-titik rangsangannya, di payudara, telinga, lehernya, dan remasan-remasan rambut yang ku sentuh halus.

Kemudian dia bangkit dan melepaskan senjataku dalam mulutnya, diapun merengek dan meminta untuk segera memasukkan senjataku ke dalam memeknya yang sudah gatal ingin segera diteMbak, akupun mengiyakan dan langsung naik menuju tempat tidur dengan posisi duduk dengan kaki kulipat, Indah mengikuti langkahku dan berdiri di atas tempat tidur kemudian melebarkan kakinya didepanku, memeknya persis di hadapan mukaku, dia ingin membungkuk turun, langsung ku cegah, tanganku meraih pahanya, kesentuh halus memeknya dengan bulu-bulu halus menantang.

Akkhh.. Hon, gatal nih cepet donk masukkan
Aku tak menghiraukan permohonannya langsung kuarahkan mulutku ke memeknya, kuhisap lagi lembut itilnya dia bergetar dan
Ahhkk gatall.. akkh trus.. Hon, enaakk
Bicaranya bergetar, pantatnya bergoyang bagai Inul menari, tangannya menjaMbak rambutku, bertubi-tubi.
Hemm.. hemm, terdengar lagi suara dalam mulut indah, dia kegelian dan merintih, lama lidahku bermain di memeknya, hisap, gigit, jilat lidahku bermain.
Pada satu ketika Indah berteriak, Please honey.. nowww..!, masukin sekarang sayy dia terus berteriak meminta untuk segera dicoblos, namun aku trus saja mengigit lembut, menjilat, dan menghisap itilnya.
Kamu jahat Ed..! teriaknya lagi, sambil diikuti dengan melelehnya air dari dalam memeknya, ternyata Indah mengalami lagi orgasme yang kedua.
Pada saat orgasme, kaki Indah lemas, lunglai, kemudian sambil menjaMbak rambutku badannya turun, dengan selangkangan yang terbuka dan memeknya yang menganga langsung ku sambut memeknya dengan senjataku.
aaooww teriak halus indah, karena senjataku langsung masuk ke dalam memeknya.
Dalam situasi orgasme, kemudian ku bantu dia dengan memasukkan senjataku perlahan-lahan, centi demi centi senjataku masuk kedalam memeknya yang sudah basah kuyup, dan kurasakan hangat tersentuh dalam senjataku yang panjang ini, Indah pun berteriak-teriak keenakan.
Hemm.. ackk.. enak Hon.., akkh. Dia terus berteriak seperti itu, nikmat rasanya.
5 centi, 10 centi dan akhirnya masuk seluruhnya senjataku ditelan memeknya.
Dan indaHPun berteriak, Ahh Honey masuk semua nih, akk enak.. enak, enak, seperti anak kecil yang terlalu gembira mendapatkan permen kesukaanya.
Sambil bergetar, badannya turun naik berirama menikmati senjataku.
Achh.. achh mulut Indah nggak bisa diam dia terus berteriak keenakan.
Achh.. enak, enak, aku baru ngerasain ini Hon, enaakk.., enak bener kontol kamu, enak.. aduh tembus nih, enakk
Aku pun mengikuti ekspresinya, kubantu dia dengan bisikan suara-suara yang mengairahkan.
Hemm.. trus honey.. rasakan kenikmatan ini, lakukan kemauanmu, truss.., terserah kamu.
Akhirnya pantatnya naik turun lebih cepat dengan bantuan tanganku menopang dipahanya, tak lama kemudian, dia berteriak lebih keras, sambil badannya bergetar hebat, tanda dia telah mencapai klimaks lagi, tubuhku dipeluk erat, genjotannya mulai bergerak perlahan.
Ackkhh.. Ed keluar lagi.., akkhh.. enak.
Ternyata sentuhan yang diterima memeknya dari senjataku membuat dia begitu menikmatinya centi demi centi sangat dia rasakan.
Sejenak terpikir olehku aku begitu heran kenapa aku belum juga keluar ejakulasi, ternyata inilah yang membuat aku bisa bertahan, rasa ingin memuaskan pasangan membuatku begitu perkasa di hadapannya.

Akhirnya kami istirahat sebentar untuk memulihkan stamina Indah, aku khawatir dia terlalu lelah setelah menikmati 3 kali orgasme.

Tamat