Minggu, 26 September 2010

Teman SMP

Nama saya Maureen. Saya ingin membagi pengalaman pribadi saya pada penggemar dan pembaca situs Rumah Seks.

Saya adalah anak ketiga dari tiga bersaudara. Wajah saya biasa-biasa saja, tidak jelek juga tidak cantik.. lumayanlah. Umur saya 24 tahun, tubuh saya juga tidak terlalu proposional. Kakak saya sudah menikah semua dan saya baru saja melangsungkan pernikahan dua bulan yang lalu dengan laki-laki pilihan saya. Kami sangat bahagia sekali. Sebulan sesudah itu gejala-gejala kehamilan nampak dan saya positif hamil dengan usia kandungan 3 minggu. Suami saya tidak mengetahui kehamilan saya ini karena suami saya baru pergi ke Semarang untuk keperluan dinas yang ditugaskan oleh kantornya untuk waktu yang cukup lama, kurang lebih sekitar 4 sampai 5 bulan. Saya sempat protes keras karena kami baru saja melangsungkan pernikahan dan saya sedang menikmati keindahan seks yang selama ini saya bayangkan begitu enak dan sangat indah sekali dan memang itu semua terbukti, seks begitu enak, menyenangkan dan sangat indah sekali.

Kejadian ini terjadi ketika saya memeriksa kandungan saya ke dokter kandungan yang terkenal di kota saya. Saya tidak mengetahui kalau dokter itu adalah teman SMP saya, saya baru sadar ketika Hendra menyapa saya, "Maureen.. kamu Maureen kan..?" sapanya.
"Iya.." kata saya.
"Masa kamu lupa dengan saya.. saya ini Hendra", sahutnya lagi.
"Hendra.. mm.. ohh.. yah saya ingat kamu kan yang dulu sekolah di SMP*** (edited) itu bukan..?" jawabku.
"Iya bener sudah inget sekarang..?" katanya lagi.
"Iya.. iya.. hebat yah sekarang kamu sudah jadi dokter yang terkenal", kata saya lagi.

Singkat cerita saya sudah berbaring siap untuk di periksa dan Hendra pun sudah bersiap dengan sarung tangan karet dan peralatan lainnya yang tidak saya ketahui namanya. Hendra mulai memegang dan menekan-nekan perut saya, saya hanya merasa kegelian saja sampai suatu ketika Hendra menyentuh secara tidak sengaja ke payudara saya dan secara refleks tangan saya menepisnya, tampak wajah Hendra merah dan beberapa kali meminta maaf kepada saya.

"Tak.. apa-apa Hen saya tau kamu tidak sengaja", kata saya padahal saya sangat senang sekali karena sudah lama saya ingin berhubungan badan, sudah dua minggu saya tidak melakukannya. Lalu saya bertanya kepadanya, "Hen kalo misalnya dalam usia kandungan tiga minggu saya melakukan hubungan badan apakah tidak mengganggu janin dan keadaan saya..?" tanya saya. "Ohh.. tidak apa-apa asal tidak merasakan sakit dan rileks saja nikmati semuanya dan yang penting harus..(dia begitu menekankan kata harus) hati-hati sekali agar tidak menggangu janin", kata Hendra.

Lalu dia mulai melihat keadaan liang kewanitaan saya karena saya mengeluh sering keluar lendir putih, saya tahu ini bukan tempatnya, seharusnya saya ke dokter kulit dan kelamin tapi tidak apa-apa deh siapa tahu dia mengerti sedikit banyak tentang hal itu, sewaktu dia menyentuh liang kemaluan saya terasa sangat enak sekali, tiba-tiba saja keinginan untuk melakukan hubungan seks kembali menggebu dan ketika dia memasukkan alat yang saya tidak tahu namanya ke dalam liang senggama saya, terasa sangat enak sekali dan saya sempat mendesah sedikit entah terdengar apa tidak oleh Hendra.

Hendra mencabut alat itu dengan cepat saya tahan karena saya sangat menikmatinya dan saya mulai menggoyang-goyangkan tangan Hendra ke liang senggamaku, tampak wajahnya terheran-heran dan memerah, tampak juga keringatnya keluar. Lalu saya bertanya, "Hen kok.. mendadak kamu begitu tegang sekali, tolong Hen puaskan saya Hen, tolong soalnya saya sudah dua minggu tidak melakukannya.. kamu mau kan Hen.." tanya saya kepada Hendra, dia tidak menjawab hanya terdiam saja, tampak wajah merahnya dan keringatnya begitu deras.

"Hen.. Hen.. kamu tidak apa-apa..?" tanya saya.
Hendra mulai menjawab dengan tersendat-sendat, "Ti.. ti.. ti..dakk aa..ku tidak apa-apa..!" katanya tapi wajahnya yang tegang, keringatnya tidak dapat ia sembunyikan.
Lalu saya bertanya lagi, "Hen.. kamu mau kan puaskan saya, saya ingin sekali Hen.. saya sudah lama tidak melakukannya", pinta saya kepada Hendra, ia masih tersendat-sendat lalu berkata, "Tapi Reen.. saya tidak bisa", jelas Hendra, saya mulai melirik kejantanannya. Wah.. ternyata sudah tegang, lalu saya remas-remas untuk memberinya rangsangan. Hendra mulai menikmatinya dan dia pun mulai berani menggoyangkan tangannya di liang kewanitaan saya, sayaa pun mulai mendesah karena merasa enak dan melayang.

Hendra mulai mencium saya dan lidah kami saling hisap lalu saya buka reitsleting celananya dan baju dokternya saya buka. Hendra tidak terlalu susah saat membuka baju saya karena baju saya telah dibuka oleh Hendra sebelumnya sewaktu memeriksa saya tadi, tinggal membuka bra saya saja, yang tidak saya sangka Hendra sudah membenamkan wajahnya di liang kewanitaan saya. "Ohh.. ohh.. sungguh enaknya", desah saya, Hendra tampak asyik memainkan klitoris saya dan tangannya tidak ketinggalan memainkan puting dan payudara saya.

Setelah puas lalu giliran saya mengulum batang kemaluannya yang lumayan besar (kenapa saya sebut besar karena saya tidak mengetahui besarnya kemaluan pria, yang saya tahu hanya punya suami saya) mulai dari menjilat hingga menghisapnya. Hendra sangat menikmati sekali hisapan saya, yang terdengar hanya desahan nikmat, "Ssstt.. ahh.. emm.. ohh.. enak sekali Maureen enak.. kamu sungguh pinter sayang.. ohh.." tak ketinggalan tangannya memainkan liang kewanitaan dan puting susu saya, jempol dan jari telunjuknya memainkan klitoris saya sedangkan jari tengahnya masuk, karena makin lama semakin cepat Hendra memainkan jari tangannya, saya pun sudah mau keluar dan tak lama dari itu saya berteriak, "Hen.. ohh.. sstt.. saya keluarr.. Hen.. ohh enak sekali.." tanpa sadar saya menggit batang kemaluan Hendra karena saya bagai tak sadarkan diri, Hendra pun berteriak keras sekali, "Aaawww.. sakit", "Sorry.. sorry.. saya tidak sengaja", saya pun tak bisa menahan tawa saya.

Lalu kami melanjutkan kembali permainan seks kami. "Hen.. masukkan sekarang saja, saya sudah tidak tahan lagi.." lalu dengan bimbingan saya, saya mulai mengarahkan batang kemaluannya ke pintu liang kewanitaan saya yang sudah basah oleh cairan dan ludah Hendra itu hingga membuat liang kewanitaan saya licin. Lalu Hendra menempelkan kepala kemaluannya ke pintu kewanitaan saya yang tampak merah, dia mulai mengayunkan pantatnya ke depan tapi aneh sekali tidak bisa masuk entah karena terlalu licin atau memang punya Hendra terlalu besar, dia mulai membuka bibir kemaluan saya dengan kedua tangannya, dengan begitu lubang kewanitaan saya terbuka lebar dan dia mulai mengarahkan batang kemaluannya, dengan satu sentakan saja batang kemaluannya sudah masuk.

"Aduhh.. sakit Hen.." lalu Hendra mengambil sesuatu seperti cairan atau minyak, saya tidak mengetahuinya secara jelas dan Hendra pun mulai menggerakkan pantatnya maju mundur. "Ooohh.. uuhh.. hhmm.. sstt.." desahku. "Ayo terus sayang.. terus.. oohh.. kamu pinter.. Hen terus.. Hen.. terus sayang.. oohh.." Hendra pun kelihatannya tidak mau kalah, dia terus mendesah keenakkan, "Ooohh.. liang kewanitaan kamu masih sempit yah.. oohh.. enak sekali.. uuhh.. terus goyangkan pinggul kamu Reen.. terus sayang.. oohh.. sstt.."

Tak lama kemudian saya hendak keluar lagi. "Hen.. cepat.. Hen.. goyang lebih cepat lagi.. lebih cepat Hen.." dan, "Ooohh.. Hen.. saya keluuarr lagi.." saya mendesah panjang dan mengejang untuk beberapa saat sambil kakiku dilingkarkan di perutnya. Hendra pun mencabut batang kemaluannya dan bertanya pada saya, "Reen kamu sudah pernah melakukan anal belum..?" tanya Hendra. "Belum pernah.." jawab saya, "Habis kelihatannya sakit sich", lanjutku. "Ohh yah sudah nggak apa-apa kalau begitu kita rubah yah dengan dogdy style", bisiknya.

Lalu saya menungging dan Hendra mulai menusukkan batang kemaluannya dan sekarang ini kelihatannya Hendra tidak mengalami kesulitan untuk memasukkan batang kemaluannya, tampaknya Hendra sudah mau keluar karena goyangannya begitu cepat dan, "Ooohh.. aahh.. sstt.. uuhh.." Hendra pun menyemprotkan air maninya ke dalam liang kewanitaan saya, tak lama kemudian saya pun keluar untuk ketiga kalinya dan kami pun terkulai lemas bersamaan dengan datangnya kenikmatan yang tiada tara ini. Batang kemaluan Hendra masih terbenam di dalam liang kewanitaan saya.

Sesudah batang kemaluan Hendra mengecil saya melakukan kembali oral kepadanya, membersihkan sisa-sisa air mani dan cairan yang saya hasilkan dan kami pun berbenah diri sambil membersihkan diri. "Hen.. terima kasih yah.. kamu sudah memuaskan saya kamu hebat Hen." Hendra pun mengucapkan terima kasih kepada saya karena dia telah dipuaskan oleh saya. Hendra lalu menuliskan resep untuk saya, sewaktu saya hendak membayarnya dia menolak dengan alasan yang tadi itu sudah merupakan bayaran yang sangat mahal katanya. "Kalau begitu.. yah sudah", pikir saya. Saya pun pulang dan sewaktu saya melewati ruang tunggu ada beberapa pasien yang menunggu, rupanya tadi saya bercinta dengan Hendra cukup lama dan saya baru menyadarinya, "Ah.. cuek saja", pikir saya. Saya sering bercinta dengan Hendra sejak waktu itu tetapi sesudah suami saya pulang saya tidak pernah bercinta lagi dengannya.
Jika dari para pembaca ada yang ingin berkenalan silakan kontak saya.

TAMAT

Teman sekelasku yang menggairahkan

Saat ini aku sedang kuliah semester dua di salah satu universitas swasta di selatan Jakarta. Ini kisah beberapa bulan lalu, sekaligus cerita pengalaman pertamaku melakukan hubungan seks. Hari pertama kuliah memang membosankan karena belum kenal teman-teman. Tetapi, dengan jarak satu baris, ada mahasiswi duduk tiba-tiba, dia terlambat sekitar 10 menit. Kemudian agak kulirik hati-hati bagaimana rupanya. Memang sih tidak terlalu cantik tetapi manis. Ditambah kulit coklatnya, rambutnya agak ikal, panjangnya setengah leher, belah tengah. Sejenak otak terpenuhi pikiran-pikiran kotor. Bajunya abu-abu dengan lengan biru dan agak ketat, jadi buah dadanya terlihat mancung. Perkiraanku sekitar 34A ukurannya.

Sekitar seminggu berlalu, tetapi aku belum juga kenal dengan cewek itu. Seminggu kemudian, saat aku sedang ngobrol dengan beberapa temanku (yang kenal dengan cewek itu), tiba-tiba dia menghampiri kumpulanku dan teman-temanku. Ngobrol, ngobrol, ngobrol, akhirnya dia duluan yang bertanya untuk berkenalan.
"Eh, elo namanya siapa..?" katanya.
Dalam hatiku, "Agresif nih kayaknya.. bodo ah, tancap aja..!"
Lalu kubilang, "Eldi."
Dia juga ngejawab, "Diya Hartiyan, panggil aja Yayan."
Akhirnya kami berkenalan juga.

Setelah aku merasa akrab dengannya, pikiranku mulai kembali pada pikiran-pikiran kotorku lagi. Bahkan lebih parah, ingin bersetubuh dengan Yayan. Setiap kali kulihat dada seksinya, batang kejantananku mulai tegang. Malah, kadang-kadang kalau sedang duduk di belakangnya, Yayan seringkali membangkitkan nafsuku dengan melepas ikat rambutnya dan menaikkan rambutnya hingga lehernya terlihat. Juga bibirnya yang sexy, yang mungkin terlalu enak untuk dicium dan dikulum. Nafsuku yang sudah meledak suka ingin membuatku melepaskan celana dan onani di depan wajahnya. Aku juga ingin memiliki fotonya buat bahan onani di kamar atau di kamar mandi. Tetapi berhubung nafsuku sudah kelewat batas, aku sering onani dengan bahan hanya menggunakan daya khayalku saja.

Yang membuatku bertambah nafsu, Yayan gampang sekali dirangkul atau dipeluk cowok. Kupakai kesempatan ini dengan memeluk bagian pinggangnya, apalagi Yayan malah menanggapinya dan membalasnya. Kemudian, pada saat ujian negara semester 1, wanita diharuskan memakai rok panjang semata kaki. Begitu kulihat Yayan, wuaih.. anggun sekali! Apalagi dengan tambahan belahan roknya yang hampir sedengkul. Ketika kebetulan dia duduk, kulihat pahanya yang ternyata tidak sehitam kulit bagian lainnya, melainkan lebih coklat muda, hampir putih. Batang kejantananku kembali terangsang. Sesampainya di rumah, aku melakukan onani lagi.

Lalu, inilah saat-saat yang mengejutkan. Setelah midtest semester dua, salah seorang temanku ingin main ke rumahku yang juga mengajak beberapa teman-teman lainnya. Kebetulan orangtuaku sedang tidak ada di rumah. Bagian yang paling mengejutkan dan membuat nafas memburu adalah Yayan ikut juga ke rumahku. Hari itu Yayan memakai kemeja yang agak memperlihatkan bagian pusarnya. Di rumah aku mencoba biasa saja dan berusaha menutupi nafsu birahiku. Tidak lama Yayan ingin ke kamar mandi. Karena rumahku bertingkat, dan kamar mandi atas lagi rusak (airnya tidak jalan), kuantarkan Yayan ke kamar mandi bawah (sementara teman-teman lainnya di atas main Play Station) sambil mencoba menstabilkan nafas yang memburu melambangkan orang penasaran.

Sejenak aku berpikir, "Terlalu nekat nih.. tapi, kapan lagi..?"
Akhirnya kuputuskan untuk memberanikan diriku. Aku pura-pura menjelaskan bagian-bagian kamar mandiku kepada Yayan.
"Yan, ini showernya, ati-ati lho nyemprotnya kencang, trus WC-nya.. udah bisa kan..?"
Tidak lama kemudian kulakukan niat gilaku.
"Emm.. Yan..!" aku bertanya agak gemetaran sambil melihat tangga.
Yayan menjawab, "Apaan sih..? Ada apa..?"
"Ehmm.. Gue.. boleh..," Yayan langsung memotong, "Apaan sih..! Boleh apaan..?"
"Gue boleh cium elo, nggak..?"
Batinku berkata, "Kok kayak anak SMP yah..? Tapi, bodo amat lah..!"
Yayan agak tertegun, "Hah..! Ee.. emm.."
Entah adrenalin dari mana yang datang, tiba-tiba kupegang pinggang kanannya sambil menarik Yayan ke pelukanku. Yayan terlihat tidak berdaya, hanya agak mendesah. Langsung saja kucium perlahan bibir seksinya itu.

Awalnya bibir Yayan hanya diam saja, terkadang agak membuka lebar. Namun setelah agak lama, Yayan mulai memejamkan matanya dan langsung melingkari kedua tangannya di leherku, lalu membalas ciumanku ditambah jilatan di ujung bibirku. Sesekali Yayan juga mengulum lidahku dan agak digigit.
Aku mendengar desahan Yayan, "Ehmm.. eehh.. mm.." mungkin karena menikmati kulumannya.
Lalu Yayan yang mulai agresif, mendorongku ke tembok sambil membuka bajuku. Terpikir olehku, seperti di film saja. Setelah bajuku lepas, Yayan melemparkannya ke lantai dan menjilati dadaku, lalu turun menjilati bulu daerah pusarku. Bukannya geli yang kurasakan, tetapi justru menambah kencangnya ereksi batang kemaluanku. Lalu kubalas lagi melucuti kemejanya. Terlihat buah dadanya yang bulat sexy.

Sambil meneruskan ciuman mautku, kulepas kaitan BH-nya. Kulempar BH-nya ke lantai dan mulai menghisapi buah dada Yayan.
"Aghh.. ahhgghh.., Di.. aahh..!" Yayan terlihat berkeringat dan mengeluarkan desahan.
Beruntung pintu kamar mandi sudah kututup rapat. Puting Yayan kubasahi dengan ludah dan kujilati kembali. Yayan juga sesekali menjambak rambutku dan menjilati daun telingaku. Setelah lama bermain pada puting payudaranya, kulepaskan celana panjang dan celana dalamku. Kemudian aku menyender di tembok sambil memegangi batang kejantananku yang sudah berdiri tegang dan agak berurat. Yayan tidak mulai memasukkan batang kemaluanku ke mulutnya, tapi malah memainkannya dengan sedikit kocokan. Serentak dengan masuknya batang kejantananku ke mulut Yayan, aku merasakan ada semacam getaran listrik di daerah pinggul dan selangkangan.

"Eghh.. Yan.. ehhgghh..!" aku juga mendesah karena enaknya hisapan Yayan.
Sesekali Yayan juga meludahi ujung batang kemaluanku dan menjilati pinggirnya. Akhirnya, kuajak Yayan untuk melakukan persenggamaan.
"Ehh.. Yan.. gue masukkin yahh.. hh..!" sambil nafasku naik-turun.
Tanpa banyak bicara kecuali sedikit desahan, "Eughh.. ehh.." Yayan langsung mendorongku ke dudukan WC, sehingga aku terduduk dan Yayan duduk di pangkuanku setelah melucuti celananya.
Wajahnya menghadap ke arahku. Yayan sendiri yang mengarahkan batang kemaluanku ke lubang vaginanya.

"Esshhghh.. emmhh..!" Yayan mendesah namun seperti tertahan.
Wajahnya terlihat agak merah. Dari situ kuketahui kalau dia sepikiran denganku. Tidak ingin suaranya kedengeran. Akhirnya aku melakukan persetubuhan untuk pertama kalinya. Setelah Yayan menusukkan batang kejantananku ke liang senggamanya, aku merasakan ujung batang kejantananku menabrak dan mendorong sesuatu. Nampaknya selaput daranya tertekan.
Batinku berkata, "Yess.. Yayan masih perawan."
Yayan mencoba mengayunkan badannya ke atas dan bawah.

Kugoyangkan juga badanku ke atas dan ke bawah. Kurasakan selaput Yayan sudah robek. Mungkin nanti akan terlihat noda darah. Goyangan Yayan semakin kencang. Sekujur tubuhnya terlihat kucuran keringat. Bagitu juga badanku, terutama bagian leher. Kuusapi keringatnya dengan tanganku sambil mengelus tubuh seksinya, juga kutempelkan badannya ke badanku. Karena aku takut tutup WC-nya jebol, kuangkat Yayan dengan batang kejantananku masih menancap, dan kutiduri Yayan di lantai. Untung lantainya belum basah, jadi masih bersih. Kukangkangkan kedua kakinya, kutempelkan di pinggang dan kupegangi. Goyanganku kini maju mundur.

"Aghh.. aah.. Di.. a.. ayo.. Di..!" Yayan kembali mendesah sambil memanggil namaku.
Kembali aku merasakan adrenalin aneh merasukiku. Biasanya senafsu-nafsunya aku onani, paling cepat hanya 5 menit. Karena di kamar mandiku ada jam dinding, kulihat sudah hampir 10 menit sejak ciuman pertamaku itu, aku belum juga mencapai klimaksnya. Kalau onani pasti sudah keluar dari tadi. Akhirnya, Yayan ejakulasi duluan. Di sekujur batang kemaluanku kurasakan cairan hangat dari vaginanya. Kocokanku masih berlanjut, tetapi tidak lama. Aku merasa juga sudah ingin segera mencapai orgasmeku. Karena takut keluar di dalam, segera kucabut batang kejantananku. Aku bermaksud untuk memuncratkan spermaku di wajahnya.

Sambil kudekatkan batang kemaluanku ke bibir Yayan, kukocok sedikit lagi dengan telapak kananku yang sebagian dipenuhi oleh air mani Yayan. Kemudian ketika mau keluar, Yayan ikut memegangi batang kemaluanku.
"Crot.. crot..!" Spermaku membanjiri wajahnya.
Nampak seputar bibirnya dipenuhi sperma putih kental. Juga di pipinya, hidung, alis dan ada yang memuncrat hingga mengenai rambutnya. Sisa-sisa spermaku ditelan habis oleh Yayan.

"Aghh.. Di.. sperma loe banyak bangeetthh..!" Yayan mencoba berbicara sambil masih mengocok batang kejantananku dan membersihkan wajahnya dari lelehan cairan panas itu.
"Ghhahh.. ahh.. Yan.. capek nih gue..! Kuat juga elo..!" aku mencoba bercanda.
Yayan membalas, "Eughh.. ehh.. elo lagi.. kuat banget..!"
Akhirnya Yayan membersihkan bekas sperma yang membasahi sekitar wajahnya dan berpakaian kembali. Aku sepakat dengan Yayan untuk bilang kalau kami tadi lagi nelpon dulu, jadi agak lama naiknya, biar yang lainnya tidak pada curiga, dan Yayan menjawab setuju dengan ciuman.

Setelah melakukan persetubuhan itu, Yayan ke atas duluan, pura-pura tidak ada apa-apa. Begitu juga aku sehabis berbohong menelepon.

TAMAT

Teman sekantor - 2

Fafa meratakan spermaku ke dadanya, perut dan mengusapkan ke wajahnya. Baru kemudian dibasuh dengan air shower. Aku membantunya menggosok tubuhnya dari sisa-sisa sabun yang masih menempel. Tapi tetap saja, yang lama kugosok buah dadanya yang ranum itu. Putingnya kuhisap-hisap, kumainkan dengan lidahku.
"Entar lagi", bisiknya.
"Nggak usah pakai handuk Fa..", kataku ketika Fafa mau keluar menuju tempat tidur.
Fafa tersenyum. Dia keluar telanjang. Aku mengikuti. Fafa langsung ke tempat tidur. Hawa sudah hangat.
"Lapar?", tanyaku.
"Sangat".

Fafa duduk selonjor bersandar ke belakang. Fafa duduk di atasku. Vaginanya menempel erat di penisku. Sepiring mie goreng di tengah, kita makan berdua. Kami makan lahap. Cepat tandas. Aku raih nasi goreng dan kita makan bersama. Sambil makan, Fafa menggerak-gerakkan pantatnya. Penisku yang terjepit mulai mengeras.

"Sakit Fa..", bisikku.
"Sebentar.., tolong pegang piringnya", ujarnya sambil mengangkat pantatnya kemudian memegang penisku yang sudah siap tempur. Perlahan dimasukkan ke vaginanya. "Bless".
"Nggak sakit kan?", katanya sambil duduk.
Piring yang aku pegang diminta lagi. Gila, kita lalu makan sambil penisku menancap di vaginanya. Fafa menggerak-gerakkan pinggulnya sambil makan. Akhirnya habis juga sepiring nasi goreng. Kuambil coca-cola dingin. Segar..
"Siap?", tanyanya.
"Ntar dulu, biar turun nasinya", kataku.
Aku raih Fafa, kupeluk dan kutidurkan di atasku. Penisku tetap menancap di vaginanya. Karena Fafa tingginya tidak beda jauh denganku, maka wajah Fafa tepat di wajahku. Kami diam menikmati barang kita yang sedang bersatu. Agak lama kita diam. Tanganku memeluk erat punggungnya.

Ruangan makin hangat. Bahkan cenderung panas. Kami mulai berkeringat. Wangi tubuh Fafa menyapu hidungku.
"Mau didinginkan AC-nya?", tanyaku.
"Dikit aja. Panas makin asyik. Makin berkeringat..", ujarnya.

Fafa menggulingkan tubuhnya telentang di sampingku. Clepp.., bunyi ketika penisku tercabut dari vagina Fafa. Aku berbalik memandang Fafa. Kucium bibir Fafa dalam-dalam. Fafa menyambut dengan menyedot dalam-dalam bibirku. Disedotnya pula lidahku. Lalu turun ke leher dan akhirnya kuhisap-hisap puting susunya yang menantang. Fafa melenguh-lenguh. Tangannya memeluk kepalaku, mengusap-usap dan menekan agar aku lebih mengulum dadanya. Capek. Kucium ganas mulutnya. Tanganku meraba-raba pahanya. Lalu mengusap-usap rambut kemaluannya, berulang-ulang. Jari tengahku lalu memasuki vaginanya. Kumasukkan perlahan-lahan. Keluar masuk. Kepala Fafa bergerak tak beraturan ke kiri, kanan, kadang maju, mundur. Kayaknya mulai on lagi. Aku pindah lagi. Kujilati putingnya dengan lidahku. Kupuntir-puntir, kusentuh-sentuh dengan ujung lidah. Lalu kuhisap dan kukunyah. Berulang-ulang. Matanya terpejam menikmati permainanku. Bibirnya kulihat meringis menahan nikmat. Jari tengahku menemukan klitorisnya. Kumainkan. Kutekan, kugelitik dan kutangkap dengan jempolku lalu kupencet pelan-pelan. Fafa makin menggelinjang. Keringat mengucur di wajah dan lehernya. aakkhh.., Fafa menjerit dan menegang. Tanganku terjepit pahanya. Sejenak Fafa terdiam.
"Gile.., bener..", desahnya sambil memandangku.

Aku turun dari tempat tidur. Kusetel AC menjadi 28. Hembusan hawa agak dingin mulai menyapu ruangan. Lampu utama kumatikan. Juga lampu dekat kamar mandi. Pintu kamar mandi kututup agar cahayanya tidak masuk. Yang menyala hanya lampu kecil di kedua sisi atas tempat tidur.

Aku berdiri di samping tempat tidur. Kupandangi Fafa yang bugil tanpa selimut. Indah, sempurna. Berkulit putih bersih tanpa ada cacat atau bekas goresan dan luka setitik pun. Kedua tangannya ditarik ke belakang kepala. Rambutnya tergerai di kedua sisi bantal. Matanya terpejam seperti menikmati orgasme yang baru kuberikan. Dadanya menantang. Putingnya mencuat. Wajah, leher dan dadanya basah oleh keringat. Seksi sekali. Kulayangkan pandangan ke bawah. Perutnya rata, tanpa lekukan lemak. Pinggangnya kecil. Pinggulnya seakan selalu siap ditempel. Rambut-rambut vaginanya sebagian menyeruak ke atas. Pahanya juga kecil, panjang, seperti jangkrik. Betisnya panjang. Mulus sekali. Ramping. Jari-jari kakinya lentik. Indah. Jagat Dewa Batara! Mimpi apa aku semalam! Aku menelan ludah. Tanpa sadar aku mengelus-elus penisku.
"Jangan onani sendiri.., naik", kata lirih Fafa mengagetkanku.
Matanya masih terpejam. Fafa menggeliat. Dadanya dinaikkan. Duhai.., indahnya. Putingnya mencuat. Sekeliling payudaranya basah oleh keringat. Kakinya ditekuk sedikit. Mulus sekali..

Kurebahkan badanku di samping Fafa. Kumiringkan badanku. Kupeluk Fafa dari samping. Fafa tetap diam. Matanya terpejam. Nafasnya agak cepat tapi teratur. Kaki kananku di atas pahanya. Lututku tepat berada di tulang vaginanya. Kugerak-gerakkan mengusap rambut kemaluannya. Penisku menempel erat pinggul sampingnya. Tanganku mengusap-usap payudara kirinya.
"Giliranku..", ujar Fafa langsung bangun dan duduk bersila di sampingku. Dipandanginya tubuhku dari ujung kepala sampai ujung kaki. Fafa tersenyum. Dibasahinya bibirnya dengan lidahnya.

Tanpa basa basi, langsung dipegangnya penisku dengan tangan kirinya. Uff.., Aku memejamkan mata. Dipermainkan di penisku. Dicengkeram kuat, lalu dilepas. Cengkeram lagi, lepas lagi. Senut-senut rasanya. Jempol jarinya lalu mengusap-usap topi baja penisku. Aku merasa melayang. Apalagi kalau jarinya tepat menyentuh ujung penisku. Uuuff.., rasanya tak tergambarkan.

Dengan ganas Fafa lalu menyerbu mulutku. Dilumat dan dihisapnya bibirku hingga aku sesak nafas. Rambutnya yang agak pirang tergerai menerpa wajahku. Mulut Fafa terus menerobos mulutku, dan lidahku menyusup masuk ke mulutku. Bagai ular, kurasakan mulut itu menari-nari, mematuk-matuk lidahku. Mulut Fafa menyerbu mulutku yang kubuka dan menghisap lidahku dalam-dalam. Dimainkan lidahku di mulutnya, dikeluarkan sedikit, dan dihisapnya lagi. Nikmat sekali.

Tangan Fafa tak kalah aktif. Dikocoknya penisku dari lembut, makin cepat, cepat dan lembut lagi. Permainan ini kunikmati sambil memejamkan mata. Aku merasa di awang-awang. Tanganku menemukan payudaranya, dan kuremas-remas. Kenyal dan nikmat sekali untuk diremas. Jariku memainkan putingnya dan memang menonjol karena terangsang.

Fafa melepas ciumannya dari bibirku dan mulai menciumi wajahku. Dari dahi, kelopak mata, pipi, lalu turun ke leher dan telinga. Dihisapnya telingaku bergantian. Ini membuatku geli namun mm.., nikmat sekali.

Fafa mulai menciumi dadaku. Sampai di puting, dimainkan lidahnya di putingku. Bergantian. Rasanya tak tertahankan. Dihisapnya putingku, dan di dalam mulutnya, putingku dipelintir dengan lidahnya. Aakkhh..

Fafa kemudian merubah posisi. Tangannya tidak lepas dari penisku. Fafa melangkahi aku, dan dengan perlahan Fafa hendak mendudukiku. Dibimbingnya penisku untuk memasuki lubangnya. Dan uuff.., bless.., penisku masuk ke lubangnya. Clep..!, Fafa langsung duduk dengan mantap. Penisku tenggelam di vagina Fafa.

Aku membuka mataku. Fafa tersenyum manis. Dadanya yang indah dengan puting yang menonjol tergantung dengan manisnya. Tanganku tak kuasa untuk tidak meraihnya. Kuusap pelan payudaranya. Juga putingnya.
"Kamu cantik dan seksi sekali Fa..", kataku tulus dan pelan.
Fafa mulai menggerakkan pinggulnya. Pelan, memutar. Aku masih diam. Tapi kedua tanganku mengelus-elus kedua dadanya.

Fafa mulai menggerakkan pinggulnya makin cepat. Aku mulai menaik-turunkan pantatku. Nikmat sekali. Tangan Fafa mendekap tanganku di dadanya. Menekan agak keras. Aku makin mengeraskan cengkeramanku pada dadanya. Kuremas keras. Fafa makin gila. Pinggulnya berputar hebat. Erangan Fafa makin keras.
"Akkhh.., aakhh.., tusuk lebih keras..", erangnya.
Aku makin ganas menembak Fafa. Untung spring bednya bagus, bisa memantul. Makin keras aku menyodok, makin keras desahan dan erangan Fafa. Dan aakkhh.., Fafa mengerang panjang, menggelinjang, lalu diam. Fafa lalu rebah ke atasku. Kupeluk erat tubuhnya. Ternyata Fafa mengalami orgasme.

Penisku masih tegak dan keras dalam vagina Fafa. Aku mulai menggerakkan perlahan. Fafa duduk lagi. Kali ini Fafa mengambil posisi jongkok. Mulanya diangkatnya pantatnya pelan, lalu dimasukkan lagi pelan. Makin lama makin cepat. Aku juga makin cepat, makin keras dan makin dalam menusuk Fafa. Gila!, Bagai naik kuda, Fafa menghunjamkan vaginanya ke batangku di bawahnya. Fafa mulai mengerang lagi. Dengan binal Fafa menaik-turunkan pantatnya dan kuserbu vaginanya dengan penisku.
"Akkhh.., akhh..", Fafa terus mengerang.
Ketika pantat Fafa meluncur ke bawah, dengan kekuatan penuh aku naikkan pantatku. Kusambut vaginanya dengan penis perkasaku. Aku tak tahu lagi rasa nikmat apa ini. Berulang-ulang kami mereguk kenikmatan. Mata Fafa terpejam. Kepalanya tengadah ke atas bergoyang-goyang. Seksi sekali. Keringat deras mengucur dari wajah dan lehernya yang putih bersih.

Aku merasa hampir sampai. Kupercepat tusukanku. Akkhh.., akh.., akhh.., cepat.., cepat. Fafa juga makin liar. Gerakannya makin tak beraturan.
"Aku mau keluar Fa..", bisikku pada Fafa, Fafa diam saja. Terus saja dia menggoyangku. Dan akkh.., Fafa menjerit lagi. Kejang. Menggelinjang lagi. Orgasme lagi dia! Kurasakan jepitan Fafa makin kencang.
"Fa.., di dalam atau di luar..?", tanyaku sambil ngos-ngosan karena terus menggoyang Fafa.

Fafa kemudian mencabut vaginanya dari penisku. Dikocoknya penisku cepat. Akkhh.., makin cepat Fafa mengocoknya, berulang-ulang. Tapi belum juga keluar.
"Kulum Fa", pintaku.
"Aku belum pernah", jawabnya sambil terus mengocok.
Namun Fafa kemudian menunduk dan memasukkan penisku ke mulutnya. Tangannya tetap mengocok. Fafa tidak memainkan lidahnya atau mengemut-emut penisku. Mungkin masih janggal. Aku yang mulai. Kunaik turunku pantatku. Penisku keluar masuk mulut Fafa yang terus mengocok. Dan, akkhh.., akkhh.., eemm.., berkali-kali spermaku muncrat dalam mulut Fafa. Namun Fafa tetap saja mengocok. Aku merasa diperas sampai habis spermaku. Agak lama penisku dalam mulut Fafa. Ketika sudah loyo, Fafa mengeluarkan penisku. Diambilnya tissu dan disekanya bibirnya. Dikeluarkannya spermaku dari mulutnya dan diseka dengan tissu berikutnya. Kemudian fafa mengambil coca cola, berkumur dan ditelan. Kupandangi Fafa yang luar biasa dengan perasaan kagum. Fafa tersenyum padaku. Kemudian dipeluknya aku. Kami masih telanjang. Kutarik selimut. Kupeluk Fafa erat-erat. Kami lalu bobok.

Paginya kami bercinta lagi di kamar mandi. Sungguh beruntung sekali. Tak terduga. Tak dinyana. Gadis secantik Fafa bisa kusetubuhi berulang kali tanpa rencana.
Siang di kantor, ada email dari Fafa, "Pak, nanti sore kalau boleh Fafa ikut lagi. Mobil Fafa belum selesai".

TAMAT

Teman sekantor - 1

Aku bekerja di perusahaan keuangan Jln. Jendral Sudirman, Jakarta. Posisiku lumayan bagus. Usia 30 tahun, dengan tinggi badan 175 cm dan berat 69 kg. Pengalaman ini terjadi seminggu yang lalu.

Waktu itu baru jam 7 malam. Aku sudah mau pulang karena ada janji dengan teman di Cinere. Ketika lewat front office kulihat Fafa sedang berbenah mau pulang juga. Ketika kutanya ternyata dia mau ke kawannya di Lebak Bulus. Jadi satu jalan. Kebetulan Fafa tidak bawa mobil sendiri. Kutawari untuk pulang bareng dan Fafa oke. Daripada kehujanan, katanya. Lumayan ada teman ngobrol di jalan.

Dalam bekerja Fafa masuk dalam supervisiku. Kuakui dia sangat cantik. Berdarah Arab (Yaman kata dia), langsing, tinggi sekitar 165-170 cm dan kulitnya putih. Rambutnya berombak agak pirang (asli, bukan karena dicat) dan bibirnya sangat sensual.

"Dingin Fa?", tanyaku ketika sampai di sekitar Blok A.
Memang kurasakan mobilku dingin sekali AC-nya. Padahal sudah kusetel minimal. Mungkin karena hujan meskipun tidak deras. Dan penyakit di selatan Jakarta, kalau hujan macetnya minta ampun. Jam sudah menunjukkan pukul 8.15.
"Iya Pak. Dingin banget", katanya sambil mendekap tangannya ke dada.
"Kalau di luar gini jangan panggil Pak. Nama saja", kataku.
"Ya Pak".

Hujan makin deras. Jalanan makin macet. Jam 9 kami masih berkutat di Blok A.
"Aku laper Fa".
"Sama. Aku juga dari tadi".
Kami tertawa bareng. Perut kosong, badan menggigil. Bayangin. Kami ngobrol apa saja tentang kantor, teman-temannya, keluarga sampai keinginannya untuk dapat cowok non arab.

Kulirik Fafa sedang menggosok-gosok tangan kanannya ke hand rem. Mungkin biar hangat. Dengan tangan kiri kupegang tangannya.
"Tanganmu dingin banget".
"Dari tadi".
"Aku juga kan?".
"He eh", sahutnya tanpa mencoba melepas tangannya dari remasanku. Hujan tetap lebat. Praktis mobilku berhenti seperti yang lain. Macet.

Dalam diam saya remas-remas tangannya. Fafa diam saja. Bahkan juga mulai ikut meremas.
"Lumayan. Agak hangat", kataku.
"He eh", jawabnya sambil senyum.
Kulirik Fafa memakai rok mini. Paha putihnya kelihatan meskipun agak gelap. Kubawa tanganku ke pahanya. Fafa juga diam. Dilepaskan tangannya agar tanganku leluasa meraba pahanya. Halus, haluus sekali pahanya. Kuusap-usap naik turun. Perlahan tapi pasti aku mulai menyentuh celana dalamnya. Dari ujung dengkul, dengan gerak mengambang kuusap sampai menyentuh celana dalamnya. Berulang-ulang, Hmm.., lenguhnya.
"Makin hangat Fa", bisikku.
Fafa diam saja. Kulirik dia memejamkan matanya. Tangannya memegang tanganku di diusap-usapkan ke celana dalamnya. Kini Fafa yang mengendalikan tanganku. Kurasakan mulai basah.

Tanpa sadar kulihat sudah lewat Golden Trully. Kutarik tangan Fafa, kubawa ke penisku yang sejak tadi menegang tapi masih rapi tertutup celanaku. Fafa mengerti. Dia remas-remas penisku. Lama kami saling mengelus, mengusap dan meremas barang maing-masing. Aku juga merasa sudah mulai basah.

Kami sudah sampai perempatan Lebak Bulus. Arah Cinere masih macet. Kanan arah Pondok Indah kosong. Jam sudah jam 11.
"Aku laper", bisikku di telinga sambil menjilat belakang telinganya.
"Cepet mampir. Bisa pingsan aku. Laparr..", bisiknya.
Fafa tetap memejamkan matanya. Tanganku terus aktif bergerilya. Perlahan kutarik pelan rambut vaginanya dari arah samping celana dalamnya. Fafa terus melenguh. Pahanya makin panas. Tangannya makin aktif mengelus-elus penisku dari luar.

Aku ambil kanan. Lalu menyusuri jalur paling kiri. Sementara kegiatan dihentikan. Sekarang cari makan. Kulihat bangunan berpagar bambu gelap. Jalannya turun. Mungkin hotel. Kita bisa makan.
"Kiri ya?, Mungkin kita bisa makan di resto-nya", bisikku.
"Itu restoran?", tanya Fafa.
"Nggak tahu. Kalo resto ya syukur, kalau hotel kita bisa makan di restonya", jawabku sejujurnya. Sejujurnya, waktu itu aku belum tahu sama sekali tempat itu.

Aku belok kiri. Lalu ada orang berlari-lari memakai payung menyambut dan memberi kode untuk mengikutinya. Dia menunjuk sutau tempat seperti garasi dan mempersilakan mobilku masuk garasi itu. Aku masuk. Lalu pintu garasi ditutup. Aku memandang bingung ke arah Fafa. Dia mengangkat bahunya tanda bingung atau tidak tahu juga. Aku lalu turun. Fafa masih di dalam. Kuikuti petugas yang masuk pintu di garasi. Ternyata kamar tidur. Sebuah spring bed besar di tengah. Dua tempat duduk dan satu meja kaca. Dindingnya tertempel kaca besar. Kamar mandi ada di dalam tapi pakai shower.

Ooo.., Ternyata ini hotel atau motel garasi yang diceritakan teman-temanku. Setelah membayar kamar dan pesanan makanan, petugas keluar. Aku mengikuti.
"Turun yuk", kataku kepada Fafa.
Fafa turun. Kugandeng dia masuk kamar. Lalu kukunci. Fafa tertegun. Aku lalu berdiri di depannya. Memandangnya. Fafa lalu memandangku. Agak lama. Entah bagaimana kami lalu saling menubruk. Kucium fafa sampai terengah-engah. Kujilati bibirnya sambil berdiri. Lidahku meliuk-liuk di dalam mulutnya. Fafa tak kalah garang. Dia memelukku erat-erat dan membalas ciuman buasku. Tangan kiriku menyusup ke blusnya. Tangan kanan menyususp ke celana dalam bagian belakang mengusap-usap pantatnya. Kuciumi Fafa dengan buas. Bibir sensualnya kulumat habis. Lidahku meliuk-liuk dalam mulutnya dan disambut dengan kelincahan lidahnya. Lalu turun ke leher. Kujilati lehernya. Fafa memejamkan matanya terus menikmati rangsanganku. Tangannya terus mengusap-usap penisku yang masih rapi dalam sarangnya.

Pintu diketuk dari luar. Otomatis kami menghentikan aktifitas yang menggairahkan ini.
"Aku ke kamar mandi dulu", bisiknya, aku mengangguk.
Makanan kutarik di meja. Kutuang coca-cola dalam gelas yang telah berisi es. Kuteguk. Hmm.., segar. Kudengar suara shower di kamar mandi. Rupanya Fafa mandi. Pantas lama. Kulangkahkan kakiku ke kamar mandi.
Gila!, Gila!, Belum pernah kulihat pemandangan seindah dan seeksotik ini. Menggairahkan, menakjubkan. Aku bengong, terpana, terpesona.
Kamar mandi remang. Hanya cahaya lampu 5 watt yang menerangi. Fafa sedang mandi di bawah pancuran shower. Lekuk-lekuk tubuhnya sangat sempurna. Putih dan mulus tubuhnya yang tersiram air bagai di gambar-gambar playboy. Tinggi, kakinya panjang dan jenjang, pinggangnya kecil, tapi pinggulnya cukup besar. Sangat sempurna. Fafa sedang menggosok lehernya dengan sabun sambil memejamkan matanya.

"Tolong matikan AC kamar. Agar nggak kedinginan kalau keluar", katanya.
Aku terjaga dari lamunanku. Cepat aku keluar. Memang dingin sekali. AC tidak kumatikan tapi kusetel menjadi 35. Biar hangat. Lalu aku ke kamar mandi.
"Jangan bengong. Mandi sekalian.", katanya waktu aku bengong lagi, aku segera melepas dan celanaku.

Airnya hangat. Pantas Fafa berlama-lama setelah kedinginan di mobil tadi. Setelah badanku basah tersiram air, Fafa menyabuni seluruh tubuhku dengan pelan dan lembut. Mula-mula tanganku, lalu dada dan perut. Disuruhnya aku berbalik dan kemudian punggungku. Fafa jongkok. Disabuninya kakiku, lalu naik ke paha. Aku memejamkan mata. Kurasakan seluruh elusan dan usapan tangan lembutnya ke seluruh tubuhnya. Akhirnya Fafa memegang penisku dan dielusnya pelan-pelan. Licin dengan sabun, kemudian ditarik dan lepaskan tangannya dari penisku.

Kini giliranku. Kuambil sabun dari tangan Fafa. Mula-mula kuusap kedua tangannya. Lalu perutnya. Naik, kedua dadanya kusabuni dengan lembut. Kenyal. Putingnya mencuat ke atas. Tangan kiriku ke dada kanan dan tangan kananku ke dada kirinya. Berulang-ulang. Fafa memejamkan matanya sambil mendesah. Aku lalu jongkok. Kuusap kaki dan betis indahnya. Pelan. Kunikmati keindahan ini. Lalu naik ke pahanya. Agak direnggangkan agar tanganku bisa menyusup ke celah pahanya. Lalu naik sampai akhirnya kusabun rambut-rambut vaginanya. Agak lama kuusap vaginanya.
"Sudah.sudah..", lenguhnya.

Aku berdiri. Kupeluk Fafa. Licin tapi nikmat. Tubuh kami bersatu. Kuciumi mulutnya sampai Fafa terengah-engah. Tubuh kami terus bergerak mencari kenikmatan. Tanganku mengusap pantat, paha dan kedua dadanya. Tangan Fafa juga terus menggerayangi tubuhku. Dari usapan di punggung, pantat dan akhirnya bermuara ke penisku. Dikocok-kocoknya penisku. Aku merasa nikmat. Belum pernah kualami pengalaman sedahsyat ini.

Fafa mundur dan bersandar di dinding. Kaki direnggangkan. Tangannya terus memegang penisku. Sabun makin cair tapi masih tetap licin. Perlahan mulai kutusukkan penisku ke vagina Fafa. Fafa mengerti. Direnggangkan lagi kakinya. Dibimbingnya penisku ke vaginanya. Dan ahh.., aku mulai masuk. Mula-mula perlahan. Makin lama makin cepat. Tangan Fafa memeluk kedua pantatku ikut menekan. Nikmat sekali. Badan masih licin. Terus kuayun pantatku dan penisku menghujani vagina Fafa berulang-ulang.

Tak lama, Fafa tak tahan lagi. Dipeluknya aku erat-erat. Fafa telah sampai duluan. Penisku makin kencang menancap. Kuayun lagi pelan. Makin lama makin cepat.
"Ah.., ah.., terus Pak.., terus..", lenguhnya. Pinggulnya terus bergerak mengimbangi tusukanku. Kami terus berpelukan erat sekali. Mulutnya terus kucium. Bibir sensualnya terlalu sayang untuk dilewatkan.

Kucabut penisku. Kuhadapkan Fafa ke dinding. Aku ingin doggy style. Fafa lalu nungging. Pantatnya masih licin oleh sabun. Kuusap-usap. Jari tengahku mulai memainkan vaginanya. Fafa melenguh. Kumainkan klitorisnya. Kuusap, kupelintir, kusodok. Fafa makin menggelinjang. "Sekarang.., sekarang..", desahnya.

Dipegangnya penisku. Dan dibimbingnya masuk ke dalam vaginanya. Aku memejamkan mata. Kutusukkan pelan penisku. Kucondongkan badanku, bersatu dengan punggungnya. Licin. Enak sekali. Tanganku meraih kedua dadanya. Kuusap-usap. Licin nikmat sekali. Berulang-ulang sambil menusuk penisku ke vagina Fafa. Aku lalu menegakkan badanku. Kupegang sisi pinggulnya. Aku mulai mempercepat ayunan. Fafa menggoyang-goyang pinggulnya. Aku tarik, Fafa juga ikut menarik pinggulnya. Aku tusuk sekuatnya, Fafa pun mengimbanginya. "Clep.., clep.., clep".

Akhirnya aku mau keluar. Gerakan makin kupercepat. Jeritan Fafa makin keras.
"Di dalam atau di luar Fa..", bisikku sambil terengah-engah.
"Di luar saja", sahutnya.
Fafa tetap nungging. Pinggulnya makin liar. Aku makin tak tahan. Dan.., kucabut penisku dari lubang kemaluan Fafa.
"Sekarang Fa..", kataku sambil memejamkan mata.
Fafa balik badan lalu jongkok dan mengocok penisku. "Ahh.., "cret.., cret.., cret", maniku muncrat ke wajah dan badan Fafa. Banyak sekali. Fafa terus meremas penisku sampai tetesan terakhir maniku.

Bersambung ...

Teman lama

Nama gue Rio, saat ini umur gue 37 tahun, status kawin dengan dua anak. Gue pengen berbagi pengalaman waktu gue ketemu temen-temen lama gue.

*****

Tahun 1986 gue mulai masuk kuliah di salah satu universitas negeri di Depok. Sebelumnya, tahun 1984 gue pernah kuliah di Bandung, tapi berhubung ada masalah yang nggak bisa diselesaikan, akhirnya gue mutusin pindah ke Jakarta. Sebagai mahasiswa baru mau nggak mau harus diplonco lagi, tapi enak juga jadinya banyak kenal temen baru. Diantaranya yang paling dekat ada 4 orang yang semuanya wanita. Hehehe memang itu yang dicari.

Sebut saja namanya Sita, Via, Ranti dan Donna. Sita orangnya putih, tingginya 168, cantik sekali, orang Solo asli, kata orang-orang sih darahnya biru tapi paling marah kalau disinggung kebiruannya, sayangnya sudah punya cowok pada saat itu. Yang kedua Via, juga putih, tinggi 165, anaknya manis dengan lesung pipit, sunda tapi dari kecil sudah di Jakarta, belum pernah pacaran. Kalau Ranti cantik tapi tidak terlalu putih, tingginya se Via, aslinya dari Padang juga dari kecil sudah di Jakarta, status single. Yang terakhir Donna, diantara semua paling mungil, tingginya 160, putih banget maklum binyo asli (menado). Saking putihnya kalau minum kopi keliatan ditenggorokannya, hehe. Cantik, mata sipit katanya sih masih ada turunan cinanya, sudah punya pacar tapi waktu dia pindah ke Jakarta jadinya putus.

Sebagai mahasiswa baru kita selalu barengan, kuliah, ke kantin, belajar sampe kostnya juga barengan. Tapi berhubung saat itu gue masih polos banget, jadi nggak pernah kepikiran berbuat hal yang diinginkan. Paling-paling kalau lagi belajar bareng pegang-pegang sambil becanda. Itu berlangsung terus sampe tingkat tiga.

Tahun ke empat, akhirnya gue pacaran sama Donna, tapi kita tetep berteman. Setahun kemudian gue ngelanjutin ke Amerika, pertamanya sih hubungan masih lancar sama semua, tapi karena gue sibuk banget akhirnya gue putus hubungan, termasuk sama Donna yang nggak tahan berhubungan jarak jauh.

Suatu hari bulan Juni 2004, di Pondok Indah Mall,

"Rio?" ada suara merdu manggil nama gue dari samping.
"Ranti? Apa kabar.. Makin seksi aja lu, sama siapa kesini?"
"Gue sendirian, gile jadi gempal gitu lu, kapan lu balik? Koq nggak pernah kasih kabar sih?" Gue lagi kuliah memang ceking, tapi manis he.. He.
"Gue balik tahun 95, gue diterima kerja di Surabaya, terus ke Balikpapan, pindah ke Pekan Baru, terahir di Batam, baru tahun lalu gue pindah Jakarta. sudah kawin lu.."
"Ya sudah dong, anak gue dua. Lu sudah kawin sama masih ngecer.."
"Sialan lu, anak gue juga dua. Eh gimana kabarnya yang lain"
"Yang lain apa Donna.."
"Ya semuanya dong"
"Kalau Sita anaknya juga dua, sekarang tinggal di Bandung dia kerja di bank N. Via di Jakarta, paling rajin bikin anak, anaknya tiga, Donna juga di Jakarta, kerjanya juga di bank C, anaknya baru satu, lu telepon gih siapa atau dia mau nambah anak dari lu, he.. He.."
"Gue sih mau aja he.. He.. Eh bagi telepon lu dong sama yang lainnya sekalian"

Setelah tukeran kartu nama dan nomer telepon dan berhahahehe akhirnya kita berpisah dengan janji akan telepon-teleponan.

Besoknya, jam 9 pagi, direct line gue bunyi.

"Hallo, bisa bicara dengan Pak Rio?" suara wanita.
"Ya saya sendiri".
"Begini Pak, saya dari PT. X mau menawarkan produk kami, bisa mengganggu waktu bapak sebentar?"
"Ya nggak apa-apa"
"Ini Pak, produk kita ini dari Amerika, bagus banget cocok sekali buat bapak"
"Produk apa sih?"
"Penis Enlargement Pak" Pasti becanda nih cewek.
"Ini siapa sih?"
"Ha.. Ha.. Ha masak lupa sih"
"Kamu salah satu koleksi saya bukan?"
"Sialan, gue Donna sayang.."
"Hai honey.. Apa kabar cintaku.."
"Baik, gue kesitu yah, kangen nih.."
"Eh.. Masih jam kerja nih, pulang kerja aja yah, lu pulang sama siapa?"
"Sendiri, gue naik taksi"
"Ya sudah ntar pulangnya gue samper, lu di Bapindo plaza kan?"
"Betul sodara.. Jam lima ya, kalau lu sudah nyampe telepon gue. Sampe nanti yah, bye..".

Jam 5.40 gue baru nyampe di Lobby kantornya, macet banget.

"Gue sudah di lobby nih"
"Gila lu, gue sudah bengong dari tadi nih"

Begitu ketemu dia langsung maen gabruk aja, untungnya nggak ada orang kecuali dua satpam yang cengar cengir ngeliatin. Komentarnya pertama kali sama sama komentar Ranti, gue dibilang gempal.

Setelah telepon suaminya bahwa dia harus ketemu client dulu, sore itu kita ke daerah Kemang, ke sebuah restoran Chinese yang lumayan sepi dan temaram. Kita ngobrol kesana kemari, tapi gue belum berani berbuat sesuatu, paling cumin pegang tangannya. Lumayan lama juga kita disitu, sekitar jam 8 kita baru keluar dari situ. Gue anter dia sampai rumahnya di daerah Cinere, sebelum turun dia cium bibir gue, gila nekat juga nih anak.

Hari Sabtu pagi, sehabis nganter istri sama anak-anak gue ke Gambir, iseng-iseng gue telepon Donna.

"Hai.. Lagi ngapain?"
"Gak ngapa-ngapain, tumben sabtu telepon"
"Iya nih gue lagi jadi bujangan, istri gue sama anak-anak lagi pada ke Bandung, nengokin nyokapnya lagi sakit"
"Sama dong.. Suami gue juga lagi ke Medan, ketemuan yuk"
"Ya sudah, jam sepuluh gue samper ke rumah"
"Jangan ke rumah, ketemu di Cinere mall aja, gue tunggu di toko buku Kharisma"
"Oke, lu pake rok yang pendek yah"
"Mo ngapain?"
"Sudah.. Nurut aja"

Begitu liat mobil gue Donna langsung nyamperin.

"Mau kemana sih say?"
"Atau, kita jalan dulu aja"
"Terus ngapain gue disuruh pake rok pendek gini?"
"Biar gue bisa gini.." sambil gue elus-elus pahanya. Halus banget..
"Ih.. Nakal ya" tapi dianya nggak nyegah.

Untungnya kaca mobil gue lumayan gelap, jadi nggak ada yang lihat. Sambil ngobrol sepanjang jalan tangan gue menjalar sepanjang pahanya sampe mendekati CDnya. Dianya sendiri sudah nggak konsentrasi sama omongannya. Begitu gue elus permukaan CDnya, Donna langsung mendesah,

"Say.. Gue jadi pengen nih.."
"Kita ke apartemen gue aja yah"

Gue kebetulan punya apartemen di daerah Kuningan, rencananya mau disewain, tapi sampai sekarang masih belum laku. Gue langsung ngebut ke sana, sampai-sampai mau nabrak. Sudah diujung soalnya..

Untungnya dari parkiran di basement bisa langsung ke kamar, jadi nggak ketemu orang di lobby. Begitu masuk ke dalam, dia langsung mencium gue, sambil bukain kaos gue. Dalam hitungan detik kita berdua hanya tinggal bercelana dalam. Sengaja gue CDnya nggak gue buka dulu biar ritualnya lebih lamaan. Gue rebahin dia di sofa pelan-pelan ciuman gue mulai turun ke teteknya.

"Ah.. Enak banget say.. Isep putingnya dong.."

Gue nggak turutin, gue malah berdiri mandangin badannya. Masih seperti dulu, pentilnya masih coklat muda, perutnya masih rata, sekarang malah lebih seksi. Waktu pacaran dulu gue baru sampai tahapan nyium tetek, nggak punya keberanian berbuat yang lebih enak. Takut kejadian.

"Ayo dong say.. Terusin.."

Kali ini gue langsung isep putingnya,

"Ah.. Enak banget.. Gigit dong sayang.. Remes yang kencang.."

Dari tetek gue turun ke perutnya. Wuih licin banget.. Laler juga pasti kepeleset, he.. He.. Pusernya gue ciumin, Donna langsung menggeliat kegelian "Geli banget say.." Sengaja gue lewatin daerah kewanitaannya, langsung gue ciumin pahanya turun terus kebetis.

"Ah.. Ayo dong buka CD gue.. sudah nggak tahan nih.."

Nggak sabar ditarik kepala gue kearah memeknya. Pelan-pelan gue buka G-stringnya sambil gue ciumin paha dekat memeknya. Memeknya bagus banget, dengan bulu yang tidak terlalu lebat, belahannya terlihat masih berwarna pink, sama sekali nggak ada warna gelapnya.

Begitu klitnya gue jilat, "Ah.." Donna langsung teriak.
"Masukin jarinya dong sah.. Ah.. Enak banget.. Kamu apain sih.. Enak banget say.."

Dua menit kemudian kepala gue dikempit pahanya, sampai gue nggak bisa nafas.

"Ah.. Gue keluar sayang.. Ah.. Ah.. Ah.."

Gila, banyak banget cairan yang keluar. Gue sedot terus clitnya, gue gigit pelan-pelan, sambil jari gue ngubek-ngubek daerah Gspotnya. Semenit kemudian "Ah.. Gue keluar lagi.. Aduh.. Enak banget.."

Donna langsung tergeletak lemas, gue belai rambutya sambil gue cium pipinya, "Coba dari dulu kita gini" kata gue.
"He.. He.. Kamu waktu itu kan culun banget, cium tetek aja sambil gemeteran".
"Gantian sekarang kamu yang tiduran".

Begitu gue tiduran, langsung CD gue diperosotin.

"Gede banget say..".

Bibirnya yang mungil langsung mengulum kontol gue. Walaupun nggak bisa masuk seluruhnya, tapi sedotannya enak banget. Kata siapa kalau bibir tipis sedotannya nggak enak, ternyata salah besar. Gue inget kalau ponsel gue ada videocamnya,

"Say gue filmin yah.." Donna ngangguk.

Sambil gue shoot jari gue masuk ke memeknya "Ah.." Donna langsung teriak.

Ekspresi Donna yang ketangkap kamera bener-benar seksi. Lima menit Donna blow job gue, akhirnya dia nggak tahan, dia langsung duduk diatas kontol gue. Pelan-pelan diarahin kontol gue ke liangnya. Walaupun sudah basah, masuknya susah banget, sempit.

"Ah.. Lu kayak masih perawan aja Don..".
"Kontol lu kayanya yang kegedean..".

Akhir masuk juga, "Ah.. Penuh banget memek gue say.. Enak banget.. Akhirnya kita ngentot juga.. Kontol lu enak banget.. atau gitu dari dulu.. Teken terus say.. sampai mentok.. Ah.. Ngentotin terus.. Ah.. Goyangin yang kenceng.. Lebih kenceng lagi.. Yah gitu.. Ah.."

Rame banget.. Kayanya Donna seneng ngomong vulgar kalau lagi berhubungan. Gue terus filmin semua gerakan Donna. Kemudian dengan tanpa melepas, Donna balik arah. Sekarang posisinya munggungin gue. Asik juga ngeliatin pantatnya naik turun. Waktu naik kontol gue seperti tersedot keatas. Ahirnya beberapa saat kemudian.

"Gue mau nyampe.. Goyangin yang keras say.. Ah.. Ah.. Gue keluar.. Gila kontol lu enak banget.. Ah.."

Memeknya berdenyut kencang, kontol gue serasa disedot, gue jadi nggak tahan, langsung gue suruh nungging, gue masukin dari belakang. Ugh sempit banget.. nggak tahan gue "Gue juga keluar say.. Ah.."

Akhirnya kita ketiduran di sofa sambil berpelukan. Sampai sore kita ngelakuin beberapa kali lagi, segala macam posisi yang ada kita coba, sampai memori telepon gue penuh.

Minggu pagi HP gue bunyi, Donna.

"Pasti lagi bengong"
"Koq atau?"
"Soalnya telepon gue langsung diangkat, kesini dong.."
"Memang laki lu belum pulang?"
"Belum, selasa kali, itu juga kalau kerjaannya beres"
"Lagi ngerjain cewek medan kali.. He.. He.."
"Sialan lu.., gue tungguin ditempat kemarin yah.."
"Oke"

45 menit kemudian.

"Lama banget sih.."
"Macet say"

Pagi itu Donna pake rok mini dengan kaos tanpa lengan, seksi banget.

"Kemana kita?"
"Disini aja, gue pengen ML di mobil"
"Ah gila lu, banyak orang lagi"

Donna nggak peduli, dia langsung nunduk membuka resleting celana gue, kontol gue langsung dikeluarin, di kocok-kocok terus dijilatin. Untungnya gue parker agak mojok. Jadi ada mobil di bagian depan. Sambil ngisep, Donna nyopotin celana dalam sama behanya.

"Pindah ke belakang yuk" ajak gue.

Soalnya kalau didepan keliatan banget dari luar. Dibelakang, joknya langsung gue rebahin. Donna melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Kayanya sih dia belum puas dengan yang kemarin, atau memang maniak.

"Gila sedotan kamu enak banget.. Kontol gue kaya disedot vacuum cleaner ah.."
"He.. He.. He.. Emangnya pernah?"

Nggak tahan gue angkat kaosnya ke atas, gue remes teteknya, gue mainin niplenya.

"Ah.. Yang kenceng say..".

Lima menit saling kulum, saling remas, akhirnya Donna nggak tahan juga. Sambil berpegangan ke jok depan, perlahan-lahan Donna menurunkan pantatnya sambil ngarahin kontol gue ke lobang memeknya.

"Aduh.. Enak banget yo.. Sodokin yang kenceng say.. Ah.."

Gue ciumin punggungnya sambil gue remes teteknya dari belakang. Sambil melihat situasi sekeliling gue genjot terus Donna. Lima menit kemudian, "Say gue mau keluar.. Ah.. Teken say.. Gue keluar.." goyangan Donna benar-benar gila. sampai-sampai kontol gue serasa dipelintir-pelintir.

Donna langsung berbalik, tanpa menunggu lagi dia langsung bergoyang lagi, lebih gila. Kaosnya diangkat keatas, "Isep say.. Gigit putingnya.. Ah.. Enak say.."

Nggak sampai dua menit kontol gua sudah berdenyut.

"Gue mau keluar say.."
"Gue juga, barengan ya say.. Ah.."
"Ah.."

Ternyata ML sambil deg-degan takut dipergokin, enak banget.

Beberapa kali sesudah itu kita mengulangi lagi di beberapa tempat parkir, di tol sambil nyetir, di motel, yang paling gila dirumahnya sewaktu suaminya keluar kota sementara anaknya main diluar.

Tiga minggu kemudian Ranti telepon gue, "Gila lu ya.."
"Apaan.."
"Gue sama via sudah lihat film lu sama Donna"

Terus..?


Tamat

Teman kuliahku penari striptease

Pengalaman saya berikut ini sebenarnya cukup aneh untuk diri saya sendiri. Anggap saja nama saya Dimas. Ceritanya ketika beberapa bulan yang lalu, ketika saya dan temanteman berpatungan menyewa sebuah kamar di hotel bintang 5, yaitu hotel Borobudur. Kami semua 4 orang adalah teman yang cukup akrab sejak kecil. Maksud kami semua menyewa kamar di hotel tersebut adalah karena selain mendapat diskon untuk harga kamar, kami juga ingin bermaksud menyewa dan menonton striptease di malam harinya. Kami berempat adalah mahasiswa sebuah perguruan tinggi di Jakarta, sedangkan ketiga teman saya yang lainnya lain universitas dengan saya. Akhirnya setelah dirundingkan kami akan menginap di hotel tersebut pada hari Sabtu malam, karena di hotel itu juga terdapat sebuah cafe yang cukup terkenal, yaitu "Musro" atau Music Room. Untuk urusan menyewa striptease-nya saya menyerahkan urusan itu pada teman saya yang memang sudah sering melakukan transaksi seperti itu.

Dan pada hari yang ditunggutunggu akhirnya tibalah malam Sabtu itu. Setelah kami makan malam di hotel tersebut, kirakira sekitar pukul 20:30 kami semua kembali ke kamar, karena cewek striptease-nya akan datang sekitar jam 21:00. Dan akhirnya sekitar jam 9:00 lewat bunyilah bel kamar, dan teman saya membuka dan ternyata benar itu adalah si cewek striptease. Begitu dia masuk dan saya melihatnya, alangkah kagetnya saya kalau si cewek itu tidak lain adalah teman sekelas kuliah saya di kampus yang bernama Dewi. Wajah Dewi juga sempat pucat, mungkin karena dia juga kaget melihat yang menyewanya adalah ternyata saya, tidak lain teman ngobrolnya juga di kampus. Memang Dewi sempat saya taksir ketika saya baru masuk kuliah, karena dia memiliki tinggi sekitar 168 cm, dengan berat 50 kg. Menurut saya itu cukup ideal, ditambah ukuran payudaranya yang cukup besar, yaitu 36B. Cuma pada waktu itu saya mengurungkan niat saya untuk mendekatinya karena Dewi sudah memiliki kekasih seorang pilot di sebuah perusahaan penerbangan nasional.

Setelah melihatnya, saya langsung mengajak Dewi untuk mengobrolnya di luar kamar sebentar. Saya mengatakan saya tidak tahu kalau yang disewa itu adalah Dewi, dan saya tidak tega menonton teman sekampus saya sendiri melakukan striptease. Dan akhirnya saya bilang sama temanteman saya yang lain, bahwa saya tidak tega untuk melihatnya. Maka setelah itu saya terlebih dulu pergi ke "Musro". Kirakira setelah 2 jam, temanteman saya itu kemudian menyusul ke "Musro" dan membawa Dewi juga. Temanteman saya memanasi saya dengan bilang kalau tubuh teman saya si Dewi memang aduhai, apalagi goyangannya. Akhirnya setelah temanteman saya yang lain turun ke dance floor, saya berbicara dengan Dewi, saya menanyakan kenapa dia bisa sampai terjun ke dunia seperti ini, dan bagaimana tanggapan pacarnya yang pilot itu. Ternyata dia melakukan ini karena kebutuhan uang, maklum dia adalah anak daerah, dan kiriman dari daerah selalu telat, selain itu dia juga mengakui kalau nafsu seksnya agak berlebihan. Untuk urusan pacarnya, dia bilang kalau pacarnya yang pilot itu tidak tahu sama sekali dengan kegiatannya.

"Mas.. kamu kenapa nggak ikutan nonton tadi di atas?" tanyanya.
"Saya nggak tega liat kamu Dew, kita kan sering main di kampus, masa saya pake kamu?" jawabku.
"Padahal nggak apaapa kok, kan sudah resiko pekerjaan aku loh Mas.." jawab Dewi.
"Yah.. lain kali aja deh yah.." jawabku sambil bercanda.

Lamalama setelah bicara panjang lebar muncul juga pikiran nakalku, bagaimana tidak, Dewi dulu pernah saya taksir, sekarang giliran saya bisa pakai kenapa tidak dipakai saja? Hehehe.. Akhirnya tibatiba saya memberanikan diri untuk mengatakan bahwa saya ingin memakainya malam ini, dan Dewi mengatakan bolehboleh saja. Dan kemudian saya memberitahu pada temanteman yang sedang asyik di dance floor kalau jangan ada yang balik ke kamar sebelum jam 3:00 subuh. Lalu saya dan Dewi akhirnya naik berdua ke kamar yang kami sewa. Setelah di dalam kamar mulamula saya agak canggung, bagaimana tidak, saya memakai teman sekelas saya untuk memenuhi kebutuhan seks saya. Sedangkan Dewi santaisantai saja, apa mungkin sudah berpengalaman, pikir saya.

Akhirnya setelah Dewi yang memulai dengan memeluk saya dan menciumi saya, barulah gantian saya juga membalas ciumannya. Lamalama saya menjadi nafsu dan sudah lupa kalau cewek depan saya itu adalah Dewi teman kelas saya, dan akhirnya saya membuka baju ketatnya, sehingga payudaranya yang cukup montok terlihat dengan jelas. Kemudian saya remasremas dan saya ciumi dengan seksama. Terlihat dari muka Dewi bahwa dia juga ikut merasakan kenikmatan cumbuan saya. Tanpa disuruh saya, kemudian Dewi langsung membuka celana saya, dan terlihatlah batang kemaluan saya yang cukup besar, yah.. ukuran normal deh. Dijilatnya dan dihisapnya dengan penuh nafsu, sehingga lamalama mulai basahlah kemaluan saya itu.

Semakin malam rupanya semakin panas kami berdua bercumbu, dan saya mulai melucuti semua pakaiannya, dan mulailah menciumi dan menjilat lubang kemaluannya. Bulubulu halus tidak menghalangi lidah saya untuk terus menjilatinya. "Aghh.. Mas, kamu pintar sekali merangsang.." desahnya. "Uh.. uh.. arghh.." desahnya dengan nafas yang sudah tidak karuan lagi. Dan pada akhirnya tibatiba Dewi orgasme terlebih dahulu, mungkin karena permainan lidah saya yang cukup handal. Dengan tubuh yang tibatiba mengejang dia memegang rambut saya. Setelah melihat itu, saya menjadi semakin nafsu saja. Kemudian Dewi saya suruh mengangkang dengan lebar, sehingga lubang kemaluannya terlihat dengan jelas, dan langsung saya melakukan penetrasi ke kemaluannya. "Ooghh.. ahh.. ahh.." desahanku. "Mass.. sakitt sekali.." teriak Dewi sambil menahan sakit. Waktu terus berjalan dan rasa sakit itu sudah berubah menjadi rasa nikmat yang tiada tara, yang terdengar kini adalah suara desahan nafsu dari Dewi yang minta agar gerakan saya semakin cepat. "Uh.. dorong lebih cepat lagi dong Mas.. oghh.." desahnya. Bosan dengan gaya tersebut, maka kami merubah gaya, dengan saya di bawah dan Dewi di atas saya. Setelah batang kemaluan saya dibimbingnya masuk ke dalam lubang kemaluannya, maka mulailah Dewi menggerakkan pinggulnya naik-turun, dari gerakan pelan dan makin lama semakin cepat dan pasti.
"Ohh.. nikmat sekali Dew.." kata saya.
"Iya Mas.. benarbenar malam yang tidak terlupakan.." jawabnya.
Tidak lama kemudian tibatiba tubuh Dewi mengejang kembali, dan saya merasakan adanya cairan hangat yang membasahi batang kemaluan saya yang masih tertanam di dalam lubang kemaluannya. Oh, sungguh kenikmatan yang luar biasa, dan batang kemaluan saya merasakan pijatan otototot lubang kemaluannya yang kuat. Kemudian tidak terlalu lama kemudian giliran saya yang mengeluarkan cairan mani saya di dalam lubang kemaluannya.

Setelah dua jam bermain, akhirnya kami merasakan lelah sedikit. Dan akhirnya permainan berhenti, dan kami berdua kembali merapikan tubuh masingmasing dan siap kembali menuju "Musro" untuk bertemu dengan temanteman yang lain. Dalam perjalan menuju "Musro" saya masih sempat bercanda dengan mengatakan bahwa saya belum puas dengan malam ini dan ingin melakukannya. Lalu Dewi mengatakan bahwa dia maumau saja, dan dia tidak keberatan sama sekali. Maka setelah itu saya memesan kamar untuk kami berdua, dan mungkin teman-teman saya bingung akan sifat saya yang tadinya malu untuk melihat teman kelasnya menjadi striptease, kok sekarang malah bernafsu sekali.

Akhirnya malam harinya sampai pagi harinya kami melakukan kembali sampai 3 kali. Benarbenar weekend yang tidak terlupakan buat saya. Besok siangnya sebelum kami check out, saya dan Dewi melakukannya kembali di kamar mandi. Sampai sekarang saya masih sering bertemu di kampus dengan Dewi, walaupun tidak semua mata kuliah saya selalu sekelas dengan dia, rahasia ini cuma kami berdua yang tahu. Dan terus terang saja saya sering sekali memakai dia.

TAMAT

Teman kostku

Saya ingin membagikan pengalaman saya dengan seorang temankost saya.Namanya Yeni.Rumah kost kami berdekatan, ada 3 rumah dalam satu kompleks, tapi kami berbeda tempat. Aku dirumah pertama dan dia di rumah ke tiga. Dia seorang mahasiswi yang juga kebetulan satu tempat kerja dengan ku(sbg sales).Jadi memang kami berdua sudah sering bersama sama saat menawarkan barang jualan kami.

Suatu waktu aku mendapat undangan dari seorang teman untuk ngumpul dirumahnya (karena kata temanku dia ada sedikit berkat).Akupun mengajak Yeni untuk ikut pada malam itu, dan dianya mau.Tapi karena tempatnya agak diluar kota, dan mengingat nantinya kesulitan transportasi untuk kembali, maka aku meminjam mobil temanku, dan jadilah malam itu kami berdua keluar, walaupun saat itu cuaca tidak kelihatan ada bintangnya, yang tentu saja nantinya akan ada hujan. Dan ternyata di rumah temanku itu sudah berkumpul temannya yang lain untuk makan makan bersama.Dan karena keasyikan mengobrol satu sama lain, aku dan Yeni baru permisi mau pulang sudah sekitar jam 11 malam, dengan cuaca yang sudah hujan sebelumnya.

Di dalam mobil, walau diluar hujan gerimis, aku masih saja menyetel AC mobil sehingga aku dan Yeni agak kedinginan juga. Dan di dalam mobil kami bercerita tentang pertemuan tadi sampai ke humor, yang sesekali mengundang tawa kami berdua. Ketika sudah mulai memasuki kota, kutanya dia:
"Yen..kita mau langsung pulang apa jalan jalan dulu.."
Dia cuma nyahut "..Ahh.." sambil posisi duduknya di putar menghadapku.
"Kok cuma begitu jawabannya Yen.." Kataku sambil melingkarkan tangan kiriku yang bebas ke lehernya.
"Terserah kamu deh kita mau ke mana aku ikut saja.."katanya sambil menyandarkan kepalanya padaku, dan mendaratkan ciumannya padaku.
Wah mendapat perlakuan begitu, darahku langsung mulai mendidih rasanya, sehingga kuhentikan sejenak mobil ditepi jalan, dan akupun membalas ciumannya.
"Yen kita habiskan dulu malam ini di luar, supaya saya dengan kamu, juga si kecilmu (sambil tanganku melekat di daerah vaginanya) dan sikecilku juga pacaran (sambil aku meraih tangannya melekat di daerah penisku yang mulaitegang).."
"Ah..nakalnya.." katanya dengan sedikit tertawa.
"Mau ngga? " Tanyaku.

Dia cuma mengisyaratkan dengan kerlingan matanya. Maka mobilpun kujalankan kembali dan kami menuju ke suatu hotel yang agak diluar kota. Begitu sampai didepan pintu kamar hotel itu, aku membuka pintunya dan Yeni langsung merebahkan tubuhnya diranjang, sambil menikmati fasilitas yang ada di hotel itu. Aku juga setelah mengunci pintu kembali langsung merebahkan tubuh di sebelahnya. Selanjutnya aku memiringkan badan memandangnya yang kelihatan cukup cantik dan menggairahkan juga. Menyadari bahwa aku memperhatikannya dia berkata:
"Malam ini dingin sekali ya.. bagaimana kalau kita bikin yang hangat hangat.. "
Kujawab ".. yang hangat yang mana, apa kopi, atau susu atau .. "

Belum sempat kulanjutkan dia sudah melabuhkan ciumannya di bibirku. Mendapat serangan seperti itu jelas saja aku langsung menyambutnya. Kamipun berciuman diatas ranjang itu. Dan saling memasukkan lidah ke mulut masing masing. Selanjutnya dia kini sudah berada di atasku sambil kami masih terus berciuman. Cukup lama juga kami berciuman dan bergulingan di atas ranjang yang empuk itu, sampai suatu saat kami saling melepaskan pelukan kami.
"Aku ingin sekali menikmati malam ini bersamamu " katanya.
"Yah.. mari kita nikmati saja apa yang terjadi disini sekarang.." balasku
"Nah, lakukanlah sekarang.."
"Apa yang harus kulakukan?" Pancingku
"Beri aku kehangatan malam ini. Aku butuh sekali kehangatanmu.., Dingin nih.." katanya.
"Yah, bila itu yang kau inginkan aku akan memberimu kehangatan.." jawabku.

Kini dia mulai "nakal" dengan menciumiku tidak saja di bibirku, tapi mulai kebawah ke leherku, kedadaku. Selanjutnya dia berhenti sejenak dan mulai membuka seluruh pakaiannya dan membuang begitu saja ke lantai sementara akupun membuka seluruh pakaianku dan menyerahkan padanya untuk diletakkan dilantai. Kini kami berdua sudah dalam keadaan telanjang bulat.

Selanjutnya posisi kami berubah, kini dia sudah ada dibawahku dan akupun mulai menjelajahi tubuhnya yang putih mulus itu. Aku mulai dengan menjilati payudaranya yang menggemaskan itu yang agak membusung dan lembut sambil sedikit menekan nekan.
"Ooouuhh.."desahnya.
"Kenapa?" tanyaku
"Geli ah.."
"Tapi kan enak.."
"Ah, kamu bisa saja.."
Kembali ku hisap-hisap puting susunya sambil menggigit-gigit kecil membuat dia menggeliat geliat.Tapi itu tak kuhiraukan karena lidah dan bibirku mulai kualihkan kedaerah lain ke perutnya dan mulai mengarah kedaerah vaginanya.Sejenak kulihat dua bukit kecil yang disekitarnya ditumbuhi rerumputan tipis.

"Lex..apa yang kau lihat.." ujarnya sambil sedikit senyum.
"Ini nih.."Jawabku.
"Jangan kamu lama-lama melihatnya.."
"Memangnya kenapa.."?
"Nanti kamu tambah nafsu lagi.."
Akupun melanjutkan kegiatanku lagi. Tanganku mengusap rerumputan itu, lalu kugoda vaginanya dengan lidahku yang menari-nari disekitar vaginanya, sehingga dia menggeliat geliat seperti cacing kepanasan. Rupanya tidak tahan dengan perlakuanku itu, tangannyapun mulai 'Nakal' dengan mengelus-elus dan menggosok gosokkan penisku. Sementara akupun tetap saja mempermainkan vaginanya dengan memasukkan lidahku kedalam dan semakin kedalam dan mempermainkannya dengan lidahku. Terasa olehku vaginanya sudah mulai basah oleh suatu cairan.

Setelah lama mempermainkan vaginanya, akupun berhenti sejenak.
"Lex..kamu pintar sekali mempermainkannya.."katanya.
Seperti tak tahu maksudnya kutanya:
"Mempermainkan apa sih..?"
Dia menjawab "Ah.."
Kutanya: "Memangnya kenapa..?"
"Ngga apa apa, enak kok..Bagaimna kalau kita menikmati lagi malam ini..?"
Diapun segera mengambil posisi di atasku dan menciumiku. Puas dengan bibirku diapun mulai menggerayangi perutku dan akhirnya sampai di daerah penisku. Penisku kemudian diusapnya sedikit lalu mulailah dia menjilati dan mengulum penisku yang sudah menegang dan membesar itu, hingga membuatku merasakan kenikmatan yang luar biasa juga.

Setelah agak lama, dia kemudian berhenti dan menatapku
"Lex.." Katanya dengan setengah berbisik disertai desahannya.
"Kenapa, capek ya.." Kataku menggodanya.
"Aku ngga tahan lagi nih.."
"Ngga tahan apanya.." godaku lagi sambil memeluknya erat.
Diapun kembali menjilati dan sedikit mengulum penisku, kemudian berpindah ke bibirku lalu berkata:
"Cepatlah.."
Aku yang memang juga sudah kepingin sekali, dan mengerti maksudnya, segera mengubah posisi kami. Kini dia terlentang menantang diatas ranjang dengan segala keindahan tubuhnya yang begitu mempesona. Kini pemandangan indah itu ada di hadapanku dan kamipun saling memandang. Dan dengan sedikit senyumnya, dia bilang:
"Ayolah.."
Maka tangankupun memandu penisku mendekat ke lubang vaginanya untuk bisa masuk ke dalamnya. Yenipun menyambutnya dengan juga membantu memasukkan penisku ke vagianya sambil pantatnya digerak-gerakkan agar penisku dengan mudah bisa masuk ke vaginanya. Dan setelah masuk, kulihat dia memejamkan matanya sambil menggigit-gigit bibirnya sendiri.

Sambil penisku bermain-main dalam vaginanya, akupun mendekapnya erat erat. Setelah lama penisku bermain-main dalam vaginanya, maka suatu saat aku merasakan ketegangan yang luar biasa dari dalamku. Tidak tahunya saat itu juga meluncurlah tumpahan spermaku ke dalam vaginanya, sambil diapun memelukku erat-erat.Rupanya dia juga merasakan kepuasan yang sama saat itu. Setelah penisku kukeluarkan dia menyambutnya dengan menjilati sisa-sisa sperma di penisku. Dia kemudian mengambil handuk yang memang sudah di sediakan dan mengusap keringat di tubuhnya dan tubuhku.

"Bagaimana perasaanmu sayang..?"Tanyaku.
"Eh, senang dan enak doong.."
Kamipun kembali berpelukan dengan masih tetap bertelanjang bulat di ranjang itu sambil beristirahat di ranjang. Malam itu kami melakukannya sampai empat kali. Dan saat terakhir kami melakukannya kulihat jam tanganku sudah menunjukkan jam lima pagi, tapi kami masih melakukannya sehingga kami baru benar-benar tidur jam 7 pagi dengan tetap bertelanjang bulat dan saling berpelukan.

Kami terbangun sudah jam 2 siang. Dan sebelum kembali ke tempat kost kami, kami masih menyempatkan melakukan sekali lagi di lantai (yang beralas karpet), sebelum kami mandi bersama dan pulang.

Tamat