Nama saya Joe dan saya telah banyak mengirimkan cerita-cerita kepada Rumah Seks. Jika anda ingin mengirim e-mail (terutama wanita), anda bisa mengirimkannya kepada saya. Cerita-cerita yang telah saya kirim antara lain: "ASMARA CEWEK BEIJING", "KISAH PETUGAS ASURANSI" dan "KISAH KASIH mIRC". Sekarang saya akan menceritakan sesuatu yang benar-benar beda karena ini terjadi pada saya ketika saya berada di Australia untuk melanjutkan kuliah saya.
Ketika saya berada di Australia untuk pertama kalinya, saya diharuskan untuk mengikuti program untuk memfasihkan bahasa Inggris saya sehingga saya menjadi lancar dalam berbicara bahasa Inggris. Ketika saya sedang berada di program bahasa Inggris tersebut, saya mengenal seorang cewek Jepang yang cantik sekali. Namanya adalah Kaori Uehada. Suaranya bagus sekali bagaikan penyanyi Jepang asli dan tubuhnya elok sekali. Kulitnya putih dan berambut panjang. Yang paling saya sukai darinya adalah dadanya yang kira-kira berukuran 36B karena setiap kali dia berada di kelas, saya melihat bahwa sebagian dari payudaranya sempat keluar karena BH-nya tidak cukup untuk menutupi payudaranya yang terlalu besar.
Perkenalan saya dengan Kaori dimulai ketika jam istirahat, saya sekedar iseng-iseng menanyakan segala sesuatu kepadanya, tentunya sekalian saya mempraktekkan bahasa Inggris saya. Kami bercerita mengenai asal-usul kami bahkan kadang-kadang Kaori menanyakan mengenai kehidupan seks saya dan hal itu membuat kami bertambah akrab. Saya dan Kaori sering berjalan bersama-sama dan banyak orang yang menganggap saya adalah pacar Kaori walaupun sesungguhnya kami adalah teman akrab saja. Saya dan Kaori sering pergi berduaan ke sebuah kasino Burswood yang sangat terkenal di sebuah kota di Australia.
Suatu hari saya berada di apartement sendirian. Saat itu saya masih tinggal di boarding di universitas saya dan saya masih belum memiliki banyak teman. Hari itu adalah hari minggu dan saya sedang membersihkan rumah sekaligus menyetrika pakaian. Ketika saya sudah menyelesaikan pekerjaan saya dan saya ingin mandi, tiba-tiba saya dikejutkan oleh ketukan pintu dan saya sangat kaget ternyata Kaori sudah di depan pintu. Saya mempersilakan Kaori masuk dan Kaori duduk di sebuah bangku yang cukup sederhana.
Kami bercerita banyak mengenai keadaan negara masing-masing. Ketika saya sedang asyik menceritakan keadaan Indonesia, Kaori secara tidak sengaja melihat sebuah VCD yang berada di atas meja belajar saya. Tiba-tiba dia bangkit meninggalkan saya dan mendekati meja belajar saya. Setelah itu, dia meminta saya untuk memutar VCD tersebut. Saya sempat malu dan tidak menuruti kemauannya tetapi dia terus-menerus memegang tangan saya dan menarik tangan saya serta menyuruh saya untuk memutarnya. Akhirnya saya menuruti kemauannya dan saya mengajaknya ke tempat tidur saya karena saya selalu menonton VCD di komputer yang berada di kamar tidur saya.
Saya kemudian menyalakan Power komputer dan setelah semuanya siap, saya memasukkan VCD ke dalam CD-ROM dan kami nonton bersama-sama. Kaori duduk di atas ranjang sementara saya duduk di bangku yang terletak di dekat komputer. Saat pertengahan film, saya sangat terangsang dan sekilas saya melihat Kaori yang tengah menyelinapkan tangannya ke dalam celana dalamnya sambil mendesah-desah. Saya sempat kaget karena saya melihat Kaori sedang masturbasi sambil menonton VCD Jepang tersebut. Saya sempat berpikir mungkin dia mengerti maksud film tersebut tetapi walaupun saya tidak mengerti bahasa Jepang, saya juga terangsang saat menonton adegan panas di komputer tersebut apalagi saat itu batang kemaluan saya sudah menegang sehingga orang yang mendekati saya pasti dapat melihat batang kemaluan saya yang menegang di dalam celana pendek yang saya pakai.
Kemudian saya mendekati Kaori yang sedang mengelus-elus dirinya sambil menutup matanya. Saya mulai membuka pakaian Kaori dan saya kaget bercampur senang karena tidak ada perlawanan dari dalam diri Kaori dan saya yakin dia juga membutuhkannya karena dia sudah terangsang hebat. Setelah saya melepaskan seluruh busana Kaori, saya mulai mendekati liang kemaluannya dan mulai menjilatinya bagaikan orang kesetanan. Saya tidak memperdulikan komputer yang masih menyala bahkan suara desahan-desahan dari komputer bercampur desahan alami dari Kaori membuat saya menjadi bertambah semangat dan menjadi semakin gila dalam menyedot dan menjilat klitoris Kaori. Saya sempat merasakan cairan kewanitaan cewek jepang ini membasahi wajah saya yang sedang asyik mencium dan menjilat-jilat liang kenikmatan Kaori.
Setelah Kaori mencapai masa klimaksnya, giliran Kaori yang menyuruh saya berbaring dan sekali-sekali Kaori juga menghisap kedua biji peler saya bergantian dengan gigitan-gigitan kecil. Dan perlahan turun ke bawah menjilati lubang pantat saya dan membuat lingkaran kecil dengan ujung lidahnya yang terasa sangat liar dan hangat. Saya hanya dapat berpegangan erat ke bantal, sembari mencoba menahan rintihan. Saya dekap muka saya dengan bantal, setiap sedotannya terasa begitu nikmat sehingga membuat saya seperti di awang-awang. Nafas saya tidak dapat diatur lagi, pinggul saya menegang, kepala saya mulai pening akibat dari kenikmatan yang terkonsentrasi tepat di antara selangkangan saya. Mendadak saya merasa kemaluan saya seperti akan meledak. Karena rasa takut dan panik, saya menarik pinggul saya ke belakang. Dengan seketika, kemaluan saya seperti layaknya benda hidup, berdenyut dan menyemprot cairan putih yang lengket dan hangat ke wajah dan rambut Kaori.
Saya masih belum puas karena saya belum menikmati liang kenikmatan cewek Jepang itu, maka saya langsung bangkit dengan penuh gairah dan tanpa menunggu jawabannya saya segera mengatur posisi badannya. Kedua kakinya saya angkat ke ranjang. Kini dia tampak telentang pasrah. Batang kemaluan saya sudah tak sabar lagi untuk mendarat di sasaran. Namun saya harus hati-hati. Dia masih perawan sehingga harus sabar agar tidak kesakitan. Mulut saya kembali bermain-main di liang kemaluannya. Setelah kebasahannya saya anggap cukup, batang kemaluan saya yang telah tegak sempurna saya tempelkan ke bibir kemaluannya.
Beberapa saat saya gesek-gesekkan batang kemaluan saya di sekeliling liang kenikmatannya sampai Kaori makin terangsang. Kemudian saya coba memasukkan perlahan-lahan ke celah yang masih sempit itu. Sedikit demi sedikit saya maju-mundurkan sehingga makin melesak ke dalam. Butuh waktu lima menit lebih agar kepala kemaluan saya masuk seluruhnya. Lalu kami istirahat sebentar karena dia tampak menahan nyeri dan tiba-tiba keluarlah darah dari dalam liang kenikmatannya dan saya yakin bahwa itu adalah darah perawannya dan saya bangga sekali karena saya dapat mengambil perawan cewek Jepang.
Beberapa jam saya menggosok-gosokkan batang kemaluan saya di dalam liang kenikmatannya, dia menyukainya dan nampaknya dia hampir mendekati klimaks dan saya sendiri tidak tahu itu klimaksnya yang keberapa dan begitu juga saya. Saya mempercepat goyangan, lalu saya menyemprotkan cairan mani saya di dalam liang kenikmatan Kaori dan di saat yang bersamaan, Kaori berteriak dan saya merasakan batang kemaluan saya seperti dipijat-pijat oleh liang kenikmatannya dan tak lama kemudian, batang kemaluan saya seperti dialiri oleh cairan kewanitaannya. Kemudian saya memeluk Kaori dengan erat sambil mencium bibirnya dan memainkan lidah saya dalam mulut Kaori.
Kami bermain seharian penuh karena tidak lama setelah permainan kami, saya menjadi terangsang ketika melihat wajahnya yang seperti wajah bintang film dan saya tidak perduli walaupun dia sudah berumur 27 tahun dan tentunya umurnya 5 tahun di atas saya. Saya sangat mencintainya dan sampai sekarang saya merindukan belaiannya. Kaori, kapan kita bisa bercinta lagi?
Tamat
Senin, 23 Agustus 2010
Variasi cinta - 2
Kurang lebih 20 menit Chal telah merangsang sekujur tubuh Gina sementara baju Gina telah terlepas membuat dia leluasa menggerayangi sekujur tubuh putih mulus itu. Terlihat Gina tersenyum puas dan memasrahkan diri sepenuhnya untuk diraba dan diremas oleh jari Chal dan Chal pun menciumi seluruh tubuh Gina yang telah polos sampai ke punggung pun dia ciumi dengan penuh gairah. Suatu pemandangan yang eksotik dan luar biasa, kupandangi kekasihku digerayangi dan dilumat habis seluruh badannya dan wajahnya tapi aku tidak cemburu, malah terasa puas dan bernafsu sendiri melihat adegan tersebut.
Sungguh sensasi luar biasa. Gina sudah bugil setengah badan ke atas tanpa sehelai benang pun di tubuh atasnya terlihat tonjolan buah dadanya yang putih bulat penuh mengeras dengan puting merah jambu dan sementara itu celana panjang Gina telah merosot sampai ke bawah dengkulnya sehingga dengan makin leluasa jemari bule tersebut meremas gumpalan daging kemaluan Gina dan jari tengahnya terus menggesek belahan kemaluan tersebut. Chal terus membelai belahan kemaluan Gina tanpa dia berusaha memasukkan jari tengah tersebut ke dalam kemaluan Gina yang telah terpampang dengan pasrah. Sementara Gina telah dalam posisi setengah rebahan dengan kaki terbuka atau bisa disebut mengangkangkan kakinya.
Chal melihat Gina sudah pasrah dan seluruh badannya bergetar seperti menahan sesuatu segera merubah posisi badannya menghadap ke Gina. Dia berlutut di depan Gina yang telah mengangkangkan kakinya sehingga posisi badannya sekarang telah berada di antara kedua kaki Gina yang mengangkang lebar dan lubang kemaluannya yang telah terlihat jelas telah basah. Karena posisi yang sempit di belakang mobil maka Chal mendorong dan melipat kursi di sampingku ke depan.
Wah aku takut juga kalau sampai batang kemaluan Chal yang panjang dan besar itu telah siap-siap mengarahkan ke belahan kemaluan Gina yang telah menantikan dengan mata terpejam dan mulut yang terbuka dengan desahan, "Jangan Chal.." desah Gina.
"Takuut.." erang Gina.
"Tidak apa-apa.. sakitnya hanya sebentar", desah Chal sambil mengambil posisi sementara tangannya terus merayap di sekujur tubuh Gina.
"Tapi aku takut tidak muaat.. nanti kemaluanku robeek.." kata Gina sambil ketakutan melihat batang kemaluan Chal yang benar-benar luar biasa besarnya telah berada di depan permukaan kemaluannya.
"Kamu harus mencobanya Gin.. pelan-pelan saja.." desah Chal sambil mulai mengarahkan batang kemaluannya ke lubang kemaluan Gina yang telah terbuka sedikit akibat jari-jari Chal yang terus membelai belahan kemaluan Gina. Rupanya Gina benar-benar takut dan membuatku juga ketakutan. Wah, bahaya nih kalau sampai ada apa-apa aku juga yang ketimpa pulungnya, kami berdua juga nanti menanggung resikonya. Mobil segera kupinggirkan di sisi jalan yang agak gelap dan kuhentikan secara perlahan. Setelah kurasa aman di sekitar jalan aku segera membalikkan tubuhku ke belakang untuk melihat lebih jelas lagi.
"Kamu jangan takut, saya tempelkan saja dahulu batang kemaluan ini sampai kamu nanti mau.." kata Chal merayu sambil lidahnya menjilati sekitar kuping Gina. Gina yang keenakan lalu membiarkan Chal melanjutkan aksinya, dengan menjepit pinggang Chal dengan kedua kakinya, Gina melihat batang kemaluan Chal yang besar itu ditempelkan tepat di belahan kemaluan Gina yang telah basah hanya setengah ke bawah menempel tepat di lubang kemaluan Gina sedangkan setengah lagi berada di atas belahan Gina, Gina merasa dengan posisi yang aman menerima kuluman Chal dan merasakan batang kemaluan besar milik Chal mulai secara perlahan menggeser di belahan kemaluannya.
"Oohh.. Chal.. enaakk.. emmhh.." erang Gina.
"Uuuff.." desah Chal keenakan.
"Yaa enakk Gin.." kata Chal.
"Teruss digeseek dan ditekan Chal.." pinta Gina.
"Ya sayang.." kata Chal mulai mempercepat gesekan di belahan kemaluan Gina. Dengan cara naik turun posisi badan Chal terlihat seperti ingin naik dan tidak.
"Tekan teruuss Chal.." erang Gina yang makin lama semakin keenakan.
"Enaakk.. oohh.. puasin aku Chal.. ahkk.." desah Gina dengan suara yang telah parau.
Posisi kaki Gina telah mengangkang dengan lebar membuat Chal lebih leluasa menggerakkan badannya kadang naik-turun dan kadang mendorongkan batang kemaluannya ke depan sehingga lebih menekan belahan kemaluan Gina. Kulihat kemaluan Gina telah terbelah bibir kemaluannya karena tekanan batang kemaluan Chal yang terus bergerak menekan belahan bibir kemaluan Gina, sementara terlihat batang kemaluan Chal mulai mengambil posisi setengah ke atas, batangnya yang menggeser belahan bibir kemaluan Gina dengan sedikit tekanan yang terus menerus. Kepala batang kemaluan Chal mulai secara beraturan menyentuh dan mendorong klitoris Gina yang telah terbuka.
"Aahh.. aduuhh.. ennaakk.. sshh", desah Gina sementara tangan Gina telah berada di belakang punggung Chal dan sambil menekan pantat Chal, Gina membetulkan arah gerakan batang kemaluan Chal yang terus berusaha mendobrak klitoris Gina.
"Emh.. uff.." erang Chal menahan sesuatu. Aku tahu dia sudah ingin menerobos masuk ke dalam lubang kemaluan Gina tapi kerena Gina tidak mengatakannya dia berusaha menahan keinginannya yang telah di kepalanya.
"Chal.. Chal.. eeng.." Gina bergumam, aku tahu kalau Gina telah siap dimasuki oleh batang kemaluan besar itu. Terlihat tangan Gina gerakannya sekarang mendorong dan menarik pantat Chal sedangkan posisi kepala batang kemaluan Chal telah terbenam melewati klitoris Gina. Terlihat batang kemaluan itu mulai bergerak mengikuti arahan Gina mencoba untuk terus menerobos liang kemaluan Gina yang terasa sempit sekali untuk ukuran batang kemaluan sebesar Chal. Kepala Gina sudah menengadah ke atas dengan mata terbelalak tinggal putihnya, sementara mulutnya terbuka mengerang, "Ahhkk.. sakiitt.. ahh.." Chal menahan aksinya dengan mulai menarik kepala batang kemaluannya yang telah terbenam di dalam kemaluan Gina. Dia melihat Gina dan ada perasaan sedikit takut dan ragu untuk meneruskan aksinya.
"Ginaa.. Ginnaa.. akhh", desah Chal meminta kepastian kesiapan Gina apakah seluruh batang kemaluannya dapat menerobos masuk ke dalam kemaluan Gina. Tapi Gina sudah tidak dapat berkata-kata karena mulutnya hanya dapat menganga terbuka.
"Ekhh.. akkhh.. oohkk", dengan keraguan Chal terus melanjutkan aksinya dengan posisi sama seperti sebelumnya. Terlihat batang kemaluan Chal terus berusaha menekan lubang kemaluan Gina dengan kepala batang kemaluannya yang besar itu, tapi dia menarik kembali ketika Gina mulai seperti orang tercekik dan mulutnya yang mengerang kesakitan.
"Uuff.. uff.. uuff.." desah Chal sambil terus memajukan dan menarik pantatnya dan makin lama semakin cepat dan terlihat begitu liar gerakan keduanya. Kepala batang kemaluan Chal terus menekan klitoris Gina berulang-ulang kadang masuk kadang di luar bibir kemaluan. "Akhh.. akhh.. akhh.. engg.. engg.. aakhh.. eengg.." Gina mencengkeram pantat Chal kuat-kuat dan akibat sundulan kepala batang kemaluan, "Oohh.. akuu.. keluaarr.. Chal.. uuff.. aahh.. enaak.." erang Gina kelonjotan dan bergetar seluruh badan Gina di dalam pelukan Chal. Chal merasakan siraman air hangat dari dalam lubang kemaluan Gina yang terus mengalir membasahi batang dan kepala batang kemaluannya, membuat batang kemaluan itu menjadi mengkilap dan basah.
"Kamuu.. keluar Giinn.. sayaa.. jugaa mauu.. uuff.. uuff.. aahh.. aahh.." desah Chal dengan nafas berirama, nafasnya terdengar keras.
"Eeennakk.. oohh akuu.. puaass", Gina terus mengerang karena terus merasakan sundulan kepala batang kemaluan Chal di dalam kemaluan dan gesekan batang kemaluan Chal di bibir dan dinding luar kemaluannya. Ternyata hanya sebatas leher kepala batang kemaluan Chal yang dapat terbenam di dalam lubang kemaluan Gina dan terasa terus menggesek dinding kemaluan Gina terus menerus.
"Teruss.. Chal.. tekan teruuss.. oohh.. oohh.. benar enak.. ahh.." Gina tersenyum puas melihat Chal masih terus berusaha memberikan rangsangan di sekitar dinding kemaluannya. Chal melihat Gina tersenyum dan ikut tersenyum puas.
"Kamu puass.. Gin.. enak.. kan.." senyum Chal sambil menjilat bibirnya sendiri dengan lidahnya.
"Biar kamuu.. puaas Ginn.." kata Chal sambil terus menghujamkan sepertiga batang kemaluannya ke dalam liang kemaluan Gina.
Terdengar bunyi, "Sleepp.. ahhkk.. sleepp.. brreet.." rupanya kemaluan Gina terus semakin basah dan semakin licin untuk batang kemaluan Chal yang terjepit di lubang kemaluan Gina.
"Gilaa.. kamuu rapat sekali lubangnya.. uuffhh.. susah.. Ginn.. untuk masuk.." Chal penasaran sekali dengan kemaluan Gina yang terlalu sempit. Gila memang, batang kemaluan Chal yang besar itu berhasil menggelosor keluar masuk di lubang kemaluan Gina, posisi Gina sudah ditindih oleh badan Chal. Kulihat mereka berdua telah telanjang bulat saling merapatkan dan menggesekkan badannya. Sementara kulihat juga pantat Chal melakukan irama naik turun dan kadang diselingi gerakan mendorong dan menarik.
Benar-benar membuat penasaran karena gerakan Chal, aku merubah posisi duduk ke belakang mereka, tanpa mereka sadari aku melihat dengan jelas batang kemaluan Chal yang besar dan panjang itu sebagian telah keluar masuk di dalam kemaluan Gina, sementara gerakan mereka makin lama semakin lincah karena kemaluan Gina terus mengeluarkan cairan yang membuat batang kemaluan Chal terus dapat menerobos dinding kemaluan Gina.
"Aakkhh.. uuff.. eennak.. aahh.. teruuss.. tekan.. sayang.. aahh.. ngg.. aku mau batang kemaluan gedee.. ahh enaak ngentot.." Gina kelojotan dihujami batang kemaluan bule walaupun belum semua batang kemaluan Chal masuk menembus kemaluan Gina. Tangan Gina terus memberikan remasan di pantat Chal dan kadang menekan pantat itu ke bawah.
"Kamuu kuat.. Ginaa.. kemaluan kamu masih sempit.. sayang.. oohh.. nikmatnya.. kemaluan.. kamuu.. enak.. adduuhh batang kemaluan sayaa.. dijepit aah enak.. haa.. haa.. mhh.. ennak.." Chal tersenyum melihat Gina merem-melek keenakan. "Sleep.. poof.. sleep.. poof.. breett.. aahh.. sleep.. breet.. breet.." gerakan pantatnya menekan dua kali dan memutar dua kali pada saat posisinya menekan, terlihat pantatnya kempes memberikan tekanan agar batang kemaluannya lebih masuk lagi ke dalam kemaluan Gina setelah 2 sampai 3 kali menekan batang kemaluannya ke dalam pada saat menekan terakhir, pantat Chal memutar ke kiri dua dan ke kanan dua kali.
Gila, Gina sudah tidak sempat lagi bergerak, posisinya hanya mengangkangkan kakinya lebar-lebar terlihat jari-jari kakinya menegang dan tangannya hanya dapat memegang punggung Chal dan sekali menjambak rambut Chal kadang-kadang seperti orang kehilangan pegangan menggapai-gapai mencari pegangan. Sementara nafasnya terdengar tidak beraturan yang ada hanya lenguhan dan lenguhan disertai erangan panjang.
Dengan gerakan itu Chal telah melakukan gerakan menghujamkan kemaluan Gina yang tadinya hanya menggesek-gesek bibir kemaluan Gina, sekarang batang kemaluannya telah masuk menembus dinding kemaluan Gina yang sempit dan basah. Terlihat bibir kemaluan Gina tertarik keluar dan terdorong masuk mengikuti gerakan batang kemaluan Chal, tiga puluh menit mereka berdua saling menerima dan memberikan kepuasan. Terlihat keringat telah membasahi badan mereka berdua.
"Kamuu berbalik Gina.." desah Chal, lalu Chal menarik batang kemaluannya, terdengar bunyi "Plooff.." dan Gina mengambil posisi menunggingkan pantatnya (gaya anjing) dengan satu kaki di atas jok dan satu kaki di karpet mobil sementara tangannya memegang sandaran jok belakang ini, posisi yang disukai bule dan tentunya kami juga. Melihat bibir kemaluan Gina dengan jelas telah terbuka sehingga terlihat cairan di pinggiran kemaluan Gina yang telah banyak mengeluarkan air kewanitaannya. Sementara klitorisnya terus bergerak mencari sesuatu untuk digesekkan, Chal mengambil posisi tepat di belakang pantat Gina setelah lima kali meremas bongkahan daging pantat Gina dengan remasan penuh nafsu. Sekali menguakkan kemaluan Gina dengan jarinya terlihat daging dalam kemaluan Gina yang berwarna merah karena terlalu lama digesekkan batang kemaluan Chal. Dengan sedikit demi sedikit Chal mulai menempelkan kepala batang kemaluannya dibelahan kemaluan Gina dan terus menggesekkan kepala batang kemaluan tersebut ke atas dan ke bawah belahan kemaluan Gina.
"Aahh.. ennaak.. Chal.." desah Gina terpejam.
"Nikmatnya batang kemaluan kamuu.. enak.. Chal.." setelah delapan gesekan naik turun Gina mendesah.
"Masukin Chal.. aku mau ngentot.. yang enak.. aahhk", dengan sedikit hentakan kepala batang kemaluan Chal mulai menerobos dinding kemaluan Gina. Perlahan melakukan gerakan maju mundur dan makin lama semakin terasa gerakan pantat Chal. Terlihat mulai membuat batang kemaluan Chal sebagian tenggelam di dalam kemaluan Gina.
"Ahhk.. aakhh.. uuff.. ahkk.. enaak.. aahh.. oohhkk.. yaa.. teruus.. akhh.. haak! haak! hak!" Chal terlihat mengeram dengan nafas yang memburu begitu juga Gina.
"Ookk.. yak.. yak.." Chal mulai dengan gerakan sepenuhnya tangannya memegang pinggul Gina untuk menahan gerakan akibat dorongan batang kemaluan Chal yang menghujam semakin dalam ke dalam kemaluan Gina.
"Hee.. aakhh.. okh.." nafas Chal memburu dengan cepat sementara gerakan batang kemaluannya di dalam kemaluan Gina terus keluar masuk dan kadang berputar seperti mengebor kemaluan Gina.
"Akhh.. aakhh.. eennak.. giila.. gila.. aakhh.. aduh.. duh.. gila.. mentok.. ahh.. batangnya mentook.. aahk ennak mmffhh.. terus.. yaa terus.." erang Gina. Sementara kepalanya terdorong dan berputar menambah makin seksi dilihat oleh Chal.
"Giinaa.. enak.. aahk.. akhh.. gilaa.. masuk.. semuaa.. Ginn.. enaak.. mmffhh aakhh puas, gilaa.. kamu.. kuat aakh.." Chal terus menghujamkan batang kemaluannya dalam-dalam ke lubang kemaluan Gina. Sementara Gina hanya bisa mengerang dan menjerit ketika kepala batang kemaluan Chal mentok di dinding rahimnya.
"Aku keluarr lagi.. Chal.. aahk ah.. ahk enak.." erang Gina terpejam.
Telah 20 menit Chal memainkan batang kemaluannya di dalam kemaluan Gina, keringatnya telah menetes ke punggung Gina. Sementara punggung Gina telah terdapat lima bekas gigitan Chal, tiga di pundak Gina dua di leher belakang Gina. Sungguh buas si Chal ini kalau sedang bersetubuh, kadang-kadang tangannya meremas buah dada Gina dan meremas serta menarik ke bawah sehingga memberikan dorongan lebih menekan batang kemaluan Chal. Gina benar-benar sudah lemas dan tidak bertenaga lagi. Kepalanya sudah rebah ke jok mobil, sementara tangannya terkulai lemas, terlihat rambutnya telah basah semua dan badannya telah bermandikan keringat.
"Aahk Chal, aku.. lemes.. gila.. keluarin Chal.." pinta Gina memelas.
"Yaa.. akh yak.. duh.. yaa.. Ginn.. aku keluarin.. huu.. huuf.. aakh.. enaak kemaluan kamu.. akh aku mau keluarr.. aakh akh gila! Enaak.. ahh.. aku mamu keluaar.. aahh.. hak.. haakk.. uuff.. oohk.. kamu hebat Ginn.." Chal melakukan gerakan sangat cepat menghentakkan batang kemaluannya sampai berbunyi, "Cepaak.. cepakk.." beradu pantat Gina dengan paha Gina dan bunyi peraduan kemaluan dan batang kemaluan.
"Breet.. bret.. plooff.. broot.. ploof.. brot.. broot.. poof.. broot.. ahk.. ya.." Gina yang mengetahui Chal mulai menghentakkan batang kemaluannya dalam-dalam melakukan gerakan liar memutar dan menghisap serta memijat batang kemaluan Chal dengan lubang kemaluannya.
"Akuu juga.. mau keluar.. ahh.. lagi.. Chal.. gila.. aahh.. ahh.. keluaar.. haa.. enak.." Chal tersenyum puas sambil tangannya meremas payudara Gina dan mulutnya mencium bibir Gina yang telah terkulai lemas di jok mobilku.
Keadaan menjadi hening lebih kurang lima menit, Chal tetap dalam posisi memeluk Gina dari belakang kudengar mereka berbisik dan berbicara perlahan sementara batang kemaluan Chal walaupun sudah mengeluarkan maninya di dalam kemaluan Gina terlihat masih berada di dalam kemaluan Gina, belum menyusut mengecil dan terlepas. Setelah saling membersihkan keringat dengan tissue, kami pulang dengan perasaan masing-masing puas telah saling memberikan kepuasan kepada pasangannya.
Tamat
Sungguh sensasi luar biasa. Gina sudah bugil setengah badan ke atas tanpa sehelai benang pun di tubuh atasnya terlihat tonjolan buah dadanya yang putih bulat penuh mengeras dengan puting merah jambu dan sementara itu celana panjang Gina telah merosot sampai ke bawah dengkulnya sehingga dengan makin leluasa jemari bule tersebut meremas gumpalan daging kemaluan Gina dan jari tengahnya terus menggesek belahan kemaluan tersebut. Chal terus membelai belahan kemaluan Gina tanpa dia berusaha memasukkan jari tengah tersebut ke dalam kemaluan Gina yang telah terpampang dengan pasrah. Sementara Gina telah dalam posisi setengah rebahan dengan kaki terbuka atau bisa disebut mengangkangkan kakinya.
Chal melihat Gina sudah pasrah dan seluruh badannya bergetar seperti menahan sesuatu segera merubah posisi badannya menghadap ke Gina. Dia berlutut di depan Gina yang telah mengangkangkan kakinya sehingga posisi badannya sekarang telah berada di antara kedua kaki Gina yang mengangkang lebar dan lubang kemaluannya yang telah terlihat jelas telah basah. Karena posisi yang sempit di belakang mobil maka Chal mendorong dan melipat kursi di sampingku ke depan.
Wah aku takut juga kalau sampai batang kemaluan Chal yang panjang dan besar itu telah siap-siap mengarahkan ke belahan kemaluan Gina yang telah menantikan dengan mata terpejam dan mulut yang terbuka dengan desahan, "Jangan Chal.." desah Gina.
"Takuut.." erang Gina.
"Tidak apa-apa.. sakitnya hanya sebentar", desah Chal sambil mengambil posisi sementara tangannya terus merayap di sekujur tubuh Gina.
"Tapi aku takut tidak muaat.. nanti kemaluanku robeek.." kata Gina sambil ketakutan melihat batang kemaluan Chal yang benar-benar luar biasa besarnya telah berada di depan permukaan kemaluannya.
"Kamu harus mencobanya Gin.. pelan-pelan saja.." desah Chal sambil mulai mengarahkan batang kemaluannya ke lubang kemaluan Gina yang telah terbuka sedikit akibat jari-jari Chal yang terus membelai belahan kemaluan Gina. Rupanya Gina benar-benar takut dan membuatku juga ketakutan. Wah, bahaya nih kalau sampai ada apa-apa aku juga yang ketimpa pulungnya, kami berdua juga nanti menanggung resikonya. Mobil segera kupinggirkan di sisi jalan yang agak gelap dan kuhentikan secara perlahan. Setelah kurasa aman di sekitar jalan aku segera membalikkan tubuhku ke belakang untuk melihat lebih jelas lagi.
"Kamu jangan takut, saya tempelkan saja dahulu batang kemaluan ini sampai kamu nanti mau.." kata Chal merayu sambil lidahnya menjilati sekitar kuping Gina. Gina yang keenakan lalu membiarkan Chal melanjutkan aksinya, dengan menjepit pinggang Chal dengan kedua kakinya, Gina melihat batang kemaluan Chal yang besar itu ditempelkan tepat di belahan kemaluan Gina yang telah basah hanya setengah ke bawah menempel tepat di lubang kemaluan Gina sedangkan setengah lagi berada di atas belahan Gina, Gina merasa dengan posisi yang aman menerima kuluman Chal dan merasakan batang kemaluan besar milik Chal mulai secara perlahan menggeser di belahan kemaluannya.
"Oohh.. Chal.. enaakk.. emmhh.." erang Gina.
"Uuuff.." desah Chal keenakan.
"Yaa enakk Gin.." kata Chal.
"Teruss digeseek dan ditekan Chal.." pinta Gina.
"Ya sayang.." kata Chal mulai mempercepat gesekan di belahan kemaluan Gina. Dengan cara naik turun posisi badan Chal terlihat seperti ingin naik dan tidak.
"Tekan teruuss Chal.." erang Gina yang makin lama semakin keenakan.
"Enaakk.. oohh.. puasin aku Chal.. ahkk.." desah Gina dengan suara yang telah parau.
Posisi kaki Gina telah mengangkang dengan lebar membuat Chal lebih leluasa menggerakkan badannya kadang naik-turun dan kadang mendorongkan batang kemaluannya ke depan sehingga lebih menekan belahan kemaluan Gina. Kulihat kemaluan Gina telah terbelah bibir kemaluannya karena tekanan batang kemaluan Chal yang terus bergerak menekan belahan bibir kemaluan Gina, sementara terlihat batang kemaluan Chal mulai mengambil posisi setengah ke atas, batangnya yang menggeser belahan bibir kemaluan Gina dengan sedikit tekanan yang terus menerus. Kepala batang kemaluan Chal mulai secara beraturan menyentuh dan mendorong klitoris Gina yang telah terbuka.
"Aahh.. aduuhh.. ennaakk.. sshh", desah Gina sementara tangan Gina telah berada di belakang punggung Chal dan sambil menekan pantat Chal, Gina membetulkan arah gerakan batang kemaluan Chal yang terus berusaha mendobrak klitoris Gina.
"Emh.. uff.." erang Chal menahan sesuatu. Aku tahu dia sudah ingin menerobos masuk ke dalam lubang kemaluan Gina tapi kerena Gina tidak mengatakannya dia berusaha menahan keinginannya yang telah di kepalanya.
"Chal.. Chal.. eeng.." Gina bergumam, aku tahu kalau Gina telah siap dimasuki oleh batang kemaluan besar itu. Terlihat tangan Gina gerakannya sekarang mendorong dan menarik pantat Chal sedangkan posisi kepala batang kemaluan Chal telah terbenam melewati klitoris Gina. Terlihat batang kemaluan itu mulai bergerak mengikuti arahan Gina mencoba untuk terus menerobos liang kemaluan Gina yang terasa sempit sekali untuk ukuran batang kemaluan sebesar Chal. Kepala Gina sudah menengadah ke atas dengan mata terbelalak tinggal putihnya, sementara mulutnya terbuka mengerang, "Ahhkk.. sakiitt.. ahh.." Chal menahan aksinya dengan mulai menarik kepala batang kemaluannya yang telah terbenam di dalam kemaluan Gina. Dia melihat Gina dan ada perasaan sedikit takut dan ragu untuk meneruskan aksinya.
"Ginaa.. Ginnaa.. akhh", desah Chal meminta kepastian kesiapan Gina apakah seluruh batang kemaluannya dapat menerobos masuk ke dalam kemaluan Gina. Tapi Gina sudah tidak dapat berkata-kata karena mulutnya hanya dapat menganga terbuka.
"Ekhh.. akkhh.. oohkk", dengan keraguan Chal terus melanjutkan aksinya dengan posisi sama seperti sebelumnya. Terlihat batang kemaluan Chal terus berusaha menekan lubang kemaluan Gina dengan kepala batang kemaluannya yang besar itu, tapi dia menarik kembali ketika Gina mulai seperti orang tercekik dan mulutnya yang mengerang kesakitan.
"Uuff.. uff.. uuff.." desah Chal sambil terus memajukan dan menarik pantatnya dan makin lama semakin cepat dan terlihat begitu liar gerakan keduanya. Kepala batang kemaluan Chal terus menekan klitoris Gina berulang-ulang kadang masuk kadang di luar bibir kemaluan. "Akhh.. akhh.. akhh.. engg.. engg.. aakhh.. eengg.." Gina mencengkeram pantat Chal kuat-kuat dan akibat sundulan kepala batang kemaluan, "Oohh.. akuu.. keluaarr.. Chal.. uuff.. aahh.. enaak.." erang Gina kelonjotan dan bergetar seluruh badan Gina di dalam pelukan Chal. Chal merasakan siraman air hangat dari dalam lubang kemaluan Gina yang terus mengalir membasahi batang dan kepala batang kemaluannya, membuat batang kemaluan itu menjadi mengkilap dan basah.
"Kamuu.. keluar Giinn.. sayaa.. jugaa mauu.. uuff.. uuff.. aahh.. aahh.." desah Chal dengan nafas berirama, nafasnya terdengar keras.
"Eeennakk.. oohh akuu.. puaass", Gina terus mengerang karena terus merasakan sundulan kepala batang kemaluan Chal di dalam kemaluan dan gesekan batang kemaluan Chal di bibir dan dinding luar kemaluannya. Ternyata hanya sebatas leher kepala batang kemaluan Chal yang dapat terbenam di dalam lubang kemaluan Gina dan terasa terus menggesek dinding kemaluan Gina terus menerus.
"Teruss.. Chal.. tekan teruuss.. oohh.. oohh.. benar enak.. ahh.." Gina tersenyum puas melihat Chal masih terus berusaha memberikan rangsangan di sekitar dinding kemaluannya. Chal melihat Gina tersenyum dan ikut tersenyum puas.
"Kamu puass.. Gin.. enak.. kan.." senyum Chal sambil menjilat bibirnya sendiri dengan lidahnya.
"Biar kamuu.. puaas Ginn.." kata Chal sambil terus menghujamkan sepertiga batang kemaluannya ke dalam liang kemaluan Gina.
Terdengar bunyi, "Sleepp.. ahhkk.. sleepp.. brreet.." rupanya kemaluan Gina terus semakin basah dan semakin licin untuk batang kemaluan Chal yang terjepit di lubang kemaluan Gina.
"Gilaa.. kamuu rapat sekali lubangnya.. uuffhh.. susah.. Ginn.. untuk masuk.." Chal penasaran sekali dengan kemaluan Gina yang terlalu sempit. Gila memang, batang kemaluan Chal yang besar itu berhasil menggelosor keluar masuk di lubang kemaluan Gina, posisi Gina sudah ditindih oleh badan Chal. Kulihat mereka berdua telah telanjang bulat saling merapatkan dan menggesekkan badannya. Sementara kulihat juga pantat Chal melakukan irama naik turun dan kadang diselingi gerakan mendorong dan menarik.
Benar-benar membuat penasaran karena gerakan Chal, aku merubah posisi duduk ke belakang mereka, tanpa mereka sadari aku melihat dengan jelas batang kemaluan Chal yang besar dan panjang itu sebagian telah keluar masuk di dalam kemaluan Gina, sementara gerakan mereka makin lama semakin lincah karena kemaluan Gina terus mengeluarkan cairan yang membuat batang kemaluan Chal terus dapat menerobos dinding kemaluan Gina.
"Aakkhh.. uuff.. eennak.. aahh.. teruuss.. tekan.. sayang.. aahh.. ngg.. aku mau batang kemaluan gedee.. ahh enaak ngentot.." Gina kelojotan dihujami batang kemaluan bule walaupun belum semua batang kemaluan Chal masuk menembus kemaluan Gina. Tangan Gina terus memberikan remasan di pantat Chal dan kadang menekan pantat itu ke bawah.
"Kamuu kuat.. Ginaa.. kemaluan kamu masih sempit.. sayang.. oohh.. nikmatnya.. kemaluan.. kamuu.. enak.. adduuhh batang kemaluan sayaa.. dijepit aah enak.. haa.. haa.. mhh.. ennak.." Chal tersenyum melihat Gina merem-melek keenakan. "Sleep.. poof.. sleep.. poof.. breett.. aahh.. sleep.. breet.. breet.." gerakan pantatnya menekan dua kali dan memutar dua kali pada saat posisinya menekan, terlihat pantatnya kempes memberikan tekanan agar batang kemaluannya lebih masuk lagi ke dalam kemaluan Gina setelah 2 sampai 3 kali menekan batang kemaluannya ke dalam pada saat menekan terakhir, pantat Chal memutar ke kiri dua dan ke kanan dua kali.
Gila, Gina sudah tidak sempat lagi bergerak, posisinya hanya mengangkangkan kakinya lebar-lebar terlihat jari-jari kakinya menegang dan tangannya hanya dapat memegang punggung Chal dan sekali menjambak rambut Chal kadang-kadang seperti orang kehilangan pegangan menggapai-gapai mencari pegangan. Sementara nafasnya terdengar tidak beraturan yang ada hanya lenguhan dan lenguhan disertai erangan panjang.
Dengan gerakan itu Chal telah melakukan gerakan menghujamkan kemaluan Gina yang tadinya hanya menggesek-gesek bibir kemaluan Gina, sekarang batang kemaluannya telah masuk menembus dinding kemaluan Gina yang sempit dan basah. Terlihat bibir kemaluan Gina tertarik keluar dan terdorong masuk mengikuti gerakan batang kemaluan Chal, tiga puluh menit mereka berdua saling menerima dan memberikan kepuasan. Terlihat keringat telah membasahi badan mereka berdua.
"Kamuu berbalik Gina.." desah Chal, lalu Chal menarik batang kemaluannya, terdengar bunyi "Plooff.." dan Gina mengambil posisi menunggingkan pantatnya (gaya anjing) dengan satu kaki di atas jok dan satu kaki di karpet mobil sementara tangannya memegang sandaran jok belakang ini, posisi yang disukai bule dan tentunya kami juga. Melihat bibir kemaluan Gina dengan jelas telah terbuka sehingga terlihat cairan di pinggiran kemaluan Gina yang telah banyak mengeluarkan air kewanitaannya. Sementara klitorisnya terus bergerak mencari sesuatu untuk digesekkan, Chal mengambil posisi tepat di belakang pantat Gina setelah lima kali meremas bongkahan daging pantat Gina dengan remasan penuh nafsu. Sekali menguakkan kemaluan Gina dengan jarinya terlihat daging dalam kemaluan Gina yang berwarna merah karena terlalu lama digesekkan batang kemaluan Chal. Dengan sedikit demi sedikit Chal mulai menempelkan kepala batang kemaluannya dibelahan kemaluan Gina dan terus menggesekkan kepala batang kemaluan tersebut ke atas dan ke bawah belahan kemaluan Gina.
"Aahh.. ennaak.. Chal.." desah Gina terpejam.
"Nikmatnya batang kemaluan kamuu.. enak.. Chal.." setelah delapan gesekan naik turun Gina mendesah.
"Masukin Chal.. aku mau ngentot.. yang enak.. aahhk", dengan sedikit hentakan kepala batang kemaluan Chal mulai menerobos dinding kemaluan Gina. Perlahan melakukan gerakan maju mundur dan makin lama semakin terasa gerakan pantat Chal. Terlihat mulai membuat batang kemaluan Chal sebagian tenggelam di dalam kemaluan Gina.
"Ahhk.. aakhh.. uuff.. ahkk.. enaak.. aahh.. oohhkk.. yaa.. teruus.. akhh.. haak! haak! hak!" Chal terlihat mengeram dengan nafas yang memburu begitu juga Gina.
"Ookk.. yak.. yak.." Chal mulai dengan gerakan sepenuhnya tangannya memegang pinggul Gina untuk menahan gerakan akibat dorongan batang kemaluan Chal yang menghujam semakin dalam ke dalam kemaluan Gina.
"Hee.. aakhh.. okh.." nafas Chal memburu dengan cepat sementara gerakan batang kemaluannya di dalam kemaluan Gina terus keluar masuk dan kadang berputar seperti mengebor kemaluan Gina.
"Akhh.. aakhh.. eennak.. giila.. gila.. aakhh.. aduh.. duh.. gila.. mentok.. ahh.. batangnya mentook.. aahk ennak mmffhh.. terus.. yaa terus.." erang Gina. Sementara kepalanya terdorong dan berputar menambah makin seksi dilihat oleh Chal.
"Giinaa.. enak.. aahk.. akhh.. gilaa.. masuk.. semuaa.. Ginn.. enaak.. mmffhh aakhh puas, gilaa.. kamu.. kuat aakh.." Chal terus menghujamkan batang kemaluannya dalam-dalam ke lubang kemaluan Gina. Sementara Gina hanya bisa mengerang dan menjerit ketika kepala batang kemaluan Chal mentok di dinding rahimnya.
"Aku keluarr lagi.. Chal.. aahk ah.. ahk enak.." erang Gina terpejam.
Telah 20 menit Chal memainkan batang kemaluannya di dalam kemaluan Gina, keringatnya telah menetes ke punggung Gina. Sementara punggung Gina telah terdapat lima bekas gigitan Chal, tiga di pundak Gina dua di leher belakang Gina. Sungguh buas si Chal ini kalau sedang bersetubuh, kadang-kadang tangannya meremas buah dada Gina dan meremas serta menarik ke bawah sehingga memberikan dorongan lebih menekan batang kemaluan Chal. Gina benar-benar sudah lemas dan tidak bertenaga lagi. Kepalanya sudah rebah ke jok mobil, sementara tangannya terkulai lemas, terlihat rambutnya telah basah semua dan badannya telah bermandikan keringat.
"Aahk Chal, aku.. lemes.. gila.. keluarin Chal.." pinta Gina memelas.
"Yaa.. akh yak.. duh.. yaa.. Ginn.. aku keluarin.. huu.. huuf.. aakh.. enaak kemaluan kamu.. akh aku mau keluarr.. aakh akh gila! Enaak.. ahh.. aku mamu keluaar.. aahh.. hak.. haakk.. uuff.. oohk.. kamu hebat Ginn.." Chal melakukan gerakan sangat cepat menghentakkan batang kemaluannya sampai berbunyi, "Cepaak.. cepakk.." beradu pantat Gina dengan paha Gina dan bunyi peraduan kemaluan dan batang kemaluan.
"Breet.. bret.. plooff.. broot.. ploof.. brot.. broot.. poof.. broot.. ahk.. ya.." Gina yang mengetahui Chal mulai menghentakkan batang kemaluannya dalam-dalam melakukan gerakan liar memutar dan menghisap serta memijat batang kemaluan Chal dengan lubang kemaluannya.
"Akuu juga.. mau keluar.. ahh.. lagi.. Chal.. gila.. aahh.. ahh.. keluaar.. haa.. enak.." Chal tersenyum puas sambil tangannya meremas payudara Gina dan mulutnya mencium bibir Gina yang telah terkulai lemas di jok mobilku.
Keadaan menjadi hening lebih kurang lima menit, Chal tetap dalam posisi memeluk Gina dari belakang kudengar mereka berbisik dan berbicara perlahan sementara batang kemaluan Chal walaupun sudah mengeluarkan maninya di dalam kemaluan Gina terlihat masih berada di dalam kemaluan Gina, belum menyusut mengecil dan terlepas. Setelah saling membersihkan keringat dengan tissue, kami pulang dengan perasaan masing-masing puas telah saling memberikan kepuasan kepada pasangannya.
Tamat
Variasi cinta - 1
Ini cerita kejadian pada waktu aku sedang ada masalah dengan pacarku, namanya Gina, tinggi badannya 160 cm, berat 57 kg, kulit putih bersih, bra 36B. Namaku panggil saja Andi. Pacarku itu sangat seksi karena bokongnya menonjol ke belakang dan pinggangnya kecil jadi kata temanku dia sangat montok.
Masalahnya kami sedang bosan satu sama lain, karena hubungan kami sudah 2 tahun sementara untuk pikiran menikah masih dibahas tidak kunjung selesai karena ada faktor X diantara kami. Untuk menghilangkan kebosanan pada saat kami berhubungan badan dia sering membayangkan yang melakukan hal ini dengan batang kemaluan yang besar dan hot, batang kemaluanku sendiri panjangnya 15 cm dan diameter 2,5 cm, katanya kurang? dan karena saat itu aku sedang sibuk kerja di kantor maka kalau sedang berhubungan badan, biasanya bisa 30 menit di luar pemanasan, pemanasan biasanya 30 menit juga mulai dari atas sampai menjilat liang kemaluan, sekarang pemanasan 15 menit dan hubungan badan 5 menit. Wah, dia protes setiap selesai berhubungan badan, sudah pasti saya keluar duluan sementara dia naik saja belum. Sementara saya juga tidak terpikir untuk menyeleweng dan dia juga menjaga perasaan saya dengan tidak menyeleweng, tapi yang terjadi kami sering berantem kecil-kecilan dan dia kalau diajak berhubungan badan sering malas.
Ceritanya sendiri kami jalan-jalan malam itu kurang lebih jam 9.00 malam berkeliling di daerah Thamrin. Sambil jalan kami membicarakan masalah hubungan badan, dia protes karena kondisiku yang tidak berubah. Dia bicara begini, "Andi, aku bosen nih kamu kalau hubungan sekarang cepet banget, kan Gina belum puas", katanya merengek.
"Habis aku lagi capai sih.." kataku.
"Ah, gitu terus alasannya.." katanya.
"Yaa bukan gitu dong.. tapi lagi bener tidak fit", kataku.
"Tapi aku kan jadi suntuk nih, kepalaku sering nyut-nyutan, aku jadi kepengen banget badanku digerayangin sama cowok lain! Aku pengen gituan yang hot yang lama 2 jam dan batang kemaluannya gede", kata Gina.
"Enak kali ya.. sama bule", katanya menyambung.
"Memang kamu berani Gin.." kataku sedikit cemburu tapi ada perasaan lain ingin menantang dia.
"Yaa, iyalah.. tapi aku kan tidak enak sama kamu", katanya.
"Memang kamu pengen batang kemaluan yang gede dan yang hot?" tanyaku.
"Yaa.. habis kamu kalau hubungan sepertinya sudah tidak full lagi tegangnya dan mana cepet lagi. Pusing aku, tahu!" katanya.
"Yaa.. sudah kalau gitu sini kamu tiduran biar tidak pusing."
Kemudian jok kursinya dia mundurkan dan dia rebahan di pangkuanku, tangan kiriku langsung membelai rambutnya.
Terus kupijat kepalanya dan ternyata dia keenakan, lalu merem pelan-pelan. Tanganku turun ke leher, pundak dan ke dadanya. Kuremas perlahan, dia diam saja, kancing bajunya satu persatu kubuka sambil mobil jalan terus berputar di sekitar Monas dan Sabang. Perlahan tanganku meremas buah dadanya ternyata sudah mengeras. Dadanya montok, bentuknya bulat penuh dengan puting berwarna merah jambu. Ketika kusuruh melepas branya, dia langsung membuka kancing branya dan melepas bra tersebut sehingga buah dadanya yang montok itu menantang keluar kedua-duanya karena bajunya sudah kupinggirkan ke samping. Dengan leluasa tangan dan jari-jariku bermain meremas dan memijat pelan putingnya yang telah mengeras.
"Akkhh.." desah Gina keenakan.
"Mhh.. enak Gin.." tanyaku.
"Iyyaa.." desahnya keenakan.
Jari tanganku lalu turun ke bawah mengusap perut dan pusarnya, terus ke bawah membuka kancing celana jeans-nya dan menarik reitsletingnya. Srett.. terbuka sudah dan perlahan jari ini menyentuh bulu-bulu halus di atas bibir kemaluannya. Kemudian kuremas perlahan dan kuusap.
"Aakhh.. Andii.." keenakan rupanya dia dan.., "Aduuhh, aku pengen batang kemaluan yang gede Ndii.." Wah mulai deh dia ingin berhubungan badan.
"Yang lamaa.. yang hot.. akhh.." desah dia keenakan.
Jariku naik turun dari dada ke sekitar liang kemaluannya, dengan perasaan cemburu aku bertanya kepadanya, "Kamu mau sama yang gede kayak bule Gin..?" tanyaku.
"Mauu.." desahnya sambil badannya bergetar.
Wah, kepalang tanggung nih pikiranku jadi kotor.
"Kamu pengen yang hot yaa?" tanyaku lagi.
"Akhh.. aahh iyaa.." katanya.
"Ya sudah kamu cari aja.." kataku penasaran ingin membuktikan kepadanya.
Pikir-pikir dari pada dia main di belakang lebih baik terus terang kalau memang berani.
Ketika di jalan sekitar McDonald, kulihat ada bule sendirian di pinggir jalan sedang berdiri, badannya besar dan tinggi. Aku melihat dia sedang mencari bantuan. Ketika kulihat, dia juga melihat. Setelah sekali putar kulihat dia masih di tempat, sementara jariku sedang merayap di sekitar bibir kemaluan Gina, kemudian mobil kupinggirkan. Ehh, bule itu mendekati mobil kami, Gina tidak tahu kalau kaca jendela kubuka. Dia pikir aku ke pinggir karena capai keliling terus, jadi dia biarkan saja dadanya terbuka dengan putingnya yang mengeras dan bulu-bulu halus yang terlihat dari luar. Bule tersebut mendekat dari sisi pintu Gina dan melihat ke dalam sambil berbicara,
"Maukah anda menolong saya.. ups.. maaf.." katanya sambil terbelalak matanya.
Dia kaget melihat posisi Gina terlihat buah dadanya yang putih mulus keluar dengan puting yang telah mengeras dan bulu halus kemaluan Gina terpampang tepat di wajahnya. Karena badannya menjorok ke dalam pada saat berbicara.
Gina tidak kalah kaget. "Lhoo?" dia segera bangkit dari tidurnya dan merapikan kemejanya.
"Kok kamu tidak bilang kalau ada orang sih.." wajahnya merah karena malu.
"Sudah tidak apa-apa.." kataku tersenyum, lalu aku bilang ke bulenya, "Ma'af, ini pacar saya. Apa yang bisa saya bantu."
Setelah tenang sedikit sambil melihat ke Gina dia bilang, "Mobil saya rusak dan tidak ada bantuan", kata si bule.
"Mobil saya rusak dan saya sudah minta tolong teman saya tapi teman saya sedang pergi jadi saya tunggu di sini", katanya lagi.
"Ya sudah, anda masuk saja ke belakang", kataku.
"Ooh ya, terima kasih.." katanya sambil melirik ke arah Gina.
Dia naik dan duduk di belakang. Sementara Gina masih kaget sedikit tapi melihat bule itu ganteng (katanya) dia perlahan protes, "Aku kan malu.." katanya.
"Katanya pengen bule", kataku berbisik.
"Tapi kan tidak begini dong.." katanya merajuk.
Kulihat dia tidak marah berarti dia juga kemungkinan suka.
"Aah ya, saya Andi", kataku bersalaman, "Dan ini Gina.."
Sambil tersenyum mereka berdua bersalaman dan terus mengobrol basa-basi dari mana dan seterusnya. Setelah basa-basi selesai lalu dia bilang, "Kamu punya body bagus Gin.."
Gina mencubit pahaku, "Aku kan maluu.."
Terus aku bilang, "Katanya kamu pengen tahu Gin, gedenya seberapa", kataku.
"Yaa, aku kan cuma.." kata dia tidak meneruskan karena si bule (namanya Chalued) menyeletuk.
"Kalau kamu pengen tahu, kamu lihat saja", katanya sambil tersenyum.
"Tidak apa-apa kok.." kata si bule.
Aku yang sudah penasaran sejak tadi oleh keinginan Gina terus menimpali, "Ya sudah Gin.. kamu ke belakang saja Gin.." kataku.
"Aakhh, tidak ahh. Gila kali.." kata Gina tersenyum.
"Ya tidak, kan cuma lihat saja biar kamu tidak penasaran", kataku.
Eeh, si bule bilang mengenai hal tersebut tidak jadi masalah kalau di negaranya (Prancis) di sana mereka sudah bebas kalau suka ya bilang suka.
"Kalau kamu penasaran ya lihat saja", katanya tersenyum.
Karena terus diajak bicara dan Gina antusias mendengarnya akhirnya dia mau juga ke belakang.
"Lihat saja yaa.." kata Gina tersenyum malu.
Kemudian kujalankan mobil ke jalan Menteng, sementara Chal kulihat segera membuka kancing celananya dan reitsletingnya terus menarik ke bawah celananya. Gina yang duduk di sampingnya melihat keluar jendela sampai Chal mengeluarkan batang kemaluannya yang besar walaupun belum tegang sekali.
"Hai.. lihat ini", katanya sambil tangan kirinya memegang batang kemaluannya sendiri dan tangan kanannya memegang tangan kiri Gina.
Gina melihat batang kemaluan bule itu dan terlihat wajahnya menegang terpaku melihat batang kemaluan yang besar berwarna putih dengan kepala batang kemaluan seperti topi baja. Sementara aku menyetir terus dan dapat melihat melalui spion atas kelakuan mereka berdua di belakang.
"Kamu lihat ini dan pegang saja!" kata Chal.
"Wihh takut akhh.." desah Gina dengan suara serak.
"Tidak apa-apa biar kamu tidak penasaran lagi", kata Chal.
Gina terpaku melihat batang kemaluan Chal di samping tangannya. Chal mengambil inisiatif, langsung dia mencium pipi Gina perlahan, karena Gina diam saja maka wajah Gina dipegangnya dan.. Gila dia mencium bibir Gina dengan perlahan dan perlahan kulihat Gina membalas ciuman itu dengan membuka bibirnya serta merta Chal melumat bibir itu dan memasukkan lidahnya.
"Emmhh.." desah Gina perlahan.
"Kamu suka Gin.." bisik Chal di kuping Gina.
Melihat reaksi positif dari Gina, tangan kiri Gina diarahkan untuk memegang batang kemaluan besar yang telah menyembul dari atas celananya. Ternyata Chal sudah melepaskan celananya berikut celana dalamnya sampai di paha. Walaupun belum keras tapi sudah berdiri tegak batang kemaluan itu berikut bijinya yang ditutupi rambut kemaluan. Gina mulai memegang batang kemaluan itu dan ternyata walaupun masih lemas jari telunjuk dan ibu jarinya tidak dapat bersentuhan (membuat bentuk huruf O) membuat Gina penasaran dan melihat secara jelas bentuk batang kemaluan bule tersebut dan mendesah, "Aakkhh gedee bangeet.." desahnya dengan suara parau dan wajah memerah.
Wah, kudengar dia sudah birahi, panik juga aku. Kemudian Chal sambil mencium telinga Gina berbisik, "Kamu kocokin dong.." desah si bule tidak tahan keenakan.
Wah sudah lupa mereka berdua, katanya hanya lihat saja, kok minta dipegangi dan dikocok lagi. Eeh, ternyata Gina menuruti permintaan Chal dan perlahan jari-jari tangannya meremas dan mulai mengurut ke atas dan ke bawah dan dalam relatif singkat batang kemaluan bule tersebut berdiri dengan kokohnya di tangan Gina. Panjangnya lebih dari batang kemaluanku atau lebih kurang 22 cm dan diameternya sekitar 4 sampai 5 cm.
"Emmhh.. akhh.." desah mereka berdua di jok belakang.
Makin lama semakin hot saja mereka berdua, sementara tangan Gina terus mengocok kejantanan Chal. Chal pun dengan nafsunya mengulum bibir Gina dan jemarinya dengan cepat membuka kancing kemeja Gina, karena Gina belum mengancingkan semua kancingnya (sengaja barangkali) maka kemeja tersebut dengan cepat terbuka semua dan dengan sigap tangan dan jari Chal langsung meremas susu Gina yang ternyata telah mengeras dan menonjol.
"Akhh enak Chal.." desah Gina menggelinjang. Baju itu disingkirkan ke samping dan begitu bibir Gina dilepas ciumannya maka mulut Chal langsung mendekat ke dada Gina sambil terus meremas perlahan. Puting Gina dihisap sambil dijilat, gundukan daging dada berganti-ganti sehingga, "Akhh.. uuff.." erang Gina keenakan. Wajah Gina sudah menengadah ke atas dengan posisi pasrah, sementara tangan kirinya terus mengocok batang kemaluan Chal yang besar dan penuh digenggamannya dengan makin cepat, kadang-kadang diremas batang kemaluan itu dengan kuat tanda dia sudah tidak tahan karena rangsangan yang ada pada sekujur tubuhnya dan bergetar badannya.
"Ooohh.. Anndii.." desahnya keenakan lupa kalau yang sedang bersamanya itu si Chal. Tangan kanan Gina menekan kepala Chal ke dadanya sementara tangan kirinya sudah tidak beraturan mengocok batang kemaluan besar dan menariknya ke atas seakan-akan ingin digesekkan atau dimasukkan ke dalam liang kemaluannya sendiri dan seakan-akan memaksa untuk segera dituntaskan semuanya.
Chal menyadari yang diminta Gina dan tangan kiri Chal segera membuka kancing celana Gina dan menarik ke bawah reitsleting celana Gina. Tahu atau pura-pura tidak tahu Gina membiarkan tangan itu membuka reitsleting dan dengan mengangkat sedikit pantat Gina tangan Chal itu berhasil meloloskan celana panjang berikut celana dalam Gina yang berwarna hitam tipis terbawa tertarik ke bawah. Celana itu tertarik hingga di tengah paha Gina di atas dengkul Gina sedikit. Tersembul sudah batang paha Gina yang putih mulus dan gundukan kemaluan Gina yang ditutupi oleh rambut kemaluannya yang halus berwarna hitam ikal.
"Kamu mulus sekali Ginn.." bisik Chal sambil tangannya mengusap paha jenjang milik Gina.
"Ahh kamuu.." Gina tersenyum keenakan dan mata memerah. Keadaan mereka berdua sudah sama-sama dengan celana yang telah merosot dan posisi celana mereka berdua telah berada di atas dengkul masing-masing. Gina hanya mendesah dan menggelinjangkan pinggulnya sambil merenggangkan paha atasnya ketika jari-jari Chal itu mulai merayap perlahan, mengelus dan menekan sekitar atas kemaluan Gina yang ditumbuhi bulu-bulu halus dan menyebarkan aroma yang khas dari kemaluan Gina. Mereka benar-benar telah tidak memperhatikanku yang membawa mobil dengan perlahan sekali dan terus memperhatikan kelakuan mereka berdua yang sudah seperti orang kepanasan.
Mereka sama-sama mendesah dan mengerang perlahan.
"Saya suka sekali wanita Indonesia.." desah Chal.
"Wanginya sangat enak sekali", kata Chal sambil mendesah.
"Emmhh.." desah Gina sambil mengerakkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan. Sementara batang kemaluanku sendiri sudah kukeluarkan sejak tadi dan perlahan kukocok sendiri, "Sialan", makiku dalam hati, cemburu tapi enak juga aku melihatnya serasa menonton film BF beneran di depan mata lagi. Jari bule itu mulai menyentuh belahan kemaluan dan mengusap perlahan terus dari atas ke bawah. Belahan kemaluan Gina sudah terlihat basah dan menjadi licin di sekitar belahan tersebut dan semakin lama menyebarkan aroma yang membuat Chal dan aku menjadi makin terangsang. Tangan Gina sudah terlepas dari mengocok batang kemaluan itu dan kedua tangan itu terkulai lemas meremas kepala Chal dan kadang-kadang mengusap punggung Chal dengan sangat merangsang sekali. Chal sabar sekali sementara tangan kiri dan jarinya terus membelai belahan kemaluan Gina, tangan kanannya terlihat meremas buah dada Gina, sementara itu mulutnya menghisap puting Gina yang telah mengeras serta menjilati permukaan dari gundukan buah dada Gina atau mengulum bibir Gina dengan emosi yang teratur.
Bersambung . . .
Masalahnya kami sedang bosan satu sama lain, karena hubungan kami sudah 2 tahun sementara untuk pikiran menikah masih dibahas tidak kunjung selesai karena ada faktor X diantara kami. Untuk menghilangkan kebosanan pada saat kami berhubungan badan dia sering membayangkan yang melakukan hal ini dengan batang kemaluan yang besar dan hot, batang kemaluanku sendiri panjangnya 15 cm dan diameter 2,5 cm, katanya kurang? dan karena saat itu aku sedang sibuk kerja di kantor maka kalau sedang berhubungan badan, biasanya bisa 30 menit di luar pemanasan, pemanasan biasanya 30 menit juga mulai dari atas sampai menjilat liang kemaluan, sekarang pemanasan 15 menit dan hubungan badan 5 menit. Wah, dia protes setiap selesai berhubungan badan, sudah pasti saya keluar duluan sementara dia naik saja belum. Sementara saya juga tidak terpikir untuk menyeleweng dan dia juga menjaga perasaan saya dengan tidak menyeleweng, tapi yang terjadi kami sering berantem kecil-kecilan dan dia kalau diajak berhubungan badan sering malas.
Ceritanya sendiri kami jalan-jalan malam itu kurang lebih jam 9.00 malam berkeliling di daerah Thamrin. Sambil jalan kami membicarakan masalah hubungan badan, dia protes karena kondisiku yang tidak berubah. Dia bicara begini, "Andi, aku bosen nih kamu kalau hubungan sekarang cepet banget, kan Gina belum puas", katanya merengek.
"Habis aku lagi capai sih.." kataku.
"Ah, gitu terus alasannya.." katanya.
"Yaa bukan gitu dong.. tapi lagi bener tidak fit", kataku.
"Tapi aku kan jadi suntuk nih, kepalaku sering nyut-nyutan, aku jadi kepengen banget badanku digerayangin sama cowok lain! Aku pengen gituan yang hot yang lama 2 jam dan batang kemaluannya gede", kata Gina.
"Enak kali ya.. sama bule", katanya menyambung.
"Memang kamu berani Gin.." kataku sedikit cemburu tapi ada perasaan lain ingin menantang dia.
"Yaa, iyalah.. tapi aku kan tidak enak sama kamu", katanya.
"Memang kamu pengen batang kemaluan yang gede dan yang hot?" tanyaku.
"Yaa.. habis kamu kalau hubungan sepertinya sudah tidak full lagi tegangnya dan mana cepet lagi. Pusing aku, tahu!" katanya.
"Yaa.. sudah kalau gitu sini kamu tiduran biar tidak pusing."
Kemudian jok kursinya dia mundurkan dan dia rebahan di pangkuanku, tangan kiriku langsung membelai rambutnya.
Terus kupijat kepalanya dan ternyata dia keenakan, lalu merem pelan-pelan. Tanganku turun ke leher, pundak dan ke dadanya. Kuremas perlahan, dia diam saja, kancing bajunya satu persatu kubuka sambil mobil jalan terus berputar di sekitar Monas dan Sabang. Perlahan tanganku meremas buah dadanya ternyata sudah mengeras. Dadanya montok, bentuknya bulat penuh dengan puting berwarna merah jambu. Ketika kusuruh melepas branya, dia langsung membuka kancing branya dan melepas bra tersebut sehingga buah dadanya yang montok itu menantang keluar kedua-duanya karena bajunya sudah kupinggirkan ke samping. Dengan leluasa tangan dan jari-jariku bermain meremas dan memijat pelan putingnya yang telah mengeras.
"Akkhh.." desah Gina keenakan.
"Mhh.. enak Gin.." tanyaku.
"Iyyaa.." desahnya keenakan.
Jari tanganku lalu turun ke bawah mengusap perut dan pusarnya, terus ke bawah membuka kancing celana jeans-nya dan menarik reitsletingnya. Srett.. terbuka sudah dan perlahan jari ini menyentuh bulu-bulu halus di atas bibir kemaluannya. Kemudian kuremas perlahan dan kuusap.
"Aakhh.. Andii.." keenakan rupanya dia dan.., "Aduuhh, aku pengen batang kemaluan yang gede Ndii.." Wah mulai deh dia ingin berhubungan badan.
"Yang lamaa.. yang hot.. akhh.." desah dia keenakan.
Jariku naik turun dari dada ke sekitar liang kemaluannya, dengan perasaan cemburu aku bertanya kepadanya, "Kamu mau sama yang gede kayak bule Gin..?" tanyaku.
"Mauu.." desahnya sambil badannya bergetar.
Wah, kepalang tanggung nih pikiranku jadi kotor.
"Kamu pengen yang hot yaa?" tanyaku lagi.
"Akhh.. aahh iyaa.." katanya.
"Ya sudah kamu cari aja.." kataku penasaran ingin membuktikan kepadanya.
Pikir-pikir dari pada dia main di belakang lebih baik terus terang kalau memang berani.
Ketika di jalan sekitar McDonald, kulihat ada bule sendirian di pinggir jalan sedang berdiri, badannya besar dan tinggi. Aku melihat dia sedang mencari bantuan. Ketika kulihat, dia juga melihat. Setelah sekali putar kulihat dia masih di tempat, sementara jariku sedang merayap di sekitar bibir kemaluan Gina, kemudian mobil kupinggirkan. Ehh, bule itu mendekati mobil kami, Gina tidak tahu kalau kaca jendela kubuka. Dia pikir aku ke pinggir karena capai keliling terus, jadi dia biarkan saja dadanya terbuka dengan putingnya yang mengeras dan bulu-bulu halus yang terlihat dari luar. Bule tersebut mendekat dari sisi pintu Gina dan melihat ke dalam sambil berbicara,
"Maukah anda menolong saya.. ups.. maaf.." katanya sambil terbelalak matanya.
Dia kaget melihat posisi Gina terlihat buah dadanya yang putih mulus keluar dengan puting yang telah mengeras dan bulu halus kemaluan Gina terpampang tepat di wajahnya. Karena badannya menjorok ke dalam pada saat berbicara.
Gina tidak kalah kaget. "Lhoo?" dia segera bangkit dari tidurnya dan merapikan kemejanya.
"Kok kamu tidak bilang kalau ada orang sih.." wajahnya merah karena malu.
"Sudah tidak apa-apa.." kataku tersenyum, lalu aku bilang ke bulenya, "Ma'af, ini pacar saya. Apa yang bisa saya bantu."
Setelah tenang sedikit sambil melihat ke Gina dia bilang, "Mobil saya rusak dan tidak ada bantuan", kata si bule.
"Mobil saya rusak dan saya sudah minta tolong teman saya tapi teman saya sedang pergi jadi saya tunggu di sini", katanya lagi.
"Ya sudah, anda masuk saja ke belakang", kataku.
"Ooh ya, terima kasih.." katanya sambil melirik ke arah Gina.
Dia naik dan duduk di belakang. Sementara Gina masih kaget sedikit tapi melihat bule itu ganteng (katanya) dia perlahan protes, "Aku kan malu.." katanya.
"Katanya pengen bule", kataku berbisik.
"Tapi kan tidak begini dong.." katanya merajuk.
Kulihat dia tidak marah berarti dia juga kemungkinan suka.
"Aah ya, saya Andi", kataku bersalaman, "Dan ini Gina.."
Sambil tersenyum mereka berdua bersalaman dan terus mengobrol basa-basi dari mana dan seterusnya. Setelah basa-basi selesai lalu dia bilang, "Kamu punya body bagus Gin.."
Gina mencubit pahaku, "Aku kan maluu.."
Terus aku bilang, "Katanya kamu pengen tahu Gin, gedenya seberapa", kataku.
"Yaa, aku kan cuma.." kata dia tidak meneruskan karena si bule (namanya Chalued) menyeletuk.
"Kalau kamu pengen tahu, kamu lihat saja", katanya sambil tersenyum.
"Tidak apa-apa kok.." kata si bule.
Aku yang sudah penasaran sejak tadi oleh keinginan Gina terus menimpali, "Ya sudah Gin.. kamu ke belakang saja Gin.." kataku.
"Aakhh, tidak ahh. Gila kali.." kata Gina tersenyum.
"Ya tidak, kan cuma lihat saja biar kamu tidak penasaran", kataku.
Eeh, si bule bilang mengenai hal tersebut tidak jadi masalah kalau di negaranya (Prancis) di sana mereka sudah bebas kalau suka ya bilang suka.
"Kalau kamu penasaran ya lihat saja", katanya tersenyum.
Karena terus diajak bicara dan Gina antusias mendengarnya akhirnya dia mau juga ke belakang.
"Lihat saja yaa.." kata Gina tersenyum malu.
Kemudian kujalankan mobil ke jalan Menteng, sementara Chal kulihat segera membuka kancing celananya dan reitsletingnya terus menarik ke bawah celananya. Gina yang duduk di sampingnya melihat keluar jendela sampai Chal mengeluarkan batang kemaluannya yang besar walaupun belum tegang sekali.
"Hai.. lihat ini", katanya sambil tangan kirinya memegang batang kemaluannya sendiri dan tangan kanannya memegang tangan kiri Gina.
Gina melihat batang kemaluan bule itu dan terlihat wajahnya menegang terpaku melihat batang kemaluan yang besar berwarna putih dengan kepala batang kemaluan seperti topi baja. Sementara aku menyetir terus dan dapat melihat melalui spion atas kelakuan mereka berdua di belakang.
"Kamu lihat ini dan pegang saja!" kata Chal.
"Wihh takut akhh.." desah Gina dengan suara serak.
"Tidak apa-apa biar kamu tidak penasaran lagi", kata Chal.
Gina terpaku melihat batang kemaluan Chal di samping tangannya. Chal mengambil inisiatif, langsung dia mencium pipi Gina perlahan, karena Gina diam saja maka wajah Gina dipegangnya dan.. Gila dia mencium bibir Gina dengan perlahan dan perlahan kulihat Gina membalas ciuman itu dengan membuka bibirnya serta merta Chal melumat bibir itu dan memasukkan lidahnya.
"Emmhh.." desah Gina perlahan.
"Kamu suka Gin.." bisik Chal di kuping Gina.
Melihat reaksi positif dari Gina, tangan kiri Gina diarahkan untuk memegang batang kemaluan besar yang telah menyembul dari atas celananya. Ternyata Chal sudah melepaskan celananya berikut celana dalamnya sampai di paha. Walaupun belum keras tapi sudah berdiri tegak batang kemaluan itu berikut bijinya yang ditutupi rambut kemaluan. Gina mulai memegang batang kemaluan itu dan ternyata walaupun masih lemas jari telunjuk dan ibu jarinya tidak dapat bersentuhan (membuat bentuk huruf O) membuat Gina penasaran dan melihat secara jelas bentuk batang kemaluan bule tersebut dan mendesah, "Aakkhh gedee bangeet.." desahnya dengan suara parau dan wajah memerah.
Wah, kudengar dia sudah birahi, panik juga aku. Kemudian Chal sambil mencium telinga Gina berbisik, "Kamu kocokin dong.." desah si bule tidak tahan keenakan.
Wah sudah lupa mereka berdua, katanya hanya lihat saja, kok minta dipegangi dan dikocok lagi. Eeh, ternyata Gina menuruti permintaan Chal dan perlahan jari-jari tangannya meremas dan mulai mengurut ke atas dan ke bawah dan dalam relatif singkat batang kemaluan bule tersebut berdiri dengan kokohnya di tangan Gina. Panjangnya lebih dari batang kemaluanku atau lebih kurang 22 cm dan diameternya sekitar 4 sampai 5 cm.
"Emmhh.. akhh.." desah mereka berdua di jok belakang.
Makin lama semakin hot saja mereka berdua, sementara tangan Gina terus mengocok kejantanan Chal. Chal pun dengan nafsunya mengulum bibir Gina dan jemarinya dengan cepat membuka kancing kemeja Gina, karena Gina belum mengancingkan semua kancingnya (sengaja barangkali) maka kemeja tersebut dengan cepat terbuka semua dan dengan sigap tangan dan jari Chal langsung meremas susu Gina yang ternyata telah mengeras dan menonjol.
"Akhh enak Chal.." desah Gina menggelinjang. Baju itu disingkirkan ke samping dan begitu bibir Gina dilepas ciumannya maka mulut Chal langsung mendekat ke dada Gina sambil terus meremas perlahan. Puting Gina dihisap sambil dijilat, gundukan daging dada berganti-ganti sehingga, "Akhh.. uuff.." erang Gina keenakan. Wajah Gina sudah menengadah ke atas dengan posisi pasrah, sementara tangan kirinya terus mengocok batang kemaluan Chal yang besar dan penuh digenggamannya dengan makin cepat, kadang-kadang diremas batang kemaluan itu dengan kuat tanda dia sudah tidak tahan karena rangsangan yang ada pada sekujur tubuhnya dan bergetar badannya.
"Ooohh.. Anndii.." desahnya keenakan lupa kalau yang sedang bersamanya itu si Chal. Tangan kanan Gina menekan kepala Chal ke dadanya sementara tangan kirinya sudah tidak beraturan mengocok batang kemaluan besar dan menariknya ke atas seakan-akan ingin digesekkan atau dimasukkan ke dalam liang kemaluannya sendiri dan seakan-akan memaksa untuk segera dituntaskan semuanya.
Chal menyadari yang diminta Gina dan tangan kiri Chal segera membuka kancing celana Gina dan menarik ke bawah reitsleting celana Gina. Tahu atau pura-pura tidak tahu Gina membiarkan tangan itu membuka reitsleting dan dengan mengangkat sedikit pantat Gina tangan Chal itu berhasil meloloskan celana panjang berikut celana dalam Gina yang berwarna hitam tipis terbawa tertarik ke bawah. Celana itu tertarik hingga di tengah paha Gina di atas dengkul Gina sedikit. Tersembul sudah batang paha Gina yang putih mulus dan gundukan kemaluan Gina yang ditutupi oleh rambut kemaluannya yang halus berwarna hitam ikal.
"Kamu mulus sekali Ginn.." bisik Chal sambil tangannya mengusap paha jenjang milik Gina.
"Ahh kamuu.." Gina tersenyum keenakan dan mata memerah. Keadaan mereka berdua sudah sama-sama dengan celana yang telah merosot dan posisi celana mereka berdua telah berada di atas dengkul masing-masing. Gina hanya mendesah dan menggelinjangkan pinggulnya sambil merenggangkan paha atasnya ketika jari-jari Chal itu mulai merayap perlahan, mengelus dan menekan sekitar atas kemaluan Gina yang ditumbuhi bulu-bulu halus dan menyebarkan aroma yang khas dari kemaluan Gina. Mereka benar-benar telah tidak memperhatikanku yang membawa mobil dengan perlahan sekali dan terus memperhatikan kelakuan mereka berdua yang sudah seperti orang kepanasan.
Mereka sama-sama mendesah dan mengerang perlahan.
"Saya suka sekali wanita Indonesia.." desah Chal.
"Wanginya sangat enak sekali", kata Chal sambil mendesah.
"Emmhh.." desah Gina sambil mengerakkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan. Sementara batang kemaluanku sendiri sudah kukeluarkan sejak tadi dan perlahan kukocok sendiri, "Sialan", makiku dalam hati, cemburu tapi enak juga aku melihatnya serasa menonton film BF beneran di depan mata lagi. Jari bule itu mulai menyentuh belahan kemaluan dan mengusap perlahan terus dari atas ke bawah. Belahan kemaluan Gina sudah terlihat basah dan menjadi licin di sekitar belahan tersebut dan semakin lama menyebarkan aroma yang membuat Chal dan aku menjadi makin terangsang. Tangan Gina sudah terlepas dari mengocok batang kemaluan itu dan kedua tangan itu terkulai lemas meremas kepala Chal dan kadang-kadang mengusap punggung Chal dengan sangat merangsang sekali. Chal sabar sekali sementara tangan kiri dan jarinya terus membelai belahan kemaluan Gina, tangan kanannya terlihat meremas buah dada Gina, sementara itu mulutnya menghisap puting Gina yang telah mengeras serta menjilati permukaan dari gundukan buah dada Gina atau mengulum bibir Gina dengan emosi yang teratur.
Bersambung . . .
Utang uang dibayar istri
Aku sebenarnya tidak tega menagih utang pada kawanku yang satu ini. Namun, karena keadaanku juga sangat mendesak, aku memberanikan diri dengan harapan temanku bisa membayar; minimal separuhnya dulu. Sayang sekali, Darta, kawanku yang baru menikah enam bulan yang lalu ini, tak bisa membayar barang sedikit pun. Memang aku mengerti keadaannya. Ia menikah pun karena desakan orang tua Mila, yang kini jadi istrinya. Darta sendiri, sampai saat ini belum punya pekerjaan.
Karena hari sudah larut, aku tahu diri, segera permisi pada Darta.
"Gua jadi enggak enak nih.."
"Sudahlah Ta. Gua gak apa-apa koq. Gua cuma nyoba aja, barangkali ada," aku menukasnya, takut membuatnya jadi beban pikiran.
"Ma, gua mau bisikin sesuatu..' tiba-tiba Darta mendekatkan mulutnya ke arah telingaku. Dan aku benar-benar terkejut, ketika Darta menawarkan istrinya untuk kutiduri.
"Gila lu.. Sialan.." ucapku.
"Sstt.. Jangan berisik. Gua juga kan ingin balas budi sama elu. Soalnya eu udah banyak berbuat baik sama gua. Gak ada salahnya kan, kalau kita saling berbagi kesenangan.." begitulah ucap Darta dengan serius.
Memang diam-diam sudah sejak lama aku selalu memperhatikan Mila. Bahkan aku pun memuji Darta, bisa mendapatkan gadis secantik Mila. Selain posturnya yang tinggi, Mila memiliki kulitnya yang putih dan mulus. Tubuhnya menggairahkan. Memang selalu terbungkus rapat, dengan baju yang longgar. Namun aku dapat membayangkan, betapa kenyalnya tubuh Mila.
Baru melihat wajah dan jemari tangannya pun, aku memang suka langsung berpantasi; membayangkan Mila jika berada di hadapanku tanpa busana. Lalu Mila kugumuli dengan sesuka hati. Namun untuk berbuat macam-macam, rasanya kubuang jauh-jauh. Karena aku sangat tahu, Mila itu orang baik-baik, dan keturunan orang baik-baik pula. Lihat saja penampilannya, yang selalu terbungkus sopan dan rapi.
"Lu serius, Ta? Bagaimana dengan Mila? Apa dia mau?" aku pun akhirnya mulai terbuka.
"Kita pasang strategi, donk! Kalau secara langsung, jelas istri gua kagak bakalan mau," jawabnya.
"Gimana caranya?" aku penasaran.
Darta kembali membisikan lagi rencana gilanya. Aku memang sangat menginginkan hal itu terjadi. Sudah kubayangkan, betapa nikmatnya bersetubuh dengan perempuan aduhai seperti Mila.
"Mila..! Mila..! Milaa..!" Darta memanggil istrinya.
Dan tanpa selang waktu lama, Mila ke luar dari dalam kamarnya dengan dandanan yang tetap rapat.
"Ada apa, Bang?" tanya Mila.
"Tolong belikan rokok ke warung..!" kata Darta sambil merogoh uang ribuan ke dalam sakunya.
"Baik, Bang," Mila menerima uang itu, lalu ke luar.
Darta segera menyuruhku masuk ke dalam kamarnya, seraya masuk ke kolong ranjang. Aku mau saja, berbaring di tembok dingin, di bawah ranjang. Lalu Darta ke luar lagi. Pintu kamar, tampak masih terbuka.
Tidak lama kemudian, terdengar suara Mila yang datang. Mereka bercakap-cakap di ruang tamu. Dan Darta mengatakan kalau aku sudah pulang, karena ada ditelepon sama bos-ku. Mila kedengarannya tidak banyak tanya. Dia tak terlalu mempedulikan kehadiranku. Hingga suara pintu yang dikunci pun, bisa terdengar dengan jelas.
Kulihat dua pasang kaki memasuki kamar. Pintu ditutup. Dikunci pula. Bahkan termasuk lampu pun dimatikan, sehingga mataku tak melihat apa-apa lagi. Yang kudengar hanya suara ranjang yang berderit dan suara kecupan bibir, entah siapa yang mengecup. Lalu ada juga yang terdengar suara seleting celana, dan nafas Mila yang mulai tak beraturan. Pluk, pluk, pluk.. Sepertinya pakaian mereka mulai dilemparkan ke lantai, satu persatu.
"Emh.. Ah.. Uh.. Oh.." Jelas, itu suara milik Mila.
"Euh.. He.. Euh.." nah kalau itu, suara Darta.
Tampaknya mereka sudah mulai bercumbu dengam hebatnya. Ranjang pun sampai bergoyang-goyang begitu dahsyat.
"Emh.. Akh.. Ayo Bang.. Aduuh ss.." suara Mila membuat nafasku bergerak lebih kencang dari biasanya.
Aku bisa merasakan, Mila sedang ada dalam puncak nafsunya. Aku sudah tidak tahan mendengar suara dengusan nafas kedua insan yang tengah memadu berahi ini. Hingga aku mulai membuka celanaku, bajuku dan celana dalamku. Aku sudah telanjang bulat. Lalu aku bergerak perlahan, ke luar dari tempat persembunyian, kolong tempat tidur.
Meski keadaan sangat gelap, namun aku masih bisa melihat dua tubuh yang bergumul. Terutama tubuh Mila, yang putih mulus. Darta sudah memasukan penisnya, dan sedang memompanya turun naik, diiringi desahan nafas yang tersengal-sengal. Konvensional. Mila sepertinya lebih menikmati berada di posisi bawah, sambil kedua tangannya memeluk erat tubuh Darta, dan kakinya menjepit pantat Darta. Aku mulai tidak tahan.
Tiba-tiba Darta semakin mempercepat pompaannya. Ranjang bergoyang lebih ganas lagi. Dan suara erangan tertahan Mila semakin menjadi-jadi.
"Emh, emh, emh, emh.. Ah.. Oh.." Hanya itu yang keluar dari mulut Mila, karena mulutnya disumpal oleh mulut Darta. Dan akhirnya.
"Agh.. Agh..!" suara Darta mengakhiri pendakian itu.
Namun tampaknya Mila belum selesai. Terbukti, kakinya masih menyilang erat, mengunci paha Darta, agar tak segera mencabut penisnya. Tetapi apa hendak dikata, Darta sudah lemas. Ia tergolek dengan nafas yang lemah-lunglai.
Kesempatan inilah, saatnya aku harus masuk. Demikian yang direncanakan Darta tadi. Maka tanpa ragu lagi, aku segera melompat ke atas ranjang. Meraih tubuh Mila dan langsung menindihnya. Tentu saja Mila terpekik kaget.
"Siapa Kau..! Kurang ajar..! Pergi..! Ke luar..! jangan..! setaan..!" Mila berontak. Ia sangat marah tampaknya.
"Mila, aku punya hutang pada kawanku. Berilah ia sedikit kesempatan.." Darta yang menjawab, sambil mengelus rambutnya.
"Biadab..! Aku tidak mau..! Lepaskan..! bangsat..!" Mila mendorong tubuhku.
Namun karena nafsuku sudah memuncak, aku tak mungkin menyerah. Kutekan lebih keras tubuhnya, sambil tanganku berusaha menuntun agar penisku segera masuk. Mila tetap meronta. Mila berkali-kali meludahi mukaku. Tetapi aku diam-diam menikmatinya. Bahkan ludahnya malah kusedot dari bibirnya, dan kutelan.
Meskipun liang vagina Mila sudah licin, namun penisku tetap agak seret untuk segera menembusnya. Mila terpekik, ketika aku menekan dan memaksakannya sekaligus. Bles..! Akhirnya masuk juga. Kudiamkan beberapa saat, karena aku ingin mencumbu dulu bibirnya. Mila tetap berontak, sampai akhirnya kehabisan tenaga. Akhirnya ia hanya diam.
Kurasakan ada air mata yang mengalr dari kedua kelopak matanya. Tetapi aku semakin bernafsu. Kuremas-remas payu daranya yang ternyata memang cukup besar dan begitu kenyal. Lalu aku mulai memompa penisku. Mila terpekik kembali. Kasihan juga, aku melihatnya. Sehingga aku bergerak perlahan-lahan, sampai akhirnya vagina Mila bisa beradaptasi dengan penisku. Mila tidak bereaksi. Ia diam saja. Namun aku sangat menikmatinya.
Walaupun Mila diam, tentunya jauh lebih nikmat dari pada melakukannya dengan patung. Aku terus memompanya, sampai napasku mulai ngos-ngosan. Kucoba menyalurkan nafasku ke arah telinga Mila. Dan hasilnya cukup bagus. Lama kelamaan, di sela isakan tangisnya, diam-diam kurasakan vaginanya diangkat, seakan Mila ingin menerima hunjaman penisku lebih dalam. Tentu saja aku semakin bersemangat. Kupompa lebih cepat lagi. Tiba-tiba isakan tangisnya berhenti, diganti dengan nafasnya yang kian memburu. Dan yang lebih mengagetkan lagi, kakinya tiba-tiba mengunci pantatku. Aku tersenyum, sambil mencumbui telinganya.
"Kau menikmatinya, sayang?" bisikku.
"Diam..!" dia membentakku. Namun aku yakin, Mila hanya tidak mau mengakui kekalahan dirinya. Buktinya, ketika penisku kucabut, Mila menekan pantatku. Tangannya pun memeluk tubuhku, agar aku merapatkannya kembali.
Lalu ada suara erangan dari bibirnya yang tertahan. Bersamaan erangan itu, kedua kakinya semakin erat menekan pantatku. Dan vaginanya ditekan pula ke atas. Aku pun sangat terangsang. Hingga detik-detik akhir pun akan segera tiba. Kupeluk erat pula tubuh Mila. Kugenjot lebih cepat dan lebih keras. Sampai akhirnya tiba pada genjotan yang terakhir. Aku tekan sangat kuat. Kugigit pelan lehernya.
"Agh.. Agh.. Agh.." Maniku keluar di dalam vaginanya. Begitupun Mila.
"Akh.. Akh.. Akh.. Ss.." begitulah yang keluar dari mulut Mila.
Lalu kemudian Mila mendorong tubuhku dan seakan menyesali dan tak mau lagi bersentuhan denganku.
Tamat
Karena hari sudah larut, aku tahu diri, segera permisi pada Darta.
"Gua jadi enggak enak nih.."
"Sudahlah Ta. Gua gak apa-apa koq. Gua cuma nyoba aja, barangkali ada," aku menukasnya, takut membuatnya jadi beban pikiran.
"Ma, gua mau bisikin sesuatu..' tiba-tiba Darta mendekatkan mulutnya ke arah telingaku. Dan aku benar-benar terkejut, ketika Darta menawarkan istrinya untuk kutiduri.
"Gila lu.. Sialan.." ucapku.
"Sstt.. Jangan berisik. Gua juga kan ingin balas budi sama elu. Soalnya eu udah banyak berbuat baik sama gua. Gak ada salahnya kan, kalau kita saling berbagi kesenangan.." begitulah ucap Darta dengan serius.
Memang diam-diam sudah sejak lama aku selalu memperhatikan Mila. Bahkan aku pun memuji Darta, bisa mendapatkan gadis secantik Mila. Selain posturnya yang tinggi, Mila memiliki kulitnya yang putih dan mulus. Tubuhnya menggairahkan. Memang selalu terbungkus rapat, dengan baju yang longgar. Namun aku dapat membayangkan, betapa kenyalnya tubuh Mila.
Baru melihat wajah dan jemari tangannya pun, aku memang suka langsung berpantasi; membayangkan Mila jika berada di hadapanku tanpa busana. Lalu Mila kugumuli dengan sesuka hati. Namun untuk berbuat macam-macam, rasanya kubuang jauh-jauh. Karena aku sangat tahu, Mila itu orang baik-baik, dan keturunan orang baik-baik pula. Lihat saja penampilannya, yang selalu terbungkus sopan dan rapi.
"Lu serius, Ta? Bagaimana dengan Mila? Apa dia mau?" aku pun akhirnya mulai terbuka.
"Kita pasang strategi, donk! Kalau secara langsung, jelas istri gua kagak bakalan mau," jawabnya.
"Gimana caranya?" aku penasaran.
Darta kembali membisikan lagi rencana gilanya. Aku memang sangat menginginkan hal itu terjadi. Sudah kubayangkan, betapa nikmatnya bersetubuh dengan perempuan aduhai seperti Mila.
"Mila..! Mila..! Milaa..!" Darta memanggil istrinya.
Dan tanpa selang waktu lama, Mila ke luar dari dalam kamarnya dengan dandanan yang tetap rapat.
"Ada apa, Bang?" tanya Mila.
"Tolong belikan rokok ke warung..!" kata Darta sambil merogoh uang ribuan ke dalam sakunya.
"Baik, Bang," Mila menerima uang itu, lalu ke luar.
Darta segera menyuruhku masuk ke dalam kamarnya, seraya masuk ke kolong ranjang. Aku mau saja, berbaring di tembok dingin, di bawah ranjang. Lalu Darta ke luar lagi. Pintu kamar, tampak masih terbuka.
Tidak lama kemudian, terdengar suara Mila yang datang. Mereka bercakap-cakap di ruang tamu. Dan Darta mengatakan kalau aku sudah pulang, karena ada ditelepon sama bos-ku. Mila kedengarannya tidak banyak tanya. Dia tak terlalu mempedulikan kehadiranku. Hingga suara pintu yang dikunci pun, bisa terdengar dengan jelas.
Kulihat dua pasang kaki memasuki kamar. Pintu ditutup. Dikunci pula. Bahkan termasuk lampu pun dimatikan, sehingga mataku tak melihat apa-apa lagi. Yang kudengar hanya suara ranjang yang berderit dan suara kecupan bibir, entah siapa yang mengecup. Lalu ada juga yang terdengar suara seleting celana, dan nafas Mila yang mulai tak beraturan. Pluk, pluk, pluk.. Sepertinya pakaian mereka mulai dilemparkan ke lantai, satu persatu.
"Emh.. Ah.. Uh.. Oh.." Jelas, itu suara milik Mila.
"Euh.. He.. Euh.." nah kalau itu, suara Darta.
Tampaknya mereka sudah mulai bercumbu dengam hebatnya. Ranjang pun sampai bergoyang-goyang begitu dahsyat.
"Emh.. Akh.. Ayo Bang.. Aduuh ss.." suara Mila membuat nafasku bergerak lebih kencang dari biasanya.
Aku bisa merasakan, Mila sedang ada dalam puncak nafsunya. Aku sudah tidak tahan mendengar suara dengusan nafas kedua insan yang tengah memadu berahi ini. Hingga aku mulai membuka celanaku, bajuku dan celana dalamku. Aku sudah telanjang bulat. Lalu aku bergerak perlahan, ke luar dari tempat persembunyian, kolong tempat tidur.
Meski keadaan sangat gelap, namun aku masih bisa melihat dua tubuh yang bergumul. Terutama tubuh Mila, yang putih mulus. Darta sudah memasukan penisnya, dan sedang memompanya turun naik, diiringi desahan nafas yang tersengal-sengal. Konvensional. Mila sepertinya lebih menikmati berada di posisi bawah, sambil kedua tangannya memeluk erat tubuh Darta, dan kakinya menjepit pantat Darta. Aku mulai tidak tahan.
Tiba-tiba Darta semakin mempercepat pompaannya. Ranjang bergoyang lebih ganas lagi. Dan suara erangan tertahan Mila semakin menjadi-jadi.
"Emh, emh, emh, emh.. Ah.. Oh.." Hanya itu yang keluar dari mulut Mila, karena mulutnya disumpal oleh mulut Darta. Dan akhirnya.
"Agh.. Agh..!" suara Darta mengakhiri pendakian itu.
Namun tampaknya Mila belum selesai. Terbukti, kakinya masih menyilang erat, mengunci paha Darta, agar tak segera mencabut penisnya. Tetapi apa hendak dikata, Darta sudah lemas. Ia tergolek dengan nafas yang lemah-lunglai.
Kesempatan inilah, saatnya aku harus masuk. Demikian yang direncanakan Darta tadi. Maka tanpa ragu lagi, aku segera melompat ke atas ranjang. Meraih tubuh Mila dan langsung menindihnya. Tentu saja Mila terpekik kaget.
"Siapa Kau..! Kurang ajar..! Pergi..! Ke luar..! jangan..! setaan..!" Mila berontak. Ia sangat marah tampaknya.
"Mila, aku punya hutang pada kawanku. Berilah ia sedikit kesempatan.." Darta yang menjawab, sambil mengelus rambutnya.
"Biadab..! Aku tidak mau..! Lepaskan..! bangsat..!" Mila mendorong tubuhku.
Namun karena nafsuku sudah memuncak, aku tak mungkin menyerah. Kutekan lebih keras tubuhnya, sambil tanganku berusaha menuntun agar penisku segera masuk. Mila tetap meronta. Mila berkali-kali meludahi mukaku. Tetapi aku diam-diam menikmatinya. Bahkan ludahnya malah kusedot dari bibirnya, dan kutelan.
Meskipun liang vagina Mila sudah licin, namun penisku tetap agak seret untuk segera menembusnya. Mila terpekik, ketika aku menekan dan memaksakannya sekaligus. Bles..! Akhirnya masuk juga. Kudiamkan beberapa saat, karena aku ingin mencumbu dulu bibirnya. Mila tetap berontak, sampai akhirnya kehabisan tenaga. Akhirnya ia hanya diam.
Kurasakan ada air mata yang mengalr dari kedua kelopak matanya. Tetapi aku semakin bernafsu. Kuremas-remas payu daranya yang ternyata memang cukup besar dan begitu kenyal. Lalu aku mulai memompa penisku. Mila terpekik kembali. Kasihan juga, aku melihatnya. Sehingga aku bergerak perlahan-lahan, sampai akhirnya vagina Mila bisa beradaptasi dengan penisku. Mila tidak bereaksi. Ia diam saja. Namun aku sangat menikmatinya.
Walaupun Mila diam, tentunya jauh lebih nikmat dari pada melakukannya dengan patung. Aku terus memompanya, sampai napasku mulai ngos-ngosan. Kucoba menyalurkan nafasku ke arah telinga Mila. Dan hasilnya cukup bagus. Lama kelamaan, di sela isakan tangisnya, diam-diam kurasakan vaginanya diangkat, seakan Mila ingin menerima hunjaman penisku lebih dalam. Tentu saja aku semakin bersemangat. Kupompa lebih cepat lagi. Tiba-tiba isakan tangisnya berhenti, diganti dengan nafasnya yang kian memburu. Dan yang lebih mengagetkan lagi, kakinya tiba-tiba mengunci pantatku. Aku tersenyum, sambil mencumbui telinganya.
"Kau menikmatinya, sayang?" bisikku.
"Diam..!" dia membentakku. Namun aku yakin, Mila hanya tidak mau mengakui kekalahan dirinya. Buktinya, ketika penisku kucabut, Mila menekan pantatku. Tangannya pun memeluk tubuhku, agar aku merapatkannya kembali.
Lalu ada suara erangan dari bibirnya yang tertahan. Bersamaan erangan itu, kedua kakinya semakin erat menekan pantatku. Dan vaginanya ditekan pula ke atas. Aku pun sangat terangsang. Hingga detik-detik akhir pun akan segera tiba. Kupeluk erat pula tubuh Mila. Kugenjot lebih cepat dan lebih keras. Sampai akhirnya tiba pada genjotan yang terakhir. Aku tekan sangat kuat. Kugigit pelan lehernya.
"Agh.. Agh.. Agh.." Maniku keluar di dalam vaginanya. Begitupun Mila.
"Akh.. Akh.. Akh.. Ss.." begitulah yang keluar dari mulut Mila.
Lalu kemudian Mila mendorong tubuhku dan seakan menyesali dan tak mau lagi bersentuhan denganku.
Tamat
Unchained melody
Seminar tentang management terkadang merupakan refreshing dari kesibukan di kantor, apa lagi kalau pembicaranya menarik. Meskipun sebenarnya aku tidak terlalu berminat, tapi karena tugas dari kantor maka mau tidak mau harus berangkat juga. Session pertama tidaklah terlalu menarik, topiknya bagus tapi pembicaranya terlalu datar dalam menyampaikan, begitu juga pembicara kedua tidak ada yang istimewa hingga acara makan siang. Session ketiga adalah paling berat, dimana serangan kantuk datang, pembicaranya haruslah pintar membawa suasana.
Begitu session ketiga, berjalanlah ke podium seorang wanita cantik dengan anggunnya, menyihir pesona peserta seminar. Dengan santai dan penuh percaya diri dia duduk di deretan pembicara dan moderator, lalu sang moderator membacakan Curiculum Vitae dia, namanya Natasya Kusumawati. Tersentak aku mendengarnya setelah semua CV dibaca. Kupandang lebih seksama, aku hampir yakin bahwa dia adalah Nana, teman SMA dulu, wanita pertama kepada siapa aku jatuh cinta dan wanita pertama pula yang membuatku patah hati karena cintaku yang tidak terbalas.
Selama session dia, aku tidak dapat mengkonsentrasikan pada materi seminar, kunikmati penampilan Bu Natasya, nama resminya, hingga tidak terasa session dia sudah habis dan dilanjutkan dengan coffea break.
Bu Natasya dikelilingi banyak peserta seminar untuk melanjutkan tanya jawab yang tidak terakomodir di forum seminar. Dengan tangkasnya dia menjawab semua pertanyaan. Hingga pada suatu kesempatan dimana dia sendirian saat mengambil kue, kusapa dia dengan nama akrabnya.
Nana ya..? sapaku agak ragu.
Langsung Bu Natasya membalikkan badannya, rambutnya yang terurai menebarkan harum semerbak.
Haii.., Hendra ya..? sapa Nana terkejut.
Kamu sekarang lain, tidak seperti waktu dulu masih SMA, jauh berubah.. lanjut Nana, ada binar kebahagiaan di matanya.
Kamu juga lain, congratulation good presentation, banyak kemajuan baik penampilan maupun kedewasaan.. balasku.
Gimana kabarmu dan dimana aja kamu selama ini..? lanjutku.
Aku di sekitaran sini aja setelah dari Australia, sekarang aku nginap di hotel ini, habis ini mampir ya, aku udah kangen pingin tahu cerita lainnya.. jawab Nana kegirangan.
Oke, abis acara ini bagaimana..? usulku.
Oke aku di kamar 806, langsung aja ke kamar setelah acara.. katanya sambil meninggalkanku karena acara berikutnya segera dimulai.
Sisa session sudah tidak kuperhatikan lagi, bayangan Nana masih terbayang di mataku, sungguh anggun dan dewasa penampilannya. Setelan jas dan baju kerjanya tidak dapat menutupi postur tubuhnya yang dari dulu kuimpikan, malah lebih seksi, dan penampilannya yang penuh percaya diri menambah keanggunan dan inner beauty-nya.
Pukul 4.30 sore acara sudah selesai, bergegas aku menuju lantai 8 kamar 06 yang ternyata letaknya di pojok. Agak ragu kupencet bell di pintu. Tidak lama kemudian muncullah Nana dari balik pintu, dengan mengenakan pakaian santai t-shirt dan celana pendek sungguh jauh berbeda dengan penampilan saat di podium. Sekarang kulihat Nana yang kukenal dulu, tidak jauh berbeda, dengan make-up tipis nyaris tidak kelihatan, dia begitu cantik alami.
Sorry agak lama ya, abis aku tadi ketiduran sih, masuk Hend, santai saja.., anggap rumah sendiri.., sapanya sambil mempersilakan aku masuk.
Ah nggak apa.. jawabku.
Baru bangun tidur saja cantiknya seperti itu, pikirku.
Nggak ada yang marah nih kalau kita berdua saja di kamar..? kataku mulai memancing.
Ah nggak ada, paling juga bini kamu.., jawabnya.
Akhirnya kami mengobrol dan bernostalgia, kemudian aku tahu kalau dia tidak punya anak dan sudah berpisah dengan suaminya sekitar tiga tahun yang lalu, karena mereka sama-sama mengejar karier, dan suaminya punya affair dengan rekan sekantornya. Untuk menghibur diri dan pelarian, Nana melanjutkan study managemant di Australia, dan sekarang inilah dia, seorang wanita karier dan consultant management yang sedang menanjak.
Aku permisi ke kamar mandi, tanpa sengaja melihat benda aneh di tumpukan handuk setelah kuperhatikan, ternyata sebuah set vibrator dengan berbagai ukuran dan model, pikiranku mulai menebak-nebak dan memaklumi perbuatannya, sebagai seorang wanita normal kebutuhan sex memang perlu, apalagi sudah beberapa tahun tanpa lelaki pendamping. Lagi asyik aku memperhatikan vibrator itu, tiba-tiba pintu diketuk dari luar.
Hend, mandi aja sekalian.. teriak Nana dari luar.
Eh.., anu.. emm.. emang aku ingin mandi kok..! jawabku gugup dan sekenanya.
Segera kubuka pakaianku sambil mengamati peralatan toiletrees miliknya, ternyata kutemukan juga lubricant alias pelumas, mungkin pasangan vibrator pikirku lagi.
Setelah aku selesai mandi, gantian Nana mandi, ternyata dia sudah menyiapkan kimono untukku. Tidak lama kemudian dia selesai mandi dan hanya berbalut handuk di tubuhnya. Nana keluar kamar mandi, takjub aku dibuatnya, tubuhnya begitu mulus dan seksi.
Hend, kamu tadi lihat ini ya..? katanya penuh selidik sambil mempertunjukkan vibratornya.
Eh.., anu.., nggak sengaja kok, maaf ya, sunguh aku nggak sengaja, jangan marah ya.., kataku membela diri takut dia marah karena privacy-nya terganggu.
Nggak apa kok, kita sama-sama dewasa. Selama ini alat inilah yang memuaskan kebutuhanku. katanya tanpa ada nada sungkan, tapi kulihat kepedihan di matanya.
Kupegang tangannya dan kutarik Nana ke pelukanku, dia tidak melawan dan membalas pelukanku, kepalanya disandarkan di bahuku, harum rambutnya membuat birahiku naik.
Hend, temani aku malam ini, Ill do everything for you, demi masa lalu kita, ya, please..! bisiknya meminta dan merajuk.
Tanpa menjawab, kucium keningnya, pipinya dan kulumat bibir manisnya, terasa begitu lembut dan penuh getaran-getaran yang aku sendiri tidak tahu. Jantungku berdegub kencang, aliran darah serasa mencapai ubun-ubun, dan dengan sedikit gemetar tanganku membelai rambutnya.
Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi, berhadapan dengan Nana, kepada siapa aku pertama kali fall in love, membuatku menjadi begitu nervous. Aku hanya berani mencium pipi dan bibirnya saja, tidak ada keberanian untuk lebih jauh, meskipun nafsu sudah meninggi. Ternyata Nana salah pengertian, dia melepaskan pelukanku.
Hend, kalau kamu keberatan temani aku nggak apa kok, aku mengerti dan nggak marah, katanya sambil memandang mataku dengan tajam.
Bukan itu Na, terus terang aku nervous berhadapan sama kamu, mengingat masa lalu cinta yang nggak kesampaian, jelasku.
Nana langsung menerjang ke pelukanku hingga kami berdua terjatuh ke ranjang. Kembali mulut kami memadu kasih, permainan lidah yang sungguh indah karena bukan hanya sekedar nafsu, tapi ada feeling yang tidak terlukiskan.
Sepertinya kami saling melepas rindu yang sudah jauh terpendam. Kugulingkan tubuh kami hingga sekarang aku menindih tubuh Nana, ciumanku langsung mendarat di lehernya yang jenjang, tanganku menarik handuk penutup tubuhnya hingga terlepas, dan ternyata dia sudah tidak memakai pakaian dalam lagi. Kulepas kimono dan celana dalamku, sambil menikmati keindahan tubuh Nana yang sudah telanjang, ternyata jauh lebih indah dan lebih seksi dari imajinasiku.
Badannya yang putih mulus sangat menggoda, buah dadanya yang tidak tampak menonjol di balik jas dan blasernya tadi siang ternyata cukup montok dan kencang, paling tidak 34C. Perutnya rata seperti halnya seorang peragawati, dan yang paling seksi adalah bulu rambut bawahnya dirapihkan hingga membentuk V, pemandangan yang tiada duanya.
Aku kembali naik ke atas tubuhnya, kucium dan kujilati lehernya, terus turun hingga ke belahan buah dadanya, kunaiki bukit itu hingga putingnya yang masih kemerahan. Jilatanku menggoda dan mengundang kegelian pada Nana, dibelainya rambutku.
Ssshh.. sshh.., trus sayang..! Yaa.. he.. emm..! desahnya.
Jilataan dan sedotanku berpindah dari puncak satu ke lainnya, sambil tanganku mengusap bibir vaginanya yang ternyata sudah basah.
Nana menggelinjang, entah sudah berapa lama tidak dicumbu oleh laki-laki, cengkeraman di rambutku makin kencang dan desahannya semakin keras. Lidahku sudah menjelajah ke daerah perut, berlanjut hingga paha. Kupermainkan jilatan di lututnya, membuat dia menggeliat-geliat, kemudian betis, terakhir kukulum jari-jari kakinya kiri dan kanan.
Hend, kamu sungguh romantis.., katanya sambil melihatku menjilati jari kakinya.
Giliran selanjutnya adalah selangkangan, aromanya sungguh merangsang, kujilati dari bibir luar hingga masuk ke dalam.
Aaagghh.., sshh.. hhmm.. yess..! desah Nana ketika kujilat sambil kumasukkan jari tanganku ke vagina dan mengocoknya.
Kumainkan lidahku menjelajahi bibir dan luar vagina, jilatan terus turun hingga ke lubang anus dan kembali lagi ke bibir vagina. Tidak tahan diperlakukan seperti itu lebih lama, Nana memintaku untuk telentang, kemudian dia bersimpuh di antara kakiku.
Ini adalah penis kedua yang kupegang setelah suamiku, jauh lebih besar dari punya dia, dan aku tak pernah malakukan ini. kata Nana langsung menjilati ujung kejantananku.
Sambil mengocok, dimasukkan kepala kejantananku ke mulutnya, tanpa kesulitan yang berarti dia mengulum lebih dari setengah batang 17 cm penisku (mungkin biasa dengan dildo), lalu dikocoknya keluar masuk dengan mulut mungilnya. Takut keterusan, kutarik tubuhnya hingga dia telentang, kemudian kembali kutindih tubuh sexy-nya.
Kali ini kami sama-sama telanjang, bagitu hangat. Kami berciuman lagi, sementara tangan Nana menuntun kejantananku ke vaginanya, disapukan ke seluruh permukaan bibir vagina dan dengan sekali dorong amblaslah kejantananku ke vagina yang pertama kali kuimpikan, masuk semua.
Aaahh.. sshh.. yaa.. oeh.., yaa..! desahnya.
Kubiarkan sesaat, kami berdua sama-sama tidak bergerak, saling menikmati saat-saat indah yang sudah lama kudambakan. Kupandangi wajahnya dengan penuh kasih, sorotan matanya memancarkan kerinduan yang dalam.
Hend, I miss you soo much..! katanya sambil mencium bibirku.
Perlahan kutarik keluar, tapi Nana menahannya, memintaku untuk tetap diam.
Biarkan aku menikmati saat indah ini.., katanya lagi, hingga terasa denyutan ringan dari dalam vaginanya, kuanggap sebagai tanda.
Maka pelan-pelan kutarik keluar, kemudian pelan-pelan pula kudorong masuk lagi.
Ooouugghh.. yess.., Hend.. fuck mee..! desahnya.
Pinggulku makin cepat turun naik, kocokanku bertambah cepat dan keras aku menyodoknya.
Fuck mee..! Pleaassee.., harder.. harder.., yess.. begitu.., teruss..! Nana mulai mengerang.
Berulang kali dia mencium dan mengigit ringan bibirku karena gemas, tangannya mencengkeram tanganku, sementara satunya meremas ujung bantal. Kaki Nana menjepit pinggangku sehingga pinggulnya sedikit terangkat, lebih memudahkan aku untuk mendorong lebih dalam dan lebih cepat. Erangan dan desahan Nana makin keras, sepertinya dia meluapkan rasa dahaganya, pinggulnya ikut bergoyang mengimbangi goyanganku.
Tiba-tiba Nana terdiam, remasan di tanganku makin kencang.
Sayang, aa.. kuke.. ke.., lu.. aarrgghh.., yaa.. yess..! Oh my god.., yess.., Heenn..! teriak Nana ketika kurasakan denyutan berkepanjangan seirama dengan teriakan Nana, kemudian tubuhnya melemas.
Kuhentikan gerakanku untuk memberi dia waktu, tapi sepertinya Nana tidak mau berhenti, pinggulnya kembali bergoyang.
Ayo sayang, keluarkan di dalam, aku sudah lama tidak merasakan semprotan sperma di vaginaku.., pinta Nana mempercepat goyangannya.
Kunaikkan kembali tempo goyanganku dan makin keras, apalagi setelah Nana menaikkan kakinya ke pundakku, kejantananku serasa menyentuh dinding rahimnya. Desahan demi desahan keluar dari mulut Nana, goyangan dan gelinjangan tubuh Nana membuatku tidak dapat bertahan lebih lama, ditambah perasaan kangen yang mendalam sehingga pertahananku runtuh, maka menyemburlah spermaku di vaginanya.
Ooouuhh.., yess.. oohh my god yess, ya Sayang.., terus.., yess.. oh.., I like it.., yess.. oohh.., desahnya ketika semburanku menghantam dinding vaginanya.
Denyut demi denyut mengalir di liang vaginanya, ternyata teriakannya lebih histeris dibandingkan kalau dia sendiri yang orgasme. Dapat dimaklumi, karena vibrator maupun dildo tidak dapat memberikan sensasi denyutan yang seperti itu, dan hal itu mengisi dahaga Nana. Kami berciuman lagi, hingga kejantananku melemas dengan sendirinya.
Thank you Hend.., kamu telah mengisi kedahagaanku, I love you.., katanya sambil kembali menciumku dan kami telentang sambil berpelukan, kepalanya direbahkan di dadaku.
Sesaat kami terdiam mengenang peristiwa indah yang baru terjadi, impian yang menjadi kenyataan setelah lebih dari sepuluh tahun terpendam.
Tamat
Begitu session ketiga, berjalanlah ke podium seorang wanita cantik dengan anggunnya, menyihir pesona peserta seminar. Dengan santai dan penuh percaya diri dia duduk di deretan pembicara dan moderator, lalu sang moderator membacakan Curiculum Vitae dia, namanya Natasya Kusumawati. Tersentak aku mendengarnya setelah semua CV dibaca. Kupandang lebih seksama, aku hampir yakin bahwa dia adalah Nana, teman SMA dulu, wanita pertama kepada siapa aku jatuh cinta dan wanita pertama pula yang membuatku patah hati karena cintaku yang tidak terbalas.
Selama session dia, aku tidak dapat mengkonsentrasikan pada materi seminar, kunikmati penampilan Bu Natasya, nama resminya, hingga tidak terasa session dia sudah habis dan dilanjutkan dengan coffea break.
Bu Natasya dikelilingi banyak peserta seminar untuk melanjutkan tanya jawab yang tidak terakomodir di forum seminar. Dengan tangkasnya dia menjawab semua pertanyaan. Hingga pada suatu kesempatan dimana dia sendirian saat mengambil kue, kusapa dia dengan nama akrabnya.
Nana ya..? sapaku agak ragu.
Langsung Bu Natasya membalikkan badannya, rambutnya yang terurai menebarkan harum semerbak.
Haii.., Hendra ya..? sapa Nana terkejut.
Kamu sekarang lain, tidak seperti waktu dulu masih SMA, jauh berubah.. lanjut Nana, ada binar kebahagiaan di matanya.
Kamu juga lain, congratulation good presentation, banyak kemajuan baik penampilan maupun kedewasaan.. balasku.
Gimana kabarmu dan dimana aja kamu selama ini..? lanjutku.
Aku di sekitaran sini aja setelah dari Australia, sekarang aku nginap di hotel ini, habis ini mampir ya, aku udah kangen pingin tahu cerita lainnya.. jawab Nana kegirangan.
Oke, abis acara ini bagaimana..? usulku.
Oke aku di kamar 806, langsung aja ke kamar setelah acara.. katanya sambil meninggalkanku karena acara berikutnya segera dimulai.
Sisa session sudah tidak kuperhatikan lagi, bayangan Nana masih terbayang di mataku, sungguh anggun dan dewasa penampilannya. Setelan jas dan baju kerjanya tidak dapat menutupi postur tubuhnya yang dari dulu kuimpikan, malah lebih seksi, dan penampilannya yang penuh percaya diri menambah keanggunan dan inner beauty-nya.
Pukul 4.30 sore acara sudah selesai, bergegas aku menuju lantai 8 kamar 06 yang ternyata letaknya di pojok. Agak ragu kupencet bell di pintu. Tidak lama kemudian muncullah Nana dari balik pintu, dengan mengenakan pakaian santai t-shirt dan celana pendek sungguh jauh berbeda dengan penampilan saat di podium. Sekarang kulihat Nana yang kukenal dulu, tidak jauh berbeda, dengan make-up tipis nyaris tidak kelihatan, dia begitu cantik alami.
Sorry agak lama ya, abis aku tadi ketiduran sih, masuk Hend, santai saja.., anggap rumah sendiri.., sapanya sambil mempersilakan aku masuk.
Ah nggak apa.. jawabku.
Baru bangun tidur saja cantiknya seperti itu, pikirku.
Nggak ada yang marah nih kalau kita berdua saja di kamar..? kataku mulai memancing.
Ah nggak ada, paling juga bini kamu.., jawabnya.
Akhirnya kami mengobrol dan bernostalgia, kemudian aku tahu kalau dia tidak punya anak dan sudah berpisah dengan suaminya sekitar tiga tahun yang lalu, karena mereka sama-sama mengejar karier, dan suaminya punya affair dengan rekan sekantornya. Untuk menghibur diri dan pelarian, Nana melanjutkan study managemant di Australia, dan sekarang inilah dia, seorang wanita karier dan consultant management yang sedang menanjak.
Aku permisi ke kamar mandi, tanpa sengaja melihat benda aneh di tumpukan handuk setelah kuperhatikan, ternyata sebuah set vibrator dengan berbagai ukuran dan model, pikiranku mulai menebak-nebak dan memaklumi perbuatannya, sebagai seorang wanita normal kebutuhan sex memang perlu, apalagi sudah beberapa tahun tanpa lelaki pendamping. Lagi asyik aku memperhatikan vibrator itu, tiba-tiba pintu diketuk dari luar.
Hend, mandi aja sekalian.. teriak Nana dari luar.
Eh.., anu.. emm.. emang aku ingin mandi kok..! jawabku gugup dan sekenanya.
Segera kubuka pakaianku sambil mengamati peralatan toiletrees miliknya, ternyata kutemukan juga lubricant alias pelumas, mungkin pasangan vibrator pikirku lagi.
Setelah aku selesai mandi, gantian Nana mandi, ternyata dia sudah menyiapkan kimono untukku. Tidak lama kemudian dia selesai mandi dan hanya berbalut handuk di tubuhnya. Nana keluar kamar mandi, takjub aku dibuatnya, tubuhnya begitu mulus dan seksi.
Hend, kamu tadi lihat ini ya..? katanya penuh selidik sambil mempertunjukkan vibratornya.
Eh.., anu.., nggak sengaja kok, maaf ya, sunguh aku nggak sengaja, jangan marah ya.., kataku membela diri takut dia marah karena privacy-nya terganggu.
Nggak apa kok, kita sama-sama dewasa. Selama ini alat inilah yang memuaskan kebutuhanku. katanya tanpa ada nada sungkan, tapi kulihat kepedihan di matanya.
Kupegang tangannya dan kutarik Nana ke pelukanku, dia tidak melawan dan membalas pelukanku, kepalanya disandarkan di bahuku, harum rambutnya membuat birahiku naik.
Hend, temani aku malam ini, Ill do everything for you, demi masa lalu kita, ya, please..! bisiknya meminta dan merajuk.
Tanpa menjawab, kucium keningnya, pipinya dan kulumat bibir manisnya, terasa begitu lembut dan penuh getaran-getaran yang aku sendiri tidak tahu. Jantungku berdegub kencang, aliran darah serasa mencapai ubun-ubun, dan dengan sedikit gemetar tanganku membelai rambutnya.
Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi, berhadapan dengan Nana, kepada siapa aku pertama kali fall in love, membuatku menjadi begitu nervous. Aku hanya berani mencium pipi dan bibirnya saja, tidak ada keberanian untuk lebih jauh, meskipun nafsu sudah meninggi. Ternyata Nana salah pengertian, dia melepaskan pelukanku.
Hend, kalau kamu keberatan temani aku nggak apa kok, aku mengerti dan nggak marah, katanya sambil memandang mataku dengan tajam.
Bukan itu Na, terus terang aku nervous berhadapan sama kamu, mengingat masa lalu cinta yang nggak kesampaian, jelasku.
Nana langsung menerjang ke pelukanku hingga kami berdua terjatuh ke ranjang. Kembali mulut kami memadu kasih, permainan lidah yang sungguh indah karena bukan hanya sekedar nafsu, tapi ada feeling yang tidak terlukiskan.
Sepertinya kami saling melepas rindu yang sudah jauh terpendam. Kugulingkan tubuh kami hingga sekarang aku menindih tubuh Nana, ciumanku langsung mendarat di lehernya yang jenjang, tanganku menarik handuk penutup tubuhnya hingga terlepas, dan ternyata dia sudah tidak memakai pakaian dalam lagi. Kulepas kimono dan celana dalamku, sambil menikmati keindahan tubuh Nana yang sudah telanjang, ternyata jauh lebih indah dan lebih seksi dari imajinasiku.
Badannya yang putih mulus sangat menggoda, buah dadanya yang tidak tampak menonjol di balik jas dan blasernya tadi siang ternyata cukup montok dan kencang, paling tidak 34C. Perutnya rata seperti halnya seorang peragawati, dan yang paling seksi adalah bulu rambut bawahnya dirapihkan hingga membentuk V, pemandangan yang tiada duanya.
Aku kembali naik ke atas tubuhnya, kucium dan kujilati lehernya, terus turun hingga ke belahan buah dadanya, kunaiki bukit itu hingga putingnya yang masih kemerahan. Jilatanku menggoda dan mengundang kegelian pada Nana, dibelainya rambutku.
Ssshh.. sshh.., trus sayang..! Yaa.. he.. emm..! desahnya.
Jilataan dan sedotanku berpindah dari puncak satu ke lainnya, sambil tanganku mengusap bibir vaginanya yang ternyata sudah basah.
Nana menggelinjang, entah sudah berapa lama tidak dicumbu oleh laki-laki, cengkeraman di rambutku makin kencang dan desahannya semakin keras. Lidahku sudah menjelajah ke daerah perut, berlanjut hingga paha. Kupermainkan jilatan di lututnya, membuat dia menggeliat-geliat, kemudian betis, terakhir kukulum jari-jari kakinya kiri dan kanan.
Hend, kamu sungguh romantis.., katanya sambil melihatku menjilati jari kakinya.
Giliran selanjutnya adalah selangkangan, aromanya sungguh merangsang, kujilati dari bibir luar hingga masuk ke dalam.
Aaagghh.., sshh.. hhmm.. yess..! desah Nana ketika kujilat sambil kumasukkan jari tanganku ke vagina dan mengocoknya.
Kumainkan lidahku menjelajahi bibir dan luar vagina, jilatan terus turun hingga ke lubang anus dan kembali lagi ke bibir vagina. Tidak tahan diperlakukan seperti itu lebih lama, Nana memintaku untuk telentang, kemudian dia bersimpuh di antara kakiku.
Ini adalah penis kedua yang kupegang setelah suamiku, jauh lebih besar dari punya dia, dan aku tak pernah malakukan ini. kata Nana langsung menjilati ujung kejantananku.
Sambil mengocok, dimasukkan kepala kejantananku ke mulutnya, tanpa kesulitan yang berarti dia mengulum lebih dari setengah batang 17 cm penisku (mungkin biasa dengan dildo), lalu dikocoknya keluar masuk dengan mulut mungilnya. Takut keterusan, kutarik tubuhnya hingga dia telentang, kemudian kembali kutindih tubuh sexy-nya.
Kali ini kami sama-sama telanjang, bagitu hangat. Kami berciuman lagi, sementara tangan Nana menuntun kejantananku ke vaginanya, disapukan ke seluruh permukaan bibir vagina dan dengan sekali dorong amblaslah kejantananku ke vagina yang pertama kali kuimpikan, masuk semua.
Aaahh.. sshh.. yaa.. oeh.., yaa..! desahnya.
Kubiarkan sesaat, kami berdua sama-sama tidak bergerak, saling menikmati saat-saat indah yang sudah lama kudambakan. Kupandangi wajahnya dengan penuh kasih, sorotan matanya memancarkan kerinduan yang dalam.
Hend, I miss you soo much..! katanya sambil mencium bibirku.
Perlahan kutarik keluar, tapi Nana menahannya, memintaku untuk tetap diam.
Biarkan aku menikmati saat indah ini.., katanya lagi, hingga terasa denyutan ringan dari dalam vaginanya, kuanggap sebagai tanda.
Maka pelan-pelan kutarik keluar, kemudian pelan-pelan pula kudorong masuk lagi.
Ooouugghh.. yess.., Hend.. fuck mee..! desahnya.
Pinggulku makin cepat turun naik, kocokanku bertambah cepat dan keras aku menyodoknya.
Fuck mee..! Pleaassee.., harder.. harder.., yess.. begitu.., teruss..! Nana mulai mengerang.
Berulang kali dia mencium dan mengigit ringan bibirku karena gemas, tangannya mencengkeram tanganku, sementara satunya meremas ujung bantal. Kaki Nana menjepit pinggangku sehingga pinggulnya sedikit terangkat, lebih memudahkan aku untuk mendorong lebih dalam dan lebih cepat. Erangan dan desahan Nana makin keras, sepertinya dia meluapkan rasa dahaganya, pinggulnya ikut bergoyang mengimbangi goyanganku.
Tiba-tiba Nana terdiam, remasan di tanganku makin kencang.
Sayang, aa.. kuke.. ke.., lu.. aarrgghh.., yaa.. yess..! Oh my god.., yess.., Heenn..! teriak Nana ketika kurasakan denyutan berkepanjangan seirama dengan teriakan Nana, kemudian tubuhnya melemas.
Kuhentikan gerakanku untuk memberi dia waktu, tapi sepertinya Nana tidak mau berhenti, pinggulnya kembali bergoyang.
Ayo sayang, keluarkan di dalam, aku sudah lama tidak merasakan semprotan sperma di vaginaku.., pinta Nana mempercepat goyangannya.
Kunaikkan kembali tempo goyanganku dan makin keras, apalagi setelah Nana menaikkan kakinya ke pundakku, kejantananku serasa menyentuh dinding rahimnya. Desahan demi desahan keluar dari mulut Nana, goyangan dan gelinjangan tubuh Nana membuatku tidak dapat bertahan lebih lama, ditambah perasaan kangen yang mendalam sehingga pertahananku runtuh, maka menyemburlah spermaku di vaginanya.
Ooouuhh.., yess.. oohh my god yess, ya Sayang.., terus.., yess.. oh.., I like it.., yess.. oohh.., desahnya ketika semburanku menghantam dinding vaginanya.
Denyut demi denyut mengalir di liang vaginanya, ternyata teriakannya lebih histeris dibandingkan kalau dia sendiri yang orgasme. Dapat dimaklumi, karena vibrator maupun dildo tidak dapat memberikan sensasi denyutan yang seperti itu, dan hal itu mengisi dahaga Nana. Kami berciuman lagi, hingga kejantananku melemas dengan sendirinya.
Thank you Hend.., kamu telah mengisi kedahagaanku, I love you.., katanya sambil kembali menciumku dan kami telentang sambil berpelukan, kepalanya direbahkan di dadaku.
Sesaat kami terdiam mengenang peristiwa indah yang baru terjadi, impian yang menjadi kenyataan setelah lebih dari sepuluh tahun terpendam.
Tamat
Ulang tahun kekasihku
Para pembaca sekalian mungkin telah membaca cerita "CALON ISTRI PAMANKU". Sekarang aku ingin menceritakan kejadian di hari ultahnya Ayu, yang merupakan peristiwa indah. Saat aku menulis cerita ini, aku ditemani Ayu yang ikut menambah kata-kata di cerita ini. Oke deh, kita mulai aja.
Pada suatu hari di kantorku, ketika aku sedang tidak begitu ada kerjaan, tiba-tiba aku teringat kalau 3 hari lagi adalah ultahnya Ayu. Wah, kayaknya perlu diberi kejutan nih selama 2 hari 2 malam di hari jadinya. Di otakku langsung saja terbayang hal-hal yang berbau seksual. Kupikir aku perlu ambil cuti 2 hari nanti, begitu juga Ayu. Lebih baik kutelpon dia sekarang.
"Halo, selamat siang, bisa bicara dengan Ayu"
Tak lama kemudian, "Halo Tono sayang, ada apa nih", Ayu bermanja-manja padaku.
"Enggak ada apa-apa, cuma pengen ngajak kamu keluar makan siang nanti, bisa enggak nih", tanyaku.
"Oh kalau itu sih pasti bisa, kemana nih"
"bagaimana kalau di kantin deket kantor kamu, oke??"
"Oke boss, saya tunggu yah, awas, jangan sampe telat!", sambil ketawa-ketawa.
"Bye" lalu Ayu menutup teleponnya.
Lalu aku pun kembali bekerja, tapi di kepalaku sedang terbayangkan kira-kira apa yang bakal aku belikan buat dia nanti. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 11.35. Wah, aku harus cabut nih, tak boleh telat. Untung boss sedang keluar kantor, jadi aku tak perlu minta ijin dulu.
Akhirnya sampailah aku di kawasan perkantoran di daerah Sudirman. Setelah parkir, buru buru aku pergi ke kantin yang sudah dijanjikan. Kulihat Ayu melambaikan tangannya dari jauh.
"Hai Ton!" Kami lalu mencari tempat makan yang sepi, namanya juga berduaan, mana enak makan di tempat yang rame banget. Setelah memesan makanan dan duduk di pojokan, lalu akupun berkata
"Eh, Yu, di kantor kamu lagi banyak kerjaan nggak"
"Emangnya kenapa" Ayu terlihat penasaran
"kalau enggak sibuk, bagaimana kalau kamu minta cuti sama boss kamu selama 2 hari mulai tgl 12"
"Buat apa Ton, apa kamu sedang merencanakan sesuatu?"
"Sesuatu yang akan membuat kamu tergila-gila"
"Apa tuhh"
"Tunggu aja tanggal mainnya sayang" sambil kucubit lembut pipinya.
Selesai makan, kuantar Ayu ke kantornya, lalu akupun balik ke kantorku dan menyelesaikan pekerjaanku. Kira-kira 2 jam kemudian, Ayu menelepon.
"Halo Ton, saya udah ngomong sama bossa" katanya dengan suara lemas.
"Lalu apa katanya" tanyaku penasaran.
"Saya tidak dapet cuti 2 hari"
"Yah payah boss kamu, Yu. Kalau begitu nanti saya culik kamu pas harinya"
"Nah, kabar baiknya, saya dikasih cuti 3 hari, ha ha ha, kena kamu", Ayu tertawa terbahak-bahak.
"Hey, dasar kurang ajar kamu, dasar setan cantik, ngerjain orang aja bisanya"
"Biarin, daripada kamu setan jelek"
"Yah udah, entar surprisenya kagak jadi deh"
"Jangan ngambek dong sayang, setan cantik khan cuma bercanda"
"Yah udah, 2 hari lagi saya ke tempat kamu abis pulang kerja"
"Oke deh, kutunggu dikau nanti, bye bye sayang"
"Bye bye" "klik", lalu aku menemui bossku untuk minta cuti, dan untungnya dapet juga, mumpung bossku mood-nya lagi bagus hari ini.
Tak terasa, 3 hari pun berlalu. Sepulang kerja, kujemput Ayu di kantornya, lalu kami pergi ke supermarket untuk membeli makanan selama 3 hari, soalnya kami merencanakan untuk tidak kemana-mana selama liburan. Tidak lupa aku membeli madu 1 botol.
"Lho Ton, buat apa beli gituan" Ayu menatapku dengan heran.
"Itu bagian dari surprise tersebut, tunggu aja, yang pasti kamu bakalan merem melek nantinya" kataku mantap.
"Wah, saya jadi penasaran nih sama surprise kamu"
"Just wait 'n see, honey" Selesai belanja lalu kami bergegas menuju apartemen Ayu.
Sesampainya di apartemen, aku langsung menarik Ayu menuju kamar mandi.
"Sabar dong boss, kayak enggak ada hari esok aja" katanya manja.
"Ultah kamu khan hari ini, so pasti memang tidak ada hari esok" kataku sambil melepas bajunya satu persatu.
Setelah ia bugil total, lalu kujilat buah dadanya, mulai dari putingnya ke dasarnya. Kuhisap-hisap putingnya dengan lembut.
"Ooohh Ton, enak sekali, teruss" desah Ayu
Ketika Ayu ingin membuka bajuku, kutahan tangannya.
"Sayang, buka dong, nggak adil nih"
Lalu kulepaskan semua pakaianku sehingga terlihat senjataku mengacung sangat tegak, ketika Ayu ingin meraihnya, kukatakan padanya,
"Say, jangan dulu, hari ini kamu akan menjadi ratu, biarkan daku melayanimu sampai puas"
Setelah itu, lalu kubasahi seluruh badannya, dan kusabun seluruh lekuk tubuhnya, tak lupa buah dadanya kuremas lembut lebih lama. Kuputar-putar putingnya, Ayu hanya bisa mendesah nikmat. Lama juga aku bermain di dadanya, kira-kira ada 15 menit. Setelah itu tanganku mulai turun ke selangkangannya. Kumainkan klitorisnya, Ayu semakin mengerang hebat.
"Toonn, teerruss, teruss, auughh, enak sekali, terruss"
"Ton, masukin dong penis kamu, saya udah gak tahan nihh"
"Oh, yang itu nanti sayang, sabar aja"
"Tapi saya pengen banget nih, oohh"
"Sabar aja, pokoknya hari ini kamu jadi ratuku, Aku bakalan membuat kamu orgasme ratusan kali selama 3 hari ini"
"Saayy, tulang saya bisa copot nih orgy ratusan kali"
"Biarin, salah sendiri punya body seksi sekali"
"Ahh aahh aahh, seesstt, guaa kayaknya pengen nyampe nih sayy" Ayu meracau tak menentu.
Kupercepat gerakan jariku memainkan klitorisnya, sementara jariku yang lain sedang dihisap-hisapnya seolah-olah ia sedang menghisap penisku.
"Aaarrgghh, I'm comminngg, honey, commiingg, commiingg, ohh"
Pinggulnya bergerak maju mundur sementara badannya melengkung kaku ke belakang, sepertinya Ayu sangat menikmatinya.
"Ton, tadi rasanya enak sekali seolah olah kamu lagi meng-onani vagina saya, ohh" Ayu mendesah pelan.
"Oh, itu masih belum apa-apa, nanti masih ada lagi yang lebih hebat sayy " kataku sambil meremas-remas buah dadanya.
"Wah, mati aku deh, bisa bisa nanti kagak bisa kerja"
Kubilas tubuhnya dari busa yg masih melekat, terutama di bagian vaginanya karena banyak sekali cairannya yang mengalir keluar. Setelah tubuh Ayu bersih, lalu akupun mulai menyabuni diriku sendiri. Tapi tanpa kusadari tiba-tiba Ayu memelukku dari belakang dengan kuat lalu satu tangannya menangkap penisku.
"Eh kenapa say, kan saya bilang nanti" sambil aku melawan sedikit.
"Khan hari ini ultahku, kamu mesti nurut sama saya, kalau kamu bisa bikin saya orgy ratusan kali, saya juga mesti sedot sperma kamu sampai habis, baru adil" kata Ayu sambil menyeringai manis.
"Ya udah deh, saya nyerah sama ratuku, tapi bilas dulu dong sabunnya"
Lalu Ayu membersihkan sabun terutama di sekitar penisku, lalu ia mulai mengocok-ngocok dan memainkan penisku, kadang pelan kadang cepat, ia mengocok sambil matanya menatapku dan tersenyum manis sekali.
"Bagaimana sayang, enak khan seperti ini?" Ayu tersenyum manis sekali
"Ohh, aduuh, enak sekali sayang, ohh, uhh, wajah kamu maniss sekali sayangku" kataku sambil menahan rasa nikmat yang tidak terkira.
"Saayy, ganti dong pake mulut kamu"
Lalu dia dekatkan kepalanya, dan dijulurkan lidahnya. Kepala batang kejantananku dijilatinya perlahan, seolah olah sedang menjilati es krim. Lidahnya mengitari kepala senjata meriam aku. Semilyard dollar.. rasanya.. wow.. enak sekali. Aku hanya bisa merem melek menikmatinya sambil bersandar di bath tub. Lalu dikulumnya batang kejantananku. Aku melihat mulutnya sampai penuh rasanya, tetapi belum seluruhnya tenggelam di dalam mulutnya yang mungil. Bibirnya yang tipis terayun keluar masuk saat menghisap maju mundur.
Ayu memasukkan dan mengeluarkan kejantananku dari dalam mulutnya berulang-ulang, naik-turun. Gesekan-gesekan antara kemaluanku dengan dinding mulutnya yang basah membangkitkan kenikmatan tersendiri bagi diriku.
"Auuh.. aahh.." akhirnya aku sudah tidak tahan lagi.
Batang kemaluanku menyemprotkan sperma kental berwarna putih ke dalam mulutnya. Bagai kehausan, Ayu meneguk semua cairan kental tersebut sampai habis.
"Duh, masa baru begitu saja sudah keluar." Ayu meledek aku yang baru bermain oral saja sudah mencapai klimaks.
"Yu.., saya.. udah 3 hari nih.. tidak bercumbu dengan kamu.." jawabku terengah-engah.
"Tapi lumayan banyak juga sperma kamu, kayaknya boleh nih tiap 3 hari saya isep penis kamu, biar saya tambah awet muda" katanya tanpa melepas pegangannya dari penisku.
"Whatever you want, my queen" kataku sambil mencium bibirnya.
Lalu Ayu mulai menyabuni seluruh tubuhku, terutama di sekitar penisku agak lama, sehingga mau tidak mau penisku bangun lagi. Ayu mulai memainkannya lagi. Tapi aku tidak mau keluar lagi, jadi harus kustop dia.
"Eh, Yu, stop dulu, entar saya keluar lagi nih" kataku sambil menahan nikmat.
"Biarin aja, salah sendiri kenapa penis kamu gampang terangsang" katanya sambil tertawa.
Lalu ia melanjutkan menyabuniku, setelah itu ia membilas tubuhku, oh rasanya segar sekali, nikmat sekali rasanya dimandikan oleh pacarku ini, sesekali ia menjilat-jilat kepala penisku, sesekali ia menghisapnya, sambil matanya menatapku, oh manis sekali wajahnya. Selesai itu, aku mengambil handuk mengelap seluruh tubuhku dan tubuhnya, tak lupa aku melakukan gerakan memijat ketika sedang mengelap buah dadanya, ia hanya bisa merem melek sambil mulutnya megap-megap Lalu kutarik dia ke kamarnya, kuambil selimut baru lalu kugelar di atas lantainya. Kulihat Ayu sepertinya penasaran dengan tindakanku ini.
"Lho Ton, ngapain kamu"
"Ini surprisenya, sayang, nah sekarang kamu baring aja di atas selimut, saya ambil madu dulu"
"Wah kayaknya saya bakalan orgy gila-gilaan nih"
"Iya say, tunggu aja" teriakku sambil mengambil madu dari kulkasnya.
Sekembalinya ke kamar, kulihat Ayu masih berbaring, lalu aku duduk di atas pahanya, kubuka botol madu lalu kutuang di atas badannya, kulihat dia terkejut sedikit, mungkin akibat dinginnya madu tersebut, kugosok-gosok madu tersebut di seluruh tubuhnya, terutama di buah dadanya.
"Aaahh.. Ton.. sshhss.." erang si Ayu ketika kuusap-usap permukaan dadanya rata terbungkus madu kecuali putingnya.
"Sshh.. teruss.. Ton ciumin dong.." Dia menggigit bibirnya sendiri.
Wah, ternyata dia suka surprisenya, aku cium putingnya sambil memainkan lidahku melilit-lilit puting merah muda itu, kemudian kugigit manja.
"Aahh.. sshhss.. aku mao keluar Ton.. sshshh bagaimana nih.." erangnya.
Segera kugosokkan madu ke arah paha dalamnya secara perlahan terus sampai mendekati daerah lipatan yang sangat hangat itu.
"Ahh.. sshshs.. Ton.. jilat dong.. udah nggak tahan nih.. ss.." lirihnya.
"Sshh hmm.. kok diam.. please.." rengek Ayu.
"Tunggu ya.." jawabku.
Kemudian segera kujilati lubang kemaluannya sambil mengusap-usap payudaranya, dan mulai kujilati bibir luar vaginanya
"Ahh.. Ton.. terus sshh.. kamu.. di situ.. sshh," erangnya.
Dengan lidah kukait-kait klitorisnya sambil kutelusuri garis bibir vaginanya. Sambil menggoyangkan pinggulnya kiri-kanan Ayu berkata,
"Yess.. di situ.. ahh.. sshs.." katanya ketika mulai kuhisap dan menjilati klitorisnya.
Setelah membesar, aku tusuk-tusukkan lidahku di liang senggamanya tetapi tak kuduga reaksinya.
"Aahh.. shshshsh mmhh ss.. teruss hhmm," Ayu menggelinjang-gelinjang sambil memaju-mundurkan pinggulnya, vaginanya seolah-olah merebut lidahku untuk masuk lebih dalam kerongga nikmat itu, sementara batang kemaluanku sudah merah padam dari tadi ingin segera menggantikan lidahku.
"Ahh.. teruuss.. teruuss.. lebih cepaat.. ssh.." gelinjang Ayu semakin cepat.
"Shshss.. aku hampiirr.. shshh.. mmyamyam memem.. ss," suaranya semakin kacau.
Pantatnya semakin cepat mengocok lidahku, sehingga selimut di lantai itu berantakan. Ketika gerakan lubang kemaluannya makin rutin, segera kuhentikan dan kutarik lidahku, terlihat alis si Ayu mengkerut seperti sedang bertanya-tanya, sementara dadanya masih naik-turun dengan cepat. Tanpa menunggu lebih lama lagi, secepatnya kuposisikan kepala penisku ke lubang hangat dan basah itu.
"Ahh.. sshsh mm.." erang manja si Ayu. Memang penisku tidak terlalu besar, hanya kepalanya agak besar dan melengkung ke atas seperti terompet tapi panjang.
Badan Ayu menjadi kaku seakan menantikan sesuatu
"Rileks sayang.. sebentar kita lanjutkan perasaanmu," bisikku.
Kemudian kudorong perlahan kepala penisku. Setelah kepala penisku masuk, secara bertahap kudorong batangku agak dalam, kutarik lagi sedikit, dorong lebih dalam, tarik sedikit, sampai.. "Bluess.. duk.." kiranya sudah mentok kebentur ujung rahimnya, padahal belum semuanya masuk lho. Terasa di tangan kiriku kira-kira masih tiga lebar jariku tapi efeknya
"Ssshh.. mmhh.. aahh.. auh!" jerit tertahan Ayu.
Kurasakan agak banjir di dalam sana dan jepitan di sepanjang kepala penis sampai hampir seluruh batangku itu makin erat.
"Ahh.. ssh shshss.." aku coba konsentrasi karena vagina yang nikmat dan sangat sempit ini mencoba menarik semua spermaku sehingga kepala penisku membesar dan berdenyut-denyut menahan kenikmatan yang nyaris memancar.
Kemudian aku coba goyang secara perlahan, makin lama makin cepat. Kupraktekkan rumus ini-itu sambil membuatnya menikmati setiap gesekan penisku serta mengalihkan pikiranku untuk melupakan nikmatnya lubang kemaluan Ayu, sempitnya vaginanya. Tubuhnya yang sempurna, payudaranya yang ranum dan kencang yang tertekan dadaku.
"Ouch.. sshh.. hemm.." sulit rasanya menghadapi kenyataan nikmat ini, apalagi setelah puncak kenikmatannya yang tertunda itu kembali melanda Ayu, ini terbukti dengan goyangan pinggul dan pantatnya berputar dan sekarang maju-mundur, menentang setiap gerakanku yang semakin cepat tusuk dan tarik.
"Aahh.."
Kucium dan kulumat bibirnya, kulilit lidahnya, kulihat dia tidak bisa menahan kenikmatan yang melanda itu, sehingga Ayu pun membalas ciumanku dengan ganasnya. Geregetan, rangsangan, kenikmatan, itu yang mungkin ada di pikirannya.
Setelah hampir setengah jam kami goyang (kurasa Ayu sudah mau orgasme) dan akhirnya vaginanya mulai menjepit dan mengurut penisku cepat sekali. Dengan nafasnya yang memburu dan gerakan pinggulnya,
"Aaahh.. aku.. keluar.. sshhmm.. aku keluar sayang.. sshs hh shsh,"
Ayu mulai meracau tidak karuan sambil kakinya melingkari pinggangku dan menekan pantatku keras seakan-akan dia sanggup menelan penis panjangku sehingga kurasa bahwa setiap kutusuk vaginanya terasa ada benturan dan terus memutar di ujung dalam kenikmatannya.
"Sshshs aasshh.. enak sekali.. sshh.. aduhh.. sshshsh.." jerit tertahan Ayu.
Aku pun semakin mempercepat gerakanku, aku goyang dan memaju-mundurkan agak kasar liang vagina sempit ini,
"Duk..bluess.. duuk.. bluess.." kulihat pangkal penisku agaknya nyaris semuanya masuk,
"Sssh shh shh.. teruss.. Ton.. sshh,"
"Aku puas.. sshh hmm.. Ton.. cepat.. sshh," lanjutnya.
"Tubuhmu seksi.. dan sempurna.. sayang..apa boleh.." aku berbicara ngos-ngosan.
"Di.. dalam.. saja.. shsh shh mmhh.." Ayu memotong sambil menaikkan pinggulnya sambil menekan pantatku serta membenamkan seluruh penisku seluruhnya
"Aaahh.. ssmmhh hhmm.."
Kurasakan vaginanya berdenyut-denyut keras membuat suara becek goyangan kami yang makin keras.
Aku sudah tidak kuat lagi, ilmuku seakan hilang, kesadaranku melayang. Kemudian sambil melenguh kutarik pinggulnya lengket ke pangkal penisku dan kujilat serta kugigit putingnya, kulepas semua spermaku,
"Aaahh.. sshh.."
"Crot.. crot.. crot.." Hampir enam atau delapan kali semprotan maniku melesat ke dalam rahimnya.
"Aaahh ss mm.. hmm.. enak.. hangat.." Ayu mengerang-erang, sambil terus menggoyangkan pinggulnya berputar-putar.
Dalam keheningan nikmat, kubiarkan penisku di dalam vaginanya yang masih terasa sempit, kucium lembut bibirnya dan Ayu pun membalas manja, kemudian kutatap matanya sambil tersenyum. Sambil bersikap manja Ayu memeluk diriku serta menggigit hisap leherku. Wah.. merah nih jadinya.
Aku kemudian mengangkat tubuhnya dan mengajaknya ke balkon untuk cari angin.
"Mau ngapain di balkon Ton?", tanya Ayu terheran-heran.
"Aku pengen menutup surprise-ku dengan mandi'in kamu", kataku lagi.
"bagaimana mandi'innya?, tanya Ayu tambah heran tapi nurut saja ketika kurebahkan tubuhnya di atas kursi panjang tanpa senderan di balkon yang sepi itu. Tanpa menunggu lama, segera kuakhiri surpriseku dengan mandi kucing, yaitu dengan menjilat-jilat lembut seluruh permukaan tubuhnya yang bermandi peluh bercampur madu dan berkilat terkena sinar rembulan yang membuatnya makin indah dengan posisinya yang menelentang pasrah itu. Ayu senang sekali dengan perlakuanku itu, dan sambil mendesah kenikmatan dia berkata,
"Ton, kalau bisa kamu sering-sering nginap di sini, saya suka dijilati seperti ini."
Kira kira ada 10 menit aku menjilatnya, lalu kugendong dia ke kamar mandi, dan kami pun saling membersihkan badan, saling menggosok satu sama lain. Setelah selesai, kami pun masuk ke kamarnya, karena sudah lelah sekali kami tidur nyenyak sambil berpelukan dalam keadaan bugil.
Keesokan paginya, antara sadar dan tidak, aku merasa seperti ada sesuatu yang aneh pada diriku. Ketika kubuka mataku, eh, ternyata Ayu sudah bangun, dan lebih kaget lagi kulihat Ayu sedang menghisap-hisap penisku. Melihatku sudah bangun, Ayu berhenti sejenak dan tersenyum.
"Selamat pagi kekasihku, bagaimana tidurnya" tanya Ayu manja sambil tangannya tetap mengocok penisku.
"Wah enak banget, tapi kok kamu curang sih, saya khan nggak ngerasain isepan kamu waktu tidur" kataku sambil mengusap-usap buah dadanya.
"Abis kamu tidurnya lelap sekali, saya kagak tega bangunin kamu, tapi siapa tahu kamu mimpi lagi diisepin ha ha ha" ia tertawa sambil terus mengocok penisku.
"Eh Ton, kok waktu kamu tidur, saya ngocokin kamu kok penis kamu bisa bangun sih"
"Ya bisa lah yaw, namanya juga penis orang, emangnya penis plastik, bisa aja kamu, tapi terusin dong pake mulut kamu, Yu"
"Oooke boss, tapi kalau kamu mau keluar, bilang yah"
"Lho, emangnya kenapa?" tanyaku heran.
"saya mau pake sperma kamu buat olesin muka dan dada saya, biar kulit saya tambah kencang"
Lalu Ayu kembali mengkaraoke penisku, oh, rasanya nikmat sekali, sesekali ia menatapku sambil tersenyum manis. Mulutnya bergerak maju mundur, sambil lidahnya menggelitik lubang kencingku, rasanya geli-geli nikmat. Tak lama kemudian, aku merasa akan keluar lagi.
"Yu, saya mau keluar lagi, ohh aduuh" kataku sambil menahan gemuruh di dadaku.
Langsung ia mengganti tangannya untuk mengocokku, dan akhirnya, "Aduuh ohh, Yu terruuss, enaakk"
Penisku akhirnya memuntahkan sperma, tapi tidak sebanyak kemarin, dan Ayu langsung mengarahkan dadanya ke penisku, sehingga dadanya terkena muncratan spermaku, langsung dia oleskan ke seluruh permukaan dadanya.
"Yaahh Ton, kok dikit banget sayang, muka saya kagak dapet nih" Ayu sedikit merenggut.
"Abis tiap hari bercumbu terus sih, ya udah sayang, mumpung penis saya masih tegak, sekarang kamu nunggangin saya aja, khan kamu dapet enaknya juga"
"Nah begitu dong Ton, itu baru namanya pacar saya" Ayu tersenyum lagi.
Lalu ia duduk di atas pahaku sambil mengarahkan penisku ke lubang vaginanya. Perlahan tapi pasti, penisku mulai memasuki lubang kenikmatannya. Aku sendiri heran juga kenapa hari ini penisku perkasa banget, tapi aku tidak memikirkannya lagi, yang penting enaknya, bung. Ayu sendiri mulai bergoyang-goyang sambil meracau tak menentu, seolah olah sedang menunggang kuda, sementara aku meremas remas dadanya yang bergerak naik turun. Lumayan lama juga aku bertahan, kira kira ada satu jam, sementara kulihat Ayu sepertinya sudah orgasme 2 kali, tapi kulihat Ayu tidak berhenti juga, mungkin dipikirnya kapan lagi bisa dapat kesempatan seperti ini. Tak lama kemudian, setelah Ayu orgasme ketiga kalinya, barulah aku mulai merasakan akan orgasme.
"Yu, bangun sayang, saya udah mau keluar nih"
Langsung Ayu bangun dan mendekatkan mukanya ke penisku sambil tangannya mengocokku. Dan akhirnya,
"Aaarrgghh, aduuh, haahh" aku ngos-ngosan menahan nikmat.
Akhirnya penisku menyemprotkan spermanya ke wajahnya, lalu ia menggosoknya ke seluruh wajahnya sampai rata.
"Terima kasih sayang, saya puas banget hari ini, saya tidak menyangka bisa orgy sampe 3 kali, kamu perkasa sekali" kata Ayu sambil berbaring memelukku.
"Abis bodi kamu seksi banget sih, terutama dada kamu, apalagi pas lagi nunggang saya, kelihatannya seperti dewi dari langit yang lagi goyangin saya."
"ah ah, bisa aja kamu" kata Ayu sambil mencubit hidungku.
Tanpa terasa, kami tertidur lagi sambil berpelukan, mungkin saking lelahnya bersenggama tanpa henti.
Begitulah seterusnya, setiap ada waktu kosong aku dan Ayu langsung main lagi, seolah-olah nafsu kami tidak pernah terpuaskan. Selama 3 hari yang kami lakukan hanya makan, main, tidur. Selama 3 hari itu pula kami seperti Tarzan dan Jane, bugil terus. Rasanya anda para pembaca bisa membayangkannya sendiri bagaimana nikmatnya hidup seperti itu. Tapi yang paling penting bagiku adalah cintaku padanya dan cintanya padaku, walaupun aku masih belum tahu sampai kapan kami bisa hidup bersama.
Tamat
Pada suatu hari di kantorku, ketika aku sedang tidak begitu ada kerjaan, tiba-tiba aku teringat kalau 3 hari lagi adalah ultahnya Ayu. Wah, kayaknya perlu diberi kejutan nih selama 2 hari 2 malam di hari jadinya. Di otakku langsung saja terbayang hal-hal yang berbau seksual. Kupikir aku perlu ambil cuti 2 hari nanti, begitu juga Ayu. Lebih baik kutelpon dia sekarang.
"Halo, selamat siang, bisa bicara dengan Ayu"
Tak lama kemudian, "Halo Tono sayang, ada apa nih", Ayu bermanja-manja padaku.
"Enggak ada apa-apa, cuma pengen ngajak kamu keluar makan siang nanti, bisa enggak nih", tanyaku.
"Oh kalau itu sih pasti bisa, kemana nih"
"bagaimana kalau di kantin deket kantor kamu, oke??"
"Oke boss, saya tunggu yah, awas, jangan sampe telat!", sambil ketawa-ketawa.
"Bye" lalu Ayu menutup teleponnya.
Lalu aku pun kembali bekerja, tapi di kepalaku sedang terbayangkan kira-kira apa yang bakal aku belikan buat dia nanti. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 11.35. Wah, aku harus cabut nih, tak boleh telat. Untung boss sedang keluar kantor, jadi aku tak perlu minta ijin dulu.
Akhirnya sampailah aku di kawasan perkantoran di daerah Sudirman. Setelah parkir, buru buru aku pergi ke kantin yang sudah dijanjikan. Kulihat Ayu melambaikan tangannya dari jauh.
"Hai Ton!" Kami lalu mencari tempat makan yang sepi, namanya juga berduaan, mana enak makan di tempat yang rame banget. Setelah memesan makanan dan duduk di pojokan, lalu akupun berkata
"Eh, Yu, di kantor kamu lagi banyak kerjaan nggak"
"Emangnya kenapa" Ayu terlihat penasaran
"kalau enggak sibuk, bagaimana kalau kamu minta cuti sama boss kamu selama 2 hari mulai tgl 12"
"Buat apa Ton, apa kamu sedang merencanakan sesuatu?"
"Sesuatu yang akan membuat kamu tergila-gila"
"Apa tuhh"
"Tunggu aja tanggal mainnya sayang" sambil kucubit lembut pipinya.
Selesai makan, kuantar Ayu ke kantornya, lalu akupun balik ke kantorku dan menyelesaikan pekerjaanku. Kira-kira 2 jam kemudian, Ayu menelepon.
"Halo Ton, saya udah ngomong sama bossa" katanya dengan suara lemas.
"Lalu apa katanya" tanyaku penasaran.
"Saya tidak dapet cuti 2 hari"
"Yah payah boss kamu, Yu. Kalau begitu nanti saya culik kamu pas harinya"
"Nah, kabar baiknya, saya dikasih cuti 3 hari, ha ha ha, kena kamu", Ayu tertawa terbahak-bahak.
"Hey, dasar kurang ajar kamu, dasar setan cantik, ngerjain orang aja bisanya"
"Biarin, daripada kamu setan jelek"
"Yah udah, entar surprisenya kagak jadi deh"
"Jangan ngambek dong sayang, setan cantik khan cuma bercanda"
"Yah udah, 2 hari lagi saya ke tempat kamu abis pulang kerja"
"Oke deh, kutunggu dikau nanti, bye bye sayang"
"Bye bye" "klik", lalu aku menemui bossku untuk minta cuti, dan untungnya dapet juga, mumpung bossku mood-nya lagi bagus hari ini.
Tak terasa, 3 hari pun berlalu. Sepulang kerja, kujemput Ayu di kantornya, lalu kami pergi ke supermarket untuk membeli makanan selama 3 hari, soalnya kami merencanakan untuk tidak kemana-mana selama liburan. Tidak lupa aku membeli madu 1 botol.
"Lho Ton, buat apa beli gituan" Ayu menatapku dengan heran.
"Itu bagian dari surprise tersebut, tunggu aja, yang pasti kamu bakalan merem melek nantinya" kataku mantap.
"Wah, saya jadi penasaran nih sama surprise kamu"
"Just wait 'n see, honey" Selesai belanja lalu kami bergegas menuju apartemen Ayu.
Sesampainya di apartemen, aku langsung menarik Ayu menuju kamar mandi.
"Sabar dong boss, kayak enggak ada hari esok aja" katanya manja.
"Ultah kamu khan hari ini, so pasti memang tidak ada hari esok" kataku sambil melepas bajunya satu persatu.
Setelah ia bugil total, lalu kujilat buah dadanya, mulai dari putingnya ke dasarnya. Kuhisap-hisap putingnya dengan lembut.
"Ooohh Ton, enak sekali, teruss" desah Ayu
Ketika Ayu ingin membuka bajuku, kutahan tangannya.
"Sayang, buka dong, nggak adil nih"
Lalu kulepaskan semua pakaianku sehingga terlihat senjataku mengacung sangat tegak, ketika Ayu ingin meraihnya, kukatakan padanya,
"Say, jangan dulu, hari ini kamu akan menjadi ratu, biarkan daku melayanimu sampai puas"
Setelah itu, lalu kubasahi seluruh badannya, dan kusabun seluruh lekuk tubuhnya, tak lupa buah dadanya kuremas lembut lebih lama. Kuputar-putar putingnya, Ayu hanya bisa mendesah nikmat. Lama juga aku bermain di dadanya, kira-kira ada 15 menit. Setelah itu tanganku mulai turun ke selangkangannya. Kumainkan klitorisnya, Ayu semakin mengerang hebat.
"Toonn, teerruss, teruss, auughh, enak sekali, terruss"
"Ton, masukin dong penis kamu, saya udah gak tahan nihh"
"Oh, yang itu nanti sayang, sabar aja"
"Tapi saya pengen banget nih, oohh"
"Sabar aja, pokoknya hari ini kamu jadi ratuku, Aku bakalan membuat kamu orgasme ratusan kali selama 3 hari ini"
"Saayy, tulang saya bisa copot nih orgy ratusan kali"
"Biarin, salah sendiri punya body seksi sekali"
"Ahh aahh aahh, seesstt, guaa kayaknya pengen nyampe nih sayy" Ayu meracau tak menentu.
Kupercepat gerakan jariku memainkan klitorisnya, sementara jariku yang lain sedang dihisap-hisapnya seolah-olah ia sedang menghisap penisku.
"Aaarrgghh, I'm comminngg, honey, commiingg, commiingg, ohh"
Pinggulnya bergerak maju mundur sementara badannya melengkung kaku ke belakang, sepertinya Ayu sangat menikmatinya.
"Ton, tadi rasanya enak sekali seolah olah kamu lagi meng-onani vagina saya, ohh" Ayu mendesah pelan.
"Oh, itu masih belum apa-apa, nanti masih ada lagi yang lebih hebat sayy " kataku sambil meremas-remas buah dadanya.
"Wah, mati aku deh, bisa bisa nanti kagak bisa kerja"
Kubilas tubuhnya dari busa yg masih melekat, terutama di bagian vaginanya karena banyak sekali cairannya yang mengalir keluar. Setelah tubuh Ayu bersih, lalu akupun mulai menyabuni diriku sendiri. Tapi tanpa kusadari tiba-tiba Ayu memelukku dari belakang dengan kuat lalu satu tangannya menangkap penisku.
"Eh kenapa say, kan saya bilang nanti" sambil aku melawan sedikit.
"Khan hari ini ultahku, kamu mesti nurut sama saya, kalau kamu bisa bikin saya orgy ratusan kali, saya juga mesti sedot sperma kamu sampai habis, baru adil" kata Ayu sambil menyeringai manis.
"Ya udah deh, saya nyerah sama ratuku, tapi bilas dulu dong sabunnya"
Lalu Ayu membersihkan sabun terutama di sekitar penisku, lalu ia mulai mengocok-ngocok dan memainkan penisku, kadang pelan kadang cepat, ia mengocok sambil matanya menatapku dan tersenyum manis sekali.
"Bagaimana sayang, enak khan seperti ini?" Ayu tersenyum manis sekali
"Ohh, aduuh, enak sekali sayang, ohh, uhh, wajah kamu maniss sekali sayangku" kataku sambil menahan rasa nikmat yang tidak terkira.
"Saayy, ganti dong pake mulut kamu"
Lalu dia dekatkan kepalanya, dan dijulurkan lidahnya. Kepala batang kejantananku dijilatinya perlahan, seolah olah sedang menjilati es krim. Lidahnya mengitari kepala senjata meriam aku. Semilyard dollar.. rasanya.. wow.. enak sekali. Aku hanya bisa merem melek menikmatinya sambil bersandar di bath tub. Lalu dikulumnya batang kejantananku. Aku melihat mulutnya sampai penuh rasanya, tetapi belum seluruhnya tenggelam di dalam mulutnya yang mungil. Bibirnya yang tipis terayun keluar masuk saat menghisap maju mundur.
Ayu memasukkan dan mengeluarkan kejantananku dari dalam mulutnya berulang-ulang, naik-turun. Gesekan-gesekan antara kemaluanku dengan dinding mulutnya yang basah membangkitkan kenikmatan tersendiri bagi diriku.
"Auuh.. aahh.." akhirnya aku sudah tidak tahan lagi.
Batang kemaluanku menyemprotkan sperma kental berwarna putih ke dalam mulutnya. Bagai kehausan, Ayu meneguk semua cairan kental tersebut sampai habis.
"Duh, masa baru begitu saja sudah keluar." Ayu meledek aku yang baru bermain oral saja sudah mencapai klimaks.
"Yu.., saya.. udah 3 hari nih.. tidak bercumbu dengan kamu.." jawabku terengah-engah.
"Tapi lumayan banyak juga sperma kamu, kayaknya boleh nih tiap 3 hari saya isep penis kamu, biar saya tambah awet muda" katanya tanpa melepas pegangannya dari penisku.
"Whatever you want, my queen" kataku sambil mencium bibirnya.
Lalu Ayu mulai menyabuni seluruh tubuhku, terutama di sekitar penisku agak lama, sehingga mau tidak mau penisku bangun lagi. Ayu mulai memainkannya lagi. Tapi aku tidak mau keluar lagi, jadi harus kustop dia.
"Eh, Yu, stop dulu, entar saya keluar lagi nih" kataku sambil menahan nikmat.
"Biarin aja, salah sendiri kenapa penis kamu gampang terangsang" katanya sambil tertawa.
Lalu ia melanjutkan menyabuniku, setelah itu ia membilas tubuhku, oh rasanya segar sekali, nikmat sekali rasanya dimandikan oleh pacarku ini, sesekali ia menjilat-jilat kepala penisku, sesekali ia menghisapnya, sambil matanya menatapku, oh manis sekali wajahnya. Selesai itu, aku mengambil handuk mengelap seluruh tubuhku dan tubuhnya, tak lupa aku melakukan gerakan memijat ketika sedang mengelap buah dadanya, ia hanya bisa merem melek sambil mulutnya megap-megap Lalu kutarik dia ke kamarnya, kuambil selimut baru lalu kugelar di atas lantainya. Kulihat Ayu sepertinya penasaran dengan tindakanku ini.
"Lho Ton, ngapain kamu"
"Ini surprisenya, sayang, nah sekarang kamu baring aja di atas selimut, saya ambil madu dulu"
"Wah kayaknya saya bakalan orgy gila-gilaan nih"
"Iya say, tunggu aja" teriakku sambil mengambil madu dari kulkasnya.
Sekembalinya ke kamar, kulihat Ayu masih berbaring, lalu aku duduk di atas pahanya, kubuka botol madu lalu kutuang di atas badannya, kulihat dia terkejut sedikit, mungkin akibat dinginnya madu tersebut, kugosok-gosok madu tersebut di seluruh tubuhnya, terutama di buah dadanya.
"Aaahh.. Ton.. sshhss.." erang si Ayu ketika kuusap-usap permukaan dadanya rata terbungkus madu kecuali putingnya.
"Sshh.. teruss.. Ton ciumin dong.." Dia menggigit bibirnya sendiri.
Wah, ternyata dia suka surprisenya, aku cium putingnya sambil memainkan lidahku melilit-lilit puting merah muda itu, kemudian kugigit manja.
"Aahh.. sshhss.. aku mao keluar Ton.. sshshh bagaimana nih.." erangnya.
Segera kugosokkan madu ke arah paha dalamnya secara perlahan terus sampai mendekati daerah lipatan yang sangat hangat itu.
"Ahh.. sshshs.. Ton.. jilat dong.. udah nggak tahan nih.. ss.." lirihnya.
"Sshh hmm.. kok diam.. please.." rengek Ayu.
"Tunggu ya.." jawabku.
Kemudian segera kujilati lubang kemaluannya sambil mengusap-usap payudaranya, dan mulai kujilati bibir luar vaginanya
"Ahh.. Ton.. terus sshh.. kamu.. di situ.. sshh," erangnya.
Dengan lidah kukait-kait klitorisnya sambil kutelusuri garis bibir vaginanya. Sambil menggoyangkan pinggulnya kiri-kanan Ayu berkata,
"Yess.. di situ.. ahh.. sshs.." katanya ketika mulai kuhisap dan menjilati klitorisnya.
Setelah membesar, aku tusuk-tusukkan lidahku di liang senggamanya tetapi tak kuduga reaksinya.
"Aahh.. shshshsh mmhh ss.. teruss hhmm," Ayu menggelinjang-gelinjang sambil memaju-mundurkan pinggulnya, vaginanya seolah-olah merebut lidahku untuk masuk lebih dalam kerongga nikmat itu, sementara batang kemaluanku sudah merah padam dari tadi ingin segera menggantikan lidahku.
"Ahh.. teruuss.. teruuss.. lebih cepaat.. ssh.." gelinjang Ayu semakin cepat.
"Shshss.. aku hampiirr.. shshh.. mmyamyam memem.. ss," suaranya semakin kacau.
Pantatnya semakin cepat mengocok lidahku, sehingga selimut di lantai itu berantakan. Ketika gerakan lubang kemaluannya makin rutin, segera kuhentikan dan kutarik lidahku, terlihat alis si Ayu mengkerut seperti sedang bertanya-tanya, sementara dadanya masih naik-turun dengan cepat. Tanpa menunggu lebih lama lagi, secepatnya kuposisikan kepala penisku ke lubang hangat dan basah itu.
"Ahh.. sshsh mm.." erang manja si Ayu. Memang penisku tidak terlalu besar, hanya kepalanya agak besar dan melengkung ke atas seperti terompet tapi panjang.
Badan Ayu menjadi kaku seakan menantikan sesuatu
"Rileks sayang.. sebentar kita lanjutkan perasaanmu," bisikku.
Kemudian kudorong perlahan kepala penisku. Setelah kepala penisku masuk, secara bertahap kudorong batangku agak dalam, kutarik lagi sedikit, dorong lebih dalam, tarik sedikit, sampai.. "Bluess.. duk.." kiranya sudah mentok kebentur ujung rahimnya, padahal belum semuanya masuk lho. Terasa di tangan kiriku kira-kira masih tiga lebar jariku tapi efeknya
"Ssshh.. mmhh.. aahh.. auh!" jerit tertahan Ayu.
Kurasakan agak banjir di dalam sana dan jepitan di sepanjang kepala penis sampai hampir seluruh batangku itu makin erat.
"Ahh.. ssh shshss.." aku coba konsentrasi karena vagina yang nikmat dan sangat sempit ini mencoba menarik semua spermaku sehingga kepala penisku membesar dan berdenyut-denyut menahan kenikmatan yang nyaris memancar.
Kemudian aku coba goyang secara perlahan, makin lama makin cepat. Kupraktekkan rumus ini-itu sambil membuatnya menikmati setiap gesekan penisku serta mengalihkan pikiranku untuk melupakan nikmatnya lubang kemaluan Ayu, sempitnya vaginanya. Tubuhnya yang sempurna, payudaranya yang ranum dan kencang yang tertekan dadaku.
"Ouch.. sshh.. hemm.." sulit rasanya menghadapi kenyataan nikmat ini, apalagi setelah puncak kenikmatannya yang tertunda itu kembali melanda Ayu, ini terbukti dengan goyangan pinggul dan pantatnya berputar dan sekarang maju-mundur, menentang setiap gerakanku yang semakin cepat tusuk dan tarik.
"Aahh.."
Kucium dan kulumat bibirnya, kulilit lidahnya, kulihat dia tidak bisa menahan kenikmatan yang melanda itu, sehingga Ayu pun membalas ciumanku dengan ganasnya. Geregetan, rangsangan, kenikmatan, itu yang mungkin ada di pikirannya.
Setelah hampir setengah jam kami goyang (kurasa Ayu sudah mau orgasme) dan akhirnya vaginanya mulai menjepit dan mengurut penisku cepat sekali. Dengan nafasnya yang memburu dan gerakan pinggulnya,
"Aaahh.. aku.. keluar.. sshhmm.. aku keluar sayang.. sshs hh shsh,"
Ayu mulai meracau tidak karuan sambil kakinya melingkari pinggangku dan menekan pantatku keras seakan-akan dia sanggup menelan penis panjangku sehingga kurasa bahwa setiap kutusuk vaginanya terasa ada benturan dan terus memutar di ujung dalam kenikmatannya.
"Sshshs aasshh.. enak sekali.. sshh.. aduhh.. sshshsh.." jerit tertahan Ayu.
Aku pun semakin mempercepat gerakanku, aku goyang dan memaju-mundurkan agak kasar liang vagina sempit ini,
"Duk..bluess.. duuk.. bluess.." kulihat pangkal penisku agaknya nyaris semuanya masuk,
"Sssh shh shh.. teruss.. Ton.. sshh,"
"Aku puas.. sshh hmm.. Ton.. cepat.. sshh," lanjutnya.
"Tubuhmu seksi.. dan sempurna.. sayang..apa boleh.." aku berbicara ngos-ngosan.
"Di.. dalam.. saja.. shsh shh mmhh.." Ayu memotong sambil menaikkan pinggulnya sambil menekan pantatku serta membenamkan seluruh penisku seluruhnya
"Aaahh.. ssmmhh hhmm.."
Kurasakan vaginanya berdenyut-denyut keras membuat suara becek goyangan kami yang makin keras.
Aku sudah tidak kuat lagi, ilmuku seakan hilang, kesadaranku melayang. Kemudian sambil melenguh kutarik pinggulnya lengket ke pangkal penisku dan kujilat serta kugigit putingnya, kulepas semua spermaku,
"Aaahh.. sshh.."
"Crot.. crot.. crot.." Hampir enam atau delapan kali semprotan maniku melesat ke dalam rahimnya.
"Aaahh ss mm.. hmm.. enak.. hangat.." Ayu mengerang-erang, sambil terus menggoyangkan pinggulnya berputar-putar.
Dalam keheningan nikmat, kubiarkan penisku di dalam vaginanya yang masih terasa sempit, kucium lembut bibirnya dan Ayu pun membalas manja, kemudian kutatap matanya sambil tersenyum. Sambil bersikap manja Ayu memeluk diriku serta menggigit hisap leherku. Wah.. merah nih jadinya.
Aku kemudian mengangkat tubuhnya dan mengajaknya ke balkon untuk cari angin.
"Mau ngapain di balkon Ton?", tanya Ayu terheran-heran.
"Aku pengen menutup surprise-ku dengan mandi'in kamu", kataku lagi.
"bagaimana mandi'innya?, tanya Ayu tambah heran tapi nurut saja ketika kurebahkan tubuhnya di atas kursi panjang tanpa senderan di balkon yang sepi itu. Tanpa menunggu lama, segera kuakhiri surpriseku dengan mandi kucing, yaitu dengan menjilat-jilat lembut seluruh permukaan tubuhnya yang bermandi peluh bercampur madu dan berkilat terkena sinar rembulan yang membuatnya makin indah dengan posisinya yang menelentang pasrah itu. Ayu senang sekali dengan perlakuanku itu, dan sambil mendesah kenikmatan dia berkata,
"Ton, kalau bisa kamu sering-sering nginap di sini, saya suka dijilati seperti ini."
Kira kira ada 10 menit aku menjilatnya, lalu kugendong dia ke kamar mandi, dan kami pun saling membersihkan badan, saling menggosok satu sama lain. Setelah selesai, kami pun masuk ke kamarnya, karena sudah lelah sekali kami tidur nyenyak sambil berpelukan dalam keadaan bugil.
Keesokan paginya, antara sadar dan tidak, aku merasa seperti ada sesuatu yang aneh pada diriku. Ketika kubuka mataku, eh, ternyata Ayu sudah bangun, dan lebih kaget lagi kulihat Ayu sedang menghisap-hisap penisku. Melihatku sudah bangun, Ayu berhenti sejenak dan tersenyum.
"Selamat pagi kekasihku, bagaimana tidurnya" tanya Ayu manja sambil tangannya tetap mengocok penisku.
"Wah enak banget, tapi kok kamu curang sih, saya khan nggak ngerasain isepan kamu waktu tidur" kataku sambil mengusap-usap buah dadanya.
"Abis kamu tidurnya lelap sekali, saya kagak tega bangunin kamu, tapi siapa tahu kamu mimpi lagi diisepin ha ha ha" ia tertawa sambil terus mengocok penisku.
"Eh Ton, kok waktu kamu tidur, saya ngocokin kamu kok penis kamu bisa bangun sih"
"Ya bisa lah yaw, namanya juga penis orang, emangnya penis plastik, bisa aja kamu, tapi terusin dong pake mulut kamu, Yu"
"Oooke boss, tapi kalau kamu mau keluar, bilang yah"
"Lho, emangnya kenapa?" tanyaku heran.
"saya mau pake sperma kamu buat olesin muka dan dada saya, biar kulit saya tambah kencang"
Lalu Ayu kembali mengkaraoke penisku, oh, rasanya nikmat sekali, sesekali ia menatapku sambil tersenyum manis. Mulutnya bergerak maju mundur, sambil lidahnya menggelitik lubang kencingku, rasanya geli-geli nikmat. Tak lama kemudian, aku merasa akan keluar lagi.
"Yu, saya mau keluar lagi, ohh aduuh" kataku sambil menahan gemuruh di dadaku.
Langsung ia mengganti tangannya untuk mengocokku, dan akhirnya, "Aduuh ohh, Yu terruuss, enaakk"
Penisku akhirnya memuntahkan sperma, tapi tidak sebanyak kemarin, dan Ayu langsung mengarahkan dadanya ke penisku, sehingga dadanya terkena muncratan spermaku, langsung dia oleskan ke seluruh permukaan dadanya.
"Yaahh Ton, kok dikit banget sayang, muka saya kagak dapet nih" Ayu sedikit merenggut.
"Abis tiap hari bercumbu terus sih, ya udah sayang, mumpung penis saya masih tegak, sekarang kamu nunggangin saya aja, khan kamu dapet enaknya juga"
"Nah begitu dong Ton, itu baru namanya pacar saya" Ayu tersenyum lagi.
Lalu ia duduk di atas pahaku sambil mengarahkan penisku ke lubang vaginanya. Perlahan tapi pasti, penisku mulai memasuki lubang kenikmatannya. Aku sendiri heran juga kenapa hari ini penisku perkasa banget, tapi aku tidak memikirkannya lagi, yang penting enaknya, bung. Ayu sendiri mulai bergoyang-goyang sambil meracau tak menentu, seolah olah sedang menunggang kuda, sementara aku meremas remas dadanya yang bergerak naik turun. Lumayan lama juga aku bertahan, kira kira ada satu jam, sementara kulihat Ayu sepertinya sudah orgasme 2 kali, tapi kulihat Ayu tidak berhenti juga, mungkin dipikirnya kapan lagi bisa dapat kesempatan seperti ini. Tak lama kemudian, setelah Ayu orgasme ketiga kalinya, barulah aku mulai merasakan akan orgasme.
"Yu, bangun sayang, saya udah mau keluar nih"
Langsung Ayu bangun dan mendekatkan mukanya ke penisku sambil tangannya mengocokku. Dan akhirnya,
"Aaarrgghh, aduuh, haahh" aku ngos-ngosan menahan nikmat.
Akhirnya penisku menyemprotkan spermanya ke wajahnya, lalu ia menggosoknya ke seluruh wajahnya sampai rata.
"Terima kasih sayang, saya puas banget hari ini, saya tidak menyangka bisa orgy sampe 3 kali, kamu perkasa sekali" kata Ayu sambil berbaring memelukku.
"Abis bodi kamu seksi banget sih, terutama dada kamu, apalagi pas lagi nunggang saya, kelihatannya seperti dewi dari langit yang lagi goyangin saya."
"ah ah, bisa aja kamu" kata Ayu sambil mencubit hidungku.
Tanpa terasa, kami tertidur lagi sambil berpelukan, mungkin saking lelahnya bersenggama tanpa henti.
Begitulah seterusnya, setiap ada waktu kosong aku dan Ayu langsung main lagi, seolah-olah nafsu kami tidak pernah terpuaskan. Selama 3 hari yang kami lakukan hanya makan, main, tidur. Selama 3 hari itu pula kami seperti Tarzan dan Jane, bugil terus. Rasanya anda para pembaca bisa membayangkannya sendiri bagaimana nikmatnya hidup seperti itu. Tapi yang paling penting bagiku adalah cintaku padanya dan cintanya padaku, walaupun aku masih belum tahu sampai kapan kami bisa hidup bersama.
Tamat
Tukang ojek yang beruntung
Namaku budi, pria 23 tahun. Aku punya pengalaman yang dapat saya bagikan kepada seluruh pembaca Rumah Seks, sebenarnya saya sedikit malu, namun untuk pembaca sekalian akan saya ceritakan namun dengan nama-nama samaran. Awal kejadiannya adalah bulan desember 2001 kemaren. Saya adalah mahasiswa pts di kota Yogya, karena terdesak dengan banyaknya kebutuhan hidup maka setiap sore sampai malam saya bekerja sebagai tukang ojek di daerah terminal. Seperti biasanya-hari itu adalah senin malam- sekitar jam 19.00 wib saya masih nongkrong di pos ojek menunggu penumpang. Malam itu sepi karena banyak teman yang tidak berangkat mungkin disebabkab sejak jam 5 sore tadi hujan mengguyur kota ini. Hanya kami bertiga yang masih bertengger di pos ojek sambil main kartu untuk membunuh waktu.
Saat itu aku sudah jenuh, dan aku kalah mainnya, aturannya yang menang akan menarik penumpang duluan. Setelah kelewat sepuluh menit kami main kartu, dari arah magelang datang sebuah bus malam yang menurunkan banyak penumpang. Ada dua orang yang datang ke arah kami dan tentulah mereka adalah penumpang. Sejurus kemudian kedua temanku sudah meninggalkan aku sendirian di pos. Yaah aku tidak dapat duit nih hari ini. Kemudian aku putuskan untuk pulang saja karena memang hujan tidak bersahabat, tentu para penumpang lebih suka naik taksi yang lebih nyaman. Saat aku starter motor aku lihat seorang perempuan muda 30-an tahun mungkin tengah menunggu taksi ataupun hujan reda. Kemudian saat aku lewat didepannya aku menawarkan tumpangan.
"ojek mbak?"
perempuan itu tampak ragu2. lantas melihat ke arahku.
"ke jetis berapa?"
"tujuh ribu mbak!" tak kusangka Mbak itu mau juga aku tawarin.
"mm baiklah, ada jas hujannya tho?"
"iya mbak, tapi cuma satu, nanti dibelakang khan nggak kena hujan" kataku meyakinkannya, padahal dia sudah basah kuyup oleh hujan. tubuhnya yang aduhai cukup terlihat dengan seksi, wah aku yang beruntung nih dibandingkan teman-temanku tadi.
Dibawah hujan rintik, perempuan ini ada dibelakangku, aku sempat berpikir bila dia bukan penumpangku, wah pasti udah kugoda nih, tiba-tiba dia merapatkan dadanya dipunggungku.
"siapa namamu?"
"budi" jawabku sambil bertanya juga siapa namanya, dan ternyata dia bernama dewi. tak terasa ternyata sudah sampai didepan rumahnya.
"kamu mampir dulu, Bud, ntar Mbak buatkan kopi penghangat tubuh, sambil nunggu hujan reda" kata dewi
"makasih mbak, baiklah!" kataku sambil berpikir betapa beruntungnya aku. aku masuk rumah mengikuti dewi dan duduk di bangku kayu.
"nih handuknya, dan diminum kopinya yaa" dewi melirik kearahku yang basah kuyup. kulihat tubuhnya hanya dibalut baju piyama dan rambutnya masih diikat dengan handuk. dadanya terlihat menonjol besar sekali, wah pasti enak nih, aku meliriknya. beberapa manit kemudian muncul seorang perempuan lagi sambil menggendong seorang anak yang katanya berumur 13 bulan, dan mengenalkan diri sebagai Ina, adik dewi. bayi dalam gendongannya sudah tertidur, dan Ina pamitan menidurkan anaknya.
"Kamu nginap disini saja, Bud, hujan malah tambah deras" kata dewi lagi.
Wah, tawaran yang aku tunggu nih, aku segera memasukkan motorku ke garasi dan bergegas kembali kedalam sambil mengeringkan tubuhku. Aku menuju ruang TV tempat dewi menikmati secangkir kopinya. setelah tahu aku datang, dia memberikan baju piyama kepadaku.
"aku ganti dimana nih?" aku bertanya.
"tuh dikamarku saja" jawab dewi sambil menunjuk pintu kamar. aku bergegas masuk kamar, kemudian melucuti semua baju basahku dan memakai piyama itu. tanpa kusadari ternyata dewi sudah berada di belakangku sambil memeluk aku. aku berbalik, dadaku bergetar melihat dia membuka tali piyamanya.
"kenapa Bud, takut yaa?"katanya sambil mendekat kearahku terus berjongkok didepanku. kulihat dadanya lumayan besar. dan membuat big penisku tegak berdiri.
"woow, gedhe banget!!" kata dewi manja sambil mengusap zakarku pelan-pelan.
Dan dikulumnya penisku masuk kedalam mulutnya yang mungil. kurasakan sensasi yang luar biasa. terus dikocoknya kemaluanku, pelan-pelan penuh perasaan, kayaknya dewi sudah mahir sekali. kutarik bajunya hingga kami benar-benar telanjang. kugendong tubuh dewi ke ranjang dan kuletakkan di sudutnya. kukulum bibirnya, dia membalas dengan napas memburu. kuremas dadanya, payudara yang besar, halus dan kuning itu segera kulumat.
"Mmmhh,..nikmat sekali Wi,.."
"Teruuss,..Buudd"
Tanganku terus mengeranyangi kemaluan dewi yang sudah basah. terus kujilati kelentitnya yang hangat, aku jambak rambut kemaluannya, dewi menjerit sambil mengeluarkan cairan bening ke mulutku, dia menggelinjang, orgasme. Terus kujilati cairan itu sampai habis, sesekali kusentil kelentitnya dengan lidahku.
"Bud,..masukkan penismu, pleasee" kata dewi sambil merem melek.
Langsung saja aku dekatkan batang kemaluanku ke arah lubang senggamanya, kumasukkan kepalanya sedikit, dewi tidak tahan lantas menaikkan pinggulnya dan tanpa terhalang-halangi penisku masuk ke dalam vaginanya. aku tusukkan pelan-pelan penisku karena ukurannya terlalu besar bagi vagina dewi.
"teruuss yang kencangg Buud"
"ahh ahh uuhh" kutusuk lebih keras, hingga berbunyi "sluugg, sluugg". sambil kuremas payudaranya yang sudah mengeras putingnya. gerakkanku semakin kesetanan, melihat dewi merem melek sambil mendesah. lebih dari setengah jam aku dalam posisi tradisional seperti itu, kulihat dewi sudah lemas sekali, dia sudah berkali-kali orgasme.
"wi, aku masukkan dalam yaa" kataku sambil mengocok penisku terus di dalam vaginanya
"mmhh, terrserahh" kata dewi sudah tidak jelas lagi dan croot croott, aku semburkan lahar panas ke dalam vaginanya, dewi lemas dan mungkin malah setengah pingsan. kemudian kucabut penisku dan berbaring disampingnya.
Kupeluk dewi yang kecapaian, karena perjalanan siang tadi, ditambah harus melawan penisku yang sudah cukup terkenal dikalangan cewek teman-temanku. "Aku tidur dulu Bud, capek!, besok pagi bangunkan aku yaa" kata dewi lagi.
Aku bangun, sambil mengenakan piyama lagi dan menuju keruang TV, aku baru tidak ingin tidur cepat nih, karena masih pukul 23.30 wib. kulihat Ina masih duduk didepan TV dan memelototinya.
"Acaranya bagus In?" tanyaku berbasa-basi
"Wah jelek nih, pusing jadinya.."katanya sekenanya
"Tolong dong Bud, ganti VCD saja, tuh didepan banyak VCD" kata Ina lagi.
Dengan malas aku meraih VCD dan menghidupkan playernya, kusetel saja sebuah VCD tanpa gambar sampul disitu. Setelah hidup akupun berbalik kearah Ina sambil duduk di sofa, disampingnya. Aku kaget ketika kulihat dilayar sebuah aksi yang sangat mendebarkan, seorang laki-laki yang bersenggama dengan empat cewek! wah?!
"Kamu suka kayak gitu ya In?" kataku menggoda. Ina hanya tersenyum sambil berbisik kearahku.
"Ayo puaskan aku seperti kakakku tadi, aku tahu apa yang kau lakukan" Ina melucuti pakaiannya, dan menarik tali tali piyamaku. burungku yang dari tadi sudah tegak dapat dilihat langsung oleh Ina. Langsung saja Ina meraup mulutku dan kami berciuman diatas sofa. bibir Ina melumat bibirku. Keliatan sekali dia sangat bernafsu, mungkin dia sudah lama tidak pernah melakukannya. kuangkat tubuhnya hingga dadanya ada didepan hidungku, kumasukkan putingnya kemulutku, kukulum, dan mmnnhh ternyata keluar air susunya.
"wah, kamu ada susunya yaa?"kataku sambil terus meneguk susu tawar itu, maklum aku kehausan karena sudah 'bermain' dengan kakaknya.
"iya, kamu habisin juga gak apa-apa, toh anakku sudah bobo sekarang!!?" aku semakin bersemangat.
Kuhirup susu segar itu langsung dari pabriknya, belum pernah lagi aku merasakan hal ini, wah asyik sekali. Ina terus menggelinjang sambil menggosok-gosokkan vaginanya ke penisku yang sudah tegak penuh.
Vaginanya memang sudah sangat basah, aku maklum saja.
"Bud, aku ingin langsung saja, kamu diam disitu, biar Ina saja yang,.." ina terus berceloteh sambil memutar tubuhnya membelakangiku dan menghadap TV, didudukinya kemaluanku yang tegak berdiri keatas.
"Ahh, aauu" bless tanpa hambatan burungku segera bersarang ke vaginanya.
Dengan brutal, seperti orang kelaparan, Ina menggenjot tubuhnya, hingga penisku keluar masuk dan mengesek dinding vaginanya. dari pantulan kaca kulihat buah dada Ina naik turun dengan cepat. terus kuraih saja dan kupilin-pilin, tiba-tiba tanganku sudah basah dengan air susu yang banyak keluar dari toketnya,..
"Mmhh,..terus, Inn" desisku
Ina terus menggoyang sambil sesekali mendongak keatas hingga rambutnya menyabet wajahku.
"ahh,..teruss" aku kenikmatan. sambil meremas-remas payudaranya. Setelah lima belas menit kemudian aku tak kuat lagi, kusemprotkan air maniku keatas, membasahi dinding vaginanya yang hangat,..
"Ahh.." Ina berhenti kecapaian, aku juga sangat kecapaian.
"Maafkan aku In, aku mungkin belum bisa memuaskan kamu, tapi besok lagi, pasti kamu kubuat pingsan" kataku cepat sambil memeluknya
"Aduh Bud, jangan salah, walau kamu diam tadi, aku malah dapat orgasme berkali-kali, kamu hebat!" kata Ina.
Dia memelukku sambil mengusap-usap alat kelaminku yang masih basah oleh mani, kemudian dia mendekatkan wajahnya dan menjilati mani yang tersisa di batang penisku sampai habis.
Begitulah cerita singkatku, sebagai tukang ojek yang sangat beruntung malam itu. kejadian itu berulang terus seminggu dua kali, tiap kali Ina ataupun Dewi membutuhkan kehangatanku, aku segera datang memenuhinya, hingga saat ini. bahkan sejak satu setengah bulan yang lalu, aku tinggal dirumah itu sambil menggarap skripsi disana. Dan tentunya menjadi teman ranjang mereka berdua. Namun yang membuat aku gundah sekarang, Dewi yang berusia 31 tahun hamil 4 bulan sejak mei 2002 kemaren, dan aku tahu pasti itu karena ulahku. Aku berencana menikahi keduanya, karena mereka sudah sangat baik padaku dan membiayai kuliah dan hidupku.
Tamat
Saat itu aku sudah jenuh, dan aku kalah mainnya, aturannya yang menang akan menarik penumpang duluan. Setelah kelewat sepuluh menit kami main kartu, dari arah magelang datang sebuah bus malam yang menurunkan banyak penumpang. Ada dua orang yang datang ke arah kami dan tentulah mereka adalah penumpang. Sejurus kemudian kedua temanku sudah meninggalkan aku sendirian di pos. Yaah aku tidak dapat duit nih hari ini. Kemudian aku putuskan untuk pulang saja karena memang hujan tidak bersahabat, tentu para penumpang lebih suka naik taksi yang lebih nyaman. Saat aku starter motor aku lihat seorang perempuan muda 30-an tahun mungkin tengah menunggu taksi ataupun hujan reda. Kemudian saat aku lewat didepannya aku menawarkan tumpangan.
"ojek mbak?"
perempuan itu tampak ragu2. lantas melihat ke arahku.
"ke jetis berapa?"
"tujuh ribu mbak!" tak kusangka Mbak itu mau juga aku tawarin.
"mm baiklah, ada jas hujannya tho?"
"iya mbak, tapi cuma satu, nanti dibelakang khan nggak kena hujan" kataku meyakinkannya, padahal dia sudah basah kuyup oleh hujan. tubuhnya yang aduhai cukup terlihat dengan seksi, wah aku yang beruntung nih dibandingkan teman-temanku tadi.
Dibawah hujan rintik, perempuan ini ada dibelakangku, aku sempat berpikir bila dia bukan penumpangku, wah pasti udah kugoda nih, tiba-tiba dia merapatkan dadanya dipunggungku.
"siapa namamu?"
"budi" jawabku sambil bertanya juga siapa namanya, dan ternyata dia bernama dewi. tak terasa ternyata sudah sampai didepan rumahnya.
"kamu mampir dulu, Bud, ntar Mbak buatkan kopi penghangat tubuh, sambil nunggu hujan reda" kata dewi
"makasih mbak, baiklah!" kataku sambil berpikir betapa beruntungnya aku. aku masuk rumah mengikuti dewi dan duduk di bangku kayu.
"nih handuknya, dan diminum kopinya yaa" dewi melirik kearahku yang basah kuyup. kulihat tubuhnya hanya dibalut baju piyama dan rambutnya masih diikat dengan handuk. dadanya terlihat menonjol besar sekali, wah pasti enak nih, aku meliriknya. beberapa manit kemudian muncul seorang perempuan lagi sambil menggendong seorang anak yang katanya berumur 13 bulan, dan mengenalkan diri sebagai Ina, adik dewi. bayi dalam gendongannya sudah tertidur, dan Ina pamitan menidurkan anaknya.
"Kamu nginap disini saja, Bud, hujan malah tambah deras" kata dewi lagi.
Wah, tawaran yang aku tunggu nih, aku segera memasukkan motorku ke garasi dan bergegas kembali kedalam sambil mengeringkan tubuhku. Aku menuju ruang TV tempat dewi menikmati secangkir kopinya. setelah tahu aku datang, dia memberikan baju piyama kepadaku.
"aku ganti dimana nih?" aku bertanya.
"tuh dikamarku saja" jawab dewi sambil menunjuk pintu kamar. aku bergegas masuk kamar, kemudian melucuti semua baju basahku dan memakai piyama itu. tanpa kusadari ternyata dewi sudah berada di belakangku sambil memeluk aku. aku berbalik, dadaku bergetar melihat dia membuka tali piyamanya.
"kenapa Bud, takut yaa?"katanya sambil mendekat kearahku terus berjongkok didepanku. kulihat dadanya lumayan besar. dan membuat big penisku tegak berdiri.
"woow, gedhe banget!!" kata dewi manja sambil mengusap zakarku pelan-pelan.
Dan dikulumnya penisku masuk kedalam mulutnya yang mungil. kurasakan sensasi yang luar biasa. terus dikocoknya kemaluanku, pelan-pelan penuh perasaan, kayaknya dewi sudah mahir sekali. kutarik bajunya hingga kami benar-benar telanjang. kugendong tubuh dewi ke ranjang dan kuletakkan di sudutnya. kukulum bibirnya, dia membalas dengan napas memburu. kuremas dadanya, payudara yang besar, halus dan kuning itu segera kulumat.
"Mmmhh,..nikmat sekali Wi,.."
"Teruuss,..Buudd"
Tanganku terus mengeranyangi kemaluan dewi yang sudah basah. terus kujilati kelentitnya yang hangat, aku jambak rambut kemaluannya, dewi menjerit sambil mengeluarkan cairan bening ke mulutku, dia menggelinjang, orgasme. Terus kujilati cairan itu sampai habis, sesekali kusentil kelentitnya dengan lidahku.
"Bud,..masukkan penismu, pleasee" kata dewi sambil merem melek.
Langsung saja aku dekatkan batang kemaluanku ke arah lubang senggamanya, kumasukkan kepalanya sedikit, dewi tidak tahan lantas menaikkan pinggulnya dan tanpa terhalang-halangi penisku masuk ke dalam vaginanya. aku tusukkan pelan-pelan penisku karena ukurannya terlalu besar bagi vagina dewi.
"teruuss yang kencangg Buud"
"ahh ahh uuhh" kutusuk lebih keras, hingga berbunyi "sluugg, sluugg". sambil kuremas payudaranya yang sudah mengeras putingnya. gerakkanku semakin kesetanan, melihat dewi merem melek sambil mendesah. lebih dari setengah jam aku dalam posisi tradisional seperti itu, kulihat dewi sudah lemas sekali, dia sudah berkali-kali orgasme.
"wi, aku masukkan dalam yaa" kataku sambil mengocok penisku terus di dalam vaginanya
"mmhh, terrserahh" kata dewi sudah tidak jelas lagi dan croot croott, aku semburkan lahar panas ke dalam vaginanya, dewi lemas dan mungkin malah setengah pingsan. kemudian kucabut penisku dan berbaring disampingnya.
Kupeluk dewi yang kecapaian, karena perjalanan siang tadi, ditambah harus melawan penisku yang sudah cukup terkenal dikalangan cewek teman-temanku. "Aku tidur dulu Bud, capek!, besok pagi bangunkan aku yaa" kata dewi lagi.
Aku bangun, sambil mengenakan piyama lagi dan menuju keruang TV, aku baru tidak ingin tidur cepat nih, karena masih pukul 23.30 wib. kulihat Ina masih duduk didepan TV dan memelototinya.
"Acaranya bagus In?" tanyaku berbasa-basi
"Wah jelek nih, pusing jadinya.."katanya sekenanya
"Tolong dong Bud, ganti VCD saja, tuh didepan banyak VCD" kata Ina lagi.
Dengan malas aku meraih VCD dan menghidupkan playernya, kusetel saja sebuah VCD tanpa gambar sampul disitu. Setelah hidup akupun berbalik kearah Ina sambil duduk di sofa, disampingnya. Aku kaget ketika kulihat dilayar sebuah aksi yang sangat mendebarkan, seorang laki-laki yang bersenggama dengan empat cewek! wah?!
"Kamu suka kayak gitu ya In?" kataku menggoda. Ina hanya tersenyum sambil berbisik kearahku.
"Ayo puaskan aku seperti kakakku tadi, aku tahu apa yang kau lakukan" Ina melucuti pakaiannya, dan menarik tali tali piyamaku. burungku yang dari tadi sudah tegak dapat dilihat langsung oleh Ina. Langsung saja Ina meraup mulutku dan kami berciuman diatas sofa. bibir Ina melumat bibirku. Keliatan sekali dia sangat bernafsu, mungkin dia sudah lama tidak pernah melakukannya. kuangkat tubuhnya hingga dadanya ada didepan hidungku, kumasukkan putingnya kemulutku, kukulum, dan mmnnhh ternyata keluar air susunya.
"wah, kamu ada susunya yaa?"kataku sambil terus meneguk susu tawar itu, maklum aku kehausan karena sudah 'bermain' dengan kakaknya.
"iya, kamu habisin juga gak apa-apa, toh anakku sudah bobo sekarang!!?" aku semakin bersemangat.
Kuhirup susu segar itu langsung dari pabriknya, belum pernah lagi aku merasakan hal ini, wah asyik sekali. Ina terus menggelinjang sambil menggosok-gosokkan vaginanya ke penisku yang sudah tegak penuh.
Vaginanya memang sudah sangat basah, aku maklum saja.
"Bud, aku ingin langsung saja, kamu diam disitu, biar Ina saja yang,.." ina terus berceloteh sambil memutar tubuhnya membelakangiku dan menghadap TV, didudukinya kemaluanku yang tegak berdiri keatas.
"Ahh, aauu" bless tanpa hambatan burungku segera bersarang ke vaginanya.
Dengan brutal, seperti orang kelaparan, Ina menggenjot tubuhnya, hingga penisku keluar masuk dan mengesek dinding vaginanya. dari pantulan kaca kulihat buah dada Ina naik turun dengan cepat. terus kuraih saja dan kupilin-pilin, tiba-tiba tanganku sudah basah dengan air susu yang banyak keluar dari toketnya,..
"Mmhh,..terus, Inn" desisku
Ina terus menggoyang sambil sesekali mendongak keatas hingga rambutnya menyabet wajahku.
"ahh,..teruss" aku kenikmatan. sambil meremas-remas payudaranya. Setelah lima belas menit kemudian aku tak kuat lagi, kusemprotkan air maniku keatas, membasahi dinding vaginanya yang hangat,..
"Ahh.." Ina berhenti kecapaian, aku juga sangat kecapaian.
"Maafkan aku In, aku mungkin belum bisa memuaskan kamu, tapi besok lagi, pasti kamu kubuat pingsan" kataku cepat sambil memeluknya
"Aduh Bud, jangan salah, walau kamu diam tadi, aku malah dapat orgasme berkali-kali, kamu hebat!" kata Ina.
Dia memelukku sambil mengusap-usap alat kelaminku yang masih basah oleh mani, kemudian dia mendekatkan wajahnya dan menjilati mani yang tersisa di batang penisku sampai habis.
Begitulah cerita singkatku, sebagai tukang ojek yang sangat beruntung malam itu. kejadian itu berulang terus seminggu dua kali, tiap kali Ina ataupun Dewi membutuhkan kehangatanku, aku segera datang memenuhinya, hingga saat ini. bahkan sejak satu setengah bulan yang lalu, aku tinggal dirumah itu sambil menggarap skripsi disana. Dan tentunya menjadi teman ranjang mereka berdua. Namun yang membuat aku gundah sekarang, Dewi yang berusia 31 tahun hamil 4 bulan sejak mei 2002 kemaren, dan aku tahu pasti itu karena ulahku. Aku berencana menikahi keduanya, karena mereka sudah sangat baik padaku dan membiayai kuliah dan hidupku.
Tamat
Langganan:
Postingan (Atom)