Sabtu, 09 Juli 2011

Cemburu membawa sensasi - 2

Beberapa saat kemudian kuputar badanku pada posisi semula. Risa mengangkangkan kakinya hingga gundukan bukit itu nampak jelas sekali. Hutannya yang hitam dan rimbun membuat pemandangan tampak begitu indah, begitu pula 'kacang basahnya' yang melambai-lambai. Wajahnya yang merah, bibirnya yang seksi menahan gairah semakin menambah kecantikannya malam ini.

"Cepetan dong Ryan.." Perlahan namun pasti kugerakkan tongkatku menuju gua yang lebat itu
"Ouhh.." Risa merintih saat kepala tongkatku mulai masuk kemulut gua yang sudah basah dan licin.
"Ah.. Ouh.. Ohh."
"Oh.. Oh.. Uhh.."

Desahannya dan desahanku bersahutan tatkala pelan-pelan batang tongkatku masuk ke dalam gua. Sejenak tongkat itu kutarik keluar kemudian kumasukkan lagi dengan sangat perlahan.

"Ahh.. Ouhh.. Nikmat sekali Ryan.. Ohh"
"Aku sayang kamu Risa"
"Aku juga Ryan.. Oh nikmat sekali.. Ohh"

Tongkatku terus bersenam maju mundur di dalam gua Risa. Sementara itu mulutku juga terus bergerilya di gunung kembar Risa.

"Ahh.. Ryan.. Oh.. Terus Ryan.. Dalem lagi.. Ohh" Risa terus menggelinjang ke sana ke mari, pantatnya juga terus bergoyang bagaikan Inul di atas panggung.
"Oh.. Oh.. Aku tak tahan lagi Ryan.. Tongkatmu enak sekali, aku hampir sampai.. Terus Ryan lebih keras lagi.. Ohh"
"Ahh.. Uhh.. Uh.. Aku juga hampir keluar sayang, dikeluarkan dimana? Di luar apa di dalam?"

Tiba-tiba ada sesuatu lahar panas yang akan segera muntah dari tongkat kenikmatanku.

"Di dalam aja biar nikmat.. Oh.. Uh.." Cret.. Cret.. Crett.. Keluarlah lahar panas dari tongkatku.
"Ohh.. Aku sampai.." Pada saat yang bersamaan Risa juga sampai pada puncaknya.
"Uhh.. Ogh.."

Lolongan panjang kami mengakhiri pertempuran pertama yang luar biasa nikmatnya. Perlahan nafas kami teratur kembali seperti turun dari puncak kenikmatan yang sensasional.

Prakk.. Tiba-tiba terdengar suara vas bunga tersenggol, aku dan Risa saling berpandangan, terkejut sekaligus sadar kalau Rico masih ada di ruang tengah.

"Risa.. Rico kan belum pulang?"
"Belum.. Kamu sih terlalu bernafsu.."
"Habis kamu juga sih.. Terlalu menggairahkan he he.."
"Jangan-jangan dia lihat kita?"
"Biarin aja deh, kan malah lebih sensasional"
"Dasar Gabrut kamu.."
"Eh Risa, aku punya ide"

Tiba tiba muncul dalam benakku untuk mengajak Rico ikut serta dalam permainan kami, seolah aku sudah lupa kalau tadi sempat merasa cemburu dengan keberadaannya.

"Ide apaan?"
"Gimana kalau Rico kita ajak sekalian main dengan kita"
"Maksudmu?"
"Kita ajak dia untuk bercinta bersama, kan lebih asyiik.. Pasti jauh lebih nikmat"
"Ah gila kamu.. Gak mau emangnya aku cewek apaan.."
"Bukan begitu, pasti lebih sensasional. Percayalah ini tidak akan mempengaruhi hubungan kita. It's just sex not love. Aku juga tetap mencintaimu"

Sejenak Risa berpikir, mungkin ia menganggap ideku sangat gila, tapi entah kenapa tiba-tiba bulunya merinding dan tampak wajahnya bergairah, mungkin ia membayangkan permainan tersebut. Namun ia juga tidak mau kalau tampak menggebu menginginkan permainan itu karena bagaimana pun kami memang saling mencintai.

"Apa kamu serius Ryan?"
"Serius" aku coba meyakinkan Risa.
"Kamu nggak cemburu kalau aku main seks juga dengan Rico?"
"Ya enggaklah kan aku yang minta, asalkan ada aku"
"Kamu nggak ngambek lagi kayak tadi saat liat aku hanya bercanda dengan Rico"
"Enggak.. Percayalah.. Ini mungkin malah akan membuat hubungan kita semakin dewasa"
"Terserah kamulah" Risa akhirnya pasrah, yang penting tak mengubah apapun pada hubungan kami, karena tiba-tiba ia pun mulai bergairah.
"Ok kalau gitu aku akan bicara ama Rico"

Aku segera turun dari ranjang, kupakai celanaku kemudian aku keluar dari kamar. Kulihat Rico lagi merokok di ruang tengah, dari wajahnya nampak ia sangat gelisah melihat permainan tadi, mungkin ia juga sangat terangsang tapi tak ada pelampiasan. Kaget ia ketika melihatku melangkah ke arahnya.

"Eh Ryan.."
"Ric.. Sori ya perlakuanku tadi, aku agak emosi karena badanku lagi capek, pikiranku juga stress akibat kerjaan"
"Gak pa-pa kok Ryan.. Aku paham, biasalah dalam setiap berhubungan, cemburu itu kan tanda sayang" ungkapnya sok bijak dan arif.
"Sori juga tadi kamu kami tinggal sendirian di ruang tengah"
"Gak pa-pa kok"
"Tapi tadi kamu lihat kan aku ngapain dengan Risa?"
"Enggak.. Aku nggak.. Tahu.." Katanya agak gugup.
"Gak usah bohong Ric.. Aku nggak pa-pa kok, kita kan udah sama-sama dewasa, malah kalau kamu mau boleh kok kalau kamu ikutan"
"Maksudmu?"
"Iya kalau kamu mau, kamu boleh kok ikutan"
"Ikutan apaan?"
"Ikutan bermain seperti yang kamu lihat tadi"
"Apa aku nggak salah denger?
"Enggak.. Tadi aku juga udah bicarakan ama Risa, Risa juga setuju kok, itung-itung ini sebagai tanda maaf kami berdua, lagian kamu kan juga udah lihat semuanya"

Rico tercenung, mungkin ia tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar, ia seolah sedang bermimpi. Tapi aku segera menyadarkannya.

"Yuk kita ke kamar.. Kasihan Risa dah menunggu lama" kutarik tangan Rico untuk ikut ke kamar Risa.

Begitu masuk kamar, nampaklah Risa sedang telentang di tempat tidur sambil diselimuti sedikit di bagian bawah perutnya. Rico melongo melihat pemandangan yang luar biasa, paha yang putih mulus, dada yang indah membusung, pemandangan yang mungkin selama ini hanya ia bayangkan saat melakukan onani karena aku pun tahu kalau memang sudah sejak lama ia sangat tertarik dan bernafsu ketika melihat Risa. Namun sejauh ini ia cukup tahu diri karena Risa sudah ada yang punya. Tapi kini Rico melihat Risa yang betul-betul dalam posisi menantang, atas ajakanku sendiri yang merupakan pacarnya Risa.

"Kok diem Ric, kenapa?" Sapa Risa memecahkan kesunyian.

Kulihat sebenarnya Risa agak gugup dipandangi seperti itu. Apalagi kini di depannya ada dua lelaki yang selama ini memang dekat dengannya yang satu sahabatnya yang satu adalah pacarnya. Atau mungkin ia juga membayangkan sebentar lagi kedua orang dekatnya itu akan menjamah tubuhnya dan memberikan kenikmatan kepadanya. Kulihat pancaran wajahnya sangat bergairah. Sedangkan aku sendiri juga tidak tahu kenapa, saat ini sama sekali tidak ada rasa cemburu sedikit pun, malah yang justru aku sangat terangsang menghadapi permainan yang akan segera kami mulai.

"Yuk Ric kita mulai pestanya" Kuajak Rico segera mendekat ke Risa.

Kulepas semua baju yang ada di tubuhku, juga kuminta hal yang sama dengan Rico. Kini kami bertiga dalam keadaan yang sama-sama telanjang. Kulirik tongkat Rico yang sudah tegak, dari sisi ukuran memang tak jauh beda. Namun masing-masing punya kekhasan tersendiri. Punyanya agak melengkung sedangkan punyaku menjulang dengan kokohnya.

Aku memulai duluan dengan merundukkan kepalaku pada bagian bawah perut Risa. Hutannya yang lebat kuciumi dengan seksama.

"Ouh.. Ouh.." Risa merintih kenikmatan.

Rico pun tidak mau ketinggalan, ia mengambil bagian pada wajah Risa. Ia ciumi bibir Risa dengan lembutnya. Bibir sensual yang selama ini hanya ada dalam bayangannya.

"Ouh.. Ogh.. Uh.." Risa tak tahan menahan sensasi serangan bawah atas, tubuhnya menggeliat ke sana ke mari, pantatnya bergoyang bagai tampah yang sedang diputar-putar.

Sambil terus beradu bibir dengan Risa, tangan Rico bergerilya ke dalam payudara Risa yang ranum.

"Ouh.. Ou.." sensasi yang Risa rasakan makin menjadi-jadi.
"Hh.. Uh.." Desah nafas kami makin tak beraturan.

Sambil terus kujilati 'kacang basah' Risa, kulihat Rico mengubah posisi. Tongkatnya yang melengkung itu ia sodorkan ke mulut Risa. Dan Risa pun menyambutnya dengan antusias.

"Ouhh.. Ups.." Pelan dan pasti tongkat Rico keluar masuk dari mulut Risa.. Terkadang Risa melahapnya hingga hampir mengenai telurnya.
"Ohh.." Kudengar erangan Rico menahan kenikmatan dari mulut yang selama ini ia bayangkan. Sementara aku sendiri juga mengubah posisi, tongkatku yang sudah tegak kucoba untuk kumasukkan ke dalam tempat 'kacang basah' Risa.
"Aauuww.. Ohh.. Auww" Risa berteriak tertahan menahan kenikmatan tongkatku, namun tertahan suaranya oleh tongkat Rico yang sedang maju mundur.

Kulihat wajah pacarku ini benar-benar cantik dan menggairahkan dengan dua buah tongkat yang sedang memasuki lubang atas dan bawahnya. Kugerakkan tongkatku maju mundur mengikuti gerakan Rico yang juga maju mundur dalam mulut Risa.

"Ohh.. Ua.. Uuaoww" berbagai suara-suara tertahan serta desahan nafas memecah kesunyian malam itu.

Setelah berlangsung selama 10 menit, kemudian Rico menoleh ke arahku, meski ia tak bicara tapi aku mengerti kalau ia minta ijin kepadaku untuk tukar posisi, karena ia ingin merasakan juga nikmatnya 'kacang basah' Risa. Kami pun bertukar tempat. Tongkat Rico di bawah, sedangkan tongkatku di mulut Risa.

"Ouhh.. Ohh.." Tongkatku maju mundur dalam mulut Risa, kadang kepalanya ia jilat, kadang batangnya bahkan kadang seluruhnya ia telan.
"Ouhh enak sekali Ris.. Punya kamu masih seret.. Ohh" Terdengar Rico meracau merasakan nikmatnya gua Risa.
"Ris, kamu makin cantik sekali, dengan wajah penuh permen gitu.. Ohh" matanya melotot kugodain seperti itu, tapi makin tambah nikmat.
"Ohh Ris.. Dada kamu montok sekali.. Ohh"
"Ahh.. Kamu menggairahkan sekali Ris.."
"Auh.. Ohh" sensasi yang kami rasakan makin menjadi.

Mata Risa berkejap-kejap tanda ia sudah mau mencapai orgasme, aku hapal betul tanda-tanda ini karena aku sering bermain cinta dengan Risa.

"Ohh.. Ohh.." Di saat yang sama akupun juga merasakan hal serupa, akhirnya kutumpahkan seluruh lahar panasku kemulutnya. Crutt.. Crutt..
"Ups.. Ohh.."

Mulut Risa belepotan oleh cairan lahar panasku. Sebagian ia telan karena ia mempercayai akan membuatnya awet muda. Sedangkan Rico masih terus memompa, tapi kulihat ia pun hampir mengeluarkan lahar panasnya.

"Ohh.. Huu.. Ohhghh.."

Cret.. Cret.. Crret.. Tumpahlah lahar panas Rico yang ia keluarkan di perut Risa, sengaja ia tidak mau mengeluarkan di dalam karena takut resiko pada kehamilan Risa, meski sebenarnya Risa sudah meminum obat anti hamil.

Kami bertiga kemudian tergeletak lemas, namun puas setelah mencapai puncak bersama-sama. Karena Risa di rumah sendirian, maka semalam kami terus berpesta. Kadang aku dengan Risa, kadang Rico dengan Risa, kadang juga bertiga. Tapi yang pasti aku tidak dengan Rico karena aku masih waras bukan gay. Dan kulihat Risa sangat menyukai permainan ini.

Sejak saat itu hubunganku dengan Risa semakin mesra, tanpa ada rasa cemburu tapi semakin cinta. Dan rencananya kami juga akan segera menikah. Sedangkan petualangan kami terus berlanjut yang mungkin di lain waktu kuceritakan.


E N D

Asyiknya rame-rame

Lia sedang duduk menyelesaikan ceritanya di komputer waktu aku, Doni dan Ferry datang ke kamarnya. Tiba-tiba kami bertiga sudah ada di samping dan di belakangnya sambil ikut membaca ceritanya di monitor.

"Wah, ceritamu bikin horny loh..!" kataku yang diiyakan juga oleh Doni dan Ferry.
Yang membuat Lia kaget, Ferry dan Doni yang berdiri di samping kiri-kanannya membaca monitor sambil mengusap-usap celana bagian depannya yang nampak makin lama makin menonjol. Lia semakin kaget lagi sewaktu mereka secara bersamaan tiba-tiba membuka celana sekaligus CD-nya ke bawah, sehingga di kanan-kiri Lia muncul dua benda panjang menjulur ke depan. Rupanya mereka sudah tidak tahan membayangkan cerita di komputer Lia, apalagi melihat penampilan Lia malam itu yang hanya berdaster transparan.

"Tuh kan, jadi keras nih punyaku.., ayo pegang..!" kata Doni sambil menarik tangan Lia dan ditempelkannya di batang penisnya sekaligus penis Ferry.
"Eh, ngapain nih pada..?" tanya Lia sambil agak meronta.
"Udah deh, pegang aja..!" kata Doni yang tiba-tiba menyusupkan tangannya ke daster Lia bagian atas terus ke bawah hingga menyentuh gundukan buah dadanya yang tak ber-BH itu.

Lia langsung menggeliat merasakan usapan tangan Doni pada bagian sensitifnya yang menimbulkan sensasi tersendiri, sehingga Lia tidak lagi meronta dan malah menikmati genggaman tangannya pada batang penis Ferry dan Doni. Ferry pun tidak mau kalah, tangannya ikut masuk menggerayangi buah dada yang kiri sambil memilin-milin lembut puting Lia yang semakin mengeras.
"Aaah.., sshh..," desahnya merasakan kenikmatan sambil tangannya terus menggenggam dan sesekali mengocok batang penis mereka.

Mereka serentak menghentikan kegiatannya, dan menyuruh Lia berdiri dari kursi menuju ke ranjangnya. Daster Lia yang sudah tidak karuan menyangga tubuhnya langsung terlepas bersamaan dengan tangan Ferry yang menarik cepat tali dasternya. Sambil memegangi tangan Lia, kini mereka dapat bebas melihat kemulusan tubuhnya yang tinggal berbalut CD mini itu.

Lia disuruh berhenti di dekat ranjangnya, dimana aku sudah duduk menunggu, duduk di pinggir ranjangnya tanpa busana. Lia semakin pasrah sambil berdiri waktu Ferry dan Doni merentangkan kedua tangannya, dan mulai menciumi dari mulai ujung jari hingga ke lengan bagian atas. Bulu-bulu halus Lia langsung berdiri menerima perlakuan ini. Kecupan dan permainan lidah Ferry dan Doni di sepanjang kulit tangan Lia membuatnya seperti terbang melayang. Rintihannya semakin menggila sewaktu mereka menaikkan tangan Lia ke atas dan menyusupkan bibir-bibir mereka ke ketiaknya.

Jilatan-jilatan Ferry dan Doni yang belum pernah Lia rasakan sebelumnya itu, membuat Lia menggelinjang kegelian penuh rangsangan. Kepalanya yang menengadah ke atas langsung disambut dengan ciuman Doni di samping leher dan telinganya, sementara Ferry meneruskan jelajahan bibir dan lidahnya yang liar ke samping pinggang Lia. Sementara tangannya di atas memegang kepala Doni yang asyik menyusuri telinga dan tengkuknya, aku berdiri dari ranjang dan tak kusia-siakan buah dadanya yang membusung itu dengan kukecup lembut di sekitarnya. Putingnya yang mencuat kujilat, kukulum dan kuhisap bergantian yang membuat tubuhnya bergetar hebat menahan nikmat.

Desahan dan erangannya yang semakin mengeras tidak terdengar lagi, karena tiba-tiba Doni membungkam mulut Lia dengan mulutnya yang liar sambil memiringkan kepala Lia. Mau tidak mau Lia melayani permainan bibir dan lidah Doni yang menari-nari di dalam rongga mulutnya.
"Mmph.. mmph..," erangnya di tengah hebatnya serangan kami bertiga.

Sementara itu Ferry sudah berada di bawah tubuh Lia yang asyik menciumi belakang batang kakinya mulai dari paha, betis hingga tumit kakinya. Tangan Ferry yang tadinya meremas-remas pantat Lia, tiba-tiba begitu cepat turun ke bawah bersamaan dengan CD-nya, hingga akhirnya tak sehelai benang pun menempel di tubuh Lia. Pemandangan indah gundukan vagina Lia tidak kusia-siakan dengan bibirku yang sudah turun dari melumat buah dadanya menjadi ke perutnya.

Setelah puas memutar-mutarkan lidahku di seputar perut dan pusarnya, aku kembali duduk di pinggir ranjang dengan posisi wajahku berhadapan dengan vagina Lia. Tanganku kemudian menarik pinggulnya lebih mendekat ke arah wajahku, dan bibirku langsung mengecup gundukan vagina Lia dengan lembut yang membuatnya menggeliat merasakan sensasinya.

Tidak puas dengan itu, makin kuturunkan tubuhku ke bawah dengan posisi berlutut. Tanganku kemudian merenggangkan kakinya, hingga vagina Lia terbuka bebas menggantung di depan wajahku. Tidak lama kemudian kubenamkan wajahku ke selangkangan Lia yang kemudian diikuti oleh usapan lidah Ferry di seputar pipi pantatnya. Lia semakin hebat menggelinjang, apalagi sewaktu aku sudah mulai menjilat dan mengisap klitorisnya dari bawah yang membuat vaginanya semakin basah.

Lia sudah tidak tahan dan mencoba meronta, tapi kami malah semakin menggila. Tubuh Lia kami dorong ke ranjang, dan kusuruh menungging di pinggir ranjang dengan posisi kakinya menggantung. Doni naik ke ranjang dan berlutut di depannya dengan penisnya yang mengarah ke wajah Lia. Tangan Doni kemudian memegang rambut Lia dan menengadahkan kepalnya.
"Buka mulutmu..!" perintah Doni yang segera diikuti, karena memang Lia sudah horny sekali, dan ingin melakukan apa saja.

Begitu mulutnya terbuka, masuklah batang penis Doni yang tegang itu sedikit demi sedikit. Lia mulai merasakan nikmatnya mengemut penis Doni dengan memaju-mundurkan kepala sesuai gerakan tangan Doni di rambutnya.
"Ayo isep dan jilat sepuasmu..!" perintah Doni lagi yang segera diikuti Lia dengan menjilati sepanjang batang penisnya yang divariasi dengan mengemut kepala penisnya.

Sambil terus menghisap, Lia merasakan ada sesuatu di bawah selangkangannya. Ternyata kepala Ferry sudah menengadah di antara kedua paha Lia dengan posisi badannya berada di bawah ranjang. Bibir dan lidah Ferry mulai beraksi dengan buasnya di vagina Lia. Yang membuat Lia semakin histeris adalah ketika aku menyambut goyangan-goyangan pantatnya yang mencuat ke atas dengan menyapukan lidahku ke belahan pantat Lia dengan sesekali menusukkan ujung lidahku ke lubang pantatnya.

Tanganku pun tidak mau tinggal diam, maju ke depan meremas-remas buah dadanya yang menggantung. Lengkaplah sudah bagian-bagian sentra kenikmatannya diserang habis-habisan. Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan indah ini. Kutarik kepalaku dari pantatnya, dan kugantikan dengan menusukkan penisku ke vaginanya dari belakang. Dan untuk mempermudah genjotanku, ferry memindahkan kepalanya dari selangkangan Lia ke bawah buah dadanya yang menggantung, dan mulai menggeluti puting Lia dengan mulutnya.

Bersamaan dengan semakin cepatnya gerakan maju-mundur penis Doni di mulut Lia, kupercepat juga sodokan penisku ke lubang vaginanya sambil mencengkeram keras pinggulnya. Sampailah pada erangan keras Lia diikuti dengan mengejangnya tubuhnya tanda mencapai puncak. Terasa hangatnya cairan di lubang vagina Lia yang diikuti dengan kencangnya otot-otot di situ yang menjepit penisku.

Tanpa istirahat, Doni yang lalu mencabut penisnya dari mulut Lia, membaringkan dirinya dan menarik tubuh mulus Lia ke atasnya, hingga posisinya jadi berjongkok dengan vaginanya yang tepat berada di atas penis Doni yang masih tegak berdiri. Sesaat kemudian, terbenamlah penis Doni bersamaan dengan diturunkannya tubuh Lia. Erangan Lia terdengar cukup keras merasakan nikmat, dan semakin memacunya untuk mempercepat pompaan pada penis Doni.

Sementara itu, Ferry yang menunggu giliran mengambil inisiatif dengan berdiri di samping Lia, dan memasukkan penisnya ke mulut Lia dengan memutar sedikit kepalanya. Vagina dan mulut Lia kembali bekerja keras memompa, sementara aku juga tidak tinggal diam dengan menarik kedua tangan Lia ke belakang, lalu menjilat-jilat puting di buah dada kirinya yang terguncang-guncang seirama naik-turunnya tubuhnya.

Rupanya Doni mencapai puncaknya lebih cepat. Ia menekan tubuhnya ke atas yang diimbangi Lia dengan menahan ke bawah. Ferry yang sudah tidak tahan penisnya dilumat, langsung mengambil inisiatif dengan mendorong tubuh Lia ke samping hingga merebah di ranjang. Kedua tangan Lia direntangkan ke atas, hingga berpegangan pada ujung tiang ranjang, lalu kedua kakinya direntangkan, dan Ferry ambil posisi di antara kedua paha Lia. Vagina Lia yang terbuka langsung dihujam oleh penis Ferry yang masih basah bekas lidah Lia. Ferry mulai menyodokkan penisnya dengan lembut yang membuat Lia mengerang dan berusaha mengimbangi dengan memutar-mutar pinggulnya.

Sementara itu, Doni yang berada di samping Ferry membantu merangsang Lia dengan menciumi, menjilat, dan mengulum jari-jari kaki Lia yang mulus itu. Bibir sensual Lia yang terus mengerang itu membuatku tidak tahan melihatnya. Aku bergerak maju dan kukangkangi wajahnya, hingga penisku yang masih tegang berada tepat di depan mulutnya. Kuangkat sedikit kepalanya dan kudorong masuk penisku. Lia pun menyambut dengan ganas perlakuanku ini. Dihisap dan dikulumnya penisku dengan bibir dan lidahnya.

Genjotan penis Ferry semakin cepat di bawah yang membuat Lia menggelinjang hebat.
"Mmmh.. mmph.. mmph..," teriak Lia tertahan penisku di mulutnya bersamaan dengan melengkungnya tubuh Lia ke atas.
Lia telah mencapai puncaknya bersamaan dengan Ferry.
"Tunggu, aku juga mau keluar..!" kataku lagi sambil melepas penisku dari mulutnya dan mengocok penisku di depan bibirnya yang sengaja dibukanya lebar.
"Aaagghh..!" erangku yang bersamaan dengan semprotan maniku ke wajah dan mulut Lia.

Tak hanya itu, waktu semprotanku berhenti, langsung dikulumnya penisku lagi dalam-dalam yang membuatku terasa ngilu tapi nikmat sekali. Akhirnya kami berempat merebah jadi satu di ranjang dengan perasaan puas yang mendalam. Yang jelas kami semua merasakan 'asyiknya rame-rame', mirip dengan slogan iklan rokok di TV.

TAMAT

Berawal dari chating

Hallo pembaca setia Rumah Seks. Pada kesempatan ini aku ingin menceritakan pengalaman bercintaku yang tidak terlupakan. Aku adalah seorang mahasiswa yang kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta. Namaku Valentino dan saat ini usiaku 22 tahun. Menurut temanku meski wajah Chinese-ku ini biasa-biasa saja tapi aku punya daya tarik seks yang cukup tinggi. Tinggi badanku hanya 173 cm dengan berat 71 kg. Aku juga suka olahraga dan wajar saja jika fisikku cukup prima.

Kejadian ini terjadi pada waktu liburan natal 2000 yang lalu. Waktu itu untuk melepaskan kesuntukan karena tidak ada aktivitas, aku memutuskan untuk chatting di warnet di dekat kost. Aku masuk ke channel favoritku yaitu Bawel. Selang beberapa lama ada nick yang invite aku masuk ke channel dia. Dan aku pun masuk aja, cuek.. siapa takut. Ternyata setelah kami ngobrol beberapa lama, dia adalah seorang cewek kampus yang gaul banget. Dari pembicaraannya sepertinya dia bukan orang yang kuper. Namanya Michelle, dan kuliah di PTS juga dan usianya pun sama denganku. Dia mengaku sedang ditinggal pacarnya dan dia masih merasa sedih. Aku berusaha menghiburnya, dan aku pun minta no teleponnya. Dan akhirnya kami saling tukar no telepon.

Esok harinya, aku bangun siang sekali karena kemarin aku chatting sampai jam 1 pagi. Tiba-tiba di kost-ku ada yang manggil, katanya ada telepon untukku. Aku juga bingung siapa yang menelepon, dan setelah kuangkat. Oh, rupanya Michelle yang meneleponku. Hari itu sih hari minggu, dan kebetulan aku lagi tidak ada acara. Michelle mengajakku untuk janjian bertemu dan aku pun menyanggupinya. Kami bertemu di Mall Ciputra, tepatnya di Pizza Hut. Rupanya di sana dia tidak sendirian, dia ditemani tantenya yang cantiknya aduhai dan teman satu kampusnya yang juga tidak kalah cakepnya. Ternyata Michelle ini cantik sekali, tingginya kira-kira 170 cm dan kutebak ukuran branya pasti 36B, sama seperti tantenya.

Kami pun berkenalan. Michelle menyapaku, "Kenalin ini Tante gue.. Ratna dan ini temen gue Shinta.." Kami pun saling berjabat tangan dan terasa tangan mereka sungguh lembut. Setelah itu kami memesan pizza ukuran besar dan sambil menunggu aku terus menatap Michelle, dan dia agak membungkuk sehingga aku bisa melihat belahan dadanya yang membuat kemaluanku mulai menegang ditambah lagi melihat pahanya yang mulus tanpa cacat juga bibirnya yang ranum dan merekah.

"Kamu lagi liburan kan Val?" tanya Tante Ratna.
"Iya nih.. lagi suntuk, abis gak ada yang bisa dikerjain waktu liburan." jawabku sekenanya.
"Mmm, gimana kalau kita bertiga ngerjain kamu, kan katanya kamu gak ada kerjaan?" kata Shinta sambil tertawa menggoda.
"Iya nih, mau gak.. kita bermain-main sedikit?" sambung Michelle.
"Ah kalian bisa aja, bukannya aku yang ngerjain kalian ntar?" godaku.
"Ihh.. kamu bisa aja deh.." bisik Tante Ratna.
"Ya udah, daripada banyak omong, gimana kalau malam ini kita nginap di hotel aja, tuch di seberang resepsionis hotel sudah nunggu kita tuch.." ajak Shinta.

Akhirnya kami sepakat untuk membooking kamar di Hotel Ciputra dan Tante Ratna yang bayar. Kami masuk ke kamar dan aku pun merebahkan badanku ke ranjang, untuk melepas lelah. Aku sempat memejamkan mata sesaat, dan tiba-tiba kurasakan ada yang mengelus-elus sekitar selangkanganku dan ternyata itu si Michelle yang sudah tidak sabar lagi. Dipelorotkannya reitsleting-ku dan dia pun mulai membedah CD-ku yang isinya sudah membengkak karena adikku yang sudah tidak tahan lagi untuk menerobos. "Val, aku mau dong nyobain ngulumin pisang kamu yang cakep ini, boleh kan?" pinta Michelle manja. Tanpa komando langsung dijilatnya ujung kepala kemaluanku. "Ahh.. nikmat sekali.." Belum sepuluh menit, tiba-tiba Tante Ratna sudah telanjang bulat dan mengarahkan kemaluannya ke wajahku. Dan tanpa ragu-ragu kujilat vaginanya yang masih cakep itu. Sementara itu Shanti yang dengan luwesnya setelah selesai mandi mulai naik ke ranjang juga dan meraih kedua bukit Tante Ratna yang sudah menegang putingnya itu karena terangsang oleh jilatanku pada area kewanitaannya.

"Ahh.. enak sekali rasanya bisa dikerjain mereka bertiga. Michelle dan Tante Ratna dengan buah dada 36B, serta Shanti dengan buah dada 34D, sungguh membuatku tidak bisa berkata-kata selain, "Uh.. oh.. uh.. oh.." Aduh sungguh nikmat. Penisku yang panjangnya 16 cm ini rasanya sudah nikmat sekali dan panas sekali dihisap secara bergantian oleh mereka bertiga. Dan aku pun keluar setelah 20 menit, dikocok dan dijilat secara bergantian. Aku mengeluarkannya di mulut Michelle yang mungil sedangkan Tante Ratna dan Shanti juga tidak ketinggalan membersihkan cairan spermaku yang cukup banyak ini. Setelah itu Tante Ratna datang dan memijat penisku yang sudah mulai loyo hingga berdiri lagi. Ah, belum 2 menit adikku sudah naik lagi akibat pijatan lembut Tante Ratna, sementara itu Shanti dan Michelle bermain berdua, karena mereka ternyata lesbian dan juga biseks.

Tante Ratna kemudian memasukan penisku ke dalam lubang kemaluannya yang sudah penuh cairan cinta itu. Memang sih awalnya agak susah, dan rupanya meski sudah punya suami, Tante Ratna ini kemaluannya tetap sempit dan membuat adikku seolah dipijat dan diremas-remas oleh dinding kemaluannya yang kuat sekali. Sementara itu selang waktu 15 menit, Michelle menghampiriku lagi dan menempatkan vaginanya di atas wajahku untuk dijilat. Dengan posisi berhadapan dengan Tante Ratna, Michelle membantu menjilat puting susu Tante Ratna yang berwarna pink itu. Sementara itu Shanti juga tidak tinggal diam, diarahkannya jariku ke dalam lubang kemaluannya kemudian aku pun mulai tahu maksudnya. Kuobrak-abrik kemaluannya dengan kedua jariku, hingga Shanti menjerit-jerit keenakan.

Akhirnya 10 menit kemudian Tante Ratna berteriak, "Val.. oh.. enak Val.. Tante mau keluar nih.."
"Tunggu Tante aku juga mau keluar, aku keluarin di dalem aja yah? Abis masih ada Mich!Michelle sama Shanti sih, gak bisa bergerak nih.." erangku.
"Ya udah, keluarin di dalem aja.. ohh.. Tante keluar.." desah Tante Ratna.
Akhirnya kami pun keluar bersama-sama. Dan kemudian kami terus mencoba gaya lainnya lagi sampai kurang lebih sudah setengah dua pagi.

Keesokan harinya jam tujuh pagi aku terbangun dan ternyata mereka sudah membuatkan sarapan untukku. Wah tanpa pakaian mereka menyuapiku untuk sarapan dan minum susu. Tapi aku lebih tertarik pada susu mereka. Dengan nafsu mereka menyuapiku dalam keadaan telanjang. Serasa dunia ini seperti di sorga. Michelle mulai menatapku penuh nafsu. "Val, aku pengen lagi nih, habis kemarin belum puas sih.. boleh gak?" tanya Michelle. "Oh.. why not, my soul is your mine.. just do it.." balasku mesra. Akhirnya Michelle mulai menjilati putingku sembari menciumku dan membelaiku. Aku sungguh merasakan kenikmatan dan kelembutan tangannya. Dan di adik kecilku sudah ada Tante Ratna dan Shanti yang tangannya bergerilya dengan penuh nafsu dan membuatku merem melek. Oh.. betapa indahnya dunia.

Kemudian Tante Ratna memijat adik kecilku dengan kedua bukit susunya yang sungguh menakjubkan. Aduh enak sekali dipijat dengan tetek ini rasanya. Aku tidak sanggup lagi untuk menahan semua gairahku. Sementara itu Michelle juga tidak mau tinggal diam lagi. Segera diarahkannya vaginanya ke wajahku dan aku pun menjilat vaginanya yang sudah memerah itu. Dan mulailah suara desahan terdengar dan berpadu membentuk suatu paduan suara yang menggairahkan, birahiku semakin tinggi.

Setelah selang 15 menit aku mulai mencoba merubah posisiku dan Michelle kubaringkan sementara Tante Ratna dan Shanti asyik bermain berduaan. Kutumpahkan susu sarapanku ke mulut vagina Michelle dan kujilat-jilat vaginanya yang kini sudah menjadi rasa susu itu. Dan Michelle pun mengerang keenakan, "Val, masukin dong.. aku udah basah nih." Dan tanpa ragu-ragu lagi kuhujamkan dengan keras penisku yang 16 cm ini sedalam-dalamnya ke lubang keperawanan Michelle yang merah merekah itu. Aku terus-menerus memompa tanpa henti meski tubuhku dan tubuh Michelle sudah berkeringat semua. Suara desahan demi desahan terus saja keluar dan semakin menggelora semangat dan nafsuku di pagi itu. "Uh.. uh.. uh.." suara-suara itu terus mendesah dan keringat kami terus menetes membuat tubuh kami seperti berkilat keemasan ditimpa seberkas sinar matahari. Tante Ratna pun yang meski sudah cukup berumur tapi tetap saja bugar dan segar. Mungkin semakin tua semakin berpengalaman kali yah? Sedangkan Michelle yang masih muda terus saja menampakkan semangat mudanya dengan jeritan-jeritan orgasme yang sungguh semakin membuatku merasa beruntung, sepertinya sekali mendayung 3 gunung kembar terlampaui. Aku benar-benar dibuat kecapekan. Sungguh liburan yang semula membuat bete menjadi liburan yang penuh kenangan.

Bagi para cewek, atau tante yang mau melampiaskan nafsunya hubungi saja aku via e-mail. Aku sangat senang bisa membantu kalian agar terpuaskan, mau mengalami seperti cerita tadi lewat permainan group juga kuterima. Mau 2 cowok dan 4 cewek juga tidak masalah. Aku sangat terobsesi sekali akan seks sejak pengalamanku. So, sekarang siapa yang selanjutnya mau mendapatkan pengalaman seks yang indah dan tak terlupakan bersamaku, jangan ragu-ragu hubungi e-mailku. Aku senang bisa memuaskan teman-teman cewek sekalian. Bagi yang belum berpengalaman, setelah kita bersama pasti akan menjadi suatu pengalaman yang mengesankan selama hidup. So tunggu apa lagi, kalau ada yang tertarik silakan hubungi aku via e-mail dan segera dapatkan pengalaman menarik bersamaku.

TAMAT

Aku, Narsih dan Mbak Murti

Namaku Damar, 25 tahun, baru lulus Universitas. Sambil menunggu kesempatan untuk dapat mulai bekerja, sekarang aku meneruskan program S-2 di Universitas yang sama. Sampai saat ini aku belum punya pacar, meskipun teman wanitaku cukup banyak, dan pergaulanku dengan mereka termasuk kategori 'biasa-biasa' saja.

Sejak lulus SMA di Jawa Tengah, aku tinggal dengan Pak De di kawasan perumahan eksklusif di kawasan Jakarta Selatan. Pak De dan Bu De, yang menyayangiku adalah 'pasutri' yang sangat sibuk dengan kegiatan bisnis dan sosial mereka masing-masing. Berusia 60-an, mereka berdua adalah cerminan kaum feodal Jawa yang masih sangat konservatif. Ketiga orang anak-anak mereka sudah berumah tangga dan semua tinggal di luar negeri. Ini membuatku jadi seolah seorang pangeran yang kesepian, dan sebagai seorang introvert. Aku banyak menghabiskan waktu di puri yang megah namun kosong ini.

Salah satu dari berbagai kesukaanku adalah menonton film hardcore di home theater, tentu ketika Ndoro-ndoro itu tidak sedang di rumah. Terkadang ketika aku tidak dapat lagi menahan gejolak birahi, maka aku 'melepas'-nya dengan bermasturbasi di kursi kegemaran Pak De. (Aku tidak pernah lupa menyediakan sekotak tissue di dekatku.)

NARSIH

Pembantu Rumah Tangga (PRT) kepercayaan Bu De. Dari 3 orang PRT disitu, hanya dia lah yang diperbolehkan masuk ke 'ruangan dalam' untuk membersihkannya. Berkulit mulus layaknya mojang Priangan, janda menawan beranak satu asal Sukabumi ini menurut perkiraanku berumur 30-an. Seringkali tubuhnya yang sintal dan terawat baik itu mengisi 'laporan' (lamunan porno)-ku. Hanya karena pengaruh ajaran keluarga, yang dengan tegas menganut perbedaan 'kelas' (antara majikan dan pembantu), yang masih bisa mencegahku untuk 'mendekatinya'.

Satu kejadian yang sangat memalukan tapi sekaligus mendebarkan terjadi ketika aku sedang bermasturbasi sambil menonton adegan lesbian favoritku. Di saat aku sedang orgasme, maniku bermuncratan, dan aku mengerang dalam nikmat, masuklah Narsih.
"Eh, ada Aden disini, kirain teh kosong, sayah cuma mau bersihin kok. Punten nya', nanti aja kalau Aden udah selesai, sayah balik lagi."
Aku yakin bahwa sebenarnya, tanpa sepengetauanku, dia sudah cukup lama ikut menonton bermacam adegan, dan mengamati dari awal permainan soloku.

Sejak peristiwa itu aku bertekad untuk membalas dendam dengan cara mengintip ketika dia sedang mandi, atau berganti pakaian di kamarnya. Suatu ketika aku bahkan pernah melihatnya sedang bermasturbasi, meremasi payudara dan memelintir puting-putingnya, jari-jarinya yang lentik mempermainkan klitoris, dan keluar-masuk vulva-nya. Sampai akhirnya dia merintih, mengerang dalam klimaksnya. Dan aku pun 'menemani'-nya dalam orgasme dari kejauhan. (Aku selalu membawa beberapa lembar tissue di kantongku saat mengintip Narsih.)

MBAK MURTI

Bu Murti, istri pengusaha sukses ini tinggal hanya berselang 3 rumah jauhnya. Perbedaan umur yang cukup jauh tampaknya bukan penghalang dalam menjalin persahabatannya dengan Bu De, sehingga dia sudah terbiasa dan leluasa bergerak di rumah kami. Sejak pertama diperkenalkan kepadanya, aku tidak pernah berhenti mengaguminya. Ibu dari 2 anak ABG, yang sangat paham merawat kecantikan dan tubuhnya ini seringkali kuajak 'kencan' dalam fantasi liarku. Semula Bu De mengharuskan aku menyapanya dengan "Bu", tapi suatu kali justru Mbak Murti yang menegaskannya sendiri.
"Mbakyu, Dik Damar dan saya 'kan hanya terpaut beberapa tahun saja, dia masih pantas menjadi 'adik' saya." katanya waktu itu. (Ooh.., terima kasih Mbak Murti.)

TIGA-SERANGKAI

Suatu waktu Pak De dan Bu De bepergian cukup lama ke luar negri menengok cucu-cucunya. Siang hari itu aku sedang asyik dengan menonton film XX kegemaranku, dan bersiap untuk bermain solo. Tiba-tiba ketika aku sedang bersiap melepas celana, entah sudah berapa lama dia mengamati 'kesibukan'-ku, di sampingku berdiri Mbak Murti.

Dalam pakaian tennis (gaun sangat pendek dan t-shirt ketat) dia menampakkan kemolekan lekuk tubuhnya. Dan tanpa basa-basi lagi dia berlutut di depanku.
"Sini Damar, biar saya bantu."
Dengan sangat santun dan ramah dia mengatakan bahwa dia dapat memahami keadaanku, dan dalam suara yang mulai serak dia masih sempat memuji bahwa aku adalah anak muda yang baik karena ternyata lebih memilih swalayan daripada jajan ataupun bermain sex bebas.

Selanjutnya, tanpa berkata sepatah pun, kedua tangannya dengan leluasa mulai melepas bajuku. Bibirnya yang sering aku khayalkan menciumiku mulai menjelajahi leher, telinga dan dadaku, lidahnya juga seakan tak mau kalah beraksi. Aku semakin tenggelam dalam kolam kenikmatan waktu Mbak Murti menjilat, mengecup, dan menggigit kecil puting dadaku. Jemarinya mulai mengelus penisku, sekejap kemudian, dalam satu gerakan yang sangat cepat, dilepasnya celanaku, dan aku yang tak berdaya telah telanjang, duduk di kursi Pak De. Mbak Murti semakin tak terkendali, darah semakin mengalir deras ke penisku, keras-panjang-tegak-menantang.

"Aaahh..!" desah panjang Mbak Murti, nafasnya yang panas terasa sangat dekat di sekitar bawah perutku, penisku yang telah dalam genggamannya tak dilepasnya lagi.
"Oohh.., Mbaak..!" terucap dari mulutku saat dia mendaratkan lidahnya di 'leher' penisku.
Disitu dia memutar dan memainkan lidahnya, aku tak dapat menahan keluarnya cairan kentalku.
"Mmm.., Damar..!" dan dengan tatap kagum pada penisku (panjang 18 cm, lingkar 5 cm) dijilatinya protein yang mengalir dari tubuhku itu.
Satu tangan Mbak Murti mulai menggenggam dan meremas lembut, lalu lidahnya berpindah menjilati setiap milimeter kantong bijiku. Di 'ambil'-nya bijiku dengan bibirnya, lalu dikulum dalam mulut, seakan ingin ditelannya.

Dia melihat juice mengalir lagi dari ujung penisku, tanpa membuang waktu sedetik pun dikatupkannya kedua bibirnya pada mahkotaku. Inilah oral sex-ku yang pertama. Terus perlahan dia berusaha memasukkan seluruh penisku ke dalam mulutnya, bibir dan lidahnya seakan berlomba, naik-turun-naik-turun menelusuri penisku. Aku tidak sedang berkhayal, badanku terasa ringan serasa melayang tinggi saat dia tersengal megatakan, "Masih tahan Damar..? Tunggu saya ya, plee..ase..!"

Mbak Murti bangkit, seperti kesurupan dia tanggalkan seluruh pakaiannya, dan dengan gaya yang sangat binal dia baringkan tubuhnya di selembar kulit domba New Zealand yang terhampar di lantai.
"Damar, kamu tau apa yang harus kamu lakukan.." katanya, dan tiba-tiba aku bukan lagi jejaka pemalu.
Seluruh ingatanku (dari 'pelajaran' di film) kukerahkan. Aku seolah menjelma menjadi cowboy yang sedang bersiap menundukkan kuda betina yang sedang birahi ini. Tak ada waktu lagi menciumi bibirnya yang merekah dan merangsang. Kuraih payudaranya, aku sempat melirik BH-nya yang berukuran 34C, dan tak kulepaskan. Kedua putingnya yang meregang kupelintir pelan sampai dia mengerang dalam kenikmatan. Kujilati, kulum, dan hisap keduanya tanpa ampun.

Sekejap dengan sigapnya dia menyergap kepalaku dan, tanpa berkata apapun, mengarahkannya ke bawah perutnya. Aku ragu sejenak, tapi sudah cukup aku melihat bagaimana lelaki pun ternyata dapat memberikan cunnilingus, dan sekaligus menikmatinya. Dengan rakus aku melahap apa yang ada di hadapanku, klitorisnya yang telah mencuat tampak mengkilat dilumuri cairan yang menggenang di vulva Mbak Murti. Bukit vagina tertutup bulu kemaluannya yang digunting pendek dan terawat rapih mengundangku untuk berlama-lama menikmati keindahan ini sambil berpindah ke posisi 69.

Bertubi-tubi kuluncurkan lidahku, keluar-masuk, naik-turun, sambil sekali-sekali bersama jariku menggoda sang 'Dewi Clitoris'. Mulutku tak hentinya meneguk segarnya air danau senggama ini. Kurasakan otot-otot Mbak Murti menegang, dan Mbak Murti berteriak dalam ledakan orgasme yang tak terkendalikan lagi.
"Ooohh.. Hhh.., Daamm.. Ar.. Yess, Yess, Damar..! Aaa.. hh..!"
"Aden..! Ibu Murti kenapa..?" masuklah Narsih tergopoh-gopoh.
Dari kamar mandi, Narsih yang tubuhnya masih basah hanya dibalut handuk, tampak jelas gemetar menyaksikan pemandangan yang dilihatnya. Seperti lemas tanpa tulang dia roboh terduduk di sampingku, handuk pembungkus tubuhnya terlepas.

Sebelum Narsih sempat menyadarinya, aku tarik tubuh janda molek ini. Tubuhnya terbaring menggelepar ketika aku lampiaskan semua khayalanku yang selalu berakhir di lembar-lembar tissue selama ini.
"Aden, Aden, Aden..!" hanya itu desahnya.
Kudaratkan rudalku di lembah payudaranya, aku gesekkan ke putingnya, tampak dia menggelinjang. Lalu aku bangkit tepat di hadapannya, "Den Damar, kok jadi seperti di pi.." kalimatnya (maksud dia pilem) tidak selesai karena penisku sudah membungkam mulutnya.

Dengan mata tertutup aku sangat menikmati permainan seruling janda Sukabumi ini, sampai ketika tiba-tiba alunan nadanya terasa faals. Ketika aku membuka mata ternyata Mbak Murti yang untuk beberapa saat tadi KO-lah penyebabnya. Kulihat dari belakang Narsih, satu tangan Mbak Murti meremas payudara Narsih, sementara satunya lagi mengobok-obok 'momok' (Sunda: vagina)-nya. Melihat adegan ini aku memutuskan untuk istirahat sejenak menjelang final round nanti. Sekarang Narsih lah yang berjaipong tanpa protes sedikitpun atas iringan degung Juragan Murti.

Gila, semua fantasiku jadi kenyataan, sementara di layar muncul adegan lesbian, di depan mataku dua perempuan, yang katanya berbeda 'kelas' (tapi tak ada batas lagi kan?) beraksi. Mbak Murti tanpa sungkan lagi langsung menyodorkan clitoris nya ke mulut Narsih yang langsung melahapnya seakan sedang menikmati jagung bakar di Puncak, tangan Mbak Murti menuntun tangan Narsih ke payudaranya. Narsih tetap patuh ketika jemari Mbak Murti menelusuri 'momok'-nya, tapi segala sesuatu ada batasnya. Nurani perempuan desa lugu yang lama tak tersentuh lelaki ini akhirnya bicara.
"Den Damar, saya pingin dirojok pake kontolnya Aden."
Mbak Murti terhenyak, "Nggak bisa Narsih, saya harus duluan! Nanti kalau kontol Damar masih bisa ngaceng, baru giliran kamu. Pokoknya nggak bisa, harus saya duluan!"

Narsih pasrah, "Yah, kalau memang begitu mah, terserah Juragan ajah."
"Damar, fuck me, now, please..! I want your cock inside my pussy."
Too good to be true. Penisku yang memang sudah semakin berat di ujungnya ini segera meluncur ke sasaran pertamanya. Sewaktu penisku mulai masuk ke dalam, dan memompa Mbak Murti, kulihat Narsih 'sibuk' sendirian bermasturbasi. Rupanya tembakanku tepat, bull's eye! Hanya sebentar aku menunggangi Juragan kuda binal ini, dia menyerah.
"Damar, aku keluar sekarang. Fuck me, fuck me. Aaa.. ah, yess!"
One down, one to go.

Kali ini aku tak boleh membedakan kedua perempuan itu, mereka harus mendapatkan apa yang diinginkannya. Perlahan aku memisahkan diri dari Mbak Murti yang sudah tak berdaya lagi, dan beringsut ke arah Narsih yang tahu bahwa sekarang gilirannya.
"Den Damar, punten, sayah pingin seperti yang di pilem itu. Dirojok sembari nungging!"
Edan, dasar janda doyan, kataku dalam hati. Pelan tapi pasti aku tak ingin mengecewakan PRT Bu De-ku yang setia ini. Ternyata goyang, gitek, geyol, dan sedotan mojang ini istimewa. Aku hampir kewalahan berjaipong dengan Narsih, ini harus ditancep seperti wayang golek di batang pisang, pikirku.

Tanpa peduli lagi, aku pindah versnelling 2.
"Adee.. een, kontol Aden enak, aduh saya kayak terbang, terus tancep Den Damar. Ampun, Aden, aduh Emak, sayah keenaa.. aakan, Ade.. een..!"
Game is not over, pikirku begitu masih berdiri di belakang Narsih dengan penis yang sangat keras dan berdenyut-denyut.
"Damar, kamu hebat!" celetuk Mbak Murti, sambil merangkak dia beringsut mendekatiku lagi.
"Narsih, kesini kamu..!" perintahnya, "Sekarang kita kerjain Damar berdua, ya. Nanti kalau maninya keluar ("mani itu pejuh, ya Juragan?" tanya Narsih polos,) kita pakai buat luluran. Maninya lelaki bisa bikin kulit kita jadi halus."

Dengan kompak mereka mulai 'bekerja'. Mbak Murti dengan telaten mengocok batang penisku, sementara Narsih dengan patuh menjilati kantong bijiku. Disinilah batasku, aku meledak sejadi-jadinya. Hampir tak mampu lagi rasanya aku berdiri selagi maniku menyemprot dengan deras, kedua perempuan itu berusaha keras untuk mencegah ada yang tercecer. Dengan sungguh-sungguh diulaskannya saripati kelelakianku ke tubuh-tubuh mereka yang molek itu.

Entah berapa jam kemudian ketika aku terbangun, Mbak Murti tak nampak lagi disitu. Tapi kulihat Narsih memandangiku tersenyum sambil membersihkan arena tempat permainan rodeo tadi. Narsih menyerahkan secarik kertas dari Mbak Narti.
You are a real Cowboy!, begitu tulisnya.
Sampai sebelum Pak De dan Bu De kembali, beberapa kali kami mengulang permainan ini. Setelah mereka pulang, bagaimana? Aku belum tahu, karena sekarang aku harus pergi menjemput mereka ke Cengkareng.

TAMAT

Akibat Tarzan - 1

Hari itu adalah hari Minggu. Aku dan 2 temanku Indah dan Citra berencana pergi liburan ke puncak, ke villanya Citra. Hari Minggu itu kami pergi ke sana untuk refreshing seperti biasa karena Seninnya tanggal merah atau libur. Aku, Indah dan Citra adalah teman baik. Kami sudah berteman sejak dari SMA. Sebenarnya ada satu orang lagi teman kami yang tak bisa ikut hari itu, namanya Ratna. Dia tidak bisa ikut karena ada acara dengan keluarganya.

Kami sama-sama terbuka tentang seks dan sama-sama penggemar seks, kami sering mengadakan acara party sex. Yang tentunya dengan cowok-cowok keren di kampus kami, ataupun dengan cowok yang baru kami kenal.

Indah adalah temanku yang paling imut. Dengan rambut yng panjang dan indah. dia sangat menjaga keindahan rambutnya. Hampir tiap minggu dia ke salon. Kulitnya putih bersih seperti layaknya putri keraton. Namun dibalik wajah imutnya dia adalah cewek yang pintar memanfaatkan cowok. Sudah berkali-kali dia ganti pacar gara-gara sifat materenya. Malah tak jarang dia mau aja diajak om-om yang sudah tua, asal mau dibayar mahal.

Sedangkan Citra adalah temanku yang paling lucu. Dia dikarunai wajah yang cantik dengan bokong yang padat. Dengan tampang yang rada-rada indo, ia dengan gampang mendapatkan cowok yang disukainya. Apalagi ditunjang dengan bodinya yang aduhai, yang selalu mengundang pikiran kotor cowok-cowok. Tapi di balik wajahnya yang lucu itu, ia adalah cewek yang hiper sex. Dia sangat suka ML dengan satpam, tukang air, tukang bangunan dan sopir pribadinya. Pokoknya orang-orang yang pekerja kasar. Tapi dia tidak terlalu suka pacaran. Dia memilih hidup jomblo. Dengan jomblo ia bebas mencari cowok untuk diajak naik ranjang.

Sedangkan aku, dikaruniai tubuh tinggi semampai dengan buah dada yang bulat montok. Diantara ketiga temanku dadakulah yang paling indah. Apalagi jika aku sedang menggunakan pakaian ketat atau full press, pasti membuat pikiran kotor para cowok melayang-layang. Dan aku sangat senang jika ada cowok yang mengagumin kemontokan dadaku. Aku senang membayangkan mereka onani sambil membayangkan aku. Aku juga termasuk cewek yang senang banget ml. Mungkin gara-gara masih muda (aku masih 20 tahun), libidoku sangat cepat naik. Entah sudah berapa cowok yang pernah tidur denganku. Entah sudah berapa banyak penis yang pernah masuk ke vaginaku. Tapi aku menikmatinya tanpa merasa bersalah. Toh masa muda harus dinikmati. Bukankah begitu?

Pagi itu kami siap-siap pergi ke villanya Citra. Setelah menbawa perlengkapan kami pergi menggunakan mobilku. Sebelum berangkat aku sempat bertengkar dengan Citra, gara-gara aku dilarang bawa cowok-cowok yang sering diajak ke villanya Citra. Begitu juga Indah yang ikut mendukungku karena pacarnya juga tidak boleh diajak.

"Emangnya kamu ngundang siapa lagi sih Ci, masa si Chevy aja nggak boleh ikutan?" kata Indah. "Iya nih, emangnya kita mau pesta lesbian apa, wah gua kan cewek normal nih" timpalku
"Udahlah, kamu orang tenang aja, cowok-cowoknya nanti nyusul, pokoknya yang kali ini surprise deh! Dijamin kalian puas sampe nggak bisa bangun lagi deh" aku heran dengan Citra hari itu. Tidak biasanya dia main rahasian seperti itu.

Tapi masa bodolah. Yang penting aku ingin cepat sampai disana. Supaya tahu siapa sih cowok yang diundang Citra. Apakah ganteng dan.. Sambil membayangkan kejutan yang dipersiapkan Citra, tiba-tiba birahiku langsung naik. Maklumlah sudah 3 minggu aku nggak ml. Aku baru putus sama cowoku. Waktu pacaran dulu minimal sekali 3 hari kami pasti ml. Aku dan mantanku sama-sama anak kost. So, gampang aja dia nginap ditempatku atau aku di tempatnya. Dan biasanya kalau nginap kami pasti 'fly to the sky'. Untuk mengurangi desakan birahi yang melanda, diam-diam aku membayangkan ada cowok yang keren dan berbody atletis mendatangiku dan mengajakku ml. Sambil membayangkannya aku menggesekkan pahaku, sambil memyetir. Sampai akhirnya aku rasakan basah di bawah tubuhku.

Beberapa jam kemudian kami sampai di villa Citra, Pak Indra penjaga villa Citra membukakan pintu garasi, bola matanya melihat jelalatan pada kami, terutama padaku yang hari itu memakai pakaian seksi berupa sebuah tank top merah berdada rendah dengan rok mini. Matanya tak henti-hentinya menatap dada dan pahaku. Tapi aku cuek aja. Aku senang diperhatikan seperti itu. Malah aku sengaja menurunkan tubuhku pura-pura mengabil barang dari bagasi. Sambil menunduk kulihat mata Pak Indra tidak berkedip melihat kearah dadaku yang semakin terbuka karena ku menunduk. Hampir semua buah dadaku kelihatan gara-gara aku menunduk terlalu rendah sedangkan leher bajuku juga sangat rendah. Aku dapat melihat jakunnya yang turun naik dan tojolan di balik celananya. Pasti habis ini dia onani he..he..

Setelah membereskan barang-barang bawaan Citra menyuruh Pak Indra pergi. Akhirnya kami makan dan beristirahat sebentar. Sekitar jam 4 sore Citra membangunkanku dan Indah.

"Eh.. sambil nunggu cowok-cowoknya mendingan kita berenang dulu yuk" ajak Citra pada kami. Dia melepaskan semua bajunya tanpa tersisa dan berjalan ke arah kolam dengan santainya
"Wei.. gila lo Ci, masa mau berenang nggak pake apa-apa gitu, kalau keliatan orang gimana?" tegur Indah.
"Iya Ci, lagian kan kalau si tua Imam itu dateng gimana tuh" sambungku
"Yah kalian, katanya mo party, masa berenang bugil aja nggak berani, tenang aja Pak Indra udah gua suruh jangan ke sini sampai kita pulang nanti" bujuk Citra sambil menarik tanganku.

Karena ditantang Citra akhirnya aku mulai melepas bajuku. Aku buka rok mini yang membalut pantatku dan segera melepaskan baju tanktop ku. Akhirnya aku tinggal memakai BH dan CD. Tapi itu tidak berlangsung lama karena segera kutanggalkan. Mula-mula kulepaskan BH ku yang dari tadi menutupi dadaku. Segera dadaku seperti ingin melompat keluar gara-gara BHku yang kekecilan. Aku memamerkan payudaraku pada Citra. Dia mencibirku. Setelah itu kulepaskan CD ku. Maka tidak ada lagi yang tersisa ditubuhku kecuali anting di telingaku. Kemudian aku melompat ke kolam menyusul Citra yang jago berenang.

Indah masih tampak malu-malu melepaskan bajunya. Tapi karena melihat aku dan Citra yang sudah telanjang, dia akhirnya melepaskan bajunya. Kulitnya yang putih bersih segera terpampang dihadapan kami. Dia kemudiam menyusul kami berendam di kolam.

Perlahan-lahan rasa risih kami pun mulai berkurang, kami tertawa-tawa, main siram-siraman air, dan balapan renang kesana kemari dengan bebasnya.

Sesudah agak lama bermain di air Citra naik ke atas dan mengelap tubuhnya yang basah, lalu menggunakan kimono.
"Ci, sekalian ambilin kita minum yah" pintaku.
"Ok, deh!" katanya. Aku kembali berenang kesana kemari. Sedangkan Indah yang sudah kecapaian memilih untuk tidur-tiduran di kursi panjang di tepi kolam. Aku tersenyum melihat gayanya yang santai. Sambil tiduran dia membuka kedua kakinya lebar-lebar, memamerkan vaginanya yang Indah. Kalau ada orang lain yang melihatnya seperti itu, pasti dia akan diperkosa habis-habisan.

Tak berapa lama kemudian Citra datang dengan membawa minuman.
"Ver, kamu bisa ke kamar gua sebentar nggak, gua mo minta tolong dikit nih" pintanya
"Kamu lap badan dulu gih, gua tunggu di dalam kamar" katanya sambil berlalu kekamar.

Kemudian aku melap badanku yang basah dengan handuk. Kemudian berjalan ke arah kamar dengan telanjang. Aku tinggalkan Indah yang sudah terlelap di tepi kolam.

"Kenapa Ci, ada perlu apa emang?" tanyaku.
"Ngga, cuma mau ngasih surprise dikit kok" jawabnya dengan menyeringai. Sebelum aku sempat membalikkan badan, sepasang lengan hitam sudah memelukku dari belakang dan tangan yang satunya dengan sigap membekap mulutku agar tidak berteriak. Aku yang terkejut tentu saja meronta-ronta, namun pemberontakkan itu justru makin membakar nafsu kedua orang itu.

Kemudian aku sadar bahwa yang memelukku dari belakang adalah Pak Indra, penjaga villa Citra, dan seorang temanya yang tidak kukenal. Pak Indra dengan gemas meremas payudaraku dan memilin-milin putingnya. Temannya berhasil menangkap kedua pergelangan kakiku. Dibentangkannya kedua tungkai itu, lalu dia berjongkok dengan wajah tepat di hadapan kemaluanku. Sambil menyentuhkan lidahnya ke liang vaginaku, dia juga mengeluar-masukkan jarinya dari vaginaku. Diperlakukan seperti itu aku cuma bisa merem melek dan mengeluarkan desahan tertahan karena bekapan Pak Indra begitu kokoh.
"Hei, jangan rakus dong Klas, dia kan buat Pak Indra, tuh jatah kamu masih nunggu di luar sana" kata Citra pada teman Pak Indra, yang kemudian kuketahui bernama Muklas.

Setelah Muklas keluar tinggallah kami bertiga di kamar itu. Pak Indra langsung menghempaskan diriku di ranjang yang empuk itu. Dia kemudian membentangkan tubuh mulusku di atas spring bed itu. Dia tak berkedip memanandang ke arah dada dan vaginaku. Mungkin seumur hidupnya baru kali ini melihat tubuh polos seorang gadis cantik, masih muda lagi. Kemudian tangannya yang kasar itu meremas-remas dadaku sambil memilin-milinnya. Dimainkannya putingku yang sudah berwarna kemerahan. Aku tidak dapat menolak lagi karena kurasakan perasaan yang nikmat yang sulit dilukiskan. Ada sensasi tersendiri kala tangan kasar itu menggerayangiku.

Sekarang tidak hanya tangannya lagi yang bermain-main di dadaku tapi juga mulutnya. Kurasakan mulutnya dengan rakus melumat dadaku.aku merasakan terbang ke awang-awang ketika ia mencoba memasukkan seluruh dadaku kedalam mulutnya yang besar itu.

Puas bermain di dadaku lidahnya menari-nari diperutku, lalu turun ke vaginaku. Dia memandangi vaginaku yang sudah basah oleh cairanku. Tapi tak berapa lama kemudian kurasakan lidahnya menyapu klitorisku. Lidahnya melakukan jilatan-jilatan dan menyedotnya. Tubuhku menggelinjang merasakan birahi yang memuncak.

"Aduh Ci.. tega-teganya kamu nyerahin kita ke orang-orang kayak gini.. ahh!!" kataku ditengah desahanku yang tertahan.
"Tenang Ver, ini baru namanya surprise, sekali-kali coba produk kampung dong" katanya seraya melumat bibirku.
Aku berpagutan dengan Citra beberapa menit lamanya. Jilatan Pak Indra mulai merambat naik hingga dia melumat dan meremas payudaraku secara bergantian, sementara tangannya yang sekarang mengobok-obok vaginanya. Aku merapatkan pahaku karena tidak tahan dengan permainan tangan Pak Indra di bawah sana. Desahanku tertahan karena sedang berciuman dengan Citra, tubuhku menggeliat-geliat merasakan nikmat yang tiada tara.

Sambil menjilati dadaku dengan rakus Pak Indra berkali-kali memuji payudaraku. Memang sih diantara kami bertiga payudaraku termasuk yang paling montok. Cowok-cowok yang pernah ML denganku paling tergila-gila mengeyot benda itu atau mengocok penis mereka diantara himpitannya. Pak Indra pun tidak terkecuali, dia dengan gemas mengemut dadaku yng kiri dan yang kanan. Puas menetek di dadaku, Pak Indra bersiap memasuki vaginaku dengan penisnya. Penisnya tidak terlalu panjang tapi diamaeternya cukup lebar. Tanpa memberi aba-aba dia langsung memasukkan penisnya yang besar itu ke vaginaku. Tentu saja aku menjerit tertahan karena mulutku masih berciuman dengan Citra.

"Ouch.. sakit Ci, duh kasar banget sih babu kamu" kataku sambil meringis dan mencengkram lenganku waktu penis super Pak Indra mendorong-dorongkan penisnya dengan bernafsu.
"Tahan Ver, ntar juga kamu keenakan kok, pokoknya enjoy aja" kata Citra sambil meremasi kedua payudaranya yang sudah basah dan merah akibat disedot Pak Indra. Pak Indra menyodokkan penisnya dengan keras sehingga aku pun tidak bisa menahan jeritanku, aku mau menangis menahan sakit. Pak Indra mulai menggenjotku. Dia menggejot seperti orang kesurupan. Untuk mengurangi rasa sakit di vaginaku tanganku menyelinap ke bawah kimono Citra dan menuju selangkangannya. Kugerayangin vaginanya.

Kemudian Citra naik ke wajahku berhadapan dengan Pak Indra. Aku langsung menjilati kemaluannya. Sambil menjilatin vagina Citra, kubantu Pak Indra membuka kimomo yang digunakan Citra. Sehingga tubuhnya sama polos sepertiku. Perlahan-lahan aku mulai merasakan nikmat di vaginanku. Pak Indra mulai teratur menggoyangkan pinggulnya. Tubuhku sudah penuh dengan keringat. Begitu juga dengan Pak Indra, tubuhnya yang ceking seperti datuk maringgi itu kelihatan mengkilat oleh keringat yang mengalir di tubuhnya. Sambil menjilati vagina Citra, aku meremas remas dadaku sendiri, sehingga semakin besar dan menonjol keatas. Aku merasakan sudah mulai keluar.

"Aahh.. oohh.. saya sudah mau.. Pak!!" erangku, sambil mengejang dan membusur ke atas. Pak Indra semakin memperdahsyat sodokannya dan semakin ganas meremas dadaku. Kemudian kurasakan basah di mulutku, ternyata Citra juga mengalami orgasme setelah kuoral beberapa lama. Akhirnya aku dan Citra orgasme bersamaan. Setelah aku ambruk ke samping, kulihat penis Pak Indra masih tegak berdiri. Malah kelihatan semakin mengkilat gara-gara dipenuhi cairan cintaku. Hebat juga dia, walaupun sudah berusia hamper 50 tahun, tapi masih kuat menggarap mahasiswi seperti kami.

Pak Indra kemudian menindih tubuhku dan mulai menciuminya, tangannya tak henti-hentinya menggerayangi payudara montokku, seolah-oleh tak ingin lepas darinya. Tapi itu tidak berlangsung lama Pak Indra cukup pengertian akan kondisiku yang mulai kepayahan, jadi setelah puas berciuman dia membiarkanku memulihkan tenaga dulu.

Bersambung . . .

Akibat Tarzan - 2

Dan kini disambarnya tubuh Citra yang sudah kepayahan. Tubuh Citra yang dalam posisi tengkurap diangkatnya pada bagian pinggul sehingga menungging. Dia membuka lebar bibir vagina Citra dan menyentuhkan kepala penisnya disitu. Benda itu pelan-pelan mendesak masuk ke vaginanya. Sambil menggenjot Citra dia meremas-remas payudaranya yang makin menantang gara-gara menungging. Citra yang sudah lemah hanya bisa mendesah sambil meremas-remas sprei.

"Aduhh.. aahh.. gila Ver.. enak banget!!" ceracanya sambil merem-melek wajahnya sudah memerah saking terangsangnya.

Sambil menggenjot Citra perlahan-lahan, tangan Pak Indra merayap ke pangkal pahaku. Dia membuka bibir vaginaku dan memasukkan jarinya. Aku yang masih lelah hanya bisa mengangkang sambil menghayati jari-jarinya yang keluar masuk vaginaku. Berbeda dengan menggenjot tubuh Citra dengan cepat, dia memasukkan dan mengelurkan jarinya dari vaginaku dengan lembut. Lama kelamaan aku merasakan nikmat dan ingin keluar.

"Oohh.. terus Pak.. kocok terus" desahku terus sambil meremas-remas dadaku sendiri.
"Yak.. dikit lagi.. aahh.. Pak.. sudah mau" aku mempercepat iramaku karena merasa sudah hampir klimaks.
"Neng Citra.. Neng Verna.. bapak juga.. mau keluar.. eerrhh" geramnya dengan mempercepat gerakkannya.

Jari-jarinya terasa menyodok semakin dalam bahkan sepertinya menyentuh dasar rahimku. Sebuah rintihan panjang menandai orgasmeku, tubuhku berkelejotan seperti kesetrum. Kemudian dia lepaskan penisnya dari vagina Citra dan berdiri di ranjang. Disuruhnya aku berlutut dan mengoral penisnya yang berlumuran cairan cinta. aku berlutut mengemut penis basah itu sambil tangan kananku mengocok vaginaku sendiri yang tanggung belum tuntas. Citra bangkit perlahan dan ikut bergabung denganku menikmati penis Pak Indra. Aku mengemut batangnya, Citra mengemut buah zakarnya, kami saling berbagi menikmati 'sosis' itu.

Di tengah kuluman ku mendadak kurasakan vaginaku dibawah sana makin banjir dan aku orgasme dari masturbasiku sendiri. Disusul beberapa detik kemudian, Pak Indra mencabut penisnya dari mulutku lalu mengerang panjang. Cairan kental berbau khas memancar dengan derasnya membasahi wajah kami. Kami berebutan menelan cairan itu, penis itu kupompa dalam genggamanku agar semuanya keluar, nampak pemiliknya mendesah-desah dan kelabakan.
"Sabar, sabar dong neng, bisa putus penis bapak kalau rebutan gini" katanya terbata-bata. Setelah tidak ada yang keluar lagi. Aku menjilati sisa sperma di wajah Citra, demikian pula sebaliknya. Akhirnya aku dan Citra ambruk kecapaian disusul Pak Indra yang ambruk di atas dadaku.

Aku tertidur sebentar dan terbangun ketika kurasakan bahwa hanya aku dan Pak Indra yang ada diranjang. Pak Indra tampak tertidur dengn wajah yang puas. Mungkin dia masih merasa mimpi bisa mengerjain 2 orang mahasiswa yang cantik-cantik dan berbody aduhai. Gratis lagi. Kurasakan lengket pada wajah dan sekujur tubuhku. Aku langsung pergi ke kamar mandi yang ada di kamar itu. Aku menguyur tubuhku yang masih belepotan sperma Pak Indra. Kuusap semua daerah-daerah sensitifku. Kubersihkan dadaku yang masih berwarna kemerahan. Kulihat banyak cupangan di sana sini. Kemudian aku membersihkan vaginaku yang masih terasa perih. Bagaimana tidak perih disodok penis sebesar penis Pak Indra. Padahal selama ini aku cowok-cowok yang pernah tidur denganku tidak ada yang memiliki penis seukuran Pak Indra. Aku tersenyum sendiri, ternyata bukan hanya Pak Indra yang beruntung bisa menikmati tubuhku, ternyata aku juga beruntung bisa merasakan penis supernya. Membayangkan hal itu tiba-tiba libidoku langsung naik, aku mulai meraba-raba vaginaku.

Setelah mandi aku melap tubuhku dengan handuk dan mengenakan kimono yang ada di kamar mandi itu, itu pasti punya Citra. Aku keluar kamar mandi, kulihat Pak Indra masih tertidur, mungkin dia masih kecapaian melayani 2 orang gadis sekaligus. Kulihat kearah penisnya yang sudah lemas. Tapi walupun masih lemas, penisnya lumayan besar juga. Gimana kalau sudah berdiri tegak? Perlahan-lahan aku dekati penis itu. Kusentuh dengan jari-jariku. Lalu kukocok-kocok. Perlahan-lahan ukurannya makin lama makin besar. Sambil mengocok-ngocok penis Pak Indra, perlahanlahan kemasukkan kemulutku. Kujilati dan kukulum. Selain itu jari-jari lentikku meremas-remas buah jakarnya. Kurasakan Pak Indra bangun. Setelah melihat apa yan kulakukan dia tersenyum sambil meringis merasakan kenikmatan. Mungkin baru kali ini penisnya di oral seorang gadis muda yang cantik. Mimpipun mungkin dia tidak berani.

"Aahh.. terus, Ver!" hanya itu yang keluar dari mulutnya.

Aku menjilati penis itu dengan sangat bernafsu. Sungguh besar penis itu, sehingga tidak muat di mulutku yang mungil. Paling yang masuk kemulutku hanya nya saja. Kemudian dia bangun dan berdiri dengan penis yang masih tertancap dimulutku. Dia memaju mundurkan penisnya di mulutku sambil tangan memegang kepalaku. Sampai akhirnya menyemprotlah maninya dimulutku. Satu.. dua.. tiga.. empat.. lima.. enam.. tujuh. Ada tujuh kali penisnya memnyemprotkan maninya dimulutku. Sebagian kutelan dan sebagian mengalir di sela-sela pipiku.

"Nikmat sekali Ver" katanya sambil ambruk di kasur yang empuk itu.
"Sabar ya.. bapak cari tenaga dulu. Entar giliran kamu yang bapak puasin.."

Aku membersihkan sisa-sisa sperma di bibirku. Aku merasa haus sekali. Kemudian aku ambil air di meja dekat jendela kamar itu. Aku minum satu gelas sampai habis. Ketika aku melihat ke kolam renang, kulihat disana adegan yang mendebarkan hati. Muklas, penjaga villa tetangga Citra, sedang menggenjot Indah di kolam yang dangkal. Indah dalam posisi berpegangan pada tangga kolam. Muklas dari bawahnya juga dalam posisi berdiri sedang asyik menggenjot penisnya pada vagina Indah dari belakang. Kedua payudara Indah bergoyang naik turun seirama goyang tubuhnya. Sedangkan Citra sedang duduk di pinggir kolam sambil mengelus-elus kemaluannya sendiri.

Muklas makin lama makin cepat menggenjot penisnya pada vagina Indah. Kedua payudara Indah bergoyang naik turun seirama goyang tubuhnya. Tubuh mungil Indah sudah tampak kewalahan. Apalagi menurut ceritanya Indah adalah cewek yang gampang banget orgasme jika lagi ML sama cowok-cowok di kampus kami. Apalagi dengan penjaga villa seperti Muklas, berbadan tegap dan masih muda serta memiliki penis yang nggak kalah besar dari Pak Indra. Pasti dia sudah orgasme berkali-kali.

Sambil melihat mereka aku mengelus-elus vaginaku sendiri. Tali kimomo yang kukenakan kulepas. Birahiku langsung naik melihat adegan di kolam. Entah mengapa aku cepat sekali BT(Birahi Tinggi) hari ini. Muklas memajukan mulutnya melewati ketiak Indah dan langsung menjilati payudara Indah dengan rakus. Indah makin menjerit-jerit. Jeritannya sampai ke kamar dimana aku berada. Indah tak kuasa menahan rintihannya setiap Muklas menusukkan penisnya, tubuhnya bergetar hebat akibat tarikan dan dorongan penis penjaga vila itu pada kemaluannya. Kemudian kulihat Indah mencengkram tangan Muklas dengan kuat. Tubuhnya menggigil dan menjerit tertahan. Ternyata dia orgasme.

Kemudian Indah naik ke kolam dan langsung ambruk di tepi kolam sambil menutup matanya. Pasti dia sangat kecapaian. Kemudian kulihat Citra mendekati Muklas. Muklas yang belum keluar, memamerkan penisnya yang besar ke arah Citra. Kemudian Citra turun ke air yang disambutnya dengan pelukan Muklas, tangannya mengelusi punggung Citra terus turun hingga meremas bongkahan pantatnya yang padat. Sementara tangan Citra juga turun meraih kemaluan Muklas. Kulihat mereka bercakap-cakap sebentar.

Kemudian diangkatnya badan Citra yang langsing dengan posisi kaki dipinggang Muklas. Diletakkannya tubuh mulus Citra pada lantai di tepi kolam, di sebelah Indah yang terkapar. Kemudian Muklas merapatkan badannya diantara kedua kaki Citra yang tergantung. Dengan sekali dorong tertancaplah penis Muklas di vagina Citra. Mereka melakukan push dan up secara teratur.

Saat asyik-asyiknya menikmati pemandangan erotis di tepi kolam, aku dikejutkan sebuah tangan kasar yang merabai dadaku. Aku menoleh sekilas ke belakang dan kulihat Pak Indra tersenyum sambil memilin-milin putingku. Aku masih meraba-raba vaginaku, sedangkan Pak Indra makin keras meremas payudaraku. Kurasakan sesuatu menyodok-nyodok pantatku dan kutahu bahwa itu adalah penis Pak Indra. Dia membalikkan tubuhku sehingga kami berhadap-hadapan. Diciumnya bibirku. Aku agak kewalahan dengan lidahnya yang bermain di rongga mulutku. Setelah beberapa menit baru aku bisa beradapatasi, kubalas permainan lidahnya hingga lidah kami saling membelit dan mengisap. Cukup lama juga kami berpagutan, dia juga menjilati wajahku yang halus tanpa jerawat sampai wajahku basah oleh liurnya.

Dia mulai menciumiku dari telinga, lidah itu menelusuri belakang telingaku juga bermain-main di lubangnya. Dengusan nafas dan lidahnya membuatku merasa geli dan menggeliat-geliat. Mulutnya berpindah melumat bibirku dengan ganas, lidahnya menyapu langit-langit mulutku, kurespon dengan mengulum lidahnya. Tanganku meraba-raba ke bawah mencari kemaluannya karena birahiku telah demikian tingginya, tak sabar lagi untuk dientot.

Kemudian tubuhku diangkatnya ke meja, lalu di baringkannya. Vaginaku semakin merekah karena posisiku yang telentang, apalagi aku sengaja mengangkangkan kakiku. Dia mengelus-elus bibir vaginaku. Aku mendesah makin tidak karuan ketika lidahnya bermain-main disana, ditambah lagi dengan jarinya yang bergerak keluar masuk.

"oh.. terus, pak!" hanya itu yang keluar dari mulutku.

Aku sampai meremas-remas payudara dan menggigit jariku sendiri karena tidak kuat menahan rasanya yang geli-geli enak itu hingga akhirnya tubuhku mengejang dan vaginaku mengeluarkan cairan hangat. Dengan merem melek aku menjambak rambut Pak Indra yang sedang menyeruput vaginaku. Perasaan itu berlangsung terus sampai kurasakan cairanku tidak keluar lagi, barulah dia melepaskan kepalanya dari situ, nampak mulutnya basah oleh cairan cintaku.

Belum beres aku mengatur nafasku yang memburu, mulutku sudah dilumatnya dengan ganas. Kurasakan aroma cairan cintaku sendiri pada mulutnya yang belepotan cairan itu.
"Ayo.. Pak masukkan" teriakku.

Kulihat penis Pak Indra sudah berdiri dengan sangat tegak. Kuraih benda itu kutuntun memasuki kemaluanku, tangan kanan Pak Indra ikut menuntun senjatanya menembaki sasaran. Saat kepala penisnya menyentuh bibir kemaluanku, dia menekannya ke dalam, mulutku menggumam tertahan karena sedang berciuman dengannya. Ciuman kami baru terlepas disertai jeritan kecil ketika Pak Indra mengehentakkan pinggulnya hingga penisnya tertanam semua dalam vaginaku. Pinggulnya bergerak cepat diantara kedua pahaku sementara mulutnya mencupangi pundak dan leher jenjangku. Aku hanya bisa menengadahkan kepala menatap langit dan mendesah sejadi-jadinya. Tubuhku tersentak-sentak tak terkendali, kepalaku kugelengkan kesana-kemari, kedua payudaraku yang terguncang-guncang tidak luput dari tangan dan mulut Pak Indra. Aku memperhatikan penisnya sedang keluar masuk di vaginaku.

"Ah.. terus pak.. terus!" desahku.
"Vagina Neng seret amat ya.. serasa masih mimpi bapak!" katanya sambil menggoyang-goyangkan pinggulnya.
"Payudara Neng juga montok. Mimpi apa bapak semalam bisa ML dengan gadis cantik seperti Neng" katanya lagi disusul meremas-remas dadaku. Aku hanya bisa merintih-rintih, apa yang dibilang Pak Indra tidak kuperhatikan lagi. Susah payah aku bertahan agar tidak keluar dulu. Aku ingin Pak Indra takluk dihadapanku. Tapi aku sudah tak tahan lagi, kulihat langit-langit kamar sudah berbayang-bayang disusul dengan cairan bening mengalir deras dari vaginaku.

"Pak.. aku.. keluar.." teriakku.

Tanpa memberiku istirahat, kemudian Pak Indra membalikkan badanku sehingga tanganku bertumpu pada meja. Kemudian kurasakan penisnya menyeruak ke vaginaku. Aku hanya bisa menahan nafas dan menggigit bibir saat penisnya mulai keluar masuk. Aku merasakan nikmat yang tiada tara ketika penisnya dengan cepat menerobos vaginaku. Aku terlonjak-lonjak ke depan sampai payudaraku menempel pada kaca jendela. Mulutku megap-megap dan terkadang meringis. Aku bisa melihat ke tepi kolam, d imana Muklas dengan gencar menikmati tubuh putih Citra. Sampai-sampai dada Muklas tertekan ke dada Citra yang bulat menggiurkan itu. Kedua kaki Citra menggelepar-gelepar menepuk permukaan air.

Kemudian aku memfokuskan diri pada Pak Indra, yang nampaknya masih belum ada tanda-tanda orgasme. Aku sudah lemas sekali. Sambil mengoyangkan pinggulnya kepala Pak Indra menyeruak melewati ketiakku dan langsung menciumi dadaku yang paling disenanginya. Aku hanya bisa merintih dan menjerit sebisaku saat mulutnya dengan rakus menjilat dan sekali-kali menggigit puting susuku, sehingga membuatku makin ke awang-awang.

Frekuensi sodokannya makin lama makin cepat, aku mulai menggila dan mulai menjerit sekuat-kuatnya beradu dengan erangannya dan deritan meja yang ikut bergoyang. Dia mencengkram kedua tangannya di dadaku. Kurasakan kukunya mencengkeram dadaku yang montok. Aku merasakan sakit disana, tapi tidak sebanding dengan sensasi yang kudapat. Hujaman-hujamannya kurasakan nikmat disekitar tubuhku.

"Ahh..!" aku tiba-tiba menjerit kecil ketika kurasakan cairanku ingin meledak keluar. Aku mendesah panjang tak kuasa menahan orgasmeku yang kedua. Masih dalam suasana orgasme, Pak Indra terus mengenjotku, sehingga orgasmeku semakin panjang. Aku seperti berada di puncak awan. Sel-selku sepertinya pecah dan tulang-tulangku seperti dilolosi. Aku tengkurap diatas meja tidak tahan lagi menahan berat tubuhku. Aku sangat lemas sekali. Pak Indra ternyata sangat hebat, nggak tahu apakah dia tadi memakan obat kuat dulu ataukah memang kemampuannya yang dasyat. Aku hanya mendesah desah saat penis hitamnya itu masih terus menyodok nyodok vaginaku tanpa memberi istirahat.

Kemudian Pak Indra menjambak rambutku sehingga aku tertarik kebelakang. Dia meremas dadaku dengan keras. Yang kurasakan sekarang sakit pada rambut dan dadaku tetapi sangat nikmat pada vaginaku.

"Sebentar lagi.. sebentar.. lagi..!" erangnya.

Aku sudah sangat lemas, hanya tarikannya pada rambutku yang menopang tubuhku. Kemudian dengan tiba-tiba dia melepas penisnya lalu menggendong tubuhku yang sudah sangat capek kearah tempat tidur. Tubuhku dihempaskan disana. Aku bisa melihat penisnya yang mengkilat gara-gara cairan cintaku. Dengan sekali sentakan masuklah penisnya yang besar itu ke vaginaku. Aku hanya bisa mendesah dan mengerang, tak kuasa mengalami sensasi yang kualami.

Setelah lima menit menyodok dengan gaya itu. Dia mengeluarkan penisnya dari vaginaku, kemudian menjepitnya di dadaku. Digesek-geseknya penisnya di dadaku yang lumayan besar. Aku mendesah-desah setiap penis itu melewati pangkal dadaku. Hal itu berlangsung sekitar 5 menit. Kemudian kulihat Pak Indra mengerang sambil menyebut-nyebut namaku. Lalu muncaratlah spermanya yang mirip susu kental itu di wajah dan mulutku. Aku yang sudah lemas hanya bisa membuka mulut. Kurasakan sperma dari wajahku mengalir masuk ke mulutku. Aku hanya bisa ternganga menikmati suasana itu. Sampai cairan spermanya masuk ke sela-sela mulutku. Setelah puas menuntaskan hajatnya Pak Indra memintaku membersihkan barangnya. Dengan terpaksa aku bangun dan mulai membersihkan penis yang hitam besar itu. Kemudian kami sama-sama ambruk.

"Kamu hebat, Ver!", katanya "lain kali kalau bapak ajak ML lagi, mau ya!"
Aku hanya mengengguk. Tentu saja aku mau dengan orang seperti Pak Indra, dimana aku bisa orgasme berkali-kali.

Bersambung . . . .

Akibat Tarzan - 3

Keesokan harinya..
Pagi-pagi sekali aku sudah bangun. Cuaca yang dingin membangunkanku dari tidur. Kulihat jam di kamar menunjukkan pukul 6 pagi. Aku masih telanjang, kulihat Indah dan Citra juga masih tertidur disampingku. Mereka juga sama-sama telanjang, nampak mereka sangat kelelahan. Kemudian aku teringat bahwa tadi malam kami baru mengadakan party sex. Gila juga Pak Indra dan Muklas. Indah yang kalah bermain poker harus rela tubuhnya menjadi santapan Pak Indra dan Muklas. Walau awalnya meronta-ronta tapi akhirnya dia pasrah juga. Dia dikerjaiin hampir orgasme berkali-kali. Penjaga villa itu sepertinya nggak ada habis-habisnya. Habis menggenjot Indah dia menggenjotku dan Citra lagi secara bergantian. Aku sudah 3 kali orgasme sedangkan Indah dan Citra masing-masing 4 kali. Total kami sudah orgasme 10 kali sedangkan mereka berdua baru satu kali satu kali. Mereka jauh lebih hebat dari cowok-cowok di kampus kami dan cowok-cowok yang pernah tidur denganku.

Kemudian aku bangun, masih terasa lengket pada mulut dan seluruh badanku, lengket gara-gara sperma atau air liur. Kulihat ke sebelahku Indah dan Citra juga nggak jauh beda, buah dada Citra yang sekal nampak kemerahan dan ada bekas cupang di sana sini. Sedangkan pada mulut dan wajah Indah banyak sisa-sisa sperma.

Aku coba untuk memejamkan mata, berusaha untuk tidur, tapi tidak bisa. Kemudian kuputuskan untuk mandi. Air yang sangat dingin di puncak dapat menyegarkan tubuhku. Pelan-pelan kurasakan enak di badanku. Sehabis mandi kuputuskan untuk lari pagi sambil menikmati udara puncak yang segar. Segera kugunakan celana pendek yang sangat ketat sehingga celana dalamku tercetak disana. Lalu kugunakan baju tangan panjang karena cuaca dingin. Kemudian aku lari pagi menikmati udara puncak yang dingin.

Setelah capek lari pagi, akhirnya aku balik ke villa. Citra dan Indah masih tertidur di kamar. Aku ingin membangunkan mereka tapi mereka masih tampak kelelahan sehingga kuurungkan niatku. Aku melap keringatku yang basah, kemudian aku ganti baju. Sebenarnya sih aku ingin telanjang saja sambil melakukan aktivitas di didalam villa. Tapi karena cuaca dingin kubatalkan niat "gila" ku. Kugunakan tanktop warna merah kesukaanku dan celana pendek yang fuul press. Sehingga menampakkan keindahan tubuhku. Aku tak henti-hentinya menatap tubuhku yang indah di meja rias. Aku saja sangat mengaguminya, gimana lagi dengan cowok-cowok?

Kemudian aku pergi ke dapur. Aku ingin memasak supermi, karena perutku sangat lapar. Aku ingin menghidupkan kompor tapi nggak ada korek api. Lalu kucari Pak Indra.

"Pak.. Pak Indra!" teriakku mencari Pak Indra. Ternyata Pak Indra sedang menyapu halaman di belakang.

"Pagi Neng!" katanya melihatku.
"Sudah bangun ya?"
Aku hanya mengangguk sambil meminta korek darinya.
"Neng, tadi malam asik banget ya" katanya sambil memberi korek
"Mau nggak nanti bapak entot lagi?"

Aku hanya mengangguk. Nggak ada puas-puasnya si tua bangka ini mengerjain tubuhku. Sudah hampir seharian kemarin dia memacu tubuhku dan teman-temanku, sekarang mau minta lagi.

"Tapi ntar aja ya pak, masih capek nih, lapar lagi!" kataku sambil pergi ke dapur.
Akhirnya aku memasak supermi dan makan. Sebenarnya aku ingin membangunkan kedua temanku. Karena aku ingin jalan-jalan bareng mereka. Tapi lagi-lagi kuurungkan niatku. Aku nggak tega juga menggangu tidur mereka. Mungkin nanti aja jalan-jalannya setelah mereka bangun, pikirku.

Setelah selesai makan aku pergi ke dapur untuk membereskan piring kotor. Selagi aku mencuci piring, Pak Indra datang kedapur. Kami bercakap-cakap tentang berbagai hal. Tentang istrinya yang sudah lama pergi meninggalkannya, sehingga dia sangat sulit untuk melampiaskan nafsunya jika lagi "pengen". Sambil bercakap-cakap Pak Indra tak hentinya melihat-lihat tubuhku. Dia mencuri-curi melihat dadaku dari celah tanktopku yang tak tertutup. Dia juga sesekali melihat pantatku yang bulat menonjol. Apalagi jika aku memakai celana ketat seperti ini. Pasti membuat libidonya serasa meledak-ledak

Kemudian Pak Indra mendekatiku dari belakang. Pertama-tama dia mengelus-elus lenganku yang putih mulus. Kubiarkan tangannya itu mengelus-elus tanganku. Dia mendekatkan mulutnya ke leher jenjangku. Dijilatinya dari atas sampai ke bawah. Tangannya yang kasar meremas-remas payudaraku dari luar sementara tangannya yang lain mengelus-elus pantatku.

Perlahan-lahan dilepaskannya celana ketatku beserta CDnya. Pantatku yang mulus dan sekal terpampang jelas didepan matanya.
"Ini baru namanya pantat" katanya sambil menepuk pantatku.

Kemudian disusul dengan melepas tanktop dan braku. Sekarang aku dapat melihat diriku yang telanjang bulat melalui cermin wastafel di hadapanku. Dan dari belakang kulihat dia sedang mengagumi tubuhku dan mengelus-ngelusnya. Tangan bergerak dari dada ke punggungku. Aku mendesah sambil menggigit bibirku. Bibirnya menjilati punggungku dan sesekali kepalanya menyeruak melewati ketiakku untuk mengulum payudaraku.

Kemudian dibentangkannya pahaku lebar-lebar, tangannya mulai merayap ke bagian selangkanganku. Jari-jari besar itu menyusup ke pinggir kemaluanku, mula-mula hanya mengusap-ngusap bagian permukaan saja lalu mulai bergerak perlahan-lahan diantara kerimbunan bulu-bulu mencari liangnya.

"Oh.." hanya itu yang keluar dari mulutku.

Kurasakan benda basah menggelitik klistorisku. Pak Indra kini berada di bawahku dan menjilati belahan kemaluanku, bukan cuma itu dia juga mencucuk-cucukan jarinya ke dalam lubang itu sehingga kemaluanku makin lama makin basah saja.

Aku sungguh tidak berdaya oleh permainan lidah serta jarinya pada vaginaku, tubuhku mengejang dan cairan cinta menyembur dengan derasnya, aku telah dibuatnya orgasme. Tubuhku lemas dan penuh keringat.

Kemudian dia menyelipkan penisnya diantara selangkanganku lewat belakang. Aku mendesis nikmat saat penis itu pelan-pelan memasuki vaginaku. Setelah masuk semuanya langsung digenjotnya. Mula-mula perlahan-lahan tapi lama-lama makin cepat. Aku tidak kuasa menahan desahan, sesekali aku menggigit bibirku menahan nikmat, serta menggeleng-gelengkan kepalaku ke kiri-kanan sehingga rambut panjangku pun ikut tergerai kesana kemari.

Cermin di depanku memantulkan bayangan wajahku yang sedang horny, mulutku mengap-mengap mengeluarkan rintihan terlebih ketika tangan kasar itu meremas-remas kedua payudaraku sambil sesekali dipermainkannya putingku yang sudah mengeras.

"Ooohh.. enak banget Neng " celotehnya.

Setelah 15 menit kurasakan genjotan Pak Indra makin lama makin cepat. Ditambah remasannya di payudaraku yang semakin kuat. Aku sungguh tidak berdaya oleh permainan penisnya pada vaginaku, tubuhku mengejang dan kurasakan cairan cinta menyembur dengan derasnya.

"Ooohh.. Neng.. bapak.. keluar!" dan disusul "Creett.. creet.." maninya menyemprot dengan deras ke vaginaku. Kurasakan maninya mengalir di sela-sela bibir vaginaku. Aku sangat lelah sekali. Dia menopang tubuhku agar tidak jatuh.

Kemudian dipapahnya tubuhku. Aku kira akan dibawa ke kamarku melainkan ke belakang melewati dapur. Dia membawaku kekamarnya, dibaringkannya tubuhku ke ranjang. Demikian lelahnya aku, sampai tubuh seperti lumpuh dan mata terasa makin berat. Sebelum terlelap aku masih sempat mendengarnya berkata dekat kupingku
"Vagina Neng enak banget, bapak jadi ketagihan nih!", kemudian aku tertidur dengan lelapnya.

Aku terbangun ketika kurasakan ada yang meraba-raba vaginaku. Aku mendesah nikmat, kubuka mata, Ahh.. aku terbangun.. aku Terkejut sekali. Begitu mata kubuka langsung nampak sesosok tubuh berada diantara kedua belah pahaku yang terbuka lebar. Ketika kesadaranku berangsur-angsur pulih nampak sosok lelaki muda berbadan tegap. Ternyata dia Muklas, wajahnya berada dekat vaginaku sambil mengorek-ngorek liang itu dengan jarinya.

"Sudah bangun Neng?" tanyanya sambil kepalanya tidak lepas dari vaginaku.

"Eh.. eh.." anggukku di sela-sela kenikmatan yang mulai merasuki tubuhku. Kulihat Pak Indra sedang beristirahat di kursi di pojok kamar sambil mengisap rokok.

Kemudian Muklas melepaskan bibirnya dari vaginaku dan melepas ikat pinggang usangnya, lalu membuka celana berikut kolornya. Maka menyembullah kemaluannya yang sudah menegang dari tadi. Penisnya lebih besar dari punya Pak Indra, berwarna hitam dan berurat, aku takjub melihatnya.

Beberapa saat kemudian dia merentangkan kedua pahaku, betisku dinaikkan ke bahunya
"Neng.. bapak ewe sekarang ya!" kata Muklas tidak sabaran.
Aku melihat miliknya mulai mendesak masuk ke vaginaku,
"Ahk..ahh..!" itulah yang keluar dari mulutku saat dia menekankan dalam-dalam penis supernya hingga amblas seluruhnya, aku meringis sambil mencengkram lengannya.

"Ooohh.." Muklas mendesah setelah berhasil menancapkan kejantanannya di dalam kemaluanku.

Aku mulai merasakan penis itu bergerak keluar masuk pada vaginaku, mula-mula gerakan itu lembut, namun lama-lama bertambah kencang dan kasar. Aku mendesah-desah tidak karuan. Ditambah lagi tangannya yang ikut serta menggerayangi dadaku. Semakin membuatku menjadi-jadi. Pak Indra yang semula tadi hanya menganggur mulai datang mendekati ranjang. Dia ikut menjamah dan memilin dadaku. Sambil sesekali meremasnya dengan kasar.

"Akkhh..!" eranganku tertahan tatkala bibirku dilumat Pak Indra dari samping. Akupun merespon cumbuannya, lidah kami saling beradu. Aku sudah telanjur dilanda birahi. Sambil mencium bibirku, Pak Indra meremas dadaku yang semakin tegak.

Kemudian Pak Indra melepaskan mulutnya dari bibirku. Penisnya sudah menegang langsung ditancapkannya ke mulutku. Aku memasukkan lebih dalam ke mulutku lalu mulai memaju-mundurkan kepalaku. Kujilat dan kuhisap. Selain menyepong tanganku turut aktif mengocok ataupun memijati buah pelirnya. Pak Indra tampak mendesah desah.

Kemudian Muklas balikkan tubuhku dan menyuruhku menunggingkan pantat, ternyata dia ingin doggy stile. Akupun mengangkat pantatku memamerkan vaginaku yang merah merekah .
"Oouuhh.. muk!" itulah yang keluar dari mulutku dengan sedikit bergetar saat penisnya amblas ke dalamku. Dia mulai mengayunkan pinggulnya mula-mula lembut dan berirama, namun semakin lama frekuensinya semakin cepat dan keras. Aku mulai menggila, suaraku terdengar keras sekali beradu dengan erangannya dan deritan ranjang yang bergoyang. Dia mencengkramkan kedua tangannya pada payudaraku. Hujaman-hujaman yang diberikannya menimbulkan perasaan nikmat ke seluruh tubuhku.

Pak Indra meredam suaraku dengan menjejelkan penisnya ke lidahku, sehingga membuatku tidak bisa lagi menjerit. Dia sangat rakus memaju mundurkan penisnya di mulutku, sambil sesekali tangannya bermain di payudaraku.

Diserang dari dua arah begini sungguh membuatku kewalahan hingga akhirnya terasa dinding-dinding kemaluanku berdenyut makin kencang dan erangan panjang keluar dari mulutku disertai mengejangnya tubuhku. Tubuhku lemas dalam pelukan mereka. Tapi keganasan Muklas belum tampak mereda, dia masih bersemangat menyodokkan penisnya tanpa mempedulikan vaginaku yang masih terasa ngilu.

Pak Indra semakin semangat memaju-mundurkan penisnya di mulutku, dan akhirnya ejakulasi lebih dulu di mulutku, dia melenguh panjang dan meremas-remas rambutku saat aku mengeluarkan teknik mengisapku, kuminum semua air maninya, tapi saking banyaknya ada sedikit yang menetes di bibirku. Muklas juga sepertinya sudah mau orgasme, tampak dari erangannya dan cengkeramannya yang makin erat pada payudaraku. Maka kugoyang pinggulku lebih cepat sampai kurasakan cairan hangat memenuhi vaginaku. Akhirnya disemprotkannya maninya di vaginaku. Aku langsung ambruk karena tak kuasa menahan berat badanku.

Mereka kemudian membiarkanku istirahat sejenak. Sambil cerita-cerita mereka tak pernah berhenti merabai tubuhku. Aku yang sudah lemah hanya bisa pasrah. Toh.. percuma melarang mereka, mana ada lelaki yang haus sex membiarkan wanita cantik berbaring telanjang dihadapannya. Terutama Muklas, dia tak pernah melepaskan tangannya dari dadaku. Kadang diremas, kadang dipelintir dan kadang diisap-isap. Hal itu membuat dadaku makin mencuat keatas dan berwarna kemerahan. Setelah memberiku waktu untuk istirahat. Kembali kulihat penis-penis mereka mulai bangkit lagi. Aku hanya bisa pasrah saat Pak Indra mulai meremas payudaraku. Payudaraku yang sudah berwarna merah semakin merah saja saat mulutnya menjilatinya. Aku kembali mendesah saat perlahan-lahan mulutnya turun ke perutku dan langsung menjilati vaginaku. Birahiku mulai naik lagi. Kemudian kutarik Muklas agar mendekat ke arahku. Kujilati penisnya yang belum tegang benar. Dia mendesah-desah sambil memegang rambutku.

Kemudian Pak Indra melepaskan mulutnya dan langsung tertidur telentang. Aku mengerti maksudnya. Tanpa diminta lagi aku mengangkangi tubuhnya yang sudah rebah telentang di atas kasur. Ada sedikit rasa senang karena ini merupakan salah satu posisi favoritku yang sering kulakukan bersama cowok-cowok yang kencan denganku. Aku tanpa ragu menuntun penisnya yang sudah kembali mengeras ke arah vaginaku dan aku mengambil posisi menduduki tubuhnya. Dengan bernafsu kugoyangkan pinggulku diatas tubuhnya, bahkan aku ikut membantu kedua belah telapak tangannya meremasi payudaraku. Muklas menonton adeganku sambil mengocok-kocok penisnya, kadang-kadang tangannya iseng merabai pahaku.
"Ayo goyang Neng.. oohh!" Pak Indra sepertinya ketagihan dengan goyanganku, begitu juga Muklas, dia tidak tahan hanya menonton saja. Dia berdiri di sebelahku, penisnya mengacung di depan mukaku.
"Emut Neng.. ayo buka mulutnya!" sambil menjejalinya ke mulutku.

Aku membuka mulutku dan melakukan apa yang dia inginkan.

15 menit dalam posisi 'woman on top' sampai akhirnya tubuhku bergetar seperti menggigil lalu "Aaahh..!!"
Dengan panjang keluar dari mulutku, kepalaku mendongak ke atas menatap langitlangit kamar yang sepertinya berubah jadi banyak. Tubuhku melemas dan ambruk ke depan, ke dalam pelukan Pak Indra. Dia peluk tubuhku sambil penisnya tetap dalam vaginaku, kami berdua basah kuyup oleh keringat yang mengucur. Tapi tampaknya dia belum juga keluar, kembali tubuhku dipompanya. Tubuhku bergoyang diatas tubuhnya.

Goyangan kami terhenti sejenak ketika Muklas tiba-tiba mendorong punggungku sehingga pantatku semakin menungging dan payudaraku makin tertekan ke wajah Pak Indra. Muklas membuka pantatku dan mengarahkan penisnya ke sana
"Aduuh.. pelan-pelan Klas, sakit tau.. aww!" rintihku waktu dia mendorong masuk penisnya. Bagian bawahku rasanya sesak sekali karena dijejali dua batang penis besar. Kami kembali bergoyang, sakit yang tadi kurasakan perlahan-lahan berubah menjadi rasa nikmat yang menjalari tubuhku. Aku menjerit sejadi-jadinya ketika Muklas menyodok pantatku dengan kasar, kuomeli dia agar lebih lembut dikit. Bukannya mendengar, Muklas malah makin buas menggenjotku. Pak Indra melumat bibirku dan memainkan lidahnya di dalam mulutku agar aku tidak terlalu ribut.

Hal itu berlangsung sekitar 20 menit lamanya, sampai aku merasakan tubuhku seperti mau meledak, yang dapat kulakukan hanya menjerit panjang dan memeluk Pak Indra erat-erat sampai kukuku mencakar punggungnya. Selama beberapa detik tubuhku menegang sampai akhirnya melemas kembali dalam dekapan Pak Indra. Namun mereka masih saja memompaku tanpa peduli padaku yang sudah lemas ini. Erangan yang keluar dari mulutku pun terdengar makin tak bertenaga. Tiba-tiba pelukan mereka terasa makin erat sampai membuatku sulit bernafas, serangan mereka juga makin dahsyat, putingku disedot kuat-kuat oleh Pak Indra, dan Muklas menjambak rambutku. Aku lalu merasakan cairan hangat menyembur di dalam vagina dan anusku. Mereka berdua pun terkulai lemas diantara tubuhku dengan penis masih tertancap.

Setelah sisa-sisa kenikmatan tadi mereda, akupun mengelap tubuhku yang basah kuyup kemudian berjalan menuju kamar mandi. Eh.. ternyata mereka mengikutiku dan memaksa ikut mandi bersama. Akhirnya kuiyakan saja deh supaya mereka senang. Disana aku cuma duduk, merekalah yang menyiram, menggosok, dan menyabuniku tentunya sambil menggerayangi. Bagian kemaluan dan payudaraku paling lama mereka sabuni sampai aku menyindir
"Lho..kok yang disabun disitu-situ aja sih, mandinya nggak beres-beres dong, dingin nih" Disambut gelak tawa kami. Setelah itu, giliran akulah yang memandikan mereka, saat itulah nafsu mereka bangkit lagi, akupun kembali digarap di kamar mandi.

Lagi asik-asiknya digenjot mereka berdua Citra dan Indah datang dan bergabung bersama kami. Kamar mandi itu menjadi tempat kami melakukan pesta sex. Sampai akhirnya kami sama-sama puas.

Demikian sebagaian ceritaku. Nantikan ceritaku yang lain..

E N D