Senin, 06 Juni 2011

Nani gadisku dari kampung - 4

WAKTU ISTIRAHAT SIANG YANG SUDAH LEWAT

Cerita sebelumnya ketika pagi aku berangkat kerja, meninggalkan gadisku Nani sendiri di rumah hingga saat aku pulang waktu istirahat jam kantor. Sebagaimana kebiasaan sebagai karyawan kantoran, curi-curi waktu kesempatan istirahat antara jam setengah dua belas siang. Walaupun itu sebenarnya tidak ada aturan formal, namun kesempatan itu kugunakan untuk pulang ke rumah yang kebetulan sangat dekat dengan kantor di mana aku bekerja (kurang dari 5 menit jalan kaki).Kesempatan itu biasanya setiap hari kupergunakan untuk pulang makan di rumah. Hitung-hitung mengurangi beban keuangan karena tinggal di rumah kost. Tapi beberapa hari terakhir ini lain dari biasanya, sejak induk semangku meninggalkan adiknya seorang diri, untuk menemaniku sementara dia pulang kampung dengan keluarganya sebagaimana ceritaku sebelumnya. Sejak iturumah kostku penuh suasana birahi sebagaimana yang kuungkapkan sekarang ini.

Ketika aku pulang untuk memenuhi janji makan siang seperti yang pernah Nani ucapkan waktu pagi sebelum aku berangkat, mendorong semangatku yang dulu biasa-biasa saja saat-saat makan siang, kali ini berubah menjadi gairah yang menyala. Suasana sepi rumah kostku memberikan keleluasaan bercumbu penuh pelampiasan gairahku pada Nani.

Sesampainya di rumah aku menengok ke kamar Nani, tapi rupanya gadis itu tengah tidur dengan pulasnya, tanpa menghiraukan keadaan bajunya yang tersingkap kesana kemari memperlihatkan gundukan bukit kemaluannya yang terbungkus celana dalam yang agak transparan warna merah dengan paha sebelahnya yang terangkat. Kujaga agar kedatanganku tidak membangunkan Nani dan terganggu tidurnya, dan dengan begitu aku bebas menikmati kemolekan tubuh indahnya, bukit payudaranya yang menonjol di balik baju yang tidak berlapis BH lagi. Puting susunya nampak nonjol di balik bajunya yang tipis. Aku sempatkan untuk buru-buru makan sendirian dan segera kukembali ke kamar Nani dengan hanya mengenakan celana dalam saja untuk kembali menikmati keindahan gadis kampungku yang sekarang sudah berganti posisi dari semula tergolek menghadap langit-langit kini berubah miring menghadap dinding dengan kaki terlipat sehingga kedua pantatnya yang sintal dan pahanya yang mulus itu seolah menjepit bibir kemaluannya tertutup ketat oleh celana dalamnya.

Sesaat kemudian Nani terjaga dari tidur siangnya dan sambil tersenyum mengetahui pemandangan tubuhnya tengah dinikmati dan mungkin agak terusik oleh kedatanganku.
"Yaang.. sudah lama ya.. aah.. aku mau ke belakang dulu nich.." Sambil bangun dan mendaratkan kecupan di bibirku. Kembali dari kamar mandi, Nani menyusulku di kamar yang sedang tiduran, meneruskan permainan bibirnya di bibirku mengawali pemanasan percumbuan di siang yangmemang udara kelewat panas.
"Mas.. sudah makan belum.."
"Sudah.. cuma.. kalau makan tanpa dilengkapi dengan buah-buahan untuk mencuci mulutnya nggak ada, seperti nggak komplit.." aku menyindirnya.
"Aaah, Mas mulai pura-pura.. dulu nggak pernah berani bilang, sekarang sudah tahu rasa buah dada Nani, jadi ketagihan, ya kan.. habislah dikemot terus.." Nani membalas menyindirku.
"Ya.. daripada nanti nyari buah yang lain.. gimana.." jawabku lagi.
"Iya deh.. Jangan khawatir Sayaang.. mau sekarang?" kini Nani menawariku dengan mengeluarkan sebelah buah dadanya yang kiri, memberiku kesempatan untuk menyambutnya. Payudaranya yang bulat sangat mengharapkan remasanku sambil kuelus lembut dan usahaku mendapatkan putingnya segera kudapat dari balik bajunya yang terbuka longgar bagian atasnya.

Nani masih duduk di pinggir ranjang sedangkan aku tetap rebahan dengan batang kemaluanku mulai dijangkau tangan Nani sambil mengocok lembut, demikian juga kemaluanku diusapnya, serasa nikmat menjalari seluruh tubuhku. Nani mulai terangsang oleh gairah yang diperoleh oleh rabaan tanganku pada kedua bukit payudarnya yang membusung di dadanya yang putih mulus dan sebelah demi sebelah tangannya membebaskan satu persatu buah dada yang masih tersembunyi dari balik bajunya dan munculah satu demi satu memperlihatkan sepasang daging indah payudaranya yang merangsang birahi, namun di sana sini nampak bekas merah gigitanku tadi pagi di sekitar dadadan lehernya yang jenjang.

Kucium lembut permukaan bukit payudaranya yang menggunduk, kujilati permukaan buah dadanya. Kubenamkan wajahku diantara gundukan bukit kembarnya dengan kedua tanganku menekan kedua daging indah menonjol itu menjepit kedua pipiku. Nampak puting susunya masih merah bekas cupanganku yang kuat tadi pagi. Bagai kasih sayang wanita yang sedang menyusui, Nani membimbing mulut bayi ke puting susunya agar nikmat mengenyot puting yang mulai kenyal tegang, namun aku menyambut puting Nani bukan dengan mengenyot tetapi dengan menjilat dan menggelitik pada bulatan kenyal coklat kemerahan itu penuh nafsu birahi. Nani memberikan tangan kirinya di bawah kepalaku sebagai bantalan sekaligus menekan kepalaku rapat ke payudaranya, tangan kanannya tetap mengocok batang kemaluanku posisi ini membuat nyaman sedotanku ke puting susunya, semakin kuat cupangku semakin gelinjang birahi Nani meningkat juga. Terkadang dia seakan-akan tidak mampu mengendalikan keinginannya agar seluruh payudaranya masuk ke mulutku dengan tangan kanan mendorong dan mengarahkan pucuk putingnya masuk ke mulutku yang terkadang lepas karena gerakan kami yang sama-sama sudah terdorong oleh nafsu yang menggebu-gebu untuk memperoleh kenikmatan birahi bersama-sama.

Aku berusaha memberikan kepuasan untuk Nani dengan mengarahkan telunjuk ke lubang kemaluan yang sudah licin basah oleh lendir kewanitaannya agar Nani memperoleh kenikmatan birahinya dari dua bagian sensitifnya, baik sedotan puting payudara maupun liang kewanitaannya.

"Mas.. sedott.. putingnya yang kuat.. achh.. enaak yaach.. hemm.. iya.. yaa.. memeknya.. ehmm.. yaa.. yaa.. bagian itu.. yaach enakk.. yachh.. yaachh.. yaachh.." gairahnya kian kuat. Aku turun dari ranjang dan jongkok di lantai sementara dia terlentang dengan pantat di bibir ranjang membuat selangkangan Nani terbuka lebar untuk memberi kesempatan leluasa agar aku memainkan liang bukit kenikmatannya baik dengan jilatan maupun jari-jariku sepuas-puasnya. Kaki Nani diangkat ke atas pundakku. Bibir vagina Nani kujepit diantara jariku dan kugesekkan bibir itu diselingi dengan sedotan bibirku yang aku kemotkan, menyebabkan lendir kewanitaannya semakin membanjir deras keluar membuat Nani mencapai orgasme berkali-kali.

"Aduuhh.. enaakk.. aduhh.. kenapa.. aduuhh.. eechh.. aduuhh.. eechh.. heehh.. aduuhh.. nggakk.. kuat.. Mass.. begini enak.. Yangg.. Yangg.. aacchh.. eechh.. aduuhh.. eechh.. ss.. ennaakk.. Mass.. Sayang.. hehh.. hehh.. hehh.." desahan Nani merangsang sekali kalau sedang menggelinjang orgasme. Untungnya rumah kostku ini jauh dari kemungkinan tetangga mendengar, sehingga Nani berdesah sepuasnya mengekspresikan kenikmatan orgasme liang kewanitaannya.

"Mas.. Nani.. nggak kuat lagi.. ehh.. diapain sih Yang.. kok rasanya lain.. hhmm.. Mass.. Nani.. nggakk.. kuat.. lagi.. nichh.. Nani lemes rasanya.." begitu keluhan perasaan nikmatnya orgasmenya. Aku pun puas melihat Nani menikmati puncak orgasme yang bertubi-tubi terutama gerakan tubuhnya saat puncak kenikmatan tiba, pantatnya mengejang naik turun, buah dadanya bergoyang indah menari-nari dan mata maupun bibirnya membuka kadang menutup dengan mimikmuka gelisah menikmati kepuasan yang sedang dirasakan.

Waktu istirahatku yang biasanya kugunakan untuk makan dan sekedar tidur-tiduran, kali ini malah aku meniduri seorang gadis yang dengan pasrahnya memanjakan bersetubuh denganku, berlangsung dikala waktu istirahat tanpa kenal lelah. Sampai siang itu aku agak terlambat kembali ke kantordengan badan yang agak loyo karena sebelum berangkat Nani memberikan kenikmatan sesaat dengan kuluman pada batang kemaluanku yang dia sedot dan isap setelah dia sudah tidak berdaya karena orgasme tadi.

"Mas.. adiknya Nani isep-isep aja.. yach.. kasihan.. biar Nani kelomotin," dan kocokan dan usapan jari halusnya membangkitkan dorongan birahi yang menimbulkan ereksi kemaluanku terasa semakin nikmat menuju puncak orgasmeku saat ejakulasi.
"Mass.. hmm.. keluarin.. hmm.. cplkk.. cllssp.. Mas.. keluarin.. ke mulutku.. Mass.. echh.. keluarin.. yaach.. yaach.. keluarin.. keluarin.. yaach.. yaach.." Begitu setiap semprotan spermaku masuk ke mulut, Nani mendorong kepuasanku dengan bunyi mulutnya setiap kali semprotan cairan yang dia terima. Tangan Nani demikian cekatan untuk setiap leleran spermaku di wajahnyalangsung dia balurkan ke sekujur buah dadanya sebagai tanda totalitas kepuasannya sambil kedua buah dadanya dia usap melingkar dengan spermaku hingga merata. Tidak ketinggalan puting susunya yang mengeras ikut kebagian.

"Biar meresap di permukaan tetek Nani ya Mas, sampai nanti sore sama Mas mandinya, sambil nunggu Mas pulang dari kantor, Nani mau tidur lagi ya Sayaang.." begitu ungkapannya yang merangsang birahiku.
"Mungkin bisa untuk mengencangkan otot tetek Nani.. pasti nanti Mas makin puas ngempotnya.."Aku hanya senyum puas melihat tingkah lakunya penuh sensual dan merangsang. Kembali aku berdiri dengan lutut di depannya terus kucium pahanya, lalu pusarnya. Dia hanya pasrah menggelinjang saja. Aku ulangi terus, sampai beberapa lama. Nani sudah mendesis-desis, sampai akhirnyatubuhnya mengejang.

"Nani, mau yang gimana lagi sekarang Non?" tanyaku untuk membangkitkan lagi nikmat gairahnya siang itu.
"Ouhh.. Terserah.. Mas.. Nani pasrah aja sama Mas.. Nani udah nggak bisa lepas dari kenikmatan dari Mas.." Akhirnya dia tidak sabar lagi. Kepalaku ditariknya, lalu wajahku ditempelkan ke bulu vaginanya. Dengan pelan kugesekkan hidungku ke vaginanya, lalu bibir vaginanya. Aku merasakan celah selangkangan yang kian basah itu. Begitu banyak cairan yang keluar, sehinggaaku bisa menghirup sambil menyedotnya. Terasa gurih, segar juga. Nani tidak kuat denganperlakuanku, kakinya sampai gemeter, lalu dia duduk di sofa. Kepalaku menyeruak masuk. Kedua pahanya kuangkat pakai tangan. Kini dia duduk bertambah maju sedikit. Kedua kakinya terangkat, sampai bagian belakang lututnya bertumpu pada pundakku. Kujulurkan lidahku lagi ke bibir vaginanya yang basah itu membuat Nani jadi semakin gemas dibuatnya.

"Cepet dong, Yangg.. Mas.. Aku udah nggak tahan.." Ya, tunggu apa lagi? Kini aku berdiri dan segera kurentang selangkangannya. Kumasuki gerbang kenikmatan yang sudah merangsangku berwarna merah tua kecoklatan, mengkilat basah. Bibir vaginanya menuntut perlakuan batang kemaluanku segera memasuki persetubuhan yang sebenarnya. Hingga aku harus menyelesaikan lagi satu babak pergumulan di atas ranjang untuk tidak melewatkan kenikmatan tubuhnya yang menawarkan sejuta gairah kepadaku. Dan kembali puncak orgasme bersama siang itu kami nikmati lagi demikian puasnya.

Tubuh wanita ini memang luar biasa. Aku benar-benar beruntung mendapatkannya. Masih telanjangbulat Nani berjalan menuju kamar mandi. Tak lepas mataku menatapnya.
"Kenapa, Mas.." Nani merasa aku memandangnya dengan tatapan yang begitu terpesona.
"Nani memang indah kalau lagi telanjang begitu.." kataku sambil berganti menatap dada dan bagian bawah perutnya.
"Mas ini dasar memang nakal. Sudahlah.. Mas bersih-bersih dulu baru istirahat.."
Kamar tidur Nani dekat dengan kamar mandi. Di kamar mandi kami saling membersihkan, Nani menyabun tubuhku sementara aku mengguyur tubuhnya, lalu gantian. Ahh, nikmat dan mesra sekali.

Bersambung . . . . .

Nani gadisku dari kampung - 5

Lalu berdua kami tidur berpelukan, tanpa pakaian. Nani yang punya ide begini. Enak juga. Jam dinding menunjuk pukul 13:45. Dua ronde permainan makan waktu hampir 1,5 jam, pantas saja aku lelah. Dengan tergagap aku terbangun. Hah.. Dimana aku ini? Nani masih ada di pelukanku. Kulihat sekeliling, ah rupanya sempat aku terlelap sesaat, aku tertidur di kamar Nani! Ada rasa enak di bawah sana dan Nani sedang mengelus-elus penisku yang tegang. Elusan ini yang membuat aku terbangun. Kulihat jam dinding, pukul 13:55. Ah, sudah hampir habis jam kerja, berarti aku harus kembali ke kantor untuk sekedar absen. Tapi Nani ini.. Nani memandangku, tersenyummanis tapi dia tahu apa yang akan kulakukan.

"Punyamu udah keras, Mas.."
"Tapi aku mesti kembali ke kantor, absen dulu, jam kerja sudah habis.."
"Ah.. jam kerja Nani kan belum habis Mas, masak mau ninggalin Nani sih, Nani lagi tanggungnih."
Buah dada itu menyembul karena terpepet dadaku. Aku terangsang lagi.
"Yangg.. Nani mau lagi dong.. ayo Mas penismu masukkan lagi yaach?"
Langsung saja kuraih buah indah itu. Putingnya sudah keras. Kami berpagutan, dan rasanya aku tidak sampai hati meninggalkan Nani yang sedang naik birahinya. Aku ingin tahu kesiapan Nani siang itu, tanganku ke bawah sana. Sudah basah rupanya. Mengingat waktu, aku ingin segera mulai. Nani pun paham. Kembali aku melakukan pertempuran panjang melawan nafsu birahiNani. Aku mempercepat goyanganku dan terus melumat bibir Nani, mencegah desahnya yang makin keras, aku makin hebat menggoyang dan siang waktu istirahatku yang melelahkan sekaligus penuh kenikmatan.

Menunggu sore tiba sengaja aku tidur-tiduran saja berdua dan tidak ada lain lagi bercumbu dan bercanda yang tidak lepas dari masalah kenikmatan persetubuhan yang pernah kami lakukan selama ini.
"Mas.. kalau nenenku dijilat terus jari Mas main di memek Nani, rasanya enak berlipat-lipat dan biasanya saya semakin terangsang untuk disetubuh lagi.."
"Nani itu semakin hari rasanya semakin enak untuk disetubuhi, makanya ininya dijaga dan dipelihara baik-baik."
"Terus gimana meliharanya Mas?"
"Ya dengan cara begini, Nani sering dielus, digoyang, diremas-remas begini, biar otot buah dadanya sering terangsang, Nah tuh.. tuh, putingnya tegang khan.."
"Ah, Yaang itu boong, dasar memang lagi mau ngeremas nenenku aja.. ahh.. geli pentilku jadibeneran tegang tuh, gede Mas.."
"Kalau udah tegang putingnya gitu, gimana sih rasanya Non?"
"Ya, geli-geli begitulah.."
Lalu kami berdua tertawa.

"Kalau rambutnya dicukur agar semakin kelihatan.. gimana Non? Uuhh.. pasti lebih merangsangkali yah?"
Nampak dia agak kegelian oleh sentuhan tanganku yang sengaja mendarat di permukaannya, dia mengeluh lirih, "Aduh, geli lho, Mas.. iih, begini aja aku kegelian.. emang Mas mau atau kepingin rambutku dicukur?"
"Kapan-kapan boleh yah.. Mas cukur rambutnya?"
"Kayak apa yah memekku tanpa rambut, hi.. hi.. hi, ah lucu.. Mas ada-ada saja.."
"Mau nggak Non dicukur?"
"Iya.. ya lah kapan-kapan, jangan sekarang.." tanda setujunya.

Kembali tanganku mengelus vaginanya di seputar rambut-rambut halusnya yang keriting.
"Eh.. Mas, kalau lagi sendiri, aku sering membayangkan Mas kalau lagi menyingkap dasterku, lalumenggosok-gosokkan telapak tanganmu pada pahaku, kemudian aku merasakan kemaluanku mulai terangsang."
"Terus gimana kalau aku lagi pas nggak ada.."
"Paling buah dadaku perlahan-lahan kuremas sambil puting susuku Nani pijit-pijit. Kemudian akumengurutnya berputar. Nikmat sekali deh Mas.. tiba-tiba saja perasaan nikmat mulai menjalaribadanku.. nikmat, geli campur rasanya.. sangat bernafsu.. sampai terkadang aku telanjang bulat."

Nani sedang menceritakan fantasinya bila sendirian sejak mengenalku dalam arti kusetubuhi.
"Kumainkan jariku diantara selangkanganku yang terbuka. Kemudian kujilati payudaraku.. Oh, nikmat sekali sambil mempermainkan lubang memek.. kalau sudah begitu aku meraih bantal untuk menutup mukaku agar aku dapat lebih menikmati khayalanku sambil berteriak nikmat."
Tangan Nani mempermainkan kemaluanku sementara dia terus mengungkapkan pengalaman khayalan seksualnya.
"Untuk mencapai puncak, jari-jariku masuk ke dalam lubang kemaluanku. Semakin lama usapan jari ini semakin membuatku mengerang.. aahh.. Ah sudahlah tidak bisa ngomong bagaimana nikmatnya..Aahh.. nikmatnya.."
Ia memberikan pengalaman saat terindah mencapai puncak orgasmenya dengan rinci apa yang dia alami untukku. Dia biarkan aku mengelus dan membelai buah dadanya. Aku merasa damai sekali berada di pelukannya. Wajahku sengaja kubenamkan di dadanya yang montok dan hangat itu.

Setelah hening entah berapa lama dan terasa istirahat siang yang melelahkan kulewati, nafsuku kembali terusik melihat kemolekan tubuh Nani yang tergolek lelap di sampingku. Aku beranjak bangun memandangi tubuhnya yang terlentang. Segera aku berdiri dengan lutut mengangkangi tubuhnya agar kemaluanku mudah mencapai payudaranya. Kembali kuraih kedua belah payudaramontok itu untuk menjepit kemaluanku yang berdiri. Agar kemaluanku dapat terjepit dengan enaknya, aku agak merundukkan badanku. Kemudian kemaluanku kukocokkan maju mundur di dalam jepitan buah dada aduhai itu. Cairan dinding vagina yang masih tersisa sengaja kuoleskan untuk membasahi kemaluanku sebagai pelumas yang pas agar memberi kenikmatan luar biasa pada gesekan-gesekan kemaluanku yang sengaja akan kugesekkan diantara kulit buah dada yang mulus itu.

"Non.. luar biasa.. Enak sekali.. Payudaramu indah sekali.. montok mulus.. Oh.. hangatnya..Sssh.. nikmatnya.. Tubuhmu luarr biasa.." aku merintih-rintih keenakan. Sementara di dalam tidurnya Nani mendesis-desis keenakan, "Sssh.. ssh.. ssh.." Aku mempercepat maju mundurnya kemaluanku. Aku memperkuat tekananku pada payudaranya agar kemaluanku terjepit lebih kuat. Rasa enak menjalar lewat kemaluanku. Rasa hangat menyusup di seluruh kemaluanku. Karena basah oleh cairan vagina ditambah cairan yang keluar dari kemaluanku, kepala kemaluanku tampak amat mengkilat di saat melongok dari jepitan buah dada Nani. Leher kemaluan yang berwarna coklat tua dan kemaluan yang berwarna pink itu muncul dan tenggelam di antara jepitan payudaranya.

Lama-lama rasa geli yang menyusup ke segenap penjuru kemaluanku semakin menjadi-jadi. Semakin kupercepat kocokan kemaluanku pada payudara Nani. Rasa gatal semakin hebat. Rasa hangat semakinluar biasa. Dan rasa enak semakin menuju puncaknya. Tiga menit sudah kocokan hebat kemaluanku di payudara montok itu berlangsung. Dan ketika rasa gatal dan enak di kemaluanku hampirmencapai puncaknya, aku menahan sekuat tenaga benteng pertahananku sambil mengocok kemaluan di kempitan payudara indah Nani dengan sangat cepatnya. Rasa geli, hangat dan enak yang luar biasa akhirnya mencapai puncaknya. Aku tak kuasa lagi membendung.

"Nani..!" pekikku dengan tidak tertahankan.
"Ahh, kenceng sekali Mas semprotannya.. ahh.. ahh.. ahh.." demikian teriak Nani setiap menerima semprotanku.
Rasa hangat dan nikmat yang luar biasa menyusup ke seluruh kemaluanku saat menyemburkan cairan dengan derasnya ke dagu Nani. Sampai empat kali. Kuat sekali semprotannya, dan kelihatan sangat kental. Sperma yang banyak sekali itu mengalir turun ke arah leher Nani yang putih dan jenjang, jatuh di antara belahan payudaranya. Sejenak aku terdiam menikmati akhir-akhir kenikmatan ini.

"Sungguh.. luar biasa.. Non, nikmat sekali jepitan buah dadamu.." aku bergumam lirih. Baru kali ini aku mengalami kenikmatan seks yang indah luar biasa, masturbasi dengan menjepitkan batang kejantanan diantara payudara gadisku yang seksi.
"Yaang biar aku menjilati batang penismu yang basah itu.."
Nani mulai terangsang dengan tingkahku yang baru aku lakukan dijepitan payudara montoknya.Setelah menjilati permukaan penisku yang licin, Nani memasukkan seluruh kantong testisku ke dalam mulutnya.

Setelah itu kukeluarkan kantong testis itu dari mulutnya. Kumasukkan kepala penis itu ke dalammulutnya dan kutekan kepala ini hingga kepala penisku menyentuh tenggorokannya. Dengan perlahan kugerakkan mulut ini maju mundur. Nani tetap menjaga agar penisku tidak bergesekan dengan giginya.

Sekitar lima menit lamanya Nani menghisap-hisap kemaluanku sampai dia menghentikan oral seks ini. "Non gantian aku mau jilat permukaan buah dadamu yang masih basah.." dia merapatkan kedua daging payudaranya agar dijilati sementara mulutku menghampiri gundukan daging yang basah oleh spermaku. Nani kemudian berdiri lalu duduk tepat di atas penisku yang tegak berdiri. Kupegang penisku lalu kuarahkan hingga menempel di ujung mulut vaginanya. Dengan satu dorongan, penis itu telah menusuk vaginanya.

Perlahan-lahan Nani menggerakkan tubuhnya naik turun.
"Mas Nani mulai terangsang lagi.. aahh.. Nikmat sekali.. Makin lama aku menjadi makinbernafsu.." Gerakannya cepat sekali hingga dinding vaginanya terasa sangat licin dan buah dadanya tergoncang-goncang. Nani menjerit kenikmatan tapi berirama sesuai irama gerakan naik turun vaginanya menjepit kemaluanku. " Hahh.. hahh.. hhaah.. hahh.. ahh.. haah.. hhmm.. sshh.. hhah.." demikian ritmis desah nafasnya. Bagaimanapun juga dia telah memberikan kenikmatan padaku. Jadi biarlah dia memperoleh kenikmatan dengan caranya sendiri.

"Aduuhh.. Mas.. Auww enak Mas.. aku udah enggak tahan.. ampun Yaang! Nani keluuaarr.."Aku merasakan jepitan kewanitaannya sungguh luar biasa, setiap gesekan makin membuatnya melayang-layang hingga akhirnya benar-benar hanya kepuasan tergambar di wajah manisnya di siang yang menyebabkan waktu istirahatku yang jadi kebablasan. Kuputuskan siang itu aku tidak kembali lagi ke kantor, meneruskan waktu istirahat hingga sore ditemani Nani berbagi kenikmatanhubungan suami-istri yang penuh keindahan birahi.

Kelanjutan cerita berikutnya adalah ungkapanku dalam keintimanku disuatu sore hari pada keindahan bagian tubuhnya yang semakin melambungkan hubunganku dengan Nani.

Bersambung . . . .

Nani gadisku dari kampung - 6

MILIKNYA YANG SANGAT KUKAGUMI

Pengalamanku yang intim bersama adik induk semangku sudah beberapa hari berlangsung, membuatku demikian hanyut dalam nikmatnya dunia yang baru kurasakan sejak ditinggal kakaknya pulang kampung sekeluarga. Kesempatan ini benar-benar memberikan pengalaman yang tidak terkira bagiku.

Kebetulan sore itu aku terpaksa lembur sampai agak lewat jam biasa pulang sehingga sampai di rumah kost. Keadaan di luar sudah gelap dan sementara saya perhatikan lampu di ruang tamu agak remang temaram. Kubuka pintu ruang depan ternyata Nani sedang tertidur di sofa mengenakan baju kaos warna krem sebatas paha. Di pundaknya hanya model tali dengan lubang lengan yang longgar, memperlihatkan bentuk tubuhnya terutama tonjolan sebagian permukaan buah dadanya yang membusung. Di selangkangannya mengintip celana dalam warna merah, pahanya yang jenjang mulus sangat indah serasi dengan celana dalam merah warnanya. Tampak bajunya tidak sampai menutup seluruhnya, sehingga menyisakan bentuk segitiga menggunduk di selangkangan yang dihiasi lembaran rambut halus.

Segera aku menuju ke kamarku untuk melepaskan baju kantorku hingga tinggal mengenakan celana dalam dan kaos saja. Ketika aku kembali lagi ke ruang tamu, kupandangi lagi Nani yang tengah tidur dengan tangannya diangkat ke atas kapala menampakan ketiaknya yang bersih mulus. Rupanya Nani pulas tertidur menungguku pulang. Sesaat kunikmati kemolekan tubuh indah itu sepuas-puasnya tanpa kusentuh. Nafasnya setiap kali mendorong buah dadanya yang bulat ikut naik turun seirama hembusan nafasnya. Mungkin karena lelahnya menikmati orgasme panjang tadi siang masih tersisa. Mulutnya dan bibirnya menganga kecil seakan mendambakan tetesan spermaku yang hanya dapat memuaskan haus nikmatnya gairah saat memasuki liang senggamanya.

Saat itu betapa Nani sudah mulai terbiasa memperoleh nikmat batang kejantananku yang beberapakali di liang kewanitaannya. Sesaat Nani merubah posisi tidurnya menjadi tengkurap, dan tangan kanannya sengaja ditindih tepat pada celah gundukan bibir liang senggamanya yang masihterbungkus celana dalam merah. Kini aku sengaja lebih memperhatikan pada jepitan diantara kedua pantat sintal yang mulus itu. Sekarang dapat kunikmati sepuasnya birahiku tatkala tangan Nani entah sadar atau tidak, jari tangannya bergerak menggesek-gesek kecil permukaan celah bibirvagina dengan teratur. Gerakan jarinya menyebabkan sebagian pinggir celana dalamnya tersingkap dan tampaklah sebagian bibir kewanitaan yang sepertinya tengah merasakan gelinjang.

Nafas Nani mulai agak berubah tersengal, beberapa saat tubuhnya berbalik ke atas dengan kaki kanan menopang di atas sandaran sofa. Selangkangannya kini mulai semakin tersingkap pada bagian bibir kemaluannya karena aktifnya jari Nani sendiri menggesek di sela vaginanya. Dari mulutnya terdengar desah nafas halusnya yang sedikit tersengal menandakan kenikmatan Nani selama masturbasi, menambah gairahku namun tetap kutahan untuk tetap dapat menikmati aktivitas masturbasinya tanpa mengganggu.

Tiba-tiba mulai Nani merasakan puncak orgasmenya dengan ditandai getaran dan gerakkan mengejang-ngejang pada selangkangan dan pantatnya yang terangkat. "Ehh.. eehh.. eehh.. auuhh.. eehh.. eehh.. auuhh.. eehh.. auuhh.." desah nafasnya diiringi lenguhan mulutnya sementara matanya masih terpejam menikmati puncak orgasme selama masturbasi tadi. Gejolak nafsu yang tak terbendung. Pertahananku gagal juga setelah orgasme Nani tercapai, aku mendekat dan tanganku ikut menelusuk ke liang senggamanya.

"Aaahh.. Mas, nakal diam aja nggak mau dari tadi.. iih Yayang.. gitu.. aahh, nggak Nani kasihlo.." rengeknya manja sambil tersenyum masam, merasa aktivitas masturbasinya kuperhatikan dari tadi.
"Nani sudah nggak sabar nunggu Mas, yaa.."
"Daripada sendiri nungguin, apa boleh buat.. Nani juga nggak ngeliat masuknya.. aahh.. dasar Mas nakal, bikin malu Nani, ntar nggak mau.. ahh.." Nani muncul sambil menggodaku, tangannya memeras celanaku yang sudah menonjol oleh urat batang kemaluanku yang tegang.
"Emang nggak kasihan ama adik Mas.. udah nonjol.. kejepit dalam celana nich?"
"Yach dech.. tuch udah Nani sediakan air panas buat mandi.."
"Nani udah mandi belum.."
"Ya, tapi jangan lama-lama mandinya.. keburu malem."
"Yaa lah, Aku juga udah nggak sabar lagi, udah pengin juga.. sama.."

Dia pun tertawa dan remasan tangannya mendarat di tonjolan celanaku.
"Non, kalau Mas ngeliat kamu pakai baju begini.. rasanya.. udah deh, pingin tiap hari ngeliat kamu begitu.."
"Sekarang bukannya setiap hari Mas nyetubuhin Nani? Seksian mana.. kalau Nani buka baju sekalian.."
"Ohh iya.. ya saking nikmatnya jadi lupa.. Jangan dong.. emang di kamar mandi.."
"Yaa, kan nanti juga Mas buka.. sama aja dong.."
"Aahh.. udah lah.. yuk, kita mandi.."

Nani mulai mengecup bibirku, sejenak kami saling berpagut dan bukit bibir kemaluannya yang masih terlapis celana dalam merah, dia gesek-gesekan dan cocok-cocokan ke tonjolan depan celanaku memperagakan gerakan birahinya hingga kemaluanku merasakan kenikmatan pada ujung-ujungnya, mengundang gejolak nafsu kejantananku yang terpaksa kutahan. Kusudahi permainan tadi, dan menuju ke kamar mandi. Aku memandang tertegun dari belakang. Goyangan pantat Nani yang bulat dalam celana dalamnya, kedua daging montok dan sintal itu demikian mengundang seleranafsu untuk segera menggaulinya. Aku mulai mengikuti dari belakang dan tetap memandangi kedua daging montok itu melenggang ke kamar mandi.

Ketika tubuhnya membungkuk, kupandangi dari belakang bulu-bulu kemaluannya yang sebagian tampak keluar dari celana dalam terdesak oleh gundukan bibir vagina dan membekas segaris celah antara bibir-bibir vagina montok. Tak kuasa aku menahan, memaksa kedua tanganku meraih celana dalamnya untuk kulepaskan, tanpa ada reaksi darinya untuk menolak karena memang seolah sudah menjadiacara ritual yang rutin selama beberapa kali aku menggauli gadis itu sehingga dia pun demikianmengerti hal-hal yang dapat membangkitkan gairah untuk selalu menambah kenikmatan dalam persetubuhan kami, mulai dari kamar mandi, di ruang makan, di ruang tamu dan berakhir di ranjang kamar Nani.

"Aku nggak habis pikir, buah dada Nani kian hari kian montok saja.."
"Yaang coba tebak, Nani punya ukuran payudara berapa?"
"Pokoknya.. yang aku tahu.. punyamu selalu menggairahkan dan merangsang, mulus dan montok nikmat untuk dibelai.. ahh apalagi ya.."
"Memang juga.. Aku rasakan sejak Mas sering kemot, sepertinya tambah besar saja ya.. tapi kalau Mas bisa tebak, nanti baru mau Nani kasih lagi yang spesial buat nanti malam.. tapi kalau salah, Mas yang kasih Nani.."
"34B," tebakanku.
"Aahh Mas.. pinter, pasti pernah pegang punya cewe lain.. ketahuan.."
"Eee.. yakin.. belum pernah.." sanggahku.
"Nah, itu sudah bisa nebak.. hayoo, berarti sudah pengalaman.."
"Bener.. boro-boro tahu ukuran, ngeliat payudara beneran saja.. baru punya Nani.."
"Iyaa dech, percaya.."
"Nanti kalau Nani kasih Mas.. yang spesial, Nani juga aku beri hadiah.."
"Memang apa, Mas?"
"Akan aku hadiahi BH yang dapat menambah kelihatan Nani seksi.."
"Janji lho.."
"Mau nggak.. sore ini kita keluar, ke toko Matahari.."
"Ayoo mau aja, tapi Nani mau asal dikasih adik Mas dulu.." katanya sambil tangannya terus mengocok batang kemaluanku.

Nani mengambil posisi berlutut sehingga kemaluanku yang sedang tegang tepat menempel di dadanya yang bulat. Tangannya mengangkat kedua buah dadanya menyentuhkan ujung putingnya ke pucuk kemaluanku dan digesek, menimbulkan rasa geli di lubang kelaminku. Mulutnya mengulum penisku beberapa kali sehingga basah, kemudian dia keluarkan lagi dan mulai buah dadanya menjepit kemaluanku yang sudah licin.
"Yaang.. gosok-gosok penis Mas, biar Nani jepit pakai susuku?"
"Ehhm.. geli.. ehh, sedot dulu, Non.. yah.. jepit lagi.. eh.. eh.. eh.."

Sesaat jepitannya kulepaskan dan kudaratkan di pipi, hidung, bibir sambil lidahnya menjulur menerima uluran kemaluanku, sejenak dijilatnya kemudian kutempelkan pada mata Nani, telinga bergeser ke lehernya yang jenjang, seolah tidak ada bagian wajahnya tanpa menerima penjelajahan batang kemaluanku. "Yang.. biar Nani jilat dan isep sampai keluar yachh.. eehmm.. ehmm.. ahh.." Mulutnya terus mengeluarkan dengusan nafas birahi wanita sedang gelisah memuaskan kelamin pujaannya agar memperoleh kenikmatan, hingga setiap kemaluanku keluar dari mulutnya dengan lidah menjilat-jilat batangku, nampak lendir yang semakin pekat memenuhi lidah dan bibirnya hingga kembali batang coklat tenggelam di mulut Nani, diiringi tegukan lendir kejantananku tertelan masuk ke kerongkongannya.

"Non.. aku nggak kuat Non.. eh.. geli.. ah terus.. aachh.." Nafasku sedikit tertahan ketika pertahananku tak dapat kukendalikan lagi, terlepaslah sperma ke mulut Nani, dengan buru-buru tangannya mengarahkan ujung penisku ke mulutnya yang menganga siap menerima spermaku, sambil tangan Nani memberikan kocokan sampai semprotannya cukup kuat, sebagian dia arahkan ke pipibahkan ke matanya yang terpejam kemudian leher dan buah dadanya sampai tetes spermaku yang penghabisan.

"Ouuh.. Yang.. ouhh.. Mas, spermamu menyegarkan Sayang.. ouh.. hmm.. Nani senang, Mas bisa keluar.." Sambil wajahnya tengadah dengan posisi berlutut di depanku, tangan kirinya mengusap-usap spermaku merata di wajah dan buah dadanya, sementara tangan kanan Nani masih mencengkeram batang kemaluanku.

Sore itu kami saling menyabun membersihkan sisa-sisa kenikmatan di tubuh kami berdua serasa pasangan yang amat berbahagia, melewati detik demi detik gairah nikmatnya cinta. Tanpa sabar lagi Nani menciumku bertubi-tubi atas kegembiraan janji yang kusampaikan dan masih tanpabusana kami saling menggosok selama mandi berdua, diselingi rabaan pada selangkangan dan bukitpayudaranya menambah nikmat cumbu di kamar mandi sampai selesai.

Sebagaimana kujanjikan kepadanya ketika mandi, sore itu aku dan Nani naik becak menuju ke toko Matahari yang tidak berapa jauh dari tempat kami tinggal. Suasana sore itu sudah mulai gelap sehingga selama perjalanan tak hentinya aku meremas buah dada Nani, mengingat Nani saat itu mengenakan baju yang mengundangku untuk lebih leluasa menyusupkan tanganku ke balik BH yang dia kenakan. Tangan kiriku sengaja kulingkarkan dari kiri bawah ketiaknya, dan ujung jariku berakhir di puting payudara sebelah kiri, tepat telapak tanganku meremas buah dadanya sambil menjepit tonjolan puting dada Nani yang menegang di balik BH. Aku merasakan birahi sepanjang jalan dengan keasyikan meremas dada Nani sampai tiba di Toko Matahari. Tidak begitu lama aku putar-putar di dalam counter yang ada, tetapi segera menuju counter khusus pakaian dalam. Di sana telah dipajang berbagai model pakaian dalam dari yang biasa-biasa sampai yang sensual. Model sensuallah yang akan kuhadiahkan untuk Nani. Ukuran buah dada Nani termasuk besar dari rata-rata cewek yang kulihat dan bandingkan walaupun aku baru pertama bisa merasakan bentuk payudara wanita dewasa untuk kurasakan kenikmatannya, ukuran buah dada yang besar itu bisa membuat Nani tampil PD. Nanilah gadis yang pertama kali bisa kunikmati payudaranya yang sebesar itu, benar-benar kemujuran bagiku mendapatkannya.

Nani melihat-lihat di bagian bra. Semula aku agak malu tapi aku nekat memberanikan diri juga.Langsung kupilih bra yang seksi sambil Nani bertanya padaku untuk menunjukan yang paling seksi. Ternyata aku memilih yang lain dari yang dia kasih lihat tadi, Nani tanya ukuran bra yang kupilih tadi, ternyata tidak ada ukurannya untuk buah dadanya. Aku sempat bingung dan berbisik pada Nani, "Ukuran payudaramu emang berapa sih?"
Sambil senyum-senyum menutup mulutnya setengah berbisik Nani bilang, "Cuma 36C.."
"Hahh.. kok tadi bilang 34B.. nggak salah nih."
Aku bengong mendengar ucapan Nani itu, "Pantesan.. aku nggak tahan bisa lepas dari tetekNani.."

Akhirnya Nani memilih satu bra dan CD yang satu set. Nani sedikit kurang enak bila dipandangi orang lain, sehingga aku dan Nani pura-pura sambil lalu melihat untuk memilih model yang kuinginkan. Agak menjauh kubicarakan dulu dengan Nani, sampai pada pilihan yang kami inginkan, baru aku mendekati ke counter dan melihat-lihat sebentar dan tak lama kemudian segera Nani memasukkan ke kantung belanja dan Nani kusuruh menuju ke kasa dengan uang yang sudah kusiapkan.Sementara Nani antri di depan kasa, aku segera putar mencari baju terusan buat Nani, tanpasepengetahuannya. Pilihanku tetap bentuk yang sensual buat Nani yang segera kuambil serta segera kususulkan ke kasa dimana Nani tengah antri.

Aku merasa tidak tahan terlalu melihat-lihat di dalam toko itu, karena yakin pikiran kami berdua sudah dipenuhi gairah yang tertuju ke rumah. Perjalanan kami ke rumah berdua walau dekat, di atas becak serasa membosankan, tidak sabar untuk meremas payudara Nani seperti halnya waktu kami berangkat.

Bersambung . . . . .

Nani gadisku dari kampung - 7

Tepat pada jalanan yang agak gelap, kusuruh Nani melucuti BH-nya saja sekalian dan memasukkan ke kantung belanjaan, "Sret.. sret.. sret.." lepaslah benda penghalang tanganku untuk bergerak lebih leluasa memperoleh kedua daging montok itu, karena kini hanya terhalang baju kaos longgarnya saja.

"Aduuh Mas, bener-bener nggak sabar sayaang.. pelan-pelan saja yaa, nggak enak dilihat orang..ahh geli Sayang.. eehhgg.." agak berbisik dia melenguh geli.
Kedua tanganku masuk dari kedua sisi belahan di bawah ketiak Nani meremas dan mejepit puting susunya sambil tubuhnya kupeluk rapat ke tubuhku, "Ehh.. Mas.. Nani geli banget.. Mas udah nggak sabar.. nekat juga bercumbu di jalanan.."
"Yah, rasanya aku sudah tidak sabar.. Sayang," kecupanku menutup bibir Nani.

Sesampainya di rumah segera saja Nani langsung masuk ke dalam kamar dan aku menyusul sewaktu Nani sedang mematut bra yang baru dibeli tadi. Saat itu Nani menyuruhku untuk duduk saja di dekat meja, sedangkan Nani duduk di depan meja rias. Dia hanya mengenakan celana dalam dan dada terbuka, sambil mengamati BH baru di tangannya yang akan dicobanya.

"Sabar sebentar ya Maas.. duduk dulu yang manis di situ yaa.. jangan dekat-dekat dulu," cegahnya.
Aku terpesona melihat Nani, betapa indahnya buah dada montok itu dilihat dari samping saat mengenakan cup BH baru sementara di celanaku sudah menonjol lagi.
"Gimana nich Yaang.. emang pantes model bra ini buat Nani?" tanya Nani berusaha meyakinkankuuntuk mengomentarinya.
"Aku dong yang mestinya memasangnya.. aku kan yang tahu cantik tidaknya ke tubuh Nani."
"Ah, ntar Mas pasti maunya mainin nenen Nani lagi saja.." terpesona aku melihat buah dadanya yang busung, mungkin karena melihat puting Nani yang agak menonjol waktu itu karena tidak memakai BH di balik daster tipisnya karena kebiasaan Nani kalau di rumah kadang-kadang suka tidak memakai BH, terutama waktu udara lagi panas.

"Kalau sering nggak pake BH ada yang bilang entar buah dada bisa cepat turun Mas?"
"Ah, asal sering diremas seperti punya Nani, nggak dong.." alasan karena aku begitu terangsang.
"Memangnya tangan Mas mau megangin terus, buah dada gede itu harus ada yang nyangga.." Sambil melirik matanya menggodaku, bahwa menyadari aku sedang mengagumi miliknya yang indah. Payudaranya benar-benar mengundang siapa pun tahan berlama-lama memandang untuk menikmati. Keindahan buah dadanya seolah selalu menumpahkan birahi dari balik BH 36C yang dia kenakan. Besarnya birahiku menikmati keindahan buah dada wanita kusadari sebagai obsesiku sejak dulu.

"Sini dong Yaang.. katanya mau memasangkan BH barunya ke Nani.." segera kuhampiri tubuh telanjang itu. Gadis muda ini memang cantik dan seksi. Berkulit kuning bersih, dadanya menonjol bulat. Ketika sebelah kakinya sengaja dia naikkan ke bibir dipan yang memang agak tinggi itu, pahanya yang putih mulus merangsang sekali.

Kupegangi BH yang baru, dan kupasangkan cup bra 36C-nya tepat pada kedua bukit payudara Nani.Tangannya ke belakang mengaitkan kaitannya di punggung. Di saat tangannya ke belakang ini, buahdadanya tampak semakin menonjol. Aku tak tahan lagi, batang kelaminku bertambah tegak mengeras mendorong celana dalamku menonjol. Aku menggeser cup BH-nya lebih ke bawah. Kini lebih banyak bagian buah dada itu yang tampak semakin membusung dan tanganku mengelus bagian bulat mulus itulalu kucium permukaannya, tanda kekagumanku akan keindahan bukit payudaranya.

"Wah.. kamu memang benar-benar cantik sayang.." pujiku.
Di dada Nani kini tampak dua gumpalan daging kenyal putih, begitu sesak tertahan BH. Aku bertahan untuk memuaskan mataku memandangi keindahan bentuk liku tubuh Nani. Nani senyum tersipu, "Ahh.. Mas bikin Nani malu, dilihatin begitu.. Mas suka yach.. Nani pakai BH ini.."
"Yah kalau nggak suka, masa mataku tersiksa sampai nggak bisa kedip, sekarang celana dalamnyayang baru sekalian dong, biar komplit."
Nani segera membuka celana dalam yang masih dikenakannya dan memelorotkannya sambil membungkukkan badannya sehingga aku dari belakang terlihat tonjolan bukit kemaluannya. Aku tertegun saat melihat bukit liang kewanitaannya yang benar-benar kencang dan padat itu. Aku yakin itulah yang membuat jepitan ke batang kemaluanku sangat kuat dan sedotannya terasa sekali, karena kencang dan padat, membuat ketagihan penisku untuk terus dibenamkan di dalam liang vaginanya.

"Ooohh.. Maass.." Nani merintih keenakan, saat jari tengahku kugosokkan diantara bibir vaginanya dari belakang. Dan kulanjutkan dengan tanganku membantunya untuk menarik celana dalam Nani agar terlepas dari pinggulnya yang bulat montok itu. Kupeluk dulu tubuh telanjang Nanidari belakang dan kudekap payudaranya yang sudah tertutup BH sementara ciumanku mendarat pada lehernya yang jenjang.

"Uugghh.. Yaang.. Nani nggak tahan.. Mas punya penis udah nakal di pantat Nani.." ketika merasakan batang penisku menyodok diantara pantatnya, tepatnya di selangkangan Nani. Nani berusaha menggeser melepaskan pelukanku. Kupasangkan celana dalam baru, yaitu model CD yanghanya diikat tali di pinggulnya yang apabila dipakai tampaklah paha belakangnya mulai dari pangkal pinggul dan kakinya yang mulus nampak sempurna, sehingga benar-benar membuatku terangsang dan dengan satu kali tarikan celana itu akan terbuka. Ouwhh.. ingin rasanya aku segera menyetubuhinya dan lengkaplah apa yang kuinginkan akan penampilan Nani dengan sepasangCD dan BH yang menggairahkan birahi. BH yang membungkus buah dadanya yang berukuran 36C sangatminim dan sempit seakan buah dada Nani akan tumpah, nampak putingnya yang besar berwarna coklat kehitaman tampak jelas di balik BH tipis berwarna putih itu.

"Non.. kamu tambah merangsang saja," sambil berdiri kupeluk demikian kuat tubuhnya. Aku mulai mencumbunya, saling berpagutan diantara bibir, sambil tanganku mengusap leher dan punggungnya.Tanganku menelusuri bagian V ujung celana dalamnya, memberi pijitan empuk ke bibir vaginanya yang kenyal itu. Birahiku semakin memburu untuk tidak dapat kutahan lagi untuk berbuat lebih jauh lagi. Segera kupeluk tubuhnya dari belakang. Dengan cepat kubuka celana dalam Nani dan kupelorotkan dari tubuhnya. Seketika itu aku lagi-lagi terpesona melihat tubuh yang sintalitu dalam pelukanku hanya mengenakan BH. Ketiaknya yang putih bersih dan wangi sangat merangsang untuk kucium dan kujilati. Di selangkangannya kuraba gundukan daging yang tertutup oleh bulu-bulu yang juga lebat. Bulu-bulu halusnya. Dalam hati, aku ingin mencumbunya dengan lembut dan tidak tergesa-gesa menuju kepersenggamaan yang sebenarnya.

Dengan perlahan tanganku mengusap dan mengelus bagian permukaan yang menggunduk bulat mulus payudaranya pada bagian yang tidak tertutup cup BH. Kuturunkan tanganku lebih ke bawah, terus sampai batas bawah BH, mulai tanganku menyelusupi gundukan daging di baliknya, mencari puting susunya dan bulatan mengeras kuperoleh sambil kupilin, semakin tegang dan keras puting susu Nani yang semakin menonjol.

Aku mulai menjepit kedua puting Nani dengan jari telunjuk dan jari manisku, sambil sedikit menariknya dengan perlahan. "Enak ya rasanya.. nggak puas kalau nggak kupijit."
"Ah Yaang.. menyiksa Nani.. terus Sayang enak.."
Kedua puting dengan cepatnya mengeras, terasa sakit bercampur nikmat.
"Ah.. ah.. enak sekali rasanya," Nani segera akan berbalik menghadapku, tapi aku menahannya, tangan Nani mulai mengarah tengkuk leherku. Sementara itu tanganku tetap meremas payudara Nani. Oh begitu nikmatnya, Nani betul-betul terangsang. Tangan kananku mulai bergerak menuju bawah dengan perlahan dan sampai ke bawah pusar, kugosok pada bagian V antara selangkangnya. Aku mulai mengelus rambut bawah Nani yang halus sedikit keriting.

"Aduh Maas.. sudah banjir.." memang Nani merasa bagian bawah Nani sudah mulai lembab dan akuterus mengelus dengan lembutnya.
"Mass.. geli.. hehh.. eehmm.. teruss.. Sayang.. enak.. ah.. ah.. aduh Mas.. ah.. saya tidaktahan.. enak sekali.."
"Gimana.. enak rasanya.."
"Ah.. Mas enak sekali.. terus Mas.. jangan berhenti.. satu lagi Mas.. ah..!" lidahku menjilat bagian belakang telinga Nani. Gelinjang tubuhnya mulai kurasakan, tanganku sebelah kanan turun ke bagian perut dan semakin ke bawah mencapai ke pinggir atas pahanya dan tanganku kuselipkan ke gundukan daging yang ditutupi oleh bulu-bulu lebat dan halus diantara pangkal pahanya. Jariku mulai menggosok-gosok gundukan daging itu, ke atas dan ke bawah sementara itu telapak tangan kiriku masih menyusup ke balik BH-nya yang terasa benar terlalu sempit untuk buah dada berukuran 36C atau mungkin hampir tak mampu membungkus payudara semontok itu. Dengan bernafsu kuremas-remas buah dada montok di balik BH yang masih membungkusnya, hasratku untuk bersetubuh begitu menggebu bahkan dengan berpikir seperti ini saja sudah penisku berdenyut.

Tak puas sampai disitu kudekatkan wajah dan mulutku ke buah dadanya sebelah kanan lalu dengan kucium dan kujilat daging susunya dengan sepenuh perasaan. Kupejamkan kedua mataku menikmati indahnya gairah cumbuku dengan Nani. Masih pada posisiku memeluk Nani dari belakang.
"Ooowww.. Mass.. geli ahh.. mm.. aduuhh.. jilatanya.. auwww.. aa.. iihh.. nakal.. mm.. uuhh.. ih.. gelii.." Aku semakin bernafsu, "Crosp.. crosp.." ketika mulutku mulai menghisap dan menyedot permukaan daging payudaranya dan bibirku mulai aktif mengenyot permukaan buah dadanya itu agar meninggalkan bekas tanda merah pada permukaan daging yang putih mulusitu. "Oowww.. aduuh.. Maass.. gelii.. mm.. aahh.. iihh.. mm.. aduuhh.. sakit Mass.." pekik Nani semakin keras.

Kini posisi berhadapan dengan tubuh saling merapat, semakin asyik menyedot dan menghisap daging buah dada montoknya secara bergantian dan sementara Nani semakin asyik merintih keenakan, jemari kedua tanganku mulai bergerak menyusuri sekujur tubuh mulusnya yang seksi, mulai dari punggungnya yang halus mulus terus bergerak ke bawah ke pinggulnya yang bulat aduhai begitu menggemaskan. Aku meremas pelan pinggul dan pantatnya dan semakin lama semakin kuat sakinggemasnya. Begitu kenyal dan padat dan penisku makin menonjol membelah selangkangan Nani yang masih tertutup CD. Batang penisku yang menegang semakin menggila, kugesek naik turun makin cepat, kurasakan sudah berkali-kali cairanku keluar menandakan sudah saatnya untuk melakukan senggama. Namun jari tanganku masih belum berhenti menjamah tubuh Nani yang merangsang ini.

Jari telunjuk dan tengahku kugunakan untuk menyibak bibir-bibir kemaluannya untuk mencari jalan masuk ke vaginanya. Nani menyedot lidahku dengan lembut. Uh nikmatnya, tanganku menyusup diantara dada, meraba-raba dan meremas kedua belahan susunya yang montok itu.

"Mmm.. oohh.. Nani.. aahh.." kegelian bercampur nikmat saat Nani memadukan kecupannya dileherku sambil menggesekkan selangkangannya yang basah itu pada penisku.
"Mas.. sedot susu Nani lagi.. Yaang.." tangannya meremas sendiri buah dada itu, aku tak menjawabnya, bibirku merayap ke arah dadanya, bertumpu pada tangan yang kutekuk sambil berusaha meraih susunya dengan bibirku. Lidahku mulai bekerja liar menjelajahi bukit kenyal itu senti demi senti.

"Ohh.. Ohh.." rontaan perempuan itu mulai mengendur.
"Aawww.. aduuhh.. Mass.. aawww.." pekik Nani kegelian.
"Mmm.. enak sekali Non.." bisikku setengah serak.
"Mas.. Maass jilat memekku Sayaang.." bisiknya pelan terdengar bernafsu.
"Oouuh yaahh.. Mas.. oouuhh.. yaahh.. terus Sayang.."

Cukup lama sekali kukira aku mencumbu alat kelaminnya itu, sampai kira-kira lima menitan saat jerit gairahnya terdengar. "Mas.. Mas.. yaach.. buka mulutmu Sayang.. aduuhh.. aku mau keluar Sayang.. uuhh.. oouugghh.." pekiknya keras. Rupanya Nani sudah hampir sampai ke puncak orgasmenya. Sambil pinggulnya diangkat, jemari tangan kirinya menyibakkan bibir vaginanya yang sudah basah habis kujilati sedang jari telunjuk kanannya menggosok-gosok daging vaginanya dengan cepat. Dapat kulihat jelas liang vaginanya yang mungil dan sudah basah itu sedikit membuka. Melihat pemandangan merangsang itu segera kubuka mulutku lebar-lebar menunggu cairan orgasme tumpah keluar.

Tiba-tiba saja beberapa semprotan bening dari liang kemaluan Nani tumpah keluar langsung masuk ke dalam mulutku. Hmm.. ada rasa asin dan gurih bercampur jadi satu, langsung kutelan nikmatsemuanya. Baru sekali ini aku tahu bahwa wanita juga dapat menyemburkan cairan orgasme.

Nani mengerang dan merintih panjang menikmati puncak orgasmenya. Pinggulnya yang seksi aduhai sampai menggeliat-geliat hebat saking enaknya. Ssstt.. indah sekali. "Nnngghh.. uuhh.."Kudekatkan mulutku ke lubang kemaluannya yang masih meneteskan cairan kenikmatannya itu. Kuhisap dan kusedot sekuatnya sampai kurasakan tidak ada sisa lagi cairan yang keluar. Lidahku mengecap sedap menikmati lendir orgasme Nani sebelum akhirnya kutelan habis.

"Uuuhh.. Mas.. Mas.. oouhh.. makasih Sayang.. uuhh.. barusan nikmatnya bukan main Sayang.." bisik Nani letih setelah orgasmenya berakhir. Kedua belah pantatnya dihempaskan ke dadakuyang bidang. Kini dapat kulihat kembali wajah cantiknya yang tampak berkeringat basah. Namun rona-rona kepuasan dan kebahagian terpancar di wajahnya. Kubisikkan ke telinganya permintaanku yang khusus. "Non.. kalau Mas pulang kantor, Nani pakai BH-nya yang beli tadi yaah.." begitu keinginanku, dan dia hanya mengangguk, "Heech.." Aku mengecupnya sebelum malam itu terlelap menikmati malam yang indah dalam pelukan gadisku yang semakin menggairahkan. Dan malam yang hangat itu beberapa hari terus berulang dalam suasana yang bebas di rumah kostku yang sedang sepi, hanya aku bersama Nani.

Bersambung . . . .

Nani gadisku dari kampung - 8

Disaat lelap tidurku setelah sore itu kuberikan hadiahku sebuah bra dengan ukuran 36C itu, kembali Nani memintaku memenuhi gairahnya yang kembali bergelora ditengah malam. Mula-mula antara sadar dan tidak, aku merasa ada yang memberi gairah, sampai batang kejantananku terasaberdenyut nikmat. Barulah tersadar ketika penisku terasa tergesek sesuatu yang agak keras, dan ternyata gigi Nani menggores ujung batang kejantananku. Terjaga dari tidur, ternyata mulut Nani tengah mengulum ujung penisku dan mengisap-isapnya demikian asyik dan kami sudah sama-sama telanjang.

Aku segera bangun dan saat melihatku seakan Nani mengerti lalu menggeser tubuhnya agar tubuhku segera menindihnya untuk mulai percumbuan di tengah malam. Huuh.. enak rasanya saat kulit dada dan perutku bergesekan dengan kedua paha mulusnya itu. "Mmm.. Mas.. aku siap dimasuki kejantananmu Sayang.." bisik Nani lembut. Wajahnya yang cantik itu nampak sedikit kusut setelah bangun tidur. Dan sstt.. aku merintih nikmat dan seakan tak percaya ketika dengan penuh kelembutan jemari lentik Nani yang halus itu lalu memegang sembari memberi sedikit remasan gemas pada batang penisku yang sudah tegang sempurna dan membawanya ke celah bukit kemaluannyayang sangat merangsang birahi kelelakianku.

Hhmm.. aku kembali meremas-remas dan memuntir gemas kedua buah dadanya yang montok dan kenyal."Aahh.." aku kembali merintih nikmat ketika Nani kembali meremas batang penisku. "Alat vitalmu menggairahkan sekali Mas.. setiap kali membuat birahi Nani naik terus.." bisiknya lembut, lalu kemudian Nani mulai mengangkat pinggulnya ke atas dan sedikit digeser ke atas pinggangku sehingga bibir kemaluannya yang rapat itu tepat berada di atas batang penisku yang menegang. Bibir kemaluannya disibakkan sendiri dengan membuka bibir vaginanya agar lebih leluasa penisku memasuki persenggamaannya. Perlahan lalu ditempelkannya kepala penisku ke belahan bukitkemaluannya dan diselipkan di situ. Sambil terus diremas-remas dan dikocok perlahan batang penisku yang menegang, Nani mulai menurunkan pinggulnya ke bawah dan, "Sleppss.." kurasakan ujung kepala penisku mulai memasuki sebuah lubang sempit diantara dua bibir liang senggama Nani. "Uuugghh.." bibirku tanpa terasa bergetar menahan sejuta rasa.
"Mmm.. uuhh.. iihh.. penismu Mas.. awww.." rintih Nani sedikit membimbing penisku masuk lubangkewanitaannya secara perlahan-lahan kulihat kepala penisku mulai tenggelam menembus ke dalam liang vaginanya.

"Aaahh.. Nani.. oouuhh.." Aku mengerang merasakan kenikmatan saat liang vaginanya menjepitbegitu ketat kepala penisku yang besar. Seakan diremas dan diurut oleh daging hangatnya yang lunak itu.
"Aaahh terus Non.. aku.. ouuhh.. teruss.. yaahh.. eenaaknya Nani.. oouuhh.." Aku menggeliat keenakan. Kupejamkan kedua mataku menikmati sensasi yang menggairahkan.
"Mas.. Mas.. yah.. oouuhh.. Sayang.. mmhh.." rintih Nani sembari kurasakan ia terus menekan pinggulnya ke bawah. Seakan tiada hambatan dan begitu lancar selain rasa ketat dan hangat yang kurasakan pada separuh batang penisku yang telah berhasil memasuki lubang vaginanya.
"Aaahh.. terus Nani.. aahh.." pekikku semakin keenakan. Mili demi mili kurasakan lubang ketat vaginanya semakin dalam menjepit batang penisku. Seakan mencengkeram hebat saking sempitnya.Sekujur tubuhku seolah gemetaran menikmati sensasi seks ini. Kukonsentrasikan seluruh perasaan nikmatku pada jepitan hangat lubang kemaluan Nani yang secara terus menerus menyedot habis seluruh alat vitalku.

"Uuuh.. mm.. penismu Sayang.. keras sekali Mas.. uuh.." Akhirnya dengan satu hentakan kuat amblas sudah seluruh batang alat vitalku tenggelam ke dalam liang vaginanya yang sangat ketat dan hangat. "Hmm.. penismu dorong lagi Sayang.. Mas.. ayo.. yang dalam Sayang.." Aku merintih nikmat merasakan batang penisku terjepit begitu sangat kuat, seakan diremas, diurut dan disedot oleh lubang vaginanya yang hangat. "Woowww.. Luar biasa sekali Mas.. benar-benar besar dan memuaskan.. Uuuh.."
"Oouuhh.. Nani.. nikmaat sekali.. aahh.." erangku keenakan. Lutut dan sekujur kakiku sampai gemetaran menahan rasa nikmat yang baru pertama kali ini kurasakan. Aku benar-benar tidakmenyangka jepitan hangat liang vagina milik Nani ini sampai membuat jiwaku seakan melayang ke awang-awang.

"Non.. lubang memekmu rasanya hangat.. sempit jepitannya.." bisikku.
"Mungkin air vaginaku mulai keluar, hmm.. kenapa Sayang.. licin yaa.. penismu.. rasanya hangat yah.." bisiknya mesra menggoda. Aku tak sanggup menjawab lagi selain hanya merem melekkeenakan. Sambil setengah tertawa kecil direbahkannya tubuh bugilnya ke badanku sehingga kedua buah dadanya yang sebesar melon itu menekan dan menempel ketat di dadaku yang bidang.

Ughh.. Nikmat sekali rasanya. Kupeluk gemas tubuhnya yang mulus dan montok itu. Wajahnya yang cantik menunduk ke arahku dan sejenak kemudian kami berdua kembali asyik saling bercumbu bibir. Sementara itu kurasakan kedua paha mulusnya yang mengangkangiku kini menjepit pinggangku dengan ketat. Aku menggelinjang keenakan merasakan otot-otot daging vaginanya yang menjepit batang penisku seakan memelintir dan meremas begitu ketat. Kupejamkan kedua mataku dan sejenak kemudian kurasakan pinggulnya mulai bergerak turun naik menyetubuhiku. "Aaahh.." Aku mengerang-erang keenakan diantara cumbuan bibir Nani saat liang vaginanya yang sempit dan hangat itu mulai menggesek batang penisku keluar masuk.

"Ooouuhh.. Non.. oouuhh.. yaahh.. oouuhh.." erangku nikmat.

Begitu lembutnya Nani menggoyang pinggul turun naik dengan sangat telaten. Waktu serasa begitu panjang dan lama sekali. Kami berdua bercumbu mesra sembari saling mendesah keenakan menikmati pergesekan luar biasa pada alat kelamin kami yang telah menyatu. Vagina Nani menggesek keluar masuk batang penisku yang seolah diplintir-plintir tak karuan. "Nnngghh.. Non.. oouuhh.. nikmaat sekali.. aahh.."

"Uuuhh.. Mas.. penismu nyampai ke dalam sekali Sayang.. nngghh.."
Semakin lama Nani bergerak semakin cepat menaikturunkan pinggulnya membuat alat vitalku semakin kuat menggesek keluar masuk ke dalam lubang kemaluannya. Kemaluanku sampai terguncang-guncang saking kuatnya Nani menghentak ke bawah. Aku merasa tak ada lagi batang penisku yang tersisa diluar karena begitu Nani menghentakan pinggulnya ke bawah seluruh batang penisku serasa dijepit kuat oleh bibir daging kelaminnya yang hangat sampai kandas.

Kemaluanku merasakan nikmatnya senggama yang sangat luar biasa ini. Sambil saling berpelukan erat kurasakan Nani merintih dan mengerang semakin keras. "Oouuhh.. Mas.. Mas.. Yaang..oouuhh.. oouuhh.." Aku menduga Nani sebentar lagi akan orgasme. Benar saja, kemudian kurasakan otot-otot daging vaginanya tiba-tiba menjepit alat vitalku dua kali lebih kuat membuatku. Sekujur tubuhku menahan rasa nikmat yang tak terkira.

Tiba-tiba tubuh Nani terasa kaku dan kedua pahanya yang mulus itu diluruskan ke samping kiri dan kanan sambil mengejang kuat berulang kali. Aku sendiri merasakan liang vaginanya menjepitpenisku luar biasa kuatnya seakan diremas-remas dan dikenyot alat vitalku. Nani mengerang panjang sambil mengejang nikmat berulang-ulang. Sejenak kemudian kurasakan seluruh batang penisku merasakan cairan hangat.

"Ooouuhh Mas.. Mas.. penismu.. oouuhh.." pekiknya nikmat di puncak orgasme keduanya. Beberapa detik kemudian Nani akhirnya terdiam kelelahan. Lubang kemaluannya masih menjepit batangpenisku sampai kandas. Kupeluk dan kubelai mesra pinggang dan punggungnya yang putih mulus menenangkan perasaannya yang baru terpuaskan.

"Kau puas Non.." bisikku penuh kasih sayang.
Ia mengangkat wajahnya yang tampak basah berkeringat dan letih. Bibirnya yang merah tersenyum penuh kepuasan yang tak terkira.
"Mas.. yaahh.. oohh.. kau kuat sekali Sayang.. kamu sendiri belum juga keluar Sayang.. ohh.. kau hebat Mas.. penismu.. cupp.. cupp.. serasa membuat aku gila," katanya pelan sambil mengecup bibirku penuh kemesraan. Aku tersenyum bangga, aku sendiri juga tidak mengira dapat mengimbangi bahkan lebih tahan lama saat bersenggama dengannya tadi. Padahal jepitan dan gesekan liang vaginanya luar biasa ketat dan nikmatnya.

"Uuuhh.. Mas.. panjang sekali penismu Sayang.. uuhh.. malam ini keluarkan air spermamu.. sepuasmu Sayang.. uuhh.. Aku juga puas Sayang," bisiknya penuh gairah nafsu.
Aku masih sempat tersenyum geli diantara desah kenikmatanku mendengar ucapannya.
"Uuuhh Sayang.. kuat sekali Mas.. hmm.. benar-benar kau laki-laki pemberi gairahku.. uuw.." bisiknya manja.
"Non Sayaang.. Non ingin beberapa kali lagi malam ini?" bisikku gemas menahan rasa nikmat.
"Ehh.. hik.. hik.. Mass.. maunya sampai subuh.. Nani merasakan birahinya teruss.. mm.. Nani minta kepuasan terus Mas, maafkan Nani pengin terus seperti nggak ada puasnya kalau hanya sekali, memeku nyut-nyut terus kalau megang kemaluan Mas yang lagi tegang, boleh nggakYaang.." bisiknya mesra.

Sungguh tak terperikan rasa nikmat yang kurasakan. Jiwaku seakan diatas awang-awang terbang ke dalam sorga kenikmatan yang luar biasa. Kukecup dan kukulum bibirnya yang merah sepenuh perasaan. "Nnnghh.. Mas.. barusan sepertinya banyak sekali air spermamu Sayang.." bisiknya manja menikmati tubuhnya yang sedang kusemai. Aku tak tahu lagi sudah berapa semburan yang kutumpahkan ke dalam liang rahimnya, betapa kenikmatan yang sedang melanda tubuhku itu membuat seakan ringan tak berdaya menyetubuhinya seakan tiada rasa puas dalam hatiku untuk terus menggeluti tubuh Nani yang montok dan sintal ini.

"Terkadang aku ingin berhenti.. tapi terasa masih kurang juga bagai mau pingsan.. kecapekan.. hik.. hik.." keluhnya manja.
Begitu luar biasa nikmatnya. Perasaanku sekarang seolah begitu ringan.
"Nnngghh.. Non.. nngghh.. oohh.." bisikku gemas.
"Iiihh.. Mas.. sudah ah.. hik.. hik.. nakal sekali kamu Sayang.. cabut dulu ahh.. kemaluanku gellii, mau lagi sih tapi istirahat dulu.." rintihnya kenikmatan.
Jemari tangannya dengan gemas mencubit pantatku yang masih bergerak turun naik menyetubuhinya."Mas.. Mas.. hik.. hik.. aawww.. nggak tahan gelinya Sayang.. jangan cepat-cepat masukinnya Sayang.. aawww.." Nani merintih kegelian ketika kucabut batang kejantananku dari liangsenggamanya. Alat vitalku terasa masih sedikit gatal-gatal dan masih menegang seolah masih menyimpan keinginan yang terpendam.

"Aduuhh.. Mas.. Sayang.. iihh.. gelii.. ah Sayang.. nngghh.." bisiknya lirih. Namun diakhir ucapannya itu aku merasa Nani mulai merasakan kenikmatan lagi.
"Non.. air spermaku mau keluar lagi nih biar keluar di dalam saja ya, Yang.." bisikku mulaimerasakan kenikmatan senggama itu kembali.
"Oouuhh.. Mas.. kau luar biasa Sayang.. oouuhh.." bisiknya sembari menikmati sodokan alat vitalku yang mulai menggelitik klitorisnya ke sorga kenikmatan. Kedua pahanya yang mulus kembali menjepit pinggangku erat. Kedua tangannya memeluk tubuhku mesra dan jemari tangannya mengelus mesra punggungku yang berkeringat basah. Begitu nikmat dadaku menindih kedua bulatan payudaranya yang kenyal dan padat itu. Kedua puting susunya terasa keras dan runcing menusuk kulit dadaku. Geli rasanya. Kami saling bercumbu bibir sembari menikmati rasa nikmat pergesekan alat kelamin kami yang saling beradu untuk mencari kenikmatan.

"Mas.. yaahh.. cupp.. cupp.. oouuhh.. ngghh.. oowww.. air spermamu biar aku simpan di dalam rahimku Sayang.. heeh.. heeh.. yaahh.. aauuwww.. enak.. nyuutt.. nyuutt.." rintih Nani nikmat. Mungkin sekitar setengah jam lebih karena kami berdua sudah sama-sama terpuaskan tadi, tetapi justru terasa jauh lebih nikmat. Kami berdua bisa sama-sama berkonsentrasi dan merasakan secara lebih mendalam dan lebih menjiwai persenggamaan ini. Setiap kami saling menggesek, kami bisa merasakan nikmatnya itu sampai ke tulang. Ia kadang sampai melenguh panjang keenakan ketika kubenamkan secara perlahan batang penisku ke dalam lubang kemaluannya sampai kandas, begitu pula ketika kutarik batang penisku itu pelan-pelan keluar dari lubang kemaluannya sampai-sampai ia menggigit pundakku karena gemas.

"Aaahh.. Mas.. Mas.. nngghh.. nikmaatnya Sayang.. terus Sayang.. ulangi lagi.. aahh.. uuhh .. yaah.. mm.." rintihnya. Tak terasa begitu cepat sekali rasa nikmat itu berakhir, pinggulku terhempas lunglai di atas tubuh Nani. Alat vitalku bermandikan air sperma di dalamliang vaginanya. Kurasakan batang penisku itu mulai bergerak menyusut. Nani menciumi bibirku dengan gemas. Berkali-kali mulutnya mengulum bibirku sampai lama sekali. Dari wajahnya terbayang betapa sangat puasnya dia malam ini. Begitu terlihat cantik dan alami meski tampak basah berkeringat. Kedua matanya yang kelihatan sedikit letih memandangku mesra.

"Ooh.. Mas.. aku benar-benar merasakan persetubuhan tadi nikmat sekali.. Mas.. nikmat sekali.. kali ini terasa lain.." Rasa gemas disertai pelukan yang erat sekali seolah tubuhku dan tubuhnya lumat menjadi satu dalam gelora puncak gelombang lautan birahi.
"Aku juga Non.. begitu nikmat sekali.. hmm.. indah sekali Non.." bisikku letih.

Nani masih terkapar. Aku lunglai di atas tubuhnya. Ini sudah keempat kalinya aku bersetubuh dengan Nani hari itu. Yang terakhir inilah kurasakan sangat berbeda dibanding sebelumnya. Lebih nikmat, lebih memuncak, lebih lama, lebih banyak aku mengeluarkan spermaku, susah untuk diceritakan.

"Ooh.. Mas, kamu hebat.." diciumnya pipiku dengan gemasnya.
"Apanya yang hebat, Nani."
"Mas betul-betul lelaki milik Nani.. ini milikku Mas." tambahnya diremasnya penisku dengan gemas.
"Mas, luar biasa." tak putus-putusnya ia memujiku.
"Memang enak nggak tadi, Non?"
"Wow.. bukan main.. Nani mau lagi sebelum Mas pergi ke kantor!"
Kupeluk tubuhnya, aku merasa bahagia sekali.
"Nani sayang.." aku berbisik semesra mungkin.
Agak kaget Nani memandangku, lalu tersenyum, manis sekali.
"Ada apa Yang?" Nani memanggilku.
"Aku sayang Nani."

Kucium bibirnya.
"Hhmm.." lenguhnya.
"Kalau lama, enak sekali ya Non."
"Kok kamu tadi bisa lama."
"Nggak tahu, Non. Mungkin karena tadi sudah yang kedua, jadi bisa nggak cepet orgasme."
"Atau mungkin karena Mas udah mulai berpengalaman."
"Yang sudah pengalaman Nani kali."
"Aaa.. Huu.. awas yach, nuduh Nani," sambil mencubit penisku.
"Maksudku, Nani tambah berpengalaman dalam memberiku kenikmatan selama 3 hari ini," godaku lagi.
"Aaah, udahlah, Mas." kami lalu diam lagi.

"Mas.." panggilnya tiba-tiba.
"Ya.. Sayang."
"Jangan tinggalin Nani, Ya.."
"Oo, nggak dong. Nani yang udah memberikan kehangatan begini mau ditinggalin."
"Nani serius, Mas.."
"Saya juga serius, Non.. Saya ingin begini setiap hari, Non."
"Saya butuh kamu Mas, Mas telah semakin memberikan kenikmatan yang nggak bisa dan tidak akanpernah Nani lupakan."
"Nani rasanya tidak bisa ngelepas nikmatnya Mas nyetubuhin Nani setiap hari." pintanya dengan mimik memelas seolah memintaku untuk selalu menyetubuhinya.
Pelukanku semakin erat malam itu mendekap polosnya tubuh gadisku di atas ranjang yang entah berapakali telah memberikan pengalaman bercinta yang terus bergelora. Dan kami benar-benar lunglai hingga sinar matahari pagi mulai mengintip ke kamarku.

Dan kenikmatan bersama Nani terus berulang hampir seminggu, kejadian di rumah kost dengan pengalaman hubungan persetubuhanku dengan gadis dari kampung itu terus terulang dengan rutin sampai saat kakaknya datang beserta keluarganya dari kampung. Ini bagai menyiksaku maupun Nani untuk dapat mengulang kembali gairah kenikmatan bersetubuh yang sudah demikian biasa kami rasakan bersama. Entah dengan cara bagaimana dan kapan lagi persetubuhan itu dapat kuulangi lagi, aku belum tahu. Terasa sekali aku kehilangan dia, Nani gadis dari kampung. Bila mungkin kuulangi saat-saat indah bersamanya? Sedang kucari saat yang memungkinkan.

TAMAT

Selasa, 31 Mei 2011

Novie, Neneng dan Mona

Novie, pacarku ini orangnya lugas. Soalnya sudah menjadi Account Manager di suatu biro iklan, diberi mobil perusahaan dan punya rumah sendiri, tetapi tidak mau di kantor mempunyai status married. Umurnya 30-an, tetapi sudah "main-main" denganku sejak usia 23 tahun.

Badannya ramping dan aku senang payudaranya yang tidak besar (justru tidak mudah "peot"). Kalau payudaranya aku isap lama-lama, dia akan dorong kepalaku, "Aku sudah terangsang, lagian 'ntar putingnya gede peperti orang punya anak, susah aku!". Permainannya sering membuatku kelimpungan saking enaknya, desahannya kalau lagi syuur sangat menggugah gairah. Yang aku senang, kalau sedang menginap di rumahnya, pagi-pagi kalau mebangunkanku, dia pegang-pegang penisku (kalau tidur aku tak pakai CD dan hanya pakai celana pendek). Biasanya dia sengaja telanjang bulat, dengan posisi "69", dia pegangi dan masukin penisku ke mulutnya dan dijilatinya sampai penuh berlumuran liurnya. Kalau aku terbangun, dia tidak mau kujilatin clitorisnya. Maunya dicium-cium saja sambil digelitiki.

Kalau "gairahnya sudah naik", dia akan berbalik, aku ditelentangin dan dia naik ke atas badanku sambil memasukkan penisku ke vaginanya. Kalau itu terjadi pagi hari, kami akan langsung main dan cepat selesai. Kalau ini terjadi sore atau malam hari, permainan dapat berlangsung lama. Kalau di kantornya ia merasa horny, dia akan menelepon minta bertemu. Lalu kami bertemu di motel. Kalau mainnya di motel, dalam waktu 4 jam, kami dapat mengulangnya sampai 3-4 kali. Ini yang disenanginya dariku. Dapat main beberapa kali dalam waktu 3-4 jam. Dia memang sangat free soal beginian dan model aktif. Kalau sudah di atas badanku, dia akan terengah-engah dan tersengal-sengal, pantatnya dinaik-turunkan, berputar menikmati sensasi seksual yang dirasakannya. Kepalanya melengak-lengok, matanya merem-melek, satu tangan memegangi selangkanganku, ibu jari dan telunjuk tangan yang lain meremasi putingnya sendiri. Tanganku kadang ikut meremasi payudaranya atau memegangi pantatnya, ikut mengatur irama naik turun badannya di atas penisku. Kalau pas seperti ini, aku senang melihatnya sedang menikmati sensasi semacam itu. Apalagi kulitnya putih (keturunan Cina), perutnya datar, mukanya memancarkan gairah yang meledak-ledak. vaginanya sangat banyak berair (menurut pengalamanku, keturunan Cina biasanya begitu), sampai berbunyi "Plok.., oplok.., cipak.., oplok.., ciplak.., ciplak.., oplok".
cara "naik kuda" ini berlangsung kurang lebih 3 menit. Lalu ia mengerang-erang dan minta ganti posisi. Ia lalu membaringkan diri di atas badanku, dengan menggit bibirku, menyelipkan lidahnya kesana-kemari sambil memeluk, dia membalikkan badanku.

Setelah berada di bawah, pantatnya naik-turun dengan hebatnya. Atau diputarnya sedemikian rupa, sehingga aku yang kelimpungan keenakan. Kadang bed tempat kami main cinta akan demikian kusutnya, karena kami bergerak dengan liar kesana-kemari secara diagonal. Dari sudut kiri bawah (bagian kaki bed), lalu ke sudut kanan bawah. Lalu ke kanan atas (bagian kepala), lalu ke tengah lagi. Kemudian ke kiri, ke kanan, ke tengah, begitu terus tidak bisa diam. Gerakannya sangat ekspresif. Kadang rambutku diremas-remas habis, atau tangannya juga melambai-lambai kesana-kemari, mulutnya menggumamkan segala macam kata.
"Enaak.., lagii.., masukin semuaa.., tekan dongngng.., bagian kiri (vaginanya maksudnya) mbok diteken.., aahh.., laaggii.., tekeenn.., ahh". Biasanya bagian seperti ini berlangsung 10 menitan. Kalau akan orgasme, dia akan menggeram keras-keras sambil menggurat-guratkan tangan ke punggungku. Ini tandanya giliranku menyerang. Pantatku akan bergoyang demikian hebat, penisku cepat sekali keluar-masuk vaginanya. Sampai akhirnya, terlepaslah spermaku. Merasakan cairan hangat ini menyemprot deras memasuki sudut-sudut vaginanya, dia akan memelukku erat-erat. Hebatnya, tidak seperti cewek-cewekku yang lain, begitu selesai, begitu penisku dicabutnya dan ia langsung memakai pakaiannya. Cewek-cewek lain kan biasanya menikmati rasa nikmat itu dulu, tiduran telanjang sambil berpelukan. Cewek lain malah memintaku di atas tubuhnya terus selama mungkin. Kadang sampai ia tertidur. Dan penisku lemas sendiri dan keluar sendiri. Tetapi ya memang lain-lain perilakunya. Salah satu yang disukai Novie ini adalah melakukan permainan seks di dapur, sambil berdiri. Biasanya kami memutar video porno dulu. Ini dilakukan di ruang tengah, tidak di kamarnya. Biasanya pembantunya sudah tidur. Sambil tangan kami berusaha "ramah" (rajin menjamah bagian badan masing-masing), mata melihat video. Yang disukainya adalah ketegangannya, apalagi kalau pembantunya sempat lewat mau pipis ke kamar mandi pembantu. Biasanya saluran TV-nya langsung dipindah ke acara lain, sampai pembantu masuk lagi ke kamarnya. Kalau sudah sampai puncak tidak dapat menahan diri, ia akan menyeretku ke dapur.

Ia duduk di bibir tempat masak, kakinya menjuntai. Kepalaku dibimbingnya ke arah puting susunya yang putih dan sudah tegang, sementara tanganku dimasukkannya ke dalam vaginanya sambil memelorotkan celananya. Lalu baju atau kaos atasnya juga aku pelorotin. Tangannya berusaha menurunkan retsleting celanaku, memelorotkan celana pakai kakinya, sambil mengeluarkan penis yang sudah tegang. "Besar amat..", bisiknya sambil mengelus ujung kepala penisku. Sensasinya, menurut tukar pengalaman kami, seperti kalau putingnya yang sudah tegang dielus-elus atau diisap-isap. Lalu dielus-eluskannya ujung kepala penis itu ke mulut vaginanya. Ia tidak suka kalau dimasukkan dengan tergesa-gesa. Kalau merasa sudah tak tahan, segera didekapnya badanku dan "blees", kepala dan badan penisku hilang masuk ke vaginanya yang sudah basah. Supaya mudah, ia akan turun dari bibir tempat masak, dan mulai gila menggoyangkan pantatnya atau memaju-mundurkannya dengan rengekan manja. Sering sampai mulutnya kututup pakai tangan, supaya pembantunya tidak terbangun. Kalau bersetubuh sambil berdiri ini, ia tidak akan tahan sampai lama. Begitu keluar, ia minta aku juga mempercepat serangan. Dalam hal ini, pancaran spermaku biasanya lebih keras dan lebih banyak, karena dia mengatakan semprotannya terasa sampai dalam.

Selama berhubungan denganku (8 tahun), katanya dia setia tidak mencari pria lain. Soalnya, pengalaman seksnya yang "mengesankan" pertamakali dirasakannya denganku. Aku sendiri selama itu sempat punya beberapa cadangan. Soalnya kadang-kadang kalau lagi sibuk mikirin kerja atau proyeknya, Novie sulit "diajak berhubungan". Atau dia cenderung memegang kendali. Jadi kalau sedang kecewa, aku sering mencari Neneng, perek bersih yang vaginanya nikmat dijilati dan suka menjilati penisku. Atau mencari Mona, janda yang kalau ketemu dari caranya memegangi badanku dan mendekapnya membuatku ini sepertinya tidak bakal dilepaskan. Neneng ini vaginanya kering, sehingga sering kuolesi pelumas supaya penisku mudah masuk. Bertemunya juga kebetulan. Ia liften, masuk mobil, langsung mencium karena katanya aku sangat ganteng wajahnya. Setelah itu tangannya beroperasi kesana-kemari dan minta minggir. Di situ aku mendapat the best blowjob I ever had, mengulum penisku sampai aku mengerang-erang sambil tetap duduk pegang setir, yang terasa hebatnya sampai ke otak. Dia turun ketika sudah sampai di tujuannya, menciumku sekali lagi, hilang begitu saja. Ketemu lagi 2 minggu kemudian. Sesuai latar-belakang budayanya, ia suka mijetin aku (kalau Novie, ia yang minta dipijetin).

Cuma, lama-lama setelah dekat, dia bilang, "Mungkin gue jatuh cinta nih ama lu".
Lalu sehabis itu kalau mau berhubungan, dia ada pada posisi yang menunggu. Tahu alasannya?, "Kan 'istri' tidak boleh minta dan agresif-agresif sama 'suami', begitu kata emak dulu", jawabnya. Busyeet deh, padahal aku suka keagresivannya! Neneng ini badannya sekal, payudaranya besar dan padat. Enak kalau dipegang dan diremas. Badannya wangi, nikmat banget kalau didekap. Potongan rambutnya selalu pendek dan aku suka itu. Aku paling senang menjilati vaginanya. Kalau aku sudah lemas setelah main 2-3 kali, dia menggesek-gesekkan pantatnya yang montok ke penisku, lalu dijilati dan penisku menjadi besar. Atau kalau tidak, ia main blowjob sambil merangsang buah zakar dengan teknik yang hebat. Aku selalu merem-melek dibuatnya. Aku berpisah dengan Neneng karena setelah jatuh cinta kepadaku, dia minta mundur, walaupun kalau ada tugas kantor keluar kota dia suka kuajak.

Kalau Mona, karena ia janda, kalau ketemu care-nya sangat baik. Kadang aku merasa di-rawat seperti anaknya. Kalau bertemu Mona selalu diawali dengan pemanasan seks yang menyenangkan. Kadang aku baru masuk rumahnya, pintu ditutup, aku lalu ditelanjangi di situ dan kami main di belakang pintu tanpa alas apapun. Mainnya tidak pernah hanya satu kali. Kadang setelah permainan kedua, dengan penis masih di dalam vaginanya, ia berdiri dan minta diantar ke dapur. Telanjang bulat berdua kami ke dapur. Di dapur main lagi sambil berdiri. Atau ke kamar mandi dan main lagi. Kalau dari depan pintu langsung naik ke tempat tidur, alamat aku tak akan boleh turun dari situ sampai keesokan harinya. Aku akan dijadikan pejantan setengah hari plus satu malam plus setengah hari lagi. Makan dilayani, digosok sebagai ganti mandi dan penis atau putingku jadi sasaran terus. Dia sangat suka kalau clitorisnya digosok-gosok. Kalau tidak dijadikan tawanan di tempat tidur, sehabis ditelanjangi pertama kali sejak datang, kami berdua tak akan berpakaian lagi. Makan dengan keadaan tanpa busana, mandi bersama, nonton TV juga hanya dengan mengenakan selimut. Anehnya, kalau di depan umum, Mona tak akan menyapa. Pernah janjian ketemu di satu mall, ia hanya memberi isyarat untuk mengikutinya dari belakang. Tak mau menjawab pertanyaan atau berjalan bergandengan.

Mona akhirnya diajak kawin lagi oleh mantan suaminya, yang memergokiku keluar dari rumahnya. Rasa cemburunya bangkit lagi, lalu minta kawin lagi dan Mona diboyong ke Itali. Tetapi semua itu aku rasa karena pengalaman dengan Novie membuat aku PD menghadapi cewek lain. Buktinya di Surabaya aku pernah ketemu cewek, main sampai 4 kali di hotel dan membayar cukup banyak. Eh, malam berikutnya dia datang lagi tanpa diundang (nunggu aku dulu pulang dari urusan kantor, di lobi lebih dari 2 jam), dan begitu juga 2 malam berikutnya.
Dia datang "menyerahkan tubuhnya" dengan suka rela!
"Enak bergaul, menggauli dan digauli sama kamu", katanya merem-melek. Tentang Novie sendiri, ketika ada orang yang naksir dia (berkedudukan mantap, lebih kaya), dan dia bilang "sudah butuh suami", aku dorong supaya dia mau menerima orang itu. Aku sendiri, katanya, nikmat diajak main sebagai "teman", tetapi bukan sebagai suami.
"Kebanyakan main-main di luar", katanya. "Yang jadi isteri pasti merasa tidak aman". (Terserahlah!-Who cares? Katanya, sebetulnya mereka merencanakan menikah akhir tahun 1999 ini, tetapi karena hitungannya (hitungan apa aku tidak mengerti) tak cocok, sehingga mereka akan menikah Februari 2000 nanti.

TAMAT

Niki yang tak terlupakan - 1

Niki adalah mantan kekasihku beberapa tahun lampau. Ia menikah dengan pria lain tahun 1996, aku menyusul dua tahun kemudian, saat itu Niki sudah mempunyai anak satu. Kami berpisah baik-baik, dan sesudahnya kami masih berhubungan. Aku juga kenal baik dengan suaminya.

Aku dan Niki sama-sama kerja di perusahaan konsultan. Sesudah menikah ia bertugas di salah satu proyek, sedangkan aku di head office, sehingga kami lama tidak ketemu. Cerita ini terjadi pada pertengahan tahun 2000, saat ia kembali bertugas di Head office menjadi sekretaris salah seorang expert kami dari Hongkong.

Aku sering berhubungan kerja dengannya. Semula kami bersama dalam tugas. Lama-lama berlanjut untuk hal-hal di luar kerjaan, hingga tidak terasa kebiasaan dulu kembali muncul. Misalnya makan siang. Seperti dulu waktu masih pacaran, sering ia 'mencomot' lauk dari piringku, atau sesuatu yang ia makan diberikan separuh ke piringku. Kebiasaanku menyiapkan sendok dan minuman untuknya, atau menghabiskan makanannya juga menjadi kegiatan rutin, seolah hal yang wajar saja dalam hubungan kami. Untungnya teman-teman sekantor juga menganggapnya wajar. Sering juga kami ngobrol soal rumah tangga, suami(nya), istri(ku), dan anak-anak (kami). Tidak ada cerita jelek, semua baik-baik saja. Tapi di balik yang 'baik-baik' tersirat kerinduan (atau kecewaan?) tersembunyi.

Dalam suasana seperti itulah hubungan kami berlanjut dan menghasilkan kisah-kisah yang sebagian kucuplik di sini, khusus yang punya kesan mendalam untukku.

Pertama: Saung Ikan Mas

Hari itu bossnya Niki sedang ke tempat client. Si boss bawa mobil sendiri, maka seperti biasa Niki memanfaatkan mobil kantor yang menganggur buat jalan-jalan. Driver-nya cs kami, jadi ia mengajakku bergabung cari makan siang di luar. ("Kamu yang traktir yaa.." katanya).

Pukul 11.30 kami bertiga berangkat ke Cwie Mie Fatmawati. Baru sampai di Prapatan Pejaten (kantor kami di Buncit), si boss menelpon minta supaya driver-nya menyusul karena tidak enak badan. Maksudnya minta disupiri pulang. Driver kami turun sambil mengomel, minta uang taksi ke Niki terus menyusul bossnya di sekitar blok M. Niki menggantikan pegang kemudi (dulu, Niki yang mengajariku bawa mobil) dan melanjutkan perjalanan.

"Kalo dulu, sambil nyetir gini biasanya aku dipijitin.." Niki mulai membuka kenangan.
"Sekarang juga boleh.." kataku, sambil mengusap lututnya, biasanya aku pindah ke belakang, memijat leher dan pundaknya dari belakang, dan tentu saja berakhir di payudaranya.
"Jangaan ahh, kacanya terang.." kata Niki.
Usapan di lutut memang lebih aman dari pandangan mobil lain. Dari desahan 'ahh'-nya kurasakan bahwa Niki menikmatinya.

"Kita ke saung aja yuk..!" lanjut Niki.
Saung adalah istilah kami berdua untuk sebuah restoran pemancingan di sekitar Ragunan. Aku tidak menjawab, hanya semakin meningkatkan sentuhan di lutut dan ke atas 'sedikit' sambil mata tetap waspada memantau kiri kanan takut dilongok pengendara motor. Niki dengan trampil meluncurkan mobil di sepanjang jalan dengan meminimalkan penggunaan kopling supaya paha kirinya lebih mudah terjangkau jari-jariku.

"Berapa tahun aku tidak nyentuh ini.." kataku saat jariku mulai nyelusuri pinggiran CD-nya.
Niki agak tergetar oleh sentuhanku itu, sambil mendesis ia mengoyangkan kakinya.
"Kamu bangun enggak Mas..?" katanya (ia memanggilku 'Mas').
"Liat aja," jawabku.
Ia melirik dan terkikik melihat tonjolan yang mengeras di celanaku.
"Hihihi.. masih mempan juga.."
"Masih dong, remasanmu belum ada duanya.."

Restoran itu terletak di pinggir kolam, dihubungkan ke beberapa saung (gubuk dari bambu) di tengah kolam dengan jembatan kayu. Saung beratap rumbia ukuran 2,5 m x 2,5 m itu diberi pagar bambu rapat setinggi 60 cm. Bagian atasnya terbuka sehingga dapat dipantau dari jauh, tapi dilengkapi krey bambu yang jarang-jarang, dan dapat diturunkan 'kalau perlu', juga disediakan bantal duduk.

Tidak ada pengunjung lain. Kami meniti jembatan kayu, memilih saung yang paling jauh dari kasir, dan memesan makanan yang paling cepat saji. Tidak lupa kami minta krey diturunkan. Begitu pelayan pergi, aku segera menjatuhkan pantatku di sebelahnya. Ia menyandar ke tiang bambu di pojok, bersila di bantal dengan cuek. Aku meneruskan elusanku yang terhenti, menyusuri pahanya yang terbuka.

"Mana dong yang keras-keras tadi, aku pegang.." katanya tanpa mempedulikan jariku yang sudah terbenam di dalam roknya.
Aku merapatkan duduk agar terjangkau tangannya. Ia menekan-nekan celana di bagian penisku dengan keempat jarinya. Dengan hati-hati sabukku dibuka, lalu zipku diturunkan. Dari sela-sela baju dan singlet, dirogohnya penisku yang sudah mengeras lalu diusapnya lembut.

"Segini aja dulu, biar gampang ditutup," katanya saat aku mau menurunkan celana panjang.
Rasa nikmat yang halus merambat seperti aliran setrum dari selangkanganku, menjalar ke kaki, badan terus ke otak. Kami duduk berdampingan, aku selonjor dengan penis mencuat keluar dari celana, sementara paha kiri Niki menopang di atas paha kananku. Tangan kirinya mengusap lembut batangku sementara sambil menikmati elusannya, tangan kananku melakukan eksplorasi ke permukaan vaginanya yang terbungkus CD.

Percumbuan ringan itu terhenti ketika pelayan datang membawa pesanan. Aku menaikkan zipku kembali seraya merapatkan jaket.
"Sana kamu ke kamar mandi Mas, CD sama singletnya dikantongin aja. Sabuknya masukin tas," ia berbisik memerintahku (Dari dulu aku suka 'perintah-perintahnya').
Ia membereskan makanan sementara aku ke kamar mandi, membukai semua sesuai instruksi dan mencuci batangku supaya dingin dan segar kembali.

Keluar kamar mandi, aku berpapasan dengan Niki menuju ke tempat yang sama sambil mengedipi aku. Sambil menunggu, membayangkan ulah Niki batangku yang baru didinginkan mengeras lagi. Aku tidak menyentuh makanan, hanya minum Aqua untuk mengurangi bau mulut. Niki datang langsung duduk di bantal lagi.

"Udah lega.. ganjelnya udah masuk sini semua.. Beha, CD.." Niki melemparkan tasnya.
Aku kembali merapat.
"Jangan deket-deket, kelihatan dari kasir," ia mencegah.
Tangan kiriku beralih ke perutnya, pelan-pelan menggeser ke atas. Semua 'daleman' Niki sudah tersimpan dengan aman di dalam tas. Niki mengeluh saat tanganku menyentuh bulatan kenyal itu, menggeser posisi sehingga dapat mengawasi kasir di seberang, sekaligus memudahkan aku 'bekerja'.

Ia kembali mendesah lirih saat kusentuh putingnya. Darahku bergejolak merasakan lembutnya buah dada Niki. Beda dengan dulu, sekarang lebih berisi karena menyusui. Aku tidak berani mencium bibir atau mendekapnya karena kepala kami kelihatan sayup dari restoran. Perlahan kubuka kancing blus dengan menyisakan satu kancing paling atas (Niki biasa begitu supaya cepat 'memberesinya') hingga aku dapat leluasa menciumi perutnya.

Buah dada Niki mengembang segar, putingnya yang menonjol sudah mulai mengeras, coklat dilingkari semburat merah jambu. Dengan lembut jariku mengelus puting itu. Kuremas tubuh Niki dengan penuh perasaan. Lidahku menjelajahi perutnya, membuat Niki mendesah-desah dengan mata setengah terpejam.

Bersembunyi di balik blus longgarnya, ciumanku beralih ke buah dada. Lidahku berputar-putar menyapu lingkaran merah di seputar puting, lalu diteruskan dengan mengulum ujungnya. Sementara itu tanganku menjelajahi gunung yang sebelahnya. Niki semakin merintih-rintih menikmati sentuhanku. Birahinya semakin menggelora. Sambil tetap menciumi puting susu, tangan kiriku pindah menelusuri paha Niki sambil tangan lainnya menyusup ke belakang, membuka kaitan roknya.

Sentuhan dan rabaanku akhirnya sampai ke pangkal pahanya yang tidak terbungkus apa apa. Usapanku pada bukit lembut yang ditumbuhi bulu halus membuat birahi Niki menggelegak, meluap ke seluruh nadi dan pori-pori. Ketika tanganku menyelusup ke celah kewanitaannya yang basah, Niki makin menggeliat tidak terkendali.
"Ahh.. Mass, ahh.." Niki merintih tidak karuan, sementara sekujur tubuhnya mulai dirangsang nikmat yang tidak tertahankan.

Dengan hati-hati rok Niki kusingkapkan, pahanya yang mulus sudah menganga menantikan sentuhan lebih jauh. Celah di pangkal paha Niki yang ditutupi rambut halus, merekah indah. Kepalaku menyusup ke dalam roknya yang tersingkap, Niki mengangkangkan pahanya lebar-lebar seraya menyodorkan pangkal pahanya, memudahkanku mencapai lembahnya. Jariku mengusap-usap celah itu yang mulai basah dan menebal, sementara lidahku menciumi pinggiran bulu-bulu kemaluannya.

Niki mengerang keenakan saat jari-jariku menggetar dan memilin kelentitnya.
"Akh.. Mas, gila..! Udah dong Mass..!"
Jari-jariku membasahi kelentit Niki dengan cairan yang merembes keluar dari celahnya. Setiap jariku mengorek lubang kemaluan untuk membasahi kelentit, Niki menggeliat kelojotan. Apalagi sambil membenamkan jari, aku memutar-mutarkannya sedikit.

Sambil meremas rambutku yang masih menciumi pubisnya, Niki mencari-cari zipku, ketemu, terus dibukanya. Dan kemaluanku yang sudah menegang kencang terbebas dari 'kungkungan'. Batangku tidak terlalu panjang, tapi cukup besar dan padat. Sementara ujungnya yang ditutupi topi baja licin mengkilat, bergerak kembang kempis. Di ujung topi itu, lubang kecilku sudah licin berair. Sementara tubuh Niki makin melengkung dan tinggal punggungnya yang bersandar karena pahanya mengangkang semakin lebar, aku pun berusaha mencari posisi yang enak.

Sambil menindih paha kirinya, wajahku membenam di selangkangan menjilati lipatan pangkal pahanya dengan bernafsu, dan tangan kiri tetap bebas menjelajahi liang kemaluannya. Pinggulku mendekat ke tubuhnya untuk memudahkan ia meraih batangku. Soal 'keamanan lingkungan' sepenuhnya kupercayakan kepada Niki yang dapat memandang sekeliling.

Dengan gemas tangan Niki meraih tonggakku yang semakin tegak mengeras. Jari-jarinya yang halus dan dingin segera menjadi hangat ketika berhasil menggenggam batang itu. Ketika pangkal paha Niki mencuat semakin terbuka, ciumanku mendarat di pinggiran bibir vaginanya. Ciuman pada vaginanya membuat Niki bergetar. Ketika lidahku yang menjelajahi bibir kemaluan menggelitik kelentitnya, Niki semakin mengasongkan pinggulnya. Lalu.., tiba-tiba ia mengerang, kaki kanannya terlipat memiting kepalaku dan tangannya mencengkeram pangkal leherku, mendesakkan mulut vaginanya ke bibirku, dan mengejang di situ. Niki orgasme!

Niki menyandar lemas di tiang pagar. Tapi itu tidak berlangsung lama, segera didorongnya tubuhku telentang dan dimintanya merapat ke dinding bambu. Aku mengerti yang dimauinya, aku tahu orgasmenya belum tuntas, tapi aku masih ragu. Semula aku hanya ingin menawarkan kenikmatan lewat lidah dan jariku, tapi kini telanjur Niki ingin lebih.

"Kamu oke, Ki..?" tanyaku. Ia mengangguk.
"Aman..?" lanjutku sambil memutar biji mataku berkeliling. Ia kembali mengangguk.
"Ayo.. sini..!" kataku memberi kode tapak tangan menyilang, Niki langsung mengerti bahasa kami masa pacaran.
Ia mengangkang di atas badanku, jongkok membelakangiku dan kembali menghadap ke restoran. Ia mengangkat rok dan memundurkan pinggulnya hingga vaginanya tepat di mulutku. Tanganku yang menganggur merogoh saku, mengambil 'sarung' yang sudah kusiapkan, kuselipkan di tangan Niki.
"Ihh, udah siap-siap yaa..?" katanya, sambil mencubit batangku.

Dengan sebelah tangan bertumpu pada dinding bambu, Niki berjongkok di wajahku yang berkerudung roknya. Dengan mendesah ia menggerakkan pinggulnya, menyapukan vaginanya ke lidahku yang menjulur, kadang mendesak hidungku dengan tekanan beraturan. Tangannya sebelah lagi mengurut pelan penisku yang semakin tegang, lalu dengan susah payah berusaha memasang 'sarung' dengan sebelah tangan, gagal, malah dilempar ke lantai.

Saat sapuan vaginanya di bibirku semakin kuat sementara lidahku yang menjulur sudah kebanjiran cairannya, pinggulnya ditarik dari mulutku, bergerak menuruni tubuhku ke arah selangkangan. Aku tidak tinggal diam, vaginanya yang lepas dari lidahku kurogoh, kujelajahi dengan jari-jariku. Niki semakin menggelinjang, pahanya mengangkang mengharapkan datangnya tusukanku, sementara tangannya yang menggenggam mengarahkan kemaluan itu ke liang vaginanya yang sudah berdenyut keras.

"Mas.. masukin yaa..!" Niki merintih sambil menarik batang kemaluanku, sementara aku masih memainkan jari di kelentit dan liangnya.
"Hhh, kamu lepaass dulu.. Ini udah keras banget..!"
Aku mengambil alih menggenggam tongkat. Kusentuh dan kugosok-gosokkan otot perkasa yang ujungnya mulai basah itu ke kelentit Niki. Niki melenguh. Sentuhan dengan ujung kemaluan yang lembut dan basah membuat kelentitnya serasa dijilati lidah. Napas Niki semakin terengah-engah.

Bersambung . . . . .