Santi mengangguk sambil tersenyum manis kepadaku, "Dari dulu aku memang sudah tertarik dan suka dengan kamu. Dimataku, kamu orangnya baik, calm, dan sopan. Aku juga sudah menduga bahwa kamu bisa bermain sex berulang-ulang tanpa letih. Terbukti kamu sudah orgasme 2 kali kamu malah terlihat segar. Kok, kamu bisa seperti itu sih, minum obat ya?"
Aku mendengarkanya sambil berulang-ulang mengecup lengannya dan kemudian membelai wajahnya kembali, "Minum obat? Obat apaa? Obat-abit? Hehehehe.. Enak aja. Aku kan nggak ada persiapan kalau akhirnya aku ML sama kamu? Eh, semalem aku sih emang minum obat diare..?" jawabku enteng.
"Eh, emang kamu kenapa?" tanya Santi kemudian.
"Sakit perut laa.. Emang sakit panu?"
"Sekarang masih nggak?"
"Nggak... Udah sembuh kok, kenapa?" tanyaku.
"Ooh.. Kirain masih sakit perut.. Bisa gawat! Kalo kamu orgasme, yang keluar bukan dari penis, tapi dari pantat! Kalo gitu kan, gue yang bingung, Hahaha.."
"Idiidih.., jorok amat sih, Lu!! Nggak disangka, cantik-cantik jorok, hahahaha"
"Ee.. Jangan asal ya! Gini-gini juga, Lu mau ama gue! Buktinya mau jilatin vagina gue.. Dari depan sama dari belakang, kan?"
"Habis.. aku kan emang pengen banget nyetubuhi kamu? Lihat pantat kamu aja aku udah horny.. Apalagi bersetubuh!"
Santi tertawa mendengar celotehanku itu. Kemudian aku bangun untuk meneguk segelas air yang tadi diletakkan di meja. Sementara Santi ke kamar mandi, aku yang sudah selesai minum mengikutinya. Di dalam kamar mandi, Santi membasuh vaginanya dengan air, kemudian mengeringkannya dengan handuk. Aku memperhatikannya dengan seksama. Setelah selesai mengeringkan vaginanya, aku menghampirinya. Dengan memberi kecupan mesra pada tengkuknya, aku berkata.
"San, aku mau lagi, boleh ya?"
Dengan posisi berdiri, aku sisipkan penisku yang sudah agak mengeras ke vaginanya dari belakang, sementara tanganku yang satu meremas payudaranya dari dalam bajunya. Setelah mengangguk, Santi merespon dengan menunggingkan pantatnya, dengan mengangkat satu kakinya ke kakus. Diiringi dengan desahan panjang.. Aku menggenjotnya perlahan-lahan. Desahan demi desahan mengiringi menit dan gerakan kami yang semakin kencang. Dalam posisi yang sama itu kami melewati kenikmatan bersetubuh dengan rasa sayang dan mesra.
Sambil berpegangan di pinggir bak mandi, Santi merespon setiap gerakan aku yang menyetubuhinya sambil meremas pantatnya yang kenyal. Akhirnya persetubuhan kami itu diakhiri dengan jeritan tertahan dari Santi yang merespon orgasmenya, sementara aku mendekapnya dengan erat saat aku merasakan orgasmeku dan menyemprotkan cairan cintaku di dalam vaginanya.
Santi menghempaskan tubuhnya di pinggir bak mandinya. Peluh dan rasa nikmat menjalar di tubuh kami berdua. Dengan penis masih tertancap di vaginanya, aku membelai lembut rambutnya dan memberi kecupan sayang ke pelipis kirinya. Santi berbalik dan mengecup lembut bibirku.
Setelah itu sambil memegang penisku, Santi berkata "Aku bersihkan, ya?"
Dengan tersenyum aku mengangguk. Kemudian Santi mengambil gayung dan mulai membersihkan penisku. Setelah mengeringkan dengan handuk, sambil berjongkok Santi mengocok penisku dengan perlahan, kemudian mengulumnya dengan lembut sekali. Aku menikmati permainannya dengan memejamkan mataku. Rasa nikmat dan geli menjalar di dalam tubuhku dengan cepat. Aku menariknya berdiri dan mencium bibirnya dengan dahsyat sambil memainkan klitorisnya. Kemudian menariknya kembali ke kamar tidur.
Di kamar, aku duduk di pingir tempat tidur dan menarik Santi agar duduk di pangkuanku. Santi mengerti dengan permainanku kali ini. Dengan segera mengambil posisi untuk duduk dan memasukkan penisku ke dalam vaginanya. Sedikit-demi sedikit penisku amblas ke dalam vaginanya Santi yang duduk berhadapan denganku. Setelah masuk semua, aku mencium bibirnya yang indah itu dengan penuh nafsu dan bersemangat.
Santi merespon ciumanku dengan menyedot ujung lidahku, sambil berusaha melucuti kaosku. Akupun tidak ketinggalan, ikut pula dalam program pelucutan kaos. Setelah BH aku buka, maka terpampanglah Payudaranya yang indah. Tidak besar, tapi membuat nafsuku tambah bergelora. Walaupun ada sedikit lipatan-lipatan lemak di tubuhnya (karna kurang olah raga), nafsuku bertambah naik saat melihat tubuhnya bugil.
Sambil bergerak naik turun, tubuhnya tidak luput aku serang dengan remasan dan jilatan lidahku. Dengan tangan kiri meremas payudara kanannya, aku menyedot gemas payudara kirinya dengan memainkan putingnya dengan ujung lidahku. Kemudian, aku menjilati dan mencium setiap senti tubuhnya bagian depan sambil meremas pantatnya dari depan. Sementara Santi mengerakkan tubuhnya semakin liar, naik turun dan memutarkan pantatnya. Saat itu penisku seperti diremas dari atas, nikmat dan panas. Seiring dengan waktu, gejolak orgasmepun semakin dekat.
Gerakan-gerakan Santi yang dibuat semakin orgasmeku tidak tertahan. Dengan dekapan yang kencang pada tubuh Santi, aku merapatkan tubuhnya padaku sambil melepas orgasmeku yang kesekian. Setelah itu aku mencim leher dan bibirnya dengan mesra.
Aku tahu Santi belum sampai. Oleh sebab itu masih dalam pelukanku, aku mengangkat tubuhnya dan meletakkan di tempat tidur. Dengan gaya konvensional, aku setubuhi kembali tubuhnya dari atas. Tubuhnya yang indah, dan wajahnya yang cantik tidak membuat sulit menaikkan libidoku. Dengan memegang pergelangan tangannya di kiri dan kanan kepalanya, aku menjilati tubuhnya dan buah dadanya, tidak ketinggalan lengan dan ketiaknya.
Bunyi khas vagina yang becek karena cairannya dan spermaku, ditambah tubuhnnya yang berguncang karena sodokanku, menambah nafsu untuk menyetubuhinya kian memuncak. Santi yang telentang dengan kaki kakinya melebar, segera mengunci tubuhku rapat-rapat. Diiringi dengan desahan panjang dan erangan tertahan, iapun orgasme dalam pelukanku. Setelah reda, aku merapatkan kakinya didepanku. Sambil memeluk kakinya, aku menyetubuhinya untuk mendapatkan kenikmatan puncak. Dan terjadilah. Dengan melepas pelukanku pada kakinya dan memeluk tubuhnya rapat-rapat, cepat-cepat aku tekan penisku dalam-dalam pada vaginanya, dan menyemprotlah cairan cintaku dengan derasnya.
Masih dalam posisi memeluk, aku menciumnya kembali. Senyuman manispun terhampar diwajahnya, walau aku melihat ada rasa letih pada wajahnya. Aku mencium seluruh wajah dan dagunya, sambil berkata "Kamu letih sekali, San. Kamu istirahat dulu, yah?"
Santi merengut "Emang, kamu mau kemana, pulang?"
"Iyaa.. Udah mau malem, San. Nanti kalau malem-malem aku tiba-tiba berubah jadi semangka gimana?" kataku kemudian.
"Biarin!! Aku taruh aja di kulkas. Kan, aku bisa ngeluarin kapan aja aku mau.."
"Maksud kamu, aku harus tinggal disini, gitu?" kataku dengan lembut.
Santi diam mendengar pertanyaanku. Tiba-tiba tangannya bergerak, kemudian memelukku rapat-rapat.
"Santi, walau bagaimanapun aku harus tetap pulang, yah? Kapanpun kamu mau jalan atau bertemu, aku usahakan pasti datang, kok. Nggak enak, nanti kalau ketauan sama pacar kamu, gimana?".
Perkataanku itu membuat pikiranku kosong beberapa saat. Sebenarnya aku berkata seperti itu dengan penuh pertentangan didalam batinku. Aku memang suka sekali dengan Santi sejak dulu. Tapi karena ia sudah punya tunangan dan kami beda prinsip, aku kemudian mundur. Oleh sebab itu akhirnya aku mengalihkan perhatianku kepada Anita, yang masih satu prinsip denganku. Walau akhirnya dia menikah dengan teman kuliahnya.
Walau dengan berat hati, akhirnya Santi mengizinkan aku pulang. Sebenarnya aku memang ingin sekali menerima tawarannya untuk menginap di kostnya. Tetapi ada banyak hal yang harus aku utamakan, tidak hanya sex atau perasaan sayangku padanya.
I long to know your touch. I wish to kiss your lips. I want you to be mine. I have no idea of how you feel. I am risking all, I know.
Setelah hari itu, aku masih sering bertemu dengan Santi di kantor. Baik di jam makan siang, atau setelah jam kantor, aku masih menyempatkan diri bertemu dengannya sesuai dengan janjiku. Hanya saja aku harus tetap menghilangkan perasaanku yang sebenarnya padanya. Walau pada kenyataannya aku beberapa kali bermain sex dengannya, perasaan sayangku padanya, dapat aku pendam dengan nafsuku itu.
Beberapa kali aku menyetubuhinya setelah kejadian itu. Baik di kostnya atau di hotel dekat kantorku. Kalau keinginan kami sudah memuncak, pernah kami lakukan dikantor. Dengan menghadap ke kaca gedung, kami melakukannya dengan cepat sambil menikmati pemandangan kota Jakarta dari balik kaca. Sudah tentu kami melakukannya dengan posisi berdiri dan berpakaian lengkap! Hanya menyibakkan roknya (pernah dengan celana panjang) dan aku cukup membuka resletingku, aku menyetubuhinya dari belakang. Atau berhadap-hadapan dengan kaki Santi yang satu naik keatas kursi. Walaupun ruangan yang kami pergunakan adalah ruangan sisa tidak terpakai di belakang ruangan utama dan kedap suara, kami tetap merasa was-was dan hati-hati bila bermain sex.
Demikianlah pengalamanku dengan Santi, wanita yang pernah aku cintai sesaat walau masih tetap aku sayangi. Biarpun aku samarkan, aku rasa ia akan tahu siapa yang diceritakan diatas. Walaupun aku yakin dia tidak pernah membaca situs ini. Tetapi apabila membaca cerita ini, maafin aku yah..
Time has not diminished the feelings you create inside of me. My soul quivers when I think of our closeness, of our hearts entwined. I savor your touch. It awakens sensations that I thought could only belong to those discovering new love. I gave you all of me when we made our commitment to each other. I am yours, since then, until forever. I love you..
Tamat
Senin, 02 Mei 2011
Cyntia mahasiswi itu - 1
Masih terlalu hangat untuk diingat kembali kenangan manis ini. Selalu terbayang meski di tengah kegelapan malam. Semakin dingin kurasakan semakin menghentak sanubari ini. Begitu indah untuk dilupakan.
Hari belum begitu siang malah baru menanjak. Langit kota Jakarta sangat cerah sekali. Awan putih membela sepanjang cakrawala. Waktu menunjukkan hampir pukul 10.00. Aku sudah mesti siap-siap menjemput adikku yang akan datang dari Surabaya. Maklum adik cewek jadi mesti dijemput. Biasalah di kota besar seperti Jakarta ini banyak sekali orang iseng termasuk pelaku krimimal. Huhh.. Sebel deh bila ingat semuanya itu. Polisi pun kadang nggak berkutik sama sekali.
Adikku kuliah di sebuah perguruan tinggi terkenal di daerah Jakarta Barat. Dia kost di sekitar kampusnya, Grogol. Yang ingin aku ceritakan ini bukanlah mengenai kota Jakarta atau adikku, terlebih diriku. Kalau kamu melihat saya mungkin tidak akan percaya bahwa saya menyimpan cerita-cerita yang mengasyikkan yang sebenarnya tidak boleh diceritakan.. Hihihi.
Suatu hari saya nyasar di situs sumbercerita ini dan saya berpikir mengapa tidak saja saya posting sebuah kisah menarik ini? Toh orang lain juga nggak akan tahu saya siapa? Itulah salah satu alasan saya dan saya harapkan bisa memberikan penghiburan bagi semuanya. Kalau bagus ya simpanlah dalam hati dan kalau kurang bagus ya lupakanlah, oke?
Saya cukup tinggi 173, 64 kg. Tidak terlalu putih dan saya selalu bangga akan hal itu. Sebab putih saya rasa bagaikan mayat atau singkong kupas kulit. Saya memang pure chinese. Badan saya langsing tetapi tidak tipis. Suka fitnes, berenang dan lari pagi. Six pack mulai kelihatan di tubuh aku. Pokoknya dari luar tidak bikin orang kecewa. Apalagi memang banyak gadis-gadis suka padaku. Kok aku jadi malu ya melanjutkan kisah ini.
Begini. Saya ingin mengisahkan kisah pribadi saya dengan dia. Dia adalah mahasiswi di kampus adik saya kuliah. 167/55, rambut panjang, chinese dan-mohon maaf-saya rahasiakan nama dan data dirinya ya. Bukan apa-apa loh tetapi demi privacy kita semua. Dia cukup cantik dan manis atau mungkin lebih bagi orang lain. Kalau saya bilang cantik maka cantik sebab saya bisa menilai orang apa adanya.
Waktu itu saya tiba di kost adik saya setelah menjemput adik saya. Saya jarang masuk ke kost putri karena pantangan. Jujur saja saya orangnya baik dan rumahan. Pernah sekali pacaran tetapi putus karena ya apalagi jika bukan selingkuh. Bukan saya loh tetapi pacar saya. Mungkin saya kurang genit atau apalah saya nggak tahu. Yang pasti aku orangnya baik dan sopan. Banyak tante-tante juga suka padaku. Wah kelihatan aku menyombongkan diri ya? Enggaklah.. Aku bicara apa adanya. Aku kerja di perusahaan konsultan ternama dan layaknya executive biasanya. Rapi, celana katun dan selalu pakai dasi. Emang saya belum punya mobil tetapi saya nggak pernah merasa kecil hati.
Saya selalu percaya diri dengan diri saya kok. Tamatan Trisakti, pandai, suka bercerita dan penuh humor. Baik dan selalu baik dibilang teman-teman aku baik cewek atau cowok. Kalau pintar dan tulus wah nggak usah dibandingin deh.. hahahaha.
Setelah sampai di kost, adikku berkata,
"Ko, santai aja lagi. Nggak ada siapa-siapa juga. Anak-anak pada liburan dan belum balik."
Aku melihat sekeliling dan perhatikan satu persatu pintu kamar kost. Wah asyik juga ya kost cewek, pikirku. Di dinding pintu tertulis kata-kata lucu, unik dan ada gantungan-gantungan karikatur dan boneka. Kuperhatikan baik-baik. Ada yang tertulis: cowok dilarang masuk kecuali cowokku, Cyntia imoet = cinta monyet (tambahan coretan iseng), Maria, No 5 ini cewek macan-hati-hati bisa gigit, dan sebagainya. Aku sempat tertawa dalam hati dan berbisik, "Wah pasti cakep-cakep neh cewek di sini.. Hahaha.." Habis lucu.
Pada waktu adikku masuk ke kamarnya, kudengar seorang gadis manis keluar kamarnya. Karena aku cowok ya aku perhatikan siapa tuh yang keluar. Ternyata dari kamar yang bertulis Cyntia Imoet.
Tahu nggak? Pada waktu dia keluar aku sempat kaget dan dia juga kaget. Karena dia cuma pakai CD dan kaos ketat. Cuma memang hanya terlihat pahanya yang mulus sebab kaosnya panjang sekali. Kebayang nggak sih? Aku cowok dan bisa membayangkan tubuhnya yang indah dan benar-benar indah dan putih. Dia chinese juga. Saya pastikan dia memang cuma pakai CD tanpa celana pendek.
Pada saat dia membuka pintu dan kaget, dia berseru,
"Aduh sory Ko, kirain cuma ada.. Luci (nama samaran adikku). Sory ya.."
Buru-buru dia menutup pintu. Aku juga nggak enak hati dan malu. Tetapi tiba-tiba viktor aku berjalan kencang. Tahu nggak viktor? Vikiran kotor say..
Aku jadi nggak enak kalo lama-lama di sana. Aku perhatikan sekeliling kamar dan ternyata memang sepi. Yang ada penghuninya cuma kamar adikku dan kamar Cyntia. Lama aku bengong dan pengen pamitan buru-buru sama adikku. Habis gara-gara aku Cyntia bisa ngumpat selamanya. Kan malu.. Biasalah cewek.
Pada saat aku mau pamitan pulang, tiba-tiba pintu kamar Cyntia terbuka dan dia keluar dengan senyum sumringah dengan celana pendek dan kaos ketat tadi. Kupikir dia pasti pakai celana panjang atau tunggu aku pergi baru keluar. Ternyata tidak, dia keluar agar terlihat biasa saja dan dia pandai bermain sikap. Masih dengan celana pendek supaya pahanya yang putih dan betisnya terlihat. Aku tambah nggak enak hati waktu dia keluar terus berkata,
"Ko, sory ya.. Tadi nggak tahu ada Koko."
Aku diam saja dan pura-pura nggak terjadi apa-apa.
"Nggak Papa lagi. Emang ada apa ya?"
Cyntia tersenyum, "Iya ya.. Nggak Papa juga kok."
Senyumnya terus menebar. Giginya putih rata. Pada saat dia melewatiku ke kamar adikku, wangi tubuhnya begitu memikat dengan aroma yang khas parfum cewek. Aku sempat menelan ludah dan viktor mulai hidup kembali. Mohon maaf bagi yang bernama viktor.
Cyntia tidak masuk ke kamar adikku melainkan cuma berdiri di pintu kamar dan berbasa-basi dengan adikku, Luci. Kuperhatikan dari belakang pantatnya yang berisi dan pahanya yang mulus. Saat itu juga "adikku" mulai bangun dan keras sekali. Sempat kuberpikir andaikan nggak ada orang dan dia mau kuajak ML pasti akan aku puaskan dia. Benar-benar aku nggak tahan waktu itu. Mana bisa tahan dengan wajahnya dan tubuhnya yang ranum dan oke? Saya sempat berpikir andai bisa kujilati pahanya yang mulus dan putih sampai ke pusarnya.. Wah asyik sekali..
Pada saat saya berpikir begitu, Cyntia berbalik ke aku dan berkata,
"Ko, kok bengong aja? Masuk dong ke kamar Lucia masa duduk aja di situ?"
Saya sempat terperanjat dan hanya menebar senyum.. Cyntia senyum kembali. Sejak saat itu aku bisa memastikan bahwa Cyntia benar-benar suka pada aku dan kayaknya ini cewek bisa didekatin. Pada saat saya selesai berpikir demikian, Cyntia berkata,
"Lus, tahu nggak? Semalam kita clubbing.."
Wah pada saat dengar kata clubbing aku pastikan 100 persen ini cewek bisa diajak keluar dan nggak tertutup kemungkinan diajak ML. Dan ternyata benar pikiran aku..
Dua Minggu Kemudian
Seperti yang sudah saya katakan, aku orangnya rumahan dan sopan. Namun dua minggu kemudian adikku SMS aku dan berkata, "Ko, datang ke kost. Kom rusak.. Pls buruan".
Karena adik butuh bantuan saya cepat-cepat datang tanpa berpikir panjang lagi. Aku masih takut nanti ketemuan cewek lain lagi dan kejadian dua minggu terulang. Habis biasanya di kost cewek mereka santai dan pakai seksi-seksi sekali. Bagi mereka sih biasa tetapi bagi cowok kan luar biasa.
Pas aku sampai kamar adikku ternyata sudah ada Cyntia. Kali ini dia berkaos ketat. Dia sudah seperti putus asa bantu adik saya. Begitu saya datang dia yang menyapa saya dan menebar senyum.
Aku segera duduk dan jongkok mencari kira-kira mungkin ada kabel yang putus atau apa. Cyntia ikut juga dan tanpa sengaja tangannya bersentuhan dengan tangan aku. Terasa ada getaran yang berbeda. Kulitnya begitu halus dan benar-benar membuat aku tidak bisa konsentrasi. Dia malah tersenyum saja dan seolah-olah nggak terjadi apa-apa. Saya berpikir,
"Wah nih cewek pura-pura juga ya. Nanti kalau dah aku dapat pasti kubuat dia meriuk dalam kegelisahan dan kenikmatan.."
Begitu kedapatan kabel ada yang putus, si Cyntia malah berseru,
"Koko hebat deh.. Jadi pengen punya koko seperti kamu."
Giginya yang putih dan wajahnya yang bersih terlihat jelas. Kali ini aku memandang wajahnya sedemikian dalam dan langsung menebus bola matanya. Dia terdiam dan aku mendesah..
"Ah.. Selesai juga kerjaan aku."
Cyntia mulai memasang aksi. Dia mulai bertingkah dan cari perhatian. Aku tahu hal itu. Setelah acara siang itu selesai aku pamitan. Pada saat aku turun sendirian ternyata diam-diam Cyntia mengikutiku. Pas di lantai 2 begitu tidak ada orang, Cyntia mempercepat langkahnya dan berkata,
"Ko sory ya tadi aku mengoda koko." Pada saat itu nafasnya mendesah dekat dengan aku. Khas wanginya.
"Kapan-kapan Koko main ke sini ya biar nggak ada Luci." Aku angguk kepala dan menyentuh pundaknya.
"Oke, kamu SMS Koko aja ya.."
Tiga Hari Kemudian
Ponsel aku berdering dan ternyata miscall. Aku balik SMS: sapa neh. Isengin ya.. Tar aku sumpahin bulu keteknya tambah lebat.. Hihihi.
Tak berapa lama SMS balasan muncul: jahat! Ini aku Ko, Cyntia. Aku kangen Ma Koko, nggak deh bercanda (",)
Aku balas lagi: Ko juga kangen. Ko ke kost kamu ya?
SMS: Jangan, Cyntia belom di kost. 10 menit lagi ya Ko. Cyntia di kampus.
Oke.. CU there.
Bersambung . . . .
Hari belum begitu siang malah baru menanjak. Langit kota Jakarta sangat cerah sekali. Awan putih membela sepanjang cakrawala. Waktu menunjukkan hampir pukul 10.00. Aku sudah mesti siap-siap menjemput adikku yang akan datang dari Surabaya. Maklum adik cewek jadi mesti dijemput. Biasalah di kota besar seperti Jakarta ini banyak sekali orang iseng termasuk pelaku krimimal. Huhh.. Sebel deh bila ingat semuanya itu. Polisi pun kadang nggak berkutik sama sekali.
Adikku kuliah di sebuah perguruan tinggi terkenal di daerah Jakarta Barat. Dia kost di sekitar kampusnya, Grogol. Yang ingin aku ceritakan ini bukanlah mengenai kota Jakarta atau adikku, terlebih diriku. Kalau kamu melihat saya mungkin tidak akan percaya bahwa saya menyimpan cerita-cerita yang mengasyikkan yang sebenarnya tidak boleh diceritakan.. Hihihi.
Suatu hari saya nyasar di situs sumbercerita ini dan saya berpikir mengapa tidak saja saya posting sebuah kisah menarik ini? Toh orang lain juga nggak akan tahu saya siapa? Itulah salah satu alasan saya dan saya harapkan bisa memberikan penghiburan bagi semuanya. Kalau bagus ya simpanlah dalam hati dan kalau kurang bagus ya lupakanlah, oke?
Saya cukup tinggi 173, 64 kg. Tidak terlalu putih dan saya selalu bangga akan hal itu. Sebab putih saya rasa bagaikan mayat atau singkong kupas kulit. Saya memang pure chinese. Badan saya langsing tetapi tidak tipis. Suka fitnes, berenang dan lari pagi. Six pack mulai kelihatan di tubuh aku. Pokoknya dari luar tidak bikin orang kecewa. Apalagi memang banyak gadis-gadis suka padaku. Kok aku jadi malu ya melanjutkan kisah ini.
Begini. Saya ingin mengisahkan kisah pribadi saya dengan dia. Dia adalah mahasiswi di kampus adik saya kuliah. 167/55, rambut panjang, chinese dan-mohon maaf-saya rahasiakan nama dan data dirinya ya. Bukan apa-apa loh tetapi demi privacy kita semua. Dia cukup cantik dan manis atau mungkin lebih bagi orang lain. Kalau saya bilang cantik maka cantik sebab saya bisa menilai orang apa adanya.
Waktu itu saya tiba di kost adik saya setelah menjemput adik saya. Saya jarang masuk ke kost putri karena pantangan. Jujur saja saya orangnya baik dan rumahan. Pernah sekali pacaran tetapi putus karena ya apalagi jika bukan selingkuh. Bukan saya loh tetapi pacar saya. Mungkin saya kurang genit atau apalah saya nggak tahu. Yang pasti aku orangnya baik dan sopan. Banyak tante-tante juga suka padaku. Wah kelihatan aku menyombongkan diri ya? Enggaklah.. Aku bicara apa adanya. Aku kerja di perusahaan konsultan ternama dan layaknya executive biasanya. Rapi, celana katun dan selalu pakai dasi. Emang saya belum punya mobil tetapi saya nggak pernah merasa kecil hati.
Saya selalu percaya diri dengan diri saya kok. Tamatan Trisakti, pandai, suka bercerita dan penuh humor. Baik dan selalu baik dibilang teman-teman aku baik cewek atau cowok. Kalau pintar dan tulus wah nggak usah dibandingin deh.. hahahaha.
Setelah sampai di kost, adikku berkata,
"Ko, santai aja lagi. Nggak ada siapa-siapa juga. Anak-anak pada liburan dan belum balik."
Aku melihat sekeliling dan perhatikan satu persatu pintu kamar kost. Wah asyik juga ya kost cewek, pikirku. Di dinding pintu tertulis kata-kata lucu, unik dan ada gantungan-gantungan karikatur dan boneka. Kuperhatikan baik-baik. Ada yang tertulis: cowok dilarang masuk kecuali cowokku, Cyntia imoet = cinta monyet (tambahan coretan iseng), Maria, No 5 ini cewek macan-hati-hati bisa gigit, dan sebagainya. Aku sempat tertawa dalam hati dan berbisik, "Wah pasti cakep-cakep neh cewek di sini.. Hahaha.." Habis lucu.
Pada waktu adikku masuk ke kamarnya, kudengar seorang gadis manis keluar kamarnya. Karena aku cowok ya aku perhatikan siapa tuh yang keluar. Ternyata dari kamar yang bertulis Cyntia Imoet.
Tahu nggak? Pada waktu dia keluar aku sempat kaget dan dia juga kaget. Karena dia cuma pakai CD dan kaos ketat. Cuma memang hanya terlihat pahanya yang mulus sebab kaosnya panjang sekali. Kebayang nggak sih? Aku cowok dan bisa membayangkan tubuhnya yang indah dan benar-benar indah dan putih. Dia chinese juga. Saya pastikan dia memang cuma pakai CD tanpa celana pendek.
Pada saat dia membuka pintu dan kaget, dia berseru,
"Aduh sory Ko, kirain cuma ada.. Luci (nama samaran adikku). Sory ya.."
Buru-buru dia menutup pintu. Aku juga nggak enak hati dan malu. Tetapi tiba-tiba viktor aku berjalan kencang. Tahu nggak viktor? Vikiran kotor say..
Aku jadi nggak enak kalo lama-lama di sana. Aku perhatikan sekeliling kamar dan ternyata memang sepi. Yang ada penghuninya cuma kamar adikku dan kamar Cyntia. Lama aku bengong dan pengen pamitan buru-buru sama adikku. Habis gara-gara aku Cyntia bisa ngumpat selamanya. Kan malu.. Biasalah cewek.
Pada saat aku mau pamitan pulang, tiba-tiba pintu kamar Cyntia terbuka dan dia keluar dengan senyum sumringah dengan celana pendek dan kaos ketat tadi. Kupikir dia pasti pakai celana panjang atau tunggu aku pergi baru keluar. Ternyata tidak, dia keluar agar terlihat biasa saja dan dia pandai bermain sikap. Masih dengan celana pendek supaya pahanya yang putih dan betisnya terlihat. Aku tambah nggak enak hati waktu dia keluar terus berkata,
"Ko, sory ya.. Tadi nggak tahu ada Koko."
Aku diam saja dan pura-pura nggak terjadi apa-apa.
"Nggak Papa lagi. Emang ada apa ya?"
Cyntia tersenyum, "Iya ya.. Nggak Papa juga kok."
Senyumnya terus menebar. Giginya putih rata. Pada saat dia melewatiku ke kamar adikku, wangi tubuhnya begitu memikat dengan aroma yang khas parfum cewek. Aku sempat menelan ludah dan viktor mulai hidup kembali. Mohon maaf bagi yang bernama viktor.
Cyntia tidak masuk ke kamar adikku melainkan cuma berdiri di pintu kamar dan berbasa-basi dengan adikku, Luci. Kuperhatikan dari belakang pantatnya yang berisi dan pahanya yang mulus. Saat itu juga "adikku" mulai bangun dan keras sekali. Sempat kuberpikir andaikan nggak ada orang dan dia mau kuajak ML pasti akan aku puaskan dia. Benar-benar aku nggak tahan waktu itu. Mana bisa tahan dengan wajahnya dan tubuhnya yang ranum dan oke? Saya sempat berpikir andai bisa kujilati pahanya yang mulus dan putih sampai ke pusarnya.. Wah asyik sekali..
Pada saat saya berpikir begitu, Cyntia berbalik ke aku dan berkata,
"Ko, kok bengong aja? Masuk dong ke kamar Lucia masa duduk aja di situ?"
Saya sempat terperanjat dan hanya menebar senyum.. Cyntia senyum kembali. Sejak saat itu aku bisa memastikan bahwa Cyntia benar-benar suka pada aku dan kayaknya ini cewek bisa didekatin. Pada saat saya selesai berpikir demikian, Cyntia berkata,
"Lus, tahu nggak? Semalam kita clubbing.."
Wah pada saat dengar kata clubbing aku pastikan 100 persen ini cewek bisa diajak keluar dan nggak tertutup kemungkinan diajak ML. Dan ternyata benar pikiran aku..
Dua Minggu Kemudian
Seperti yang sudah saya katakan, aku orangnya rumahan dan sopan. Namun dua minggu kemudian adikku SMS aku dan berkata, "Ko, datang ke kost. Kom rusak.. Pls buruan".
Karena adik butuh bantuan saya cepat-cepat datang tanpa berpikir panjang lagi. Aku masih takut nanti ketemuan cewek lain lagi dan kejadian dua minggu terulang. Habis biasanya di kost cewek mereka santai dan pakai seksi-seksi sekali. Bagi mereka sih biasa tetapi bagi cowok kan luar biasa.
Pas aku sampai kamar adikku ternyata sudah ada Cyntia. Kali ini dia berkaos ketat. Dia sudah seperti putus asa bantu adik saya. Begitu saya datang dia yang menyapa saya dan menebar senyum.
Aku segera duduk dan jongkok mencari kira-kira mungkin ada kabel yang putus atau apa. Cyntia ikut juga dan tanpa sengaja tangannya bersentuhan dengan tangan aku. Terasa ada getaran yang berbeda. Kulitnya begitu halus dan benar-benar membuat aku tidak bisa konsentrasi. Dia malah tersenyum saja dan seolah-olah nggak terjadi apa-apa. Saya berpikir,
"Wah nih cewek pura-pura juga ya. Nanti kalau dah aku dapat pasti kubuat dia meriuk dalam kegelisahan dan kenikmatan.."
Begitu kedapatan kabel ada yang putus, si Cyntia malah berseru,
"Koko hebat deh.. Jadi pengen punya koko seperti kamu."
Giginya yang putih dan wajahnya yang bersih terlihat jelas. Kali ini aku memandang wajahnya sedemikian dalam dan langsung menebus bola matanya. Dia terdiam dan aku mendesah..
"Ah.. Selesai juga kerjaan aku."
Cyntia mulai memasang aksi. Dia mulai bertingkah dan cari perhatian. Aku tahu hal itu. Setelah acara siang itu selesai aku pamitan. Pada saat aku turun sendirian ternyata diam-diam Cyntia mengikutiku. Pas di lantai 2 begitu tidak ada orang, Cyntia mempercepat langkahnya dan berkata,
"Ko sory ya tadi aku mengoda koko." Pada saat itu nafasnya mendesah dekat dengan aku. Khas wanginya.
"Kapan-kapan Koko main ke sini ya biar nggak ada Luci." Aku angguk kepala dan menyentuh pundaknya.
"Oke, kamu SMS Koko aja ya.."
Tiga Hari Kemudian
Ponsel aku berdering dan ternyata miscall. Aku balik SMS: sapa neh. Isengin ya.. Tar aku sumpahin bulu keteknya tambah lebat.. Hihihi.
Tak berapa lama SMS balasan muncul: jahat! Ini aku Ko, Cyntia. Aku kangen Ma Koko, nggak deh bercanda (",)
Aku balas lagi: Ko juga kangen. Ko ke kost kamu ya?
SMS: Jangan, Cyntia belom di kost. 10 menit lagi ya Ko. Cyntia di kampus.
Oke.. CU there.
Bersambung . . . .
Cyntia mahasiswi itu - 2
Aku buru-buru ganti pakaian dan segera berangkat ke kost adikku. Saat itu entah memang sudah diatur si Cyntia atau apa memang keberuntungan. Pada saat aku sampai kost begitu sepi dan tidak ada seorangpun kecuali pembantu kost. Adikku pun nggak ada. Mungkin masih kuliah. Cyntia keluar dan sepertinya dia sudah lama di kost pura-pura baru sampai dari kuliah.
"Wah, capek banget Ko, kuliah hari ini."
"Oya? Mau dipijitin nggak?" kataku bercanda.
"Memang Koko bisa apa? Mau dong kalau nggak keberatan." balasnya tenang dan bercanda.
"Mana si Luci? Belum pulang ya." basa basi aku.
"Tahutuh kayaknya belum deh.. Kan ada Cyntia.. Hehehehe."
"Daripada ngobrol di luar mending ke kamar Cyntia yuk.. Adem ada AC dan Cyntia lagi nonton juga film horor."
Aku ingin menolak tetapi karena naluri cowok sudah merasuk dalam diri ini aku ikut saja. Kamarnya rapi dan bersih dan wangi lagi. Entah sudah disemprot atau apa aku nggak tahu yang pasti kamar cewek idaman. Sekeliling meja belajarnya ada fotonya dan juga foto mama dan keluarganya. Ternyata Cyntia berasal dari Semarang.
"Ko mau minum apa?"
"Nggak perlu repot deh. Oya, nggak Papa kan cowok masuk kamar kamu?"
"Awas ya kalau macam-macam?"
Saya jadi nggak enak waktu dia bicara begitu. Aku segera balas,
"Ya nggak lah. Aku nggak menggigit orang kok.."
Tiba-tiba Cyntia berseru dan tertawa genit, "Tadi Cyntia bercanda deh.. Habis lihat tingkah laku Koko kok polos amat."
Aku tersenyum dan berkata, "Ayo dong puterin filmnya."
"Cyntia kunci pintu kamar dulu ya kan nggak enak nanti tiba-tiba orang masuk dan kirain kita lagi apaan.. Hahahaha."
"Terserah kamu sih."
Tahu nggak, sejak film di putar ternyata saya dan Cyntia sudah bukan nonton film lagi. Melainkan main film. Pada saat pintu dikunci dan gorydn ditutup memang belum terjadi apa-apa. Pada saat 20 menit setelah film mulai, Cintya mulai dekat-dekat ke aku dengan alasan takut. Aku memeluk dan membelai dia.
Dapat kurasakan tubuhnya yang montok dengan dada yang berisi aku memeluk dia. Kupeluk terus dan dia semakin dekat ke aku. Apalagi udara dingin hembusan AC sangat terasa sekali menusuk kulit.
Kudongakkan kepalanya dan dia tersenyum terangsang karena mukanya sudah berbeda. Kukecup keningnya perlahan dan cukup lama dengan penuh perasaan sayang. Jari tangan kiri telunjuk aku eluskan dari matanya perlahan-lahan sekali ke hidung terus ke bibirnya dan kurasakan dia diam dan menutup mata. Kudekatkan bibirku ke bibirnya dan dia diam juga.
Kubisikkan kata-kata mesra, "Cyn, kamu cakep sekali." ke telinganya dan kujilati sedikit dan dia merapatkan tubuhkan ke aku semakin erat.
Kubisikkan sekali lagi dan kujilati perlahan, "Cyn.. Aku suka sama kamu."
Cyntia mendesah.."Ohh.. Auhh.. Cyntia juga Ko.."
Sudah kulihat dia terangsang berat saat kubisikkan kata-kata tadi dan kujilati telinganya. Aku membuka kaosnya perlahan-lahan dan dia diam saja. Aku sempat berpikir "Wah ini anak kok diam baget?"
Kulihat dadanya begitu kenyal dan berisi. Begitu bagus dan putih sekali tanpa ada bercak sedikitpun. Sempurna sebagai tubuh wanita yang menginjak dewasa.
Branya yang ungu begitu bagus terbalut di dadanya. Kubuka kancingnya perlahan-lahan lalu kumainkan dengan jari-jari ku di puting susunya yang ranum. Aduh penis ku begitu keras seolah-olah akan meledak. Putingnya coklat indah sekali. Begitu keras juga.
Cyntia membenamkan kepalanya di samping kepalaku. Waktu itu posisi kami memang senderan di tembok di atas springbed. Film sialan horor terus menjerit-jerit karena pemainnya sedang diburu monster aneh. Jeritan itu terus menerus menghantui nafsu ku seolah-olah aku ingin membuat Cyntia menjerit.
Aku terus memainkan puting susunya dan tubuhnya bergetar kejang keras. Dia menjambak rambutku yang pendek dan mendesah.."Auhh.."
Nafsuku berpacu kencang. Aku mencium dadanya sebentar lalu kembali ke bibirnya. Kumainkan lidahku di bibirnya dan dia berbisik,
"Aduh geelii.."
Aku lanjutkan ke dadanya dan kali ini ke buah dadanya yang ranum. Kujilati puting susunya perlahan sambil putus-putus dan dia begitu terangsang lalu meraih celana aku dan membuka celana aku.
Aku tahan.."Tunggu say, permainan baru dimulai.."
Tangannya terdiam dan kubaringkan dia tanpa sehelai baju pun. Dia terdiam sambil menggigit kedua jari tangannya. Mungkin dia malu tetapi malu karena rangsangan. Aku merosot celana panjangnya dan dia terdiam.
Kupandangi tubuhnya yang telentang di spingbed sungguh luar biasa. Begitu indah dan bagus sekali.
Pikiran ku terus bergolak,
"Andai aku bisa setubuhi dia sungguh dahsyat. Tubuhnya pasti siap menerima aku dan kepunyaanku yang besar."
Kupandangi begitu lama dan dia seolah-olah kedinginan karena butuh kehangatan. Memang kamarnya dingin karena hawa AC. Kulihat dia memakai CD saja dan aku buru-buru melepaskan baju ku dan celana panjangku. Biar adil aku memakai CD juga.
Kembali kurebahkan tubuhku ke tubuhnya dan kutiduri. Aku mencium mulutnya bertubi-tubi dan dia diam saja tanpa aksi. Sepertinya dia benar-benar polos. Sementara itu salah satu tanganku terus memainkan puting susunya. Kujilati telinganya untuk kesekian kali dan kuberbisik, "Cyn, aku sayang sama kamu. Aku puasin kamu ya."
Dia tetap mengigit kedua jari tangannya dan mengangguk kecil..
Aku mendengus puting susunya dan terus menjilatinya. Gigiku ku dekati putingnya aku gigit tapi tidak keras-keras sementara ujung lidahku mengitari putingnya dari dalam. Kulihat kakinya gemetaran dan merapat. Aku terus mencium dan menjilati puting susunya dan turun perlahan-lahan ke pusar lalu berhenti dan kembali lagi dari atas. Tiba-tiba aku merasa pingin sekali menjilati pahanya yang putih dan berisi. Kali ini sedikit aku gigit lepas dan dia berpindah posisi menyamping karena kenikmatan. Aku nggak enak juga dan kembali merebahkan atau merentangkan tubuhnya seperti semula.
Aku merosot CDnya dan dia menahan aku.
"Jangan Ko, aku belum pernah sejauh itu."
Aku urungkan dan aku kembali mencium bibirnya dan berpacu berdua sedemikian cepat. Kali ini kulirik CD nya dan kudapatkan basah.. Aku pura-pura nggak tahu dan terus berpacu di dadanya dan tubuh atasnya. Kulorotkan CD nya perlahan-lahan tanpa dia sadari karena kenikmatan yang ada. Aku juga perlahan-lahan merosotkan CD aku dan ternyata kali ini kami benar-benar bugil. Biar dia tidak terasa, aku berpikir cerdik. Segera kuraih selimut dan kututupi tubuh kami berdua. Sempat ku menyentuh bibir kemaluannya yang sedikit ada bulu-bulu halus. Dia memang baru berumur 20.
Tanpa aba-aba lagi, tiba-tiba aku langsung menghujamkan penis aku yang super tegang ke vaginanya. Dirinya menjerit tertahan dan penuh kenikmatan juga. Kaget mungkin merasakan benda keras dan panjang masuk ke tempat paling pribadinya.
"Auh.. Oh.. Ko.. Ke.. Napa? Owh.. Ahh.. Saa.. Kkitt.."
Aku cabut karena nggak tega mendegar jeritannya. Tubuhnya bergetar dan kurasakan sekali. Aku pun menurunkan kepala aku dan kujilati vaginanya terutama klitorisnya. Baunya khas dan aku suka sekali. Entah kenapa aku selalu suka mencium V wanita. Kumainkan lidahku dan kulihat dia mendesah kuat dan kakinya bergetar sekali. Dia meraih kepalaku dengan tangannya artinya dia tidak mau lagi dioral melainkan ingin merasakan penisku.
Aku berdiri dan perlahan-lahan aku masukkan lagi. Bless.. Begitu mulus karena cairan kenikmatan dia membasahi seluruh kemaluannya. Maju mundur dan tanpa ampun lagi aku terus mengocok penisku di liang vaginanya. Dia menjerit tetapi tangannya meremas badanku dan berusaha menjambak rambut ku sedemikian rupa. Aku setengah berbaring dengan kedua tangan tertahan di sisinya.
Dapat kurasakan dia sedikit marah tetapi marah yang penuh kenikmatan. Aku terus memaju mundurkan penisku berulang-ulang dan dia merebah badannya sendiri di kasur. Kali ini selimut aku buang dan aku berlutut di atas badannya. Dia memenjamkan mata pekat dan tidak berani menatap aku. Aku naikkan kedua pahanya ke atas dan kuhujamkan berulang-ulang dengan cepat..
Mukanya lirih tetapi merah dan sebentar-bentar dia merintih. Aku pompa terus penuh nafsu dan dia merintih.
"Saa.. Kkitt.. Auhh.. Ohh."
"Ohh.."
Tiba-tiba aku merasakan sesuatu akan muncrat dan kupercepat goyangku dan dia terus merintih.. Pada saat hampir aku ejakulasi aku merebah ke tubuhnya dan kupeluk sangat erat sampai hampir saja dia tidak bisa bernapas.. Akhirnya pun aku ejakulasi. Dia merapat sangat erat dan melingkari aku dengan kedua pahanya secara rileks.. Aku percepat sampai akhirnya..
"Ahh.. Ohh.. Cynt.. Ohh.. Ahh."
Begitu banyak sperma yang keluar di vaginanya dan kurasakan aku kenikmatan sekali.. Begitu luar biasa. Penis aku yang cukup besar mungkin sakit bagi Cyntia yang baru pertama kali. Lucunya penis aku belum loyo meski sudah ejakulasi. Masih terdiam keras beberapa saat sampai akhinya loyo dan aku cabut.
Kudekap Cyntia ku penuh sayang dan dia tersenyum manis.. Kami berdua telanjang cukup lama dan saling pelukan. Kubisikkan kata sayang, "Cyntia, aku sayang sama kamu dan aku ingin mencintaimu.."
Dia mencium aku dan berkata, "Aku juga Ko.. Aku sayang Koko.. Thanks ya.. Koko cape nggak?"
E N D
"Wah, capek banget Ko, kuliah hari ini."
"Oya? Mau dipijitin nggak?" kataku bercanda.
"Memang Koko bisa apa? Mau dong kalau nggak keberatan." balasnya tenang dan bercanda.
"Mana si Luci? Belum pulang ya." basa basi aku.
"Tahutuh kayaknya belum deh.. Kan ada Cyntia.. Hehehehe."
"Daripada ngobrol di luar mending ke kamar Cyntia yuk.. Adem ada AC dan Cyntia lagi nonton juga film horor."
Aku ingin menolak tetapi karena naluri cowok sudah merasuk dalam diri ini aku ikut saja. Kamarnya rapi dan bersih dan wangi lagi. Entah sudah disemprot atau apa aku nggak tahu yang pasti kamar cewek idaman. Sekeliling meja belajarnya ada fotonya dan juga foto mama dan keluarganya. Ternyata Cyntia berasal dari Semarang.
"Ko mau minum apa?"
"Nggak perlu repot deh. Oya, nggak Papa kan cowok masuk kamar kamu?"
"Awas ya kalau macam-macam?"
Saya jadi nggak enak waktu dia bicara begitu. Aku segera balas,
"Ya nggak lah. Aku nggak menggigit orang kok.."
Tiba-tiba Cyntia berseru dan tertawa genit, "Tadi Cyntia bercanda deh.. Habis lihat tingkah laku Koko kok polos amat."
Aku tersenyum dan berkata, "Ayo dong puterin filmnya."
"Cyntia kunci pintu kamar dulu ya kan nggak enak nanti tiba-tiba orang masuk dan kirain kita lagi apaan.. Hahahaha."
"Terserah kamu sih."
Tahu nggak, sejak film di putar ternyata saya dan Cyntia sudah bukan nonton film lagi. Melainkan main film. Pada saat pintu dikunci dan gorydn ditutup memang belum terjadi apa-apa. Pada saat 20 menit setelah film mulai, Cintya mulai dekat-dekat ke aku dengan alasan takut. Aku memeluk dan membelai dia.
Dapat kurasakan tubuhnya yang montok dengan dada yang berisi aku memeluk dia. Kupeluk terus dan dia semakin dekat ke aku. Apalagi udara dingin hembusan AC sangat terasa sekali menusuk kulit.
Kudongakkan kepalanya dan dia tersenyum terangsang karena mukanya sudah berbeda. Kukecup keningnya perlahan dan cukup lama dengan penuh perasaan sayang. Jari tangan kiri telunjuk aku eluskan dari matanya perlahan-lahan sekali ke hidung terus ke bibirnya dan kurasakan dia diam dan menutup mata. Kudekatkan bibirku ke bibirnya dan dia diam juga.
Kubisikkan kata-kata mesra, "Cyn, kamu cakep sekali." ke telinganya dan kujilati sedikit dan dia merapatkan tubuhkan ke aku semakin erat.
Kubisikkan sekali lagi dan kujilati perlahan, "Cyn.. Aku suka sama kamu."
Cyntia mendesah.."Ohh.. Auhh.. Cyntia juga Ko.."
Sudah kulihat dia terangsang berat saat kubisikkan kata-kata tadi dan kujilati telinganya. Aku membuka kaosnya perlahan-lahan dan dia diam saja. Aku sempat berpikir "Wah ini anak kok diam baget?"
Kulihat dadanya begitu kenyal dan berisi. Begitu bagus dan putih sekali tanpa ada bercak sedikitpun. Sempurna sebagai tubuh wanita yang menginjak dewasa.
Branya yang ungu begitu bagus terbalut di dadanya. Kubuka kancingnya perlahan-lahan lalu kumainkan dengan jari-jari ku di puting susunya yang ranum. Aduh penis ku begitu keras seolah-olah akan meledak. Putingnya coklat indah sekali. Begitu keras juga.
Cyntia membenamkan kepalanya di samping kepalaku. Waktu itu posisi kami memang senderan di tembok di atas springbed. Film sialan horor terus menjerit-jerit karena pemainnya sedang diburu monster aneh. Jeritan itu terus menerus menghantui nafsu ku seolah-olah aku ingin membuat Cyntia menjerit.
Aku terus memainkan puting susunya dan tubuhnya bergetar kejang keras. Dia menjambak rambutku yang pendek dan mendesah.."Auhh.."
Nafsuku berpacu kencang. Aku mencium dadanya sebentar lalu kembali ke bibirnya. Kumainkan lidahku di bibirnya dan dia berbisik,
"Aduh geelii.."
Aku lanjutkan ke dadanya dan kali ini ke buah dadanya yang ranum. Kujilati puting susunya perlahan sambil putus-putus dan dia begitu terangsang lalu meraih celana aku dan membuka celana aku.
Aku tahan.."Tunggu say, permainan baru dimulai.."
Tangannya terdiam dan kubaringkan dia tanpa sehelai baju pun. Dia terdiam sambil menggigit kedua jari tangannya. Mungkin dia malu tetapi malu karena rangsangan. Aku merosot celana panjangnya dan dia terdiam.
Kupandangi tubuhnya yang telentang di spingbed sungguh luar biasa. Begitu indah dan bagus sekali.
Pikiran ku terus bergolak,
"Andai aku bisa setubuhi dia sungguh dahsyat. Tubuhnya pasti siap menerima aku dan kepunyaanku yang besar."
Kupandangi begitu lama dan dia seolah-olah kedinginan karena butuh kehangatan. Memang kamarnya dingin karena hawa AC. Kulihat dia memakai CD saja dan aku buru-buru melepaskan baju ku dan celana panjangku. Biar adil aku memakai CD juga.
Kembali kurebahkan tubuhku ke tubuhnya dan kutiduri. Aku mencium mulutnya bertubi-tubi dan dia diam saja tanpa aksi. Sepertinya dia benar-benar polos. Sementara itu salah satu tanganku terus memainkan puting susunya. Kujilati telinganya untuk kesekian kali dan kuberbisik, "Cyn, aku sayang sama kamu. Aku puasin kamu ya."
Dia tetap mengigit kedua jari tangannya dan mengangguk kecil..
Aku mendengus puting susunya dan terus menjilatinya. Gigiku ku dekati putingnya aku gigit tapi tidak keras-keras sementara ujung lidahku mengitari putingnya dari dalam. Kulihat kakinya gemetaran dan merapat. Aku terus mencium dan menjilati puting susunya dan turun perlahan-lahan ke pusar lalu berhenti dan kembali lagi dari atas. Tiba-tiba aku merasa pingin sekali menjilati pahanya yang putih dan berisi. Kali ini sedikit aku gigit lepas dan dia berpindah posisi menyamping karena kenikmatan. Aku nggak enak juga dan kembali merebahkan atau merentangkan tubuhnya seperti semula.
Aku merosot CDnya dan dia menahan aku.
"Jangan Ko, aku belum pernah sejauh itu."
Aku urungkan dan aku kembali mencium bibirnya dan berpacu berdua sedemikian cepat. Kali ini kulirik CD nya dan kudapatkan basah.. Aku pura-pura nggak tahu dan terus berpacu di dadanya dan tubuh atasnya. Kulorotkan CD nya perlahan-lahan tanpa dia sadari karena kenikmatan yang ada. Aku juga perlahan-lahan merosotkan CD aku dan ternyata kali ini kami benar-benar bugil. Biar dia tidak terasa, aku berpikir cerdik. Segera kuraih selimut dan kututupi tubuh kami berdua. Sempat ku menyentuh bibir kemaluannya yang sedikit ada bulu-bulu halus. Dia memang baru berumur 20.
Tanpa aba-aba lagi, tiba-tiba aku langsung menghujamkan penis aku yang super tegang ke vaginanya. Dirinya menjerit tertahan dan penuh kenikmatan juga. Kaget mungkin merasakan benda keras dan panjang masuk ke tempat paling pribadinya.
"Auh.. Oh.. Ko.. Ke.. Napa? Owh.. Ahh.. Saa.. Kkitt.."
Aku cabut karena nggak tega mendegar jeritannya. Tubuhnya bergetar dan kurasakan sekali. Aku pun menurunkan kepala aku dan kujilati vaginanya terutama klitorisnya. Baunya khas dan aku suka sekali. Entah kenapa aku selalu suka mencium V wanita. Kumainkan lidahku dan kulihat dia mendesah kuat dan kakinya bergetar sekali. Dia meraih kepalaku dengan tangannya artinya dia tidak mau lagi dioral melainkan ingin merasakan penisku.
Aku berdiri dan perlahan-lahan aku masukkan lagi. Bless.. Begitu mulus karena cairan kenikmatan dia membasahi seluruh kemaluannya. Maju mundur dan tanpa ampun lagi aku terus mengocok penisku di liang vaginanya. Dia menjerit tetapi tangannya meremas badanku dan berusaha menjambak rambut ku sedemikian rupa. Aku setengah berbaring dengan kedua tangan tertahan di sisinya.
Dapat kurasakan dia sedikit marah tetapi marah yang penuh kenikmatan. Aku terus memaju mundurkan penisku berulang-ulang dan dia merebah badannya sendiri di kasur. Kali ini selimut aku buang dan aku berlutut di atas badannya. Dia memenjamkan mata pekat dan tidak berani menatap aku. Aku naikkan kedua pahanya ke atas dan kuhujamkan berulang-ulang dengan cepat..
Mukanya lirih tetapi merah dan sebentar-bentar dia merintih. Aku pompa terus penuh nafsu dan dia merintih.
"Saa.. Kkitt.. Auhh.. Ohh."
"Ohh.."
Tiba-tiba aku merasakan sesuatu akan muncrat dan kupercepat goyangku dan dia terus merintih.. Pada saat hampir aku ejakulasi aku merebah ke tubuhnya dan kupeluk sangat erat sampai hampir saja dia tidak bisa bernapas.. Akhirnya pun aku ejakulasi. Dia merapat sangat erat dan melingkari aku dengan kedua pahanya secara rileks.. Aku percepat sampai akhirnya..
"Ahh.. Ohh.. Cynt.. Ohh.. Ahh."
Begitu banyak sperma yang keluar di vaginanya dan kurasakan aku kenikmatan sekali.. Begitu luar biasa. Penis aku yang cukup besar mungkin sakit bagi Cyntia yang baru pertama kali. Lucunya penis aku belum loyo meski sudah ejakulasi. Masih terdiam keras beberapa saat sampai akhinya loyo dan aku cabut.
Kudekap Cyntia ku penuh sayang dan dia tersenyum manis.. Kami berdua telanjang cukup lama dan saling pelukan. Kubisikkan kata sayang, "Cyntia, aku sayang sama kamu dan aku ingin mencintaimu.."
Dia mencium aku dan berkata, "Aku juga Ko.. Aku sayang Koko.. Thanks ya.. Koko cape nggak?"
E N D
Affair ketika reuni - 1
Aku terkejut ketika tiba-tiba mendapat sepucuk surat dari seorang teman SMA yang berisi pemberitahuan reuni khusus untuk kelasku di SMA. Reuni rencananya akan diadakan kurang lebih sebulan lagi saat cuti bersama lebaran 1996 sekaligus halal bi halal. Setiap tahunnya memang kelasku mengadakan pertemuan. Acara akan diadakan di sekitar Jabotabek, karena banyak teman-teman SMA yang berdomisili di Jakarta. Namun karena berbagai pertimbangan akhirnya diputuskan dipindah ke Yogyakarta saja.
Terakhir aku bertemu dengan teman-teman SMA waktu reuni 1990, setahun setelah kami lulus. Setelah itu karena kuliah dan kemudian domisili serta pekerjaanku yang sering berpindah, maka aku tidak pernah ikut lagi.
"Pak Anto, ada telepon. Katanya dari teman bapak sewaktu di SMA," kata Ita, operator telepon di kantorku sambil melongokkan kepalanya di pintu ruanganku.
"Thanks Ta".
Kuraih gagang telepon.
"Hallo..".
"Pak Anto?" terdengar suara di telepon.
"Ya, saya sendiri. Ini siapa?" tanyaku.
"Tok, gila lu. Nyariin lu susahnya melebihi menghadap menteri. Ini Isman. Lu udah dapat pemberitahuan reuni kelas kita belum?"
"Udah, tapi nggak tahu nih. Tahun ini mungkin nggak bisa ikut lagi," kataku.
"Tahu nggak, anak-anak bilang lu sekarang sombong, beda dengan waktu sekolah. Nggak pernah mau ikut kumpul-kumpul lagi," kata Isman memvonisku.
Isman memang teman sekolahku yang paling dekat. Selama tiga tahun di SMA kami duduk sebangku. Paling kalau lagi bosan sehari dua hari nomaden cari tempat duduk lain. Habis itu kembali lagi. Kami sering diolok-olok sebagai sepasang kekasih. Anaknya baik dan fair. Meskipun aku selalu dapat rangking 3 besar, ia tidak pernah memanfaatkanku dengan mencontek secara mentah. Paling ia hanya minta rumusnya saja. Setelah itu ia sendiri yang memasukkan bilangan ke dalam rumus dan mengerjakannya sendiri.
"Bukan begitu Is. Lu kan tahu domisiliku dan pekerjaanku sering berpindah kota. Jadi undangan tidak pernah sampai dan juga kadang tidak bisa ambil cuti".
"Kali ini usahakan ikut. Banyak yang nanyain tuh. Intan gebetanmu waktu SMA sering jadi sasaran olok-olok teman-teman. Katanya lu nggak mau datang karena patah hati ditolak sama Intan".
"Ha.. Ha.. Ha. Lu bisa aja. Gua ama Intan masih sering kontak kok. Cuma sebagai sahabat saja. Gua ngerti alasan dia menolakku dulu".
"Udah ya. Pokoknya kali ini lu mesti datang atau namamu dicoret dari daftar alumni kelas kita".
"Iya deh, gua usahain," kataku ragu. Soalnya meskipun pada saat lebaran aku tidak diijinkan mengambil cuti terlalu lama. Cukup libur dua hari tanggal merah saja kata bosku. Memang sebagai kompensasinya aku diberi jatah cuti yang lebih panjang dari biasanya di lain waktu.
Aku ingat masa SMA-ku. Rasa tertarik pada teman wanita ada. Tapi karena sifatku yang cengengesan jadinya mereka menganggap hanya sebagai sebuah canda saja. Akhirnya ketika menjelang lulus, kutembak Intan. Kurasa ia sebenarnya ada hati juga padaku, namun karena ada suatu perbedaan prinsip ia menolak cintaku. Akupun maklum dengan alasannya dan sampai saat ini kami masih sering kontak baik lewat telepon ataupun surat.
Beberapa hari kemudian aku iseng-iseng ke personalia. Kutanyakan jatah cutiku untuk tahun ini. Ia membuka komputernya dan menatapku sebentar.
"Pak Anto masih punya jatah cuti 10 hari. Kenapa? Mau ambil cuti lagi?" tanyanya.
"Rencananya saya mau ambil cuti pada masa lebaran saja Pak. Udah berapa tahun nggak pernah pulang saat lebaran," kataku.
"Bapak isi saja formulirnya, nanti kalau kondisinya memungkinkan tentu akan diijinkan," katanya sambil mengangsurkan formulir permohonan cuti. Setelah kuisi lalu kukembalikan lagi padanya. Tiga hari kemudian aku mendapat konfirmasi bahwa cutiku diberikan sesuai dengan permohonanku.
Akhirnya saat reuni pun tiba. Dalam suasana lebaran begini kami masih bisa mendapatkan tempat di sebuah hotel di Kaliurang. Hebat amat panitianya, pikirku. Ternyata suami seorang teman, Tini, bekerja sebagai manager di hotel tersebut. Pantas saja!
Aku datang sekitar pukul tiga sore. Sengaja kusamarkan penampilanku. Cambang tidak kucukur selama seminggu lebih. Topi yang kulesakkan agak dalam ke kepalaku dan kacamata hitam semakin membuatku yakin tidak ada yang mengenaliku. Ketika ke resepsionis hotel kulirik di lobby telah berkumpul beberapa temanku.
"Mbak, reuni untuk SMA XX benar di sini?" tanyaku.
"Oh ya Pak. Bapak siapa namanya?"
"Anto".
"Kamar bapak 217, nanti sekamar dengan Pak Isman," kata resepsionis tadi sambil menyerahkan kunci kamar.
"Ada barangnya Pak?" tanyanya lagi ramah.
"Maturnuwun Mbak. Ah cuma tas kecil saja kok. Saya ke lobby saja dulu Mbak. Nampaknya sudah banyak yang datang tuh," kataku.
"Silakan Pak Anto. Monggo, Bu Tini juga ada di lobby kok".
Aku berjalan dengan santai ke lobby. Kulihat di sebuah meja nampaknya ramai dengan gelak tawa. Aku tersenyum saja. Ternyata memang sudah ada beberapa teman laki-laki dan perempuan yang ada dan masih ngerumpi. Entah karena penampilanku atau karena tidak memperhatikan sekelilingnya kelihatannya mereka tidak mempedulikanku. Aku duduk di meja sebelahnya dengan posisi memunggungi mereka. Kudengar lagi suara bersahutan dan kemudian gelak tawa meledak. Aku tidak tahu persis siapa yang bicara.
"Eh Anto katanya mau datang. Udah lama dia nggak kumpul dengan kita. Udah jadi konglomerat katanya dia di Jakarta."
"Ah paling dia udah nggak ingat lagi dengan kita-kita. Jelas dia patah hati dengan Intan sehingga dia nggak mau lagi ketemu dengan kita. Takut terkuak luka lama".
Aku tersenyum saja. Mereka bicara bersahut-sahutan.
"Oh ya, kali ini siapa yang sudah nggak perawan lagi?"
"Husshh, ngaco lu!!"
"Maksudnya udah kawin. Lu aja yang ngeres".
"Oo. Anto kali ya. Dulu aku sebenarnya mau saja ama dia. Tapi dianya lebih tertarik ke Intan. Aku tentu tak berani bersaing dengan Intan".
Kali ini pasti suara Desi. Anak ini dulu memang ada perhatian khusus padaku. Tiba-tiba kulihat seseorang berjalan ke arah mereka. Kulirik sekilas, ternyata Isman. Aku pura-pura membaca majalah dengan menunduk. Isman pun segera larut dalam gelak tawa di sebelah. Setelah beberapa lama, mungkin ia baru sadar.
"Eh, mana Anto?"
"Sudahlah. Pacarmu itu nggak akan datang?"
"Kalau saya lihat di daftar booking kamar. Ada kok namanya. Malahan sekamar sama Isman. Biar mereka pacaran lagi," kata Tini sang tuan rumah.
"Dia sudah datang. Tadi saya ke resepsionis katanya udah ambil kunci dan katanya di lobby. Makanya aku langsung ke sini," kata Isman dengan nada penasaran.
Ia berdiri dan mengamat-amati tamu yang ada. Ia keluar dari kelompok tadi dan berjalan ke arahku sambil tetap mengamati sekelilingnya. Ia kemudian duduk di depanku dan memperhatikanku. Ketika bertatapan mata ia hanya mengangguk dan kubalas dengan anggukan kecil tanpa ekspresi. Kelihatannya ia belum mengenaliku, atau ragu-ragu apakah aku benar teman sebangkunya di SMA.
Ia masih penasaran, sesekali melirikku namun kubiarkan saja. Akhirnya ia berdiri dan berjalan ke resepsionis. Kembali dari resepsionis dengan langkah mantap ia menuju ke arahku, berdiri di belakangku dan dengan sekali renggut maka terlepaslah topiku. Teman-teman lainnya yang ada di meja sebelah kelihatan terkejut.
Aku masih diam saja. Ia tarik tanganku sampai aku berdiri dan kemudian tangannya melepas kacamata hitamku. Tangan kanannya memegang tangan kiriku dan mengangkatnya. Kemudian dengan gaya seorang announcer pertandingan tinju ia berteriak.
"Inilah pangeran yang kita nanti-nanti selama ini. Dengan bangga kami persilakan tampil.. Anntoo, the Lost Boy!!"
Dengan tersenyum aku membungkukkan badan. Diam sejenak. Kemudian semuanya menghambur ke arahku. Ada yang memukul lenganku, ada yang mencubit, ada yang mendorong, sayangnya tidak ada yang menciumku.
"Gila anak satu ini. Bisa-bisanya ia duduk manis di sebelah kita. Sementara kita sibuk mencarinya".
Akhirnya satu persatu semua temanku menyalamiku dengan hangat. Kurasakan semua memang saling sangat merindukan. Bukan aku sombong, tapi waktu masa sekolah dulu selain pintar aku tidak memilih teman. Mungkin satu sifat saja yang kurang disukai teman-teman. Aku kebanyakan bercanda walau suasana sedang serius. Jadi kalau ada rapat untuk suatu acara, aku tidak pernah jadi panitia. Tapi kalau acara sudah berlangsung, teman-teman akan kehilangan kalau aku nggak ada.
"Emang lu nggak berubah dari dulu. Usil, jahil, iseng de-el-el. Tega lu duduk nguping gosip kita. Gimana kabarnya?" salah seorang temanku bertanya.
"Dengar semuanya. Pasang telinga baik-baik. Aku akan jelaskan semuanya sekaligus sanggahan semua gosip tadi. Aku masih Anto yang dulu, bedanya sekarang cambangnya saja lebat. Aku tidak patah hati karena Intan. Sampai sekarang, mungkin aku yang paling sering kontak dengan Intan. Kalian tahu dua bulan lagi ia akan menikah? Jadi jangan bikin gosip murahan, nanti bisa saya adukan karena mencemarkan nama baik. OK?" kataku dengan nada yang dibuat-buat.
"Aku tidak bisa ikut acara reuni tahunan karena kesibukanku. Untuk itu maafkanlah daku yang hina dina ini!" lanjutku.
"Sudah.. Sudah. Lebih baik sekarang kita istirahat sambil menunggu yang lain. Nanti acara mulai jam tujuh sekalian makan malam," Tini menyarankan.
Akhirnya kami bubar menuju kamar masing-masing. Aku masuk ke kamar bersama Isman. Sambil berbaring kami saling bercerita tentang kondisi kami masing-masing.
Jam tujuh kurang sedikit kami semua sudah berkumpul di ruangan tempat acara. Dari tiga puluh dua orang yang diundang, ternyata hadir dua puluh lima orang saja. Sebenarnya semuanya ada empat puluh dua, namun beberapa orang sudah hilang jejaknya. Ada beberapa orang yang membawa suami atau istrinya dan anaknya. Dengan dagu yang licin, cambang sudah kucukur bersih tadi sore dan kemeja santai aku duduk semeja dengan beberapa teman. Isman yang mau bergabung diusir oleh teman lainnya.
"Lu nggak bosen-bosen berdekatan dengan si Anto. Lebih baik lu temenin tuh Ira yang dulu naksir lu. Ia sendirian saja. Suaminya nggak ikut. Sibuk kali kaya pangeran kita di sebelah".
Bersambung . . . .
Terakhir aku bertemu dengan teman-teman SMA waktu reuni 1990, setahun setelah kami lulus. Setelah itu karena kuliah dan kemudian domisili serta pekerjaanku yang sering berpindah, maka aku tidak pernah ikut lagi.
"Pak Anto, ada telepon. Katanya dari teman bapak sewaktu di SMA," kata Ita, operator telepon di kantorku sambil melongokkan kepalanya di pintu ruanganku.
"Thanks Ta".
Kuraih gagang telepon.
"Hallo..".
"Pak Anto?" terdengar suara di telepon.
"Ya, saya sendiri. Ini siapa?" tanyaku.
"Tok, gila lu. Nyariin lu susahnya melebihi menghadap menteri. Ini Isman. Lu udah dapat pemberitahuan reuni kelas kita belum?"
"Udah, tapi nggak tahu nih. Tahun ini mungkin nggak bisa ikut lagi," kataku.
"Tahu nggak, anak-anak bilang lu sekarang sombong, beda dengan waktu sekolah. Nggak pernah mau ikut kumpul-kumpul lagi," kata Isman memvonisku.
Isman memang teman sekolahku yang paling dekat. Selama tiga tahun di SMA kami duduk sebangku. Paling kalau lagi bosan sehari dua hari nomaden cari tempat duduk lain. Habis itu kembali lagi. Kami sering diolok-olok sebagai sepasang kekasih. Anaknya baik dan fair. Meskipun aku selalu dapat rangking 3 besar, ia tidak pernah memanfaatkanku dengan mencontek secara mentah. Paling ia hanya minta rumusnya saja. Setelah itu ia sendiri yang memasukkan bilangan ke dalam rumus dan mengerjakannya sendiri.
"Bukan begitu Is. Lu kan tahu domisiliku dan pekerjaanku sering berpindah kota. Jadi undangan tidak pernah sampai dan juga kadang tidak bisa ambil cuti".
"Kali ini usahakan ikut. Banyak yang nanyain tuh. Intan gebetanmu waktu SMA sering jadi sasaran olok-olok teman-teman. Katanya lu nggak mau datang karena patah hati ditolak sama Intan".
"Ha.. Ha.. Ha. Lu bisa aja. Gua ama Intan masih sering kontak kok. Cuma sebagai sahabat saja. Gua ngerti alasan dia menolakku dulu".
"Udah ya. Pokoknya kali ini lu mesti datang atau namamu dicoret dari daftar alumni kelas kita".
"Iya deh, gua usahain," kataku ragu. Soalnya meskipun pada saat lebaran aku tidak diijinkan mengambil cuti terlalu lama. Cukup libur dua hari tanggal merah saja kata bosku. Memang sebagai kompensasinya aku diberi jatah cuti yang lebih panjang dari biasanya di lain waktu.
Aku ingat masa SMA-ku. Rasa tertarik pada teman wanita ada. Tapi karena sifatku yang cengengesan jadinya mereka menganggap hanya sebagai sebuah canda saja. Akhirnya ketika menjelang lulus, kutembak Intan. Kurasa ia sebenarnya ada hati juga padaku, namun karena ada suatu perbedaan prinsip ia menolak cintaku. Akupun maklum dengan alasannya dan sampai saat ini kami masih sering kontak baik lewat telepon ataupun surat.
Beberapa hari kemudian aku iseng-iseng ke personalia. Kutanyakan jatah cutiku untuk tahun ini. Ia membuka komputernya dan menatapku sebentar.
"Pak Anto masih punya jatah cuti 10 hari. Kenapa? Mau ambil cuti lagi?" tanyanya.
"Rencananya saya mau ambil cuti pada masa lebaran saja Pak. Udah berapa tahun nggak pernah pulang saat lebaran," kataku.
"Bapak isi saja formulirnya, nanti kalau kondisinya memungkinkan tentu akan diijinkan," katanya sambil mengangsurkan formulir permohonan cuti. Setelah kuisi lalu kukembalikan lagi padanya. Tiga hari kemudian aku mendapat konfirmasi bahwa cutiku diberikan sesuai dengan permohonanku.
Akhirnya saat reuni pun tiba. Dalam suasana lebaran begini kami masih bisa mendapatkan tempat di sebuah hotel di Kaliurang. Hebat amat panitianya, pikirku. Ternyata suami seorang teman, Tini, bekerja sebagai manager di hotel tersebut. Pantas saja!
Aku datang sekitar pukul tiga sore. Sengaja kusamarkan penampilanku. Cambang tidak kucukur selama seminggu lebih. Topi yang kulesakkan agak dalam ke kepalaku dan kacamata hitam semakin membuatku yakin tidak ada yang mengenaliku. Ketika ke resepsionis hotel kulirik di lobby telah berkumpul beberapa temanku.
"Mbak, reuni untuk SMA XX benar di sini?" tanyaku.
"Oh ya Pak. Bapak siapa namanya?"
"Anto".
"Kamar bapak 217, nanti sekamar dengan Pak Isman," kata resepsionis tadi sambil menyerahkan kunci kamar.
"Ada barangnya Pak?" tanyanya lagi ramah.
"Maturnuwun Mbak. Ah cuma tas kecil saja kok. Saya ke lobby saja dulu Mbak. Nampaknya sudah banyak yang datang tuh," kataku.
"Silakan Pak Anto. Monggo, Bu Tini juga ada di lobby kok".
Aku berjalan dengan santai ke lobby. Kulihat di sebuah meja nampaknya ramai dengan gelak tawa. Aku tersenyum saja. Ternyata memang sudah ada beberapa teman laki-laki dan perempuan yang ada dan masih ngerumpi. Entah karena penampilanku atau karena tidak memperhatikan sekelilingnya kelihatannya mereka tidak mempedulikanku. Aku duduk di meja sebelahnya dengan posisi memunggungi mereka. Kudengar lagi suara bersahutan dan kemudian gelak tawa meledak. Aku tidak tahu persis siapa yang bicara.
"Eh Anto katanya mau datang. Udah lama dia nggak kumpul dengan kita. Udah jadi konglomerat katanya dia di Jakarta."
"Ah paling dia udah nggak ingat lagi dengan kita-kita. Jelas dia patah hati dengan Intan sehingga dia nggak mau lagi ketemu dengan kita. Takut terkuak luka lama".
Aku tersenyum saja. Mereka bicara bersahut-sahutan.
"Oh ya, kali ini siapa yang sudah nggak perawan lagi?"
"Husshh, ngaco lu!!"
"Maksudnya udah kawin. Lu aja yang ngeres".
"Oo. Anto kali ya. Dulu aku sebenarnya mau saja ama dia. Tapi dianya lebih tertarik ke Intan. Aku tentu tak berani bersaing dengan Intan".
Kali ini pasti suara Desi. Anak ini dulu memang ada perhatian khusus padaku. Tiba-tiba kulihat seseorang berjalan ke arah mereka. Kulirik sekilas, ternyata Isman. Aku pura-pura membaca majalah dengan menunduk. Isman pun segera larut dalam gelak tawa di sebelah. Setelah beberapa lama, mungkin ia baru sadar.
"Eh, mana Anto?"
"Sudahlah. Pacarmu itu nggak akan datang?"
"Kalau saya lihat di daftar booking kamar. Ada kok namanya. Malahan sekamar sama Isman. Biar mereka pacaran lagi," kata Tini sang tuan rumah.
"Dia sudah datang. Tadi saya ke resepsionis katanya udah ambil kunci dan katanya di lobby. Makanya aku langsung ke sini," kata Isman dengan nada penasaran.
Ia berdiri dan mengamat-amati tamu yang ada. Ia keluar dari kelompok tadi dan berjalan ke arahku sambil tetap mengamati sekelilingnya. Ia kemudian duduk di depanku dan memperhatikanku. Ketika bertatapan mata ia hanya mengangguk dan kubalas dengan anggukan kecil tanpa ekspresi. Kelihatannya ia belum mengenaliku, atau ragu-ragu apakah aku benar teman sebangkunya di SMA.
Ia masih penasaran, sesekali melirikku namun kubiarkan saja. Akhirnya ia berdiri dan berjalan ke resepsionis. Kembali dari resepsionis dengan langkah mantap ia menuju ke arahku, berdiri di belakangku dan dengan sekali renggut maka terlepaslah topiku. Teman-teman lainnya yang ada di meja sebelah kelihatan terkejut.
Aku masih diam saja. Ia tarik tanganku sampai aku berdiri dan kemudian tangannya melepas kacamata hitamku. Tangan kanannya memegang tangan kiriku dan mengangkatnya. Kemudian dengan gaya seorang announcer pertandingan tinju ia berteriak.
"Inilah pangeran yang kita nanti-nanti selama ini. Dengan bangga kami persilakan tampil.. Anntoo, the Lost Boy!!"
Dengan tersenyum aku membungkukkan badan. Diam sejenak. Kemudian semuanya menghambur ke arahku. Ada yang memukul lenganku, ada yang mencubit, ada yang mendorong, sayangnya tidak ada yang menciumku.
"Gila anak satu ini. Bisa-bisanya ia duduk manis di sebelah kita. Sementara kita sibuk mencarinya".
Akhirnya satu persatu semua temanku menyalamiku dengan hangat. Kurasakan semua memang saling sangat merindukan. Bukan aku sombong, tapi waktu masa sekolah dulu selain pintar aku tidak memilih teman. Mungkin satu sifat saja yang kurang disukai teman-teman. Aku kebanyakan bercanda walau suasana sedang serius. Jadi kalau ada rapat untuk suatu acara, aku tidak pernah jadi panitia. Tapi kalau acara sudah berlangsung, teman-teman akan kehilangan kalau aku nggak ada.
"Emang lu nggak berubah dari dulu. Usil, jahil, iseng de-el-el. Tega lu duduk nguping gosip kita. Gimana kabarnya?" salah seorang temanku bertanya.
"Dengar semuanya. Pasang telinga baik-baik. Aku akan jelaskan semuanya sekaligus sanggahan semua gosip tadi. Aku masih Anto yang dulu, bedanya sekarang cambangnya saja lebat. Aku tidak patah hati karena Intan. Sampai sekarang, mungkin aku yang paling sering kontak dengan Intan. Kalian tahu dua bulan lagi ia akan menikah? Jadi jangan bikin gosip murahan, nanti bisa saya adukan karena mencemarkan nama baik. OK?" kataku dengan nada yang dibuat-buat.
"Aku tidak bisa ikut acara reuni tahunan karena kesibukanku. Untuk itu maafkanlah daku yang hina dina ini!" lanjutku.
"Sudah.. Sudah. Lebih baik sekarang kita istirahat sambil menunggu yang lain. Nanti acara mulai jam tujuh sekalian makan malam," Tini menyarankan.
Akhirnya kami bubar menuju kamar masing-masing. Aku masuk ke kamar bersama Isman. Sambil berbaring kami saling bercerita tentang kondisi kami masing-masing.
Jam tujuh kurang sedikit kami semua sudah berkumpul di ruangan tempat acara. Dari tiga puluh dua orang yang diundang, ternyata hadir dua puluh lima orang saja. Sebenarnya semuanya ada empat puluh dua, namun beberapa orang sudah hilang jejaknya. Ada beberapa orang yang membawa suami atau istrinya dan anaknya. Dengan dagu yang licin, cambang sudah kucukur bersih tadi sore dan kemeja santai aku duduk semeja dengan beberapa teman. Isman yang mau bergabung diusir oleh teman lainnya.
"Lu nggak bosen-bosen berdekatan dengan si Anto. Lebih baik lu temenin tuh Ira yang dulu naksir lu. Ia sendirian saja. Suaminya nggak ikut. Sibuk kali kaya pangeran kita di sebelah".
Bersambung . . . .
Affair ketika reuni - 2
Dengan gontai Isman berjalan dan mencari meja lainnya. Acara kemudian dimulai. Karena lingkupnya hanya reuni kelas maka suasana dibuat santai dengan permainan. Sepertinya aku dikerjai kali ini. Dalam permainan ini aku sengaja dibuat agar dihukum berpasangan dengan Intan. Ia datang sendiri. Aku hanya tersenyum saja, sementara itu Intan kelihatan sedikit kikuk.
"Tenang saja Intan. Aku tidak akan menelanmu," bisikku.
"Ahh.."
"Kita kan sudah lebih dewasa. Aku tahu posisi kita. It's just a game. Teman-teman hanya iseng mau ngerjain kita. Gimana kalau gantian kita yang ngerjain mereka". Kali ini suaraku kubuat seserius mungkin. Ia hanya diam saja.
Kugenggam tangannya dengan semesra mungkin. Teman-teman lain sudah riuh dan bersorak.
"Gitu dong. Kenapa nggak dari dulu. Pas dan cocok sekali.."
Intan yang tadinya tertunduk malu-malu kini mulai lebih berani. Kelihatannya ia yakin kalau aku tidak akan berbuat macam-macam. Teman-teman memang agak berlebihan mengerjai kami. Kami disuruh untuk menggigit batang korek api dan memindahkan karet gelang yang digantungkan di batang yang kugigit. Dengan perlahan muka kami saling mendekat dan dengan beberapa gerakan yang agak membuat napas tertahan akhirnya karet gelang sudah berpindah ke batang korek yang digigit Intan. Semuanya bersorak dan Intan pun menghembuskan napas dalam-dalam seolah melepaskan beban di dalam dadanya.
"Thanks To. Kamu sahabat yang baik," katanya sambil menyalamiku. Aku hanya tersenyum dan menggerakkan bahu.
Acara demi acara berlangsung dan akhirnya tiba acara makan. Aku mengambil makananku dan mencari tempat yang nyaman untuk menikmatinya. Di sebuah meja agak di sudut, terlihat seorang teman duduk sendirian.
"Siska, kok sendirian saja. Boleh saya duduk di sini?" tanyaku.
"Silakan saja. Untuk kamu semua kursi boleh kamu tempati. Kamulah bintang malam ini," katanya menggodaku.
"Terima kasih, pakaianku jadi sesak nih," kataku membalas godaannya.
Siska salah seorang bunga di kelas kami. Kelihatannya agak sombong, namun setelah mengenalnya sebenarnya ia seorang yang ramah dan baik. Ada beberapa teman baik yang sekelas maupun kelas lainnya yang mencoba mendekatinya, namun mundur teratur ketika mengetahui ia sudah memiliki calon suami mahasiswa kedokteran. Terakhir aku mendengar ia putus dengan dokter-nya dan menikah dengan seorang dosen.
Ternyata teman-teman lainnya tidak ada yang mengambil tempat dan bergabung dengan kami. Kini kami hanya berdua saja.
"Kamu mesra sekali dengan Intan tadi. Aku jadi iri," ia berkata sambil menatapku.
"Ah, itu kan kerjaan kalian semuanya. Aku hanya menyesuaikan dengan irama permainan kalian saja. Dulu aku mau mendekatimu, tapi kalah dengan sang dokter. Ngomong-ngomong mana suamimu?"
"Sudahlah, itu masa lalu. Hanya indah untuk dikenang. Suamiku lagi tugas belajar ke Jerman. Gimana pacarmu Isman?".
"Hussh.., tanya saja sendiri".
"Kamu belum married juga. Gosipnya patah hati dengan Intan ya?"
"Belum ketemu yang cocok saja".
Akhirnya kami mengobrol dan bercerita tentang diri kami. Ia sudah mempunyai seorang anak dan sekarang lagi dititipkan ke neneknya. Ia mendapat kamar di lantai 2 di ujung koridor, sendirian saja karena teman sekamarnya tidak jadi ikut acara reuni.
Acara berakhir pada jam sepuluh. Beberapa teman belum mau beranjak dan terlihat masih mengobrol. Sebagian lagi sudah keluar dari ruangan dan berpindah ke lobby hotel. Aku ditarik untuk ikut bergabung dengan mereka. Agar tidak mengecewakan maka aku pun berbaur dengan mereka. Setengah jam kemudian dengan alasan pusing dan lelah, aku berpamitan untuk ke kamar. Toh besok pagi masih ada acara bersama menikmati keindahan alam Kaliurang. Isman sudah tidak kelihatan batang hidungnya. Katanya ia ada keperluan keluarga dan menginap di rumah saudaranya.
Ketika sampai di lantai dua, kulihat Siska sedang membuka pintu kamarnya. Ia menengok dan melihatku. Ia melambaikan tangan menyuruhku mendekat.
"To, aku sebenarnya belum mengantuk. Tapi males ngobrol di bawah. Terlalu ramai dan riuh. Temani aku ngobrol di teras kamar yuk!"
Aku menurut saja, masuk ke kamarnya dan terus menuju ke teras. Kamarnya masih berantakan. Sampai di teras kami duduk. Siska masuk sebentar dan keluar lagi dengan membawa dua kaleng soft drink. Kami mengobrol sampai pada masalah pribadi.
"Bener kamu belum punya pacar?" tanyanya menyelidik.
"Bener. Apa untungnya aku bohong padamu".
"Laki-laki biasanya begitu. Katanya belum punya pacar, ternyata anaknya sudah lima".
"Bener kok. Masih bujangan tulen".
"Apanya yang bujangan. Kupingmu?!!" katanya terkekeh dan mencibirkan bibirnya.
Topik obrolan beralih ke dirinya.
"Berapa lama suamimu tugas belajar?"
"Tiga tahun. Tadinya aku mau diajak, tapi ibuku tidak mengijinkan. Beliau ingin aku masih di sini".
"Jadi tiga tahun ini kedinginan dong?" godaku.
Ia diam dan pandangannya menerawang. Ditariknya napas dalam-dalam. Kami saling terdiam. Ia memainkan jemarinya. Aku jadi salah tingkah. Sementara gerimis mulai turun.
"OK deh Sis, aku kembali ke kamarku dulu. Besok pagi masih ada acara lagi," kataku.
Ia masih diam membeku. Namun kemudian ia berdiri dan meraih tanganku.
"Aku mengenal kamu sebagai orang yang tidak pernah serius. Kali ini aku bicara serius dan aku minta kamu juga menanggapinya serius. Kamu bilang tadi kalau aku akan kedinginan. Aku tahu kamu cuma bercanda dan menggodaku. Tetapi setelah kurasakan ternyata malam ini aku memang sangat kedinginan. Baik tubuhku maupun hatiku. Kamu mau menghangatkannya?"
"Sis, kamu sadar apa yang kamu katakan?" tanyaku.
"Aku sadar sepenuhnya. Kamu mungkin memandangku sebagai perempuan murahan, tapi sejujurnya aku belum pernah berselingkuh sampai ketika kami mengobrol tadi. Aku tidak tahu mengapa tiba-tiba aku membayangkan malam ini menjadi sangat panjang dan dingin. Aku tidak ingin berpisah dengan suamiku, tapi aku.. tidak.. tidak. OK, kalau kamu tidak bersedia tidak apa-apa dan aku percaya kamu bisa merahasiakan hal ini".
Aku diam sejenak. Siska memang terlihat sangat cantik dan matang. Kubimbing ia masuk ke kamar, menutup pintu teras dan mengunci pintu masuk. Ia memegang jariku, menatapku dan berbisik, "Thanks To".
Aku berbaring dengan pikiran menerawang. Sejujurnya aku pun ingin menikmati tubuhnya yang indah, namun rasanya hal ini terlalu mudah dan cepat sehingga aku tidak bisa mencernanya. Siska membuka ikatan rambutnya sehingga rambutnya tergerai sampai ke pungungnya. Gaun malam yang dikenakannya sangat serasi dengan tubuhnya. Ia melemparkan syal yang dipakainya. Aku baru sadar kalau gaunnya memiliki potongan V rendah di dada sehingga sebagian buah dadanya terlihat padat. Ia menghempaskan tubuhnya di sampingku.
"To, apa pandanganmu terhadap diriku ini. Apakah aku seorang perempuan yang gampangan?"
"Saya tidak akan menilai pribadi seseorang. Kamu sudah dewasa dan kamu bisa menilai dan memutuskan apa yang kamu lakukan".
Siska diam, tapi tangannya mulai mengusap lenganku dengan lembut. Kupeluk dia dari belakang dan kuciumi leher dan bahunya yang terbuka. Dipegangnya tanganku dan ditangkupkan ke dadanya. Kuremas buah dadanya perlahan. Siska merintih perlahan dan membalikkan badannya. Kami masih terus berpelukan, berciuman dan berguling-guling. Ciuman dan remasanku semakin lama semakin ganas. Iapun mengerti kalau nafsuku sudah mulai bangkit. Ia mendesah dan menggesek-gesekkan pipinya pada pipiku. Bibirnya mengulum daun telingaku dan mendesah..
"Ohh.. Anto. Enam bulan lebih aku kedinginan dan menunggu saat-saat seperti ini".
"Siska, aku akan memuaskanmu malam ini..", balasku sambil menciumi telinganya.
Ia menindih tubuhku dan tetap menciumi bibir, leher dan pipiku sambil terus merintih dan merapatkan tubuhnya. Tangannya dengan cekatan membuka kancing bajuku. Kutarik retsluiting gaunnya dan kini bagian dadanya semakin terbuka lebar. Mulut dan lidahku menyusuri seluruh leher, telinga dan pangkal buah dadanya yang sedikit tersembul.
Ia melepaskan pelukannya dan membuka gaunnya. Kulitnya yang putih diterpa lampu kamar yang remang-remang membuat silhouette di tubuhnya. Aku melepas kemejaku dengan tetap berbaring. Siska membuka kepala ikat pinggangku kemudian menarik kaitan dan retsluiting celanaku. Kini aku dan Siska hanya mengenakan pakaian dalam.
Siska berbaring telentang dan tangannya terjulur menyambutku. Kususupkan tanganku ke balik bra-nya dan kuremas putingnya. Ia tidak sabar lagi dan tangannya membuka kaitan bra-nya. Kini bagian dadanya sudah polos terbuka. Kubenamkan mulutku ke dadanya dan beraksi mencium dadanya yang padat kemudian menggigit belahan dadanya dan menjilati putingnya.
Kejantananku mulai bereaksi ketika tangannya menyusup di celana dalamku. Pelan tapi pasti kejantananku mulai membesar sehingga terasa mulai mengganjal. Kunaikkan pantatku untuk mengurangi rasa tekanan kejantananku pada perutnya. Kemudian tangannya mengarahkan kejantananku sehingga kepalanya berada sedikit di bawah pusarnya. Tangannya ke bawah, kemudian meraba, mengusap serta memainkan penisku.
Kini kepalaku bergerak ke leher, dada, menjilat putingnya dengan jilatan ringan kemudian terus ke bawah sampai di selangkangannya. Kusingkapkan celana dalamnya dan mulai menjilati dan memainkan tonjolan daging kecil di bagian depan vaginanya. Bibir vaginanya yang berwarna kemerahan kuusap dengan bagian dalam telunjukku. Ia membuka pahanya agar memudahkan aksiku. Aku menggesekkan hidungku ke bibir vaginanya.
"Lakukan To.. Teruskan. Ahkk!!"
Ia menghentakkan kepalanya dengan keras ke atas bantal meluapkan kekecewaannya. Ia terhentak dan mengejang sesaat ketika clitnya kujilat dan kujepit dengan kedua bibirku. Kulepas dan kujepit lagi. Ia merengek-rengek agar aku menghentikan aksiku dan segera melancarkan serangan terakhir, namun aku sendiri masih ingin menikmati dan melakukan foreplay. Beberapa saat aku masih dalam posisi itu. Tangan kirinya memegang kepalaku dan menekankannya ke celah pahanya. Tangan kanannya meremas-remas payudaranya.
Bersambung . . . .
"Tenang saja Intan. Aku tidak akan menelanmu," bisikku.
"Ahh.."
"Kita kan sudah lebih dewasa. Aku tahu posisi kita. It's just a game. Teman-teman hanya iseng mau ngerjain kita. Gimana kalau gantian kita yang ngerjain mereka". Kali ini suaraku kubuat seserius mungkin. Ia hanya diam saja.
Kugenggam tangannya dengan semesra mungkin. Teman-teman lain sudah riuh dan bersorak.
"Gitu dong. Kenapa nggak dari dulu. Pas dan cocok sekali.."
Intan yang tadinya tertunduk malu-malu kini mulai lebih berani. Kelihatannya ia yakin kalau aku tidak akan berbuat macam-macam. Teman-teman memang agak berlebihan mengerjai kami. Kami disuruh untuk menggigit batang korek api dan memindahkan karet gelang yang digantungkan di batang yang kugigit. Dengan perlahan muka kami saling mendekat dan dengan beberapa gerakan yang agak membuat napas tertahan akhirnya karet gelang sudah berpindah ke batang korek yang digigit Intan. Semuanya bersorak dan Intan pun menghembuskan napas dalam-dalam seolah melepaskan beban di dalam dadanya.
"Thanks To. Kamu sahabat yang baik," katanya sambil menyalamiku. Aku hanya tersenyum dan menggerakkan bahu.
Acara demi acara berlangsung dan akhirnya tiba acara makan. Aku mengambil makananku dan mencari tempat yang nyaman untuk menikmatinya. Di sebuah meja agak di sudut, terlihat seorang teman duduk sendirian.
"Siska, kok sendirian saja. Boleh saya duduk di sini?" tanyaku.
"Silakan saja. Untuk kamu semua kursi boleh kamu tempati. Kamulah bintang malam ini," katanya menggodaku.
"Terima kasih, pakaianku jadi sesak nih," kataku membalas godaannya.
Siska salah seorang bunga di kelas kami. Kelihatannya agak sombong, namun setelah mengenalnya sebenarnya ia seorang yang ramah dan baik. Ada beberapa teman baik yang sekelas maupun kelas lainnya yang mencoba mendekatinya, namun mundur teratur ketika mengetahui ia sudah memiliki calon suami mahasiswa kedokteran. Terakhir aku mendengar ia putus dengan dokter-nya dan menikah dengan seorang dosen.
Ternyata teman-teman lainnya tidak ada yang mengambil tempat dan bergabung dengan kami. Kini kami hanya berdua saja.
"Kamu mesra sekali dengan Intan tadi. Aku jadi iri," ia berkata sambil menatapku.
"Ah, itu kan kerjaan kalian semuanya. Aku hanya menyesuaikan dengan irama permainan kalian saja. Dulu aku mau mendekatimu, tapi kalah dengan sang dokter. Ngomong-ngomong mana suamimu?"
"Sudahlah, itu masa lalu. Hanya indah untuk dikenang. Suamiku lagi tugas belajar ke Jerman. Gimana pacarmu Isman?".
"Hussh.., tanya saja sendiri".
"Kamu belum married juga. Gosipnya patah hati dengan Intan ya?"
"Belum ketemu yang cocok saja".
Akhirnya kami mengobrol dan bercerita tentang diri kami. Ia sudah mempunyai seorang anak dan sekarang lagi dititipkan ke neneknya. Ia mendapat kamar di lantai 2 di ujung koridor, sendirian saja karena teman sekamarnya tidak jadi ikut acara reuni.
Acara berakhir pada jam sepuluh. Beberapa teman belum mau beranjak dan terlihat masih mengobrol. Sebagian lagi sudah keluar dari ruangan dan berpindah ke lobby hotel. Aku ditarik untuk ikut bergabung dengan mereka. Agar tidak mengecewakan maka aku pun berbaur dengan mereka. Setengah jam kemudian dengan alasan pusing dan lelah, aku berpamitan untuk ke kamar. Toh besok pagi masih ada acara bersama menikmati keindahan alam Kaliurang. Isman sudah tidak kelihatan batang hidungnya. Katanya ia ada keperluan keluarga dan menginap di rumah saudaranya.
Ketika sampai di lantai dua, kulihat Siska sedang membuka pintu kamarnya. Ia menengok dan melihatku. Ia melambaikan tangan menyuruhku mendekat.
"To, aku sebenarnya belum mengantuk. Tapi males ngobrol di bawah. Terlalu ramai dan riuh. Temani aku ngobrol di teras kamar yuk!"
Aku menurut saja, masuk ke kamarnya dan terus menuju ke teras. Kamarnya masih berantakan. Sampai di teras kami duduk. Siska masuk sebentar dan keluar lagi dengan membawa dua kaleng soft drink. Kami mengobrol sampai pada masalah pribadi.
"Bener kamu belum punya pacar?" tanyanya menyelidik.
"Bener. Apa untungnya aku bohong padamu".
"Laki-laki biasanya begitu. Katanya belum punya pacar, ternyata anaknya sudah lima".
"Bener kok. Masih bujangan tulen".
"Apanya yang bujangan. Kupingmu?!!" katanya terkekeh dan mencibirkan bibirnya.
Topik obrolan beralih ke dirinya.
"Berapa lama suamimu tugas belajar?"
"Tiga tahun. Tadinya aku mau diajak, tapi ibuku tidak mengijinkan. Beliau ingin aku masih di sini".
"Jadi tiga tahun ini kedinginan dong?" godaku.
Ia diam dan pandangannya menerawang. Ditariknya napas dalam-dalam. Kami saling terdiam. Ia memainkan jemarinya. Aku jadi salah tingkah. Sementara gerimis mulai turun.
"OK deh Sis, aku kembali ke kamarku dulu. Besok pagi masih ada acara lagi," kataku.
Ia masih diam membeku. Namun kemudian ia berdiri dan meraih tanganku.
"Aku mengenal kamu sebagai orang yang tidak pernah serius. Kali ini aku bicara serius dan aku minta kamu juga menanggapinya serius. Kamu bilang tadi kalau aku akan kedinginan. Aku tahu kamu cuma bercanda dan menggodaku. Tetapi setelah kurasakan ternyata malam ini aku memang sangat kedinginan. Baik tubuhku maupun hatiku. Kamu mau menghangatkannya?"
"Sis, kamu sadar apa yang kamu katakan?" tanyaku.
"Aku sadar sepenuhnya. Kamu mungkin memandangku sebagai perempuan murahan, tapi sejujurnya aku belum pernah berselingkuh sampai ketika kami mengobrol tadi. Aku tidak tahu mengapa tiba-tiba aku membayangkan malam ini menjadi sangat panjang dan dingin. Aku tidak ingin berpisah dengan suamiku, tapi aku.. tidak.. tidak. OK, kalau kamu tidak bersedia tidak apa-apa dan aku percaya kamu bisa merahasiakan hal ini".
Aku diam sejenak. Siska memang terlihat sangat cantik dan matang. Kubimbing ia masuk ke kamar, menutup pintu teras dan mengunci pintu masuk. Ia memegang jariku, menatapku dan berbisik, "Thanks To".
Aku berbaring dengan pikiran menerawang. Sejujurnya aku pun ingin menikmati tubuhnya yang indah, namun rasanya hal ini terlalu mudah dan cepat sehingga aku tidak bisa mencernanya. Siska membuka ikatan rambutnya sehingga rambutnya tergerai sampai ke pungungnya. Gaun malam yang dikenakannya sangat serasi dengan tubuhnya. Ia melemparkan syal yang dipakainya. Aku baru sadar kalau gaunnya memiliki potongan V rendah di dada sehingga sebagian buah dadanya terlihat padat. Ia menghempaskan tubuhnya di sampingku.
"To, apa pandanganmu terhadap diriku ini. Apakah aku seorang perempuan yang gampangan?"
"Saya tidak akan menilai pribadi seseorang. Kamu sudah dewasa dan kamu bisa menilai dan memutuskan apa yang kamu lakukan".
Siska diam, tapi tangannya mulai mengusap lenganku dengan lembut. Kupeluk dia dari belakang dan kuciumi leher dan bahunya yang terbuka. Dipegangnya tanganku dan ditangkupkan ke dadanya. Kuremas buah dadanya perlahan. Siska merintih perlahan dan membalikkan badannya. Kami masih terus berpelukan, berciuman dan berguling-guling. Ciuman dan remasanku semakin lama semakin ganas. Iapun mengerti kalau nafsuku sudah mulai bangkit. Ia mendesah dan menggesek-gesekkan pipinya pada pipiku. Bibirnya mengulum daun telingaku dan mendesah..
"Ohh.. Anto. Enam bulan lebih aku kedinginan dan menunggu saat-saat seperti ini".
"Siska, aku akan memuaskanmu malam ini..", balasku sambil menciumi telinganya.
Ia menindih tubuhku dan tetap menciumi bibir, leher dan pipiku sambil terus merintih dan merapatkan tubuhnya. Tangannya dengan cekatan membuka kancing bajuku. Kutarik retsluiting gaunnya dan kini bagian dadanya semakin terbuka lebar. Mulut dan lidahku menyusuri seluruh leher, telinga dan pangkal buah dadanya yang sedikit tersembul.
Ia melepaskan pelukannya dan membuka gaunnya. Kulitnya yang putih diterpa lampu kamar yang remang-remang membuat silhouette di tubuhnya. Aku melepas kemejaku dengan tetap berbaring. Siska membuka kepala ikat pinggangku kemudian menarik kaitan dan retsluiting celanaku. Kini aku dan Siska hanya mengenakan pakaian dalam.
Siska berbaring telentang dan tangannya terjulur menyambutku. Kususupkan tanganku ke balik bra-nya dan kuremas putingnya. Ia tidak sabar lagi dan tangannya membuka kaitan bra-nya. Kini bagian dadanya sudah polos terbuka. Kubenamkan mulutku ke dadanya dan beraksi mencium dadanya yang padat kemudian menggigit belahan dadanya dan menjilati putingnya.
Kejantananku mulai bereaksi ketika tangannya menyusup di celana dalamku. Pelan tapi pasti kejantananku mulai membesar sehingga terasa mulai mengganjal. Kunaikkan pantatku untuk mengurangi rasa tekanan kejantananku pada perutnya. Kemudian tangannya mengarahkan kejantananku sehingga kepalanya berada sedikit di bawah pusarnya. Tangannya ke bawah, kemudian meraba, mengusap serta memainkan penisku.
Kini kepalaku bergerak ke leher, dada, menjilat putingnya dengan jilatan ringan kemudian terus ke bawah sampai di selangkangannya. Kusingkapkan celana dalamnya dan mulai menjilati dan memainkan tonjolan daging kecil di bagian depan vaginanya. Bibir vaginanya yang berwarna kemerahan kuusap dengan bagian dalam telunjukku. Ia membuka pahanya agar memudahkan aksiku. Aku menggesekkan hidungku ke bibir vaginanya.
"Lakukan To.. Teruskan. Ahkk!!"
Ia menghentakkan kepalanya dengan keras ke atas bantal meluapkan kekecewaannya. Ia terhentak dan mengejang sesaat ketika clitnya kujilat dan kujepit dengan kedua bibirku. Kulepas dan kujepit lagi. Ia merengek-rengek agar aku menghentikan aksiku dan segera melancarkan serangan terakhir, namun aku sendiri masih ingin menikmati dan melakukan foreplay. Beberapa saat aku masih dalam posisi itu. Tangan kirinya memegang kepalaku dan menekankannya ke celah pahanya. Tangan kanannya meremas-remas payudaranya.
Bersambung . . . .
Affair ketika reuni - 3
Kepalaku kembali bergerak ke atas dan menciumi sekujur dadanya. Tangannya berada di atas kepala sambil meremas ujung bantal. Siska kelihatannya tidak sabar lagi dan dengan sekali gerakan tangannya melepaskan celana dalamku dan memegang kemudian mengocok penisku. Kini dibukanya celana dalamnya dan kepala penisku digesekkannya pada bibir vaginanya. Tanganku mengusap gundukan payudaranya dan meremas dengan pelan dan hati-hati. Ia menggelinjang. Mulutku menyusuri leher dan bahunya kemudian mencari-cari bibirnya yang sudah setengah terbuka.
Aku bergerak sehingga posisi dadanya sekarang di depan mulutku. Putingnya yang berwarna kemerahan digesekkannya di ujung hidungku dan segera kutangkap dengan bibirku. Kami berguling sedikit dan sebentar kemudian ia sudah berada di atasku. Bibirnya dengan lincah menyusuri wajah, bibir, leher dan dadaku. Siska mendorong lidahnya jauh ke dalam mulutku, kemudian menggelitik dan memilin lidahku. Kubiarkan Siska yang mengambil inisiatif permainan. Sesekali lidahku membalas mendorong lidahnya. Kujepit putingnya dengan jariku sampai kelihatan menonjol kemudian kukulum dan kujilati dengan lembut.
"Auhh, Ayolah Anto.. Teruskan.. Lagi," ia merintih pelan.
Kemaluanku mulai menegang dan mengeras. Kukulum payudaranya semuanya masuk ke dalam mulutku, kuhisap dengan kuat, dan putingnya kumainkan dengan lidahku. Napas kami memburu dengan cepat dan badan kami mulai hangat oleh darah yang mengalir deras. Kami berguling.
"Ayo puaskan aku sayang.. Ahh.. Auuh!" Siska mendesis ketika ciumanku berpindah turun ke leher dan daun telinganya.
Tangan kiriku mulai menjalar di pangkal pahanya, kumasukkan jari tengahku ke belahan di celah selangkangannya dan kugesek-gesekkan ke bagian atas depan vaginanya.
"Ahh.. Kamu pandai sekali".
Sementara itu tangan kananku meremas buah dadanya dengan lembut. Tangannya membalas dengan memegang, meremas dan mengocok penisku. Dengan liar kuciumi seluruh bagian tubuhnya yang dapat kujangkau dengan bibirku. Beberapa saat kemudian penisku mengeras maksimal. Kepalanya memerah dan berdenyut-denyut.
Jari tengah kiriku kugerakkan lebih cepat dan tubuhnya kemudian berputar-putar menahan rasa nikmat. Pinggulnya naik dan bergoyang-goyang. Kupelintir puting payudara kirinya dan dan mulutku menjilati puting kanannya. Sementara itu jari kiriku tetap mengocok lubang vaginanya. Semakin cepat kocokanku, semakin cepat dan liar gerakan pinggulnya.
Kepalaku bergerak turun perlahan sampai di selangkangannya dan segera mengambil alih pekerjaan jariku. Kubuka bibir vaginanya dengan jariku dan dinding vaginanya yang mulai basah oleh lendir agak kental dan lengket segera kujilati. Bibir vaginanya kugaruk dengan kumisku. Ia menggelinjang tidak karuan.
"To.. Anto.. Aku juga mau merasakan penismu,"
Aku bergerak memutar sehingga penisku berada di depan mulutnya. Ia kemudian mengecup kepala penisku. Lidahnya membelah masuk ke lubang kencingku. Aku merasakan sensasi kenikmatan yang tidak terkira dan secara refleks aku mengencangkan otot kemaluanku. Buah zakar yang menggantung di bawahnya kemudian diisapnya dan dijilatinya sampai pangkal buah zakarku. Aku hanya menahan napasku setiap ia menjilati titik sensitif ini. Kami seakan berlomba untuk memberikan rangsangan pada alat kelamin pasangannya.
Kami bergantian menikmatinya. Ketika ia mengulum, mengisap dan menjilat penisku aku menghentikan aksi lidahku dan menikmatinya demikian juga sebaliknya ketika klitorisnya kujilat dan kutekan dengan lidahku ia berdesis keras menahan rasa nikmat. Tangannya kadang menekan kepalaku dengan keras ke selangkangannya.
"Putar To. Berguling, aku ingin di atas," pintanya dengan manja.
Aku berguling dan kembali kami melanjutkan aktivitas kami. Kini mulutnya dengan leluasa beraksi di penis dan area sekitar pangkal pahaku. Penisku sudah mulai terasa ngilu menahan sedotan mulutnya yang sangat kuat.
"To, ayo kita masuk dalam permainan berikutnya.."
Dengan gerakan perlahan Siska berjongkok di atas selangkanganku dan mulai menurunkan pantatnya. Sebentar kemudian dengan mudah aku sudah menembus guanya yang hangat dan lembab. Kembali kurasakan sempitnya alur vaginanya. Pinggulnya bergerak naik turun dan aku mengimbanginya dengan memutar pinggul dan menaik turunkan pantat. Kakinya menjepit pahaku dan kadang dikangkangkan lebar-lebar.
Kuciumi bahu dan dadanya. Beberapa kali kugigit sampai meninggalkan bekas kemerahan. Tangannya menekan dadaku sekaligus menahan berat badannya. Gerakan pinggulnya berubah menjadi berputar cepat dan semakin cepat lagi. Tak lama kemudian ia merebahkan tubuhnya merapat di atasku dan mulai menghujaniku dengan ciuman dan gigitan. Kini dadaku yang berbekas kemerahan di beberapa tempat.
Aku mengambil posisi duduk dan kubalikkan tubuhnya ke arah berlawanan dengan arah kepalaku tadi. Kini aku berada di atasnya. Jepitan dan sempitnya vagina membuatku kadang melambatkan tempo dan berdiam untuk lebih rileks. Namun ketika aku diam jepitan dinding vaginanya ditingkatkan sehingga aku tetap saja didera oleh rasa nikmat luar biasa.
Aku bergerak semakin cepat dan mulai kurasakan aliran yang tidak terkendali di tubuhku. Aku ingin segera mengeluarkannya namun aku harus memuaskannya terlebih dahulu. Aku menurunkan irama permainan. Kini ia yang bergerak-gerak liar. Gerakan demi gerakan, teriakan demi teriakan dan akhirnya Siska sampai ke puncak sesaat kemudian setelah mengeluarkan teriakan keras dan panjang.
"Aachhkk.. Anto.. Ouhh".
Tubuhnya mengejang dan pantatnya naik. Untuk memaksimalkan kepuasannya maka kutekankan penisku ke dalam vaginanya. Ketika dinding vaginanya berdenyut, maka kubalas dengan gerakan otot keggelku. Iapun kembali mengejang setiap kali otot keggelku kugerakkan.
Sejenak kami beristirahat tanpa mencabut penisku. Kami saling mengusap tubuh satu sama lain. Sesaat kemudian kami membersihkan diri dan kembali berbaring bersebelahan.
"Kamu memang gombal. Laki-laki memang tukang tipu. Kamu bilang masih perjaka. Kalau melihat permainanmu tadi pastilah sudah banyak wanita yang jadi korbanmu," katanya ketus sambil mencubit pahaku.
"Aduuhh. Nggak ada yang jadi korbanku. Malahan kadang aku yang jadi korban. Atau kamu merasa jadi korbanku?" tanyaku serius.
Ia diam dan kelihatan bingung menerima pertanyaanku.
"Ahh. Sudah kamu memang dari dulu ngeyel, nggak mau kalah, usil, nyebelin meskipun kalau nggak ada kamu memang suasana kelas jadi sepi".
"Jadi sekarang gimana..?" Tanyaku.
"Ya dilanjut dong. Aku kan masih ingin lagi.."
Ketika gairah kami kembali bangkit aku memeluknya kembali. Kami kembali berciuman dan saling merangsang untuk meningkatkan gairah kami. Kali ini kami melakukan pemanasan agak lama sampai ketika penisku sudah mengeras maksimal dan vaginanya sudah mulai basah, Siska lalu mengangkang dengan satu kaki dilipat lututnya.
"Ayo To, kita lakukan lagi!" Dengan cepat aku menindih tubuhnya dan penisku segera beraksi menggenjot vaginanya.
Setelah beberapa lama maka kuberikan isyarat untuk doggy style. Ia mendorong tubuhku agar dapat mengambil posisi tengkurap. Ia sudah membelakangiku dalam keadaan berbaring. Diremasnya penisku dan diarahkan ke vaginanya. Pantatnya dinaikkan sedikit dan dengan mudah penisku menyusup di belahan vaginanya. Kugenjot lagi vaginanya. Kurebahkan badanku di atasnya. Kami berciuman dalam posisi ia tengkurap, sementara kemaluan kami masih terus bertaut dan menjalankan kegiatannya.
Aku menusuk vaginanya berulang kali. Ia pun mendesah sambil meremas sprei di dekatnya. Aku berdiri di atas lututku dan kutarik pinggangnya. Kini ia berada dalam posisi menungging dengan pantat yang disorongkan ke kemaluanku. Setelah hampir dua puluh menit permainan kami yang kedua ini, Siska semakin keras berteriak dan sebentar-sebentar mengejang. Vaginanya terasa semakin lembab dan hangat. Kuhentikan genjotanku dan kucabut penisku.
Siska berbalik telentang dan sebentar kemudian aku naik ke atas tubuhnya dan kembali menggenjot vaginanya. Akhirnya aku merasa hampir mencapai puncak dari kenikmatan ini. Kutarik buah zakarku sehingga penisku kelihatan agak memanjang.
"Siska, kayaknya aku nggak tahan lagi, aku mau keluar," teriakku.
"Ouhh.. Tunggu dulu.. Sebentar lagi.. Kita sama-sama.."
Napas kami semakin terengah-engah. Kukendorkan sebentar otot keggelku dan kemudian kukencangkan, kutahan dan kugenjot lagi dengan cepat. Kupercepat gerakanku. Akhirnya tak lama kemudian kami bersama mencapai titik kenikmatan tertinggi. Aku menyemprotkan spermaku terlebih dahulu. Siska semakin cepat menggerakkan tubuhnya agar tidak ketinggalan dan tak lama Siska pun mendapatkan puncaknya ketika penisku masih menyemburkan sisa-sisa lahar kenikmatan. Setelah itu kami terbaring lemas.
Sekitar jam empat dini hari kami sudah bergumul lagi dengan liarnya. Hampir satu jam kami menuntaskan gairah kami. Jam setengah enam aku kembali ke kamarku. Selang lima menit Isman datang. Ia menatapku dengan sorot mata heran melihat mataku yang memerah.
"Kamu nggak tidur semalam?" tanyanya.
"Tidur, cuma nggak nyenyak aja," kataku jujur. Aku kan sempat tertidur juga sambil memeluk Siska, meskipun paginya harus mengeluarkan energi ekstra.
"Udah, lu tidur lagi aja. Acara nanti paling mulai jam delapan. Aku mau ke bawah dulu minum kopi," katanya lagi.
Jam setengah delapan aku terbangun dan langsung mandi. Jam delapan kurang sepuluh aku sudah ada di restauran dan menyelesaikan sarapan dengan cepat. Jam delapan aku sudah ada di depan hotel bersama-sama dengan teman-teman lainnya. Seperempat jam kemudian kami sudah berada di Taman Wisata Kaliurang. Kami berjalan sambil bergurau naik turun bukit dan menikmati panorama Kaliurang. Aku berjalan di samping Intan. Aku teringat saat SMA ketika kami sekelas mengadakan acara santai di sebuah lokasi wisata pegunungan. Aku selalu menempel Intan dan membantu membimbing tangannya ketika melewati jalan yang sempit atau curam.
"Capek In?" tanyaku.
"Ah enggak. Gimana tidurnya, nyenyak?" tanyanya seolah menyelidik.
Bersambung . . . . .
Aku bergerak sehingga posisi dadanya sekarang di depan mulutku. Putingnya yang berwarna kemerahan digesekkannya di ujung hidungku dan segera kutangkap dengan bibirku. Kami berguling sedikit dan sebentar kemudian ia sudah berada di atasku. Bibirnya dengan lincah menyusuri wajah, bibir, leher dan dadaku. Siska mendorong lidahnya jauh ke dalam mulutku, kemudian menggelitik dan memilin lidahku. Kubiarkan Siska yang mengambil inisiatif permainan. Sesekali lidahku membalas mendorong lidahnya. Kujepit putingnya dengan jariku sampai kelihatan menonjol kemudian kukulum dan kujilati dengan lembut.
"Auhh, Ayolah Anto.. Teruskan.. Lagi," ia merintih pelan.
Kemaluanku mulai menegang dan mengeras. Kukulum payudaranya semuanya masuk ke dalam mulutku, kuhisap dengan kuat, dan putingnya kumainkan dengan lidahku. Napas kami memburu dengan cepat dan badan kami mulai hangat oleh darah yang mengalir deras. Kami berguling.
"Ayo puaskan aku sayang.. Ahh.. Auuh!" Siska mendesis ketika ciumanku berpindah turun ke leher dan daun telinganya.
Tangan kiriku mulai menjalar di pangkal pahanya, kumasukkan jari tengahku ke belahan di celah selangkangannya dan kugesek-gesekkan ke bagian atas depan vaginanya.
"Ahh.. Kamu pandai sekali".
Sementara itu tangan kananku meremas buah dadanya dengan lembut. Tangannya membalas dengan memegang, meremas dan mengocok penisku. Dengan liar kuciumi seluruh bagian tubuhnya yang dapat kujangkau dengan bibirku. Beberapa saat kemudian penisku mengeras maksimal. Kepalanya memerah dan berdenyut-denyut.
Jari tengah kiriku kugerakkan lebih cepat dan tubuhnya kemudian berputar-putar menahan rasa nikmat. Pinggulnya naik dan bergoyang-goyang. Kupelintir puting payudara kirinya dan dan mulutku menjilati puting kanannya. Sementara itu jari kiriku tetap mengocok lubang vaginanya. Semakin cepat kocokanku, semakin cepat dan liar gerakan pinggulnya.
Kepalaku bergerak turun perlahan sampai di selangkangannya dan segera mengambil alih pekerjaan jariku. Kubuka bibir vaginanya dengan jariku dan dinding vaginanya yang mulai basah oleh lendir agak kental dan lengket segera kujilati. Bibir vaginanya kugaruk dengan kumisku. Ia menggelinjang tidak karuan.
"To.. Anto.. Aku juga mau merasakan penismu,"
Aku bergerak memutar sehingga penisku berada di depan mulutnya. Ia kemudian mengecup kepala penisku. Lidahnya membelah masuk ke lubang kencingku. Aku merasakan sensasi kenikmatan yang tidak terkira dan secara refleks aku mengencangkan otot kemaluanku. Buah zakar yang menggantung di bawahnya kemudian diisapnya dan dijilatinya sampai pangkal buah zakarku. Aku hanya menahan napasku setiap ia menjilati titik sensitif ini. Kami seakan berlomba untuk memberikan rangsangan pada alat kelamin pasangannya.
Kami bergantian menikmatinya. Ketika ia mengulum, mengisap dan menjilat penisku aku menghentikan aksi lidahku dan menikmatinya demikian juga sebaliknya ketika klitorisnya kujilat dan kutekan dengan lidahku ia berdesis keras menahan rasa nikmat. Tangannya kadang menekan kepalaku dengan keras ke selangkangannya.
"Putar To. Berguling, aku ingin di atas," pintanya dengan manja.
Aku berguling dan kembali kami melanjutkan aktivitas kami. Kini mulutnya dengan leluasa beraksi di penis dan area sekitar pangkal pahaku. Penisku sudah mulai terasa ngilu menahan sedotan mulutnya yang sangat kuat.
"To, ayo kita masuk dalam permainan berikutnya.."
Dengan gerakan perlahan Siska berjongkok di atas selangkanganku dan mulai menurunkan pantatnya. Sebentar kemudian dengan mudah aku sudah menembus guanya yang hangat dan lembab. Kembali kurasakan sempitnya alur vaginanya. Pinggulnya bergerak naik turun dan aku mengimbanginya dengan memutar pinggul dan menaik turunkan pantat. Kakinya menjepit pahaku dan kadang dikangkangkan lebar-lebar.
Kuciumi bahu dan dadanya. Beberapa kali kugigit sampai meninggalkan bekas kemerahan. Tangannya menekan dadaku sekaligus menahan berat badannya. Gerakan pinggulnya berubah menjadi berputar cepat dan semakin cepat lagi. Tak lama kemudian ia merebahkan tubuhnya merapat di atasku dan mulai menghujaniku dengan ciuman dan gigitan. Kini dadaku yang berbekas kemerahan di beberapa tempat.
Aku mengambil posisi duduk dan kubalikkan tubuhnya ke arah berlawanan dengan arah kepalaku tadi. Kini aku berada di atasnya. Jepitan dan sempitnya vagina membuatku kadang melambatkan tempo dan berdiam untuk lebih rileks. Namun ketika aku diam jepitan dinding vaginanya ditingkatkan sehingga aku tetap saja didera oleh rasa nikmat luar biasa.
Aku bergerak semakin cepat dan mulai kurasakan aliran yang tidak terkendali di tubuhku. Aku ingin segera mengeluarkannya namun aku harus memuaskannya terlebih dahulu. Aku menurunkan irama permainan. Kini ia yang bergerak-gerak liar. Gerakan demi gerakan, teriakan demi teriakan dan akhirnya Siska sampai ke puncak sesaat kemudian setelah mengeluarkan teriakan keras dan panjang.
"Aachhkk.. Anto.. Ouhh".
Tubuhnya mengejang dan pantatnya naik. Untuk memaksimalkan kepuasannya maka kutekankan penisku ke dalam vaginanya. Ketika dinding vaginanya berdenyut, maka kubalas dengan gerakan otot keggelku. Iapun kembali mengejang setiap kali otot keggelku kugerakkan.
Sejenak kami beristirahat tanpa mencabut penisku. Kami saling mengusap tubuh satu sama lain. Sesaat kemudian kami membersihkan diri dan kembali berbaring bersebelahan.
"Kamu memang gombal. Laki-laki memang tukang tipu. Kamu bilang masih perjaka. Kalau melihat permainanmu tadi pastilah sudah banyak wanita yang jadi korbanmu," katanya ketus sambil mencubit pahaku.
"Aduuhh. Nggak ada yang jadi korbanku. Malahan kadang aku yang jadi korban. Atau kamu merasa jadi korbanku?" tanyaku serius.
Ia diam dan kelihatan bingung menerima pertanyaanku.
"Ahh. Sudah kamu memang dari dulu ngeyel, nggak mau kalah, usil, nyebelin meskipun kalau nggak ada kamu memang suasana kelas jadi sepi".
"Jadi sekarang gimana..?" Tanyaku.
"Ya dilanjut dong. Aku kan masih ingin lagi.."
Ketika gairah kami kembali bangkit aku memeluknya kembali. Kami kembali berciuman dan saling merangsang untuk meningkatkan gairah kami. Kali ini kami melakukan pemanasan agak lama sampai ketika penisku sudah mengeras maksimal dan vaginanya sudah mulai basah, Siska lalu mengangkang dengan satu kaki dilipat lututnya.
"Ayo To, kita lakukan lagi!" Dengan cepat aku menindih tubuhnya dan penisku segera beraksi menggenjot vaginanya.
Setelah beberapa lama maka kuberikan isyarat untuk doggy style. Ia mendorong tubuhku agar dapat mengambil posisi tengkurap. Ia sudah membelakangiku dalam keadaan berbaring. Diremasnya penisku dan diarahkan ke vaginanya. Pantatnya dinaikkan sedikit dan dengan mudah penisku menyusup di belahan vaginanya. Kugenjot lagi vaginanya. Kurebahkan badanku di atasnya. Kami berciuman dalam posisi ia tengkurap, sementara kemaluan kami masih terus bertaut dan menjalankan kegiatannya.
Aku menusuk vaginanya berulang kali. Ia pun mendesah sambil meremas sprei di dekatnya. Aku berdiri di atas lututku dan kutarik pinggangnya. Kini ia berada dalam posisi menungging dengan pantat yang disorongkan ke kemaluanku. Setelah hampir dua puluh menit permainan kami yang kedua ini, Siska semakin keras berteriak dan sebentar-sebentar mengejang. Vaginanya terasa semakin lembab dan hangat. Kuhentikan genjotanku dan kucabut penisku.
Siska berbalik telentang dan sebentar kemudian aku naik ke atas tubuhnya dan kembali menggenjot vaginanya. Akhirnya aku merasa hampir mencapai puncak dari kenikmatan ini. Kutarik buah zakarku sehingga penisku kelihatan agak memanjang.
"Siska, kayaknya aku nggak tahan lagi, aku mau keluar," teriakku.
"Ouhh.. Tunggu dulu.. Sebentar lagi.. Kita sama-sama.."
Napas kami semakin terengah-engah. Kukendorkan sebentar otot keggelku dan kemudian kukencangkan, kutahan dan kugenjot lagi dengan cepat. Kupercepat gerakanku. Akhirnya tak lama kemudian kami bersama mencapai titik kenikmatan tertinggi. Aku menyemprotkan spermaku terlebih dahulu. Siska semakin cepat menggerakkan tubuhnya agar tidak ketinggalan dan tak lama Siska pun mendapatkan puncaknya ketika penisku masih menyemburkan sisa-sisa lahar kenikmatan. Setelah itu kami terbaring lemas.
Sekitar jam empat dini hari kami sudah bergumul lagi dengan liarnya. Hampir satu jam kami menuntaskan gairah kami. Jam setengah enam aku kembali ke kamarku. Selang lima menit Isman datang. Ia menatapku dengan sorot mata heran melihat mataku yang memerah.
"Kamu nggak tidur semalam?" tanyanya.
"Tidur, cuma nggak nyenyak aja," kataku jujur. Aku kan sempat tertidur juga sambil memeluk Siska, meskipun paginya harus mengeluarkan energi ekstra.
"Udah, lu tidur lagi aja. Acara nanti paling mulai jam delapan. Aku mau ke bawah dulu minum kopi," katanya lagi.
Jam setengah delapan aku terbangun dan langsung mandi. Jam delapan kurang sepuluh aku sudah ada di restauran dan menyelesaikan sarapan dengan cepat. Jam delapan aku sudah ada di depan hotel bersama-sama dengan teman-teman lainnya. Seperempat jam kemudian kami sudah berada di Taman Wisata Kaliurang. Kami berjalan sambil bergurau naik turun bukit dan menikmati panorama Kaliurang. Aku berjalan di samping Intan. Aku teringat saat SMA ketika kami sekelas mengadakan acara santai di sebuah lokasi wisata pegunungan. Aku selalu menempel Intan dan membantu membimbing tangannya ketika melewati jalan yang sempit atau curam.
"Capek In?" tanyaku.
"Ah enggak. Gimana tidurnya, nyenyak?" tanyanya seolah menyelidik.
Bersambung . . . . .
Affair ketika reuni - 4
Aku jadi kikuk dan merasa bersalah. Ada perasaan seolah-olah ia tahu apa yang terjadi semalam. Padahal mungkin saja ia hanya sekedar berbasa-basi.
"Yah bisa juga tidur, tapi udara terlalu dingin. Jadi sering terbangun dan buang air kecil," kataku.
Tiba-tiba sekelompok teman yang lain mendahului kami dan berkata.., "Silakan bernostalgia. Kami tidak akan mengganggu kalian kok". Kemudian pecah suara tawa berderai. Aku hanya tersenyum dan melambaikan tangan.
"Cepat kalian jalan di depan. Kami juga tidak mau diganggu," kataku.
"Tapi ingat lho. Kalau berduaan jangan di tempat sepi, bahaya!" celetuk seseorang.
Siska yang berada di dalam rombongan itu melihatku dan tersenyum. Akhirnya setelah makan di alam terbuka kami kembali lagi ke hotel sekitar jam dua belas siang. Acara reuni akan berakhir jam tiga dan jam dua sudah harus check out. Isman sudah nggak ketahuan lagi perginya. Iseng-iseng kutekan nomor kamar Siska di telepon kamar.
"Hallo.." terdengar suara Siska.
"Hallo say, udah beres-beres?" tanyaku.
"Ini lagi masukin pakaian,"
"Perlu bantuan?" tanyaku lagi.
Ia tidak menjawab dan meletakkan gagang teleponnya. Aku berpikir sejenak dan akhirnya kuputuskan untuk ke kamarnya saja. Paling tidak aku harus bicara apa yang telah terjadi semalam. Kuketuk pintu kamarnya.
"Room service," kataku dengan suara agak berat.
"Masuk saja," katanya.
Aku masuk ke dalam kamarnya dan ia kelihatan terkejut melihatku.
"Kamu lagi. Nggak bosan-bosannya berbuat iseng".
"Aku juga nggak bosan dengan kamu kok," Mukanya memerah.
"Ngerayu lagi. Udah sana beresin pakaianmu sana. Sebentar lagi kita udah diusir sama suaminya Tini".
Siska sudah berganti pakaian dengan kemeja pink tipis dan celana jeans ketat. Bra-nya yang berwarna hitam dengan model tanpa tali bahu terlihat di balik kemejanya. Ia duduk di atas ranjang dan aku memeluk dari samping, sambil bibirku mulai bekerja menciumi daerah leher, pelipis dan sekitarnya.
"Udah To. Sebentar lagi kita harus check out," katanya sambil berusaha melepaskan pelukanku.
"Kita masih punya waktu sedikit lagi kan?" kataku yakin. Ia ragu-ragu tapi kemudian kurasakan ia menyerah dalam pelukanku.
Angin pegunungan bertiup agak kencang sehingga Siska menggigil. Tanganku dipegangnya dan didekapkan di dadanya. Kubisikkan di telinganya, "Daripada kita kedinginan lebih baik kita panaskan dulu suasana ini!"
Ia tidak menjawab namun tubuhnya bergerak dan duduk di pangkuanku. Kemudian tangannya menggelayut di leherku. Kami berpelukan di atas ranjang. Tak lama kemudian tubuh bagian bawahnya sudah telanjang, sementara aku sudah telanjang bulat. Aku sengaja belum membuka bajunya karena ingin menikmati pemandangan di depanku ini.
Tubuh yang putih mengenakan pakaian tipis terbuka di atas sedang berbaring di ranjang sementara di bagian pangkal pahanya terbayang sejumlah rumput hitam yang rapi mengitari sebuah telaga. Ia membuka pahanya sehingga telaganya yang berwarna kemerahan sangat menantang. Aku hanya diam dan mengelus-elus perutnya.
"Kamu cuma akan begini terus atau..". Belum habis kata-katanya kucium bibirnya dan aksiku pun segera berlanjut.
Kutindih dan kujelajahi sekujur tubuhnya dengan jariku. Mulutnya mendekat ke telingaku dan berbisik..
"Ouuhh.. Anto.. Terserah kamu apapun yang akan kau lakukan..".
"Aku akan memuaskanmu.." kataku membalas bisikannya.
"Ouhh.. Apa.. Saja. Akhh..!"
Dari bibir lidahku turun ke dada dan ke samping, mengecup pinggul dan pinggangnya, kemudian ke arah pahanya. Hidungku kutempelkan di bibir vaginanya. Tercium aroma harum dan segar. Kulebarkan pahanya kuberikan rangsangan di sekitar pangkal pahanya tanpa menyentuh vaginanya. Ketika kugigit pahanya sampai merah ia memekik.
"Antoo.. Jangan.. Sudah To!" pekiknya.
Kepalaku kembali ke dadanya dan kuminta dia untuk berguling ke atas. Dengan cepat kami berguling. Kuraih bagian bawah bajunya dan dengan cepat kulepaskan lewat kepalanya. Kukecup gundukan payudaranya yang keluar dari cupnya. Bra-nya dengan sekali jentikan jariku kemudian terlepas. Kusambut payudaranya dengan jilatan lidahku melingkari sekitar puting dan dengan sekali jilatan halus.
Siska menekan pangkal payudaranya sehingga payudaranya seperti mengencang. Siska kemudian membawa payudaranya ke mulutku dan kusambut dengan rakus seperti bayi yang sedang kehausan susu ibunya. Kugantikan posisi tangannya dan kuremas. Ujung putingnya kujilat dan kumainkan dengan gigitan lembut bibirku. Ia semakin terangsang dan ingin segera mendaki lereng kenikmatan.
Tangannya mengocok penisku dengan lembut. Dikecupnya kepala penisku, diratakannya cairan bening yang sudah mulai keluar dari lubang kencingku dengan mulutnya. Aku menahan napas ketika lidahnya menjilati lubang kencingku. Kini ia jongkok di atas pahaku dan mulai mengarahkan penisku ke dalam liang vaginanya.
Peniskupun masuk ke dalam liang vaginanya. Kukeraskan ototku sedikit dan Siskapun mulai menggerakkan pantatnya. Ia seperti penunggang kuda yang sedang memacu kudanya. Pantatnya bergerak naik turun dengan cepat. Aku mengimbangi dengan gerakan pinggulku serta meremas dan mengulum payudaranya. Gerakannya semakin cepat dan erangannya makin sering. Aku mengubah posisiku menjadi duduk dan memeluk pinggangnya. Kami berciuman dalam posisi Siska duduk di pangkuanku.
"Aagghh.. Anto..," teriaknya.
Kudorong dia ke arah yang berlawanan dengan posisi semula. Kini aku berada di atasnya dan mulai mengatur irama permainan. Bibirku bergerak ke leher dan menjilatinya. Tangannya mengusap punggung dan pinggang sampai pantatku. Tanganku meremas lembut payudaranya dari pangkal kemudian kutarik ke arah puting. Kutarik putingnya sedikit dan kujilati sekitarnya yang juga berwarna kemerahan. Kutekan payudaranya dengan telapak tangan dan kuputar-putar. Kususuri buah dadanya dengan bibirku tanpa mengenai putingnya. Ia bergerak tidak menentu. Semakin ia bergerak maka payudaranya ikut bergoyang. Jilatanku makin ganas mengitari tonjolan kemerahan itu.
"To.. Aku.. Isep.. Isep dong.. Yang," pintanya.
Aku masih mempermainkan gairahnya dengan jilatan halus di putingnya itu. Siska mendorong buah dadanya ke mulutku, dan putingnya langsung masuk ke mulutku, dan kukulum, kugigit kecil serta kujilat bergantian. Lumatan bibirku di puting Siska makin ganas. Ia semakin liar bergerak
"Aagh..", ia memekik-mekik.
Vagina Siska makin lembab, namun tidak sampai banjir. Siska langsung mendesis keras ketika merasakan hunjaman penisku yang menyodoknya bertubi-tubi. Tangannya mencengkeram punggungku. Gerakan naik turunku diimbangi dengan memutarkan pinggulnya. Semakin lama gerakan kami semakin cepat dan liar. Ia semakin sering memekik dan mengerang. Kuku tangannya kadang mencakar punggungku. Kutarik rambutnya dengan satu tarikan kuat, kukecup lehernya dan kugigit bahunya.
"Ouhh.. Ehh.. Yyeesshh!"
Kugenjot Siska dengan cepat dan menghentak-hentak. Kuganti irama gerakanku. Kumasukkan penisku setengahnya dan kucabut sampai tinggal kepalanya yang terbenam beberapa hitungan dan kemudian kuhempaskan pantatku dengan keras. Siska pun menjerit tertahan dan wajahnya mendongak. Pinggulnya yang tidak pernah berhenti untuk bergoyang dan berputar semakin menambah kenikmatan yang terjadi. Jepitan vaginanya yang menyempit ditambah dengan gerakan pinggulnya membuatku semakin bergairah.
Aku menurunkan irama untuk mengurangi rasa nikmat yang meledak-ledak. Penisku kubiarkan tertanam di dalam vaginanya dan kemudian aku menggerakkan otot kemaluanku. Terasa penisku berkontraksi mendesak dinding vaginanya dan ketika aku melepaskan kontraksiku, kurasakan dinding vaginanya menyempit meremas penisku. Hanya suara desahan yang terdengar di dalam kamar. Ia memberi isyarat untuk menyelesaikan permainan ini.
"Aku ingin merasakan panasnya lahar gairahmu," ia mendesah.
Kembali kami berpelukan dan bergerak liar tanpa menghiraukan tubuh kami yang basah oleh keringat. Siska semakin cepat menggerakkan pantatnya sampai penisku terasa disedot oleh satu pusaran yang sangat kuat. Siska meremas rambutku dan membenamkan kepalaku ke dadanya, betisnya menjepit erat pinggulku. Badannya meronta-ronta, kepalanya bergoyang ke kiri dan ke kanan, tangannya semakin kuat menjambak rambutku dan menekan kepalaku lebih keras lagi ke dadanya. Aku pun semakin bergairah untuk menghujani kenikmatan kepada Siska yang tidak berhenti mengerang.
"Aahh.. Sshh.. Sshh " Gerakan tubuh kami semakin liar dan cepat.
"Ouoohh.. Nikmat.. Aku.. Sam.. Pai.."
Aku mengangguk dan ia pun memekik panjang, "Ya .. Ayo.. Aahhkk..!"
Aku mengencangkan otot kemaluanku dan menghunjamkan penisku ke dalam vaginanya. Nafasnya tercekat sejenak dan kemudian keluarlah erangannya. Tubuhnya kami mengejang bersama-sama. Kakinya memperketat jepitan di pinggulku. Sedetik kemudian spermaku sudah memancar di dalam vaginanya. Kami menjerit tertahan..
"Aww.. Aduuh.. Hggkk"
Sunyi sejenak di dalam kamar. Hanya ada suara napas memburu yang kemudian berangsur-angsur menjadi tenang. Sayup-sayup suara angin berdesir terdengar berirama. Setelah napas kami tenang kupeluk ia dengan mesra.
"Sis.."
"Hee.. Ehh".
"Sejujurnya aku tak pernah berpikir akan terjadi hal seperti ini".
Ia diam dan matanya agak memerah. Bibir bawahnya digigit.
"Aku juga tidak tahu kenapa ini terjadi. Aku sangat kesepian dan memerlukan kehangatan. Tetapi mengapa ini terjadi?" ia mengeluh dan menutup mukanya.
"To.. Sudah kepalang basah sekarang. Kalau kamu belum mau pulang ke Jakarta nanti malam aku masih menginginkannya lagi. Tapi tidak di sini. Kita pindah ke Yogya, sekitar Malioboro saja yuk".
Kutatap matanya untuk memastikan kata-katanya.
Ia mengangguk dan berkata, "Seperti kataku tadi, sudah telanjur basah ya mandi saja sekalian.."
"Aku mengerti, tapi aku juga tegaskan bahwa ini adalah just for fun. Aku tidak ingin kamu berpisah dengan keluargamu. Aku hanya ingin membantu melepaskan dahagamu saja," kataku.
"Aku juga tidak ingin kehilangan keluargaku," katanya tegas.
Akhirnya acara reuni berakhir dan aku masih melanjutkan reuniku hanya berdua dengan Siska di Yogyakarta. Ketika kami berpisah keesokan harinya, ia mengecup pipiku dan berbisik..
"Tahun depan kamu harus ikut reuni lagi". Artinya?
Tamat
"Yah bisa juga tidur, tapi udara terlalu dingin. Jadi sering terbangun dan buang air kecil," kataku.
Tiba-tiba sekelompok teman yang lain mendahului kami dan berkata.., "Silakan bernostalgia. Kami tidak akan mengganggu kalian kok". Kemudian pecah suara tawa berderai. Aku hanya tersenyum dan melambaikan tangan.
"Cepat kalian jalan di depan. Kami juga tidak mau diganggu," kataku.
"Tapi ingat lho. Kalau berduaan jangan di tempat sepi, bahaya!" celetuk seseorang.
Siska yang berada di dalam rombongan itu melihatku dan tersenyum. Akhirnya setelah makan di alam terbuka kami kembali lagi ke hotel sekitar jam dua belas siang. Acara reuni akan berakhir jam tiga dan jam dua sudah harus check out. Isman sudah nggak ketahuan lagi perginya. Iseng-iseng kutekan nomor kamar Siska di telepon kamar.
"Hallo.." terdengar suara Siska.
"Hallo say, udah beres-beres?" tanyaku.
"Ini lagi masukin pakaian,"
"Perlu bantuan?" tanyaku lagi.
Ia tidak menjawab dan meletakkan gagang teleponnya. Aku berpikir sejenak dan akhirnya kuputuskan untuk ke kamarnya saja. Paling tidak aku harus bicara apa yang telah terjadi semalam. Kuketuk pintu kamarnya.
"Room service," kataku dengan suara agak berat.
"Masuk saja," katanya.
Aku masuk ke dalam kamarnya dan ia kelihatan terkejut melihatku.
"Kamu lagi. Nggak bosan-bosannya berbuat iseng".
"Aku juga nggak bosan dengan kamu kok," Mukanya memerah.
"Ngerayu lagi. Udah sana beresin pakaianmu sana. Sebentar lagi kita udah diusir sama suaminya Tini".
Siska sudah berganti pakaian dengan kemeja pink tipis dan celana jeans ketat. Bra-nya yang berwarna hitam dengan model tanpa tali bahu terlihat di balik kemejanya. Ia duduk di atas ranjang dan aku memeluk dari samping, sambil bibirku mulai bekerja menciumi daerah leher, pelipis dan sekitarnya.
"Udah To. Sebentar lagi kita harus check out," katanya sambil berusaha melepaskan pelukanku.
"Kita masih punya waktu sedikit lagi kan?" kataku yakin. Ia ragu-ragu tapi kemudian kurasakan ia menyerah dalam pelukanku.
Angin pegunungan bertiup agak kencang sehingga Siska menggigil. Tanganku dipegangnya dan didekapkan di dadanya. Kubisikkan di telinganya, "Daripada kita kedinginan lebih baik kita panaskan dulu suasana ini!"
Ia tidak menjawab namun tubuhnya bergerak dan duduk di pangkuanku. Kemudian tangannya menggelayut di leherku. Kami berpelukan di atas ranjang. Tak lama kemudian tubuh bagian bawahnya sudah telanjang, sementara aku sudah telanjang bulat. Aku sengaja belum membuka bajunya karena ingin menikmati pemandangan di depanku ini.
Tubuh yang putih mengenakan pakaian tipis terbuka di atas sedang berbaring di ranjang sementara di bagian pangkal pahanya terbayang sejumlah rumput hitam yang rapi mengitari sebuah telaga. Ia membuka pahanya sehingga telaganya yang berwarna kemerahan sangat menantang. Aku hanya diam dan mengelus-elus perutnya.
"Kamu cuma akan begini terus atau..". Belum habis kata-katanya kucium bibirnya dan aksiku pun segera berlanjut.
Kutindih dan kujelajahi sekujur tubuhnya dengan jariku. Mulutnya mendekat ke telingaku dan berbisik..
"Ouuhh.. Anto.. Terserah kamu apapun yang akan kau lakukan..".
"Aku akan memuaskanmu.." kataku membalas bisikannya.
"Ouhh.. Apa.. Saja. Akhh..!"
Dari bibir lidahku turun ke dada dan ke samping, mengecup pinggul dan pinggangnya, kemudian ke arah pahanya. Hidungku kutempelkan di bibir vaginanya. Tercium aroma harum dan segar. Kulebarkan pahanya kuberikan rangsangan di sekitar pangkal pahanya tanpa menyentuh vaginanya. Ketika kugigit pahanya sampai merah ia memekik.
"Antoo.. Jangan.. Sudah To!" pekiknya.
Kepalaku kembali ke dadanya dan kuminta dia untuk berguling ke atas. Dengan cepat kami berguling. Kuraih bagian bawah bajunya dan dengan cepat kulepaskan lewat kepalanya. Kukecup gundukan payudaranya yang keluar dari cupnya. Bra-nya dengan sekali jentikan jariku kemudian terlepas. Kusambut payudaranya dengan jilatan lidahku melingkari sekitar puting dan dengan sekali jilatan halus.
Siska menekan pangkal payudaranya sehingga payudaranya seperti mengencang. Siska kemudian membawa payudaranya ke mulutku dan kusambut dengan rakus seperti bayi yang sedang kehausan susu ibunya. Kugantikan posisi tangannya dan kuremas. Ujung putingnya kujilat dan kumainkan dengan gigitan lembut bibirku. Ia semakin terangsang dan ingin segera mendaki lereng kenikmatan.
Tangannya mengocok penisku dengan lembut. Dikecupnya kepala penisku, diratakannya cairan bening yang sudah mulai keluar dari lubang kencingku dengan mulutnya. Aku menahan napas ketika lidahnya menjilati lubang kencingku. Kini ia jongkok di atas pahaku dan mulai mengarahkan penisku ke dalam liang vaginanya.
Peniskupun masuk ke dalam liang vaginanya. Kukeraskan ototku sedikit dan Siskapun mulai menggerakkan pantatnya. Ia seperti penunggang kuda yang sedang memacu kudanya. Pantatnya bergerak naik turun dengan cepat. Aku mengimbangi dengan gerakan pinggulku serta meremas dan mengulum payudaranya. Gerakannya semakin cepat dan erangannya makin sering. Aku mengubah posisiku menjadi duduk dan memeluk pinggangnya. Kami berciuman dalam posisi Siska duduk di pangkuanku.
"Aagghh.. Anto..," teriaknya.
Kudorong dia ke arah yang berlawanan dengan posisi semula. Kini aku berada di atasnya dan mulai mengatur irama permainan. Bibirku bergerak ke leher dan menjilatinya. Tangannya mengusap punggung dan pinggang sampai pantatku. Tanganku meremas lembut payudaranya dari pangkal kemudian kutarik ke arah puting. Kutarik putingnya sedikit dan kujilati sekitarnya yang juga berwarna kemerahan. Kutekan payudaranya dengan telapak tangan dan kuputar-putar. Kususuri buah dadanya dengan bibirku tanpa mengenai putingnya. Ia bergerak tidak menentu. Semakin ia bergerak maka payudaranya ikut bergoyang. Jilatanku makin ganas mengitari tonjolan kemerahan itu.
"To.. Aku.. Isep.. Isep dong.. Yang," pintanya.
Aku masih mempermainkan gairahnya dengan jilatan halus di putingnya itu. Siska mendorong buah dadanya ke mulutku, dan putingnya langsung masuk ke mulutku, dan kukulum, kugigit kecil serta kujilat bergantian. Lumatan bibirku di puting Siska makin ganas. Ia semakin liar bergerak
"Aagh..", ia memekik-mekik.
Vagina Siska makin lembab, namun tidak sampai banjir. Siska langsung mendesis keras ketika merasakan hunjaman penisku yang menyodoknya bertubi-tubi. Tangannya mencengkeram punggungku. Gerakan naik turunku diimbangi dengan memutarkan pinggulnya. Semakin lama gerakan kami semakin cepat dan liar. Ia semakin sering memekik dan mengerang. Kuku tangannya kadang mencakar punggungku. Kutarik rambutnya dengan satu tarikan kuat, kukecup lehernya dan kugigit bahunya.
"Ouhh.. Ehh.. Yyeesshh!"
Kugenjot Siska dengan cepat dan menghentak-hentak. Kuganti irama gerakanku. Kumasukkan penisku setengahnya dan kucabut sampai tinggal kepalanya yang terbenam beberapa hitungan dan kemudian kuhempaskan pantatku dengan keras. Siska pun menjerit tertahan dan wajahnya mendongak. Pinggulnya yang tidak pernah berhenti untuk bergoyang dan berputar semakin menambah kenikmatan yang terjadi. Jepitan vaginanya yang menyempit ditambah dengan gerakan pinggulnya membuatku semakin bergairah.
Aku menurunkan irama untuk mengurangi rasa nikmat yang meledak-ledak. Penisku kubiarkan tertanam di dalam vaginanya dan kemudian aku menggerakkan otot kemaluanku. Terasa penisku berkontraksi mendesak dinding vaginanya dan ketika aku melepaskan kontraksiku, kurasakan dinding vaginanya menyempit meremas penisku. Hanya suara desahan yang terdengar di dalam kamar. Ia memberi isyarat untuk menyelesaikan permainan ini.
"Aku ingin merasakan panasnya lahar gairahmu," ia mendesah.
Kembali kami berpelukan dan bergerak liar tanpa menghiraukan tubuh kami yang basah oleh keringat. Siska semakin cepat menggerakkan pantatnya sampai penisku terasa disedot oleh satu pusaran yang sangat kuat. Siska meremas rambutku dan membenamkan kepalaku ke dadanya, betisnya menjepit erat pinggulku. Badannya meronta-ronta, kepalanya bergoyang ke kiri dan ke kanan, tangannya semakin kuat menjambak rambutku dan menekan kepalaku lebih keras lagi ke dadanya. Aku pun semakin bergairah untuk menghujani kenikmatan kepada Siska yang tidak berhenti mengerang.
"Aahh.. Sshh.. Sshh " Gerakan tubuh kami semakin liar dan cepat.
"Ouoohh.. Nikmat.. Aku.. Sam.. Pai.."
Aku mengangguk dan ia pun memekik panjang, "Ya .. Ayo.. Aahhkk..!"
Aku mengencangkan otot kemaluanku dan menghunjamkan penisku ke dalam vaginanya. Nafasnya tercekat sejenak dan kemudian keluarlah erangannya. Tubuhnya kami mengejang bersama-sama. Kakinya memperketat jepitan di pinggulku. Sedetik kemudian spermaku sudah memancar di dalam vaginanya. Kami menjerit tertahan..
"Aww.. Aduuh.. Hggkk"
Sunyi sejenak di dalam kamar. Hanya ada suara napas memburu yang kemudian berangsur-angsur menjadi tenang. Sayup-sayup suara angin berdesir terdengar berirama. Setelah napas kami tenang kupeluk ia dengan mesra.
"Sis.."
"Hee.. Ehh".
"Sejujurnya aku tak pernah berpikir akan terjadi hal seperti ini".
Ia diam dan matanya agak memerah. Bibir bawahnya digigit.
"Aku juga tidak tahu kenapa ini terjadi. Aku sangat kesepian dan memerlukan kehangatan. Tetapi mengapa ini terjadi?" ia mengeluh dan menutup mukanya.
"To.. Sudah kepalang basah sekarang. Kalau kamu belum mau pulang ke Jakarta nanti malam aku masih menginginkannya lagi. Tapi tidak di sini. Kita pindah ke Yogya, sekitar Malioboro saja yuk".
Kutatap matanya untuk memastikan kata-katanya.
Ia mengangguk dan berkata, "Seperti kataku tadi, sudah telanjur basah ya mandi saja sekalian.."
"Aku mengerti, tapi aku juga tegaskan bahwa ini adalah just for fun. Aku tidak ingin kamu berpisah dengan keluargamu. Aku hanya ingin membantu melepaskan dahagamu saja," kataku.
"Aku juga tidak ingin kehilangan keluargaku," katanya tegas.
Akhirnya acara reuni berakhir dan aku masih melanjutkan reuniku hanya berdua dengan Siska di Yogyakarta. Ketika kami berpisah keesokan harinya, ia mengecup pipiku dan berbisik..
"Tahun depan kamu harus ikut reuni lagi". Artinya?
Tamat
Langganan:
Postingan (Atom)