Minggu, 02 Januari 2011

Orgasme perdana Verne - 2

Kami sama-sama berbaring. Verne mungkin mengira aku sudah habis malam itu. Tapi pikiranku tidak mau kalah. Aku mengingat-ingat apakah benar kelelahan jadi faktor utamaku gagal ereksi?

"Sory Verne.. Ini baru pertama kalinya aku alami" ujarku dengan sangat malu.
"Its Okay, Boy. Kamu kan memang lagi kecapekan.." jawabnya.

Aku tak tahu apa yang dipikirkannya. Tetapi walaupun dia tidak mempermasalahkan kejadian ini, aku yang mempermasalahkannya! Aku meraba penisku dan mencoba mengocoknya. Ternyata penisku bereaksi bagus. Mungkin karena 2 bulan tidak ML? Mungkin saja. Aku terus mengocok penisku dan dalam waktu sangat singkat aku berejakulasi. Aku senang bisa ejakulasi. Itu tandanya aku tinggal menunggu penisku ereksi lagi. Aku butuh makan untuk menambah energiku. Sudah jam 19.00. Aku menelepon room service dan memesan nasi rawon dan ice tea.

Makanan datang dan aku segera memakannya. Kudengar hujan turun dengan lebat. Aku suka sekali dengan suara hujan. Membuatku merasa nyaman. Selesai makan aku minum cukup banyak supaya bau rawon di mulutku hilang. Kemudian aku berbaring di ranjang. Aku merasakan penisku mulai normal lagi. Perlahan kepercayaan diriku muncul. Aku berusaha keras melupakan kejadian tadi. Untungnya Verne cukup sabar dan memberiku semangat.

"Gak apa-apa kok. Jangan dipikirkan, nanti kamu malah trauma. Kan memang kamu lagi capek banget.."

Kata-kata Verne menguatkanku. Aku yang tadi sangat shock dan malu mulai percaya diri. Kubuka kondom dan mulai memakainya. Tidak masalah penisku belum ereksi penuh. Belum lama rebahan di ranjang, Verne kembali naik ke atas tubuhku dan mulai menciumku. Dia menikmati sekali mencumbuku. Aku mengikuti tempo-nya.

Rata-rata wanita butuh waktu 15-30 menit untuk orgasme, sedangkan pria cuma 3-5 menit, karena itu tidak ada gunanya aku menggebu-gebu. Kubiarkan Verne menguasaiku. Menghisap bibirku, menghisap lidahku. Kelebihannya memang di ciumannya. Sementara gerak tubuh dan tangannya belum terlalu mahir. Tetapi tubuh telanjang kami yang saling bersentuhan, yang bergerak alami, sudah cukup untuk membuat kami intim.

Payudaranya yang seksi menempel erat di dadaku. Kenyal dan lembut.. Perutnya.. Terasa hangat di perutku. Kulit kami bersentuhan dan menggesek pelan memberikan stimuli nikmat yang menggetarkan hati. Jantung kami memompa darah lebih cepat. Nafas makin memburu. Ciuman Verne makin dalam. Makin panas. Aku juga sudah mulai panas. Kutingkatkan kekuatanku. Aku menyerbu bibirnya dengan panas. Kami saling melumat makin liar, makin keras, makin cepat.. Luar biasa nikmat. Aku membayangkan.. Berciuman saja sudah sedemikian nikmat, apalagi nanti kalau penisku sudah menembus vaginanya? Perlahan-lahan ereksi penisku mencapai puncaknya. Keras sekali. Dalam hati aku senang sekali. Aku makin percaya diri.

"Verne.. It's the time.." bisikku sangat pelan nyaris tak terdengar.

Sambil tubuh Verne tetap berada di atasku, aku memasukkan penisku dari arah pantatnya. Penisku yang sudah tegak perkasa dengan berani menusuk masuk vagina Verne.

"Ogh.." kami sama-sama mengerang.

Kemudian tubuh kami sama-sama bergoyang mengejar gesekan nikmat antara penis dan vaginanya. Kami sama-sama bergerak. Terkadang tempo kami berbeda hingga membuat gesekan terasa tidak nikmat. Dengan beberapa kali penyesuaian, kami makin cepat mendaki puncak kenikmatan.

"Kamu di atas ya, Boy.." kata Verne.

Dia mungkin kelelahan berada di atas terus. Tubuhnya berbaring dan aku naik ke atas tubuhnya. Kembali penisku menghunjam masuk. Gesek nikmat kembali terjadi.. Tetapi aku sangat kesulitan dengan posisi itu karena kakiku terlipat. Aku menghentikan kocokanku. Kutarik Verne agak ke bawah lalu aku berdiri di pinggir ranjang. Aku lebih nyaman dengan posisi berdiri sementara Verne tetap berbaring.

"Boy, lepas saja kondomnya ya?" pinta Verne.

Rupanya dia menginginkan kenikmatan yang lebih. Okay.. Aku melepas kondomku. Dengan perkasa penisku kembali menyodok masuk. Ufh.. hangat.. Kurasakan sensasi hangat dan nikmat saat penisku menerobos masuk vaginanya.

"Ogh.. Yeah.." desah Verne.

Dengan tempo sedang aku memacu birahi kami. Verne mulai gelisah. Serangan nikmat yang kulancarkan perlahan mulai meruntuhkan benteng-benteng sarafnya. Darahnya mengalir makin lancar. Desahan, raungan dan rintihan nikmatnya silih ganti meramaikan suasana remang-remang kamar hotel.

"Boy.. Enak.. Gila.. Okh.." rintih Verne.

Tempoku makin cepat. Suara penisku yang keluar masuk menembus vaginannya juga makin keras. Makin membuatku bersemangat. Verne terguncang-guncang menahan nikmat. Matanya sampai terpejam dan bibirnya menutup, membuka.

"Agh.. Argh.. Boy.. Oh God.." ceracau Verne.

Aku makin cepat mengocok. Tak lama kemudian aku merasakan aku hampir ejakulasi. Aku berhenti dulu. Menenangkan pikiran. Kucabut penisku. Kali ini tugas kulimpahkan pada jariku. Dengan dua jari aku menerobos vaginanya. Mencari dan menemukan G-Spotnya. Titik erotis ini mulai kuserang. Selama ini aku sudah cukup hafal letak G-Spot sehingga dengan Verne aku tidak kesulitan.

Begitu jariku menekan-nekan G-Spotnya, Verne bergetar hebat. Tubuhnya seperti mau terpental keluar. Aku menahannya dengan tanganku yang lain. Desahan Verne makin kuat.

"Okhw.. Ogh.. Sshh.. Ergg.. Uwhh.." Entah bagaimana menuliskan erangannya? Sangat bervariasi dan bahkan Verne mulai mendesis dan mengeluarkan suara seperti mau menangis.
"Egh.. Egh.. Hh.. Hh.."

Aku makin bersemangat. Jariku satunya menyerang klitorisnya. Sebenarnya wanita tidak ada yang frigid. Selama dia menginginkan orgasme, dia akan mendapatkannya. Tentunya sebagai pria aku harus membantunya meraih orgasme. Klitoris dan G-spot, dua titik paling peka di tubuh wanita, dengan ribuan saraf yang peka, kuserang habis-habisan. Verne bergerak makin liar. Kedua tangannya mencengkeram erat sprei di ranjang.

"Aku nggak kuat, Boy.. Sudah.." pintanya.

Inilah Verne. Ingin orgasme, tapi saat sudah mendekati, malah minta berhenti. Tentu aku menolaknya. Penisku yang sedari tadi melihat jariku beraksi mulai cemburu. Dia mulai ingin bekerja lagi. Haha.. Dengan ijinku, penisku kembali menerobos masuk. Kali ini aku mengarahkan penisku ke atas, berusaha menyentuh G-Spotnya. Lalu kusodok dengan tempo pelan. Tubuhku menindihnya menghampiri Verne yang segera saja memelukku.

"Boy, oh.. God.. Yess.." erang Verne.

Aku terus memacu penisku. Lama-lama makin kuat dan cepat, sampai akhirnya dengan kecepatan tinggi dan tenaga kuat aku mengocoknya dengan stabil.

"Ck.. Ck.. Ck.. Sr.. Sr.. Ck.." suara penisku yang beradu dengan vaginanya.
"Argh.. Arghh" Verne berteriak.

Jarinya mencengkeram punggungku dan mencakarnya. Wah, luka lagi deh.. pikirku. Tapi tidak masalah. Aku sungguh menikmati melihat wajah Verne yang sedang dilanda birahi. Matanya terpejam, merah, dengan mulut yang mengeluarkan suara-suara mirip tangisan.

"Sudah.. Boy.. Sudah.." Verne kembali ingin berhenti. Aku terus memacunya.
"Gila kamu Boy.. Gila..!!" Verne terguncang-guncang.
"Ah.. Ah.. AAHH..."

Verne melenguh panjang. Tubuhnya agak mengejang dan terangkat sedikit. Kurasakan jemarinya kaku. Kakinya juga mengejang. Goyangannya berhenti. Matanya terpejam dengan mulut terbuka menganga. Verne orgasme. Tapi aku belum, maka dengan cepat aku mengocokkan penisku mengejar orgasmeku. Tetapi orgasmeku masih lama. Beberapa menit kemudian Verne membuka mata. Penis kucabut.

"Sudah Boy.. Aku capek banget.. Gila.. Badanku lemas sekali" bisik Verne.
"Mau aku terusin?" aku ingin membuatnya mengalami multi orgasme.
"No.. Aku capek sekali.." katanya. Aku jadi heran. Wanita mana yang menolak multi orgasme?
"Kamu belum pernah mengalami ini ya?"
"Iya.. Malu-maluin ya?" Verne tersipu malu.

Dia sudah ML sejak 4 tahun yang lalu dan ini adalah orgasme pertamanya! Aku cuma tersenyum. Wajar deh kalau dia sampai kelelahan begitu. Tak kukira dia sampai lemas begitu. Aku berdiri dan minum air mineral. Kemudian berbaring di ranjang. Verne kembali menaiki tubuhku dan menciumku. Aku membalas ciumannya. Beberapa menit kami bercumbu, lalu aku duduk dan mulai memijat tubuhnya.

"Wah.. pakai dipijat segala.." katanya.

Tentu saja, ada foreplay, making love, dan afterplay. Aku menyebutnya after orgasm service. Kupijat punggung, tengkuk dan pinggulnya. Verne tampak kelelahan. Nafasnya masih memburu. Aku sendiri malah dalam top form. Setelah kejadian tadi, aku berhasil melupakannya dan bangkit menjadi perkasa. Inilah aku, yang selalu berusaha membuat wanita orgasme.

"Kamunya sendiri belum dapet ya Boy?" tanya Verne.

Iya sih.. Aku belum orgasme, tetapi tidak masalah. Aku sudah ratusan kali orgasme, sedangkan Verne.. Ini adalah pertama kalinya! Banyak wanita yang berpikir dia sudah mengalami nikmatnya bercinta. Benar. Tetapi banyak wanita yang tidak tahu, bahwa mereka belum pernah mencapai orgasme.. Ketika malamnya aku mengantar Verne pulang dan kami berkirim SMS, aku kembali menanyakan apa yang dirasakannya.

"Verne.. Tadi kamu tidak faking orgasme (pura-pura) kan?" aku tentu saja tidak ingin wanita yang ML bersamaku berpura-pura mengalami orgasme.
"Tidak, Boy. Sudah kubilang, aku tidak mengejar orgasme. Jadi mengapa aku berpura-pura? Aku ragu-ragu waktu kau bilang akan membuatku orgasme, tetapi waktu mengalaminya.. Astaga.. Luar biasa.." balas Verne.
"Oh ya? Bagaimana rasanya? Bagian tubuh yang mana yang merasakan orgasme?" tanyaku penasaran.
"Seluruh tubuh, Boy. Tapi ya di bagian bawah itu yang paling terasa. Gila.. Aku seperti melayang, terbang. Kepalaku seperti terbelah dua. Semua gerakan tubuhku waktu orgasme seperti bukan otakku yang mengontrolnya. Lepas kendali.. Enak sekali. Tapi ya itu.. Lemasnya itu yang aku nggak tahan.."

Aku tersenyum membaca SMS-nya. Berbeda dengan pria yang hanya dapat merasakan nikmat di penisnya, wanita mengalami kenikmatan di seluruh tubuhnya. Urat nadinya terbuka, darah mengalir lebih lancar.. Benar-benar wow!

"Sory ya Verne karena aku tadi sempat gagal. Aku belum hebat deh tadi.."
"Boy.. Segitu tidak hebat? Sulit dipercaya. Banyak hal yang baru kualami pertama kali waktu ML denganmu. I will never forget it.." Aku tersanjung berhasil membuat Verne orgasme untuk pertama kalinya.

Besok paginya aku bangun dan melihat ada SMS dari Verne..

"Boy, I go back home to my city. Thanks for accompany me while I'm in your city, especially for the nice memory. Hope to see you again soon and I'll wait for the story. Take care, keep in touch and bye bye.. :)"

Wanita seksi dengan puting menantang itu telah pulang ke kotanya. Aku jadi teringat malam itu, sehabis bercinta dengannya, aku menanyakan hal yang sama pada Verne. Tentang pilihannya. Cowok yang jago sex tapi sangat buruk pribadinya, atau impoten tapi pribadinya sangat baik.

Verne ternyata lebih memilih cowok yang sexnya jago. Akan tetapi jika itu untuk pasangan seumur hidup, dia jadi bimbang dan memilih abstain. Ketika aku memintanya untuk mempertimbangkan keluarga, anak-anak dan semua aspek.., Verne memilih laki-laki yang pribadinya baik, tetapi itu setelah usianya di atas 30 tahun, setelah dia berhenti dari semua petualangan sexnya.

Verne, jika kau sudah membaca cerita ini. Thanks sekali lagi. Orgasme-mu bukan cuma karena teknikku, tetapi karena bantuanmu juga. I miss you, and.. your kisses.

Tamat

Oh tak kusangka - 1

Sungguh aku tak pernah membayangkan sebelumnya untuk memergoki orang bercinta. Apalagi kalau orang itu adalah kakakku sendiri. Namun demikianlah yang terjadi. Tanpa sengaja aku melihat permainan ranjang antara kakakku dengan seorang mahasiswa yang magang di rumahku. Peristiwa yang tak terduga itu membuatku mula-mula shock namun secara tak terduga justru akhirnya aku menikmatinya sampai akhir.

Sekilas tentang diriku, aku adalah cowok berumur 19 tahun sementara kakakku 2 tahun lebih tua dariku. Orangnya cukup cantik serta bodinya cukup oke. Bra-nya berukuran 34B. Kulitnya putih mulus. Ia termasuk orang yang cukup cuek dalam menonjolkan ke-sexy-an tubuhnya apalagi kalau di rumah. Sejak awal aku memang mempunyai pikiran yang agak "miring" kepadanya dikarenakan dari tingkah lakunya. Namun ini hanya terpendam di dalam pikiranku saja. Tak pernah aku mempunyai niat untuk melakukan perbuatan yang lebih jauh kepadanya. Kuingat pertama kali ia memakai bra saat kelas 2 SMP. Sebelum itu pernah beberapa kali aku melihatnya telanjang, terakhir sampai ia kelas 1 SMP aku pernah melihatnya telanjang dada. Dadanya sudah agak menonjol namun saat itu aku masih tak punya pikiran apa-apa. Setelah ia memakai bra, justru aku menjadi penasaran ingin melihat payudaranya. Apalagi dadanya makin lama makin membesar sementara sejak ia memakai bra, ia tidak pernah telanjang di depanku lagi. Saking penasarannya aku suka melihat dan memegang-megang bra-nya (tentunya saat tidak dikenakan). Dari situ aku tahu ukurannya adalah 34B. Sejak itu aku ingin sekali melihat seperti apa payudaranya. Namun aku tidak mendapat kesempatan itu sampai suatu ketika saat ia kelas 3 SMU.

Malam menjelang tidur, ada sesuatu yang ingin kubicarakan dengannya. Saat aku masuk ke kamarnya, aku agak kaget menyaksikan dadanya kelihatan bergerak-gerak cukup bebas. Kulihat ada BH yang tergeletak di ranjang. Jangan-jangan ia tidak memakai BH di balik bajunya, pikirku. Aku menjadi yakin saat kulihat ada dua tonjolan di dadanya yang menembus bajunya. Bajunya tidak terlalu tipis namun juga tidak cukup tebal untuk menyembunyikan kedua putingnya yang bergerak-gerak dengan bebasnya. Aku menjadi agak salah tingkah. Tanpa sadar kurasakan batang kemaluanku menjadi tegang menyaksikan hal itu. Sementara ia dengan cueknya berbicara denganku seolah-olah tidak ada apa-apa, membuatku beberapa kali mencuri-curi pandang ke arah dadanya. Saat ia membungkuk di depanku, tentunya tak kusia-siakan kesempatan untuk melihat dadanya yang indah dan mulus. Hanya sayangnya tak sampai kelihatan putingnya.

Kemudian ia mengatakan ingin mengambil tasnya di luar, buru-buru kutawarkan untuk mengambilkannya. Aku agak was-was ia keluar saat itu karena Amat, pembantuku sedang nonton TV di ruang tamu saat aku masuk ke sini. Jangan-jangan ia masih di sana. Kalau sampai Amat melihat kakakku seperti itu kan bisa berabe. Apalagi kalau ia sampai tidak bisa mengendalikan nafsunya, bisa fatal akibatnya.

Malam itu aku mimpi basah. Dalam mimpiku, kakakku mengambil tasnya. Sementara Amat menjadi bernafsu saat melihat payudara kakakku (dalam mimpiku, kakakku mengenakan baju transparan). Ia menatap terus memandangi kakakku yang sedang telanjang dengan penuh nafsu. Kemudian ia mendekati kakakku dan langsung menciumi bibirnya. Kakakku membalas ciumannya dengan penuh gairah. Kedua tangan Amat meraih payudara kakakku dan meremas-remasnya. Sampai disana akhirnya membuatku jadi "basah". Dan itu adalah mimpi basahku yang terhebat, spermaku yang keluar demikian banyaknya.

Paginya aku jadi bingung. Peristiwa yang tidak kuinginkan terjadi, ternyata secara bawah sadar membuatku jadi bergairah. Sejak itu, beberapa kali aku mencoba membayangkan kakakku bercinta dengan cowok (termasuk Amat) saat onani, terutama saat aku kehilangan ide. Ternyata hal itu membuat onaniku jauh lebih nikmat. Sampai akhirnya aku selalu membayangkan hal itu saat onani. Tentunya aku tidak berani menceritakan hal ini kepada siapapun. Juga aku sungguh tidak mengharapkan bayanganku itu betul-betul terjadi karena aku yakin kakakku masih perawan. Walaupun ia termasuk cukup berani dalam berpakaian namun ia bukan tipe cewek yang gampangan. Memang ia sudah punya cowok tapi aku percaya ia tidak pernah melakukan hal-hal yang di luar batas.

Kalaupun cowoknya datang ia selalu menemuinya di ruang tamu dan kakakku selalu berpakaian sopan. Seringkali malah kami bertiga berbincang-bincang bersama. Terlepas dari itu aku makin sering "membayangkan" kakakku. Apalagi saat pergi bersamanya, selalu banyak cowok yang menatap ke arahnya. Dari tatapannya dapat kubayangkan kalau mereka tergiur oleh kemolekan kakakku. Selain wajahnya yang cukup cantik dan bodinya yang aduhai, ia selalu mengenakan pakaian yang makin menunjukkan daya tariknya. Sementara kalau di rumah pakaian yang dikenakannya membuatnya jadi "hot". Ia suka sekali memakai kaus kutang tanpa lengan. Membuatnya makin tampak seksi saja, apalagi kalau sedang membungkuk. Kalau tidak gitu, ia memakai daster yang tipis. Saking tipisnya sampai kelihatan BH dan celana dalamnya. Sepertinya ia tidak peduli dan tidak merasa kalau aku sering meliriknya. Bahkan Amat pun kudapati seringkali mencuri-curi pandang menatap bagian dada atau pahanya yang putih mulus. Kadang aku ingin mengingatkan kakakku namun aku tidak tahu harus bagaimana bicaranya. Aku takut menyinggung perasaannya.

Suatu hari pernah kupergoki Amat melihat celana dalam kakakku. Saat itu kakakku sedang duduk membaca majalah. Sementara kakinya agak terbuka dan roknya agak pendek. Saat itu Amat sedang mengepel lantai kira-kira 3 meter di depannya. Tentu saja ia tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Kuperhatikan tangannya berputar-putar mengepel lantai namun matanya memandang langsung ke arah celana dalam kakakku. Sementara posisiku di belakang Amat agak tersembunyi oleh lemari sehingga ia tidak tahu kalau aku ada di sana. Aku sendiri juga bisa melihat celana dalamnya. Membuatku bergairah apalagi saat melihat Amat menatap kakakku juga. Pandangan kakakku terhalang majalah yang ada di depannya sehingga ia tidak mengetahui kalau ada 2 orang cowok yang mengambil kesempatan dalam kesempitan menonton celana dalam dan kedua pahanya yang putih mulus itu. Tapi tak terjadi hal yang lebih jauh dari itu. Beberapa saat kemudian kakakku mengubah posisi duduknya dan Amat melanjutkan pekerjaannya.

Suatu malam saat Jakarta diguncang gempa, malah lebih gawat lagi. Saat itu aku dan kakakku buru-buru keluar kamar. Kemudian kami keluar ke taman belakang agar lebih aman. Saat itu Amat keluar juga dari kamarnya. Saat terkena sinar lampu, baru kusadari bahwa kakakku ternyata tidak memakai BH. Mungkin karena terburu-buru, ia lupa mengenakan BH-nya. Ia memakai kaus tanpa lengan warna hijau muda. Payudaranya bergerak-gerak dengan bebasnya. Sementara Jakarta diguncang gempa, di bagian dadanya juga terjadi "gempa lokal". Kedua putingnya nampak jelas sekali menonjol di balik kaosnya. Kira-kira seberapa besar payudaranya terlihat cukup jelas di balik kaosnya. Aku yakin saat itu Amat pasti juga terangsang melihat kakakku. Rasanya hampir pasti kalau setelah itu ia melakukan masturbasi di kamarnya sama sepertiku. Untungnya Amat orangnya pasif dan agak penakut jadi ia tidak berani melakukan hal-hal yang tidak dikehendaki.

Beberapa saat setelah itu, Amat berhenti kerja dan pulang kampung. Sebagai gantinya pembantu perempuan, umurnya kira-kira 30-an, namanya Minah. Perlu diketahui, orang tuaku cerai sejak aku masih kecil. Kami ikut Papa, tapi sejak beberapa tahun terakhir Papa pulang seminggu sekali saja. Ia sibuk dengan pekerjaannya di daerah. Dengan tidak adanya Amat, kakakku makin cuek dalam berpakaian. Sekarang ia jadi sering tidak memakai BH saat di rumah. Membuatku jadi semakin gregetan saja dan membuat frekuensi onaniku meningkat. Kadang timbul niat untuk mengintip kamarnya melalui jendela kamarnya namun aku selalu membatalkan niatku ini. Pernah satu kali saat aku tidak mengetok kamarnya, punggungnya sedang dipijit oleh Minah. Ia tidur telungkup cuma mengenakan celana dalam saja.

Belakangan garasi rumahku dipakai oleh pamanku untuk membuka bengkel mesin. Ada tiga orang montir plus satu orang cewek bagian administrasi, namanya Neny. Pamanku tak bisa setiap hari mengontrol jadi ia menggunakan tenaga seorang mahasiswa teknik mesin yang magang sebagai supervisor mereka. Namanya Bagus. Orangnya hitam dan tinggi besar. Wajahnya brewok namun selalu dicukurnya. Ia dua tahun lebih tua dari kakakku. Dengan adanya beberapa orang di rumahku, kuperhatikan kakakku kembali selalu mengenakan bra. Namun kalau aku ke kamarnya beberapa kali kudapati ia tidak memakai bra. Sementara itu setahuku Bagus dan kakakku kadang suka berbicara tapi tak pernah terpikir olehku ada hubungan yang lebih dari itu. Sampai suatu ketika..

Hari itu seperti biasanya pada hari Jumat aku ada kegiatan ekstra sampai sore. Tetapi hari itu gurunya tidak masuk sehingga aku pulang cepat. Saat itu kulihat lampu di kamar kakakku menyala, berarti ia ada di dalam, pikirku. Setelah selesai mandi dan melewati kamar kakakku aku mendengar rasanya kakakku sedang berbicara dan sepertinya ada orang lain di dalamnya. Aku bertanya-tanya di dalam hati. Jangan-jangan cowoknya ada di dalam kamar, pikirku. Setahuku ia telah putus dengan cowoknya beberapa bulan lalu. Mungkin telah baikan kembali. Atau mungkin juga hanya perasaanku saja, sebenarnya ia sedang menelepon. Semula aku ingin mengetuk kamarnya. Namun akhirnya kuputuskan untuk mengintip dari jendela yang ada di taman samping dengan memakai tangga. Astaga! Betapa terkejutnya aku saat kulihat di dalam kamar ternyata kakakku berduaan dengan Bagus. Bagus sedang memeluk kakakku yang duduk berdempetan dengannya seperti layaknya dua sejoli yang sedang berpacaran. Seolah tak percaya aku melihatnya. Tak kusangka kalau kakakku mau berhubungan dengan cowok seperti Bagus. Padahal kakakku dan Bagus sangat kontras perbedaannya dalam segala hal.

Bersambung ......

Oh tak kusangka - 2

Kemudian Bagus mencium bibir kakakku sambil kedua tangannya memegang pipinya sementara jari-jarinya menggelitik bagian belakang telinga kakakku. Menyaksikan kakakku pasrah bibirnya dilumat oleh Bagus seketika membuatku terpana. Kurasakan batang kemaluanku menegang menyaksikan itu. Setelah beberapa saat menikmati bibir kakakku, kepala Bagus bergerak turun mencium leher kakakku.

Kemudian kedua tangan Bagus meraih payudara kakakku dan meraba-rabanya serta meremas-remas dengan lembut. Sambil meremas-remas, bibirnya menikmati bibir kakakku. Kakakku pun membalas ciumannya dengan penuh gairah. Karena terdorong oleh gerakan tubuh Bagus ke depan, kakakku jatuh tertidur di ranjangnya. Di atasnya Bagus makin bernafsu menciumi bibir kakakku sementara tangannya masih sibuk meremas-remas susunya. Setelah itu Bagus menindih tubuh kakakku dan menciumi lehernya. Kakakku mengerang-erang penuh gairah.

Beberapa saat kemudian ia membuka satu persatu kancing baju kakakku dari atas ke bawah kemudian disibakkannya piyama tidur yang dikenakan kakakku. Terlihatlah gunung kembarnya yang masih tertutup oleh BH berwarna biru dan bergerak naik turun karena nafasnya tidak teratur. Bagus semakin bernafsu saja, direngkuhnya payudara kakakku dan diciuminya. Sambil menciumi payudaranya, tangan kanan Bagus turun ke bawah menyibak rok kakakku. Tampaklah pahanya yang putih mulus serta celana dalamnya yang juga berwarna biru. Tangan Bagus segera meraba paha kakakku, memainkan jari-jarinya di pangkal pahanya. Setelah itu mulai meraba-raba bagian tengahnya. Jarinya digesek-gesekkan di antara kedua pahanya membuat kakakku mendesah-desah. Makin cepat digesek-gesekkan makin keras suara kakakku. Sampai-sampai celana dalam kakakku mulai basah.

Kemudian Bagus membangunkan kakakku. Dalam posisi terduduk bagus melepas piyama dan roknya. Setelah itu Bagus juga membuka kaosnya sendiri dan melepas celana jeans-nya. Tampak sebagian batang kemaluannya menyembul keluar dari celana dalamnya. Tidak puas sampai di situ, tangan Bagus menggerayangi punggung kakakku untuk melepaskan pengait BH-nya. Dengan agak bernafsu, Bagus melepas BH dari tubuh kakakku dan melemparkannya ke lantai. Sejenak ia memandangi payudara kakakku, menikmati keindahannya. Aku pun jadi ikut terpana menyaksikan keindahannya. Payudaranya tampak putih mulus padat berisi dan masih kencang. Putingnya berwarna merah muda berdiri dengan tegaknya. Setelah itu kedua tangannya menggerayangi payudara kakakku dan meremas-remasnya. Jari-jarinya terutama ibu jarinya menggerak-gerakkan dan memencet-mencet kedua puting susu kakakku seperti mainan saja. Kakakku bukannya marah malah membuat tubuhnya menggelinjang dan mendesah-desah tak karuan menikmati permainan tangan Bagus. Kemudian Bagus mulai menciumi payudara kakakku. Kedua puting susu yang berwarna merah muda itu dihisap-hisap bergantian kiri kanan dan ujung lidahnya menjilatinya. Kakakku makin pasrah saja. Sambil melakukan itu, Bagus menggesek-gesekkan tangannya ke celana dalam kakakku membuat kakakku jadi "basah kuyup" sehingga bulu kemaluannya yang hitam jadi tercetak pada celana dalamnya.

Setelah itu Bagus menggesek-gesekkan batang kemaluannya di celana dalam kakakku. Kemudian Bagus melepas celana dalam kakakku, sehingga ia dalam keadaan telanjang bulat. Tampak bulu kemaluannya yang cukup lebat. Bagus membuka lebar-lebar kedua pahanya sehingga ia dapat melihat liang vaginanya. Aku pun juga dapat melihatnya walaupun arahnya kurang pas. Kemudian jemarinya mulai bermain-main di sekitar vaginanya. Saat Bagus melakukan itu, kakakku tidak melawan sedikit pun. Tampaknya ia sudah pasrah dan benar-benar terangsang sehingga jadi lupa diri. Sambil melakukan itu, tangannya yang satu memegang-megang bagian payudara.

Pandanganku agak berkunang-kunang menyaksikan kakakku dijadikan mainan seperti itu. Aku sama sekali tidak menyangka, kukira kakakku cewek alim yang masih suci ternyata kok mau digituin sama Bagus. Namun entah kenapa aku jadi seperti tersihir melihatnya. Lagipula kakakku tampak sangat menikmatinya. Apa yang sering kubayangkan selama ini ternyata menjadi kenyataan. Setelah itu Bagus menanggalkan celana dalamnya sendiri. Penisnya yang berwarna hitam telah berdiri tegak. Penisnya telah disunat dan ukurannya jauh lebih besar dari punyaku. Bagus segera menindih tubuh kakakku yang telentang dengan kedua paha terbuka lebar.

Mereka berpelukan telanjang bulat sementara baju mereka berserakan di lantai. Penis Bagus menempel pada bulu kemaluan kakakku dan dadanya menindih payudara kakakku. Bagus menciumi lehernya sementara dadanya menindih dada kakakku. Saat itu Bagus pasti terangsang hebat karena ia dapat merasakan kedua puting kakakku yang mengeras di dadanya. Lalu ciumannya turun ke bawah untuk menjilat-jilat dan menghisap-hisap payudaranya. Aku sampai dapat mendengar kecupan-kecupan Bagus di daerah sekitar payudara kakakku. Mereka berdua bergumul dengan asyiknya. Kakakku pun tak kalah ganasnya dengan Bagus. Tangannya ikut memegang dan mengocok penis Bagus. Dadanya didekatkan ke penis Bagus kemudian Bagus menggesek-gesek penisnya di antara payudara kakakku. Kemudian kakakku menempelkan dan menggesekkan payudaranya ke tubuh Bagus. Kadang ia juga menciumi dada Bagus. Tubuh kakakku yang putih mulus tampak kontras dengan tubuh Bagus yang hitam legam namun dengan asyiknya mereka bergumul di ranjang.

Setelah cukup lama melakukan foreplay, Bagus mulai mengambil "ancang-ancang". Kedua kaki kakakku dibukanya lebar-lebar sementara ujung penisnya didekatkan di lubang vagina kakakku. Posisi tubuhnya condong ke depan. Kemudian Bagus memajukan badannya ke depan untuk mendorong penisnya memasuki vagina kakakku. Kakakku menjerit saat vaginanya ditembus oleh penis Bagus. Tampak sebagian penis Bagus telah memasuki vagina kakakku. Kemudian Bagus memasukkan penisnya lebih dalam lagi sampai akhirnya penisnya masuk seluruhnya ke dalam vagina kakakku. Jantungku berdetak dengan keras menyaksikan itu. Seketika aku berpikir bahwa kakakku pasti sudah tidak perawan lagi. Paling tidak saat itu Bagus telah menikmatinya. Kemudian Bagus mengeluarkan dan memasukkan penisnya lagi berulang-ulang, mengocok tubuh kakakku. Kocokan Bagus itu tampak membuat tubuh kakakku berguncang dengan hebatnya bahkan membuat buah dadanya bergerak vertikal dan berputar-putar. Sementara kakakku mendesah-desah dibuatnya. Belum pernah aku melihatnya seperti itu. Mendengar desahan kakakku dan menyaksikan buah dada kakakku yang berguncang-guncang itu, Bagus jadi makin nafsu saja. Sambil menyetubuhi kakakku, direngkuhnya buah dadanya, diremas-remas, bahkan diemut-emut putingnya. Menyaksikan hal itu, aku jadi ikut terangsang juga sehingga aku mulai memainkan penisku sendiri.

Kemudian Bagus melepaskan dirinya dari tubuh kakakku. Ternyata mereka mengubah posisi. Kakakku membalikkan badan dan menungging lalu ia membelakanginya. Lalu Bagus kembali menyetubuhi kakak-ku dengan posisi doggy style. Kakakku kembali mendesah-desah saat dikocok seperti itu sementara wajah Bagus agak memerah. Sambil menyetubuhi, Bagus memegang-megang dan meremas-remas payudaranya. Walaupun kamar kakakku menggunakan AC namun tubuh mereka berdua terlihat basah oleh keringat.

Beberapa saat kemudian mereka berganti posisi lagi. Kali ini kakakku dalam posisi miring menghadap ke arahku, kaki kanannya diangkat ke atas pundak Bagus. Dalam posisi agak terduduk, Bagus kembali "memompa" kakakku menikmati kehangatan dan kenikmatan tubuh kakakku. Setelah itu giliran kakakku yang beraksi. Bagus tidur telentang dengan penisnya berdiri tegang. Lalu kakakku berada di atasnya perlahan-lahan memasukkan penis Bagus ke vaginanya kemudian menggerak-gerakkan tubuhnya naik turun sambil ia mengerang-erang. Bagus pun juga mengeluarkan suara erangan sambil tangannya kembali meremas-remas payudara kakakku.

Kemudian mereka berganti posisi lagi. Kali ini mereka berdua berdiri di atas ranjang. Kemudian Bagus meraih tangan kakakku dan menggenggamkannya ke penisnya sendiri. Kakakku mengocok penis Bagus sementara Bagus mencium bibirnya. Lalu Bagus menyetubuhi kakakku dalam posisi berdiri. Selama ini belum pernah aku melihat posisi berdiri. Sambil menyaksikan aku terus melakukan onani. Kembali Bagus membaringkan kakakku di atas ranjang. Ia melipat kedua kaki kakakku dan menyilangkannya hampir 90 derajat saat ia menyetubuhi kembali kakakku. Kedua tangan kakakku memegang pundak Bagus, sementara kedua tangan Bagus memegangi paha kakakku. Pada saat itu kakakku mendesah-desah dan meracau tidak karuan. Rupanya ia sudah akan mencapai klimaksnya. Menyaksikan hal itu, Bagus sedikit mengubah posisinya. Mungkin tahu kalau kakakku cukup sensitif di bagian payudaranya, sambil menyetubuhi, Bagus mengulum puting susunya. Dan ia mengocok makin lama makin cepat membuat kakakku berteriak-teriak makin keras pula. Bagus malah mempercepat kocokannya.

Akhirnya kakakku benar-benar mengalami klimaksnya. Tak berapa lama setelah itu Bagus pun juga mengalami ejakulasi. Ia menumpahkan spermanya di dalam vagina kakakku. Pada saat mereka berdua telah selesai aku pun juga menumpahkan spermaku. Setelah itu mereka berdua terengah-engah di atas ranjang. Sambil mengelus-elus payudara kakakku, Bagus berkata bahwa kakakku benar-benar hebat. Sambil tersipu malu kakakku berkata bahwa ia juga hebat. Tak lama kemudian Bagus bangkit dan berkata kalau ia akan kembali bekerja takut nanti orang-orang curiga. Pada saat Bagus memakai pakaiannya ia memandangi kakakku yang juga lagi mengenakan pakaiannya. Setelah mengecup kakakku, Bagus keluar dari kamar dan kembali ke tempat kerjanya. Setelah itu kakakku mulai tidur siang.

Setelah aku selesai masturbasi, tinggal aku yang termangu-mangu menyaksikan peristiwa luar biasa itu. Aku bertanya-tanya apakah saat itu kakakku masih perawan? Rasanya sudah tidak, jawabku dalam hati, soalnya aku tidak melihat vaginanya mengeluarkan darah, juga dari gelagatnya rasanya mereka pernah melakukan sebelumnya. Kembali timbul pertanyaan dalam diriku, apakah Bagus yang pertama kali menikmati keperawanan kakakku? Ataukah mantan cowoknya? Atau bahkan Amat? Atau mungkin denganku di saat aku sedang tidur? Berapa kali kakakku pernah tidur dengan cowok? Atau sudah berapa banyak cowok yang pernah menidurinya? Atau mungkin ada salah satu di antara pembaca yang pernah berhubungan dengan kakakku? Berjuta-juta pertanyaan ada di benakku yang mana aku tidak tahu jawabannya. Mungkin malah aku tidak bakal pernah tahu jawabannya.

Barangkali lebih bijaksana kalau aku tidak perlu memikirkan itu semua. Lebih baik aku memulai petualanganku sendiri dengan cewek-cewek cantik dengan melakukan hal yang sama seperti yang Bagus lakukan terhadap kakakku. Syukur-syukur kalau aku dapat melakukannya dengan adik Bagus. Orangnya tak sebegitu cantik namun seksi sekali.

TAMAT

Oh kasihku

Aku seorang pemuda yang bercita-cita tinggi namaku paulus 24 tahun. Waktu itu aku masih kuliah di semester 2 ekonomi di sebuah perguruan tinggi swasta terkenal di kota ini. Aku tinggal di kota medan yang penuh dengan kesibukan orang yang bermacam-macam pekerjaan dari kerja kuli, pegawai, sampai pejabat pemerintahan. Aku tinggal di sebuah pondok yang hanya di tempati oleh seorang nenek dan cucunya yang manis, aku di situ mengontrak (kost) perbulan. Kisah ini aku angkat sekalian untuk mengenang kekasihku itu.

Awal kisah ini terjadi waktu aku jalan-jalan di sekitar tempat kostku. Aku berjalan tidak tentu arah karena masalah keuangan membuatku bingung untuk membayar uang kost. Karena aku masih mengharapkan kiriman uang dari orang tuaku yang tinggal di kota Palembang, kota tempatku di lahirkan. Aku terus berjalan tidak tentu arah, menundukkan kepala ke bawah sakin bingungnya hingga aku tidak melihat sekelilingku. Rasa bingung sempat tertunda sejenak karena rasa lelah berjalan seharian. Dan kisahku pun bermulai dari situ.

Karena rasa lelah, akupun mencari tempat duduk yang menurutku nyaman. "Hmm.. taman bunga," gumamku dalam hati melihat taman bunga yang ada di seberang jalan kota. Singkat cerita, aku menemukan tempat duduk yang biasa ada di taman pada umumnya, menghela napas dan menikmati tiupan angin sambil menghilangkan rasa lelahku. Belum sempat rasa lelahku kabur, dan di saat rasa bingung itu mulai menghantuiku kembali, aku mendengar teriakan seorang wanita yang kecopetan. Bertambah lagi suatu rasa dalam hatiku waktu itu. Dengan rasa kaget dan bingug karena terus terang, aku tidak tahan mendengar suara teriakan, apalagi teriakan seorang wanita, karena aku biasanya hanya suka mendengar suara desahan dari seorang wanita.. hehe. Dengan rasa yang bergelimang itu, akupun mulai mencari dari mana suara itu datangnya. Dan benar, aku melihat seorang gadis kira-kira berumur 20 tahun sedang histeris karena kecopetan. "Hmm .. lumayan juga ni cewek," sekilas terlintas di pikiranku. Sementara dia sendiri sedang panik sambil menunjuk seorang pria berlari menjauhi, yang pasti dia adalah pencopet itu. Ego kejantanan dan heroikku timbul, tanpa memikirkan lelah dan lain-lain, aku lari mengejar si pencopet. Lumayan lelah mengejar pencopet itu ditambah rasa lelahku tadi yang tidak sepenuhnya hilang, aku berhasil memojok kan si pencopet, itu juga karena dia sedang sial jalannya buntu terhalang tembok.

"Hehe.. pencopet baru dan ngga kenal lokasi ni orang," pikirku dalam hati sambil mendekati.
"Ayoo.. mau lari kemana kau!?" gertakku membuat dia panik.
"Mau apa kau?" katanya balik bertanya.
"Ehh.. kembalikan itu dompet yang kau copet!" bentakku lagi.
Mungkin karena memang bandel, dia balik bertanya "Lah, kau siapa?" tidak kalah keras suaranya sambil mengucapkan kata-kata kotor.
"Hahaha.." aku tertawa sok jagoan.
"Kembalikan tidak dompet itu!" ancamku mulai tidak sabar.
"Enak aja kau bilang kembalikan," katanya sambil mengeluarkan pisau dari balik bajunya.

Aku kaget dan aku mundur 2 langkah ke belakang, "Oic," kataku tenang sambil senyum aku dan memperhatikan tingkahnya. Singkat cerita, kamipun terlibat duel. Dia menyerang dengan ganas, sedangkan aku berusaha terus menghindar untuk membuat dia lelah. Dengan bermodalkan ilmu silat yang aku pelajari waktu di kampung kelahiranku, akupun berhasil membuat si pencopet pingsan tak sadarkan diri. Aku mengambil dompet yang ada di kantongnya. Aku cari wanita tadi bermaksud mengembalikan dompetnya. Wanita itu senang karena dompetnya telah kembali. Dia ulurkan tangannya mengambil dompetnya yang di copet tadi, dan Dia tertegun menatap aku, aku jadi salah tingkah, dan Dia mengucapkan terimakasih. Dia membuka dompetnya dan mengambil uang Rp50.000 untuk diberikan kepadaku sebagai tanda terimakasih, aku menatapnya tidak berkedip sampai Dia heran.
"Maaf mbak, bukannya aku menolak pemberian mbak, tapi aku tidak bisa menerima karena aku tadi ihklas kok membantu," kataku.
Dari sorotan matanya nampak Dia kecewa sekali karena kutolak pemberiannya. Kemudian Dia mengulurkan tangannya sambil memperkenalkan dirinya.
"Saya Wati.." dengan mengulurkan tangannya, lalu aku sambut uluran tangannya dan memperkenal kan diriku.

Dia memberikan kartu namanya kepadaku dan aku menerimanya.
"Bang.. ini kartu namaku kalau Abang ada perlu, ada apa-apa, kalau bisa aku bantu datanglah," pintanya.
"Hmm.. iya," kataku.
Tetapi tiba-tiba Dia memasukkan uang Rp 50.000 ke saku bajuku, aku terkejut.
"Mbak Wati.." aku gagap jadinya, mau bilang apa, tiba-tiba saja Dia pergi dan menuju sebuah mobil sedan.
Kalau tidak salah mobilnya Genio merah, karena aku melihat dari kejauhan saja dan Dia menjalankan mobilnya melaju, menghilang di tikungan jalan. Aku menarik napas panjang, "Hupp.. huhh.." suara napasku. Lalu aku melihat sekelilingku dan melihat orang-orang memperhatikan aku dengan heran, lalu aku melihat jam tanganku telah pukul 3 sore. Aku bergesan meninggalkan tempat itu sambil melihat kartu nama yang dia berikan kepadaku. Aku baca nama dan alamatnya dan aku ambil uang pemberiannya tadi.
Di dalam hatiku, "Hmm.. lumayan bisa bayar uang kost," lalu aku pulang kembali ke tempat kostku.

Itu awal aku bertemu dengan dirinya. Pertemuan kedua terjadi di kampus, aku melihat Dia berjalan dengan temanya. Aku heran ternyata Dia satu kampus denganku. Selidik punya selidik aku mengetahui dari temanku bahwa Dia anak fakultas sastra, lalu kuberanikan diri untuk menjumpainya tapi ada rasa ragu dan bimbang. Karena sudah niat, aku terus berjalan menuju ruang fakultas sastra, sebelum sampai pintu aku terkejut, Dia keluar dari ruang itu dan aku terkejut mau mengelak tidak sempat lagi.
"Heii.." katanya.
"Heii juga," balasku.
"Abang kok disini?" tanyanya.
Dan akupun tersenyum, "Iya.." jawabku singkat.
"Ngapain abang disini?"
Aku jawab, "Aku kuliah disini mbak."
"Hah?" Dia heran.
"Jadi abang kuliah disini yah?"
Aku hanya bisa senyum saja melihat Dia heran.
"Abang di fakultas apa?"
"Aku di ekonomi."
Lalu kami bercanda tentang kuliah dan Dia mengajak aku ke kantin untuk minum dan sekalian curhat. Setelah di kantin kami bicara tidak tentu arah dan Dia bilang, "Bang.. jangan panggil mbak.." pintanya.
"Kenapa?" kataku.
"Malukan.. aku kan belum tua,"
Aku hanya tersenyum saja. Dia tersenyum dan manis sekali.
"Panggil aja wati, bang, Oke..?"
Lalu aku jawab, "Oke."
Disinilah awal butir-butir cinta bersemi. Kami saling bertemu dan selalu bercanda, tertawa gembira dan saling terbuka.

Suatu hari, Dia ungkapkan isi hatinya kepadaku bahwa Dia suka kepadaku, dan aku pun membalas cintanya juga. Hari demi hari kami lalui hingga pada hari libur kuliah. Kami jalan-jalan menggunakan Genio merahnya. Aku yang mengendarai mobilnya. Dalam perjalan, kami mesra, di sandarkan kepalanya di bahuku, aku belai rambutnya dengan tangan kiriku. Dia makin mesra dan Dia mencium bibirku. Aku balas ciuman bibirnya. Udara dingin yang keluar dai AC mobil terasa panas rasanya karena kami sudah HOT. Aku dekap kepalanya, aku remas dada yang terbungkus Bra, dan Dia menikmati remasan tanganku.

Kami sampai di puncak, yaitu di sebuah kawasan wisata terkenal di Medan, namanya Brastagi yang berhawa dingin dan sejuk. Karena kami sudah HOT, Dia berbisik ketelingaku, "Bang.. kita nginap aja yah?" pintanya.
"Di mana?" kataku heran.
"Di Hotel aja."

Aku tidak tahu Hotel apa yang di maksudkan, aku hanya menurut saja. Dia yang membawa jalan.
"Terus aja Bang, nanti sampai di tikungan belok kanan Bang." pintanya.
Aku lihat memang di sebelah kanan ada Hotel yang megah. Dia menyuruh belok. Maklumlah, aku baru dua kali ke daerah yang kami tuju. Waktu itu aku bersama temanku mendaki gunung yang namanya gunung Sibayak. Aku belokkan mobil, aku cari tempat parkir yang aman, kami turun dan masuk ke Hotel itu. Kalau tidak salah, Hotel itu namanya Hotel Sibayak karena jelas terpampang papan nama Hotel itu. Setelah kami masuk dan pesan kamar, kami diantar room-man. Karena bangkit lagi napsu yang tertunda itu, begitu masuk kamar, aku kunci pintu. Kudekap dan kupeluk Dia. Kami berciuman dan berguman di ranjang.

"Hemm.. ouuhh.." desisnya, dan aku buka perlahan-lahan baju serta BH-nya hingga polos.
Aku kulum dan kuremas buah dadanya yang lumayan gede dengan pucuk yang berwarna merah muda, terus aku kulum kiri dan kanan.
Dia berdesis seperti ular, "Uhh.. ahh.. ouuhh.."
Dari lehernya, aku jilatin, terus turun ke perut dan makin ke bawah perlahan-lahan. Aku buka celana jeans yang dia pakai hingga lepas dan aku lihat Dia memakai celana dalam berwarna putih. Perlahan-lahan, aku buka hingga terpampang di depanku sebuah bukit yang di tumbuhi hutan yang begitu lebat. Aku sibak hutan itu, kuciumi dan kujilat.
"Ouuhh.. ahh.. yahh.. ouugg.." desisnya.
Aku semakin nafsu dan aku buka baju serta celanaku sehingga kami sama-sama bugil.

Batang kejantananku yang sudah dari tadi tegang makin keras tegangnya ingin mencari sasaran. Dan kujilat lubang surganya dan kelentitnya yang timbul dengan tiba-tiba akibat napsunya makin memuncak.
"Ahh.. ouugg.. ahh.. yaahh.." desisnya terus.
Aku jilat terus kelentitnya.
"Bangg.. akuu.. gak.. tahann.. mauu.."
Dia mencapai klimaks, aku jilat terus. Terasa asin air yang keluar dari lubang surganya. Aku buka pahanya lebar-lebar dan perlahan-lahan aku bimbing batang kejantananku ke lubang surganya. Kuarahkan pas di lubang surganya, aku dorong perlahan-lahan.
Dia kesakitan, "Aduhh.. bangg sakit.."
Aku berhenti sejenak karena Dia kesakitan. Kuulangi lagi doronganku dengan perlahan dan pasti.

"Slupp.." sempit sekali lubang surganya hingga batang kejantananku tidak bisa masuk. Aku dorong kedua kalinya, "Slupp.." hanya ujung kepala batang kejantananku saja yang masuk. Aku dorong terus tapi kali ini lebih kuat.
"Slupp.. slupp.. bluss..plopp.." masuk batang kejantananku semua ke lubang surganya.
Aku melihat darah keluar dari lubang surganya. Ternyata Dia masih "virgin" (perawan).
Dia kesakitan, "Aduhh.. bangg.. sakitt.. bangg.."
Aku diamkan sejenak batang kejantananku di dalam lubang surganya dan aku kulum buah dadanya yang menjulang karena nafsunya. Aku maju-mundurkan lagi batang kejantananku perlahan-lahan aku mendengar Dia mengaduh lagi, "sakit bang.. pedih.. tapi enak bang.." gumannya.
Terus aku maju-mundurkan batang kejantananku.
"Auoo..ahh.. yahh.. aoouupp.. yaa.. terus bang.. enak bangg.. yahh.." Dia klimaks kedua kalinya.
Aku terus menyodok lubang surganya maju mundur.
"Ohyahh.. ouhh.. yahh.." desisnya.
Seperti ada yang meyedot batang kejantananku dari dalam lubang surganya. Aku makin cepat menyetubuhinya, hingga ada yang mengalir di dalam batang kejantananku sampai ke ujung batang kejantananku. Aku dorong terus.
"Yahh.. aouuhh.. yaa.." desisku, karena tiba-tiba alirannya semakin kuat naik ke kepala batang kejantananku, aku pacu terus.
"Yahh.. aouuhh.. yess.. ouugg.. yahh.. aku mauu.." tak sempat kulanjuti lagi kata-kataku, tiba-tiba, "Croott.. croott.. croott.." maniku keluar banyak, aku tembakkan di dalam lubang surganya.
Dia berdesis, "Ouhh.. yahh.. uugghh.. ouhh..," ternyata Dia mau klimaks lagi.
Dan Dia pegang erat leherku, Dia mencengkram erat sekali sampai ada bekas kukunya di leherku.
"Yahh.. ouhh.. ya.. yaee.. yaa.." Dia klimaks lagi ketiga kalinya.

Kubiarkan batang kejantananku di dalam lubang surganya. Aku berbaring di atas tubuhnya sejenak. Karena kelelahan, kami istrahat sejenak. Aku kecup kening dan bibirnya dan aku balikkan badannya sehingga Dia ada di atas dadaku dan batang kejantananku tidak aku cabut dari lubang surganya. Kami tertidur karena lama kami bergelut, kira-kira 2 jam lamanya sampai jam 3 pagi. Aku terbangun dan tiba-tiba batang kejantananku bangkit kembali. Aku balikkan tubuhnya tepat di bawah aku. Aku sodok lagi lubang surganya. Dia terbangun dan aku sodok terus lubang surganya.
"Slupp.. slup.. slupp.."
Tidak lama, "Ouuhh.. yahh.. croott..croott..crott," maniku keluar lagi, aku lemas dan tertidur di sebelahnya sapai pagi.

Aku terbangun pada jam 9 pagi. Aku bangunkan Dia dan kami mandi bersama. Kami melakukan lagi di kamar mandi sampai puas. Setelah itu kami bersiap-siapa untuk keluar dari hotel itu dan kami bayar uang sewa hotel.

Kami jalan-jalan di sekitar daerah kota Brastagi. Kami sampai di daerah yang belum pernah aku kesana, kalau tidak salah namanya Kaban jahe. Kami keliling-keling kota dan kami pulang ke Medan. Kami terus bermesraan, Dia merangkulkan tanganya di leherku, dia cium mesra bibirku sampai aku tidak bisa bernafas. Tiba-tiba di depan ada mobil yang berlawanan arah mau nabrak mobil kami. Aku banting setir ke kiri sehingga kami selamat dari maut. Setelah itu Dia tidak berani menciumi aku lagi karena takut. Kemudian kami berhenti di daerah yang kalau tidak salah namanya Penatapan. Orang-orang di daerah sana meyebutnya begitu karena banyak orang di sana melihat-lihat. Setelah kami puas melihat-lihat kami melanjutkan perjalan kembali ke Medan dan mobil kami terus meluncur mulus sampai di Medan.

Aku berhentikan mobil kami di depan tempat kostku. Aku membawa Dia masuk ke dalam dan aku perkenalkan kepada nenek serta cucu pemilik kost. Mereka menyambut dengan ramah. Aku membawa masuk ke kamar kost aku yang berukuran 3x4 luasnya. Aku kunci pintu kamar. Aku peluk Dia, kucium, dan kuremas dadanya yang menantang.
Dia membalas dengan desis suara nafsunya, "Aouuhh..ahh..," kami bergumul selama 20 menit.
Kubuka semua pakainya, Dia juga membuka pakainku hingga kami sama-sama polos. Batang kejantananku yang sudah tegang dari tadi kuarahkan ke lubang surganya yang masih sempit, maklum karena baru hilang perawanya.
Aku arahkan batang kejantananku tepat di lubang surganya, "Slupp.. slerr.. slupp.. blees.." masuk sudah batang kejantananku. Aku sodok terus.
Dia berdesis lagi, "Aouhh.. yahh.."
Karena aku takut terdengar sama nenek dan cucu yang punya rumah, aku sumbat mulutnya pakai mulutku hingga Dia tidak bisa bersuara. Terus aku sodok lubang surganya, "Auohh.. ahh.. ahh.. Bangg.. aku mau keluar nih.."
Aku pacu terus sampai Dia klimaks, "Serr.." Dia kelimax terasa di kepala batang kejantananku. Aku masuki terus lubang surganya tampa henti sampai klimaks.
"Aouh.. yaa.. ouh.." suara desisan nafsuku.
Aku pacu terus batang kejantananku sampai, "Croott..croott.." Aku keluarkan maniku di dalam lubang surganya.
Kami sama-sama puas dan tertidur sejenak Kemudian aku berbenah diri, Dia juga. Aku antar Dia pulang kerumahnya dan aku kembali ke tempat kostku.

Hatiku gembira dan senang dapat kekasih yang selama ini aku dambakan. Hari-hari aku lalui hingga aku menamatkan kuliah ke meja hijau. Aku mendapat nilai 'A'.

Aku dapat kabar bahwa kekasihku telah menikah dengan orang lain karena di paksa kawin oleh orang tuanya. Dia tidak memberi kabar kepadaku. Aku mendengar dari teman-temanku kalau Dia sangat malu padaku sehingga Dia tidak memberi kabar apapun padaku. Dia hanya memberikan sebuah bingkisan dalam kotak yang ternyata sebuah kenang-kenang. Sebuah jam yang indah berukir emas dan sapu tangan putih serta alamat Dia sekarang. Aku kecewa, tapi apa boleh buat, karena bukan jodoh. Aku memutuskan pulang ke kampung. Kini hanya tinggal kenangan yang kubawa. Oh.. kasihku betapa sedih hati ini, begitu tega engkau hingga tidak sempat memberikan kabar apa pun padaku. Biarlah cintamu aku pendam selamanya dan akan kukenang selamanya. Hanya Doa dan kata-kata saja yang dapat aku panjatkan kepadamu.

TAMAT

My first sex life - 1

Aku ucapkan terima kasih kepada Rumah Seks yang telah mau memuat cerita kehidupan sex ku, yang dimana Rumah Seks sudah aku kenal lama dan baru kali ini aku dapat menceritakannya. Nama, alamat dalam cerita ini telah aku samarin, supaya menjaga privasi dari para pelaku yang ada dalam cerita ini.

*****

Cerita ini bermula ketika aku berumur 21 tahun, oh ya namaku Andre dengan ciri-ciri fisik, tinggiku 169 cm dan beratku 65 kg. Aku keturunan chinese dan belanda. Sekarang umurku 25 tahun.

Waktu itu aku mau berenang dengan temanku di Water Park Kenjeran (masih baru buka, jadi masih bersih). Kita berlima berangkat pakai mobilku, setiba di sana kita langsung ganti pakaian dan senam-senam dikit biar enggak kram. Setelah itu kita langsung berenang dan lomba kecepatan, tiba-tiba aku kaget banget sewaktu lomba secara enggak sengaja aku menyenggol orang dan kontan saja aku berhenti lalu minta maaf. Tetapi waktu aku sadar ternyata yang aku senggol ternyata cewek cakep dan seksi pula.

Usut punya usut akhirnya aku kenalan dengan cewek itu dan namanya Siska, teman-temanku yang tahu kalau aku lagi ngobrol dengan siska, langsung saja datang ke tempat aku dan siska ngobrol. Dan mereka minta dikenalin dengan siska. Tapi yang mengejutkan ternyata siska enggak mau kenalan dengan teman-temanku ( dalam batinku berkata "Kaciaan deh lu").

Ciri-ciri siska membuat semua mata laki-laki pasti tertuju dengan dia, gimana nggak pakaian renang yang dipakai bikin jakun pria pasti naik turun. Siska pakai pakaian renang model ikat leher, terus bhnya hanya menutupi pentil serta lingkaran disekitar pentilnya. Sedangkan celana renangnya model "One Slice Cut", gimana enggak bikin kontol cowok jadi ngaceng melihat pemandangan bukit gundul dan menggunung. Setelah lama berenang dengan siska, akhirnya aku tukeran no HP dengan siska.

Besoknya aku telpon siska dan ngajak dia jalan-jalan, siska setuju dengan ajakanku. Dan aku janjian dengan dia jam 4 sore untuk jemput dia dirumahnya didaerah Dharmawangsa. Jam 3 aku sudah siap-siap untuk jemput siska, setiba dirumahnya aku langsung telpon hpnya dan ia bilang akan segera turun, sedangkan aku disuruh masuk dulu. Enggak seberapa lama aku melihat siska turun dan langsung aku bengong melihat dandanannya yang membuat kontolku menjadi berdiri. Pakaiannya putih tipis model turtle neck dan dipadu dengan rok mini (mini sekali) warna putih, sehingga aku bisa melihat celana dalam serta bhnya dia pakai. Oh ya ukuran bhnya adalah 36b, tinggi 165 dan siska memiliki kaki yang panjang (kata orang, kalau kakinya panjang nafsu sexnya tinggi). Akhirnya kita masuk mobilku dan langsung aku tanya.

"Mau jalan kemana"
"Terserah kamu Dre.. Yang penting kita seneng," kata siska.
"Gimana kalau ke Tretes?" kataku.
"Enak juga, boleh deh," kata siska.

Langsung saja aku tancap gas dan masuk tol jurusan Malang. Selama perjalanan kita bercanda dari yang ringan sampai yang berbau sex, ternyata dia suka banget kalau ngomongin yang berbau sex.

"Hehehehe bisa ni anak aku pakai" dalam hati aku berkata.

Dalam perjalanan Siska sudah mulai berani cubit-cubit pahaku dan puting susuku, terus aku bilang.

"Wah curang masak aku dicubitin melulu, mentang-mentang aku lagi nyetir," kataku.
"Kalau mau bales siapa takut, palingan enggak berani"kata siska menantang aku.

Langsung saja aku cubit pentil susunya yang masih terbungkus BH berwarna hitam dan berenda. Begitu aku cubit, ternyata siska tidak ada penolakan dan langsung saja aku mencoba untuk meraba pahanya yang keliatan putih mulus, karena roknya yang super mini. Sewaktu aku meraba pahanya, ternyata siska langsung mendesah "Aah.. Ssh", dalam hatiku wah siska sudah horny.

Ternyata siska cukup berani, dia langsungnya meraba kontolku yang masih terbungkus celana jeans dan CD. Enggak lama dia meraba, langsung celana jeansku dibuka dan ditariknya CD ku sampai sebatas paha. Begitu tangannya menemukan kontolku, dia langsung mengelus-elus dengan lembutnya.

"Oogh.. Enak Sis, lebih enak lagi kalau pakai mulut kamu Sis, mau enggak?" kataku.

Siska diam saja dan hanya menganggukkan kepala sebagai tanda mengiyakan, Siska kemudian tiduran di pahaku dan langsung memasukkan kontolku ke dalam mulutnya. Gerakan lidahnya cukup lincah dan mahir dalam memanjakan kontolku, sampai buah zakarku pun dia emut dengan lembutnya, seperti sedang makan pentol bakso dengan saos ABC (hehehe). Kegiatan siska membuat aku hampir kewalahan, lalu aku menyuruh dia untuk menaikkan kakinya sehingga aku dapat meraba tempiknya, siska pun menuruti dan tanpa dikomando dia mengkangkangan kakinya selebar-lebarnya. Begitu indah pemandangan yang aku lihat, CD model G-string yang dipakai membuat aku semakin horny.

Tanganku ternyata enggak mau ketinggalan, langsung saja tanganku mengelus-elus gundukan yang merekah itu. Klitorisnya yang sudah tegang tak lupa aku raba dan aku jepit dengan dengan 2 jariku, kontan siska berteriak.

"Aah.. Dre terus puter yang kenceng, puaskan aku Dre.."

Kemudian aku masukkan jari tengahku ke dalam tempeknya, yang ternyata sudah basah kuyup oleh cairannya sendiri, terus aku keluar masukkan dan sekarang 2 jari yang masuk, dan siska semakin meracau tidak karuan.

"Dre.. Yang kenceng sayang, masukkan sampai njedokk aahh.. Ohh god"

Untung saja jalan di tol arah ke Malang enggak macet sehingga aku enggak perlu bingung untuk gonta-ganti perseneling mobilku. Kuluman siska tidak mau kalah, kontolku sudah mengkilat oleh ludahnya serta cairan kontolku, secara otomatis bunyi kulumannya membuat aku hampir keluar.

"Slurrp.. Slurrp cepok.. Cepok.., enak banget kontolmu Dre kayak pisang raja nangka" kata siska, memang sih bentuk kontolku agak melengkung seperti pisang dengan panjang sekitar 16 cm dengan diameter 3 cm (kira-kira).

Sedangkan tanganku terus mengocok tempeknya, dan 2 menit kemudian tempeknya menjepit 2 jariku dan badannya mengejang dengan kencang, membuat mobilku agak sedikit oleng, untung jalan tol enggak terlalu ramai. Siska menjerit.

"Dre.. Aku keluaar.. Aah.. Aah.. Uuuh"

Jepitan tempeknya kenceng banget dan cairannya keluar, dan langsung aku seka dengan tanganku dan tubuh siska lemas setelah 3 menitan dia mengejang. Sisa cairan yang menetes keluar langsung aku masukkan kemulutnya dan ia membersihkan semuanya dengan lahap dan sampai bersih. Kemudian siska berkata.

"Andre sayang.. Makasih ya.. Enak banget kocokan jarimu di tempekku, jarang aku bisa keluar kalau dengan jari saja, biasanya aku pakai kontol-kontolan baru bisa keluar"
"Sekarang aku yang puasin kamu ya.." kata siska.

Siska langsung memegang kontolku dan dikulumnya kontolku dengan ganas, beda dengan tadi yang lemah lembut.

Aku mendesah, "Sis.. Enak sayang, aah.."

Kontolku yang dari tadi sudah tegak berdiri, mendapat serangan beruntun dari mulut siska membuat aku kewalahan, dan langsung aku minggirkan mobilku ke bahu jalan dan aku menyalakan lampu hassard. Begitu mobilku sudah di bahu jalan, langsung saja kursiku aku mundurkan dan aku tidurkan, biar posisinya lebih enak. Siska mengerti kondisiku yang sudah hampir sampai puncaknya, maka semakin dikencangkannya kulumannya ke kontolku.

Bunyi "Ceplok-ceplok, Slurrp.. Slurrp" dari gerakan siska membuat aku kewalahan. 2 menit kemudian aku mengerang.

"Siiss, aah.. Eh. Eh.. Ak.. Kelua.. R"

Spermaku langsung ditelan habis dengan siska, kepala kontolku dijilatin terus oleh siska, membuat aku kegelian tidak karuan dan aku menyuruh Siska.

"Stop Sis, stop Sis geli banget"
Kemudian siska tertawa, "Hahahaha tapi enakkan"
"Ya enak, tapi nanti saja enaknya dilanjut" kataku sambil mengedipkan mata.
"Ye, ya harus dilanjutin kalau enggak aku bisa marah dengan kamu sayang.." kata siska, sambil mencium pipiku.

Tak terasa aku sudah mau keluar tol arah Malang, kemudian aku lihat jam sudah 5.30.

"Gila 1 jam setengah, biasanya cuman 3/4 jam," kataku ke Siska.
"Kan kita ada perjalanan tambahan.. Hihi" kata siska, sambil membersihkan mulutnya yang belepotan dengan cairannya sendiri sama spermaku serta membetulkan rok serta pakaiannya yang awut-awutan akibat "perjalanan tambahan" tadi.

Pintu tol keluar jurusan Malang sudah di depan mata, kemudian aku membayar 400 ribu. Setelah keluar pintu tol, kita bercanda-canda lagi dan kita semakin mesra saja. Sesampai di Tretes, seperti biasa orang-orang pada nawarin villa "Villa villa, villa Mas". Sebenarnya aku punya villa di daerah tretes, cuman aku enggak mau ke sana entar ketahuan penjaga villaku dan cerita dengan ortu ku kalau aku bawa cewek ke villa, bisa runyam enggak karuan.

Setelah kita sudah dapat villa 1 rumah (plus ruang tamu dan halaman bermain), kita langsung duduk-duduk di bungalow sambil nikmatin pemandangan. Siska aku pangku dan dia duduk membelakangi aku, sambil bercanda dan cubit-cubitan membuat kontolku berdiri lagi, karena gesekan antara pantatnya dengan kontolku. Siska terasa sekali kalau ada perubahan pada kontolku, kemudian dia berbalik dan berbisik dengan aku.

"Gimana kalau main lagi, soalnya aku juga sudah ingin ngerasain kontolmu kalau masuk ke tempek ku"

Langsung saja aku gendong dia di belakang punggungku dan dia pun bergelayutan layaknya orang yang sedang honey moon. Selama aku gendong dia ke dalam villa, siska menjilati leher dan belakang telingaku hingga aku kegelian dan terangsang berat. Lalu aku bilang.

"Awas ya nanti kalau sudah di dalam, aku bikin kamu sampai minta ampun-minta ampun"
"Hehehheheh, macak cih takuut" katanya.


Bersambung . . . . .

My first sex life - 2

Setelah masuk ruang tamu, langsung aku jatuhkan Siska di sofa dan langsung aku serang dia. Aku cium bibirnya dan dia membalas dengan ganasnya, lidah kami saling berbelit dan menimbulkan suara menambah terangsangnya kita berdua. Siska mulai mendesah akibat rangsangan yang diterimanya.

"Aahh.. Dre slurrp.. Slurrp"

Kemudian ciumanku beralih ke lehernya dan terus ke belakang telingganya dan terakhir berhenti di lubang telinganya, dan ternyata Siska menyukai apa yang aku lakukan. Terbukti nafas Siska mulai tidak beraturan dan meracau.

"Say.. Lidahmu kerasa enak banget.. Aah.. Shh.. Shh.."

Tangan Siska tidak tinggal diam, langsung menyerang ke kontolku dan mengelus-elus dibalik celana jeansku. Sedangkan tanganku membuka bajunya dan bhnya, maka tampaklah susu 36b dengan puting merah merekah dengan lingkaran puting yang tidak terlalu besar. Langsung saja aku menjilat puting susu sebelah kanan secara lembut dan aku berikan gigitan ringan pada putingnya.

"Aah.. Aahh.. Say kamu nakal, masak kamu nenennya kayak gitu?" kata Siska memohon ke aku.

Sedangkan susu yang sebelah kiri aku remas pelan-pelan dengan tangan kiriku. Susu Siska kenyal dan padat membuat aku suka untuk berlama-lama di susunya. Kemudian gantian susu yang sebelah kiri aku manjakan dengan lidahku dan yang sebelah kanan aku remas-remas dengan lembut.

Siska kemudian membuka celana jeansku dan langsung memeloroti cdku dengan ganasnya, lalu Siska minta untuk bermain 69, tetapi aku enggak menghiraukan permintaannya, yang kemudian aku lanjutin jilatanku turun kebawah sambil membuka roknya yang super mini.

Setelah roknya aku buka tampak G-String hitam dengan renda dipinggirannya membuat aku semakin horny. Bau tempek khas wanita tercium olehku, tapi bau tempek Siska bercampur seperti bau buah strawbery. Aku sempat bengong dengan keindahan yang aku lihat. Siska berkata.

"Kok dilihat saja sih, ayo aku sudah enggak tahan nih.." dengan berkatanya Siska, langsung aku jilatin disekitar selangkangannya sampai benar-benar basah oleh air liurku.
Kemudian Siska memohon, "Say.., ayo masukkan saja kontolmu aku sudah enggak tahan ini" tetapi aku tetap tidak menghiraukan omongannya.

Lidahku kemudian mulai menjilati labia mayoranya, pelan kemudian aku tarik hingga bunyi slurrp..

"Aah.. Shhs.. Sshhs.." desahan Siska akibat perbuatanku.

Perhatianku kini tertuju pada klitorisnya yang sudah menonjol besar, langsung aku jilat pelan-pelan dan agak kusentil-sentil klitorisnya.

"Say, enaak.. Terus.. Lebih Ken.. Ceng lag aah.. Aah."

Siska memohon ke aku sambil tangannya menekan kepalaku sudah lebih menempel pada tempeknya. Tapi aku tetap menahan kepalaku, biar sensasinya semakin membuat Siska mengawang-awang. Kemudian lidahku mulai menusuk-nusuk tempeknya sambil tanganku memainkan klitorisnya, dan enggak lama Siska mengejang sambil berteriak.

"Say.. Ak.. Keluar.. Aah.. Sshsh.. Oohhohh.. Kaa.. Mu naakkal"

Cairan yang keluar banyak banget sampai meleleh keluar dan langsung aku jilat habis semuanya. Belum sempat Siska beristirahat langsung aku tusuk-tusuk lagi tempeknya dan aku sentil-sentil klitorisnya dengan tanganku, sampai Siska memohon.

"Ampun say.. Ak.. Istrirahat dulu.. Lemes aah.. Aah.. Badanku"

Tetap aku tidak menghiraukan permohonannya, aku jilat tempeknya hingga batas lubang anusnya, sedangkan tanganku meremas-remas susunya. Hal ini membuat Siska ON lagi dan langsung berontak dan tangannya memegang kontolku dan memasukkan ke mulutnya, mengerti akan keinginannya maka posisiku aku ubah menjadi 69. Siska di bawah dan aku di atas. Lama style ini kami pakai, lalu aku mulai ambil inisiatif untuk memulai permainan ini.

Aku suruh Siska terlentang dan secara otomatis Siska mengkangkangkan kedua kakinya selebar-lebarnya, dan tampak tempek Siska yang sudah merah merekah serta basah oleh cairanya sendiri dan air liurku. Langsung dengan pelan-pelan aku masukkan kontolku dan ternyata tidak mengalami kesulitan, dengan perlahan aku maju-mundurkan kontolku dan diimbangi oleh Siska yang menggoyang pantatnya kekanan dan kekiri. Gerakan ini kita lakukan semakin lama semakin cepat.

"Say.. Ak.. u mau ke.. luaar.." kata Siska.

Aku mengetahui bahwa Siska mau sampai ke puncak klimaksnya, langsung aku keluarkan kontolku, kontan Siska langsung bengong dan cemberut.

"Kok dikeluarkan Dre..? Aku sudah mau keluar nih.." kata Siska.
"Sebentar.. Entar pasti lebih enak kok.." kataku.

Kemudian aku mengangkat kedua kakinya ke depan lalu menyilangkannya, setelah itu aku masukkan kontolku lagi dan..

"Say.., kontolmu nggaruk tempekku.. Enaak.. Men." Siska meracau.
"Aahh.. Sshshss.. Sis tempekmu benar-benar enaa.. kk" desahku mulai tidak karuan.

Walaupun villa kita udaranya benar-benar dingin, tetapi keringat kita semakin banyak dan saling bercampur, kemudian kaki Siska aku tahan dengan tubuhku dan tanganku meraba susunya yang bergoyang kanan-kiri seirama dengan gerakan tubuh Siska.

"Say.. Genjot yan.. g keraas.. Sampai men.. Tok" Siska semakin menjadi.
Kuremas-remas susu Siska dengan keras, "Aahh.. Say shshssh sakit tapi ennaak" kata Siska.
"Say.. Sayy.. Saay aak.. u keluuaar" jerit Siska dibarengi dengan menjepitnya tempeknya, membuat aku semakin kelojotan.
"Aahh.. Sis jepitan tempekmu enaak bangeet" kataku.

Jepitan tempek Siska tidak berhenti-henti sampai sekitar 2 menitan dan Siska langsung terkulai lemas. Karena aku belum keluar, langsung aku tarik Siska ke pingiran sofa dan aku suruh dia untuk menungging. Tapi Siska sudah lemas dan berkata.

"Say.. Aku nyerah seluruh tenagaku habis"

Enggak perduli akan keadaan Siska, maka aku pegangi tubuhnya supaya agak nungging dan kemudian aku masukkan kontolku yang masih menegang, Siska menjerit.

"Aah.. Say ampun-ampun kakiku sudah tidak kuat lagi".

Melihat hal itu aku jadi iba dan akhirnya aku duduk di sofa dan Siska aku pangku sambil memasukkan kontolku ke tempeknya. Ternyata style ini membuat Siska menjadi ON lagi dan langsung meggoyang dan memutar. Bunyi "cplok-cplok" antara pantat Siska dan kontolku semakin kencang membuat aku semakin terangsang. Putaran Siska membuat kontolku serasa di peras dan semakin terasa spermaku semakin menuju pada titiknya dan siap untuk disemburkan.

"Say.. Ak.. u mau keluar, keluarin dimana?" tanyaku.
"Di dalam saja, sebentar lagi aku juga keluaar.. Barengan ya" jawab Siska.

Tidak lama Siska mengejang sambil menjerit.

"Kelu.. aar aku say.. Aahaahh.. Shssh aahh"

Tak lama aku pun memuntahkan spermaku "Crot.. Crot.. Crott"

Saking banyaknya cairan Siska dan spermaku sampai keluar dari tempeknya Siska dan meleleh di lubang anus Siska dan ada yang jatuh ke sofa. Kami berdua pun langsung lemas dengan posisi aku memangku Siska, dan kami pun tertidur disofa dengan posisi bugil serta tidak memperhatikan keadaan sekitar.

Begitu hawa semakin dingin dan menusuk tulang, akupun terbangun begitupun juga dengan Siska dan kita langsung mandi air hangat. Malam itu kita main sampai 5 kali dan kita pulang pada hari esoknya pukul 10 pagi..

*****

Mungkin buat pembaca kisah nyataku kurang begitu menarik, apabila ada saran atau kritik untuk ceritaku silakan email aku. Masih banyak cerita kehidupan sexku, baik dengan anak SMA sampai dengan Tante girang pun aku pernah, nantikan kisahku selanjutnya.

Buat cewek-cewek, Tante-Tante yang mau kenalan, curhat, atau sekedar jalan-jalan (not for sex) silakan email aku, pasti akan aku bales.


Tamat

Kamis, 30 Desember 2010

Nafsu bukanlah cinta - 1

Tanggung jawabku sebagai seorang Shipping Manajer menyebabkan aku punya banyak relasi bisnis dari perusahaan perusahaan pelayaran maupun perusahaan angkutan lainnya. Namun ada satu rekanan bisnisku yang akan kuceritakan dalam kisah ini. Sebut saja Susi, begitu nama sales executive dari sebuah pelayaran di kota S, bertinggi badan kurang lebih 165 cm, dengan postur tubuh proporsional dan busung dada 36. Hidungnya mancung dan rambut hitam ikal sebahu. Perusahaannya memang bonafide, sehingga beberapa pekerjaan skala besar dapat terkirimkan dengan baik. Jujur saja dalam hati kecil ini juga kagum pada kecantikan Susi dan sebagai lelaki normal yach secara tak sengaja melihat sisi dalam pahanya saat disilangkan yang membuat seonggok daging kenyal disela-sela pahaku, "unjuk diri".

Sebagai relasi yang baik Susi terkadang mengajak lunch di luar ataupun hanya memberiku cindera mata atau selepas kerja kami nongkrong di kafe musik. Pada saat itulah Susi bertanya banyak tentang diriku dan kujawab semua dengan benar, aku memang suka berterus terang termasuk keadaan diriku yang sudah berkeluarga yang mempunyai seorang putra 2,5 tahun dan istriku sedang mengandung 8 bulan. Akhirnya aku pun tahu bahwa Susi adalah menjadi simpanan boss-nya bule asal Amerika yang bernama Richard, namun kini telah meninggalkan Indonesia karena sudah diganti oleh GM baru asal Indonesia. Mata Susi tampak menerawang jauh dan angannya terbang ke Amerika sana namun dia tersadar itu tak mungkin lagi menikmati kebersamaan mereka lagi.

Tepat liburan umum di bulan Januari lalu Susi meneleponku dan mengajak ke Batu, katanya sich dalam rangka merayakan ulang tahunnya yang ke-29 dan untuk menemaninya (biasanya Susi menghabiskan weekend di sana bersama Richard).

"Mas Sony mau nggak temenin aku ke Batu nanti di acara ultah-ku?" tanya Susi di telepon.
"Emang acaranya apaan?" selidikku.
"Ah.. udah dech pokoknya temenin aku yach, please.." rengeknya setegah memohon.
"Ini khan ultah-ku yang ke-29, please Mas Bram please.. kali ini saja!" pintanya.

Lelaki mana yang sanggup menolak kamu Sus, wajahmu yang cantik, bodi kamu punya, bibir tipis nan sensual waah segalanya deh, bathinku dalam hati. Aku tersadar saat Susi menyambung pembicaraannya lagi.
"Atau aku mesti bilang ke Mbak Santi istri Mas.." imbuhnya.
"Ngg.. nggak usah dech, oke.. oke.."
Buru-buru aku menyergahnya. Sabtu malam ini kami ngobrol berdua dengan istriku dan aku bohong padanya kalau aku besok malam harus menemani tamu Technical Advisor-ku dari Jepang termasuk mencarikan hiburan buat tamuku juga.

Sabtu pagi aku berpamitan pada istriku dan memacu Capella kesayanganku ke arah Malang, aku sendiri sekarang tinggal di Gresik. Namun sebelum itu aku menjemput Susi di rumah kontrakannya di kawasan Surabaya Barat. Selang lima menit aku pencet bel keluarlah Susi mengenakan stelan span deep marine dan atas you can see biru muda, sebuah pemandangan yang amat serasi dan indah.

Sepanjang perjalanan kami hanya ngobrol ringan soal pekerjaan dan kami bersenda gurau di antaranya. Aku tahu Susi adalah wanita yang amat kesepian, aku juga terkadang kasihan melihatnya. Meski dia sukses di kariernya tapi di lain pihak di juga butuh pendamping yang mengisi kekosongan jiwanya.

"Mas Sony, sebelumnya aku minta maaf kalo permintaanku kali ini menyita waktu untuk keluarga Mas," Susi mulai membuka pembicaraan.
"Aku sukses dalam berkarierku dan hidup mewah karena support besar company Mas Sony, khususnya Mas Pribadi dari Mas," kata Susi, (ini karena perusahaanku merupakan big customer bagi dia)."It's OK," jawabku.
"Mas Sony kali ini aku meminta kepada Mas, buatlah dua hari ini berarti buat kekosongan hidupku," pinta Susi.
"Hiburlah aku yang kesepian Mas," pinta Susi lagi.
Cihuy.. sorak aku dalam hati.

Setelah check in kami lantas menuju ke paviliun paling ujung yang mempunyai view sangat indah berpagar bukit dan taman anggrek nan segar dipandang mata. Hawa dingin ini membuatku sedikit malas untuk melakukan aktivitas dan kami menghabiskan kurang lebih satu setengah jam untuk ngobrol. Yach hitung-hitung sekaligus pendekatan kepada Susi karena selama ini hanya sebatas hubungan kerja atau formal bukan suasana privacy seperti saat ini.

Jam tiga sore badanku mulai gerah dan rasanya ingin mengajak Susi berenang di kolam air hangat di Hotel tersebut. Kami pun berenang bersama dan rasanya sungguh nikmat, hangat dan segar.
"Mas Sony masih kelihatan gagah yach," puji Susi saat aku istirahat sebentar dan duduk di tepian kolam.
"Ah Masak sich?" sahutku.
Sepintas aku menangkap gerakan bahwa matanya tertuju pada selangkanganku yang memang sudah hampir 1,5 bulan tidak pernah lagi bersarang. Meski lagi mengkerut akan tetapi dengan celana renang ketat ini pastilah menonjol testisku. Kulihat Susi sedikit menahan nafas karenanya.

Kami lantas berenang dan berenang lagi sampai badanku terasa sedikit capai. Aku lantas berhenti dan melilitkan handukku menuju ke kursi di pinggiran kolam, lalu kuteguk air mineral ukuran setengah liter itu sampai habis. Susi sendiri masih asyik berenang dan tak kusangka tubuhnya yang biasa dibalut jas kerjanya itu kelihatan ramping dan mulus sekali. Aku berdiri melakukan gerakan pelemasan kecilku sambil menikmati tubuh mulus Susi dan Susi semakin merasa aku perhatikan semakin terkesan dibuat-buat gerakannya memancing birahiku.

Aku kemudian rebahan kembali di kursi dam melemaskan ototku, Susi sebentar kemudian naik menyusulku mengambil tempat di sampingku.
"Sus.." panggilku yang aku buat-buat semesra mungkin.
"Hem.." sahut Susi yang ternyata masih menyedot orange juice dan bibirnya itu wah tidak dibayangkan dech kalau lagi menghisap punyaku ini.
Dan perlahan namun pasti penisku mengeras menyembul di bawah belitan handukku, lalu aku sedikit naikkan pinggulku agar Susi juga dapat menikmati apa yang ia inginkan sesaat lagi.
"Ada apa Mas..?" tanya Susi sedikit serius namun matanya melirik ke arah penisku yang sudah setengah mengeras.
"Enggak, cuman aku melihat hari ini kamu lebih seksi," rayuku.
"Emm.. gimana yach kalo si kekar dan si seksi bersatu yach.." tanya Susi mengerlingkan mata kirinya.
"Pengin tau jawabnya? Hayo kita ke markas," ajakku seraya membimbingnya berdiri.

Kami lantas berjalan bergandengan menuju paviliun kami menginap.
"Emh belum-belum khok udah loyo," ejekku kepada Susi dan berlari kecil meninggalkannya.
"Eh sialaan.." teriak Susi lalu mengejarku yang berlari ke arah Paviliun itu.
"Mas Sony, gandeng doong.." rengek Susi manja disela-sela nafasnya yang terengah-engah.
Kami pun bergandengan mesra bak orang pacaran dan semua terjadi spontan. Aku tak ingat lagi istri dan anakku di rumah saat ini, yang kuinginkan hanyalah kenikmatan dan kehangatan tubuh Susi untuk melampiaskan libidoku.

Kami memasuki paviliun itu dan duduk di sofa besar menghadap ke arah bukit indah. Matahari serasa mengintip kami dari balik bukit itu dan enggan menutup tirai hari ini dan dilain pihak kami sudah ingin segera menikmati malam indah nanti. Kami duduk berdampingan menikmati alunan musik lembut dan pemandangan yang mempesona di bukit sana.
"Lis, aku sebenarnya.. sedikit.. emmhh.." kataku ragu.
"Mas Sony, aku adalah wanita normal dan punya hasrat seks akan tetapi Mas Sony jangan khawatir padaku, aku nggak bakal minta macam-macam dari Mas Sony dan kita hanya bersenang-senang saja, just fun," kata Susi semakin memantapkan rasa hatiku.
"Lagian nggak mungkin karena aku tahu Mas Sony punya keluarga yang bahagia," imbuh Susi.
"Bukankah istri Mas juga tidak boleh melayani lagi karena bahaya bagi usia kandungannya," bela Susi seraya melingkarkan kedua lengan rampingnya ke leherku.

Aku kemudian mendekap Susi, terasa hangat dan lembut tubuh indah ini lalu kudekatkan wajahku ke arah wajahnya. Kami bertatapan cukup lama dan penuh arti, kulihat dari tatapan matanya Susi sudah betul-betul horny demikian pula aku yang sudah 2 bulan lalu tidak mengasah batang pejal kebangganku. Sekejap bibir kami mulai menyatu dalam alunan kemesraan berselimut hasrat bergelora. Ujung lidah kami bergantian menggelitik rongga mulut kami masing-masing.
"Mass.. oohh puaskan aku yach sayang," rengek Susi di sela-sela desah nafasnya yang memburu deras.
"Segera sayang, saatnya sebentar lagi tiba. Aku akan membawamu ke langit tujuh," bisikku sambil melepas satu persatu kain di tubuhnya.

Udara dingin yang bersentuhan langsung dengan pori-pori Susi menambah sensasi dan rindu akan sentuhan dan juga rabaan-rabaan maupun jilatan sekujur tubuhnya. Kali ini aku akan memperlakukannya bak seorang putri maka akan berbahagialah Susi dalam dua hari ini. Setelah memakaikan dia sleeping jas, aku kemudian mengajaknya berdiri di dekat jendela menikmati senja nan indah dan syahdu ini, aku mendekapnya dari belakang dan belakang telinganya mulai kusentuh dengan ujung lidahku.

"Mass.. oogghh.." Susi hanya bisa mendesah dan mengesek kedua pahanya.
"Sudah Berapa lama Say.." bisikku di sela-sela permainanku di belakang telinga dan tengkuknya.
"Tiga bull.. aa.. aahh.. gellii," pekik Susi sambil membalikkan tubuhnya menghadapku.
Wajah penuh gairah itu mendongak ke arahku dan kulumat bibirnya sementara tanganku mulai menanggalkan semua yaang tersisa di tubuhnya.
"Masshh.. oogghh.. mmpphh," Susi menceracau sambil melucuti pakaianku.
Kami sudah telanjang bulat bersama sambil berdansa seirama alunan musik hotel, tubuh kami menyatu dan saling dekap dalam kelembutan dan kehangatan birahi dan tetap berdansa dalam irama kelembutan.

Tangan Susi melingkar di tengkukku dan kulingkarkan tanganku di pinggangnya, namun kemudian kuturunkan ke arah bongkahan pantatnya dan meraba serta meremas lembut. Pada saat itulah Susi melepaskan bibirnya untuk melenguh sejenak menikmati rabaan serta sentuhanku. Penisku sedari tadi mengeras tegak itu menempel di perut Susi membuat sensasi kehangatan di antara kehangatan tubuh kami.

Bersambung . . . . .