Saya sekeluarga pernah tinggal di luar negeri selama 17 tahun dan sekarang kami sudah kembali ke Jakarta dan mempunyai tiga orang anak. Di bawah adalah cerita dari pengalaman seks saya dan istri saya dan ini benar-benar terjadi.
Perkawinan kita bisa dibilang sangat bahagia demikian juga dengan kehidupan seks kami. Kita berdua sangat menyukai dan menikmati hubungan seks. Sampai saat ini pun kami masih menikmati dan menyenanginya. Keinginan untuk mencoba hubungan seks selain dengan pasangan sendiri selalu muncul dalam pembicaraan kita berdua. Dan bilamana itu dilakukan ketika kita sedang senggama, akan menambah gairah dan semangat. Kita sering membayangkan bagaimana enaknya bila kita disenggama atau senggama dengan orang lain.
Pada satu hari WR pulang dari jalan-jalan dan mengatakan bahwa dia ketemu dengan pria mix China Amerika yang sangat seksi. Saya memberanikan diri menanyakan apa dia tertarik dan ingin berhubungan badan dengan pria itu. Dia menjawab tentu mau dong.
Akhirnya dia berhasil mengajak si pria tersebut ke rumah ketika saya sedang tugas keluar negeri. Saya sering bertugas keluar negeri untuk beberapa hari. Pada saat saya sampai di tempat tujuan saya, langsung saya telepon ke rumah dan menanyakan tentang rencana dia. Ceritanya nanti malam si pria akan datang sekitar jam 8 malam.
Semalaman di hotel saya terpaksa bermain sendiri sampai keluar beberapa kali. Besoknya waktu saya sampai di rumah, langsung saya tanya tentang pria itu. Namanya Derrick. Kebetulan anak saya sedang tidur siang. Penis saya pada saat itu sudah sangat keras dan ingin cepat-cepat dimasukkan kevaginanya.
Derrick datang sekitar jam 9 malam, anak lelaki kita sudah tidur. Mereka mengobrol di ruang tamu dan mulai saling meraba badan masing-masing. Derrick mulai mencium dan meremas payudara WR. Vagina WR sudah mulai basah dan terasa di celana dalamnya. WR menganjurkan pindah ke kamar tidur untuk lebih nyaman. Sesampainya di kamar, Derrick melepaskan baju WR dan bajunya sendiri. WR bilang bahwa badan Derrick berbau harum bayi, terlebih lebih di sekitar penisnya. Yang sangat disayangkan oleh WR adalah ukuran penis Derrick. Langsung saja oleh WR penis Derrick dihisap agar menjadi keras dan besar. Tetapi penisnya tetap saja kecil.
Derrick mulai mencium payudara dan badan WR dan turun ke bawah ke paha, WR mengharapkan bahwa Derrick akan menjilat vagina dan kelentitnya. Tetapi Derrick ternyata hanya lewat saja. Kebetulan pada saat itu WR memakai pembalut wanita karena dia baru saja selesai mens, tetapi vaginanya sudah bersih. Hanya saja Derrick mungkin merasa jijik. Derrick kemudian naik ke atas dan mencoba memasukkan penisnya yang kecil ke vagina istriku. Sangat sulit untuk Derrick memasukkan penisnya karena ukuran yang kecil dan vagina WR yang sudah terlalu basah karena rangsangan dari dia.
Setelah berhasil memasukkan penisnya ke dalam, dia hanya bisa mempompa beberapa kali sebelum akhirnya mengeluarkan penisnya dari vagina WR. Ia bilang mau ke kamar kecil dan akan kembali secepatnya. Pengalaman WR dengan Derrick ternyata tidak memuaskan dan dia belum sampai orgasme kemarin. Penis saya pada saat itu sudah sangat keras. Langsung saja saya memasukkan penisku ke vaginanya yang telah basah dan siap untuk disetubuhi. Tidak lama untuk membuat kita berdua keluar bersamaan. Walaupun penis Derrick kecil tapi pengalaman tersebut cukup untuk membuat kita berdua terangsang sebelum bersenggama.
Satu bulan setelah berhubungan badan dengan Derrick, pada satu malam kita berdua sedang mendengarkan radio kesukaan kita, WR mengatakan bahwa suara penyiar laki-laki sangat seksi. Saya bertanya apa yang akan dia lakukan? Tanpa mengatakan apapun juga, dia menghubungi stasiun radio dan berbicara dengan penyiar yang namanya Rick. Saya tidak dapat mendengar apa yang mereka bicarakan. Tapi yang saya bisa lihat adalah WR sering sekali melipat pahanya.
Setelah selesai berbicara, WR mendatangiku sambil berkata, Rick akan datang kira-kira 15 menit lagi. Saya merasa panik dan sangat terangsang. Sambil menunggu Rick datang, kita mulai memegang alat vital dan berciuman. Pikiran saya pada saat itu sangat bingung dan ada rasa cemburu. WR akan bermain cinta di depan mata saya.
Tidak lama kemudian pintu diketuk dari luar. Saya bersembunyi di kamar anakku, dimana saya masih bisa melihat ke ruang tamu. Mereka berdua duduk di ruang makan dan saya hanya bisa mendengar suara mereka berbicara. Tidak lama kemudian mereka pindah ke ruang tamu dan duduk di sofa. Rick memeluk WR dan mulai menciumnya, pada saat bersaman tangannya bermain dengan payudara WR. Mata WR terpejam dan terlihat sangat menikmati apa yang dilakukan oleh Rick. Tangan WR mulai menggerayangi badan Rick dan mengelus-elus. Rick membuka baju atas WR dan mulai menghisap pentil payudara sambil memeras payudara yang lainnya. WR memeluk Rick dengan keras dan mulai memegang kepala dan mendorong ke arah payudaranya dengan lebih keras. Terdengar dia mendesah dan merintih-rintih kenikmatan.
Tidak lama kemudian mereka berdua berjalan ke ruang tidur kita, sambil melihat kepadaku dan terseyum. Rick berbaring sambil menghisap payudara WR seperti anak bayi sedang menyusu. Setiap kali Rick ingin memegang vaginanya WR mendorong dan tidak mengijinkan Rick memegang vaginanya. Tangan WR terlihat menuju ke celana Rick yang pada saat itu memakai celana pendek. Tangannya langsung masuk dan terlihat meremas-remas penis Rick. Matanya tertutup dan menikmati hisapan Rick. WR kemudian melepaskan kancing celana Rick dan menurunkan celana ke bawah. Penis Rick dengan sendirinya keluar dan ukuran penisnya sangat besar, kira kira 13 inchi. Dengan diameter 3 inchi. Tangan WR terus meloco penis Rick dan semakin besar saja.
Rick berusaha untuk memegang vaginanya tapi selalu disorong jauh. WR terus turun dan menjilat sambil mengulum penis Rick. Awalnya terlihat sangat sulit untuk dia memasukkan ke dalam mulutnya yang kecil. Penis Rick terlalu besar. Tapi dia berhasil juga mengulum walaupun tidak seluruhnya.
Tidak lama kemudian Rick menarik WR ke atas dan menciumnya, tangan WR tidak berhenti mengocok penis Rick dan akhirnya sperma Rick keluar juga membasahi tempat tidur kita. Setelah itu Rick berpakaian dan pulang. Setelah dia pulang saya keluar dan mencium WR, terasa asin dan bau penis tetapi saya sudah terlalu terangsang untuk memikirkan lainnya. Saya memegang vaginanya dan basah sekali sampai licin sekali. Dia langsung menghisap penis saya dan menempatkan vaginanya ke mulut saya. Rasanya sangat nikmat menjilat vagina yang basah dan licin. Saya membayangkan bahwa hampir saja vagina ini dimasukin oleh penis yang sangat besar. WR mengatakan bahwa dia sebenarnya kaget juga melihat penis Rick yang sangat besar itu.
Bersambung . . . .
Senin, 06 Desember 2010
Dengan orang ketiga - 2
Tiga hari kemudian, Rick menelepon ketika saya ada di rumah kira-kira jam satu siang. WR bilang kalau Rick mau datang ke rumah sebentar lagi dan dia minta ijin. Saya bilang silakan saja. WR bilang bahwa Rick akan datang kira-kira setengah jam lagi. Anak saya sedang tidur dan buru-buru kami siapkan kasur di ruang tamu untuk dipergunakan oleh mereka, ini agar saya bisa lihat dengan jelas apa yang dilakukan oleh mereka berdua. Cd-nya saya lepaskan dan segera menjilat vagina WR. Dia sudah siap dan sangat basah karena siang ini dia akan mainkan oleh penis yang begitu besar. Penisku dijilat dengan sangat rakus. WR sangat pintar menghisap penis dan membuat laki-laki kenikmatan. Saya lalu memasukkan penis saya ke vaginanya dan mulai memompa. Vaginanya membuat suara yang sangat seksi. Bell rumah berbunyi dan saya buru-buru melepaskan penis saya dari vaginanya, dan bersembunyi di belakang pintu. Dari balik pintu saya bisa melihat kasur dengan jelas.
Rick masuk dan langsung duduk di kasur. WR menjelaskan bahwa dia baru saja tidur dengan anak kita dan sekarang sudah dipindahkan ke kamar. Tentu suatu kebohongan yang sangat membantu. Rick tidak membuang waktu segera dia mencium WR dan meraba-raba badannya. Payudaranya diremas-remas dan baju disingkap, puting payudara sudah keras dan siap untuk dihisap. Baju WR dilepas dan langsung putingnya dihisap oleh Rick. Mata WR merem-melek kenikmatan. Kepalanya goyang ke kiri-kanan dan dia mendesah-desah yang cukup keras.
Tangan Rick turun ke bawah dan melepaskan rok mini WR. Terlihat di CD-nya basah mungkin karena tadi dia sudah saya persiapkan. Tangannya menyingkapkan CD ke samping dan mulai bermain dengan kelentit WR. Jari lainnya mulai keluar masuk ke dalam vagina WR dan WR menggoyangkan pantatnya mengikuti jari Rick. CD WR dilepas agar dia dapat memegang dengan mudah, mulutnya langsung menjilat kelentit WR dan terdengar erangan yang sangat keras dari mulut WR. Rambut Rick diremas dan kepalanya ditekan ke vagina. Kedua kaki diangkat ke atas sehingga Rick mendapatkan pandangan yang jelas dari vagina WR. Tangan WR kemudian memegang penis Rick dan mulai meremas-remasnya. Rick memutar dan memasukkan penisnya ke mulut WR. Saya di dalam kamar bermain sendiri dan hampir keluar. Penis Rick masih lemas sehingga mudah masuk ke dalam mulut WR. Perlahan-lahan penisnya menjadi besar dan dia memompa penisnya ke dalam mulut WR.
Rick kemudian berjongkok dan menempatkan dirinya di atas WR dengan penisnya digosok-gosokkan ke vagina WR. Pantat WR diangkat ke atas dan pahanya dibuka selebar-lebarnya. Terlihat vagina WR merekah, setelah menggosok untuk beberapa saat, Rick mencoba memasukkan penisnya ke lubang vagina WR. Saya khawatir kalau-kalau penisnya terlalu besar dan akan menyakitkan WR. Rick menekan perlahan-lahan dan mengeluarkan lagi. WR mengangkat pantatnya ingin memasukkan penisnya sekaligus. Saya rasa Rick berhati-hati agar tidak menyakiti WR. Pelan-pelan penis Rick masuk ke dalam vagina WR dan terlihat vagina WR menjadi sangat besar dan lebar. Kelihatannya Rick sulit untuk memasukkan seluruh penisnya ke dalam vagina WR karena penisnya tidak sekeras kemarin. WR terlihat menikmati penis Rick dan mengerang sangat keras, sampai-sampai aku takut membangunkan anak dan tetangga. Kemudian Rick mencabut penisnya yang basah oleh lendir WR dan dia sendiri dan memasukkan ke mulut WR. Rick meminta WR untuk menghisap penisnya.
Saya tidak percaya bahwa Rick melakukan hal demikian, selama ini WR tidak mau menghisap penisku setelah masuk ke dalam vaginanya. WR dengan tenang menghisap penis Rick dan menjilatnya bersih. Ini adalah pertama kalinya dia menjilat cairan vaginanya sendiri. Memang vagina WR tidak bau sama sekali, dia sangat menjaga kebersihan vaginanya.
Penis Rick menjadi keras dan dia melepaskan dari mulut WR dan memasukkan kembali ke vagina WR. Kali ini penisnya masuk dengan mudah ke dalam vagina WR. Seluruh penis hilang ke dalam vagina WR, saya tidak percaya bahwa dia bisa menerima penis sebesar itu. WR bergerak dengan keras mendorong pantatnya ke atas setiap kali Rick menekan penisnya. Terlihat dia sangat menikmati penis Rick. Kakinya melingkar di pinggang Rick. Dari kamar saya bisa melihat dengan jelas penis Rick keluar masuk vagina WR. Pemandangan yang sangat seksi.
WR mengerang dengan keras, saya yakin bukan karena sakit tetapi karena kenikmatan. Mereka berguling-guling di atas kasur tanpa melepaskan penis dari vagina WR. Sepertinya ini adalah pertama kali Rick memasukan ke vagina yang kecil dan ketat. Rick mencabut penisnya dan mengangkat WR ke atas dan memakan vaginanya. WR memutar badannya dan menghisap penis Rick yang berlumuran dengan cairan dari penis dan vaginanya sendiri. WR kemudian memutar badannya dan memegang penis Rick dan memasukkan ke dalam vaginanya lagi. Sekarang WR berada di atas Rick.
Tangan Rick terlihat mengelus punggung WR dan meremas pantatnya yang sekal. Sekali-kali terlihat tangan Rick memegang vagina WR dan mencari kelentitnya. Jari Rick terlihat di luar lubang pantat WR, dan membasahinya dengan cairan dari vagina. Setelah basah dia memasukkan jari tengah ke dalam lubang pantat WR, WR berhenti bergoyang dan melihat muka Rick. Dia tidak menolak sama sekali ketika Rick memasukkan jarinya ke lubang pantat. Jari Rick terlihat keluar masuk di pantat WR. WR kemudian mencium Rick dengan intense, aksi Rick memasukkan jari ke pantat membuat WR tambah terangsang. Ini adalah pertama kalinya dia dikerjain lubang pantatnya.
Pemandangan yang sangat seksi, kedua lubang WR dimainkan. WR menggoyangkan pinggul dan pantatnya sambil menekan penis Rick, saya ingat kalau WR sangat pintar mengecilkan vaginanya waktu penis saya di dalam vaginanya. Aksi memeras penis terlihat berdampak besar pada Rick, penisnya keluar masuk dengan lebih cepat dan badan WR terangkat ke atas beberapa kali. Penisnya masuk seluruhnya ke dalam vagina WR yang kecil itu. WR mengalami kesulitan bertahan tetap di atas badan Rick. Yang menjaga agar dia tidak jatuh hanyalah vaginanya yang terpaku pada penis Rick yang besar dan panjang itu.
Dengan dorongan yang keras dan sekaligus, Rick mengeluarkan spermanya di dalam vagina WR, WR mengerang dan menggeliat kenikmatan. Dia selalu mengatakan bahwa yang paling dia suka adalah ketika sperma keluar dari penis dan menembak dinding di dalam vaginanya. Rick terus menerus memompa vagina WR, seakan-akan ini adalah orgasme yang terpanjang yang pernah Rick alami. Akhirnya dia berhenti juga. Rick memeluk dan mencium WR sambil mengelus badannya. Ketika penisnya dicabut, terlihat sperma Rick mengalir keluar vagina WR. Dengan mempergunakan tissue, sperma Rick dibersihkan dari vagina luarnya. Rick membantu membersihkan vagina WR. Badan WR terlihat menggelinjang ketika jari Rick menyentuh vaginanya. Tak lama kemudian Rick pulang meninggalkan WR di kasur.
Begitu Rick pulang, saya buru-buru keluar dan tiduran di sebelah WR, vaginanya sangat basah dan lembek. WR pergi ke kamar mandi membersihkan vaginanya. Sekeluarnya dari kamar mandi WR langsung menghisap dan menjilat penisku yang sudah sangat keras. Saya meminta WR untuk memberikan vaginanya kepadaku, dia memutar tubuhnya dan menempatkan vaginanya di mulut saya. Terlihat merah dan lembek dan basah. Tercium bekas penis di vagina WR, tetapi aku sudah tidak bisa menahan diri lagi. Kujilat dan minum dari vagina WR. Rasanya nikmat dan menggairahkan. WR menggosok dan menekan vaginanya ke muka saya membuat muka saya basah oleh cairan vaginanya. Vagina luarnya terlihat sangat merah dan sedikit bengkak, saya rasa karena baru saja dia dimaini oleh monster penis dengan keras.
Saya meminta WR untuk memasukkan penis saya ke dalam vaginanya persis seperti apa yang dia lakukan bersama Rick. Sebelum saya keluar, saya menarik penis dan memasukkan ke dalam mulutnya, betapa enaknya rasa penisku, setelah keluar masuk vagina sekarang dihisap oleh mulut WR. Saya menarik WR dan menciumnya, saya bertanya kenapa dia mau menghisap penis Rick setelah masuk di vaginanya, WR bilang karena dia sudah terlalu terangsang.
WR kemudian memintaku untuk bermain lagi karena tadi dia tidak keluar ketika Rick menyetubuhinya. WR mengatakan bahwa penis Rick adalah penis yang ternikmat yang pernah dia rasakan, sampai saat ini WR telah merasakan 6 penis, empat sebelum kita menikah, dua orang bule dan dua orang Indonesia. Penis Rick terasa sangat dalam dan menyentuh peranakannya. Vaginanya terasa sangat lebar saat ini tetapi sangat nikmat. Awalnya terasa sedikit sakit ketika Rick memasukkan kepala penisnya yang besar, seakan-akan merobek vaginanya. WR masih mengharapkan untuk setubuhi oleh Rick karena tadi penis Rick tidak begitu keras seperti malam pertama. Malam itu saya dan WR habis-habisan menjilat dan senggama sampai pagi.
Karena tidak mendapatkan penis Rick yang keras, WR berniat untuk mencobanya lagi. Pada satu malam WR menelepon stasiun radio dan berbicara dengan Rick. WR mengatakan kepada Rick bahwa saya sedang tidak di rumah. Rick datang sekitar jam 9 malam, anak kita sudah tidur dan saya sudah siap di kamar untuk mengintip. Ruang tamu sudah dipersiapkan dengan lampu baca yang mengarah ke kasur.
Sebelum Rick datang, saya sudah menghangatkan vagina WR dan membuatnya basah. Sedikit dari sperma saya tertinggal di dalam vaginanya. Penis saya diusapkannya keseluruh mukanya. Ketika Rick datang mereka seperti biasa berbicara sambil tiduran di kasur. Rick melepaskan baju WR dan mereka berdiri di lutut mereka. Bajunya dilepaskan dan langsung saja penisnya keluar dan terlihat sangat keras. WR mencium dan menjilat penis Rick yang sudah besar dan keras. Kuluman WR membuat Rick hampir saja mengeluarkan spermanya, erangan Rick sangat keras, sebelum sperma Rick keluar, WR mencabut dari mulutnya dan WR tidur telentang di atas kasur.
Rick langsung turun dan menjilat vagina WR yang sudah basah oleh sperma saya. Saya bertanya apakah Rick merasakan dan mencium bau sperma di vagina WR? Rasanya hal itu bukan masalah untuk Rick, dia dengan lahapnya menjilat dan mengulum kelentit WR. Saya rasa sangat sulit untuk menemukan kelentit WR, kelentitnya sangat kecil tidak seperti kelentit wanita lainnya. Mungkin terpotong waktu WR disunat. WR menggapai penis Rick dan mulai meremas-remasnya. Terlihat cairan putih bening keluar dari penis Rick, WR mempergunakan cairan untuk meloco Rick. Gerakan tangan WR membuat Rick menggoyangkan pantatnya seakan-akan sedang memainkan vagina. Tiba-tiba Rick merubah posisi dan memasukkan penisnya langsung ke dalam vagina WR dalam satu gerakan yang sangat cepat.
Gerakannya terlihat sangat kasar, hilang sudah lemah lembut yang pernah dia perlihatkan. Mulai saat ini Rick bermain sama WR dengan sangat keras dan kasar. WR benar-benar dipergunakan sebagai objek seks. Saya sudah takut kalau-kalau Rick menyakiti WR, tetapi dilihat dari ekspressi muka dan gerakan WR ternyata WR menyukai dan menikmati apa yang dilakukan oleh Rick. Rick mencabut penisnya dan memasukkan ke dalam mulut WR sambil memegang belakang kepala WR, dia membantu WR naik turun sambil memasukkan penisnya kemulut.
Rick kemudian berdiri dan mengangkat WR, mereka saling berpelukkan sambil berdiri. WR diangkat oleh Rick dan langsung memasukkan penisnya ke dalam vagina WR. Ini merek melakukan sambil berdiri. WR terlihat seperti anak kecil dalam gendongan Rick. Kaki WR terlihat merangkul pinggang Rick, berat badannya disanggah oleh penis Rick. Rick berusaha memompa sambil berdiri dan sekaligus mencium WR. Pantat WR terlihat merekah dan memberikan kemudahan bagi Rick untuk memasukkan jarinya ke lubang pantat WR. WR terlihat sangat menikmati coitus depan belakang. Pemandangan yang sangat seksi.
Ketika Rick merasa capai, WR diturunkan dan Rick merebahkan diri di kasur. WR diangkat dan memasukkan penis Rick dari atas. Dari kamar saya bisa lihat penis Rick memaksa masuk ke dalam vagina WR yang kecil dan ketat. Vaginanya menjadi sangat lebar dan penis Rick menyentuh paha WR. WR menoleh ke kamar dan tersenyum ke saya sambil mengeluarkan lidahnya. WR memompa penis Rick secara teratur, setiap kali penis Rick masuk, terlihat vaginanya ikut masuk ke dalam dan cairan putih terbentuk di pinggir bibir vaginanya. Ketika penisnya keluar, terlihat vaginanya mengembang dan menjepit penis Rick. Mereka melakukan posisi ini cukup lama.
Kemudian Rick mendorong WR dan bertumpu pada lutut dan tangan. Rick akan bermain doggy style. Ini adalah posisi yang paling disukai oleh WR. Rick mempompa vagina WR dengan sangat keras dan dalam, semua penisnya amblas ke dalam vagina WR. Tangan Rick yang lain dimasukkan ke dalam lubang pantat. WR setengah berteriak dan sangat menikmati penis Rick. Badannya menjulur ke depan, Rick tidak mau melepaskan penisnya mengikuti arah badan WR. WR benar-benar dalam keadaan yang sangat nikmat, desahan sudah berubah menjadi erangan dan erangan sudah berubah menjadi teriakan. Rick mencapai payudara WR dan mulai meremas-remasnya. Tak lama kemudian Rick mencabut penisnya dan menjilat vagina WR dari belakang. Vagina WR dibersihkan oleh lidah Rick.
WR direbahkan di kasur dan Rick memasukkan penisnya dari atas, tangan WR membantu memasukkan penis Rick ke vaginanya. Kaki WR diangkat dan dilingkarkan ke pinggang Rick. Rick terus menerus memompa vagina WR. Badan WR yang kecil tenggelam ditutupi oleh badan Rick, yang terlihat oleh saya hanya pantat dan lubang vagina yang sudah diisi oleh penis Rick. Kadang-kadang terlihat tangan WR meraba dan meremas pantat Rick, sekali-kali jarinya dimasukkan ke dalam pantat Rick. Gerakan Rick bertambah cepat dan cepat, dengan erangan yang cukup keras Rick mengeluarkan spermanya di dalam vagina WR. Rick kemudian merebahkan diri di samping WR tanpa melepaskan penisnya dari vagina WR. WR melihat ke saya dan memberikan tanda bahwa yang satu ini sangat nikmat.
Setelah Rick pulang, WR mencuci vaginanya dan meminta saya mengulang apa yang baru saja dilakukan oleh Rick. WR bilang bahwa dia belum keluar ketika Rick menyetubuhinya. Saya dengan senang hati memasukkan penis saya dan menjalankan tugas untuk membuat WR keluar. Penis Rick yang besar ternyata tidak dapat membuat WR keluar, mungkin terlalu besar.
Cerita kami tidak berhenti di sini, WR masih sempat bersenggama dengan oomnya, dan kakak saya ketika saya berhubungan badan dengan istrinya, bekas pacarnya dan beberapa lagi yang tidak kalah menarik. Semua ini akan saya kirim segera.
TAMAT
Rick masuk dan langsung duduk di kasur. WR menjelaskan bahwa dia baru saja tidur dengan anak kita dan sekarang sudah dipindahkan ke kamar. Tentu suatu kebohongan yang sangat membantu. Rick tidak membuang waktu segera dia mencium WR dan meraba-raba badannya. Payudaranya diremas-remas dan baju disingkap, puting payudara sudah keras dan siap untuk dihisap. Baju WR dilepas dan langsung putingnya dihisap oleh Rick. Mata WR merem-melek kenikmatan. Kepalanya goyang ke kiri-kanan dan dia mendesah-desah yang cukup keras.
Tangan Rick turun ke bawah dan melepaskan rok mini WR. Terlihat di CD-nya basah mungkin karena tadi dia sudah saya persiapkan. Tangannya menyingkapkan CD ke samping dan mulai bermain dengan kelentit WR. Jari lainnya mulai keluar masuk ke dalam vagina WR dan WR menggoyangkan pantatnya mengikuti jari Rick. CD WR dilepas agar dia dapat memegang dengan mudah, mulutnya langsung menjilat kelentit WR dan terdengar erangan yang sangat keras dari mulut WR. Rambut Rick diremas dan kepalanya ditekan ke vagina. Kedua kaki diangkat ke atas sehingga Rick mendapatkan pandangan yang jelas dari vagina WR. Tangan WR kemudian memegang penis Rick dan mulai meremas-remasnya. Rick memutar dan memasukkan penisnya ke mulut WR. Saya di dalam kamar bermain sendiri dan hampir keluar. Penis Rick masih lemas sehingga mudah masuk ke dalam mulut WR. Perlahan-lahan penisnya menjadi besar dan dia memompa penisnya ke dalam mulut WR.
Rick kemudian berjongkok dan menempatkan dirinya di atas WR dengan penisnya digosok-gosokkan ke vagina WR. Pantat WR diangkat ke atas dan pahanya dibuka selebar-lebarnya. Terlihat vagina WR merekah, setelah menggosok untuk beberapa saat, Rick mencoba memasukkan penisnya ke lubang vagina WR. Saya khawatir kalau-kalau penisnya terlalu besar dan akan menyakitkan WR. Rick menekan perlahan-lahan dan mengeluarkan lagi. WR mengangkat pantatnya ingin memasukkan penisnya sekaligus. Saya rasa Rick berhati-hati agar tidak menyakiti WR. Pelan-pelan penis Rick masuk ke dalam vagina WR dan terlihat vagina WR menjadi sangat besar dan lebar. Kelihatannya Rick sulit untuk memasukkan seluruh penisnya ke dalam vagina WR karena penisnya tidak sekeras kemarin. WR terlihat menikmati penis Rick dan mengerang sangat keras, sampai-sampai aku takut membangunkan anak dan tetangga. Kemudian Rick mencabut penisnya yang basah oleh lendir WR dan dia sendiri dan memasukkan ke mulut WR. Rick meminta WR untuk menghisap penisnya.
Saya tidak percaya bahwa Rick melakukan hal demikian, selama ini WR tidak mau menghisap penisku setelah masuk ke dalam vaginanya. WR dengan tenang menghisap penis Rick dan menjilatnya bersih. Ini adalah pertama kalinya dia menjilat cairan vaginanya sendiri. Memang vagina WR tidak bau sama sekali, dia sangat menjaga kebersihan vaginanya.
Penis Rick menjadi keras dan dia melepaskan dari mulut WR dan memasukkan kembali ke vagina WR. Kali ini penisnya masuk dengan mudah ke dalam vagina WR. Seluruh penis hilang ke dalam vagina WR, saya tidak percaya bahwa dia bisa menerima penis sebesar itu. WR bergerak dengan keras mendorong pantatnya ke atas setiap kali Rick menekan penisnya. Terlihat dia sangat menikmati penis Rick. Kakinya melingkar di pinggang Rick. Dari kamar saya bisa melihat dengan jelas penis Rick keluar masuk vagina WR. Pemandangan yang sangat seksi.
WR mengerang dengan keras, saya yakin bukan karena sakit tetapi karena kenikmatan. Mereka berguling-guling di atas kasur tanpa melepaskan penis dari vagina WR. Sepertinya ini adalah pertama kali Rick memasukan ke vagina yang kecil dan ketat. Rick mencabut penisnya dan mengangkat WR ke atas dan memakan vaginanya. WR memutar badannya dan menghisap penis Rick yang berlumuran dengan cairan dari penis dan vaginanya sendiri. WR kemudian memutar badannya dan memegang penis Rick dan memasukkan ke dalam vaginanya lagi. Sekarang WR berada di atas Rick.
Tangan Rick terlihat mengelus punggung WR dan meremas pantatnya yang sekal. Sekali-kali terlihat tangan Rick memegang vagina WR dan mencari kelentitnya. Jari Rick terlihat di luar lubang pantat WR, dan membasahinya dengan cairan dari vagina. Setelah basah dia memasukkan jari tengah ke dalam lubang pantat WR, WR berhenti bergoyang dan melihat muka Rick. Dia tidak menolak sama sekali ketika Rick memasukkan jarinya ke lubang pantat. Jari Rick terlihat keluar masuk di pantat WR. WR kemudian mencium Rick dengan intense, aksi Rick memasukkan jari ke pantat membuat WR tambah terangsang. Ini adalah pertama kalinya dia dikerjain lubang pantatnya.
Pemandangan yang sangat seksi, kedua lubang WR dimainkan. WR menggoyangkan pinggul dan pantatnya sambil menekan penis Rick, saya ingat kalau WR sangat pintar mengecilkan vaginanya waktu penis saya di dalam vaginanya. Aksi memeras penis terlihat berdampak besar pada Rick, penisnya keluar masuk dengan lebih cepat dan badan WR terangkat ke atas beberapa kali. Penisnya masuk seluruhnya ke dalam vagina WR yang kecil itu. WR mengalami kesulitan bertahan tetap di atas badan Rick. Yang menjaga agar dia tidak jatuh hanyalah vaginanya yang terpaku pada penis Rick yang besar dan panjang itu.
Dengan dorongan yang keras dan sekaligus, Rick mengeluarkan spermanya di dalam vagina WR, WR mengerang dan menggeliat kenikmatan. Dia selalu mengatakan bahwa yang paling dia suka adalah ketika sperma keluar dari penis dan menembak dinding di dalam vaginanya. Rick terus menerus memompa vagina WR, seakan-akan ini adalah orgasme yang terpanjang yang pernah Rick alami. Akhirnya dia berhenti juga. Rick memeluk dan mencium WR sambil mengelus badannya. Ketika penisnya dicabut, terlihat sperma Rick mengalir keluar vagina WR. Dengan mempergunakan tissue, sperma Rick dibersihkan dari vagina luarnya. Rick membantu membersihkan vagina WR. Badan WR terlihat menggelinjang ketika jari Rick menyentuh vaginanya. Tak lama kemudian Rick pulang meninggalkan WR di kasur.
Begitu Rick pulang, saya buru-buru keluar dan tiduran di sebelah WR, vaginanya sangat basah dan lembek. WR pergi ke kamar mandi membersihkan vaginanya. Sekeluarnya dari kamar mandi WR langsung menghisap dan menjilat penisku yang sudah sangat keras. Saya meminta WR untuk memberikan vaginanya kepadaku, dia memutar tubuhnya dan menempatkan vaginanya di mulut saya. Terlihat merah dan lembek dan basah. Tercium bekas penis di vagina WR, tetapi aku sudah tidak bisa menahan diri lagi. Kujilat dan minum dari vagina WR. Rasanya nikmat dan menggairahkan. WR menggosok dan menekan vaginanya ke muka saya membuat muka saya basah oleh cairan vaginanya. Vagina luarnya terlihat sangat merah dan sedikit bengkak, saya rasa karena baru saja dia dimaini oleh monster penis dengan keras.
Saya meminta WR untuk memasukkan penis saya ke dalam vaginanya persis seperti apa yang dia lakukan bersama Rick. Sebelum saya keluar, saya menarik penis dan memasukkan ke dalam mulutnya, betapa enaknya rasa penisku, setelah keluar masuk vagina sekarang dihisap oleh mulut WR. Saya menarik WR dan menciumnya, saya bertanya kenapa dia mau menghisap penis Rick setelah masuk di vaginanya, WR bilang karena dia sudah terlalu terangsang.
WR kemudian memintaku untuk bermain lagi karena tadi dia tidak keluar ketika Rick menyetubuhinya. WR mengatakan bahwa penis Rick adalah penis yang ternikmat yang pernah dia rasakan, sampai saat ini WR telah merasakan 6 penis, empat sebelum kita menikah, dua orang bule dan dua orang Indonesia. Penis Rick terasa sangat dalam dan menyentuh peranakannya. Vaginanya terasa sangat lebar saat ini tetapi sangat nikmat. Awalnya terasa sedikit sakit ketika Rick memasukkan kepala penisnya yang besar, seakan-akan merobek vaginanya. WR masih mengharapkan untuk setubuhi oleh Rick karena tadi penis Rick tidak begitu keras seperti malam pertama. Malam itu saya dan WR habis-habisan menjilat dan senggama sampai pagi.
Karena tidak mendapatkan penis Rick yang keras, WR berniat untuk mencobanya lagi. Pada satu malam WR menelepon stasiun radio dan berbicara dengan Rick. WR mengatakan kepada Rick bahwa saya sedang tidak di rumah. Rick datang sekitar jam 9 malam, anak kita sudah tidur dan saya sudah siap di kamar untuk mengintip. Ruang tamu sudah dipersiapkan dengan lampu baca yang mengarah ke kasur.
Sebelum Rick datang, saya sudah menghangatkan vagina WR dan membuatnya basah. Sedikit dari sperma saya tertinggal di dalam vaginanya. Penis saya diusapkannya keseluruh mukanya. Ketika Rick datang mereka seperti biasa berbicara sambil tiduran di kasur. Rick melepaskan baju WR dan mereka berdiri di lutut mereka. Bajunya dilepaskan dan langsung saja penisnya keluar dan terlihat sangat keras. WR mencium dan menjilat penis Rick yang sudah besar dan keras. Kuluman WR membuat Rick hampir saja mengeluarkan spermanya, erangan Rick sangat keras, sebelum sperma Rick keluar, WR mencabut dari mulutnya dan WR tidur telentang di atas kasur.
Rick langsung turun dan menjilat vagina WR yang sudah basah oleh sperma saya. Saya bertanya apakah Rick merasakan dan mencium bau sperma di vagina WR? Rasanya hal itu bukan masalah untuk Rick, dia dengan lahapnya menjilat dan mengulum kelentit WR. Saya rasa sangat sulit untuk menemukan kelentit WR, kelentitnya sangat kecil tidak seperti kelentit wanita lainnya. Mungkin terpotong waktu WR disunat. WR menggapai penis Rick dan mulai meremas-remasnya. Terlihat cairan putih bening keluar dari penis Rick, WR mempergunakan cairan untuk meloco Rick. Gerakan tangan WR membuat Rick menggoyangkan pantatnya seakan-akan sedang memainkan vagina. Tiba-tiba Rick merubah posisi dan memasukkan penisnya langsung ke dalam vagina WR dalam satu gerakan yang sangat cepat.
Gerakannya terlihat sangat kasar, hilang sudah lemah lembut yang pernah dia perlihatkan. Mulai saat ini Rick bermain sama WR dengan sangat keras dan kasar. WR benar-benar dipergunakan sebagai objek seks. Saya sudah takut kalau-kalau Rick menyakiti WR, tetapi dilihat dari ekspressi muka dan gerakan WR ternyata WR menyukai dan menikmati apa yang dilakukan oleh Rick. Rick mencabut penisnya dan memasukkan ke dalam mulut WR sambil memegang belakang kepala WR, dia membantu WR naik turun sambil memasukkan penisnya kemulut.
Rick kemudian berdiri dan mengangkat WR, mereka saling berpelukkan sambil berdiri. WR diangkat oleh Rick dan langsung memasukkan penisnya ke dalam vagina WR. Ini merek melakukan sambil berdiri. WR terlihat seperti anak kecil dalam gendongan Rick. Kaki WR terlihat merangkul pinggang Rick, berat badannya disanggah oleh penis Rick. Rick berusaha memompa sambil berdiri dan sekaligus mencium WR. Pantat WR terlihat merekah dan memberikan kemudahan bagi Rick untuk memasukkan jarinya ke lubang pantat WR. WR terlihat sangat menikmati coitus depan belakang. Pemandangan yang sangat seksi.
Ketika Rick merasa capai, WR diturunkan dan Rick merebahkan diri di kasur. WR diangkat dan memasukkan penis Rick dari atas. Dari kamar saya bisa lihat penis Rick memaksa masuk ke dalam vagina WR yang kecil dan ketat. Vaginanya menjadi sangat lebar dan penis Rick menyentuh paha WR. WR menoleh ke kamar dan tersenyum ke saya sambil mengeluarkan lidahnya. WR memompa penis Rick secara teratur, setiap kali penis Rick masuk, terlihat vaginanya ikut masuk ke dalam dan cairan putih terbentuk di pinggir bibir vaginanya. Ketika penisnya keluar, terlihat vaginanya mengembang dan menjepit penis Rick. Mereka melakukan posisi ini cukup lama.
Kemudian Rick mendorong WR dan bertumpu pada lutut dan tangan. Rick akan bermain doggy style. Ini adalah posisi yang paling disukai oleh WR. Rick mempompa vagina WR dengan sangat keras dan dalam, semua penisnya amblas ke dalam vagina WR. Tangan Rick yang lain dimasukkan ke dalam lubang pantat. WR setengah berteriak dan sangat menikmati penis Rick. Badannya menjulur ke depan, Rick tidak mau melepaskan penisnya mengikuti arah badan WR. WR benar-benar dalam keadaan yang sangat nikmat, desahan sudah berubah menjadi erangan dan erangan sudah berubah menjadi teriakan. Rick mencapai payudara WR dan mulai meremas-remasnya. Tak lama kemudian Rick mencabut penisnya dan menjilat vagina WR dari belakang. Vagina WR dibersihkan oleh lidah Rick.
WR direbahkan di kasur dan Rick memasukkan penisnya dari atas, tangan WR membantu memasukkan penis Rick ke vaginanya. Kaki WR diangkat dan dilingkarkan ke pinggang Rick. Rick terus menerus memompa vagina WR. Badan WR yang kecil tenggelam ditutupi oleh badan Rick, yang terlihat oleh saya hanya pantat dan lubang vagina yang sudah diisi oleh penis Rick. Kadang-kadang terlihat tangan WR meraba dan meremas pantat Rick, sekali-kali jarinya dimasukkan ke dalam pantat Rick. Gerakan Rick bertambah cepat dan cepat, dengan erangan yang cukup keras Rick mengeluarkan spermanya di dalam vagina WR. Rick kemudian merebahkan diri di samping WR tanpa melepaskan penisnya dari vagina WR. WR melihat ke saya dan memberikan tanda bahwa yang satu ini sangat nikmat.
Setelah Rick pulang, WR mencuci vaginanya dan meminta saya mengulang apa yang baru saja dilakukan oleh Rick. WR bilang bahwa dia belum keluar ketika Rick menyetubuhinya. Saya dengan senang hati memasukkan penis saya dan menjalankan tugas untuk membuat WR keluar. Penis Rick yang besar ternyata tidak dapat membuat WR keluar, mungkin terlalu besar.
Cerita kami tidak berhenti di sini, WR masih sempat bersenggama dengan oomnya, dan kakak saya ketika saya berhubungan badan dengan istrinya, bekas pacarnya dan beberapa lagi yang tidak kalah menarik. Semua ini akan saya kirim segera.
TAMAT
Demi sahabat
Pada suatu pagi aku menerima sepucuk surat. Ternyata surat itu dari sahabatku Nasem yang tinggal di Manado. Isinya dia mengundangku datang ke sana untuk berkangen-kangenan. Maklum telah puluhan tahun kami terpisah jauh. Nasem di Minahasa, Sulawesi Utara dan aku tetap di Malang, Jawa Timur.
Dalam suratnya, Nasem menceritakan pula tentang keadaan Hamid (samaran, sahabat kami pula) di Tewah. Katanya, ia juga kangen padaku.
Yah, sesungguhnya aku pun juga kangen pada mereka. Kami adalah tiga sahabat karib, yang dulu tak terpisahkan. Lahir di kampung yang sama, tahun yang sama pula. Tak heran orang kampung menjuluki "Three Brothers". Cuma bedanya, Nasem dan Hamid sukses di kariernya. Kini Nasem menjadi Kepala Cabang Dealer Mobil/Motor di Minahasa dan Hamid menjadi pedagang antar pulau dan tinggal di Tewah. Sedang aku tidak. Tak banyak yang bisa dilakukan anak petani macam aku ini.
Sayangnya, setelah 10 tahun menikahi gadis Minahasa, Nasem belum juga dikaruniai anak. Beda denganku yang harus pontang-panting menghidupi isteri dan keempat anakku. Kalau saja Nasem tidak membantu, mungkin aku sudah tidak sanggup. Itulah yang membuatku terharu. Meski sudah makmur dan terpisah oleh lautan, mereka masih memperhatikanku.
Kembali ke surat Nasem. Ada satu hal penting yang disampaikannya, yaitu minta bantuanku. Tanpa menjelaskan apa yang dimaksudkannya. Aku pun bingung, apa yang bisa kuperbuat untuk membantu orang sekaya Nasem?
Dengan uang yang dikirimkannya, aku pun berangkat memenuhi undangannya. Istriku harus tinggal, untuk menjaga rumah dan anak-anak yang harus sekolah. Kepadanya aku pamit untuk waktu barang satu dua minggu.
Lalu, setelah 5 hari 5 malam berlayar, aku pun sampai di tujuan. Di situ aku sudah dijemput oleh Nasem dan istrinya. Begitu kapal bersandar, mataku menangkap sepasang tuan dan nyonya melambai-lambaikan tangan. "Nduutt.., Genduutt..!!" Teriak mereka. Nasem masih tetap memanggil dengan julukanku dan bukan namaku. Dulu semasa kecil, aku memang paling gendut dibanding Nasem Dan Hamid.
Begitu turun dari kapal, kami saling berpelukan tanpa canggung. Kurasakan mereka memang rindu sekali padaku. Acara kangen-kangenan berlanjut sampai di rumah. Rumah Nasem besar, sedang dipugar dan mirip rumah pejabat. Apakah karena hal ini ia memanggilku ke sini? Entahlah. Praktis seharian kami tak menyinggung soal kedatanganku, karena keasyikan saling berkisah selama kami berpisah.
Maka pada malam kedua itulah, sehabis makan malam, Nasem dengan istrinya Sari memanggilku ke ruang tamu. Mulailah mereka membicarakan soal "bantuan" itu.
"Kira-kira apa yang bisa kubantu, apakah mengerjakan rumahmu ini?" tanyaku.
Kulirik, Nasem menggelengkan kepala.
"Begini Ndut, kamu kan tahu kami sudah 10 tahun menikah, tapi belum juga diberi momongan. Masalahnya, menurut dokter, aku ini memang mandul. Jadi kami sepakat untuk minta tolong kamu. Itu sebabnya kami mengundangmu datang kemari," tutur Nasem, panjang-lebar. Tapi aku masih bingung dengan ucapannya itu, hingga kuminta ia menjelaskan lagi.
"Jelasnya, kami ingin sekali punya anak walau seorang. Tapi kutahu pasti dari dokter bahwa aku tidak bisa membuahi istriku karena aku mandul. Maka kuminta bantuanmu untuk menggantikan diriku agar kami bisa punya anak," tuturnya lagi dengan jelas.
"Hah.. apa? Aku harus menggantikan dirimu agar bisa memberikan anak kepadamu," tanyaku, penasaran.
"Yah.. begitulah maksudku," jawabnya, membuat aku kian tak mengerti.
"Lalu dengan cara bagaimana aku menggantikanmu? Kamu kan tahu bahwa aku ini bukan 'Deddy Coubuzier' atau dukun. Apakah aku bisa melaksanakan permintaanmu itu Sem?" ucapku.
"Ah kamu ini memang nggak tahu atau pura-pura nggak tahu. Begini, kamu ini memang bukan seorang dukun dan permintaanku ini tidak ada kaitannya dengan perdukunan. Yang kuminta adalah, kesediaanmu menggantikan diriku sebagai suami dari istriku, untuk membuahi rahim istriku agar kami bisa punya anak. Sudah? Jelas tidak?" ucap Nasem merinci, dan nampak agak kesal juga melihat kebodohanku.
"Oh begitu maksudmu. Tapi benarkah ucapanmu itu? Dan apakah Sari menyetujuinya?" tanyaku meyakinkan, seraya memberi pertimbangan agar Nasem mengadopsi anak saja.
Menurut mereka, semula memang berniat untuk mengadopsi anak.
"Tapi sebaik-baiknya mengadopsi anak, masih lebih baik punya anak dari rahim istriku sendiri. Dan ini kalau bisa.. ya kan sayang?" ucap Nasem.
"Ya Mas Ndut, kami sudah berunding sebelumnya. Dan demi keinginan kami, aku rela menyerahkan tubuhku untuk dibuahi Mas Ndut.." ucap Sari pelan.
Kini aku paham maksud mereka. Tapi aku tak segera menjawab, mendadak terpampang buah simalakama di mataku. Bila kuterima, ah.. itu berarti aku harus melanggar pagar ayu. Apalagi ini istri sahabat sendiri. Dan bila kutolak, Nasem pasti kecewa. Itu yang pertama. Yang kedua, aku terlanjur datang jauh-jauh dari Jawa. Dan ketiga mengingat budi dan jasanya yang kuterima selama ini, kapan lagi aku bisa membalasnya.
Tapi Nasem terus mendesakku.
"Yah.. bagaimana ini ya. Sem, kuterima atau tidak permintaanmu ini?" kataku.
"Sudahlah Ndut, kuharap kamu bersedia membantuku. Nggak usah risau, kami pun tak ada perasaan apa-apa atas bantuanmu," ucap Nasem meyakinkan.
Aku pun tanpa sadar berucap, "Yah baiklah. Tapi bagaimana nanti kalau gagal?" tanyaku.
"Seandainya gagal, itu bukan kesalahanmu. Nanti kami akan senantiasa berdoa semoga keinginan kami ini dikabulkan," ucap Nasem dengan arif.
Selanjutnya dengan kesepakatan dan restu bersama, aku diminta untuk memulai malam itu juga. Begitu mendengar kesediaanku mereka permisi hendak mempersiapkan kamar tengah. Nasem sendiri nampaknya pindah ke kamar depan. Bantal dan perlengkapan tidur lainnya dibawanya ke depan.
Tepat pukul 22:00 WITA, aku dipersilakan Sari masuk ke kamar tengah yang sudah bersih, indah dan harum. Terasa berat kakiku melangkah, hingga Nasem dan Sari membimbingku masuk. Habis itu, Nasem pun keluar, meninggalkan aku dan Sari berdua di kamar.
"Sari, apakah kamu yakin aku bakal bisa memberi anak nantinya..?" tanyaku.
"Mas Ndut, secara pribadi aku yakin kamu bakal bisa memberi anak untukku nantinya." ucapnya manja.
"Aku tidak tega tubuhku yang kotor ini nantinya akan 'mengobok-obok' tubuhmu yang mulus itu."
"Mas Ndut, aku kan sudah bilang ini demi keinginan kami berdua. Jadi tubuhku yang mulus ini kuserahkan padamu Mas. Ayo dekatlah kemari Mas Ndut. Tak usah malu-malu, aku siap bertempur Mas.." ucapnya lagi sambil menarik tanganku ke pembaringan.
Sayup-sayup kudengar pintu jendela depan ditutup dan dikunci.
"Lho siapa yang menutup pintu dan jendela di luar sana itu Sar?" tanyaku, sembari duduk di bibir ranjang.
"Oh itu pasti Mas Nasem sendiri kok Mas Ndut," jawabnya, seraya menjelaskan bahwa 2 pembantunya terpaksa dipulangkan agar rencana ini berjalan mulus.
"Oh begitu!" ucapku.
"Mas Ndut aku sudah nggak tahan nich?" ucapnya sambil membuka seluruh pakaian yang melekat di tubuhnya yang mulus itu. Tubuhnya yang mulus dengan susunya yang begitu montok dan vaginanya yang menantang. Panas dingin aku memandangnya. Lutut ini gemetar dan tubuhku meriang bak kena setrum listrik 1000 watt. Aku yang biasa melihat istriku bugil, kini jadi lain.
Di rumah aku biasa tidur dengan beralaskan tikar. Kini aku berhadapan dengan ranjang mewah beraroma wangi, plus tubuh mulus tergolek di atasnya. Tapi badanku terus menggigil seperti terjangkit malaria berat. Eh, Sari tiba-tiba bangun menghampiriku dan melepaskan seluruh pakaianku yang sejak tadi belum kubuka. Aku cuma terbengong-bengong saja. Lalu..
"Sekarang.. coba Mas Ndut berbaring.." ucapnya sambil mendorong tubuh telanjangku. Aku menurut saja. Penisku segera menegang ketika merasakan tangan lembut Sari mulai beraksi.
"Wah.. wahh.. besar sekali penismu, Mas Ndut." tangan Sari segera mengusap-usap penis yang telah mengeras tersebut. Segera saja penisku yang sudah berdenyut-denyut itu masuk ke mulut Sari. Ia segera menjilati penisku itu dengan penuh semangat. Kepala penisku dihisapnya keras-keras, hingga membuatku merintih keenakan.
"Ahh.. ahh.. ohh.." aku tanpa sadar merintih merasakan nikmat sesaat. Menyadari keringatku yang mengucur dengan deras sehingga menimbulkan bau badanku yang kurang sedap, buru-buru aku mendorong kepala Sari yang masih mengulum penisku itu untuk pamit mau mandi dulu. Lalu, kuguyur badanku dengan segala macam sabun dan parfum yang ada di situ kugosokkan agar badanku harum. Tiga kran yang ada di situ kubuka semua dan kurasakan mana yang berbau sedap, kupakai untuk menyegarkan badan. Bukankah sebentar lagi aku mesti melayani sang putri bak bidadari?! Mungkin sudah terlalu lama aku di kamar mandi, terdengar Sari mengetuknya. Begitu pintu kubuka, ah. Sari berdiri dengan tubuh montoknya. Ohh.. Seandainya yang pamer aurat di depanku itu istriku aku tak akan menanti lama-lama pasti langsung kudekap dia. Tapi dia adalah istri sahabatku."Malaria"-ku yang sempat sembuh waktu mandi tadi, kini kumat lagi. Cepat-cepat aku masuk lagi dan menguncinya. Di dalam kamar mandi aku bimbang bagaimana sebaiknya, kulaksanakan atau kubatalkan saja?
Akhirnya malam itu terpaksa gagal. Hingga pukul lima pagi aku masih belum berani melakukannya. Melihat Sari bak bidadari turun dari kahyangan, memang membuatku tergiur. Tapi ketika berhadapan dengannya nyaliku jadi ciut.
Esoknya rupanya Sari melapor pada suaminya. Dan aku ditegur Nasem.
"Ndut, kenapa tidak kamu laksanakan? Bukankah sudah kami katakan." ucapnya.
Aku cuma diam saja. Agar tidak kecewa lagi, malam ini tekadku akan kulipatgandakan untuk melakukannya.
Pukul 22.00 WITA, Nasem meninggalkan kami berdua di ruang tamu. Sejurus kemudian, "Ayo Mas Ndut kita tidur yuk," ucap Sari manja sembari meraih tanganku dan ditariknya ke kamar. Setelah mengunci pintu kamar, dia menyuruhku duduk di tepi ranjang dan jari-jarinya yang lentik mulai memijat pundakku. Aneh, setelah dipijat aku menjadi lebih rileks. Dia sorongkan wajahnya dekat sekali dengan wajahku dan tiba-tiba bibir kami sudah merapat dan saling menghisap. Lama juga kami berciuman dan juga saling memilin lidah sementara tangan kami saling membelai dan mengusap.
Kami masih duduk berhadapan. Lalu Sarilah yang mulai membuka semua pakaianku. Dia kecup leherku turun ke bawah ke dada dan ke puting dadaku. Sampai disini, dia menjulurkan lidahnya dan putingku dijilat-jilat. penisku langsung menegang, sangat keras dan semakin keras karena diremas-remas olehnya.
Singkat kata, kami pun sudah bertelanjang bulat dan aku pun segera menindih badannya yang kenyal dan padat. Karena ada sisa kegugupan, maka aku langsung coba memasukkan penisku ke dalam vaginanya.
"Tunggu, pelan-pelan saja Mas Ndut," bisiknya sambil mengelus kepala kemaluanku di depan lubangnya. Pelan-pelan sekali. Lalu tugasnya kuambil alih dan kulanjutkan menyentuh dan menggosokkan kepala penisku itu. Pelan dan pelan sekali. Terasa olehku lubangnya semakin basah dan licin. Tiba-tiba.. "Slepp.." masuklah penisku ke dalam sangkarnya.
Aku mulai menggenjot perlahan-lahan. Naik turun, naik turun. Sementara itu bibir kami berdua tetap bertaut. Saling kecup, saling hisap. Tangan Sari mengusap-usap punggungku terkadang turun ke bawah ke pantat dan jarinya mempermainkan lubang pantatku, geli campur enak. Tanganku sibuk mengelus kepalanya dan rambutnya. Semua kami lakukan dengan pelan dan lembut.
Setiap aku hampir sampai ke puncak, Sari selalu memelukku erat-erat sehingga aku tidak bisa bergerak. Tepatnya, kami berdua diam tak bergerak sambil saling peluk dan penisku tertanam dalam di kemaluannya. Setelah agak reda kembali aku memompa naik turun.
Selang beberapa saat, Sari ganti di atas. Rupanya dia amat menyenangi posisi ini. Ganti sekarang dia yang memeluk dan menciumiku sementara pantatnya bergoyang dan berputar dengan penisku tertancap di dalam kemaluannya. Semakin lama semakin semangat. Sampai akhirnya ia pun mengejang dan mulutnya berdesis-desis dan kepalanya bergoyang-goyang liar ke kiri dan ke kanan, kupeluk dia dan kutekan pantatnya sehingga sampailah ia pada puncak kepuasannya. Lemaslah tubuh Sari dan dia menciumi seluruh wajahku sambil mengucapkan, "Terima kasih ya Mas? Mas telah melakukan tugas dengan baik.. aku sungguh tidak menyangka Mas bisa membuatku melayang sampai ke langit yang ke-tujuh.. (ucapnya sambil mengecup bibirku, terus tangannya memegang penisku yang menurut dia jauh lebih besar dan panjang dari punya Nasem)".
Selesai tugasku maka aku pun membalikkan badannya dan ganti aku di atas. Kuangkat kedua kakinya dan kubelitkan di kedua pahaku lalu kumasukkan penisku dan kukocok perlahan-perlahan untuk makin lama makin cepat dan akhirnya menyemburlah air maniku ke dalam lubang vagina Sari. Sari memeluk tubuhku erat-erat dan kami pun berciuman lama. Sempat sekitar sepuluh menit kami diam tak bergerak dalam posisi aku di atas badannya dan tubuh kami tetap jadi satu bersambung dari bawah.
Tak terasa 'pekerjaan' yang kulaksanakan ini sudah menginjak malam ke dua belas.
"Mas Ndut, sebenarnya menurut perhitungan saya, haid saya sudah lewat 7 hari yang lalu," kata Sari pada suatu malam setelah kami kelelahan. Tapi Nasem masih belum yakin istrinya hamil. Aku dimintanya 'bersabar' barang sepuluh hari atau dua minggu lagi. Bersamaan dengan itu, ia mengirimkan uang belanja untuk istriku dan anak-anakku.
Hingga pada suatu hari, terhitung hampir sebulan aku di sana. Nasem membawa istrinya ke dokter ahli kandungan. Tak berapa lama mereka pun pulang dengan wajah yang cerah. Berhasil!
"Oh Ndut, istriku hamil!" katanya gembira.
Kiranya 'pekerjaanku' tak sia-sia. Kusarankan pada mereka untuk menjaga kandungan Sari, hingga kelak si jabang bayi lahir. Aku sendiri, sudah kangen pada keluargaku di kampung. Maklum, hampir sebulan aku meninggalkan mereka. Tapi aku berjanji kepada Nasem, bersedia diundang lagi seandainya hasilnya gagal. Nasem pun tak keberatan melepaskanku pulang. Kebetulan dua hari lagi ada kapal berangkat ke Surabaya. Sorenya mereka belanja oleh-oleh untuk keluargaku di rumah. Aduh bukan main senangnya hati mereka. Setelah itu aku pun berangkat naik kapal pulang ke kampung.
Singkat cerita, sesampainya di rumah kukatakan pada istriku bahwa aku diminta menyelesaikan bangunan rumahnya. Dan istriku percaya saja. Tapi dalam hati, aku merasa berdosa kepadanya.
Delapan bulan kemudian aku menerima surat dari Nasem bahwa 'anaknya' telah lahir, wanita, cantik lagi, dan diberinya nama Ratih. "Ah syukurlah," gumamku.
Begitulah yang terjadi. Rahasia ini masih kusimpan demi ketenangan keluargaku. Tapi satu hal yang tak dapat kupungkiri, bahwa darah dagingku pun terpisah di sana. Disatu sisi aku bangga dapat membahagiakan sahabatku dan membalas budinya. Tapi disisi lain soal akibat dosanya, kuserahkan kepada Yang Di Atas. Aku hanya dapat berucap, mohon ampun pada-Nya.
Mohon saran dan tanggapannya. Oh ya, khusus untuk cewek-cewek, segala status, segala usia, yang ingin kenalan, berbagi cerita atau pengalaman, langsung saja hubungi saya via e-mail.
TAMAT
Dalam suratnya, Nasem menceritakan pula tentang keadaan Hamid (samaran, sahabat kami pula) di Tewah. Katanya, ia juga kangen padaku.
Yah, sesungguhnya aku pun juga kangen pada mereka. Kami adalah tiga sahabat karib, yang dulu tak terpisahkan. Lahir di kampung yang sama, tahun yang sama pula. Tak heran orang kampung menjuluki "Three Brothers". Cuma bedanya, Nasem dan Hamid sukses di kariernya. Kini Nasem menjadi Kepala Cabang Dealer Mobil/Motor di Minahasa dan Hamid menjadi pedagang antar pulau dan tinggal di Tewah. Sedang aku tidak. Tak banyak yang bisa dilakukan anak petani macam aku ini.
Sayangnya, setelah 10 tahun menikahi gadis Minahasa, Nasem belum juga dikaruniai anak. Beda denganku yang harus pontang-panting menghidupi isteri dan keempat anakku. Kalau saja Nasem tidak membantu, mungkin aku sudah tidak sanggup. Itulah yang membuatku terharu. Meski sudah makmur dan terpisah oleh lautan, mereka masih memperhatikanku.
Kembali ke surat Nasem. Ada satu hal penting yang disampaikannya, yaitu minta bantuanku. Tanpa menjelaskan apa yang dimaksudkannya. Aku pun bingung, apa yang bisa kuperbuat untuk membantu orang sekaya Nasem?
Dengan uang yang dikirimkannya, aku pun berangkat memenuhi undangannya. Istriku harus tinggal, untuk menjaga rumah dan anak-anak yang harus sekolah. Kepadanya aku pamit untuk waktu barang satu dua minggu.
Lalu, setelah 5 hari 5 malam berlayar, aku pun sampai di tujuan. Di situ aku sudah dijemput oleh Nasem dan istrinya. Begitu kapal bersandar, mataku menangkap sepasang tuan dan nyonya melambai-lambaikan tangan. "Nduutt.., Genduutt..!!" Teriak mereka. Nasem masih tetap memanggil dengan julukanku dan bukan namaku. Dulu semasa kecil, aku memang paling gendut dibanding Nasem Dan Hamid.
Begitu turun dari kapal, kami saling berpelukan tanpa canggung. Kurasakan mereka memang rindu sekali padaku. Acara kangen-kangenan berlanjut sampai di rumah. Rumah Nasem besar, sedang dipugar dan mirip rumah pejabat. Apakah karena hal ini ia memanggilku ke sini? Entahlah. Praktis seharian kami tak menyinggung soal kedatanganku, karena keasyikan saling berkisah selama kami berpisah.
Maka pada malam kedua itulah, sehabis makan malam, Nasem dengan istrinya Sari memanggilku ke ruang tamu. Mulailah mereka membicarakan soal "bantuan" itu.
"Kira-kira apa yang bisa kubantu, apakah mengerjakan rumahmu ini?" tanyaku.
Kulirik, Nasem menggelengkan kepala.
"Begini Ndut, kamu kan tahu kami sudah 10 tahun menikah, tapi belum juga diberi momongan. Masalahnya, menurut dokter, aku ini memang mandul. Jadi kami sepakat untuk minta tolong kamu. Itu sebabnya kami mengundangmu datang kemari," tutur Nasem, panjang-lebar. Tapi aku masih bingung dengan ucapannya itu, hingga kuminta ia menjelaskan lagi.
"Jelasnya, kami ingin sekali punya anak walau seorang. Tapi kutahu pasti dari dokter bahwa aku tidak bisa membuahi istriku karena aku mandul. Maka kuminta bantuanmu untuk menggantikan diriku agar kami bisa punya anak," tuturnya lagi dengan jelas.
"Hah.. apa? Aku harus menggantikan dirimu agar bisa memberikan anak kepadamu," tanyaku, penasaran.
"Yah.. begitulah maksudku," jawabnya, membuat aku kian tak mengerti.
"Lalu dengan cara bagaimana aku menggantikanmu? Kamu kan tahu bahwa aku ini bukan 'Deddy Coubuzier' atau dukun. Apakah aku bisa melaksanakan permintaanmu itu Sem?" ucapku.
"Ah kamu ini memang nggak tahu atau pura-pura nggak tahu. Begini, kamu ini memang bukan seorang dukun dan permintaanku ini tidak ada kaitannya dengan perdukunan. Yang kuminta adalah, kesediaanmu menggantikan diriku sebagai suami dari istriku, untuk membuahi rahim istriku agar kami bisa punya anak. Sudah? Jelas tidak?" ucap Nasem merinci, dan nampak agak kesal juga melihat kebodohanku.
"Oh begitu maksudmu. Tapi benarkah ucapanmu itu? Dan apakah Sari menyetujuinya?" tanyaku meyakinkan, seraya memberi pertimbangan agar Nasem mengadopsi anak saja.
Menurut mereka, semula memang berniat untuk mengadopsi anak.
"Tapi sebaik-baiknya mengadopsi anak, masih lebih baik punya anak dari rahim istriku sendiri. Dan ini kalau bisa.. ya kan sayang?" ucap Nasem.
"Ya Mas Ndut, kami sudah berunding sebelumnya. Dan demi keinginan kami, aku rela menyerahkan tubuhku untuk dibuahi Mas Ndut.." ucap Sari pelan.
Kini aku paham maksud mereka. Tapi aku tak segera menjawab, mendadak terpampang buah simalakama di mataku. Bila kuterima, ah.. itu berarti aku harus melanggar pagar ayu. Apalagi ini istri sahabat sendiri. Dan bila kutolak, Nasem pasti kecewa. Itu yang pertama. Yang kedua, aku terlanjur datang jauh-jauh dari Jawa. Dan ketiga mengingat budi dan jasanya yang kuterima selama ini, kapan lagi aku bisa membalasnya.
Tapi Nasem terus mendesakku.
"Yah.. bagaimana ini ya. Sem, kuterima atau tidak permintaanmu ini?" kataku.
"Sudahlah Ndut, kuharap kamu bersedia membantuku. Nggak usah risau, kami pun tak ada perasaan apa-apa atas bantuanmu," ucap Nasem meyakinkan.
Aku pun tanpa sadar berucap, "Yah baiklah. Tapi bagaimana nanti kalau gagal?" tanyaku.
"Seandainya gagal, itu bukan kesalahanmu. Nanti kami akan senantiasa berdoa semoga keinginan kami ini dikabulkan," ucap Nasem dengan arif.
Selanjutnya dengan kesepakatan dan restu bersama, aku diminta untuk memulai malam itu juga. Begitu mendengar kesediaanku mereka permisi hendak mempersiapkan kamar tengah. Nasem sendiri nampaknya pindah ke kamar depan. Bantal dan perlengkapan tidur lainnya dibawanya ke depan.
Tepat pukul 22:00 WITA, aku dipersilakan Sari masuk ke kamar tengah yang sudah bersih, indah dan harum. Terasa berat kakiku melangkah, hingga Nasem dan Sari membimbingku masuk. Habis itu, Nasem pun keluar, meninggalkan aku dan Sari berdua di kamar.
"Sari, apakah kamu yakin aku bakal bisa memberi anak nantinya..?" tanyaku.
"Mas Ndut, secara pribadi aku yakin kamu bakal bisa memberi anak untukku nantinya." ucapnya manja.
"Aku tidak tega tubuhku yang kotor ini nantinya akan 'mengobok-obok' tubuhmu yang mulus itu."
"Mas Ndut, aku kan sudah bilang ini demi keinginan kami berdua. Jadi tubuhku yang mulus ini kuserahkan padamu Mas. Ayo dekatlah kemari Mas Ndut. Tak usah malu-malu, aku siap bertempur Mas.." ucapnya lagi sambil menarik tanganku ke pembaringan.
Sayup-sayup kudengar pintu jendela depan ditutup dan dikunci.
"Lho siapa yang menutup pintu dan jendela di luar sana itu Sar?" tanyaku, sembari duduk di bibir ranjang.
"Oh itu pasti Mas Nasem sendiri kok Mas Ndut," jawabnya, seraya menjelaskan bahwa 2 pembantunya terpaksa dipulangkan agar rencana ini berjalan mulus.
"Oh begitu!" ucapku.
"Mas Ndut aku sudah nggak tahan nich?" ucapnya sambil membuka seluruh pakaian yang melekat di tubuhnya yang mulus itu. Tubuhnya yang mulus dengan susunya yang begitu montok dan vaginanya yang menantang. Panas dingin aku memandangnya. Lutut ini gemetar dan tubuhku meriang bak kena setrum listrik 1000 watt. Aku yang biasa melihat istriku bugil, kini jadi lain.
Di rumah aku biasa tidur dengan beralaskan tikar. Kini aku berhadapan dengan ranjang mewah beraroma wangi, plus tubuh mulus tergolek di atasnya. Tapi badanku terus menggigil seperti terjangkit malaria berat. Eh, Sari tiba-tiba bangun menghampiriku dan melepaskan seluruh pakaianku yang sejak tadi belum kubuka. Aku cuma terbengong-bengong saja. Lalu..
"Sekarang.. coba Mas Ndut berbaring.." ucapnya sambil mendorong tubuh telanjangku. Aku menurut saja. Penisku segera menegang ketika merasakan tangan lembut Sari mulai beraksi.
"Wah.. wahh.. besar sekali penismu, Mas Ndut." tangan Sari segera mengusap-usap penis yang telah mengeras tersebut. Segera saja penisku yang sudah berdenyut-denyut itu masuk ke mulut Sari. Ia segera menjilati penisku itu dengan penuh semangat. Kepala penisku dihisapnya keras-keras, hingga membuatku merintih keenakan.
"Ahh.. ahh.. ohh.." aku tanpa sadar merintih merasakan nikmat sesaat. Menyadari keringatku yang mengucur dengan deras sehingga menimbulkan bau badanku yang kurang sedap, buru-buru aku mendorong kepala Sari yang masih mengulum penisku itu untuk pamit mau mandi dulu. Lalu, kuguyur badanku dengan segala macam sabun dan parfum yang ada di situ kugosokkan agar badanku harum. Tiga kran yang ada di situ kubuka semua dan kurasakan mana yang berbau sedap, kupakai untuk menyegarkan badan. Bukankah sebentar lagi aku mesti melayani sang putri bak bidadari?! Mungkin sudah terlalu lama aku di kamar mandi, terdengar Sari mengetuknya. Begitu pintu kubuka, ah. Sari berdiri dengan tubuh montoknya. Ohh.. Seandainya yang pamer aurat di depanku itu istriku aku tak akan menanti lama-lama pasti langsung kudekap dia. Tapi dia adalah istri sahabatku."Malaria"-ku yang sempat sembuh waktu mandi tadi, kini kumat lagi. Cepat-cepat aku masuk lagi dan menguncinya. Di dalam kamar mandi aku bimbang bagaimana sebaiknya, kulaksanakan atau kubatalkan saja?
Akhirnya malam itu terpaksa gagal. Hingga pukul lima pagi aku masih belum berani melakukannya. Melihat Sari bak bidadari turun dari kahyangan, memang membuatku tergiur. Tapi ketika berhadapan dengannya nyaliku jadi ciut.
Esoknya rupanya Sari melapor pada suaminya. Dan aku ditegur Nasem.
"Ndut, kenapa tidak kamu laksanakan? Bukankah sudah kami katakan." ucapnya.
Aku cuma diam saja. Agar tidak kecewa lagi, malam ini tekadku akan kulipatgandakan untuk melakukannya.
Pukul 22.00 WITA, Nasem meninggalkan kami berdua di ruang tamu. Sejurus kemudian, "Ayo Mas Ndut kita tidur yuk," ucap Sari manja sembari meraih tanganku dan ditariknya ke kamar. Setelah mengunci pintu kamar, dia menyuruhku duduk di tepi ranjang dan jari-jarinya yang lentik mulai memijat pundakku. Aneh, setelah dipijat aku menjadi lebih rileks. Dia sorongkan wajahnya dekat sekali dengan wajahku dan tiba-tiba bibir kami sudah merapat dan saling menghisap. Lama juga kami berciuman dan juga saling memilin lidah sementara tangan kami saling membelai dan mengusap.
Kami masih duduk berhadapan. Lalu Sarilah yang mulai membuka semua pakaianku. Dia kecup leherku turun ke bawah ke dada dan ke puting dadaku. Sampai disini, dia menjulurkan lidahnya dan putingku dijilat-jilat. penisku langsung menegang, sangat keras dan semakin keras karena diremas-remas olehnya.
Singkat kata, kami pun sudah bertelanjang bulat dan aku pun segera menindih badannya yang kenyal dan padat. Karena ada sisa kegugupan, maka aku langsung coba memasukkan penisku ke dalam vaginanya.
"Tunggu, pelan-pelan saja Mas Ndut," bisiknya sambil mengelus kepala kemaluanku di depan lubangnya. Pelan-pelan sekali. Lalu tugasnya kuambil alih dan kulanjutkan menyentuh dan menggosokkan kepala penisku itu. Pelan dan pelan sekali. Terasa olehku lubangnya semakin basah dan licin. Tiba-tiba.. "Slepp.." masuklah penisku ke dalam sangkarnya.
Aku mulai menggenjot perlahan-lahan. Naik turun, naik turun. Sementara itu bibir kami berdua tetap bertaut. Saling kecup, saling hisap. Tangan Sari mengusap-usap punggungku terkadang turun ke bawah ke pantat dan jarinya mempermainkan lubang pantatku, geli campur enak. Tanganku sibuk mengelus kepalanya dan rambutnya. Semua kami lakukan dengan pelan dan lembut.
Setiap aku hampir sampai ke puncak, Sari selalu memelukku erat-erat sehingga aku tidak bisa bergerak. Tepatnya, kami berdua diam tak bergerak sambil saling peluk dan penisku tertanam dalam di kemaluannya. Setelah agak reda kembali aku memompa naik turun.
Selang beberapa saat, Sari ganti di atas. Rupanya dia amat menyenangi posisi ini. Ganti sekarang dia yang memeluk dan menciumiku sementara pantatnya bergoyang dan berputar dengan penisku tertancap di dalam kemaluannya. Semakin lama semakin semangat. Sampai akhirnya ia pun mengejang dan mulutnya berdesis-desis dan kepalanya bergoyang-goyang liar ke kiri dan ke kanan, kupeluk dia dan kutekan pantatnya sehingga sampailah ia pada puncak kepuasannya. Lemaslah tubuh Sari dan dia menciumi seluruh wajahku sambil mengucapkan, "Terima kasih ya Mas? Mas telah melakukan tugas dengan baik.. aku sungguh tidak menyangka Mas bisa membuatku melayang sampai ke langit yang ke-tujuh.. (ucapnya sambil mengecup bibirku, terus tangannya memegang penisku yang menurut dia jauh lebih besar dan panjang dari punya Nasem)".
Selesai tugasku maka aku pun membalikkan badannya dan ganti aku di atas. Kuangkat kedua kakinya dan kubelitkan di kedua pahaku lalu kumasukkan penisku dan kukocok perlahan-perlahan untuk makin lama makin cepat dan akhirnya menyemburlah air maniku ke dalam lubang vagina Sari. Sari memeluk tubuhku erat-erat dan kami pun berciuman lama. Sempat sekitar sepuluh menit kami diam tak bergerak dalam posisi aku di atas badannya dan tubuh kami tetap jadi satu bersambung dari bawah.
Tak terasa 'pekerjaan' yang kulaksanakan ini sudah menginjak malam ke dua belas.
"Mas Ndut, sebenarnya menurut perhitungan saya, haid saya sudah lewat 7 hari yang lalu," kata Sari pada suatu malam setelah kami kelelahan. Tapi Nasem masih belum yakin istrinya hamil. Aku dimintanya 'bersabar' barang sepuluh hari atau dua minggu lagi. Bersamaan dengan itu, ia mengirimkan uang belanja untuk istriku dan anak-anakku.
Hingga pada suatu hari, terhitung hampir sebulan aku di sana. Nasem membawa istrinya ke dokter ahli kandungan. Tak berapa lama mereka pun pulang dengan wajah yang cerah. Berhasil!
"Oh Ndut, istriku hamil!" katanya gembira.
Kiranya 'pekerjaanku' tak sia-sia. Kusarankan pada mereka untuk menjaga kandungan Sari, hingga kelak si jabang bayi lahir. Aku sendiri, sudah kangen pada keluargaku di kampung. Maklum, hampir sebulan aku meninggalkan mereka. Tapi aku berjanji kepada Nasem, bersedia diundang lagi seandainya hasilnya gagal. Nasem pun tak keberatan melepaskanku pulang. Kebetulan dua hari lagi ada kapal berangkat ke Surabaya. Sorenya mereka belanja oleh-oleh untuk keluargaku di rumah. Aduh bukan main senangnya hati mereka. Setelah itu aku pun berangkat naik kapal pulang ke kampung.
Singkat cerita, sesampainya di rumah kukatakan pada istriku bahwa aku diminta menyelesaikan bangunan rumahnya. Dan istriku percaya saja. Tapi dalam hati, aku merasa berdosa kepadanya.
Delapan bulan kemudian aku menerima surat dari Nasem bahwa 'anaknya' telah lahir, wanita, cantik lagi, dan diberinya nama Ratih. "Ah syukurlah," gumamku.
Begitulah yang terjadi. Rahasia ini masih kusimpan demi ketenangan keluargaku. Tapi satu hal yang tak dapat kupungkiri, bahwa darah dagingku pun terpisah di sana. Disatu sisi aku bangga dapat membahagiakan sahabatku dan membalas budinya. Tapi disisi lain soal akibat dosanya, kuserahkan kepada Yang Di Atas. Aku hanya dapat berucap, mohon ampun pada-Nya.
Mohon saran dan tanggapannya. Oh ya, khusus untuk cewek-cewek, segala status, segala usia, yang ingin kenalan, berbagi cerita atau pengalaman, langsung saja hubungi saya via e-mail.
TAMAT
Demi kepuasan
Entah apa yang membuatku tergila-gila kedalam permainan seks Tommy. Hampir setiap langkah aku selalu ingin berada di dekatnya. Bisikan, ciuman, rabaan, dan keperkasaannya di ranjang, selalu membuatku ingin terus mengulanginya, sampai diriku benar-benar puas, bermandikan keringat dan melayang-layang diatas segala kenikmatan duniawi.
Aku sendiri heran, mengapa hanya dengan Tommy saja diriku bisa terpuaskan. Terus terang sebagai wanita berusia 24 tahun, tingkat kebutuhan seksualku terbilang tinggi. Jika sampai dua hari saja aku tidak melakukan hubungan seks, aku seperti orang linglung, pucat, dan tanpa gairah.
Kalau sudah begini, biasanya aku selalu melakukan masturbasi dengan alat bantu penis buatan yang terbuat dari karet yang dapat bergerak-gerak. Meski punya nafsu gila-gilaan, aku ogah disebut maniak seks.
Firman, suamiku sendiri, tak mampu melayani kehausanku tersebut. Dia hanya mampu bertahan hingga 'ronde' kedua saja, setelah itu batang penisnya sudah tidak akan mampu lagi untuk 'bertarung', sementara itu aku masih mengharapkan permainan seks ini berlanjut ke 'ronde' empat atau lima, untuk mencapai puncak orgasme yang kuidam-idamkan.
Maka, sejak hubunganku dengan suami tidak harmonis, kugunakan saja kesempatan ini untuk 'melanglang buana'. Mencari jati diri dengan melampiaskan seluruh keinginan seksualku. Sebenarnya aku tidak ingin melakukan semua ini, karena buah perkawinan kami telah menghasilkan seorang putri. Namun, aku telanjur tergelincir ke dalam permainan seks for fun dengan seorang pria yang usianya tak jauh berbeda denganku.
Dialah Tommy, salah seorang kenalanku. Mulanya hubungan kami biasa-biasa saja. Namun gaya bicaranya yang 'khas' sangat mengundang simpatiku. Apalagi senyumnya yang mempesona. Sungguh, Tommy sangat mengundang nafsu birahiku. Lama-kelamaan aku semakin mengaguminya. Tanpa sadar aku telah terseret kedalam pesona birahinya.
Cerita itu berawal dari kondisi di mana aku sedang dililit masalah di kantorku. Aku menelepon Tommy untuk meminta pertolongannya. Dengan segala kebaikannya akhirnya dia bersedia datang dan membantuku mencari jalan keluar terhadap masalah-masalah yang sedang melilitku, setelah persoalannya beres, dia menawarkan kepadaku untuk diantarkan pulang.
Entah setan mana yang menggoda dan merasuki jiwaku, tiba-tiba saja aku tergoda dengan penampilan Tommy yang sederhana. Kulitnya yang coklat pekat tiba-tiba saja mengundang gairahku. Saat-saat seperti ini tentu aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk berduaan dengannya.
Ketika kuajukan tawaran untuk bermalam di sebuah hotel, ternyata dia tidak menolak. Di sinilah awal perselingkuhanku dengannya, di hotel PIN kamar 214. Sesaat setelah masuk kamar, kami berdiam saja. Aku masih menunggunya untuk memulai permainan. Karena dia masih malu-malu, akhirnya aku menggodanya dengan menyuruhnya membuka resluiting bajuku. Selanjutnya kurebahkan tubuhku kepangkuannya, dan kucium lembut jari-jemarinya tangannya. Aroma tubuhnya spontan membuat gairahku bergelora.
Mengetahui aku mulai beraksi, Tommy bereaksi dengan membalas kecupanku, dengan memberikan sentuhan-sentuhan lembut di dadaku, sekali-kali dia juga mengecup leherku. Tommy saat itu masih mengenakan pakaian lengkap, segera kubuka ritsluiting celananya. Serentak dengan itu tanganku meraih batang penis yang tersembunyi dibalik celana dalamnya dan kuraih aku melumatnya batangan penis Tommy dengan mulutku.
Tommy pun tidak mau kalah, semakin waktu berpacu, semakin jantung kami berpacu kencang, tetes-tetes keringat kenikmatan mulai mengucur dari tubuh kami berdua, kunikmati sepenuhnya kelembutan kecupan Tommy yang semakin menjarah ke seluruh bagian-bagian tubuhku, hingga tak tersisa di bagian-bagian sensitif yang tersembunyi sekalipun.
Aku bagai diawang-awang. Tubuhku yang kini telah bugil seluruhnya dilahapnya dengan habis, hingga aku merasa sangat puas. Bahkan malam itu aku mencapai puncak orgasme sampai empat kali. 'Malam pertama'ku dengan Tommy tentu saja sangat mengesankan bagiku. Setelah itu aku, pikiranku seolah tak pernah lepas dari bayangan keperkasaanya yang telah merontokkan seluruh persendianku. Hingga akhirnya semua kegiatan menjadi kacau. Tanpa penyesalan, kucampakkan begitu saja lelaki yang tak pernah memberiku kepuasan puncak ini.
Pada minggu berikutnya, kutelepon Tommy untuk menjemputku pergi. Hari itu aku dan Tommy kembali 'bertarung sengit' di sebuah villa di Trawas, Mojokerto. Di kamar, aku yang berbusana seksi, ternyata langsung menarik perhatian Tommy, dia langsung mendekapku dengan erat, serta dengan cepat menanggalkan seluruh busana yang kukenakan sampai tak tersisa di tubuhku. Tanpa sepatah katapun, dia sudah langsung 'menyantapku' dengan panasnya.
Sebenarnya aku bermaksud melepaskan diri untuk menggodanya, tetapi lumatan bibirnya membuatku menggeliat hebat. Aku dibuatnya tidak berdaya dan pasrah menerima kenikmatan-kenikmatan yang diberikan dari tubuhnya.
Saat berbalik, aku menindih tubuhnya, serta membalas lumatan-lumatan bibirnya. Kini giliranku untuk mempermainkan seluruh bagian-bagian tubuh Tommy yang sensitif, terutama di bagian batang penis Tommy yang begitu kugila-gilai dengan menggunakan lidahku. Aroma tubuh Tommy semakin membuat daya fantasiku mengembang dan mengobrakan seluruh gairah-gairah yang ada di dalam tubuhku.
Kuambil sebotol minuman dan kutuangkan perlahan-lahan di tubuh Tommy, lalu kuhisap kembali hingga kering. Tommy menyeringai, tangannya meremas-remas payudaraku, semakin kencang remasan-remasan tangannya, semakin kencang juga kulumat bibirnya.
Fantasi demi fantasi terus berkembang, begitu juga variasi demi variasi posisi kami lakukan untuk mencari kenikmatan-kenikmatan seks yang maksimal. Hal tersebut membuat aku dan Tommy seperti kerasukan, sehingga kami tidak bisa menghitung lagi berapa kali kami telah mencapai puncak-puncak orgasme malam itu, entah tujuh atau delapan kali aku mencapai klimaks, sampai akhirnya kami lemas setelah tubuh kami tidak punya kekuatan lagi untuk menopang berat tubuh kami masing-masing.
Kegilaanku atas permainan seks Tommy semakin membuatku tidak tahu waktu. Mamaku sangat jengkel atas kelakuanku ini, yang melupakan pekerjaan dan mengurus anak kami. Saking jengkelnya mamaku akhirnya mengusirku dari rumah. Setelah kejadian itu, aku memutuskan untuk tinggal serumah dengan Tommy. Disaat begini, hampir setiap hari waktuku tidak pernah beranjak dari kamar.
Dengan sabar kutunggu Tommy hingga pulang kerja, dan kulayani Tommy bagaikan suamiku. Kalau sebelumnya aku tidak pernah mencuci celana dalam suamiku, kini aku rela mencuci celana dalamnya. Namun akhirnya hubunganku dengan Tommy menjadi retak, lantaran aku tidak mampu mengatasi rasa kecemburuanku yang berlebihan. Sampai-sampai aku tidak rela Tommy keluar malam meskipun untuk kerja.
Setiap Tommy lembur kerja, pikiranku selalu gelisah. Aku sering marah-marah, jika Tommy terlambat pulang. Maklum, Tommy orangnya mudah terpengaruh. Dan kutahu dia banyak mendapat godaan dari teman-teman wanita sekerjanya.
Semakin kusayang akhirnya aku lepas kontrol untuk tidak dapat menahan amarahku. Kekesalanku ini membuat Tommy menjadi marah besar, dan akhirnya dia memutuskan untuk berpisah dariku. Meskipun telah diputuskannya, sekali-kali aku masih meminta 'jatah' kepadanya. Sejak itu aku sering bergonta-ganti pacar untuk meredam gairah seksualku, aku akan meninggalkan begitu saja pacar yang kuanggap tidak 'macho' di ranjang, dan akan mencari pacar baru yang kuharapkan mempunyai kemampuan setara dengan Tommy atau bahkan kuharapkan lebih hebat dari Tommy. Hingga kini meskipun aku telah bergandengan dengan pacarku, jika Tommy menghubungiku maka aku sampai saat ini tetap tak kuasa untuk menolak untuk bermain cinta dengannya, Tommy bagiku masih merupakan sosok pria yang benar-benar luar biasa.
TAMAT
Aku sendiri heran, mengapa hanya dengan Tommy saja diriku bisa terpuaskan. Terus terang sebagai wanita berusia 24 tahun, tingkat kebutuhan seksualku terbilang tinggi. Jika sampai dua hari saja aku tidak melakukan hubungan seks, aku seperti orang linglung, pucat, dan tanpa gairah.
Kalau sudah begini, biasanya aku selalu melakukan masturbasi dengan alat bantu penis buatan yang terbuat dari karet yang dapat bergerak-gerak. Meski punya nafsu gila-gilaan, aku ogah disebut maniak seks.
Firman, suamiku sendiri, tak mampu melayani kehausanku tersebut. Dia hanya mampu bertahan hingga 'ronde' kedua saja, setelah itu batang penisnya sudah tidak akan mampu lagi untuk 'bertarung', sementara itu aku masih mengharapkan permainan seks ini berlanjut ke 'ronde' empat atau lima, untuk mencapai puncak orgasme yang kuidam-idamkan.
Maka, sejak hubunganku dengan suami tidak harmonis, kugunakan saja kesempatan ini untuk 'melanglang buana'. Mencari jati diri dengan melampiaskan seluruh keinginan seksualku. Sebenarnya aku tidak ingin melakukan semua ini, karena buah perkawinan kami telah menghasilkan seorang putri. Namun, aku telanjur tergelincir ke dalam permainan seks for fun dengan seorang pria yang usianya tak jauh berbeda denganku.
Dialah Tommy, salah seorang kenalanku. Mulanya hubungan kami biasa-biasa saja. Namun gaya bicaranya yang 'khas' sangat mengundang simpatiku. Apalagi senyumnya yang mempesona. Sungguh, Tommy sangat mengundang nafsu birahiku. Lama-kelamaan aku semakin mengaguminya. Tanpa sadar aku telah terseret kedalam pesona birahinya.
Cerita itu berawal dari kondisi di mana aku sedang dililit masalah di kantorku. Aku menelepon Tommy untuk meminta pertolongannya. Dengan segala kebaikannya akhirnya dia bersedia datang dan membantuku mencari jalan keluar terhadap masalah-masalah yang sedang melilitku, setelah persoalannya beres, dia menawarkan kepadaku untuk diantarkan pulang.
Entah setan mana yang menggoda dan merasuki jiwaku, tiba-tiba saja aku tergoda dengan penampilan Tommy yang sederhana. Kulitnya yang coklat pekat tiba-tiba saja mengundang gairahku. Saat-saat seperti ini tentu aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk berduaan dengannya.
Ketika kuajukan tawaran untuk bermalam di sebuah hotel, ternyata dia tidak menolak. Di sinilah awal perselingkuhanku dengannya, di hotel PIN kamar 214. Sesaat setelah masuk kamar, kami berdiam saja. Aku masih menunggunya untuk memulai permainan. Karena dia masih malu-malu, akhirnya aku menggodanya dengan menyuruhnya membuka resluiting bajuku. Selanjutnya kurebahkan tubuhku kepangkuannya, dan kucium lembut jari-jemarinya tangannya. Aroma tubuhnya spontan membuat gairahku bergelora.
Mengetahui aku mulai beraksi, Tommy bereaksi dengan membalas kecupanku, dengan memberikan sentuhan-sentuhan lembut di dadaku, sekali-kali dia juga mengecup leherku. Tommy saat itu masih mengenakan pakaian lengkap, segera kubuka ritsluiting celananya. Serentak dengan itu tanganku meraih batang penis yang tersembunyi dibalik celana dalamnya dan kuraih aku melumatnya batangan penis Tommy dengan mulutku.
Tommy pun tidak mau kalah, semakin waktu berpacu, semakin jantung kami berpacu kencang, tetes-tetes keringat kenikmatan mulai mengucur dari tubuh kami berdua, kunikmati sepenuhnya kelembutan kecupan Tommy yang semakin menjarah ke seluruh bagian-bagian tubuhku, hingga tak tersisa di bagian-bagian sensitif yang tersembunyi sekalipun.
Aku bagai diawang-awang. Tubuhku yang kini telah bugil seluruhnya dilahapnya dengan habis, hingga aku merasa sangat puas. Bahkan malam itu aku mencapai puncak orgasme sampai empat kali. 'Malam pertama'ku dengan Tommy tentu saja sangat mengesankan bagiku. Setelah itu aku, pikiranku seolah tak pernah lepas dari bayangan keperkasaanya yang telah merontokkan seluruh persendianku. Hingga akhirnya semua kegiatan menjadi kacau. Tanpa penyesalan, kucampakkan begitu saja lelaki yang tak pernah memberiku kepuasan puncak ini.
Pada minggu berikutnya, kutelepon Tommy untuk menjemputku pergi. Hari itu aku dan Tommy kembali 'bertarung sengit' di sebuah villa di Trawas, Mojokerto. Di kamar, aku yang berbusana seksi, ternyata langsung menarik perhatian Tommy, dia langsung mendekapku dengan erat, serta dengan cepat menanggalkan seluruh busana yang kukenakan sampai tak tersisa di tubuhku. Tanpa sepatah katapun, dia sudah langsung 'menyantapku' dengan panasnya.
Sebenarnya aku bermaksud melepaskan diri untuk menggodanya, tetapi lumatan bibirnya membuatku menggeliat hebat. Aku dibuatnya tidak berdaya dan pasrah menerima kenikmatan-kenikmatan yang diberikan dari tubuhnya.
Saat berbalik, aku menindih tubuhnya, serta membalas lumatan-lumatan bibirnya. Kini giliranku untuk mempermainkan seluruh bagian-bagian tubuh Tommy yang sensitif, terutama di bagian batang penis Tommy yang begitu kugila-gilai dengan menggunakan lidahku. Aroma tubuh Tommy semakin membuat daya fantasiku mengembang dan mengobrakan seluruh gairah-gairah yang ada di dalam tubuhku.
Kuambil sebotol minuman dan kutuangkan perlahan-lahan di tubuh Tommy, lalu kuhisap kembali hingga kering. Tommy menyeringai, tangannya meremas-remas payudaraku, semakin kencang remasan-remasan tangannya, semakin kencang juga kulumat bibirnya.
Fantasi demi fantasi terus berkembang, begitu juga variasi demi variasi posisi kami lakukan untuk mencari kenikmatan-kenikmatan seks yang maksimal. Hal tersebut membuat aku dan Tommy seperti kerasukan, sehingga kami tidak bisa menghitung lagi berapa kali kami telah mencapai puncak-puncak orgasme malam itu, entah tujuh atau delapan kali aku mencapai klimaks, sampai akhirnya kami lemas setelah tubuh kami tidak punya kekuatan lagi untuk menopang berat tubuh kami masing-masing.
Kegilaanku atas permainan seks Tommy semakin membuatku tidak tahu waktu. Mamaku sangat jengkel atas kelakuanku ini, yang melupakan pekerjaan dan mengurus anak kami. Saking jengkelnya mamaku akhirnya mengusirku dari rumah. Setelah kejadian itu, aku memutuskan untuk tinggal serumah dengan Tommy. Disaat begini, hampir setiap hari waktuku tidak pernah beranjak dari kamar.
Dengan sabar kutunggu Tommy hingga pulang kerja, dan kulayani Tommy bagaikan suamiku. Kalau sebelumnya aku tidak pernah mencuci celana dalam suamiku, kini aku rela mencuci celana dalamnya. Namun akhirnya hubunganku dengan Tommy menjadi retak, lantaran aku tidak mampu mengatasi rasa kecemburuanku yang berlebihan. Sampai-sampai aku tidak rela Tommy keluar malam meskipun untuk kerja.
Setiap Tommy lembur kerja, pikiranku selalu gelisah. Aku sering marah-marah, jika Tommy terlambat pulang. Maklum, Tommy orangnya mudah terpengaruh. Dan kutahu dia banyak mendapat godaan dari teman-teman wanita sekerjanya.
Semakin kusayang akhirnya aku lepas kontrol untuk tidak dapat menahan amarahku. Kekesalanku ini membuat Tommy menjadi marah besar, dan akhirnya dia memutuskan untuk berpisah dariku. Meskipun telah diputuskannya, sekali-kali aku masih meminta 'jatah' kepadanya. Sejak itu aku sering bergonta-ganti pacar untuk meredam gairah seksualku, aku akan meninggalkan begitu saja pacar yang kuanggap tidak 'macho' di ranjang, dan akan mencari pacar baru yang kuharapkan mempunyai kemampuan setara dengan Tommy atau bahkan kuharapkan lebih hebat dari Tommy. Hingga kini meskipun aku telah bergandengan dengan pacarku, jika Tommy menghubungiku maka aku sampai saat ini tetap tak kuasa untuk menolak untuk bermain cinta dengannya, Tommy bagiku masih merupakan sosok pria yang benar-benar luar biasa.
TAMAT
Della yang ternyata liar - 1
Perkenalanku dengan Della terjadi pada sekitar tahun 1998. Della saat itu berusia 29 tahun, telah bersuami dengan 2 orang anak, tinggi 160 cm, 47 kg, bodi sangat sintal dan dada berukuran 34B.
Sebagai seorang wanita keraton berdarah biru, Della adalah wanita yang lugu dalam hubungan sex namun dia adalah seorang wanita tipe penggoda dan berani dalam berpakaian. Tidak jarang dia ke kantor dengan menggunakan rok sangat mini hingga memperlihatkan bentuk kakinya yang indah dan jarang mengenakan BH. Hal ini aku ketahui dari ceritanya sendiri. Pada awalnya kami bersahabat akrab tanpa orientasi berhubungan sex. Dia punya seorang pacar selain suaminya. Sering kami membicarakan teknik-teknik bagaimana dia melakukan hubungan sex dengan sang pacar yang aku nilai masih konvensional.
Beberapa kali kami pergi ke cafe-cafe sepulang kantor (kantor kami berlainan) sekedar melepas penat dan menunggu macet. Setiap kali mengunjungi cafe, mata para lelaki pada umumnya menoleh dan tidak sedikit yang berusaha untuk berkenalan. Beberapa di antaranya akhirnya memang dapat berkenalan. Aku tidak pernah melarang atau marah akan hal itu, malah aku bangga bahwa ternyata aku tidak salah memilih teman wanita untuk diajak jalan bersama.
Kami mulai sering pergi ke diskotek sampai pulang pagi, kadang aku jemput dia ke rumahnya, dengan ijin sang suami tentunya. Pernah kami pergi bertiga pergi ke diskotek dengan suaminya, lalu Della dengan entengnya mencari seorang wanita di diskotek dan menyuruh wanita itu menemani suaminya, sedangkan Della berdua dengan aku di pojok lain diskotek itu.
Pada pertengahan Agustus 99, hari Jumat siang aku telepon dia..
"Del.., ntar malam kita jalan yuk.." ajakku.
"Siapa takut, jemput di rumah ya.. Jam 10.." katanya.
"H.. (suaminya) gimana.. Apa kita ajak saja..?" tanyaku.
"Gak usah.. Biar kita bebas di sana.." katanya.
"Eh.. Boleh order nggak?"
"Apa?"
"Lu pakai celana panjang ketat loreng itu ya, terus atasnya kemeja satin longgar dan hmm.. Jangan pakai BH ya.."
"pakai celana dalam nggak nih.. He he he.." ujarnya
"Terserah.. Kalau berani.."
"Wah banyak orderannya ya.. OK dah.. See you at 10 tonight.. Bye.." langsung telepon ditutupnya.
Malamnya Della telah siap. Dia tampak cantik dan sexy sekali dengan kemeja satin tipis tanpa lengan warna merah dengan bagian bawah diikat di perutnya hingga terlihat putingnya tercetak jelas di dadanya menonjol kencang, siapa pun yang melihat, pasti tahu bahwa dia tidak pakai BH apalagi dengan 2 kancing atasnya dibiarkan terbuka.
Surprise, ternyata dia pakai rok sangat mini potongan pinggul, hanya 10 cm dari selangkangannya dengan bahan sutra berkibar-kibar karena bawahan yang lebar hingga samar-samar terlihat bulatan pantatnya yang polos tanpa garis CD.
"Lu pakai CD nggak?" tanya Della padaku di perjalanan.
"Ya pakai dong, kalo nggak kan nanti keliatan menggantung" ujarku.
"Gak akan nggantung kalo ngaceng keras kan? Itu pun kalo bisa ngaceng lho, ha ha ha.." kata Della sambil mengusap penisku dari luar celana. Serr, terasa ada yang bergejolak di bagian bawah perutku. Untuk pertama kalinya dia meraba penisku selama persahabatan kami hampir 1 tahun.
"Emangnya lu sanggup bikin gua ngaceng terus di sana..?" aku balik bertanya.
"Heh.. Liat aja nanti, kalau aku nggak bisa, ntar aku minta bantuan cewe lain.." katanya enteng.
"OK, kalau perlu gua buka nanti" ujarku perlahan.
Selama ini memang aku belum pernah menunjukkan keinginan atau mengajak dia untuk berhubungan sex walaupun sering aku terangsang bila mendengar cerita-cerita dia atau pada saat saat kami pergi bersama dengan pakaiannya yang sexy dan agak terbuka.
Setiba di tujuan sekitar pukul 22.30, tempat parkir yang biasa aku tempati di depan pintu utama belum penuh. Petugas valet langgananku seperti biasa sudah menunggu, tapi Della minta agar kami parkir sendiri saja sehingga aku terpaksa kembali memutar dan mengambil tempat di samping gedung, lajur parkir ketiga dari pintu masuk samping.
"Lho kok nggak berani?" celetuk Della.
"Apanya nggak berani?" tanyaku heran.
"Berani nggak lepas CD-nya, makanya gua minta lu parkir sendiri" tantangnya.
Akhirnya aku lepas celana panjangku agar bisa melepas CD. Saat CD-ku terlepas, tangan kanan Della dengan cepat menggenggam penisku sebentar. Kembali serr.. terasa ada aliran darah menuju penisku yang membuatnya sedikit membesar. Tapi genggamannya yang tidak lebih dari 1 detik, membuat penisku surut kembali tanpa aku bisa bereaksi apapun.
"Kok nggak sesuai dengan iklannya, katanya besar?" dia tersenyum.
"Pegangnya jangan cuma sedetik dong, agak lama dikit..", aku protes.
"Ya udah, nanti di dalam kita bikin sensasi ya..", aku belum bisa membayangkan, apa yang akan diperbuat Della di dalam nanti.
Kami masuk lewat pintu samping menuju tangga dimana banyak para tamu yang sedang duduk di luar tempat karaoke di bawah diskotek yang kami tuju. Mulai dari pintu masuk terasa sekali bahwa semuanya baik lelaki maupun wanita yang kebanyakan pramuria matanya mendelik melihat Della, apalagi saat berada di tangga. Aku yakin bahwa bulatan pantat Della terlihat jelas sekali dari bawah. Keadaan tersebut tidak kami pedulikan bahkan dengan bangganya aku berjalan dan Della menggandeng lenganku sampai terasa buah dadanya tertekan di lengan kananku.
Sesampai di dalam, kami mengambil tempat yang biasa kami tempati yaitu meja bundar tinggi di bagian depan kanan dekat dance floor. Ternyata beberapa teman kami telah berada di sana, 7 lelaki dan 5 wanita sehingga total ada 14 orang dengan mengambil 4 meja yang dibuat agak melingkar sehingga ada ruang di tengah tengah keempat meja tersebut
Pada saat menghampiri mereka, para lelaki yang memang telah kenal dengan Della, berteriak sambil memandang tanpa berkedip..
"Wah wah wah.. Gilee.. Ada angin apa nih si Della sampai mini begini pakaiannya, nanti striptease aja, berani nggak?" ujar Dino sambil bergurau.
"Gilaa lu ya, striptease jangan di tempat umum gini dong, kalau setengah striptease boleh boleh aja nanti, kalau udah tipsy ya, tapi gua nggak tanggung kalo lu pada horny ya.." katanya sambil memperlihatkan mimik yang menggemaskan.
"Del, mau bikin sensasi apa lagi nih.." Vivi dan Ratih terbengong bengong.
"Bukan mau bikin sensasi, abis ada pesanan khusus untuk malam ini, gua nggak boleh pakai BH, jadi sekalian aja dah gua nggak pakai CD.."
"Haahh.." tangan Vivi secara spontan meraba pantat Della, demikian pula tanganku yang berdiri di sampingnya. Ternyata dia pakai G-String tipis sehingga memang bulatan pantatnya sangat terbuka.
Akhirnya kami larut dalam irama musik disco yang menggelegar, 2 botol XO dan 2 botol Chivas kami tenggak, beberapa sloki XO murni telah masuk ke perutku dan Della terlihat semakin berani meliuk-liukkan tubuhnya dengan gaya yang sangat merangsang, kadang berdansa bersamaku, kadang dengan Vivi ataupun dengan Dino dan yang lainnya.
Semakin dia bergoyang, semakin terlihat jelas bentuk buah dadanya pun bergoyang, bahkan kadang sampai putingnya dapat terlihat jelas dari arah samping karena dengan kedua kancing yang terbuka, otomatis kancing ketiga berada di bawah buah dadanya.
Pada saat kami berdansa, terasa bagian perut ataupun pantat Della selalu menekan dan menggesek gesek penisku hingga mengakibatkan ereksi, tapi dengan acuhnya dia tidak berkomentar, kadang sengaja aku tarik tangannya agar memegangnya, tapi dia menepiskan tanganku. Huh, aku semakin penasaran jadinya. Tanpa CD, dengan bahan celana lemas yang aku pakai, jelas terlihat bahwa penisku sudah berdiri tegak hingga dapat tertangkap oleh sudut mataku bahwa Vivi, Ratih dan lainnya kadang kadang melirik ke bawahku.
Jam sudah menunjukkan pukul 23:30. kulihat Della sudah typsy sekali. Aku tarik dia. Sambil duduk aku peluk pinggangnya.
"Del, kamu diam saja ya, gua mau kamu lebih sexy lagi, biar meja-meja sebelah makin melotot melihat kamu" bisikku sambil kujilat belakang daun telinganya. Dia menggelinjang sambil makin mempererat pelukannya ke tubuhku.
"Whatever you want honey" bisiknya juga sambil menggigit ringan leherku.
Aku dorong dia sedikit ke belakang, lalu aku buka seluruh kancing kemejanya dari atas sampai bawah sambil sekilas kuraba buah dadanya dari balik kemejanya dan aku ikat ujungnya di perut Della agak ke atas sampai sedikit di bawah buah dadanya, sehingga sebagian pinggir buah dada Della semakin terlihat jelas dari pinggir, apalagi dengan kemeja yang longgar, kadang kadang dengan goyangan yang meliuk-liuk, putingnya sampai terlihat keluar.
Pada saat aku mengerjakan hal itu, tangan Della meremas-remas penisku dari luar celana hingga penisku semakin ereksi keras dan tegak, lalu dia kembali berbisik..
"Ternyata promosinya nggak salah ya.." lirihnya di telingaku.
Dibukanya ritsletingku dan digenggamnya penisku. Tangannya tidak muat untuk melingkari batang penisku. Diusapnya lubang penisku, aku sampai merinding keenakan, kepalanya ditundukkan dan dijilatnya kepala penisku sebentar, lalu ditutupnya kembali ritsletingku. Mataku menangkap Vivi dan Ratih melihat apa yang Della lakukan.
Della terlihat sexy sekali dengan pakaian tersebut. Berdua dengan Vivi mereka turun ke dance floor hingga terlihat banyak sekali lelaki yang mengerubutinya. Dengan genitnya Della dan Vivi menggoda semua lelaki, tapi setelah 3 lagu Della kembali.
"Vivi tadi bertanya, enak nggak ngewe sama lu" kata-kata vulgarnya mulai keluar, tapi justru manambah gairah bagi kami berdua.
"Lu jawab apa" aku balik bertanya.
"Gua bilang, belum pernah, jadi belum tau rasanya" dia terheran-heran.
"Dia bilang, Jadi ngapain aja kalian selama ini" kata Della.
"Gua cerita bahwa kita sering diskusi tentang ngewe, banyak teknik teknik yang lu ajarkan, tapi gua belum mempraktekannya, lantaran suami dan pacar gua yang konvensional" kata dia di pelukanku sambil kadang-kadang berciuman bibir.
Aku hanya tertawa mendengarnya sambil meremas-remas pantatnya dan sesekali kumasukkan telunjukku ke belahan pantatnya untuk mencari anusnya.
"Vivi bilang gua musti cepet cepet menguji kamu secara praktek, jangan hanya teori saja, kalau gua nggak mau, Vivi siap buat menguji. Dia tadi sudah liat penis lu, dia bilang punya Dino nggak ada apa apanya, ukuran sih OK, tapi ilmu belum tau" katanya.
"Bilang aja ke Vivi, mendingan jangan berani coba gua, soalnya kalau sampai ketagihan celaka, kasihan si Dino, temen gue juga tuh" dengan PD-nya aku menantang.
Bersambung . . . .
Sebagai seorang wanita keraton berdarah biru, Della adalah wanita yang lugu dalam hubungan sex namun dia adalah seorang wanita tipe penggoda dan berani dalam berpakaian. Tidak jarang dia ke kantor dengan menggunakan rok sangat mini hingga memperlihatkan bentuk kakinya yang indah dan jarang mengenakan BH. Hal ini aku ketahui dari ceritanya sendiri. Pada awalnya kami bersahabat akrab tanpa orientasi berhubungan sex. Dia punya seorang pacar selain suaminya. Sering kami membicarakan teknik-teknik bagaimana dia melakukan hubungan sex dengan sang pacar yang aku nilai masih konvensional.
Beberapa kali kami pergi ke cafe-cafe sepulang kantor (kantor kami berlainan) sekedar melepas penat dan menunggu macet. Setiap kali mengunjungi cafe, mata para lelaki pada umumnya menoleh dan tidak sedikit yang berusaha untuk berkenalan. Beberapa di antaranya akhirnya memang dapat berkenalan. Aku tidak pernah melarang atau marah akan hal itu, malah aku bangga bahwa ternyata aku tidak salah memilih teman wanita untuk diajak jalan bersama.
Kami mulai sering pergi ke diskotek sampai pulang pagi, kadang aku jemput dia ke rumahnya, dengan ijin sang suami tentunya. Pernah kami pergi bertiga pergi ke diskotek dengan suaminya, lalu Della dengan entengnya mencari seorang wanita di diskotek dan menyuruh wanita itu menemani suaminya, sedangkan Della berdua dengan aku di pojok lain diskotek itu.
Pada pertengahan Agustus 99, hari Jumat siang aku telepon dia..
"Del.., ntar malam kita jalan yuk.." ajakku.
"Siapa takut, jemput di rumah ya.. Jam 10.." katanya.
"H.. (suaminya) gimana.. Apa kita ajak saja..?" tanyaku.
"Gak usah.. Biar kita bebas di sana.." katanya.
"Eh.. Boleh order nggak?"
"Apa?"
"Lu pakai celana panjang ketat loreng itu ya, terus atasnya kemeja satin longgar dan hmm.. Jangan pakai BH ya.."
"pakai celana dalam nggak nih.. He he he.." ujarnya
"Terserah.. Kalau berani.."
"Wah banyak orderannya ya.. OK dah.. See you at 10 tonight.. Bye.." langsung telepon ditutupnya.
Malamnya Della telah siap. Dia tampak cantik dan sexy sekali dengan kemeja satin tipis tanpa lengan warna merah dengan bagian bawah diikat di perutnya hingga terlihat putingnya tercetak jelas di dadanya menonjol kencang, siapa pun yang melihat, pasti tahu bahwa dia tidak pakai BH apalagi dengan 2 kancing atasnya dibiarkan terbuka.
Surprise, ternyata dia pakai rok sangat mini potongan pinggul, hanya 10 cm dari selangkangannya dengan bahan sutra berkibar-kibar karena bawahan yang lebar hingga samar-samar terlihat bulatan pantatnya yang polos tanpa garis CD.
"Lu pakai CD nggak?" tanya Della padaku di perjalanan.
"Ya pakai dong, kalo nggak kan nanti keliatan menggantung" ujarku.
"Gak akan nggantung kalo ngaceng keras kan? Itu pun kalo bisa ngaceng lho, ha ha ha.." kata Della sambil mengusap penisku dari luar celana. Serr, terasa ada yang bergejolak di bagian bawah perutku. Untuk pertama kalinya dia meraba penisku selama persahabatan kami hampir 1 tahun.
"Emangnya lu sanggup bikin gua ngaceng terus di sana..?" aku balik bertanya.
"Heh.. Liat aja nanti, kalau aku nggak bisa, ntar aku minta bantuan cewe lain.." katanya enteng.
"OK, kalau perlu gua buka nanti" ujarku perlahan.
Selama ini memang aku belum pernah menunjukkan keinginan atau mengajak dia untuk berhubungan sex walaupun sering aku terangsang bila mendengar cerita-cerita dia atau pada saat saat kami pergi bersama dengan pakaiannya yang sexy dan agak terbuka.
Setiba di tujuan sekitar pukul 22.30, tempat parkir yang biasa aku tempati di depan pintu utama belum penuh. Petugas valet langgananku seperti biasa sudah menunggu, tapi Della minta agar kami parkir sendiri saja sehingga aku terpaksa kembali memutar dan mengambil tempat di samping gedung, lajur parkir ketiga dari pintu masuk samping.
"Lho kok nggak berani?" celetuk Della.
"Apanya nggak berani?" tanyaku heran.
"Berani nggak lepas CD-nya, makanya gua minta lu parkir sendiri" tantangnya.
Akhirnya aku lepas celana panjangku agar bisa melepas CD. Saat CD-ku terlepas, tangan kanan Della dengan cepat menggenggam penisku sebentar. Kembali serr.. terasa ada aliran darah menuju penisku yang membuatnya sedikit membesar. Tapi genggamannya yang tidak lebih dari 1 detik, membuat penisku surut kembali tanpa aku bisa bereaksi apapun.
"Kok nggak sesuai dengan iklannya, katanya besar?" dia tersenyum.
"Pegangnya jangan cuma sedetik dong, agak lama dikit..", aku protes.
"Ya udah, nanti di dalam kita bikin sensasi ya..", aku belum bisa membayangkan, apa yang akan diperbuat Della di dalam nanti.
Kami masuk lewat pintu samping menuju tangga dimana banyak para tamu yang sedang duduk di luar tempat karaoke di bawah diskotek yang kami tuju. Mulai dari pintu masuk terasa sekali bahwa semuanya baik lelaki maupun wanita yang kebanyakan pramuria matanya mendelik melihat Della, apalagi saat berada di tangga. Aku yakin bahwa bulatan pantat Della terlihat jelas sekali dari bawah. Keadaan tersebut tidak kami pedulikan bahkan dengan bangganya aku berjalan dan Della menggandeng lenganku sampai terasa buah dadanya tertekan di lengan kananku.
Sesampai di dalam, kami mengambil tempat yang biasa kami tempati yaitu meja bundar tinggi di bagian depan kanan dekat dance floor. Ternyata beberapa teman kami telah berada di sana, 7 lelaki dan 5 wanita sehingga total ada 14 orang dengan mengambil 4 meja yang dibuat agak melingkar sehingga ada ruang di tengah tengah keempat meja tersebut
Pada saat menghampiri mereka, para lelaki yang memang telah kenal dengan Della, berteriak sambil memandang tanpa berkedip..
"Wah wah wah.. Gilee.. Ada angin apa nih si Della sampai mini begini pakaiannya, nanti striptease aja, berani nggak?" ujar Dino sambil bergurau.
"Gilaa lu ya, striptease jangan di tempat umum gini dong, kalau setengah striptease boleh boleh aja nanti, kalau udah tipsy ya, tapi gua nggak tanggung kalo lu pada horny ya.." katanya sambil memperlihatkan mimik yang menggemaskan.
"Del, mau bikin sensasi apa lagi nih.." Vivi dan Ratih terbengong bengong.
"Bukan mau bikin sensasi, abis ada pesanan khusus untuk malam ini, gua nggak boleh pakai BH, jadi sekalian aja dah gua nggak pakai CD.."
"Haahh.." tangan Vivi secara spontan meraba pantat Della, demikian pula tanganku yang berdiri di sampingnya. Ternyata dia pakai G-String tipis sehingga memang bulatan pantatnya sangat terbuka.
Akhirnya kami larut dalam irama musik disco yang menggelegar, 2 botol XO dan 2 botol Chivas kami tenggak, beberapa sloki XO murni telah masuk ke perutku dan Della terlihat semakin berani meliuk-liukkan tubuhnya dengan gaya yang sangat merangsang, kadang berdansa bersamaku, kadang dengan Vivi ataupun dengan Dino dan yang lainnya.
Semakin dia bergoyang, semakin terlihat jelas bentuk buah dadanya pun bergoyang, bahkan kadang sampai putingnya dapat terlihat jelas dari arah samping karena dengan kedua kancing yang terbuka, otomatis kancing ketiga berada di bawah buah dadanya.
Pada saat kami berdansa, terasa bagian perut ataupun pantat Della selalu menekan dan menggesek gesek penisku hingga mengakibatkan ereksi, tapi dengan acuhnya dia tidak berkomentar, kadang sengaja aku tarik tangannya agar memegangnya, tapi dia menepiskan tanganku. Huh, aku semakin penasaran jadinya. Tanpa CD, dengan bahan celana lemas yang aku pakai, jelas terlihat bahwa penisku sudah berdiri tegak hingga dapat tertangkap oleh sudut mataku bahwa Vivi, Ratih dan lainnya kadang kadang melirik ke bawahku.
Jam sudah menunjukkan pukul 23:30. kulihat Della sudah typsy sekali. Aku tarik dia. Sambil duduk aku peluk pinggangnya.
"Del, kamu diam saja ya, gua mau kamu lebih sexy lagi, biar meja-meja sebelah makin melotot melihat kamu" bisikku sambil kujilat belakang daun telinganya. Dia menggelinjang sambil makin mempererat pelukannya ke tubuhku.
"Whatever you want honey" bisiknya juga sambil menggigit ringan leherku.
Aku dorong dia sedikit ke belakang, lalu aku buka seluruh kancing kemejanya dari atas sampai bawah sambil sekilas kuraba buah dadanya dari balik kemejanya dan aku ikat ujungnya di perut Della agak ke atas sampai sedikit di bawah buah dadanya, sehingga sebagian pinggir buah dada Della semakin terlihat jelas dari pinggir, apalagi dengan kemeja yang longgar, kadang kadang dengan goyangan yang meliuk-liuk, putingnya sampai terlihat keluar.
Pada saat aku mengerjakan hal itu, tangan Della meremas-remas penisku dari luar celana hingga penisku semakin ereksi keras dan tegak, lalu dia kembali berbisik..
"Ternyata promosinya nggak salah ya.." lirihnya di telingaku.
Dibukanya ritsletingku dan digenggamnya penisku. Tangannya tidak muat untuk melingkari batang penisku. Diusapnya lubang penisku, aku sampai merinding keenakan, kepalanya ditundukkan dan dijilatnya kepala penisku sebentar, lalu ditutupnya kembali ritsletingku. Mataku menangkap Vivi dan Ratih melihat apa yang Della lakukan.
Della terlihat sexy sekali dengan pakaian tersebut. Berdua dengan Vivi mereka turun ke dance floor hingga terlihat banyak sekali lelaki yang mengerubutinya. Dengan genitnya Della dan Vivi menggoda semua lelaki, tapi setelah 3 lagu Della kembali.
"Vivi tadi bertanya, enak nggak ngewe sama lu" kata-kata vulgarnya mulai keluar, tapi justru manambah gairah bagi kami berdua.
"Lu jawab apa" aku balik bertanya.
"Gua bilang, belum pernah, jadi belum tau rasanya" dia terheran-heran.
"Dia bilang, Jadi ngapain aja kalian selama ini" kata Della.
"Gua cerita bahwa kita sering diskusi tentang ngewe, banyak teknik teknik yang lu ajarkan, tapi gua belum mempraktekannya, lantaran suami dan pacar gua yang konvensional" kata dia di pelukanku sambil kadang-kadang berciuman bibir.
Aku hanya tertawa mendengarnya sambil meremas-remas pantatnya dan sesekali kumasukkan telunjukku ke belahan pantatnya untuk mencari anusnya.
"Vivi bilang gua musti cepet cepet menguji kamu secara praktek, jangan hanya teori saja, kalau gua nggak mau, Vivi siap buat menguji. Dia tadi sudah liat penis lu, dia bilang punya Dino nggak ada apa apanya, ukuran sih OK, tapi ilmu belum tau" katanya.
"Bilang aja ke Vivi, mendingan jangan berani coba gua, soalnya kalau sampai ketagihan celaka, kasihan si Dino, temen gue juga tuh" dengan PD-nya aku menantang.
Bersambung . . . .
Della yang ternyata liar - 2
Della menarik tangan Vivi sehingga kami bertiga mengobrol dan Della menyampaikan pesanku pada Vivi..
"Vi.. Dia OK, tapi kalau sampai lu yang minta nambah, lu musti mau jadi sex partner dia tiap saat" Wah, Della ngarang nih, pikirku. Tapi aku hanya tersenyum sambil terus bergoyang mengikuti irama lagu.
"Kita liat aja, siapa yang minta nambah" protes Vivi.
"Gue juga belum tau sih ilmu dia, selama ini kan cuma omong doang" sergah Della.
Aku tarik Vivi, punggungnya menyandar di badanku dan pantatnya menekan penisku, kulingkarkan tanganku di perutnya sambil kutepuk bahu Della, mataku mengerling ke arah Dino, Della mengerti maksudku.
"Vi.. Kamu di sini aja ya, gua pengen tau Dino bisa ngaceng nggak" kata Della sambil menghampiri Dino.
Aku dan Vivi menonton aksi Della meliukkan pinggulnya di hadapan Dino semakin lama semakin rapat sampai akhirnya penis Dino terkena goyangan bagian bawah perut Della.
Rupanya Vivi terkena gairah atau karena tidak mau kalah karena cowoknya dirangsang sedemikian rupa oleh Della, atau mungkin juga karena tersengat listrik dari buah dadanya karena tangan kananku sudah naik dari perut dan meremas dada kirinya walau masih terhalang BH tipis. Kalah kenyal dibanding milik Della, tapi lebih besar, kuperkirakan 36C. Tangan Vivi merayap ke belakang lalu meremas-remas penisku dari luar celanaku.
"Haah.. Gila lu ya, nggak pakai CD.."?, tanyanya kebingungan.
"Della yang minta.." jawabku.
"Lu berdua emang pada gila ya.." bisiknya sambil menolehkan mukanya ke belakang.
Kesempatan itu aku gunakan untuk menangkap bibirnya lalu kami berciuman. Kumasukkan lidahku ke mulutnya mencari lidahnya sambil menghisap bibir atasnya. Sementara terasa putingnya bertambah keras pertanda dia telah terangsang. Sementara Della berciuman dengan Dino sambil tangan kanannya meremas-remas penis Dino. Akhirnya Vivi berbalik dan kembali kami berciuman dengan bergairah dan aku balas dengan meremas buah dadanya.
"Vir, kata Della lu jago ya.." bisiknya di telingaku
"Dia cerita apa?" tanyaku.
"Della bilang, lu punya variasi dan teknik sexual yang tinggi, lidah kamu juga maut, mulanya dia tidak berminat, tapi sekali coba dia ketagihan, sekarang cowoknya mau ditinggalin tuh" ujarnya. Wah, aku jadi bingung mana yang benar nih..
"Terus terang gua belum pernah main dengan dia, mungkin dia cuma promosi" kembali aku berbisik sambil berusaha merangsang leher dan telinga dia.
"Ternyata dia benar, gua cuma mancing kok, nanti kalau Della sudah nyoba lu, giliran kedua dengan aku ya".
"Tanya dia dulu, boleh nggak?" ujarku sambil tertawa.
"Della sudah OK, dia bilang kalau perlu sama sama"
Della kembali bersama kami, terlihat Dino sibuk membetulkan letak penisnya karena berdiri jadi harus tegak ke atas arahnya. Melihat Vivi sedang meremas penisku, Della tidak mau kalah, lalu kedua tangan mereka secara bersama-sama memegang dan meremas penisku. Dengan posisi mereka di kanan kiriku, tidak ada yang melihat apa yang dilakukan tangan mereka. Della membuka resletingku dan mengeluarkan penisku, diambilnya tangan Vivi lalu digenggamkannya ke penisku. Vivi terkejut ketika menggenggam penisku tanpa bisa berkomentar.
"Vi.., katanya mau ngisep?" kata Della.
"Ngak dulu ah, nanti aja kapan-kapan" ujar Vivi.
"Berani nggak lu lawan kita berdua?" tanya Della kepadaku. Aku sampai menggeleng gelengkan kepala. Sejak kapan Della menjadi liar begini. Aku hanya berkata..
"Someday OK, but not now"
Akhirnya aku dan Della pulang sekitar jam 2 pagi. Sesampai di mobil, dengan buas Della membuka celanaku, penisku diremas-remasnya, saat memasuki tol, kepalanya mulai hilang dari pandangan belakang, lidahnya sibuk menjilat, mengulum dan mengocok penisku dengan mulutnya. Terasa terkadang masih kena gigi dan cara kulumannya menyisakan ruang udara di mulutnya yang mengurangi kenikmatan bagi lelaki yang merasakannya.
Aku ambil tangannya, aku hisap jari telunjuk dan jari tengahnya dengan cara tanpa menyisakan udara di mulutku. Ternyata Della langsung mengerti maksudku karena segera saja dia mengubah cara menghisap penisku.
"Ngajarinnya teori melulu sih, nggak pakai praktek jadi masih bego, praktek dong.., hayo sekarang.. Murid kan musti ujian praktek.. Dino juga tadi gila, tangannya masuk ke vagina gue.." rengeknya.
Aku mengarahkan mobil ke apartemenku di kawasan S, aku memang mempunyai sebuah apartemen khusus untuk berkumpul bersama kawan-kawan dan sebagai tempat untuk petualangan sex-ku ini. Sesampai di apartemenku, Della dengan tidak sabar langsung memeluk dan mendorongku ke dinding sambil membuka kancing baju serta celanaku. Seketika aku telanjang bulat. Sedangkan Della yang sejak di mobil sudah melemparkan seluruh pakaiannya hingga tinggal mengenakan G-String, langsung masuk lift dari basement tempat parkir. Untung saja aku dapat tempat parkir persis di sebelah lift.
Setelah kami masing-masing minum setengah gelas red wine, didorongnya tubuhku ke sofa, lalu dia berjongkok sambil menarik kakiku. Lidahnya menjalar di telapak kaki, seluruh jari-jariku dikulum dan dihisapnya hingga rasa gelinya tidak tertahankan, lalu naik ke betis, lutut dan bagian dalam pahaku.
"Dell.. Ooh, enak Del.., ternyata lu jago ya" aku mengerang.
"Baru segitu!!, Nikmati aja jangan kasih komentar dulu, ini belum apa apa.." katanya.
Sesampai di selangkangan, dijilatnya buah pelirku dengan sangat bernafsu sampai aku merintih keenakan, lalu dia naik menuju perut. Dihisapnya putingku kanan kiri, diangkatnya tanganku sambil dijilat dan dihisapnya ketiakku, penisku hanya dipegang saja. Aku berteriak sejadi-jadinya karena memang di situlah titik kelemahanku. Lalu kami berciuman, bersilat lidah, berlomba saling memasukkan dan menghisap lidah kami pada mulut pasangan masing-masing.
Kemudian tubuhku dibalikkan sehingga aku berada dalam posisi tengkurap dan dia naik menindih badanku dari belakang, dijilatnya mulai dari leher, lalu ke seluruh punggung dari ujung ke ujung dengan hawa nafsu birahi yang sudah sampai ubun-ubun, tak ada satu inchi pun yang terlewat dari lidahnya. Sampai di pantatku, lidahnya bermain main di ujung atas belahan pantatku sambil terkadang dihisapnya daerah itu hingga terasa nikmat yang amat sangat di daerah itu.
Lalu lidahnya ditarik ke bawah menyusuri belahan bulatan pantatku dan tiba di selangkanganku. Aku berdebar penasaran menanti Della melanjutkan permainan lidahnya menuju puncaknya yaitu penisku. Tapi dia tidak melakukannya, malah lidahnya kembali menelusuri paha sampai kembali ke ujung telapak kakiku.
Kali ini permainan mulut dan lidahnya di jari-jari kakiku lebih luar biasa dari yang tadi, masing-masing jari terutama jari manis dan jari tengah kakiku dipelintir di dalam mulutnya sambil kepalanya diputar ke kiri dan kanan.
Kulihat jam, 30 menit sudah penisku berdiri tegak sempurna, sangat keras sampai pegal dan tergencet pada sofa, Della menyiksaku sedemikian rupa hingga ingin rasanya aku kocok sendiri penisku, tapi setiap kali aku angkat pantat dan memegang penisku, tanganku selalu ditepis oleh Della, dia mengatakan bahwa penisku akan digilirnya nanti.
Akhirnya dia kembali naik menyusuri betis dan pahaku. Diangkatnya pantatku lalu diambilnya 2 buah bantal sofa dan disisipkannya di bawah pinggulku sehingga aku berada dalam posisi menungging, digigitnya bukit pantatku lalu dibukanya belahan pantatku dengan kedua ibu jarinya.
Terasa ada daging hangat menempel di bibir lubang anusku dan berbeda dengan tadi, kali ini Della dengan perlahannya memutar-mutarkan ujung lidahnya di sekeliling bibir anusku. Rasanya luar biasa, penisku sudah sedemikian kerasnya sampai sampai hampir meledak rasanya.
"Aaggh.. Oohh.. Del.. Enak amat.."
Della semakin bernafsu mendengar teriakanku dan rupanya masih belum selesai juga. Della dengan perlahan pula melesakkan ujung lidahnya yang keras ke dalam lubang anusku hingga mungkin ada kira kira 2 cm masuk ke dalam, lalu lidahnya diputar-putar di dalam anusku. Aku sampai menggeliat-geliatkan pantatku, tapi Della dengan sigapnya menahan pantatku agar lidahnya tidak terlepas dari lubang anusku.
Setelah kira kira 2 menit, lalu dengan tiba-tiba, dia keluarkan lidahnya dan langsung menghisap lubang anusku sekeras kerasnya. Seketika itu pula aku berteriak. Kejang badanku seketika, rasanya aku hampir orgasme saat itu. Cara itu diulanginya lagi beberapa kali sampai aku berkata..
"Udah Del.. Gua nggak tahan nih.."
Tubuhku kembali dibaliknya dan dia langsung menjilat kepala penisku, lidahnya bermain di belahan kepala penisku, disapunya seluruh permukaan kepala penisku lalu perlahan dimasukkannya penisku ke dalam mulutnya hingga terlihat Della berusaha keras untuk membuka mulutnya yang mungil agar penisku bisa masuk seluruhnya. Mula-mula sedikit, dikeluarkannya, lalu dimasukkan lagi semakin lama semakin dalam sampai terasa di ujung tenggorokannya, kadang dia agak tersedak, tapi belum masuk semuanya. Dengan kocokan mulutnya yang maju mundur dan kepala yang berputar putar semakin cepat, akhirnya..
"Del.. Gua mau keluar nih.." Kocokannya makin dipercepat. Akhirnya spermaku keluar di dalam mulutnya.
"Jangan ditelan semuanya!" kataku.
Kutarik kepalanya lalu kucium bibirnya, kusedot spermaku yang ada di mulutnya, lalu lidah kami bermain-main dengan spermaku cukup lama sampai bibir dan muka kami berdua belepotan sperma.
Jam menunjukkan pukul 3:30 pagi. Nafasku memburu berbaring keenakan sambil Della kembali mengulum penisku yang mulai mengecil.
"Aah, Del.. Ngilu nih.." teriakku.
"Gila nih kontol, kok ada ya yang kaya gini.." katanya sambil terus menjilati kepala penisku.
"Sini dong memek lu, gua mau jilatin.." pintaku.
"Hari ini gua bermaksud untuk ujian doang, nggak ada maksud buat ngewe, jadi gua mau minta hasil ujiannya sekarang, lulus nggak gua.." ujarnya sambil digigitnya penisku ringan.
"Curang lu, emang lu pikir gua bisa cukup puas cuma gua doang yang keluar" aku protes.
"Itu hukuman buat yang punya kontol kaya lu, lagian gua masih ragu, bisa nggak kontol lu masuk ke memek gua, soalnya punya laki sama cowok gua masih di bawah ukuran standar, lagian gua takut minta nambah he he he he.., ntar kalau gua minta nambah, lu nggak sempet sama Vivi lho.." ujarnya.
"Kan mau sama-sama, kata Vivi.."
"Sapa takut, sama gua aja lu udah kelojotan, apa lagi ditambah sama Vivi.."
"Ratih juga mau tuh.." kataku sekenanya.
"Emangnya dia juga tadi liat kontol lu waktu gua isep sebentar.."
"Undang Dino juga nggak..?" tanyaku.
"Kontolnya kecil, makanya Vivi lagi cari yang gede.." ujarnya.
"Ntar gua cariin yang lebih gede dari gua punya deh.."
"Botol bir aja sekalian. Udahan, pulang yuk.., jadi gimana nilai gue..?" tanyanya.
"Summa Cum Laude, buat mulut sama lidah lu kalau kaya tadi, nggak bakalan gampang cari gantinya deh.., tapi belum tau goyangan memek lu ya, belum bisa kasih nilai.." kataku seakan menantang.
"Kapan-kapan ujian lagi ya, soalnya gua juga penasaran sama kontol lu, musti sering praktek supaya bisa masuk ke mulut gua semuanya.." ujarnya.
"Emangnya kontol gua mau dibuat latihan.. Yuk, pulang.." kataku.
"Kalo dengar cerita lu, nggak nyangka lu hebat gitu kaya tadi.. Atau memang permainan lu kaya tadi?" tanyaku heran.
"Itu kan yang lu ajarin sama gua, tadi itu pertama kalinya gue kaya gitu, memang gua pengen naklukin lu.. Jadi usaha keras.. Cowok gua nggak mau gua jilat anusnya, kontolnya kecil, udah masuk semua ke mulut gua, masih belum terlalu penuh"
Lalu kami turun dari apartemen, Della mengenakan kaus oblongku. Rasa kecewa masih menyelimuti perasaanku karena baru kali ini aku tidak 'bekerja' sama sekali hingga kepuasan diriku berkurang. Sesampai di mobil baru dia mengenakan pakaiannya. Sepanjang perjalanan ke rumahnya di kawasan BGV, penisku tak pernah lepas dari tangannya sambil sesekali kepalanya menunduk untuk kembali menjilati kepada penisku.
Tamat
"Vi.. Dia OK, tapi kalau sampai lu yang minta nambah, lu musti mau jadi sex partner dia tiap saat" Wah, Della ngarang nih, pikirku. Tapi aku hanya tersenyum sambil terus bergoyang mengikuti irama lagu.
"Kita liat aja, siapa yang minta nambah" protes Vivi.
"Gue juga belum tau sih ilmu dia, selama ini kan cuma omong doang" sergah Della.
Aku tarik Vivi, punggungnya menyandar di badanku dan pantatnya menekan penisku, kulingkarkan tanganku di perutnya sambil kutepuk bahu Della, mataku mengerling ke arah Dino, Della mengerti maksudku.
"Vi.. Kamu di sini aja ya, gua pengen tau Dino bisa ngaceng nggak" kata Della sambil menghampiri Dino.
Aku dan Vivi menonton aksi Della meliukkan pinggulnya di hadapan Dino semakin lama semakin rapat sampai akhirnya penis Dino terkena goyangan bagian bawah perut Della.
Rupanya Vivi terkena gairah atau karena tidak mau kalah karena cowoknya dirangsang sedemikian rupa oleh Della, atau mungkin juga karena tersengat listrik dari buah dadanya karena tangan kananku sudah naik dari perut dan meremas dada kirinya walau masih terhalang BH tipis. Kalah kenyal dibanding milik Della, tapi lebih besar, kuperkirakan 36C. Tangan Vivi merayap ke belakang lalu meremas-remas penisku dari luar celanaku.
"Haah.. Gila lu ya, nggak pakai CD.."?, tanyanya kebingungan.
"Della yang minta.." jawabku.
"Lu berdua emang pada gila ya.." bisiknya sambil menolehkan mukanya ke belakang.
Kesempatan itu aku gunakan untuk menangkap bibirnya lalu kami berciuman. Kumasukkan lidahku ke mulutnya mencari lidahnya sambil menghisap bibir atasnya. Sementara terasa putingnya bertambah keras pertanda dia telah terangsang. Sementara Della berciuman dengan Dino sambil tangan kanannya meremas-remas penis Dino. Akhirnya Vivi berbalik dan kembali kami berciuman dengan bergairah dan aku balas dengan meremas buah dadanya.
"Vir, kata Della lu jago ya.." bisiknya di telingaku
"Dia cerita apa?" tanyaku.
"Della bilang, lu punya variasi dan teknik sexual yang tinggi, lidah kamu juga maut, mulanya dia tidak berminat, tapi sekali coba dia ketagihan, sekarang cowoknya mau ditinggalin tuh" ujarnya. Wah, aku jadi bingung mana yang benar nih..
"Terus terang gua belum pernah main dengan dia, mungkin dia cuma promosi" kembali aku berbisik sambil berusaha merangsang leher dan telinga dia.
"Ternyata dia benar, gua cuma mancing kok, nanti kalau Della sudah nyoba lu, giliran kedua dengan aku ya".
"Tanya dia dulu, boleh nggak?" ujarku sambil tertawa.
"Della sudah OK, dia bilang kalau perlu sama sama"
Della kembali bersama kami, terlihat Dino sibuk membetulkan letak penisnya karena berdiri jadi harus tegak ke atas arahnya. Melihat Vivi sedang meremas penisku, Della tidak mau kalah, lalu kedua tangan mereka secara bersama-sama memegang dan meremas penisku. Dengan posisi mereka di kanan kiriku, tidak ada yang melihat apa yang dilakukan tangan mereka. Della membuka resletingku dan mengeluarkan penisku, diambilnya tangan Vivi lalu digenggamkannya ke penisku. Vivi terkejut ketika menggenggam penisku tanpa bisa berkomentar.
"Vi.., katanya mau ngisep?" kata Della.
"Ngak dulu ah, nanti aja kapan-kapan" ujar Vivi.
"Berani nggak lu lawan kita berdua?" tanya Della kepadaku. Aku sampai menggeleng gelengkan kepala. Sejak kapan Della menjadi liar begini. Aku hanya berkata..
"Someday OK, but not now"
Akhirnya aku dan Della pulang sekitar jam 2 pagi. Sesampai di mobil, dengan buas Della membuka celanaku, penisku diremas-remasnya, saat memasuki tol, kepalanya mulai hilang dari pandangan belakang, lidahnya sibuk menjilat, mengulum dan mengocok penisku dengan mulutnya. Terasa terkadang masih kena gigi dan cara kulumannya menyisakan ruang udara di mulutnya yang mengurangi kenikmatan bagi lelaki yang merasakannya.
Aku ambil tangannya, aku hisap jari telunjuk dan jari tengahnya dengan cara tanpa menyisakan udara di mulutku. Ternyata Della langsung mengerti maksudku karena segera saja dia mengubah cara menghisap penisku.
"Ngajarinnya teori melulu sih, nggak pakai praktek jadi masih bego, praktek dong.., hayo sekarang.. Murid kan musti ujian praktek.. Dino juga tadi gila, tangannya masuk ke vagina gue.." rengeknya.
Aku mengarahkan mobil ke apartemenku di kawasan S, aku memang mempunyai sebuah apartemen khusus untuk berkumpul bersama kawan-kawan dan sebagai tempat untuk petualangan sex-ku ini. Sesampai di apartemenku, Della dengan tidak sabar langsung memeluk dan mendorongku ke dinding sambil membuka kancing baju serta celanaku. Seketika aku telanjang bulat. Sedangkan Della yang sejak di mobil sudah melemparkan seluruh pakaiannya hingga tinggal mengenakan G-String, langsung masuk lift dari basement tempat parkir. Untung saja aku dapat tempat parkir persis di sebelah lift.
Setelah kami masing-masing minum setengah gelas red wine, didorongnya tubuhku ke sofa, lalu dia berjongkok sambil menarik kakiku. Lidahnya menjalar di telapak kaki, seluruh jari-jariku dikulum dan dihisapnya hingga rasa gelinya tidak tertahankan, lalu naik ke betis, lutut dan bagian dalam pahaku.
"Dell.. Ooh, enak Del.., ternyata lu jago ya" aku mengerang.
"Baru segitu!!, Nikmati aja jangan kasih komentar dulu, ini belum apa apa.." katanya.
Sesampai di selangkangan, dijilatnya buah pelirku dengan sangat bernafsu sampai aku merintih keenakan, lalu dia naik menuju perut. Dihisapnya putingku kanan kiri, diangkatnya tanganku sambil dijilat dan dihisapnya ketiakku, penisku hanya dipegang saja. Aku berteriak sejadi-jadinya karena memang di situlah titik kelemahanku. Lalu kami berciuman, bersilat lidah, berlomba saling memasukkan dan menghisap lidah kami pada mulut pasangan masing-masing.
Kemudian tubuhku dibalikkan sehingga aku berada dalam posisi tengkurap dan dia naik menindih badanku dari belakang, dijilatnya mulai dari leher, lalu ke seluruh punggung dari ujung ke ujung dengan hawa nafsu birahi yang sudah sampai ubun-ubun, tak ada satu inchi pun yang terlewat dari lidahnya. Sampai di pantatku, lidahnya bermain main di ujung atas belahan pantatku sambil terkadang dihisapnya daerah itu hingga terasa nikmat yang amat sangat di daerah itu.
Lalu lidahnya ditarik ke bawah menyusuri belahan bulatan pantatku dan tiba di selangkanganku. Aku berdebar penasaran menanti Della melanjutkan permainan lidahnya menuju puncaknya yaitu penisku. Tapi dia tidak melakukannya, malah lidahnya kembali menelusuri paha sampai kembali ke ujung telapak kakiku.
Kali ini permainan mulut dan lidahnya di jari-jari kakiku lebih luar biasa dari yang tadi, masing-masing jari terutama jari manis dan jari tengah kakiku dipelintir di dalam mulutnya sambil kepalanya diputar ke kiri dan kanan.
Kulihat jam, 30 menit sudah penisku berdiri tegak sempurna, sangat keras sampai pegal dan tergencet pada sofa, Della menyiksaku sedemikian rupa hingga ingin rasanya aku kocok sendiri penisku, tapi setiap kali aku angkat pantat dan memegang penisku, tanganku selalu ditepis oleh Della, dia mengatakan bahwa penisku akan digilirnya nanti.
Akhirnya dia kembali naik menyusuri betis dan pahaku. Diangkatnya pantatku lalu diambilnya 2 buah bantal sofa dan disisipkannya di bawah pinggulku sehingga aku berada dalam posisi menungging, digigitnya bukit pantatku lalu dibukanya belahan pantatku dengan kedua ibu jarinya.
Terasa ada daging hangat menempel di bibir lubang anusku dan berbeda dengan tadi, kali ini Della dengan perlahannya memutar-mutarkan ujung lidahnya di sekeliling bibir anusku. Rasanya luar biasa, penisku sudah sedemikian kerasnya sampai sampai hampir meledak rasanya.
"Aaggh.. Oohh.. Del.. Enak amat.."
Della semakin bernafsu mendengar teriakanku dan rupanya masih belum selesai juga. Della dengan perlahan pula melesakkan ujung lidahnya yang keras ke dalam lubang anusku hingga mungkin ada kira kira 2 cm masuk ke dalam, lalu lidahnya diputar-putar di dalam anusku. Aku sampai menggeliat-geliatkan pantatku, tapi Della dengan sigapnya menahan pantatku agar lidahnya tidak terlepas dari lubang anusku.
Setelah kira kira 2 menit, lalu dengan tiba-tiba, dia keluarkan lidahnya dan langsung menghisap lubang anusku sekeras kerasnya. Seketika itu pula aku berteriak. Kejang badanku seketika, rasanya aku hampir orgasme saat itu. Cara itu diulanginya lagi beberapa kali sampai aku berkata..
"Udah Del.. Gua nggak tahan nih.."
Tubuhku kembali dibaliknya dan dia langsung menjilat kepala penisku, lidahnya bermain di belahan kepala penisku, disapunya seluruh permukaan kepala penisku lalu perlahan dimasukkannya penisku ke dalam mulutnya hingga terlihat Della berusaha keras untuk membuka mulutnya yang mungil agar penisku bisa masuk seluruhnya. Mula-mula sedikit, dikeluarkannya, lalu dimasukkan lagi semakin lama semakin dalam sampai terasa di ujung tenggorokannya, kadang dia agak tersedak, tapi belum masuk semuanya. Dengan kocokan mulutnya yang maju mundur dan kepala yang berputar putar semakin cepat, akhirnya..
"Del.. Gua mau keluar nih.." Kocokannya makin dipercepat. Akhirnya spermaku keluar di dalam mulutnya.
"Jangan ditelan semuanya!" kataku.
Kutarik kepalanya lalu kucium bibirnya, kusedot spermaku yang ada di mulutnya, lalu lidah kami bermain-main dengan spermaku cukup lama sampai bibir dan muka kami berdua belepotan sperma.
Jam menunjukkan pukul 3:30 pagi. Nafasku memburu berbaring keenakan sambil Della kembali mengulum penisku yang mulai mengecil.
"Aah, Del.. Ngilu nih.." teriakku.
"Gila nih kontol, kok ada ya yang kaya gini.." katanya sambil terus menjilati kepala penisku.
"Sini dong memek lu, gua mau jilatin.." pintaku.
"Hari ini gua bermaksud untuk ujian doang, nggak ada maksud buat ngewe, jadi gua mau minta hasil ujiannya sekarang, lulus nggak gua.." ujarnya sambil digigitnya penisku ringan.
"Curang lu, emang lu pikir gua bisa cukup puas cuma gua doang yang keluar" aku protes.
"Itu hukuman buat yang punya kontol kaya lu, lagian gua masih ragu, bisa nggak kontol lu masuk ke memek gua, soalnya punya laki sama cowok gua masih di bawah ukuran standar, lagian gua takut minta nambah he he he he.., ntar kalau gua minta nambah, lu nggak sempet sama Vivi lho.." ujarnya.
"Kan mau sama-sama, kata Vivi.."
"Sapa takut, sama gua aja lu udah kelojotan, apa lagi ditambah sama Vivi.."
"Ratih juga mau tuh.." kataku sekenanya.
"Emangnya dia juga tadi liat kontol lu waktu gua isep sebentar.."
"Undang Dino juga nggak..?" tanyaku.
"Kontolnya kecil, makanya Vivi lagi cari yang gede.." ujarnya.
"Ntar gua cariin yang lebih gede dari gua punya deh.."
"Botol bir aja sekalian. Udahan, pulang yuk.., jadi gimana nilai gue..?" tanyanya.
"Summa Cum Laude, buat mulut sama lidah lu kalau kaya tadi, nggak bakalan gampang cari gantinya deh.., tapi belum tau goyangan memek lu ya, belum bisa kasih nilai.." kataku seakan menantang.
"Kapan-kapan ujian lagi ya, soalnya gua juga penasaran sama kontol lu, musti sering praktek supaya bisa masuk ke mulut gua semuanya.." ujarnya.
"Emangnya kontol gua mau dibuat latihan.. Yuk, pulang.." kataku.
"Kalo dengar cerita lu, nggak nyangka lu hebat gitu kaya tadi.. Atau memang permainan lu kaya tadi?" tanyaku heran.
"Itu kan yang lu ajarin sama gua, tadi itu pertama kalinya gue kaya gitu, memang gua pengen naklukin lu.. Jadi usaha keras.. Cowok gua nggak mau gua jilat anusnya, kontolnya kecil, udah masuk semua ke mulut gua, masih belum terlalu penuh"
Lalu kami turun dari apartemen, Della mengenakan kaus oblongku. Rasa kecewa masih menyelimuti perasaanku karena baru kali ini aku tidak 'bekerja' sama sekali hingga kepuasan diriku berkurang. Sesampai di mobil baru dia mengenakan pakaiannya. Sepanjang perjalanan ke rumahnya di kawasan BGV, penisku tak pernah lepas dari tangannya sambil sesekali kepalanya menunduk untuk kembali menjilati kepada penisku.
Tamat
Selasa, 30 November 2010
Pesta perpisahan sekolah
Akhirnya sampailah pada batas bahwa kita mesti mengakhiri suatu hal dan memulai dengan yang baru. Demikian aku dalam sekolah, SMU kulalui dan segera kumasuki Universitas. Meski demikian selalu ada yang membuat kita tak bisa meninggalkan kenangan yang pernah kita goreskan tak peduli dimana, seperti juga disekolahku, teman-temanku, dsb. dsb. Melankolis banget, tapi itu fakta, tak bisa dipungkiri lagi, sorry kata-kata itu aku dapat dari Mas Gigis, teman sekosan di Solo.
Ceritanya begini, kebiasan sekolah, yang lebih tepat dilakukan sebagai keselaluan, karena selalu dilakukan setelah lulus, yaitu perpisahan sekolah, tak peduli pakai pesta atau tidak, ramai-ramai atau sederhana, pasti sekolah manapun melakukannya. Demikian juga sekolahku, bahkan setelah pesta meriah di sekolah tiap-tiap kelas membikin pesta tersendiri untuk masing-masing kelas. Kelasku lumayan juga rupanya, hanya dengan modal dana iuran kelas yang selalu ditarik tiap bulan dapat digunakan pesta di sebuah Villa, bukan menyewa sih, tapi gratisan milik Vera, temanku yang paling kaya.
Setelah teman sekelas yang jumlahnya 40, tetapi yang hadir hanya 32 anak itu sudah berkumpul di Villanya Vera Minggu, pukul 14.00, acara pun dimulai, dihadiri walikelas kami, satu persatu acara dilangsungkan. Satu jam pertama diisi dengan acara seremonial yang menjemukan, disusul acara makan dan santai sambung rasa sampai dua jam berikutnya. Kemudian acara hiburan yang khusus dimainkan oleh kami-kami sendiri selama satu jam. Tepat pukul 18.00 istirahat sebentar sebelum acara konyol dan ngocol yaitu perlombaan-perlombaan gila. Ini juga karena sudah pamit pulangnya walikelas, sehingga praktis acara makin bebas karena tidak ada yang mengawasi lagi.
Begitu acara lomba dimulai sepertinya akan banyak kejadian yang tak terduga yang akan terjadi, wajarlah anak-anak muda. Dan benar saja, acara yang disuguhkan benar-benar gila, seperti cewek-cowok penampilan paling keren, cewek berbibir terseksi, cewek dengan payudara terindah, cewek dengan betis terindah, juga cowok dengan kelamin terbesar, cewek-cowok terseksi dan cewek-cowok dengan adegan paling panas yaitu tarian tererotik.
Bisa dibayangkan bagaimana suasana yang terjadi saat itu, meski semuanya belum tentu setuju terhadap acara-acara yang berlangsung, tetapi kita sepakat untuk yang terakhir kali bertemu semua bersedia memeriahkan acara demi acara. Bahkan disela-sela acara acara ada saja yang mencuri kesempatan, seperti ciuman atau adegan pelukan mesra bahkan saling meraba atau memang sengaja untuk merangsang membangkitkan gairah karena memang dibutuhkan untuk penampilan perlombaan, sehingga membuat acara benar-benar memanas karena gelora anak anak muda yang sedang bergairah.
Setelah acara lomba itu sebenarnya adalah pesta kolam renang, tapi sebelumnya diumumkan pemenang perlombaan yang penilaian berdasarkan pilihan terfavorit dari kita-kita sendiri. Lumayan, aku dapat satu gelar, cowok terseksi, cewek terseksi dimenangkan sang ketua, Nova, bibir terseksi dimenangkan Vera, si tuan rumah, cewek-cowok berpenampilan paling keren didapat Deni dan Nita, sepasang kekasih, yang malam itu benar-benar kompak dan serasi penampilannya, cewek dengan betis terindah jadi milik Tika yang masih ada darah bulenya, cewek dengan payudara terindah dimenangkan Desy, dan pemenang kategori cowok dengan kelamin terbesar adalah Fery, yang sampai-sampai celana dalamnya gak muat, sedangkan pemenang lomba paling hot yaitu tarian tererotis dimenangkan oleh pasangan kekasih, Erik dan Sinta yang waktu itu benar-benar gila karena mereka dengan beraninya berduet telanjang bulat menari-nari seiring lagu-lagu latin yang diputarkan. Benar-benar acara yang sangat meriah.
Bahkan acara pesta kolam renang yang sebenarnya hanya acara santai dengan makan atau sekedar minum di kolam renang sambil ngobrol-ngobrol, jadi seru setelah Nova membacakan pengumuman itu dari pinggir kolam sedangkan yang lain berada di air. Tetapi karena banyak teman-teman yang norak dengan melepaskan pakaian mereka dan berenang tanpa pakaian, sehingga membuat suasana jadi riuh penuh jeritan dan benar-benar gila, Melihat gelagat yang menjurus ke pesta sex, seperti itu sang ketua memberi peringatan dan beberapa persyaratan yang mesti dipatuhi, diantaranya adalah tidak boleh ada pemaksaan seksual, tidak boleh membahayakan teman yang lain, Kalau terjadi hubungan seks sebisa mungkin memakai kondom, dan yang terakir sperma tidak boleh dikeluarkan disembarang tempat lebih-lebih dikeluarkan dalam vagina, jika dilakukan Sang ketua mengancam dengan hukuman berat. Nova pun mengambilkan dua baskom kaca besar dari dalam rumah dan diletakkan di ujung kolam renang sebagai tempat sperma. Setelah itu dia mengatakan merubah acara pesta kolam renang menjadi acara bebas.
Semua yang diair langsung bersorak-sorai, hingga ada yang melempar CD atau BH mereka keatas, mereka pun ada yang langsung naik dari air untuk mencari tempat yang enak untuk berkencan, bagi yang tak ingin terlibat melakukan seks memilih tetap didalam air atau diatas pelampung sambil minum atau makan atau duduk-duduk dipinggir kolam atau memilih jalan-jalan saja melihat-lihat apa yang teman lakukan, sambil ngobrol ngalor ngidul mengomentari apa yang mereka lakukan, seperti yang aku lakukan sama Fery. Kadang kami juga ikutan menyemangati mereka meski setelah itu bahu kami terangkat tanda aneh saja atas perilaku mereka.
Tak lama berselang sudah terlihat adegan-adegan porno, yang paling ringan adalah beberapa teman sekadar menari-nari sambil telanjang tidak cewek tidak cowok sama saja atau ada yang berjejeran duduk dipinggir kolam sambil onani bareng-bareng, kadang mereka berganti tangan memegangi kontol sehingga terlihat lucu, tapi itu tak berlangsung lama karena satu persatu berlarian ke baskom megeluarkan sperma mereka.
Terlihat juga Rio yang tiduran di kursi jemur di oral oleh Tika sedangkan dari belakang Dedy mengocokkan kontolnya penuh semangat di memeknya, tak ketinggalan Nova dan Vera yang memainkan gaya Lesbian, Erik dan Sinta juga tak mau kalah, mereka melakukan seks diatas pelampung, mereka memainkan banyak gaya diatas pelampung ditonton banyak teman-temannya, juga ada Anna yang tergeletak di lantai membiarkan tubuhnya dikerubuti beberapa cowok, tapi Anna tidak memperbolehkan vaginanya dimasuki penis teman-teman cowok, atau Ivan yang bagai seorang Raja, tubuh bulenya dijilati dan digerayangi beberapa cewek, jadi lucu karena baru beberapa menit dia harus berlari ke baskom karena Nina mengocok kontolnya terlalu keras sehingga dia tidak bisa menahan spermanya keluar, bahkan Aldi dan Rendy berani beradegan homo dengan saling menghisap kontol masing-masing dan melakukan seks lewat anus secara bergantian. Atau adegan yang ditunjukkan oleh Rina dengan memperbolehkan teman-temannya yang cowok untuk mencoba vaginanya sampai puas, mungkin ini adegan yang dianggap paling gila, tapi ini tidak berlangsung lama karena dia keburu kelelahan karena melayani lima orang secara bergantian.
Aku dan Fery hanya berputar-putar melihat yang teman-teman lakukan, sambil geleng-geleng kepala. Pokoknya adegan yang ada di blue film sebagain besar terjadi di Villa itu. Mereka yang melakukan terlihat senang, dan yang melihatpun senang meski kadang sambil berjeritan atau menelan ludah. Tapi akhirnya Fery tak tahan juga melihat Della, gadis imut pujaan hatinya memintanya mengoralnya, Fery pun setuju, setelah memuaskannya nafsunya tak terbendung, dengan setengah berlari dia menuju ke baskom terdekat dan memuncratkan spermanya disana.
Setelah suasana agak mereda, tak disangka-sangka para cewek berkumpul dan kembali ke pinggir kolam renang dengan membawa dua baskom kaca besar yang berisi cairan sperma. Acaranya adalah adu cepat mengeluarkan sperma bagi cowok dengan dirangsang oleh cewek, pasangan ditentukan dengan cara diundi, bagi yang kalah mendapat hukuman meminum sperma yang ada baskom masing-masing satu sendok makan ditambah meneruskan sampai keluar sperma, wuh gila. Kebetulan banget jumlah kami yang datang pas berpasangan, sebenarnya jumlahnya 40 anak, 16 cewek dan 24 cowok, tetapi karena 8 cowok tidak hadir karena harus mengikuti tes TNI atau sekolah yang lebih dulu tes.
Undian dimulai, tampil perdana adalah Deni dan Desy lawan Fery dan Cindy, Cindy tak begitu sulit mengeluarkan spermanya Fery untuk mengalahkan Deny dan Desy, karena Deny sudah habis-habisan mengeluarkan spermanya bersama Nita, sedang Fery hanya sekali keluar sperma, alhasil duet Deny dan Desy harus meneguk sperma dari baskom. Disusul Riko dan Nita lawan Erik dan Sinta, Riko menang mudah karena selama pesta dia tidak mengeluarkan spermanya ditambah faktor Nita yang pengalaman, bahkan dengan beberapa kali kocokan saja dari Nita, Riko sudah tidak bisa menahan spermanya muncrat, sementara Sinta meski mengerahkan segala cara kesulitan mengeluarkan sperma pacarnya tersebut, baru sesaat lomba hampir selesai sperma Erik keluar juga.
Kemudian Ivan dan Nina dan lawan Rendy dan Della, ini merupakan pertarungan paling lama karena Ivan dan Rendy sama-sama sudah mengeluarkan sperma, Ivan keluar waktu kontolnya dikocok sama banyak cewek di kursi sedangkan Rendy saat main sama Aldy tapi akhirnya Ivan memenangi pertarungan meski dalam jarak waktu yang hampir bersamaan, karena Nina yang memang naksir Ivan tidak menyia-nyiakan kesempatan dengan Ivan, bahkan sesaat setelah tanda dimulai Nina langsung mengulum penis Ivan dan menghisapnya dalam-dalam sehingga Ivan benar-benar mati kutu dan keluar sperma.
Berikutnya Aldy dan Anna lawan Aku dan Rina, aku jelas yakin menang karena aku selama pesta belum keluar sperma meski kontolku terasa berkedut-kedut terus menyaksikan perilaku teman-teman, makanya aku beri isyarat pada Rina agar santai saja, gak usah pake vagina ataupun dioral penisku pasti keluar sperma dengan cepat sementara Aldy sudah main sama Rendy sedangkan Anna agak merasa jijik terhadap Aldy karena homo, sehingga membuat mereka berdua harus minum sperma dari baskom karena kalah.
Setelah itu Dedy dan Nova lawan Alfin dan Silvi, seharusnya Alfin dan Silvi yang menang karena Alfin belum keluar sperma sama sekali, tetapi keduanya grogi karena baru pertama kali melakukan yang seperti ini bahkan kontol Alfin sulit tegang meski akhirnya keluar juga tapi mereka harus minum sperma dulu, sementara meski Dedy sudah main dan keluar sperma beberapa kali, tetapi Nova tak kehabisan akal, dari pertama dia langsung tancap gas dengan melakukan oral terhadap kontol Dedy yang hitam itu hingga harus keluar sperma untuk ketiga kalinya.
Kemudian Tommy dan Tika lawan Rio dan Vera, ini adalah pertarungan yang sangat ketat, karena Tommy dan Rio hanya sekali keluar sperma waktu onani dipinggir kolam, sedangkan Tika dan Vera sama berpengalaman memainkan kontol, sehingga jadi seru, bahkan Tika dan Vera merelakan kontol Tommy dan Rio masuk ke memeknya demi kemenangan, tapi akhirnya Vera memenangkanya dengan gaya berkuda menaklukkan kontol Rio untuk memuncratkan spermanya dan menang, karena Tika yang sudah kelelahan main dengan Dedy dan Rio hanya pasrah menggunakan gaya missionaris yang mengharuskan Tommy yang bekerja keras sendirian, meski keluar sperma, keduanya harus minum sperma, Tommy sempat muntah-muntah saat minum sperma gara-gara jijik, tapi karena sudah ada perjanjian dia terpaksa harus minum.
Selanjutnya adalah partai cepat karena keempatnya pasangan ini, cowoknya adalah anak-anak baik, sehingga tidak keluar sperma selama pesta. Para laki-laki ini hanya sebagai pemandu sorak saja istilahnya, meskipun ceweknya juga sama sekali belum pernah main-main dengan kelamin laki-laki, tetapi agresifitas merekalah yang membuat menang melawan pasangan lawan, Robin dan Reza menang atas Niko dan Fina, sedangkan Andi dan Ira kalah dari Adi dan Dewi, meski hanya selisih beberapa detik.
Lomba selesai dan menyisakan kelelahan dipihak cowok dan meninggalkan banyak sperma dalam baskom. Tapi begitu dikatakan selesai oleh ketua, para cowok protes, karena pihak cewek semua sudah tahu dan melihat seperti apa kontol mereka, bahkan pernah memeganginya, tetapi pihak cewek belum tentu pernah mendapat perlakuan sama dari cowok.
Akhirnya agar adil diputuskan pasangan undian tadi boleh berganti posisi, cowok boleh merangsang balik si cewek sampai puas, dari sini hanya Erik dan Sinta yang tidak melakukannya karena sudah benar-benar kecapekan bermain dengan pacarnya tersebut. Sedangkan pasangan dadakan yang akhirnya melakukan seks adalah Ivan dan Nina, Ivan yang sedianya hanya melakukan oral terhadap vaginanya Nina akhirnya memasukkan juga penisnya karena tak tahan godaan yang dilakukan Nina. Terlihat Nina begitu senangnya, begitu pula Ivan yang terlihat puas meski agak kecapaian.
Setelah semua kecapekan, satu persatu membersihkan diri dan berkemas. Acara pesta perpisahan itu diakhiri makan bersama, Pukul 23.00 kami membubarkan diri, pulang dengan membawa kenangan masing-masing.
Tamat
Ceritanya begini, kebiasan sekolah, yang lebih tepat dilakukan sebagai keselaluan, karena selalu dilakukan setelah lulus, yaitu perpisahan sekolah, tak peduli pakai pesta atau tidak, ramai-ramai atau sederhana, pasti sekolah manapun melakukannya. Demikian juga sekolahku, bahkan setelah pesta meriah di sekolah tiap-tiap kelas membikin pesta tersendiri untuk masing-masing kelas. Kelasku lumayan juga rupanya, hanya dengan modal dana iuran kelas yang selalu ditarik tiap bulan dapat digunakan pesta di sebuah Villa, bukan menyewa sih, tapi gratisan milik Vera, temanku yang paling kaya.
Setelah teman sekelas yang jumlahnya 40, tetapi yang hadir hanya 32 anak itu sudah berkumpul di Villanya Vera Minggu, pukul 14.00, acara pun dimulai, dihadiri walikelas kami, satu persatu acara dilangsungkan. Satu jam pertama diisi dengan acara seremonial yang menjemukan, disusul acara makan dan santai sambung rasa sampai dua jam berikutnya. Kemudian acara hiburan yang khusus dimainkan oleh kami-kami sendiri selama satu jam. Tepat pukul 18.00 istirahat sebentar sebelum acara konyol dan ngocol yaitu perlombaan-perlombaan gila. Ini juga karena sudah pamit pulangnya walikelas, sehingga praktis acara makin bebas karena tidak ada yang mengawasi lagi.
Begitu acara lomba dimulai sepertinya akan banyak kejadian yang tak terduga yang akan terjadi, wajarlah anak-anak muda. Dan benar saja, acara yang disuguhkan benar-benar gila, seperti cewek-cowok penampilan paling keren, cewek berbibir terseksi, cewek dengan payudara terindah, cewek dengan betis terindah, juga cowok dengan kelamin terbesar, cewek-cowok terseksi dan cewek-cowok dengan adegan paling panas yaitu tarian tererotik.
Bisa dibayangkan bagaimana suasana yang terjadi saat itu, meski semuanya belum tentu setuju terhadap acara-acara yang berlangsung, tetapi kita sepakat untuk yang terakhir kali bertemu semua bersedia memeriahkan acara demi acara. Bahkan disela-sela acara acara ada saja yang mencuri kesempatan, seperti ciuman atau adegan pelukan mesra bahkan saling meraba atau memang sengaja untuk merangsang membangkitkan gairah karena memang dibutuhkan untuk penampilan perlombaan, sehingga membuat acara benar-benar memanas karena gelora anak anak muda yang sedang bergairah.
Setelah acara lomba itu sebenarnya adalah pesta kolam renang, tapi sebelumnya diumumkan pemenang perlombaan yang penilaian berdasarkan pilihan terfavorit dari kita-kita sendiri. Lumayan, aku dapat satu gelar, cowok terseksi, cewek terseksi dimenangkan sang ketua, Nova, bibir terseksi dimenangkan Vera, si tuan rumah, cewek-cowok berpenampilan paling keren didapat Deni dan Nita, sepasang kekasih, yang malam itu benar-benar kompak dan serasi penampilannya, cewek dengan betis terindah jadi milik Tika yang masih ada darah bulenya, cewek dengan payudara terindah dimenangkan Desy, dan pemenang kategori cowok dengan kelamin terbesar adalah Fery, yang sampai-sampai celana dalamnya gak muat, sedangkan pemenang lomba paling hot yaitu tarian tererotis dimenangkan oleh pasangan kekasih, Erik dan Sinta yang waktu itu benar-benar gila karena mereka dengan beraninya berduet telanjang bulat menari-nari seiring lagu-lagu latin yang diputarkan. Benar-benar acara yang sangat meriah.
Bahkan acara pesta kolam renang yang sebenarnya hanya acara santai dengan makan atau sekedar minum di kolam renang sambil ngobrol-ngobrol, jadi seru setelah Nova membacakan pengumuman itu dari pinggir kolam sedangkan yang lain berada di air. Tetapi karena banyak teman-teman yang norak dengan melepaskan pakaian mereka dan berenang tanpa pakaian, sehingga membuat suasana jadi riuh penuh jeritan dan benar-benar gila, Melihat gelagat yang menjurus ke pesta sex, seperti itu sang ketua memberi peringatan dan beberapa persyaratan yang mesti dipatuhi, diantaranya adalah tidak boleh ada pemaksaan seksual, tidak boleh membahayakan teman yang lain, Kalau terjadi hubungan seks sebisa mungkin memakai kondom, dan yang terakir sperma tidak boleh dikeluarkan disembarang tempat lebih-lebih dikeluarkan dalam vagina, jika dilakukan Sang ketua mengancam dengan hukuman berat. Nova pun mengambilkan dua baskom kaca besar dari dalam rumah dan diletakkan di ujung kolam renang sebagai tempat sperma. Setelah itu dia mengatakan merubah acara pesta kolam renang menjadi acara bebas.
Semua yang diair langsung bersorak-sorai, hingga ada yang melempar CD atau BH mereka keatas, mereka pun ada yang langsung naik dari air untuk mencari tempat yang enak untuk berkencan, bagi yang tak ingin terlibat melakukan seks memilih tetap didalam air atau diatas pelampung sambil minum atau makan atau duduk-duduk dipinggir kolam atau memilih jalan-jalan saja melihat-lihat apa yang teman lakukan, sambil ngobrol ngalor ngidul mengomentari apa yang mereka lakukan, seperti yang aku lakukan sama Fery. Kadang kami juga ikutan menyemangati mereka meski setelah itu bahu kami terangkat tanda aneh saja atas perilaku mereka.
Tak lama berselang sudah terlihat adegan-adegan porno, yang paling ringan adalah beberapa teman sekadar menari-nari sambil telanjang tidak cewek tidak cowok sama saja atau ada yang berjejeran duduk dipinggir kolam sambil onani bareng-bareng, kadang mereka berganti tangan memegangi kontol sehingga terlihat lucu, tapi itu tak berlangsung lama karena satu persatu berlarian ke baskom megeluarkan sperma mereka.
Terlihat juga Rio yang tiduran di kursi jemur di oral oleh Tika sedangkan dari belakang Dedy mengocokkan kontolnya penuh semangat di memeknya, tak ketinggalan Nova dan Vera yang memainkan gaya Lesbian, Erik dan Sinta juga tak mau kalah, mereka melakukan seks diatas pelampung, mereka memainkan banyak gaya diatas pelampung ditonton banyak teman-temannya, juga ada Anna yang tergeletak di lantai membiarkan tubuhnya dikerubuti beberapa cowok, tapi Anna tidak memperbolehkan vaginanya dimasuki penis teman-teman cowok, atau Ivan yang bagai seorang Raja, tubuh bulenya dijilati dan digerayangi beberapa cewek, jadi lucu karena baru beberapa menit dia harus berlari ke baskom karena Nina mengocok kontolnya terlalu keras sehingga dia tidak bisa menahan spermanya keluar, bahkan Aldi dan Rendy berani beradegan homo dengan saling menghisap kontol masing-masing dan melakukan seks lewat anus secara bergantian. Atau adegan yang ditunjukkan oleh Rina dengan memperbolehkan teman-temannya yang cowok untuk mencoba vaginanya sampai puas, mungkin ini adegan yang dianggap paling gila, tapi ini tidak berlangsung lama karena dia keburu kelelahan karena melayani lima orang secara bergantian.
Aku dan Fery hanya berputar-putar melihat yang teman-teman lakukan, sambil geleng-geleng kepala. Pokoknya adegan yang ada di blue film sebagain besar terjadi di Villa itu. Mereka yang melakukan terlihat senang, dan yang melihatpun senang meski kadang sambil berjeritan atau menelan ludah. Tapi akhirnya Fery tak tahan juga melihat Della, gadis imut pujaan hatinya memintanya mengoralnya, Fery pun setuju, setelah memuaskannya nafsunya tak terbendung, dengan setengah berlari dia menuju ke baskom terdekat dan memuncratkan spermanya disana.
Setelah suasana agak mereda, tak disangka-sangka para cewek berkumpul dan kembali ke pinggir kolam renang dengan membawa dua baskom kaca besar yang berisi cairan sperma. Acaranya adalah adu cepat mengeluarkan sperma bagi cowok dengan dirangsang oleh cewek, pasangan ditentukan dengan cara diundi, bagi yang kalah mendapat hukuman meminum sperma yang ada baskom masing-masing satu sendok makan ditambah meneruskan sampai keluar sperma, wuh gila. Kebetulan banget jumlah kami yang datang pas berpasangan, sebenarnya jumlahnya 40 anak, 16 cewek dan 24 cowok, tetapi karena 8 cowok tidak hadir karena harus mengikuti tes TNI atau sekolah yang lebih dulu tes.
Undian dimulai, tampil perdana adalah Deni dan Desy lawan Fery dan Cindy, Cindy tak begitu sulit mengeluarkan spermanya Fery untuk mengalahkan Deny dan Desy, karena Deny sudah habis-habisan mengeluarkan spermanya bersama Nita, sedang Fery hanya sekali keluar sperma, alhasil duet Deny dan Desy harus meneguk sperma dari baskom. Disusul Riko dan Nita lawan Erik dan Sinta, Riko menang mudah karena selama pesta dia tidak mengeluarkan spermanya ditambah faktor Nita yang pengalaman, bahkan dengan beberapa kali kocokan saja dari Nita, Riko sudah tidak bisa menahan spermanya muncrat, sementara Sinta meski mengerahkan segala cara kesulitan mengeluarkan sperma pacarnya tersebut, baru sesaat lomba hampir selesai sperma Erik keluar juga.
Kemudian Ivan dan Nina dan lawan Rendy dan Della, ini merupakan pertarungan paling lama karena Ivan dan Rendy sama-sama sudah mengeluarkan sperma, Ivan keluar waktu kontolnya dikocok sama banyak cewek di kursi sedangkan Rendy saat main sama Aldy tapi akhirnya Ivan memenangi pertarungan meski dalam jarak waktu yang hampir bersamaan, karena Nina yang memang naksir Ivan tidak menyia-nyiakan kesempatan dengan Ivan, bahkan sesaat setelah tanda dimulai Nina langsung mengulum penis Ivan dan menghisapnya dalam-dalam sehingga Ivan benar-benar mati kutu dan keluar sperma.
Berikutnya Aldy dan Anna lawan Aku dan Rina, aku jelas yakin menang karena aku selama pesta belum keluar sperma meski kontolku terasa berkedut-kedut terus menyaksikan perilaku teman-teman, makanya aku beri isyarat pada Rina agar santai saja, gak usah pake vagina ataupun dioral penisku pasti keluar sperma dengan cepat sementara Aldy sudah main sama Rendy sedangkan Anna agak merasa jijik terhadap Aldy karena homo, sehingga membuat mereka berdua harus minum sperma dari baskom karena kalah.
Setelah itu Dedy dan Nova lawan Alfin dan Silvi, seharusnya Alfin dan Silvi yang menang karena Alfin belum keluar sperma sama sekali, tetapi keduanya grogi karena baru pertama kali melakukan yang seperti ini bahkan kontol Alfin sulit tegang meski akhirnya keluar juga tapi mereka harus minum sperma dulu, sementara meski Dedy sudah main dan keluar sperma beberapa kali, tetapi Nova tak kehabisan akal, dari pertama dia langsung tancap gas dengan melakukan oral terhadap kontol Dedy yang hitam itu hingga harus keluar sperma untuk ketiga kalinya.
Kemudian Tommy dan Tika lawan Rio dan Vera, ini adalah pertarungan yang sangat ketat, karena Tommy dan Rio hanya sekali keluar sperma waktu onani dipinggir kolam, sedangkan Tika dan Vera sama berpengalaman memainkan kontol, sehingga jadi seru, bahkan Tika dan Vera merelakan kontol Tommy dan Rio masuk ke memeknya demi kemenangan, tapi akhirnya Vera memenangkanya dengan gaya berkuda menaklukkan kontol Rio untuk memuncratkan spermanya dan menang, karena Tika yang sudah kelelahan main dengan Dedy dan Rio hanya pasrah menggunakan gaya missionaris yang mengharuskan Tommy yang bekerja keras sendirian, meski keluar sperma, keduanya harus minum sperma, Tommy sempat muntah-muntah saat minum sperma gara-gara jijik, tapi karena sudah ada perjanjian dia terpaksa harus minum.
Selanjutnya adalah partai cepat karena keempatnya pasangan ini, cowoknya adalah anak-anak baik, sehingga tidak keluar sperma selama pesta. Para laki-laki ini hanya sebagai pemandu sorak saja istilahnya, meskipun ceweknya juga sama sekali belum pernah main-main dengan kelamin laki-laki, tetapi agresifitas merekalah yang membuat menang melawan pasangan lawan, Robin dan Reza menang atas Niko dan Fina, sedangkan Andi dan Ira kalah dari Adi dan Dewi, meski hanya selisih beberapa detik.
Lomba selesai dan menyisakan kelelahan dipihak cowok dan meninggalkan banyak sperma dalam baskom. Tapi begitu dikatakan selesai oleh ketua, para cowok protes, karena pihak cewek semua sudah tahu dan melihat seperti apa kontol mereka, bahkan pernah memeganginya, tetapi pihak cewek belum tentu pernah mendapat perlakuan sama dari cowok.
Akhirnya agar adil diputuskan pasangan undian tadi boleh berganti posisi, cowok boleh merangsang balik si cewek sampai puas, dari sini hanya Erik dan Sinta yang tidak melakukannya karena sudah benar-benar kecapekan bermain dengan pacarnya tersebut. Sedangkan pasangan dadakan yang akhirnya melakukan seks adalah Ivan dan Nina, Ivan yang sedianya hanya melakukan oral terhadap vaginanya Nina akhirnya memasukkan juga penisnya karena tak tahan godaan yang dilakukan Nina. Terlihat Nina begitu senangnya, begitu pula Ivan yang terlihat puas meski agak kecapaian.
Setelah semua kecapekan, satu persatu membersihkan diri dan berkemas. Acara pesta perpisahan itu diakhiri makan bersama, Pukul 23.00 kami membubarkan diri, pulang dengan membawa kenangan masing-masing.
Tamat
Langganan:
Postingan (Atom)