Aku adalah pria keturunan Chinese berumur 28 tahun, sudah menikah dengan gadis pribumi dan sudah dikaruniai 2 orang anak, 173 Cm, 75 Kg, Meskipun sepintas lalu kehidupanku terkesan bahagia, namun tak bisa dipungkiri ada kejenuhan melanda sisi kehidupanku terutama dalam hal seks. Istriku yang sudah malas mengurus wajah dan tubuhnya semakin mendorong aku mencari wanita idaman lain.
Dan sejak menikah aku telah mengalami 2 kali berhubungan dengan wanita lain, yang pertama sekarang sudah menikah sedangkan yang kedua sekarang sudah mau menikah, dari kedua wanita yang aku seriusi tersebut, semuanya termasuk dalam kategori wajah dan body yang biasa, hubungan aku dengan mereka lebih banyak disebabkan oleh rasa kejenuhan yang aku alami dalam hidup.
Kini disaat WIL-ku akan menikah, aku kembali seperti terperosok dalam lorong kesepian yang sangat menakutkan, sering aku mencoba menghibur diri dengan membaca majalah-majalah yang banyak menampilkan foto-foto sexy seorang wanita, namun akibatnya fatal buat otakku, Aku jadi terobsesi sekali ingin mempunyai WIL seperti yang sering aku lihat dalam majalah ataupun tabloid, dengan Body yang sangat bagus, Buah dada dan pantat yang montok, pinggul yang ramping, wajah yang cantik, dan kulit yang sangat mulus, putih tanpa cacat sedikitpun, aku jadi mengkhayal andai aku dapat cewek seperti itu akan kupelihara hubungan kami baik-baik, sehingga aku dapat menciumi seluruh tubuhnya dari rambut sampai ujung kaki setiap hari, akan kunikmati kehangatan vaginanya setiap saat.
Sejak itu Aku berusaha mencari wanita yang ada dalam obsesiku, namun hampir semua mereka yang mempunyai wajah dan body yang cantik terkesan sombong, Mereka hanya mau dengan kalangan the have, mereka hanya mau jika diberi mobil atau apartemen, Ya.. mungkin mereka memanfaatkan kelebihan mereka untuk menikmati kenikmatan duniawi dalam segi materi, aku tidak bisa menyalahkan mereka, mungkin kalau aku jadi merekapun akan seperti itu, atau bisa juga berdasarkan pengalaman mereka selama ini pria hanya mau tubuhnya saja dan setelah itu hilang tanpa jejak Padahal aku tidak berniat begitu, dengan WIL pertamaku saja aku berhubungan 8 tahun dengan suka duka kami alami bersama, juga dengan WIL kedua yang sebentar lagi akan menikah dan mungkin akan mengakhiri hubungan ini, juga sudah berjalan 4 tahun.
Tapi aku sadar terlalu muluk rasanya mendapatkan pengganti dari WIL-ku dengan wanita yang dalam obsesiku, Akhirnya tak kuat menahan obsesiku sendiri, aku mencoba membeli mereka, inilah pengalaman pertama dalam hidupku membeli seseorang wanita hanya untuk waktu 1 jam. Berdasarkan iklan di harian ibukota, Aku mencoba mencari wanita dalam obsesiku, Aku benar-benar berhati-hati agar tidak terjebak membeli durian yang busuk, dan pencariankupun menemui hasil yang bagus. Namun ternyata harganya juga sangat bagus Rp 700.000 utk short time alias 1 jam Karena sudah obsesi aku tidak pikir panjang lagi, Langsung aku bayar kontan.
Karena dibatasi waktu, Tidak banyak basa-basi lagi, aku langsung melucuti seluruh pakaiannya hingga tidak sehelai benangpun yang menempel ditubuhnya, Luar biasa Sungguh indah sekali tubuhnya, tidak sia-sia aku membayarnya mahal, aku sempat terpaku beberapa saat menyaksikan kemulusan tubuhnya, buah dadanya yang besar dan menantang, padat dan tidak kendor, juga pinggang yang ramping dengan pinggul dan pantat yang bulat. Aku langsung melumat bibirnya yang sensual, dia membalasnya buas, sambil berciuman jari-jariku menikmati kehalusan dan kelembutan kulitnya, Meremas pantatnya lembut, Jari-jarinya yang trampil langsung melolosi pakaianku hingga akupun bugil, Kini dalam keadaan sama-sama bugil kami kembali berpelukan, Buah dadanya yang besar menempel ketat didadaku, belum lagi sentuhan kulit halusnya dikulitku terasa membakar gairahku, senjataku langsung meregang kaku menyentuh kulit perutnya.
Aku rebahkan tubuhnya dikasur, dan aku mulai mencium dan menjilati seluruh tubuhnya, mulai dari rambutnya yang harum, matanya yang jernih, lehernya yang jenjang, Dan turun terus menikmati pangkal buah dadanya yang empuk, Sementara dia mulai mengerang nikmat mendapatkan cumbuanku, ciumanku terus berputar di buah dadanya tanpa menyentuh putingnya, Hingga membuat dia gemas, Kepalaku langsung dipegang agar mulutku yang hangat segera melahap puting buah dadanya, Dan erangannya semakin keras saat lidahku menari-nari melingkari puting buah dadanya, kadang aku lumat pelan, sesekali aku gigit lembut, Dia semakin menekan wajahku hingga terbenam dalam buah dadanya yang besar dan padat. Sementara jari-jarinya yang lentik membalas cumbuanku dengan mengusap-usap dada dan kemaluanku membuat aliran darahku semakin deras.
Namun aku tak mau langsung tembak, aku benar-benar ingin memenuhi segala obsesiku, Ciumanku terus merambat ke perut, vaginanya yang sudah adak basah aku lewati dulu, Lidahku menari di kedua pahanya yang gempal, lutut dan terus sampai ke ujung jari-jarinya yang terawat, Naik kembali ke paha, barulah aku menikmati vaginanya yang lebat dengan lidahku, sementara lidahku menjilati klitorisnya jari-jariku mengusap kedua buah dadanya, putingnya aku pilin terus hingga mencuat keras, dan saat lidahku menerobos celah lembabnya aku merasakan bau khas vagina menyeruak hidungku, Kulihat klitorisnya mulai mengembang pertanda dia sudah sangat bernafsu apalagi rintihan dan erangannya terasa sekali membuat suasana bertambah panas dan bergairah, Lama lidahku bermain divaginanya, hingga otot lidahku terasa lelah, barulah aku kembali ke atas melewati perutnya dan mengemut kembali buah dadanya bergantian, wanita cantik ini semakin cantik dalam wajah yang memerah menahan gairahnya.
Dan tiba tiba saja dia langsung mendorong tubuhku hingga aku terlentang di tempat tidur yang empuk, Dengan buasnya ia melumat bibirku, lidah kami saling bertaut dan saling mendorong.. Ciumannya merambat terus ke bawah, lidahnya yang basah dan hangat menjalari leher dan dadaku, dan dengan nakalnya dia menjilati puting dadaku, hingga aku merasakan getar-getar kenikmatan yang semakin membuat senjataku semakin membesar dan kaku. Aku hanya bisa meremas apapun yang bisa aku remas, kadang buah dadanya, kadang pantatnya, kadang pinggulnya, dan remasanku semakin kuat saat senjataku merasakan kehangatan mulutnya, meskipun tidak seluruhnya masuk kedalam mulutnya yang mungil, namun efek yang ditimbulkan sangat luar biasa, tanpa sadar akupun mengerang dalam nikmat yang tiada tara.
Apalagi dengan satu sentakan cepat, wanita cantik ini tiba-tiba saja sudah berjongkok diatas perutku dan membimbing senjataku memasuki celahnya yang hangat, ketika dirasa sudah pas, dia menurunkan pinggulnya sedikit demi sedikit seiring dengan terbenamnya senjataku ke dalam lorongnya yang sempit. Dia diam sejenak mungkin menyesuaikan diri dengan senjataku tapi sebentar saja pinggulnya sudah naik turun dan kadang berputar diatas tubuhku, Kenikmatan yang aku terima sungguh sangat dasyat, Aku balas meremas buah dada dan pinggulnya, putingnya aku pilin dengan jari-jariku, Hawa dari penyejuk ruangan tak mampu lagi menahan keringat yang keluar dari tubuh telanjang kami, Semakin lama gerakan pantatnya semakin cepat dan tak beraturan.. dan tak lama disertai dengan erangan panjang, tubuh wanita cantik itu meregang kaku, matanya mendelik dan giginya menancap kuat di dadaku melepas orgasmenya.
Suasana hening sejenak, tubuhnya yang seksi langsung menggelimpang disebelahku, aku yang sedang tanggung jadi bingung, Kepingin nerusin takut dia ngilu, Namun begitu aku ingat waktu dan sudah bayar, akupun melupakan itu, Tubuhnya yang tergolek pasrah aku cumbu kembali dan aku langsung menancapkan kembali senjataku ke dalam vaginanya yang sudah banjir, aku mencoba berjuang meraih kenikmatan, Keringat mulai membasahi tubuhku, perlahan tubuhnya yang tadi diam mulai bergerak seirama kocokan senjataku dalam vaginanya..
Tanpa melepas senjataku, aku balik tubuhnya hingga menungging, dan dengan gaya doggy aku kembali mengocok senjataku dalam vaginanya, Sentuhan pantatnya yang besar dan padat di pangkal senjataku saat aku masukkan senjataku menambah sensasi tersendiri, Gerakan kami semakin liar dan tak terkendali.. seluruh tubuhku seperti terbakar panasnya birahi, Sementara goyangan pinggul wanita cantik ini pun semakin liar mengaduk batang senjataku, Dan rasanya aku tidak kuat lagi menahan spermaku, Aku remas kuat pinggulnya aku berteriakmelepas orgasmeku, diapun berteriak keras, aku sentakan seluruh senjataku ke dalam vaginanya sehingga terasa menyentuh mulut rahimnya dan berbarengan dengan kedutan nikmat di senjataku, Nafasku terasa berhenti beberapa detik menikmati puncak surgawi, Apalagi akupun merasakan juga semburan hangat dari rahimnya.. Luar biasa, sungguh teramat nikmat..
Aku rebahan sejenak mengatur jalan pernafasanku, namun wanita cantik itu langsung membersihkan diri di toilet, memakai bajunya dan langsung pergi meninggalkan aku begitu saja.. Aku hanya bisa bengong menyaksikan pantatnya yang melenggok meninggalkan aku, Beginikah sikap seorang wanita? Tidak bisakah santai sejenak mengobrol sambil mendekatkan hati?
Yah.. Aku baru sadar secantik dan sebagus apapun dia akan tetap menganggapku sebagai pembeli, tanpa perasaan, hanya uang semata, berbeda sekali dengan WIL-ku yang selalu berpelukan mesra setelah selesai menggapai nikmat, membicarakan hal-hal lain dalam hidup, semenyesalnya aku nasi sudah menjadi bubur, Ternyata senikmat-nikmatnya persetubuhan jauh lebih nikmat jika kita membawa sedikit perasaan, seperti yang aku alami dengan WIL-ku.
Kapankah aku dapatkan WIL dengan Wajah dan body seperti yang aku harapkan? Akankah mereka mau berbagi rasa dgnku? Sedangkan wajah dan materi yang aku punya hanya biasa-biasa saja. Meskipun obsesiku hanya angan-angan dari sekian ribu pembaca Rumah Seks, Namun aku yakin suatu saat aku akan mendapatkan WIL yang jujur dengan wajah yang cantik dan body yang seksi.. Namun aku tidak mau seorang perawan, Aku ingin Gadis, janda atau yang sudah punya pasangan.
Adakah Pembaca yang berminat menjalin rasa denganku?
E N D
Kamis, 07 Oktober 2010
Terperangkap
Nama saya, sebut saja Linda, married, belum punya anak. Saya dan suami kebetulan keturunan Chinese. Bedanya saya lahir di salah satu kota di Jawa, sedangkan suami saya lahir China sana. Cerita ini terjadi saat misoa saya sehabis bulan madu 3 bulan, langsung tugas ke Abroad (sampai saat itu sudah hampir 4 bulan) jadi total 7 bulan after married kejadiannya. Tidak ada dia puyeng rasanya kepala (biasa bermesraan, maklum baru).
Di suatu siang saat saya naik taksi ke arah Senen dari Megaria tiba-tiba di radio terdengar Jakarta rusuh. Sopir panik, akhirnya setelah di pertigaan Salemba tidak jadi ke kiri langsung ke arah perempatan Matraman. Tanpa pikir lagi taksi dibelokkan ke arah Pramuka. Untungnya saat itu terdengar di radio bahwa perempatan Rawamangun (by pass) terjadi pembakaran. Akhirnya taksi dibelokkan ke satu hotel besar di Jl. Pramuka (Hotel S). Sesampai di sana sopir minta maaf dan lapor satpam, saya diturunkan di situ, satpam marah. Namun seseorang menghampiri, orangnya gagah, necis, berjas, hitam tinggi besar, educated, sopan. Dia bilang sesuatu ke satpam akhirnya satpam membolehkan saya sementara waktu beristirahat sambil memantau keadaan lalu lintas.
Saya diberikan tempat/kamar di lantai 10, bersih. Ngeri juga, mana sendirian lagi. Tapi mendingan daripada di luar. Tak terasa sudah sore, ada yang mengetuk, pelayan menanyakan mau makan apa? Saya bilang tidak usah, mau pulang saja. "Di luar masih rusuh Bu, tuan bilang tinggal aja dulu di sini, sampai keadaan aman," sahut pelayan. Dalam hati, tuan siapa? Saya diberi handuk dan peralatan mandi. Ragu juga mau mandi, takut ada yang mengintip. Ah ada akal, saya matikan lampu kamar mandi terus mandi buru-buru yang penting bersih plus gosok gigi. Tak lama hari mulai gelap, makanan datang disertai pelayan dan lelaki hitam yang simpatik itu. Dia tersenyum mensilakan saya mencicipi hidangan bersamanya, pelayan disuruh pergi. Karena memang sudah lapar saya makan, sambil sesekali menjawab beberapa pertanyaannya. Mukanya berubah saat saya menjawab bahwa sudah bersuami dan sedang ditinggal tugas hampir 4 bulan. Selesai makan kami tetap ngobrol kesana kemari, sampai pelayan datang lagi membersihkan meja, dan pergi lagi dengan meninggalkan kami berdua. Saya ingin cepat-cepat keluar dan tiba di rumah.
Seperti mengetahui jalan pikiran saya dia menghampiri dan mencoba menenangkan, "Tenang saja dulu di sini, kalau perlu nginap semalam, lebih aman." Tangannya menggenggam jemari saya. Besar sekali dan terkesan kuat/kekar.
Dia bilang, "Panggil saya Marvin saja!"
"Bolehkah saya panggil Linda saja? Biar akrab?" tanyanya.
Terpaksa saya mengangguk. Merinding tubuh saya disentuh lelaki lain selain suami. Dia mengelus-elus lembut tangan saya. Mendesir seluruh peredaran darah saya. Antara ingin menepiskan dan keterpesonaan pada penampilan fisiknya yang sangat seksi menurut penilaian saya. Ah, tapi sepertinya dia orangnya baik juga, mungkin dia turut prihatin atas keadaan saya. Dilihat dari pakaiannya dan bau parfumnya jelas pria asing ini dari kalangan berduit. Tampangnya perpaduan orang India, Arab, Afrika, atau Negro Amerika. Rambutnya agak plontos. Giginya putih. Tingginya antara 185 sampai 190 cm. Lebih mirip bodyguard.
Tiba-tiba saya merasakan agak pening, tanpa sadar saya memijit-mijit kening sendiri. "Are you Ok?" katanya, sesekali memang dia bicara Inggris, meskipun telah fasih bahasa Indonesia (sudah 10 tahun katanya di Jakarta). Saya tak bisa menolak saat, dia membantu memijit-mijit kening saya, lumayan juga agak mendingan. Saya disuruh istirahat dulu dan dibimbingnya ke kamar tidur. Spreinya warna biru muda polos, tembok kamar kuning muda, sangat kontras. "Tiduran dulu aja," katanya. Saya takut. Tapi demi menyadari bahwa itu percuma, saya hanya berharap semoga tak terjadi apa-apa. Saya berbaring, sementara dia duduk di pinggir tempat tidur. Sangat riskan karena sewaktu-waktu dia dapat menyergap dengan mudah.
"Lin, telungkup aja!" katanya.
Yach, untunglah agak mendingan, begini.
"Biar lebih enakan, saya pijitin punggung kamu yach," katanya.
"Tidak usah Mister, eh Marvin.." kata saya.
Tapi dia telah mulai memijit tengkuk saya, bahu, oouhh enak sekali, pintar juga dia. Punggung saya mendapat giliran. Saking enaknya tak terasa dia juga memijit bokong saya, paha, betis sampai mata kaki dan telapak kaki. Segar rasanya tubuh ini.
Dia minta saya buka baju (kurang ajar orang ini!). Dia bilang mau dikasih lotion biar tidur enak dan tambah segar.
"Marvin, saya ini orang baik-baik dan bersuami, kamu tidak akan macam-macam kan?" tanya saya.
"Tidak dong Lin," katanya.
Dia membantu membuka baju saya, dan eehh celana saya dijambretnya sekalian. Saya tinggal ber-BH dan CD. Sementara dia masih berjas. Terakhir baru dia melepas jasnya, tapi tetap berkemeja dan celana panjang. Dia melumuri bagian belakang tubuh saya dengan lotion yang enak baunya. Saya tambah keenakan dipijit begitu. Hilang rasanya semua stres. Saya diminta berbalik/baring. Nach, ini masalahnya. Dia senyum seperti cuek, memijit kening dan kepala, leher, dada (ough tidak menyangka termasuk kedua payudara saya (yang masih ber-BH) diputar-putarnya. Saya kaget, tapi belum sempat protes dia telah pindah ke perut dan pinggang, seolah itulah prosedurnya. Kembali saya terdiam, dan sekarang sampai ke paha, dia juga memijit-mijit CD saya.
"Stop Marvin..!"
Tapi dia diam, terus pindah ke kaki.
"You are so beautiful Linda," katanya sambil menduduki betis saya.
"Oh God, help me please.." dalam hati.
Tapi dia tidak memaksa, lembut, sopan, dia buka kemeja dan kaos dalam. Wow, sangat menggiurkan, kokoh, atletis, otot-ototnya terlihat, bulu dadanya itu, seksi sekali. Kelihatannya dia orang yang peduli dengan keindahan tubuhnya. Mirip binaragawan. Ah, saya tersadar saya bersuami.
"Marvin jangan..!" teriak saya.
"Apa Babe..? katanya sambil kedua tangannya menggenggam kedua tangan saya.
Oh, dia mulai mengecup mata saya (saya dipaksa), pipi saya, bibir saya, tapi saya tutup mulut saya rapat-rapat, saya tersinggung, saya tak rela lidahnya menjilat-jilat lidah saya. Agak kesal dia turun ke leher, dan tampaknya siap mencupang.
"Ohh jangan Marvin, nanti kelihatan orang, pleasee.."
Dia berhenti.
"Kalau gitu yang tidak terlihat ini dong.." katanya.
Dia membuka BH saya, dan mulai menghisap puting kiri saya. "Ooughh.." mendesir sekujur tubuh saya sampai ke kemaluan saya. Tangan saya melemas tak berdaya, apalagi jemari kirinya yang kokoh memilin-milin puting kanan, tangan kanannya meremas-remas pantat saya.
Mulutnya kemudian saling berpindah dari puting kiri ke kanan dan sebaliknya. "Payudaramu indah sekali Lin, I like it, not too big. Yes, it's really an asian taste," katanya. Tak tahan saya menerima permainannya, sangat lain, beda, pintar sekali. Payudara saya langsung mengeras. Kedua puting saya kontan meruncing, tegak. Kombinasi antara lembut dan terkadang agak kasar ini, belum pernah saya rasakan sebelumnya. Saya sering dihisap begini oleh suami tapi tak pernah senikmat ini. Apakah karena sudah terlalu lama menganggur? Terbengkalai? Gersang? Perlu siraman? atau birahi saya yang memang terlampau besar? Tak terasa tahu-tahu dia telah meninggalkan beberapa cap merah di sekeliling kedua payudara saya yang telah kencang. Jemarinya mulai merasuk ke belahan kemaluan saya, tangan satunya meremas-remas pantat saya. Ogh! dia menggesek-gesek liang kemaluan saya dengan jemarinya. Ooouuww, serangan bersamaan di lubang kemaluan dan hisapan puting menyebabkan saya orgasme, yang pertama setelah 4 bulan lebih libur panjang. Tanpa sadar mulut saya terbuka menahan nikmat. Dasar dia canggih, tahu kesempatan, mulutnya menyumpal mulut saya, dan lidahnya saat ini berkesempatan menari-nari mencari lidah saya. Saat ini tak sanggup saya menolaknya. Oouuh, enak sekali.
Saya tanpa sadar membalas jilatannya. Sementara kemaluan saya membanjir dengan CD yang telah terlepas entah kapan. Jari tengahnya mulai menusuk-nusuk perlahan ke dalam lubang kemaluan saya. Ouugh, semakin dalam, dalam sekali, belum pernah saya ditusuk sedalam ini, oouugh nikmatnya. Jarinya saja panjang begini apalagi "burung"-nya. Sejenak saya tersentak,
"Marvin, cukup.. saya tidak mau kamu melakukan itu," kata saya.
"Itu apa?" katanya.
"Itumu jangan dimasukkan, Marvin."
"Why?" tanyanya.
"Your thing is too big," jawab saya.
"Ahh, ini cuma jari," katanya lagi.
"Janji ya.. Marvin, dan tolong pintunya dikunci dulu nanti ada yang masuk."
Dia malah menyahut, "Tidak ada yang berani ganggu saya, kamu aman sama saya," kata Marvin meyakinkan.
Saya agak tenang, untuk selanjutnya kembali menikmati permainannya yang sangat spektakuler. Saya lupa bahwa telah bersuami. Marvin mulai membuka celana panjangnya. Belum sempat protes, dia telah menyergap mulut saya lagi, yang sekarang sudah hilang kekuatan untuk menghindarnya. Saya jelas saat ini telah telanjang bulat, dia tinggal ber-CD. Mulut dia kembali menghisap puting saya terus ke pusar, dan serta merta dia menjilati lubang kemaluan saya dengan kecepatan tinggi. Wooww, nikmat. Seolah dia menemukan permainan baru tangan dan mulutnya berkecimpung di sana. Saya hanya bisa mendesah, mendesis, melenguh. "Uuueehhggh.. Oh! Oh! Oh! Oouughh.." Selagi asyik begitu dia langsung stop! dan mendekap saya, seraya berbisik di telinga,
"Enak tidak Babe," saya mengangguk.
"Mau lagi?" katanya. Saya mengangguk.
"Kalau mau lebih enak, dimasukin ya?"
"I'm afraid Martin, please.. help me. Ooogghh.."
Saya sudah tak kuasa menahan dorongan yang sangat aneh dari dalam tubuh ini. Belum pernah senelangsa ini, benar-benar pasrah.
"Ooohh, Marvin.."
Sepertinya dia ingin menyiksa saya dalam kehausan saya.
"Punya suamimu berapa panjangnya?" tanyanya.
"Lima belas," jawab saya.
"Wow so panjang, 15 inch?" tanyanya lagi.
"No, Marvin.. 15 cm," jawab saya.
"No problem, punya saya cuma selisih sedikit, nanti kalau kepanjangan tidak usah dimasukin semuanya yach..?"
"And supaya tidak kaget you kenalan dulu, pegang dulu, kulum dulu, Ok? Don't worry Babe," hiburnya.
Dia kembali melakukan serangan dengan menjilati kemaluan saya. "Ooouughh," kemudian menghisap puting saya. "Ouuggh," sambil tangannya melepas CD-nya. Lidah kami saling mencari saling membutuhkan, dan tampaknya ada sesuatu yang lembut agak keras, besar, panjang menempel di atas paha saya.
"Honey, saya tahu you sudah tidak tahan, dan seandainya saya pergi, terus ada lelaki lain masuk mau ngegantiin saya, you pasti mau juga 'kan?"
"No.. Marvin, please entot saya Marvin.." pinta saya.
Meskipun dalam hati membenarkan apa yang dikatakannya karena sudah terlampau berat dorongan ini, pingin segera dicoblos pakai apa saja, punya siapa saja. Ah, saya dipaksa duduk melihat punyanya. Woow, besar sekali dan panjang. Hitam sekali, agak ungu, biru, kokoh, mana mungkin bisa masuk. Saya dipaksa untuk memegangnya, saking besarnya tidak cukup satu tangan, harus dua. Diameternya lebih panjang dari pergelangan tangan saya. "Gede mana sama punya suamimu?" tanyanya.
Saya diam karena ngeri. Panjangnya hampir 2 kali barang suami saya. "Ayo dikulum dulu!" Saat itu entah kenapa mungkin karena saya sedang terangsang, saya turuti saja apa maunya. Mulut saya hanya mampu menerima kepalanya saja, itupun harus membukanya lebar-lebar.
"Sudah ah.." kata saya.
"Kamu siap ya.." katanya.
"Sebentar aja ya!" kata saya lagi.
Marvin sangat memperhitungkan kondisi saya, dia tidak terburu-buru, dengan mesra dia mencumbui saya lagi, menghisap puting, kemaluan, meremas bokong, dan kombinasi lainnya termasuk menjilati lidah saya bolak balik. Tibalah saatnya, kedua paha saya direnggangkan lebar-lebar. Saat itu saya merasakan nikmat tiada terkira yang diakibatkan oleh serangannya yang seolah terukur dapat mengantar saya ke puncak birahi. Sesaat saya lupa kalau saya bersuami, yang saya ingat cuma Marvin dan barangnya yang besar panjang. Sudah mendongak ke atas, lebih mirip terompet tahun baru. Ada rasa takut, ada pula rasa ingin cepat merasakan bagaimana rasanya dicoblos barang yang lebih besar, lebih panjang, lebih hitam. "Ooouugghh," tak sabar saya menunggunya.
Marvin memegangi kedua paha saya yang telah terbuka lebar-lebar, dia masih menjilati terus kemaluan saya yang entah sudah berapa kali orgasme.
"Babe, biar nikmatnya selangit kedua jemarimu coba memilin-milin kedua putingmu bersamaan sambil saya melakukan ini," katanya.
Dan, oh ternyata benar-benar enak. Mengapa suami saya tak pernah memberitahu saya.
"Cepat.. Marvin.. please.. masukkan.."
Kepala burungnya yang besar hitam sudah menempel pelan di bibir kemaluan saya.
"Do you need this big black cock, Linda?"
"Ya, masukkan sedalam-dalamnya, saya tak tahan lagi Marvin, please.. entot saya..!" kata saya.
"Wait.. wait Lin, pintunya 'kan belum dikunci?" katanya.
"Biarin.." kata saya benar-benar sudah melayang tak tahan.
"Nanti orang lain atau suamimu lihat?" katanya.
"Biarin," kata saya lagi.
Dan.. "Bleessh" kepalanya susah payah sudah masuk.
"Wooww sakit.. sakkiitt.. Marvin.." erang saya.
"Sebentar ya..?" katanya terus menggenjot pelan.
"Ooougghh stop.. Marvin!" saya benar-benar merasa kesakitan tetapi campur nikmat.
Saya heran, kok seperti masih perawan saja, padahal sudah diterobos Misoa, cuma memang barangnya kecil. Marvin sebenarnya tinggal napak tilas saja. Ternyata harus membuka jalan baru di sampingnya dan di kedalamannya. "Bagaimana sayang.. masih sakit?" tanyanya. Saya terdiam sebab kadang sakit kadang nikmat. Dia mendorong perlahan sampai kira-kira seperlima panjangnya. Maju mundur, oh mulai agak nikmat.
"Babe, lubangmu ternyata gede juga.. cuma selama ini 'idle' aja.."
"Iya.. Ooouuww sekarang 'full capacity' Marvin.. Oh.."
Marvin terus memperdalam jelajahnya dengan cara menarik sekitar 2-3 cm dan memasukkan kembali 4-5 cm, sampai kira-kira mencapai 50 persen panjangnya. Rasanya kalau suami saya sudah full segini. Marvin terus melakukan itu, sekarang dia mulai berani mengocok agak keras cepat, sehingga, "Oougghh, Oh.. Oh.. Oh. Oh.." Dia mulai mengisi ruang baru yang tak tersentuh sebelumnya. Sangat terasa sumpalannya, kokoh, kuat, bertenaga, jantan! Fantastis hampir semua miliknya yang panjang itu tertelan, tinggal sedikit. Dan di sinilah keahlian Marvin.
Dia kembali menarik sebagian barangnya, dan mempermainkan kocokan dengan cepat tambah cepat antara kedalaman 30%-60% kira-kira 5 sampai 6 kocokan diakhiri tusukan lembut seluruhnya (100%) terus diulang berkali-kali. Sehingga menghasilkan irama desahan dari mulut saya, "Oh! Oh! Oh! Oh! Oh! Ooouugghh.. Oh! Oh! Oh! Oh! Oh! Oouugffhh.." Mana tahan saya orgasme lagi. Marvin sangat memegang kendali, pada saat dia menancapkan seluruh rudalnya, dia diamkan sesaat digoyang-goyang pantatnya, dan berbisik, "Lan.. lihat tuh di kaca.." Oh, tubuh besar hitam kekar sedang menindih tubuh kecil putih mengkilat karena lotion.
"Siapa itu Lin?" katanya, saya diam dia mengocok.
"Siapa Lin? kalau kamu diam saya stop nih," kata dia.
Terpaksa saya jawab, "Marvin!"
"Sama siapa?" tanyanya.
"Saya.. Linh.. daah.. ah.."
"Who is Marvin?"
Ough, belum dijawab dia mengocok lagi, nikmat sekali permainan ini selama 3 bulan lamanya bulan madu paling saya mengalami orgasme hanya 3 kali. Ini belum semalam saja sudah lebih 5 kali.
"Bandingkan saya dengan suamimu, Ok? Kalau tidak saya berhenti," katanya.
"Oh.. no.. jangan berhenti Marvin, terusshhkan lebih kerass lebih dalammhh."
"Tapi jawab dong!" bentaknya.
"Iyyaahh.. Marvin," sambil dia menghantam-hantamkan rudalnya sepenuh tenaga, saya merasakan kedua bijinya menyentuh-nyentuh kemaluan luar saya menambah sensasi kenikmatan.
Tak tahan dengan kenikmatan yang amat sangat, saya mencoba menyongsong setiap hantaman rudalnya dengan cara mengangkat pinggul/pantat setinggi mungkin. Pada saat dia menekan, menusuk saya songsong dengan mengangkat pinggul, sehingga hantamannya yang keras semakin keras cepat, dan nikmat. Tubuhnya saya terguncang-guncang naik turun seirama hentakan perkasanya. Sekilas terlihat dari cermin, latar belakang tembok kuning muda, sprei biru muda, tergolek pasrah wanita putih mulus mungil ditindih seorang pria hitam besar dengan penuh nafsu. Tak ada pancaran ketakutan sedikitpun dari wajah si wanita, selain pancaran wajah penuh birahi.
Sambil menikmati kocokannya, saya berusaha menjawab pertanyaannya.
"Marvin lebih kuat.. Oh!"
Dia menyeringai dan mempercepat kocokannya.
"Marvin lebih gede.. Ouugghh.. Haa!"
Dia menahan untuk kemudian menghentak dengan satu dorongan kuat.
"Marvin lebih pintarr.. ouwww.."
Dia menusuk dengan perlahan namun pasti sampai masuk semuanya.
"Marvin lebih panjaanngh.. Hoh.. Hohh.. Aw!"
"Marvin lebih lamaa.. aahh.. Oh!"
"Marvin.. lebih.. jantaanhh.. usfgghh! perkasaa.. Oh.. Oh.. Oh.. uuhh!"
"Marvin sangat nikamatth.. ennakhh terussh sayang.. teruszhh.. oouugghh mmhh.."
"Lin, aku mau keluar, di dalam nggak apa-apa atau dicabut?"
"No, jangan dicabut, keluarin di dalam saja Sayang.."
"Enak mana sama punya suamimu?" katanya.
"Enak inni.. hh.. Marvin!" kata saya jujur.
Pada saat itu saya juga akan mencapai orgasme yang kesekian kalinya. Marvin tiba-tiba merenggut, menjambak rambut saya. Dihentak-hentakkan. Oh, ternyata mampu mempercepat orgasme saya.
"Ooouughh.."
"Seerr.."
Semprotannya kencang sekali. Dibarengi dengan semburan cairan kewanitaan saya tanda pengakuan akan kenikmatan yang diberikan Marvin. Marvin masih terus mengocok pelan-pelan, setelah agak lama baru dikeluarkan rudalnya, dan saking penuhnya isi kemaluan saya, terdengar bunyi "Plop!" saat barangnya dicabut.
"Berapa sih panjangnya Marvin?"
"Cuma 23 cm."
Oh, pantas sampai sesak rasanya.
Saya tersadar, "Oh.. Marvin saya takut hamil!"
"Nungging aja, biar sperma saya balik lagi."
Terpaksa saya menungging. Melihat saya begini, dasar nafsu dan tenaganya memang Ok, Marvin menghajar saya lagi dari belakang. Dasar barangnya memang kuat, besar dan panjang tidak ada kesulitan sedikitpun menyelusup dari arah bawah belakang. Yang ada cuma saya dengan kenikmatan baru seolah tanpa akhir. Mimpi apa semalam, kok dapat pengalaman yang aneh begini, tapi nikmat sekali. Sulit untuk disesali.
Demikian cerita saya, jika ada pembaca yang ingin bertukar pikiran (cowok atau cewek), silakan hubungi saya melalui e-mail.
TAMAT
Di suatu siang saat saya naik taksi ke arah Senen dari Megaria tiba-tiba di radio terdengar Jakarta rusuh. Sopir panik, akhirnya setelah di pertigaan Salemba tidak jadi ke kiri langsung ke arah perempatan Matraman. Tanpa pikir lagi taksi dibelokkan ke arah Pramuka. Untungnya saat itu terdengar di radio bahwa perempatan Rawamangun (by pass) terjadi pembakaran. Akhirnya taksi dibelokkan ke satu hotel besar di Jl. Pramuka (Hotel S). Sesampai di sana sopir minta maaf dan lapor satpam, saya diturunkan di situ, satpam marah. Namun seseorang menghampiri, orangnya gagah, necis, berjas, hitam tinggi besar, educated, sopan. Dia bilang sesuatu ke satpam akhirnya satpam membolehkan saya sementara waktu beristirahat sambil memantau keadaan lalu lintas.
Saya diberikan tempat/kamar di lantai 10, bersih. Ngeri juga, mana sendirian lagi. Tapi mendingan daripada di luar. Tak terasa sudah sore, ada yang mengetuk, pelayan menanyakan mau makan apa? Saya bilang tidak usah, mau pulang saja. "Di luar masih rusuh Bu, tuan bilang tinggal aja dulu di sini, sampai keadaan aman," sahut pelayan. Dalam hati, tuan siapa? Saya diberi handuk dan peralatan mandi. Ragu juga mau mandi, takut ada yang mengintip. Ah ada akal, saya matikan lampu kamar mandi terus mandi buru-buru yang penting bersih plus gosok gigi. Tak lama hari mulai gelap, makanan datang disertai pelayan dan lelaki hitam yang simpatik itu. Dia tersenyum mensilakan saya mencicipi hidangan bersamanya, pelayan disuruh pergi. Karena memang sudah lapar saya makan, sambil sesekali menjawab beberapa pertanyaannya. Mukanya berubah saat saya menjawab bahwa sudah bersuami dan sedang ditinggal tugas hampir 4 bulan. Selesai makan kami tetap ngobrol kesana kemari, sampai pelayan datang lagi membersihkan meja, dan pergi lagi dengan meninggalkan kami berdua. Saya ingin cepat-cepat keluar dan tiba di rumah.
Seperti mengetahui jalan pikiran saya dia menghampiri dan mencoba menenangkan, "Tenang saja dulu di sini, kalau perlu nginap semalam, lebih aman." Tangannya menggenggam jemari saya. Besar sekali dan terkesan kuat/kekar.
Dia bilang, "Panggil saya Marvin saja!"
"Bolehkah saya panggil Linda saja? Biar akrab?" tanyanya.
Terpaksa saya mengangguk. Merinding tubuh saya disentuh lelaki lain selain suami. Dia mengelus-elus lembut tangan saya. Mendesir seluruh peredaran darah saya. Antara ingin menepiskan dan keterpesonaan pada penampilan fisiknya yang sangat seksi menurut penilaian saya. Ah, tapi sepertinya dia orangnya baik juga, mungkin dia turut prihatin atas keadaan saya. Dilihat dari pakaiannya dan bau parfumnya jelas pria asing ini dari kalangan berduit. Tampangnya perpaduan orang India, Arab, Afrika, atau Negro Amerika. Rambutnya agak plontos. Giginya putih. Tingginya antara 185 sampai 190 cm. Lebih mirip bodyguard.
Tiba-tiba saya merasakan agak pening, tanpa sadar saya memijit-mijit kening sendiri. "Are you Ok?" katanya, sesekali memang dia bicara Inggris, meskipun telah fasih bahasa Indonesia (sudah 10 tahun katanya di Jakarta). Saya tak bisa menolak saat, dia membantu memijit-mijit kening saya, lumayan juga agak mendingan. Saya disuruh istirahat dulu dan dibimbingnya ke kamar tidur. Spreinya warna biru muda polos, tembok kamar kuning muda, sangat kontras. "Tiduran dulu aja," katanya. Saya takut. Tapi demi menyadari bahwa itu percuma, saya hanya berharap semoga tak terjadi apa-apa. Saya berbaring, sementara dia duduk di pinggir tempat tidur. Sangat riskan karena sewaktu-waktu dia dapat menyergap dengan mudah.
"Lin, telungkup aja!" katanya.
Yach, untunglah agak mendingan, begini.
"Biar lebih enakan, saya pijitin punggung kamu yach," katanya.
"Tidak usah Mister, eh Marvin.." kata saya.
Tapi dia telah mulai memijit tengkuk saya, bahu, oouhh enak sekali, pintar juga dia. Punggung saya mendapat giliran. Saking enaknya tak terasa dia juga memijit bokong saya, paha, betis sampai mata kaki dan telapak kaki. Segar rasanya tubuh ini.
Dia minta saya buka baju (kurang ajar orang ini!). Dia bilang mau dikasih lotion biar tidur enak dan tambah segar.
"Marvin, saya ini orang baik-baik dan bersuami, kamu tidak akan macam-macam kan?" tanya saya.
"Tidak dong Lin," katanya.
Dia membantu membuka baju saya, dan eehh celana saya dijambretnya sekalian. Saya tinggal ber-BH dan CD. Sementara dia masih berjas. Terakhir baru dia melepas jasnya, tapi tetap berkemeja dan celana panjang. Dia melumuri bagian belakang tubuh saya dengan lotion yang enak baunya. Saya tambah keenakan dipijit begitu. Hilang rasanya semua stres. Saya diminta berbalik/baring. Nach, ini masalahnya. Dia senyum seperti cuek, memijit kening dan kepala, leher, dada (ough tidak menyangka termasuk kedua payudara saya (yang masih ber-BH) diputar-putarnya. Saya kaget, tapi belum sempat protes dia telah pindah ke perut dan pinggang, seolah itulah prosedurnya. Kembali saya terdiam, dan sekarang sampai ke paha, dia juga memijit-mijit CD saya.
"Stop Marvin..!"
Tapi dia diam, terus pindah ke kaki.
"You are so beautiful Linda," katanya sambil menduduki betis saya.
"Oh God, help me please.." dalam hati.
Tapi dia tidak memaksa, lembut, sopan, dia buka kemeja dan kaos dalam. Wow, sangat menggiurkan, kokoh, atletis, otot-ototnya terlihat, bulu dadanya itu, seksi sekali. Kelihatannya dia orang yang peduli dengan keindahan tubuhnya. Mirip binaragawan. Ah, saya tersadar saya bersuami.
"Marvin jangan..!" teriak saya.
"Apa Babe..? katanya sambil kedua tangannya menggenggam kedua tangan saya.
Oh, dia mulai mengecup mata saya (saya dipaksa), pipi saya, bibir saya, tapi saya tutup mulut saya rapat-rapat, saya tersinggung, saya tak rela lidahnya menjilat-jilat lidah saya. Agak kesal dia turun ke leher, dan tampaknya siap mencupang.
"Ohh jangan Marvin, nanti kelihatan orang, pleasee.."
Dia berhenti.
"Kalau gitu yang tidak terlihat ini dong.." katanya.
Dia membuka BH saya, dan mulai menghisap puting kiri saya. "Ooughh.." mendesir sekujur tubuh saya sampai ke kemaluan saya. Tangan saya melemas tak berdaya, apalagi jemari kirinya yang kokoh memilin-milin puting kanan, tangan kanannya meremas-remas pantat saya.
Mulutnya kemudian saling berpindah dari puting kiri ke kanan dan sebaliknya. "Payudaramu indah sekali Lin, I like it, not too big. Yes, it's really an asian taste," katanya. Tak tahan saya menerima permainannya, sangat lain, beda, pintar sekali. Payudara saya langsung mengeras. Kedua puting saya kontan meruncing, tegak. Kombinasi antara lembut dan terkadang agak kasar ini, belum pernah saya rasakan sebelumnya. Saya sering dihisap begini oleh suami tapi tak pernah senikmat ini. Apakah karena sudah terlalu lama menganggur? Terbengkalai? Gersang? Perlu siraman? atau birahi saya yang memang terlampau besar? Tak terasa tahu-tahu dia telah meninggalkan beberapa cap merah di sekeliling kedua payudara saya yang telah kencang. Jemarinya mulai merasuk ke belahan kemaluan saya, tangan satunya meremas-remas pantat saya. Ogh! dia menggesek-gesek liang kemaluan saya dengan jemarinya. Ooouuww, serangan bersamaan di lubang kemaluan dan hisapan puting menyebabkan saya orgasme, yang pertama setelah 4 bulan lebih libur panjang. Tanpa sadar mulut saya terbuka menahan nikmat. Dasar dia canggih, tahu kesempatan, mulutnya menyumpal mulut saya, dan lidahnya saat ini berkesempatan menari-nari mencari lidah saya. Saat ini tak sanggup saya menolaknya. Oouuh, enak sekali.
Saya tanpa sadar membalas jilatannya. Sementara kemaluan saya membanjir dengan CD yang telah terlepas entah kapan. Jari tengahnya mulai menusuk-nusuk perlahan ke dalam lubang kemaluan saya. Ouugh, semakin dalam, dalam sekali, belum pernah saya ditusuk sedalam ini, oouugh nikmatnya. Jarinya saja panjang begini apalagi "burung"-nya. Sejenak saya tersentak,
"Marvin, cukup.. saya tidak mau kamu melakukan itu," kata saya.
"Itu apa?" katanya.
"Itumu jangan dimasukkan, Marvin."
"Why?" tanyanya.
"Your thing is too big," jawab saya.
"Ahh, ini cuma jari," katanya lagi.
"Janji ya.. Marvin, dan tolong pintunya dikunci dulu nanti ada yang masuk."
Dia malah menyahut, "Tidak ada yang berani ganggu saya, kamu aman sama saya," kata Marvin meyakinkan.
Saya agak tenang, untuk selanjutnya kembali menikmati permainannya yang sangat spektakuler. Saya lupa bahwa telah bersuami. Marvin mulai membuka celana panjangnya. Belum sempat protes, dia telah menyergap mulut saya lagi, yang sekarang sudah hilang kekuatan untuk menghindarnya. Saya jelas saat ini telah telanjang bulat, dia tinggal ber-CD. Mulut dia kembali menghisap puting saya terus ke pusar, dan serta merta dia menjilati lubang kemaluan saya dengan kecepatan tinggi. Wooww, nikmat. Seolah dia menemukan permainan baru tangan dan mulutnya berkecimpung di sana. Saya hanya bisa mendesah, mendesis, melenguh. "Uuueehhggh.. Oh! Oh! Oh! Oouughh.." Selagi asyik begitu dia langsung stop! dan mendekap saya, seraya berbisik di telinga,
"Enak tidak Babe," saya mengangguk.
"Mau lagi?" katanya. Saya mengangguk.
"Kalau mau lebih enak, dimasukin ya?"
"I'm afraid Martin, please.. help me. Ooogghh.."
Saya sudah tak kuasa menahan dorongan yang sangat aneh dari dalam tubuh ini. Belum pernah senelangsa ini, benar-benar pasrah.
"Ooohh, Marvin.."
Sepertinya dia ingin menyiksa saya dalam kehausan saya.
"Punya suamimu berapa panjangnya?" tanyanya.
"Lima belas," jawab saya.
"Wow so panjang, 15 inch?" tanyanya lagi.
"No, Marvin.. 15 cm," jawab saya.
"No problem, punya saya cuma selisih sedikit, nanti kalau kepanjangan tidak usah dimasukin semuanya yach..?"
"And supaya tidak kaget you kenalan dulu, pegang dulu, kulum dulu, Ok? Don't worry Babe," hiburnya.
Dia kembali melakukan serangan dengan menjilati kemaluan saya. "Ooouughh," kemudian menghisap puting saya. "Ouuggh," sambil tangannya melepas CD-nya. Lidah kami saling mencari saling membutuhkan, dan tampaknya ada sesuatu yang lembut agak keras, besar, panjang menempel di atas paha saya.
"Honey, saya tahu you sudah tidak tahan, dan seandainya saya pergi, terus ada lelaki lain masuk mau ngegantiin saya, you pasti mau juga 'kan?"
"No.. Marvin, please entot saya Marvin.." pinta saya.
Meskipun dalam hati membenarkan apa yang dikatakannya karena sudah terlampau berat dorongan ini, pingin segera dicoblos pakai apa saja, punya siapa saja. Ah, saya dipaksa duduk melihat punyanya. Woow, besar sekali dan panjang. Hitam sekali, agak ungu, biru, kokoh, mana mungkin bisa masuk. Saya dipaksa untuk memegangnya, saking besarnya tidak cukup satu tangan, harus dua. Diameternya lebih panjang dari pergelangan tangan saya. "Gede mana sama punya suamimu?" tanyanya.
Saya diam karena ngeri. Panjangnya hampir 2 kali barang suami saya. "Ayo dikulum dulu!" Saat itu entah kenapa mungkin karena saya sedang terangsang, saya turuti saja apa maunya. Mulut saya hanya mampu menerima kepalanya saja, itupun harus membukanya lebar-lebar.
"Sudah ah.." kata saya.
"Kamu siap ya.." katanya.
"Sebentar aja ya!" kata saya lagi.
Marvin sangat memperhitungkan kondisi saya, dia tidak terburu-buru, dengan mesra dia mencumbui saya lagi, menghisap puting, kemaluan, meremas bokong, dan kombinasi lainnya termasuk menjilati lidah saya bolak balik. Tibalah saatnya, kedua paha saya direnggangkan lebar-lebar. Saat itu saya merasakan nikmat tiada terkira yang diakibatkan oleh serangannya yang seolah terukur dapat mengantar saya ke puncak birahi. Sesaat saya lupa kalau saya bersuami, yang saya ingat cuma Marvin dan barangnya yang besar panjang. Sudah mendongak ke atas, lebih mirip terompet tahun baru. Ada rasa takut, ada pula rasa ingin cepat merasakan bagaimana rasanya dicoblos barang yang lebih besar, lebih panjang, lebih hitam. "Ooouugghh," tak sabar saya menunggunya.
Marvin memegangi kedua paha saya yang telah terbuka lebar-lebar, dia masih menjilati terus kemaluan saya yang entah sudah berapa kali orgasme.
"Babe, biar nikmatnya selangit kedua jemarimu coba memilin-milin kedua putingmu bersamaan sambil saya melakukan ini," katanya.
Dan, oh ternyata benar-benar enak. Mengapa suami saya tak pernah memberitahu saya.
"Cepat.. Marvin.. please.. masukkan.."
Kepala burungnya yang besar hitam sudah menempel pelan di bibir kemaluan saya.
"Do you need this big black cock, Linda?"
"Ya, masukkan sedalam-dalamnya, saya tak tahan lagi Marvin, please.. entot saya..!" kata saya.
"Wait.. wait Lin, pintunya 'kan belum dikunci?" katanya.
"Biarin.." kata saya benar-benar sudah melayang tak tahan.
"Nanti orang lain atau suamimu lihat?" katanya.
"Biarin," kata saya lagi.
Dan.. "Bleessh" kepalanya susah payah sudah masuk.
"Wooww sakit.. sakkiitt.. Marvin.." erang saya.
"Sebentar ya..?" katanya terus menggenjot pelan.
"Ooougghh stop.. Marvin!" saya benar-benar merasa kesakitan tetapi campur nikmat.
Saya heran, kok seperti masih perawan saja, padahal sudah diterobos Misoa, cuma memang barangnya kecil. Marvin sebenarnya tinggal napak tilas saja. Ternyata harus membuka jalan baru di sampingnya dan di kedalamannya. "Bagaimana sayang.. masih sakit?" tanyanya. Saya terdiam sebab kadang sakit kadang nikmat. Dia mendorong perlahan sampai kira-kira seperlima panjangnya. Maju mundur, oh mulai agak nikmat.
"Babe, lubangmu ternyata gede juga.. cuma selama ini 'idle' aja.."
"Iya.. Ooouuww sekarang 'full capacity' Marvin.. Oh.."
Marvin terus memperdalam jelajahnya dengan cara menarik sekitar 2-3 cm dan memasukkan kembali 4-5 cm, sampai kira-kira mencapai 50 persen panjangnya. Rasanya kalau suami saya sudah full segini. Marvin terus melakukan itu, sekarang dia mulai berani mengocok agak keras cepat, sehingga, "Oougghh, Oh.. Oh.. Oh. Oh.." Dia mulai mengisi ruang baru yang tak tersentuh sebelumnya. Sangat terasa sumpalannya, kokoh, kuat, bertenaga, jantan! Fantastis hampir semua miliknya yang panjang itu tertelan, tinggal sedikit. Dan di sinilah keahlian Marvin.
Dia kembali menarik sebagian barangnya, dan mempermainkan kocokan dengan cepat tambah cepat antara kedalaman 30%-60% kira-kira 5 sampai 6 kocokan diakhiri tusukan lembut seluruhnya (100%) terus diulang berkali-kali. Sehingga menghasilkan irama desahan dari mulut saya, "Oh! Oh! Oh! Oh! Oh! Ooouugghh.. Oh! Oh! Oh! Oh! Oh! Oouugffhh.." Mana tahan saya orgasme lagi. Marvin sangat memegang kendali, pada saat dia menancapkan seluruh rudalnya, dia diamkan sesaat digoyang-goyang pantatnya, dan berbisik, "Lan.. lihat tuh di kaca.." Oh, tubuh besar hitam kekar sedang menindih tubuh kecil putih mengkilat karena lotion.
"Siapa itu Lin?" katanya, saya diam dia mengocok.
"Siapa Lin? kalau kamu diam saya stop nih," kata dia.
Terpaksa saya jawab, "Marvin!"
"Sama siapa?" tanyanya.
"Saya.. Linh.. daah.. ah.."
"Who is Marvin?"
Ough, belum dijawab dia mengocok lagi, nikmat sekali permainan ini selama 3 bulan lamanya bulan madu paling saya mengalami orgasme hanya 3 kali. Ini belum semalam saja sudah lebih 5 kali.
"Bandingkan saya dengan suamimu, Ok? Kalau tidak saya berhenti," katanya.
"Oh.. no.. jangan berhenti Marvin, terusshhkan lebih kerass lebih dalammhh."
"Tapi jawab dong!" bentaknya.
"Iyyaahh.. Marvin," sambil dia menghantam-hantamkan rudalnya sepenuh tenaga, saya merasakan kedua bijinya menyentuh-nyentuh kemaluan luar saya menambah sensasi kenikmatan.
Tak tahan dengan kenikmatan yang amat sangat, saya mencoba menyongsong setiap hantaman rudalnya dengan cara mengangkat pinggul/pantat setinggi mungkin. Pada saat dia menekan, menusuk saya songsong dengan mengangkat pinggul, sehingga hantamannya yang keras semakin keras cepat, dan nikmat. Tubuhnya saya terguncang-guncang naik turun seirama hentakan perkasanya. Sekilas terlihat dari cermin, latar belakang tembok kuning muda, sprei biru muda, tergolek pasrah wanita putih mulus mungil ditindih seorang pria hitam besar dengan penuh nafsu. Tak ada pancaran ketakutan sedikitpun dari wajah si wanita, selain pancaran wajah penuh birahi.
Sambil menikmati kocokannya, saya berusaha menjawab pertanyaannya.
"Marvin lebih kuat.. Oh!"
Dia menyeringai dan mempercepat kocokannya.
"Marvin lebih gede.. Ouugghh.. Haa!"
Dia menahan untuk kemudian menghentak dengan satu dorongan kuat.
"Marvin lebih pintarr.. ouwww.."
Dia menusuk dengan perlahan namun pasti sampai masuk semuanya.
"Marvin lebih panjaanngh.. Hoh.. Hohh.. Aw!"
"Marvin lebih lamaa.. aahh.. Oh!"
"Marvin.. lebih.. jantaanhh.. usfgghh! perkasaa.. Oh.. Oh.. Oh.. uuhh!"
"Marvin sangat nikamatth.. ennakhh terussh sayang.. teruszhh.. oouugghh mmhh.."
"Lin, aku mau keluar, di dalam nggak apa-apa atau dicabut?"
"No, jangan dicabut, keluarin di dalam saja Sayang.."
"Enak mana sama punya suamimu?" katanya.
"Enak inni.. hh.. Marvin!" kata saya jujur.
Pada saat itu saya juga akan mencapai orgasme yang kesekian kalinya. Marvin tiba-tiba merenggut, menjambak rambut saya. Dihentak-hentakkan. Oh, ternyata mampu mempercepat orgasme saya.
"Ooouughh.."
"Seerr.."
Semprotannya kencang sekali. Dibarengi dengan semburan cairan kewanitaan saya tanda pengakuan akan kenikmatan yang diberikan Marvin. Marvin masih terus mengocok pelan-pelan, setelah agak lama baru dikeluarkan rudalnya, dan saking penuhnya isi kemaluan saya, terdengar bunyi "Plop!" saat barangnya dicabut.
"Berapa sih panjangnya Marvin?"
"Cuma 23 cm."
Oh, pantas sampai sesak rasanya.
Saya tersadar, "Oh.. Marvin saya takut hamil!"
"Nungging aja, biar sperma saya balik lagi."
Terpaksa saya menungging. Melihat saya begini, dasar nafsu dan tenaganya memang Ok, Marvin menghajar saya lagi dari belakang. Dasar barangnya memang kuat, besar dan panjang tidak ada kesulitan sedikitpun menyelusup dari arah bawah belakang. Yang ada cuma saya dengan kenikmatan baru seolah tanpa akhir. Mimpi apa semalam, kok dapat pengalaman yang aneh begini, tapi nikmat sekali. Sulit untuk disesali.
Demikian cerita saya, jika ada pembaca yang ingin bertukar pikiran (cowok atau cewek), silakan hubungi saya melalui e-mail.
TAMAT
Tetangga kostku
Kejadian pertama kali sekitar 3 tahun yang lalu waktu aku kost di suatu kota karena tugas dari kantor, tetangga kost ku seorang gadis usia sekitar 22 tahun pertama ketemu biasa cuma salaman sambil menyebut namanya 'N' dan waktu itu aku belum ada perasaan ku, maklum aku sudah punya keluarga dan anak.
Suatu hari dia datang ke tempat kost ku dan dia hanya ngobrol biasa cerita tentang pacarnya, keluarganya dan hobby nya, aku pun hanya menjadi pendengar yang baik sambil nonton TV bareng.
Entah bagaimana asal mula nya tiba tiba dia mendekatkan duduknya ke kursi TV ku aku pun tidak ada maksud lain kecuali hanya mengelus punggung nya yg kebetulan waktu itu dia membelakangi ku tetapi tanpa ku duga dia malah mengerang seperti terangsang ughh mass.., aku pun kaget sebagai laki laki yg sudah berkeluarga aku pun mulai merasa nggak enak takut terjadi yang lebih jauh kasian dia kalau hanya menjadi teman tidurku saja pada waktu aku di tempat kost.
Tetapi justru reaksi gadis itu sungguh di luar dugaan ku dia malah balik memeluk ku sambil berkata
"mas aku kesepian peluk aku Mas cium aku Mas aku kesepian". Sebagai laki laki normal iman ku pun runtuh ku peluk dia dan kuciumi dia yang sudah begitu nafsu, itu bisa kurasakan dari buah dadanya yang besar dan mengeras.
Dan aku baru sadar setelah dia membuka seluruh baju luarnya dan celentang di atas karpet kamar kost ku dengan hanya memakai CD merah & bra warna krem muda, tetapi aku menolak untuk berbuat yang lebih jauh lagi ku katakan padanya bahwa aku sudah berkekuarga & mempunyai anak aku hanya menurunkan Bra nya dan tampak didepan ku pemandangan yang sebelumya tidak kubayang kan sesosok tubuh sintal dengan buah dada yang besar, lalu kuremas remas dengan lembut buah dadanya yang montok & putih besar benar membangkitkan kejantanan ku.
Terus ku isap puting nya yang merah muda lagi masih kecil banget bergantian kiri dan kanan
"aduhh mass .. Terus mass isap lagi .."
"berapa ukuranya " kutanyakan sambul memegangi buah dadanya
"38 B "
"wah pantesan gede banget" jawab ku
"mas nggak suka yah?"
"Inilah yang paling saya sukai" jawab ku sambil mengelus & meremas kedua susu nya
"yah udah terserah Mas mau di apain" jawabnya lagi pasrah.
Tapi malam itu tidak berlanjut sampai terlalu jauh karena sisi iman ku masih kuat dan dia ku suruh keluar ngobrol sama ibu kostku di ruangan tamu.
Hari - hari berikutnya dia sering datang ke rumah kost ku dengan alasan minta di ajarin komputer
"mas ajarin komputer dong "
"boleh" jawabku
"kamu sudah punya pacar yg serius belum sih?" iseng iseng tanya ku
"ada sih"
"emang kenapa Mas tanya gitu? " dia balik bertanya
'"nggak papa aku cuma tanya aja" jawab ku
"kamu pernah dicium sama pacar kamu dong?"
"pernah tapi nggak sering"
"terus diapain lagi?"
"cuma dicium aja "
"emang Mas mau ngajarin yang lainya selain dicium yah mas?" jawab nya setengah menantang
Edan pikirku anak ini sudah bener pasrah pada ku
"kamu pernah berhunbungan badan sama pacarmu belom?" tanya ku lagi
"lho kok Mas tanya gitu kayak wartawan aja"
"lho sorry kalo Mas kelewatan nanyanya?"
"aku belum pernah berhubungan badan Mas kecuali ciuman itupun nggak sering"
"masa"
"sumpah Mas boleh coba .."
Nah luh lebih edan lagi anak ini masa aku disuruh coba menyetubuhi nya
"jangan bercanda Lho.. "
"sungguh lho Mas aku mau kalo Mas mau"
"jangan macam-macam Mas kan sudah tua sudah punya keluarga lagi " jawab ku
"aku nggak nuntut apa apa lho mas, karena aku tau Mas udah punya anak istri aku hanya suka aja sama mas"
Oh ya perlu pembaca tau saat itu usia ku 40 tahun dan dia sekitar 22
Wah wah aku pikir inilah sebuah gambaran kehidupan & pergaulan kota metropolitan di mana batas antara dua sisi yang berbeda sudah samar atau bahkan sudah hilang sama sekali.
Hari itu tidak terjadi yang lebih jauh paling hanya cium dan remas payudara saja setelah itu dia saya suruh pulang, sebelum dia pulang dia membisikan lagi:
"Mas aku mau kalo Mas mau"
"Mau apaan " kata ku setengah bercanda
"dasar " katanya sambil meremas jari ku
Dua hari kemudian dia datang lagi ke rumah ku dia menanyakan tawaranya tempo hari:
"Gimana Mas mau nggak?"
"Ntar aku pikir pikir dulu?"
padahal dalam bathin ku telah terjadi peperangan antara mau dan tidak mau..
"Ah Mas banci sama saja kayak pacarku"
Nah lho sebagai laki laki normal aku merasa tertantang dengan kata kata banci tadi.
Entah setan mana yang merasuki pikiran ku aku jawab
"OK Kapan maunya?" balik ku tantang
"Nah gitu dong mas, jangan takut aku nuntut deh Mas aku tau diri kok"
"terus gimana kalo kamu hamil?"
"Kalo Mas mo keluar keluarinnya di luar aza yah?"
"kayak di film lho"
rupanya dia sering nonon film Blue
Dan aku pun janjian karena tidak mungkin aku melakukannya di kamar kost ku terlalu riskan walaupun ibu kost sudah percaya banget pada ku.
Esok harinya aku dan dia janjian di suatu tempat, dan seterusnya kami booking di suatu hotel.
Dikamar no 19 Aku mulai memenuhi tantangan dia, rupanya birahinya sudah tidak tertahan lagi begitu kami berada di kamar dan pintu sudah ku kunci dia langsung menubruk ku sambil melenguh
"Mass .."
Kubuka t.shirt merah nya, lalu ku ciumi pangkal susu nya yang putih dan besar (ukuran 38 B) balas dia memegangi penis ku dari balik resluiting celanaku yang sudah mulai bereaksi
"Mass .. aku senang sekalii lho bisa berduaan begini "
Sembari membuka bra Guess nya yang berwarna merah menyala sehingga kelihatan kontras sama kulit susu nya yang putih mulus lagi montok.
Ku jamah kedua susu nya yang besar dan ku ukur dengan telapak tangan ku ternyata kedua belah tangan ku tidak sanggup menutupi susu nya yang besar itu.
Kuciumi puting nya yang merah muda lalu ku isap isap sampai dia mengeluarkan erangan nikmat berkepanjangan:
"Mass ..Teruuss aduhh enak sekalii mass teruss ..
"lagi Mas satunya lagi.. oghh nikmat banget mass.."
Tanpa terasa dia pun sudah melorotkan jeans dan CD nya tanpa bantuan ku sama sekali.
"Mass.. pegangin yang bawah, dia tidak berani bilang memek atau vagina karena memang dia belum pernah melakukan persetubuhan sebelumnya.
Saya Lihat disekitar Vagina nya baru di tumbuhi bulu - bulu halus pendek, lalu ku elus tetapi di bagian lubang nya sudah mengeluarkan cairan hangat berupa lendir.
"Sementara mulutku meciumi tubuh nya yang putih mulus dari rambut, leher terutama susu nya yang betul sangat menggairahkan ku terus ku remas dan ku ciumi sampai ke pusar dan selangkannya sehingga aroma birahinya tercium jelas
"Masukin mass.."
"Bener Nggak nyesel nih kalo saya masukin?"
"Tidak mas" sambil menggeleng manja
Ku luruskan penisku ke lobang vagina nya yang sudah basah
"ohh .. mass .."
Ku tekan terus
"Pelan pelan mass .. ouhh.."
terus kutekan penisku yang sudah sangat keras dan besar tetapi baru setengah masuk penisku dia menjerit halus..
"aduhh mass sakiit pelan pelan yahh .."
"jangan terlalu dalam yah mass.. " desahnya lagi
aku tahan aku tidak berani memaksakan memasukan seluruh penisku takut terjadi apa2.
Terus ku tahan di posisi setengah masuk, terus kutarik lalu di tekan lagi lagi2 dia menjerit halus kesakitan, terpaksa aku ahanya bisa memasukan setengah saja terus ku genjot turun naik, tetapi begitu turun (masuk hanya sampai setengah saja) dia kelihatan menikmati sekali terus terus terus ..
"oh Mas terus Mas enak banget Mas terus Mas tapi jangan terlalu dlam yah Mas .. masih sakit"
Saya lihat dia benar2 baru melakukannya hari itu, kelihatan dari reaksinya lebih banyak aku yang agressip sedang dia hanya menikmati saja, walaupun demikian dia betul menikmati sehingga suatu saat dia mengeluarkan lenguhan panjang dn tanpa disadari pantatnay terangkat secara spontan dan bless masuklah penisku semua:
"Ouhh mass sakiitt .."
bukan main kaget nya buru2 ku cabut penis ku tapi dia menahanya
"terusin Mas sakit sedikit gapapa kok ntar juga ilang"
terus ku pompa vagina nya sambil ku remas dan ku isap payudaranya dan tidak lama kemudian tubuhnya menggeliat geliat dan mengerang:
:"ouuhh mass aku aku.. keluaarr mass.. tekan mass..
ku tekan terus lalu ku tahan sampai dia lemas dan membuka matanya
"mas enak banget yah.. "
padahal punya ku belum mau keluar terus kutahan didalam vagina nya yang sempit dan hangat sampai setengah jam kemudiam ku pompa lagi lalu kukatakan di sela erangan nikmatnya bahwa aku mau keluar dia tidak peduli lagi mani ku mau dikeluarkan di mana malah ketika mani ku sudah hampir muncrat malah dia memegangi pinggang ku makin erat sehingga crot .. crot.. crot.. crot .. mani ku keluar dalam vaginanya diringi erangan nikmat:
"oughh mass terus mass enaak sekalii "
setelah mencapai klimaks dia baru sadar bahwa maniku di keluarkan di dalam
Terus ku tanya padanya
"N Kamu nggak nyesel yah?"
"tidak Mas "
" N gimana kalo kamu hamil?"
"hah Iya yah Mas keluarin di dalam yah?"
" kan tadi kamu yang tahan "
"Yah mudah2 an nggak hamil yah mas"
"walaupun saya hamil nggak nuntut Mas kok " katanya
Tetapi setelah dua minggu kemudian dia bilang dia sedang datang bulan berarti dia tidak hamil, mungkin sewaktu kami melakukan hubungan badan dia sedang tidak subur.
Hari itu kami melakukanya sampai 3 kali, padahal di rumah aku paling kuat cuma 2 kali sampai tulang belulang ku serasa lemas begitupun dia yang baru pertama melakukan persetubuhan.
"mas selangkangan ku sakit "
"yah itu karena kamu belum terbiasa bersetubuh" jawab ku
"lama-lama juga biasa ko "
Dan setelah kejadian itu dia terus datang ke tempat kost ku sekedar bercumbu tetapi tidak sampai melakukan persetubuhan di tempat kost takut ketahuan.
Bila dia sedang tidak sibuk atau lagi senggang jadwal kuliah dan kerja nya dia selalu mengajak saya mengulangi perbuatan kami di Hotel kamar no 19 dan sampai sekarang masih berlanjut padahal saya dengar dia sudah mau nikah sama pacarnya yang dulu.
Tamat
Suatu hari dia datang ke tempat kost ku dan dia hanya ngobrol biasa cerita tentang pacarnya, keluarganya dan hobby nya, aku pun hanya menjadi pendengar yang baik sambil nonton TV bareng.
Entah bagaimana asal mula nya tiba tiba dia mendekatkan duduknya ke kursi TV ku aku pun tidak ada maksud lain kecuali hanya mengelus punggung nya yg kebetulan waktu itu dia membelakangi ku tetapi tanpa ku duga dia malah mengerang seperti terangsang ughh mass.., aku pun kaget sebagai laki laki yg sudah berkeluarga aku pun mulai merasa nggak enak takut terjadi yang lebih jauh kasian dia kalau hanya menjadi teman tidurku saja pada waktu aku di tempat kost.
Tetapi justru reaksi gadis itu sungguh di luar dugaan ku dia malah balik memeluk ku sambil berkata
"mas aku kesepian peluk aku Mas cium aku Mas aku kesepian". Sebagai laki laki normal iman ku pun runtuh ku peluk dia dan kuciumi dia yang sudah begitu nafsu, itu bisa kurasakan dari buah dadanya yang besar dan mengeras.
Dan aku baru sadar setelah dia membuka seluruh baju luarnya dan celentang di atas karpet kamar kost ku dengan hanya memakai CD merah & bra warna krem muda, tetapi aku menolak untuk berbuat yang lebih jauh lagi ku katakan padanya bahwa aku sudah berkekuarga & mempunyai anak aku hanya menurunkan Bra nya dan tampak didepan ku pemandangan yang sebelumya tidak kubayang kan sesosok tubuh sintal dengan buah dada yang besar, lalu kuremas remas dengan lembut buah dadanya yang montok & putih besar benar membangkitkan kejantanan ku.
Terus ku isap puting nya yang merah muda lagi masih kecil banget bergantian kiri dan kanan
"aduhh mass .. Terus mass isap lagi .."
"berapa ukuranya " kutanyakan sambul memegangi buah dadanya
"38 B "
"wah pantesan gede banget" jawab ku
"mas nggak suka yah?"
"Inilah yang paling saya sukai" jawab ku sambil mengelus & meremas kedua susu nya
"yah udah terserah Mas mau di apain" jawabnya lagi pasrah.
Tapi malam itu tidak berlanjut sampai terlalu jauh karena sisi iman ku masih kuat dan dia ku suruh keluar ngobrol sama ibu kostku di ruangan tamu.
Hari - hari berikutnya dia sering datang ke rumah kost ku dengan alasan minta di ajarin komputer
"mas ajarin komputer dong "
"boleh" jawabku
"kamu sudah punya pacar yg serius belum sih?" iseng iseng tanya ku
"ada sih"
"emang kenapa Mas tanya gitu? " dia balik bertanya
'"nggak papa aku cuma tanya aja" jawab ku
"kamu pernah dicium sama pacar kamu dong?"
"pernah tapi nggak sering"
"terus diapain lagi?"
"cuma dicium aja "
"emang Mas mau ngajarin yang lainya selain dicium yah mas?" jawab nya setengah menantang
Edan pikirku anak ini sudah bener pasrah pada ku
"kamu pernah berhunbungan badan sama pacarmu belom?" tanya ku lagi
"lho kok Mas tanya gitu kayak wartawan aja"
"lho sorry kalo Mas kelewatan nanyanya?"
"aku belum pernah berhubungan badan Mas kecuali ciuman itupun nggak sering"
"masa"
"sumpah Mas boleh coba .."
Nah luh lebih edan lagi anak ini masa aku disuruh coba menyetubuhi nya
"jangan bercanda Lho.. "
"sungguh lho Mas aku mau kalo Mas mau"
"jangan macam-macam Mas kan sudah tua sudah punya keluarga lagi " jawab ku
"aku nggak nuntut apa apa lho mas, karena aku tau Mas udah punya anak istri aku hanya suka aja sama mas"
Oh ya perlu pembaca tau saat itu usia ku 40 tahun dan dia sekitar 22
Wah wah aku pikir inilah sebuah gambaran kehidupan & pergaulan kota metropolitan di mana batas antara dua sisi yang berbeda sudah samar atau bahkan sudah hilang sama sekali.
Hari itu tidak terjadi yang lebih jauh paling hanya cium dan remas payudara saja setelah itu dia saya suruh pulang, sebelum dia pulang dia membisikan lagi:
"Mas aku mau kalo Mas mau"
"Mau apaan " kata ku setengah bercanda
"dasar " katanya sambil meremas jari ku
Dua hari kemudian dia datang lagi ke rumah ku dia menanyakan tawaranya tempo hari:
"Gimana Mas mau nggak?"
"Ntar aku pikir pikir dulu?"
padahal dalam bathin ku telah terjadi peperangan antara mau dan tidak mau..
"Ah Mas banci sama saja kayak pacarku"
Nah lho sebagai laki laki normal aku merasa tertantang dengan kata kata banci tadi.
Entah setan mana yang merasuki pikiran ku aku jawab
"OK Kapan maunya?" balik ku tantang
"Nah gitu dong mas, jangan takut aku nuntut deh Mas aku tau diri kok"
"terus gimana kalo kamu hamil?"
"Kalo Mas mo keluar keluarinnya di luar aza yah?"
"kayak di film lho"
rupanya dia sering nonon film Blue
Dan aku pun janjian karena tidak mungkin aku melakukannya di kamar kost ku terlalu riskan walaupun ibu kost sudah percaya banget pada ku.
Esok harinya aku dan dia janjian di suatu tempat, dan seterusnya kami booking di suatu hotel.
Dikamar no 19 Aku mulai memenuhi tantangan dia, rupanya birahinya sudah tidak tertahan lagi begitu kami berada di kamar dan pintu sudah ku kunci dia langsung menubruk ku sambil melenguh
"Mass .."
Kubuka t.shirt merah nya, lalu ku ciumi pangkal susu nya yang putih dan besar (ukuran 38 B) balas dia memegangi penis ku dari balik resluiting celanaku yang sudah mulai bereaksi
"Mass .. aku senang sekalii lho bisa berduaan begini "
Sembari membuka bra Guess nya yang berwarna merah menyala sehingga kelihatan kontras sama kulit susu nya yang putih mulus lagi montok.
Ku jamah kedua susu nya yang besar dan ku ukur dengan telapak tangan ku ternyata kedua belah tangan ku tidak sanggup menutupi susu nya yang besar itu.
Kuciumi puting nya yang merah muda lalu ku isap isap sampai dia mengeluarkan erangan nikmat berkepanjangan:
"Mass ..Teruuss aduhh enak sekalii mass teruss ..
"lagi Mas satunya lagi.. oghh nikmat banget mass.."
Tanpa terasa dia pun sudah melorotkan jeans dan CD nya tanpa bantuan ku sama sekali.
"Mass.. pegangin yang bawah, dia tidak berani bilang memek atau vagina karena memang dia belum pernah melakukan persetubuhan sebelumnya.
Saya Lihat disekitar Vagina nya baru di tumbuhi bulu - bulu halus pendek, lalu ku elus tetapi di bagian lubang nya sudah mengeluarkan cairan hangat berupa lendir.
"Sementara mulutku meciumi tubuh nya yang putih mulus dari rambut, leher terutama susu nya yang betul sangat menggairahkan ku terus ku remas dan ku ciumi sampai ke pusar dan selangkannya sehingga aroma birahinya tercium jelas
"Masukin mass.."
"Bener Nggak nyesel nih kalo saya masukin?"
"Tidak mas" sambil menggeleng manja
Ku luruskan penisku ke lobang vagina nya yang sudah basah
"ohh .. mass .."
Ku tekan terus
"Pelan pelan mass .. ouhh.."
terus kutekan penisku yang sudah sangat keras dan besar tetapi baru setengah masuk penisku dia menjerit halus..
"aduhh mass sakiit pelan pelan yahh .."
"jangan terlalu dalam yah mass.. " desahnya lagi
aku tahan aku tidak berani memaksakan memasukan seluruh penisku takut terjadi apa2.
Terus ku tahan di posisi setengah masuk, terus kutarik lalu di tekan lagi lagi2 dia menjerit halus kesakitan, terpaksa aku ahanya bisa memasukan setengah saja terus ku genjot turun naik, tetapi begitu turun (masuk hanya sampai setengah saja) dia kelihatan menikmati sekali terus terus terus ..
"oh Mas terus Mas enak banget Mas terus Mas tapi jangan terlalu dlam yah Mas .. masih sakit"
Saya lihat dia benar2 baru melakukannya hari itu, kelihatan dari reaksinya lebih banyak aku yang agressip sedang dia hanya menikmati saja, walaupun demikian dia betul menikmati sehingga suatu saat dia mengeluarkan lenguhan panjang dn tanpa disadari pantatnay terangkat secara spontan dan bless masuklah penisku semua:
"Ouhh mass sakiitt .."
bukan main kaget nya buru2 ku cabut penis ku tapi dia menahanya
"terusin Mas sakit sedikit gapapa kok ntar juga ilang"
terus ku pompa vagina nya sambil ku remas dan ku isap payudaranya dan tidak lama kemudian tubuhnya menggeliat geliat dan mengerang:
:"ouuhh mass aku aku.. keluaarr mass.. tekan mass..
ku tekan terus lalu ku tahan sampai dia lemas dan membuka matanya
"mas enak banget yah.. "
padahal punya ku belum mau keluar terus kutahan didalam vagina nya yang sempit dan hangat sampai setengah jam kemudiam ku pompa lagi lalu kukatakan di sela erangan nikmatnya bahwa aku mau keluar dia tidak peduli lagi mani ku mau dikeluarkan di mana malah ketika mani ku sudah hampir muncrat malah dia memegangi pinggang ku makin erat sehingga crot .. crot.. crot.. crot .. mani ku keluar dalam vaginanya diringi erangan nikmat:
"oughh mass terus mass enaak sekalii "
setelah mencapai klimaks dia baru sadar bahwa maniku di keluarkan di dalam
Terus ku tanya padanya
"N Kamu nggak nyesel yah?"
"tidak Mas "
" N gimana kalo kamu hamil?"
"hah Iya yah Mas keluarin di dalam yah?"
" kan tadi kamu yang tahan "
"Yah mudah2 an nggak hamil yah mas"
"walaupun saya hamil nggak nuntut Mas kok " katanya
Tetapi setelah dua minggu kemudian dia bilang dia sedang datang bulan berarti dia tidak hamil, mungkin sewaktu kami melakukan hubungan badan dia sedang tidak subur.
Hari itu kami melakukanya sampai 3 kali, padahal di rumah aku paling kuat cuma 2 kali sampai tulang belulang ku serasa lemas begitupun dia yang baru pertama melakukan persetubuhan.
"mas selangkangan ku sakit "
"yah itu karena kamu belum terbiasa bersetubuh" jawab ku
"lama-lama juga biasa ko "
Dan setelah kejadian itu dia terus datang ke tempat kost ku sekedar bercumbu tetapi tidak sampai melakukan persetubuhan di tempat kost takut ketahuan.
Bila dia sedang tidak sibuk atau lagi senggang jadwal kuliah dan kerja nya dia selalu mengajak saya mengulangi perbuatan kami di Hotel kamar no 19 dan sampai sekarang masih berlanjut padahal saya dengar dia sudah mau nikah sama pacarnya yang dulu.
Tamat
Thanks to the night
Sebelum saya bercerita saya ingin memperkenalkan dulu nama saya Andrey, seorang engineer. Saya berumur 28 tahun dan kerja di salah satu konsultan teknologi informasi di Bandung. Hampir seminggu sekali selama 2 hari saya berada di Jakarta, karena saya diutus kantor untuk mengurusi proyek yang ada di Jakarta. Itu artinya saya sering menggunakan jasa kereta buat pulang pergi Jakarta-Bandung. Sebetulnya saya sudah mempunyai seorang kekasih di Bandung dan tahun ini berencana untuk menikah, hanya saya masih ragu, dan hal ini yang sering membuat kami bertengkar.
Pada hari itu saya berangkat ke Jakarta dengan perasaan bete banget karena pacar saya ternyata tidak ada di tempat kost, dan menurut teman kostnya dia pergi dari tadi malam dan sampai sekarang belum pulang. Saya sudah mencoba hubungi lewat phonselnya, tapi tidak pernah aktif. Kereta Argo Gede yang membawa saya ke Jakarta sore itu memang cukup padat, untungnya saya sudah memesan tiket lebih dulu ke salah satu pramugari yang saya kenal di kereta, karena kebetulan dia ternyata adik kelas saya waktu di SMU.
Saya langsung menuju kursi yang tertera dalam tiket dan berniat untuk langsung tidur karena lelah, soalnya semalam saya dengan teman-teman nongkrong dulu di Cafe Sapu Lidi, jadi baru tidur malam tadi pukul 3 dini hari. Ternyata di sebelah kursi saya sudah duduk seorang wanita kira-kira berumur 30 tahunan. Hanya dari caranya berpakaian terlihat orang itu adalah eksekutif muda, pakaiannya cukup seksi dengan rok span agak mini, kira-kira 10 centi di atas lutut, ditambah dengan kaos ketat putih yang ditutupi blazer coklat muda sangat cocok dengan kulitnya yang putih.
Harum Giovanni sekelibat menusuk hidung, wanginya seksi sekali, tapi karena pikiran saya lagi 'butek' saya langsung saja mangambil posisi tidur. Sandaran kursi saya tarik ke belakang sambil tidak lupa bilang permisi kepada wanita di samping saya itu. Dia hanya tersenyum sambil mengangkat phonselnya yang berdering. Samar-samar saya mendengar kalau telepon itu dari anak buahnya atau supirnya, karena dia bilang kalau memang mobilnya sedang di bengkel tidak perlu dijemput, biar pakai taksi saja.
Tidak terasa satu jam saya tertidur, saya terbangun ketika merasa ada kepala yang bersandar di pundak saya, ternyata gadis itu juga tertidur dan tanpa disengaja kepalanya menyender ke bahu saya. Ingin saya membangunkannya karena mulai terasa pegal, tapi ketika saya melihat gadis itu tertidur pulas, rasanya jadi tidak tega, lagian wangi rambutnya membuat saya betah dengan posisi itu. Saya terus memandangi wajah cantik yang tertidur pulas itu. Hidungnya mancung dengan bibir tipis yang dibalut polesan lipstik merah muda, terlihat seksi sekali.
Kemudian tanpa disengaja mata saya menyusur ke bawah menuju belahan dadanya, putih sekali dengan dua gumpalan daging yang padat dan cukup besar. Saya taksir kira-kira berukuran 36C. Setelah cukup lama memperhatikan buah dadanya, mata saya turun lagi ke bawah, bagian pahanya yang terbalut dengan rok span. Dengan posisi kaki yang sedikit menyilang membuat roknya tersingkap agak ke atas. Mungkin kalau saya membungkukkan kepala sedikit ke depan, celana dalamnya pasti terlihat dengan jelas, tapi dengan kepalanya yang bersandar ke bahu saya, tidak memungkinkan saya melakukannya.
Melihat pemandangan seperti itu justru membuat darah saya berdesir dan menjalar ke pangkal paha saya. Tidak terasa penis saya mulai bergerak naik, agak sakit memang, karena dengan posisi duduk saya, penis ini menjadi tidak bebas bergerak. Akhirnya saya hanya dapat berdiam diri saja.
Dua puluh menit sudah saya dalam posisi itu sampai akhirnya dia terbangun, tersadar akan posisinya yang menyandar pada diri saya. Gadis itu segera bangun dan tersenyum sambil meminta maaf.
"Aduh.., sorry ya Mas.., saya enggak sengaja, abis ngantuk banget sih." katanya sopan.
"Engga pa-pa kok, soalnya rambut kamu wangi banget, jadi saya betah." kata saya sambil tersenyum.
Dia langsung mengulurkan tangan dan memperkenalkan diri, "Oh ya, kita belum kenalan, nama saya Neva."
"Saya Andrey." kata saya sambil membalas jabat tangannya, terasa lembut sekali.
Kami jadi ngobrol kemana-mana, dari ceritanya saya tahu dia salah seorang manajer marketing di perusahaan penyedia jasa internet di Jakarta. Kami ngobrol seperti orang yang sudah kenal tahunan. Saya merasa Neva orangnya supel, sedikit bebas, dan tidak terlalu memikirkan masa yang akan datang.
Dia bilang, "Nikmati aja hidup sekarang, kalo buat besok sih ya gimana besok aja." katanya sambil tertawa renyah, pas sekali dengan prinsip saya.
Kereta sudah sampai di Jatinegara, yang berarti 10 menit lagi sampai Gambir.
Iseng saya bertanya, "Kamu pulang pake apa..?"
"Pake taksi aja, abis mobil saya lagi di bengkel."
"Wah kasian kamu, malem-malem gini pake taksi sendirian, gimana kalo saya anter aja, kebetulan mobil saya, saya parkir di Gambir."
"Emang pulangnya kemana..?" tanya saya lagi.
"Ke daerah Senen, saya kontrak rumah di sana."
"Kalo gitu kebeneran dong, rumah saya juga di daerah cempaka putih, jadi kita kan satu jalan, mau kan bareng saya..?" kata saya lagi.
Dia berpikir sebentar, dan akhirnya, "Boleh deh, tapi jangan perkosa saya ya..! Hahaha.." tawanya begitu lepas.
Akhirnya kami pulang bersama. Sedikit memaksa, Neva menawari untuk mampir ke rumah kontrakannya. Saya sebenarnya sudah capek dan ingin langsung pulang ke rumah orangtua saya.
Tetapi dengan memelas, Neva menarik tangan saya dan bilang, "Ayo dong Mas, temenin Neva bentar aja, Neva masih pengen ngobrol nih, kan baru jam 9 malem, masa Neva musti bengong nontonin TV, soalnya Neva biasa tidur jam dua belasan."
Akhirnya saya bilang, "OK deh, cuma saya bisa ikut mandi kan..? Abis badan saya udah lengket nih..!"
Saya ditariknya ke kamar tidur Neva. Mulanya saya bingung, karena saya ijin mandi kok malah ke kamar tidur, ternyata kamar mandinya memang berada di ruang tidur itu. Akhirnya saya ijin untuk mandi.
Neva memberikan sebuah handuk dan sabun mandi sambil berkata, "Jangan dipake ngocok lho..!"
Gila nih cewek, kok bercandanya dari tadi tidak jauh dari soal gituan. Saya langsung menyalakan shower, dan membilas semua badan dengan air hangat.
Tiba-tiba pintu diketuk, saya langsung mematikan shower, "Ada apa Nev..?" tanya saya dari dalam.
"Mas saya lupa, kalo sikat giginya ketinggalan." teriaknya pelan dari balik pintu.
Perlahan saya buka pintu sedikit, saya tengokkan kepala, dan mendapati ternyata Neva hanya berbalut handuk kecil tipis berwarna putih sehingga tonjolan putingnya tampak begitu jelas sedikit kecoklatan. Yang lebih edan lagi adalah bagian bawahnya, nyaris memperlihatkan pangkal pahanya.
"Kamu mo mandi juga ya Nev..?"
"He eh.., boleh enggak ikutan..?" tanyanya manja.
Saya rasanya bodoh jika mengatakan tidak. Saya buka lebar-lebar daun pintu, secara refleks Neva melihat ke bagian bawah saya yang masih telanjang bulat.
"Gila bentuk penis kamu ko kayak si Rocco yang di film itu sih..?"
Hah..! ternyata nih cewek doyan juga nonton bokep, sampe kenal sama si Rocco segala.
"Udah deh Mas, jangan bengong gitu, biasa kan jaman sekarang cewek nonton blue film, kan emansipasi." katanya sambil nyelonong masuk ke kamar mandi.
Neva langsung memasukkan kakinya ke dalam Bathtub yang sudah terisi setengah air itu. Badannya membungkuk untuk menyentuh air, mungkin untuk memastikan airnya cukup hangat untuk digunakan berendam. Posisinya yang membungkuk dengan kakinya yang jenjang putih itu membuat darah saya berdesir kuat. Jantung saya berdegup lebih keras dari biasanya, terus terang saya belum pernah melihat wanita secara nyata dalam keadaan setengah telanjang.
Secara refleks saya mengelus belahan pantatnya yang ditutupi genre hijau muda dengan tangan kanan saya. Karena yang kiri sedang memegang sabun, Neva mengambil tangan saya dan memindahkannya pada bagian perutnya yang tipis dan halus. Saya perlahan mengusap dengan lembut, posisi kami sama-sama menghadapi cermin yang ada di kamar mandi itu. Tangan kiri Neva ditarik ke belakang dan memeluk leher saya secara lembut. Selama lima menit pantat Neva bergesekan lembut dengan penis saya, kami berdansa lembut.
Cermin yang memantulkan citra saya san Neva membuat hasrat saya semakin menggebu. Saya membuang sabun dan memindahkan tangan kiri saya ke dadanya yang cukup besar itu. Perlahan saya mengusap pinggiran gunung kembarnya, dan jemari saya garuk lembut di bagian putingnya. Dari cermin saya melihat Neva tersenyum dan sedikit mendesah. Tangan kanan saya secara perlahan dan teratur turun ke belahan pahanya, naik lagi ke bukit merah muda yang masih ditutupi celana dalamnya. Saya usap bolak-balik, rasanya nyaman sekali memainkan tangan di luar celana dalam wanita.
Kemudian perlahan tangan Neva memindahkan tangan saya ke bagian dalam celananya yang mulai berlendir. Saya mengusap dengan teknik memutar ibu jari dan jari tengah, sementara jari manis saya menggaruk lembut bagian pinggir labia mayoranya. Sementara gerakan tangan saya berjalan, lidah saya secara perlahan menjilati bagian pinggir kupingnya. Ternyata teknik saya ini membuat Neva berteriak lembut, desahannya terasa meningkat.
Tidak berapa lama kemudian Neva berbalik dan berbisik, "Mas, saya pindah di ujung bathtub ini ya..?" katanya sambil secara lembut menarik celana dalamnya.
Saya terpana melihat vaginanya yang ditutupi rambut-rambut halus yang dicukur dengan rapih, merangsang sekali. Neva kemudian duduk dan sebelah kakinya diangkat ke atas membuat vaginanya terbelah mekar, memperlihatkan bagian labia-nya yang sudah sedikit basah.
"Mas.., jilatin memek saya ya..! Saya pengen banget nih..!" pintanya.
Tanpa diperintah dua kali saya berjongkok di bathtub dan kepala saya julurkan ke arah kemaluannya. Saya mulai dengan jilatan di paha dalam, kemudian secara pasti menuju belahan vaginanya. Saya berusaha untuk sabar, jangan sampai dia merasa terlalu cepat naik.
Setelah sepuluh menitan saya memainkan bagian luar kemaluannya, kedua tangan saya secara mantap memegang pahanya dengan cara melingkar agar dia tidak banyak bergerak. Akan saya buat Neva tidak dapat melupakan teknik oral ini. Saya menyusupkan kepala saya ke pahanya. Saya hisap berkali-kali sambil divariasikan dengan jilatan naik turun. Hal ini saya yakin membuat klitorisnya membesar dan dengan mudah akan saya gigit pelan. Ternyata usaha saya berhasil, Neva mulai menggelinjang dan tangannya secara keras menjambak rambut saya.
"Mas.., Neva enggak tahan nih, mo keluar..!" katanya.
Neva mengejang dan saya merasakan bibir saya sedikit terjepit. Bau harum lendir Neva menyusup ke hidung, saya tahu Neva orgasme hebat karena cukup lama Neva mengejang, sebelum akhirnya lemas dan tersandar di pinggir bathtub.
"Mas.., makasih banget ya, kamu hebat, Vena baru kali ini orgasme lama banget."
"OK, makasih juga, saya juga seneng kok, cuma saya kayaknya musti swalayan nih, kalo kamu udah capek gini." kata saya mencoba berkelakar.
Ternyata Vena langsung mendorong tubuh saya sehingga saya terduduk di atas closet duduk.
Vena tersenyum, "Sekarang giliran saya muasin kamu Mas..! Tunggu bentar ya Mas..!"
Vena mencuci sebentar kemaluannya dan mulai mendekati. Kakinya langsung mengangkang dan meluruskan arahnya pada penis saya. Secara perlahan dipegangnya penis saya yang berujung besar dan mulai sedikit memerah, lalu memasukkannya ke liang kenikmatannya yang masih sedikit berdenyut.
Neva ternyata tipe wanita kuat dalam seks, kepala penis saya secara perlahan masuk ke bagian kewanitaannya. Setelah seluruhnya masuk, Neva mulai menggerakkan pinggulnya maju mundur, persis seperti cewek naik kuda, gerakan ini membuat saya terasa melayang. Kemudian secara perlahan gerakannya berganti menjadi berputar dan naik turun. Gila pikir saya, ternyata Neva profesional sekali dalam urusan seks.
Saya mulai merasakan darah di kepala meningkat bersamaan dengan aliran darah menuju penis. Wah.., saya akan cepat keluar nih. Ketika saatnya akan mengalami orgasme, tiba-tiba Neva bangkit dari duduknya, otomatis penis saya terlepas dari liang hangat itu.
Saya keheranan, tapi Neva hanya tersenyum dan bilang, "Tenang Mas..!"
Kemudian dia duduk membelakangi saya dan mulai lagi dengan gerakan turun naik, hanya kali ini dalam hitungan 4 masuk semua dan hitungan 1 hanya sepertiganya.
Kemudian paha saya direnggangkan dan pahanya berada di dalam paha saya, tentu saja ini membuat penis saya semakin terjepit. Secara simultan Vena menaik-turunkan pantatnya. Sekitar 15 menit kemudian, Neva diam sejenak, keringat mulai mengucur dari badan saya dan badan Vena. Dalam posisi diam ternyata vagina Vena justru berdenyut semakin kencang dan rapat yang membuat saya mendesis-desis keenakan. Ternyata Neva punya keahlian juga dalam teknik 'empot ayam'.
"Nev, saya mo keluar nih..!" kata saya.
"Bentar ya Mas.., tahan dulu..!"
Saya sekuat tenaga menahan dengan menarik napas dalam-dalam. Neva menghentikan denyutannya, ini membuat penis saya sedikit tenang.
Neva lalu bangkit dan bilang, "Mas.., saya kulum ya punyamu biar keluarnya lebih enak..?"
Saya hanya dapat pasrah, habis apa pun yang Vena perbuat untuk penis saya benar-benar membuat saya mati keenakan.
Vena mengulum penis dengan ganas dan menggarukkan giginya di ujung penis saya. Saya sudah tidak kuat lagi dan hampir keluar. Tiba-tiba Vena menghentikan oralnya dan menekan penis saya kuat-kuat dengan genggamannya. Orgasme saya langsung hilang.
"Ven, kamu gila ya..!" teria saya, "Kan sakit..!"
"Tenang Mas, mau yang enak banget kan..?" katanya tenang.
Kemudian dilepaskan genggamannya, dan kembali memasukkan penis saya ke liang surgawinya. Kali ini dengan gerakan yang sangat liar secara kasar Neva menggerakkan pinggulnya maju mundur.
Sepuluh menit kemudian tanpa dapat ditahan, saya keluar dan menyemburkan sperma saya ke dalam rahimnya dengan kuat. Gila baru kali ini saya dapat orgasme lebih dari 3 kali semprotan dalam waktu yang sangat lama. Rasanya semua sperma ini keluar dan meluluh lantakan tulang-tulang, mungkin ini akumulasi orgasme saya yang tadi tidak jadi keluar. Tidak lama kemudian Neva mengerang dalam dan mendapatkan orgasmenya yang kedua dalam waktu bersamaan dengan saya. Saya merasa lemas, untuk bangun dari duduk saja rasanya saya tidak kuat, tapi saya paksakan juga.
Kami mandi bersama dan saling membilas sambil bibir saya dan bibirnya saling berpagutan.
"Thank's ya Nev, kamu hebat banget, saya jadi pengen lagi."
Neva tersenyum nakal dan mencium penis saya dengan lembut. Kami keluar dari kamar mandi dan tidak terasa sudah pukul 11 malam. Saya langsung pamit, tapi Vena bilang ingin tidur malam ini dengan saya.
"Gimana nanti dengan pembantu kamu kalo tahu ada cowok tidur di sini..?" tanya saya was-was.
"Jangan khawatir, pembantu saya enggak akan berani masuk kamar, lagian kalo pagi-pagi juga si Bibi ke pasar dan baru pulang jam 11 siang." jelasnya masih tetap berharap saya mau tinggal semalam dengannya.
Akhirnya kami tidur bersama, dan malamnya kami melakukan beberapa kali lagi making love. Saya puas, ternyata ada wanita cantik yang mampu mengimbangi hasrat seks saya yang cukup besar ini.
TAMAT
Pada hari itu saya berangkat ke Jakarta dengan perasaan bete banget karena pacar saya ternyata tidak ada di tempat kost, dan menurut teman kostnya dia pergi dari tadi malam dan sampai sekarang belum pulang. Saya sudah mencoba hubungi lewat phonselnya, tapi tidak pernah aktif. Kereta Argo Gede yang membawa saya ke Jakarta sore itu memang cukup padat, untungnya saya sudah memesan tiket lebih dulu ke salah satu pramugari yang saya kenal di kereta, karena kebetulan dia ternyata adik kelas saya waktu di SMU.
Saya langsung menuju kursi yang tertera dalam tiket dan berniat untuk langsung tidur karena lelah, soalnya semalam saya dengan teman-teman nongkrong dulu di Cafe Sapu Lidi, jadi baru tidur malam tadi pukul 3 dini hari. Ternyata di sebelah kursi saya sudah duduk seorang wanita kira-kira berumur 30 tahunan. Hanya dari caranya berpakaian terlihat orang itu adalah eksekutif muda, pakaiannya cukup seksi dengan rok span agak mini, kira-kira 10 centi di atas lutut, ditambah dengan kaos ketat putih yang ditutupi blazer coklat muda sangat cocok dengan kulitnya yang putih.
Harum Giovanni sekelibat menusuk hidung, wanginya seksi sekali, tapi karena pikiran saya lagi 'butek' saya langsung saja mangambil posisi tidur. Sandaran kursi saya tarik ke belakang sambil tidak lupa bilang permisi kepada wanita di samping saya itu. Dia hanya tersenyum sambil mengangkat phonselnya yang berdering. Samar-samar saya mendengar kalau telepon itu dari anak buahnya atau supirnya, karena dia bilang kalau memang mobilnya sedang di bengkel tidak perlu dijemput, biar pakai taksi saja.
Tidak terasa satu jam saya tertidur, saya terbangun ketika merasa ada kepala yang bersandar di pundak saya, ternyata gadis itu juga tertidur dan tanpa disengaja kepalanya menyender ke bahu saya. Ingin saya membangunkannya karena mulai terasa pegal, tapi ketika saya melihat gadis itu tertidur pulas, rasanya jadi tidak tega, lagian wangi rambutnya membuat saya betah dengan posisi itu. Saya terus memandangi wajah cantik yang tertidur pulas itu. Hidungnya mancung dengan bibir tipis yang dibalut polesan lipstik merah muda, terlihat seksi sekali.
Kemudian tanpa disengaja mata saya menyusur ke bawah menuju belahan dadanya, putih sekali dengan dua gumpalan daging yang padat dan cukup besar. Saya taksir kira-kira berukuran 36C. Setelah cukup lama memperhatikan buah dadanya, mata saya turun lagi ke bawah, bagian pahanya yang terbalut dengan rok span. Dengan posisi kaki yang sedikit menyilang membuat roknya tersingkap agak ke atas. Mungkin kalau saya membungkukkan kepala sedikit ke depan, celana dalamnya pasti terlihat dengan jelas, tapi dengan kepalanya yang bersandar ke bahu saya, tidak memungkinkan saya melakukannya.
Melihat pemandangan seperti itu justru membuat darah saya berdesir dan menjalar ke pangkal paha saya. Tidak terasa penis saya mulai bergerak naik, agak sakit memang, karena dengan posisi duduk saya, penis ini menjadi tidak bebas bergerak. Akhirnya saya hanya dapat berdiam diri saja.
Dua puluh menit sudah saya dalam posisi itu sampai akhirnya dia terbangun, tersadar akan posisinya yang menyandar pada diri saya. Gadis itu segera bangun dan tersenyum sambil meminta maaf.
"Aduh.., sorry ya Mas.., saya enggak sengaja, abis ngantuk banget sih." katanya sopan.
"Engga pa-pa kok, soalnya rambut kamu wangi banget, jadi saya betah." kata saya sambil tersenyum.
Dia langsung mengulurkan tangan dan memperkenalkan diri, "Oh ya, kita belum kenalan, nama saya Neva."
"Saya Andrey." kata saya sambil membalas jabat tangannya, terasa lembut sekali.
Kami jadi ngobrol kemana-mana, dari ceritanya saya tahu dia salah seorang manajer marketing di perusahaan penyedia jasa internet di Jakarta. Kami ngobrol seperti orang yang sudah kenal tahunan. Saya merasa Neva orangnya supel, sedikit bebas, dan tidak terlalu memikirkan masa yang akan datang.
Dia bilang, "Nikmati aja hidup sekarang, kalo buat besok sih ya gimana besok aja." katanya sambil tertawa renyah, pas sekali dengan prinsip saya.
Kereta sudah sampai di Jatinegara, yang berarti 10 menit lagi sampai Gambir.
Iseng saya bertanya, "Kamu pulang pake apa..?"
"Pake taksi aja, abis mobil saya lagi di bengkel."
"Wah kasian kamu, malem-malem gini pake taksi sendirian, gimana kalo saya anter aja, kebetulan mobil saya, saya parkir di Gambir."
"Emang pulangnya kemana..?" tanya saya lagi.
"Ke daerah Senen, saya kontrak rumah di sana."
"Kalo gitu kebeneran dong, rumah saya juga di daerah cempaka putih, jadi kita kan satu jalan, mau kan bareng saya..?" kata saya lagi.
Dia berpikir sebentar, dan akhirnya, "Boleh deh, tapi jangan perkosa saya ya..! Hahaha.." tawanya begitu lepas.
Akhirnya kami pulang bersama. Sedikit memaksa, Neva menawari untuk mampir ke rumah kontrakannya. Saya sebenarnya sudah capek dan ingin langsung pulang ke rumah orangtua saya.
Tetapi dengan memelas, Neva menarik tangan saya dan bilang, "Ayo dong Mas, temenin Neva bentar aja, Neva masih pengen ngobrol nih, kan baru jam 9 malem, masa Neva musti bengong nontonin TV, soalnya Neva biasa tidur jam dua belasan."
Akhirnya saya bilang, "OK deh, cuma saya bisa ikut mandi kan..? Abis badan saya udah lengket nih..!"
Saya ditariknya ke kamar tidur Neva. Mulanya saya bingung, karena saya ijin mandi kok malah ke kamar tidur, ternyata kamar mandinya memang berada di ruang tidur itu. Akhirnya saya ijin untuk mandi.
Neva memberikan sebuah handuk dan sabun mandi sambil berkata, "Jangan dipake ngocok lho..!"
Gila nih cewek, kok bercandanya dari tadi tidak jauh dari soal gituan. Saya langsung menyalakan shower, dan membilas semua badan dengan air hangat.
Tiba-tiba pintu diketuk, saya langsung mematikan shower, "Ada apa Nev..?" tanya saya dari dalam.
"Mas saya lupa, kalo sikat giginya ketinggalan." teriaknya pelan dari balik pintu.
Perlahan saya buka pintu sedikit, saya tengokkan kepala, dan mendapati ternyata Neva hanya berbalut handuk kecil tipis berwarna putih sehingga tonjolan putingnya tampak begitu jelas sedikit kecoklatan. Yang lebih edan lagi adalah bagian bawahnya, nyaris memperlihatkan pangkal pahanya.
"Kamu mo mandi juga ya Nev..?"
"He eh.., boleh enggak ikutan..?" tanyanya manja.
Saya rasanya bodoh jika mengatakan tidak. Saya buka lebar-lebar daun pintu, secara refleks Neva melihat ke bagian bawah saya yang masih telanjang bulat.
"Gila bentuk penis kamu ko kayak si Rocco yang di film itu sih..?"
Hah..! ternyata nih cewek doyan juga nonton bokep, sampe kenal sama si Rocco segala.
"Udah deh Mas, jangan bengong gitu, biasa kan jaman sekarang cewek nonton blue film, kan emansipasi." katanya sambil nyelonong masuk ke kamar mandi.
Neva langsung memasukkan kakinya ke dalam Bathtub yang sudah terisi setengah air itu. Badannya membungkuk untuk menyentuh air, mungkin untuk memastikan airnya cukup hangat untuk digunakan berendam. Posisinya yang membungkuk dengan kakinya yang jenjang putih itu membuat darah saya berdesir kuat. Jantung saya berdegup lebih keras dari biasanya, terus terang saya belum pernah melihat wanita secara nyata dalam keadaan setengah telanjang.
Secara refleks saya mengelus belahan pantatnya yang ditutupi genre hijau muda dengan tangan kanan saya. Karena yang kiri sedang memegang sabun, Neva mengambil tangan saya dan memindahkannya pada bagian perutnya yang tipis dan halus. Saya perlahan mengusap dengan lembut, posisi kami sama-sama menghadapi cermin yang ada di kamar mandi itu. Tangan kiri Neva ditarik ke belakang dan memeluk leher saya secara lembut. Selama lima menit pantat Neva bergesekan lembut dengan penis saya, kami berdansa lembut.
Cermin yang memantulkan citra saya san Neva membuat hasrat saya semakin menggebu. Saya membuang sabun dan memindahkan tangan kiri saya ke dadanya yang cukup besar itu. Perlahan saya mengusap pinggiran gunung kembarnya, dan jemari saya garuk lembut di bagian putingnya. Dari cermin saya melihat Neva tersenyum dan sedikit mendesah. Tangan kanan saya secara perlahan dan teratur turun ke belahan pahanya, naik lagi ke bukit merah muda yang masih ditutupi celana dalamnya. Saya usap bolak-balik, rasanya nyaman sekali memainkan tangan di luar celana dalam wanita.
Kemudian perlahan tangan Neva memindahkan tangan saya ke bagian dalam celananya yang mulai berlendir. Saya mengusap dengan teknik memutar ibu jari dan jari tengah, sementara jari manis saya menggaruk lembut bagian pinggir labia mayoranya. Sementara gerakan tangan saya berjalan, lidah saya secara perlahan menjilati bagian pinggir kupingnya. Ternyata teknik saya ini membuat Neva berteriak lembut, desahannya terasa meningkat.
Tidak berapa lama kemudian Neva berbalik dan berbisik, "Mas, saya pindah di ujung bathtub ini ya..?" katanya sambil secara lembut menarik celana dalamnya.
Saya terpana melihat vaginanya yang ditutupi rambut-rambut halus yang dicukur dengan rapih, merangsang sekali. Neva kemudian duduk dan sebelah kakinya diangkat ke atas membuat vaginanya terbelah mekar, memperlihatkan bagian labia-nya yang sudah sedikit basah.
"Mas.., jilatin memek saya ya..! Saya pengen banget nih..!" pintanya.
Tanpa diperintah dua kali saya berjongkok di bathtub dan kepala saya julurkan ke arah kemaluannya. Saya mulai dengan jilatan di paha dalam, kemudian secara pasti menuju belahan vaginanya. Saya berusaha untuk sabar, jangan sampai dia merasa terlalu cepat naik.
Setelah sepuluh menitan saya memainkan bagian luar kemaluannya, kedua tangan saya secara mantap memegang pahanya dengan cara melingkar agar dia tidak banyak bergerak. Akan saya buat Neva tidak dapat melupakan teknik oral ini. Saya menyusupkan kepala saya ke pahanya. Saya hisap berkali-kali sambil divariasikan dengan jilatan naik turun. Hal ini saya yakin membuat klitorisnya membesar dan dengan mudah akan saya gigit pelan. Ternyata usaha saya berhasil, Neva mulai menggelinjang dan tangannya secara keras menjambak rambut saya.
"Mas.., Neva enggak tahan nih, mo keluar..!" katanya.
Neva mengejang dan saya merasakan bibir saya sedikit terjepit. Bau harum lendir Neva menyusup ke hidung, saya tahu Neva orgasme hebat karena cukup lama Neva mengejang, sebelum akhirnya lemas dan tersandar di pinggir bathtub.
"Mas.., makasih banget ya, kamu hebat, Vena baru kali ini orgasme lama banget."
"OK, makasih juga, saya juga seneng kok, cuma saya kayaknya musti swalayan nih, kalo kamu udah capek gini." kata saya mencoba berkelakar.
Ternyata Vena langsung mendorong tubuh saya sehingga saya terduduk di atas closet duduk.
Vena tersenyum, "Sekarang giliran saya muasin kamu Mas..! Tunggu bentar ya Mas..!"
Vena mencuci sebentar kemaluannya dan mulai mendekati. Kakinya langsung mengangkang dan meluruskan arahnya pada penis saya. Secara perlahan dipegangnya penis saya yang berujung besar dan mulai sedikit memerah, lalu memasukkannya ke liang kenikmatannya yang masih sedikit berdenyut.
Neva ternyata tipe wanita kuat dalam seks, kepala penis saya secara perlahan masuk ke bagian kewanitaannya. Setelah seluruhnya masuk, Neva mulai menggerakkan pinggulnya maju mundur, persis seperti cewek naik kuda, gerakan ini membuat saya terasa melayang. Kemudian secara perlahan gerakannya berganti menjadi berputar dan naik turun. Gila pikir saya, ternyata Neva profesional sekali dalam urusan seks.
Saya mulai merasakan darah di kepala meningkat bersamaan dengan aliran darah menuju penis. Wah.., saya akan cepat keluar nih. Ketika saatnya akan mengalami orgasme, tiba-tiba Neva bangkit dari duduknya, otomatis penis saya terlepas dari liang hangat itu.
Saya keheranan, tapi Neva hanya tersenyum dan bilang, "Tenang Mas..!"
Kemudian dia duduk membelakangi saya dan mulai lagi dengan gerakan turun naik, hanya kali ini dalam hitungan 4 masuk semua dan hitungan 1 hanya sepertiganya.
Kemudian paha saya direnggangkan dan pahanya berada di dalam paha saya, tentu saja ini membuat penis saya semakin terjepit. Secara simultan Vena menaik-turunkan pantatnya. Sekitar 15 menit kemudian, Neva diam sejenak, keringat mulai mengucur dari badan saya dan badan Vena. Dalam posisi diam ternyata vagina Vena justru berdenyut semakin kencang dan rapat yang membuat saya mendesis-desis keenakan. Ternyata Neva punya keahlian juga dalam teknik 'empot ayam'.
"Nev, saya mo keluar nih..!" kata saya.
"Bentar ya Mas.., tahan dulu..!"
Saya sekuat tenaga menahan dengan menarik napas dalam-dalam. Neva menghentikan denyutannya, ini membuat penis saya sedikit tenang.
Neva lalu bangkit dan bilang, "Mas.., saya kulum ya punyamu biar keluarnya lebih enak..?"
Saya hanya dapat pasrah, habis apa pun yang Vena perbuat untuk penis saya benar-benar membuat saya mati keenakan.
Vena mengulum penis dengan ganas dan menggarukkan giginya di ujung penis saya. Saya sudah tidak kuat lagi dan hampir keluar. Tiba-tiba Vena menghentikan oralnya dan menekan penis saya kuat-kuat dengan genggamannya. Orgasme saya langsung hilang.
"Ven, kamu gila ya..!" teria saya, "Kan sakit..!"
"Tenang Mas, mau yang enak banget kan..?" katanya tenang.
Kemudian dilepaskan genggamannya, dan kembali memasukkan penis saya ke liang surgawinya. Kali ini dengan gerakan yang sangat liar secara kasar Neva menggerakkan pinggulnya maju mundur.
Sepuluh menit kemudian tanpa dapat ditahan, saya keluar dan menyemburkan sperma saya ke dalam rahimnya dengan kuat. Gila baru kali ini saya dapat orgasme lebih dari 3 kali semprotan dalam waktu yang sangat lama. Rasanya semua sperma ini keluar dan meluluh lantakan tulang-tulang, mungkin ini akumulasi orgasme saya yang tadi tidak jadi keluar. Tidak lama kemudian Neva mengerang dalam dan mendapatkan orgasmenya yang kedua dalam waktu bersamaan dengan saya. Saya merasa lemas, untuk bangun dari duduk saja rasanya saya tidak kuat, tapi saya paksakan juga.
Kami mandi bersama dan saling membilas sambil bibir saya dan bibirnya saling berpagutan.
"Thank's ya Nev, kamu hebat banget, saya jadi pengen lagi."
Neva tersenyum nakal dan mencium penis saya dengan lembut. Kami keluar dari kamar mandi dan tidak terasa sudah pukul 11 malam. Saya langsung pamit, tapi Vena bilang ingin tidur malam ini dengan saya.
"Gimana nanti dengan pembantu kamu kalo tahu ada cowok tidur di sini..?" tanya saya was-was.
"Jangan khawatir, pembantu saya enggak akan berani masuk kamar, lagian kalo pagi-pagi juga si Bibi ke pasar dan baru pulang jam 11 siang." jelasnya masih tetap berharap saya mau tinggal semalam dengannya.
Akhirnya kami tidur bersama, dan malamnya kami melakukan beberapa kali lagi making love. Saya puas, ternyata ada wanita cantik yang mampu mengimbangi hasrat seks saya yang cukup besar ini.
TAMAT
The nightman
Kali ini, saya akan menceritakan pengalaman saya selama di Beijing, tentunya ini adalah kelanjutan dari cerita ASMARA CEWEK BEIJING walaupun cerita ini sebenarnya sama sekali tidak ada kaitannya. Setelah saya ditinggalkan oleh guru saya ke GuangZhow, saya menyibukkan diri bersama teman-teman berjalan-jalan keliling Beijing. Kebanyakan teman saya berasal dari Indonesia walaupun ada juga beberapa kenalan saya yang berasal dari Korea, Jepang dan China. Walaupun saya akrab dengan mereka, tetapi ada beberapa gaya hidup mereka yang tidak dapat saya ikuti karena bertentangan dengan prinsip hidup saya.
Teman teman saya sangat suka mengkonsumsi obat-obatan dari Putaw sampai Ecstacy. Mereka pernah menawarkan kepada saya, tetapi saya tolak mentah-mentah karena saya tidak pernah mau terlibat dengan drugs dalam posisi apapun. Suatu saat, salah satu temanku yang bernama Alex (ia termasuk junkies juga) mengajak saya pergi ke diskotik yang cukup ternama di Beijing. Suara hingar bingar terdengar memekakkan telinga bahkan dari luar diskotik sekalipun sudah terdengar. Saya dan Alex memasuki diskotik dan kami memilih duduk di bagian paling atas. Kami memesan dua gelas Whiskey Cola sambil mendengarkan dentuman lagu-lagu disco yang sangat keras dan memekakkan telinga.
Dari atas, saya dapat melihat orang-orang yang sedang menggoyang goyangkan kepalanya ke atas dan ke bawah serta ada pula yang menggoyangkannya ke kiri dan ke kanan. Saya yakin banyak dari mereka yang menggunakan obat obatan untuk mendapatkan sensasi tersebut ketika berdisko. Di saat saya mendengarkan dentuman lagu disko, datanglah dua cewek Cina yang sangat cantik dan seksi. Mereka mengaku bernama Su Ling dan Rose. Rose mendekati temanku Alex dan Su Ling langsung memeluk saya dan duduk di pangkuan saya sambil menciumi pipi saya. Dua gadis Cina tersebut mengajak kami ke sofa di lantai atas. Kami berpisah dengan Rose dan Alex sementara Su Ling mengajak saya ke suatu tempat.
Sambil mencari sofa yang masih kosong, saya dapat melihat banyak sekali cewek-cowok yang sedang bercinta. Ada cewek yang sedang mengoral penis cowoknya dan ada pula yang sedang bergoyang-goyang di atas tubuh cowoknya. Akhirnya kami menemukan sofa yang kosong dan Su Ling langsung mendorong tubuh saya ke atas sofa sehingga saya langsung jatuh telentang. Dengan sangat berpengalaman, Su Ling segera membuka celana saya dan seketika langsung keluarlah penis saya yang panjang tapi masih belum berdiri. Dengan sigapnya, Su Ling langsung mengulum penis saya sambil mendesis-desis. Tetapi desahannya tidak terlalu terdengar karena bercampur dengan irama lagu disko yang keras. Saya merasakan nikmat yang teramat sangat ketika ia menjilati penis saya sehingga membuat penis saya bertambah lama bertambah menegang dan memanjang.
Su Ling kemudian pindah posisi ke dekat saya tetapi dia masih asyik menjilati penis saya. Saya semakin horny dan Su Ling terus mempercepat jilatannya. Sampai akhirnya kira-kira 20 menit kemudian, saya menyemprotkan sperma saya karena jilatan-jilatannya sehingga mulut Su Ling dipenuhi oleh cairan sperma saya. Saya puas sekali dengan pelayanannya. Ketika ia melihat saya yang sedang tersenyum puas, ia langsung membuka pakaiannya sehingga dia telanjang total. Saya terkejut sekali karena ia membuka pakaiannya di tengah tengah hingar bingar ruangan diskotik tersebut. Tetapi saya yakin orang tidak begitu memperhatikan karena suasana saat itu sangat gelap, jadi hanya orang dalam jarak tertentu saja yang dapat melihat silhouette tubuh Su Ling yang bagaikan gitar spanyol.
Dia membuang pakaiannya ke meja dekat sofa dan langsung memelukku dan menciumi bibir serta mataku. Gosokan tubuhnya dan tubuhku membuat penisku bangun kembali dan aku kembali terangsang. Su Ling nampaknya tahu bahwa aku sudah terangsang karena ia dapat merasakan tegaknya penisku yang tepat berada di sekitar kemaluannya. Dengan tanpa menggunakan kondom, Su Ling langsung mulai memasukkan penisku kedalam liang kenikmatannya. Di saat penisku memasuki liang surgawinya, aku merasakan sensasi yang amat sangat dahsyat. Su Ling mulai memutar-mutarkan tubuhnya seakan-akan membentuk lingkaran dan dengan irama yang cepat dia menaik-turunkan badannya sehingga penisku seperti diurut-urut dan aku merasakan sensasi kenikmatan yang luar biasa.
Sambil naik turun dengan irama yang cepat, dia mendesis seperti ular sambil mengusap-usap dadanya yang lumayan besar. Dia mengusap-usap sambil sesekali memilin putingnya sehingga saya merasakan sensasi yang nikmat sekali. Saya tahu bahwa Su Ling memang benar-benar terangsang dan bukannya dibuat-buat, karena terbukti dari vaginanya yang sudah sangat basah dan mengakibatkan semakin lancarnya gosokan penisku di dalam liang vaginanya. Dia benar benar menghayati permainan ini dan saya pun semakin berani memegang tubuhnya dan mempercepat gerakan permainan kami sambil sesekali memegang payudaranya yang seksi dan proporsional itu. Su Ling terus menggenjot tubuh saya sampai suatu ketika Su Ling mendesah panjang "Hmm.., arrghh..", tubuhnya semakin bergetar hebat sambil memeluk tubuh saya.
Nampaknya dia sudah sampai pada saat klimaksnya karena saya dapat merasakan cairan kewanitaannya telah membanjiri penis saya. Tetapi hal itu tidak membuat dia menghentikan permainannya karena dia masih terus menggenjot tubuhku sehingga saya benar benar tidak tahan lagi dan ingin menyemprot vaginanya dengan sperma saya kembali. Sambil memegangnya kuat-kuat, saya mempercepat gerakan tubuh saya hingga akhirnya saya menyemprotkan sperma saya di dalam liang kenikmatannya sembari saya memeluk dan mengusap-usap rambut panjangnya sambil sesekali mencium bibirnya yang tipis.
Setelah kami bercinta selama 2 jam, kami akhirnya merapikan diri masing-masing dan saya mengenakan baju kembali, dan sebelum saya mencari Alex, saya memberikan 3 lembar uang ratusan RenMinBi (mata uang China) kepada Su Ling dan dibalasnya dengan ciuman bibir olehnya kepada saya. Kami berpelukan untuk beberapa menit dan Su Ling menemani saya mencari Alex. Akhirnya kami menemukan Alex yang telah selesai pula bercinta dengan Rose, dan setelah Alex memberikan uang kepada Rose, kami turun dari lantai ruangan atas dan bersama melanjutkan acara kami dengan berdansa mengikuti alunan irama disko.
Itulah pengalaman nyata saya bersama teman saya Alex di sebuah diskotik China. Jika anda penggemar seks dan sedang bertamasya ke Beijing, saya menyarankan anda pergi ke diskotik yang terkenal dengan sebutan THE NIGHTMAN. Untuk menemukan lokasi diskotik ini, sebut saja LAI-TE-MAN kepada sopir taksi dan mereka akan segera mengantarkan anda ke diskotik ini. Setelah anda sampai, anda dapat langsung menuju ke lantai paling atas dan anda akan mempercayai bahwa apa yang saya ceritakan ini benar benar terjadi dan bukan sekedar karangan fiksi belaka.
TAMAT
Teman teman saya sangat suka mengkonsumsi obat-obatan dari Putaw sampai Ecstacy. Mereka pernah menawarkan kepada saya, tetapi saya tolak mentah-mentah karena saya tidak pernah mau terlibat dengan drugs dalam posisi apapun. Suatu saat, salah satu temanku yang bernama Alex (ia termasuk junkies juga) mengajak saya pergi ke diskotik yang cukup ternama di Beijing. Suara hingar bingar terdengar memekakkan telinga bahkan dari luar diskotik sekalipun sudah terdengar. Saya dan Alex memasuki diskotik dan kami memilih duduk di bagian paling atas. Kami memesan dua gelas Whiskey Cola sambil mendengarkan dentuman lagu-lagu disco yang sangat keras dan memekakkan telinga.
Dari atas, saya dapat melihat orang-orang yang sedang menggoyang goyangkan kepalanya ke atas dan ke bawah serta ada pula yang menggoyangkannya ke kiri dan ke kanan. Saya yakin banyak dari mereka yang menggunakan obat obatan untuk mendapatkan sensasi tersebut ketika berdisko. Di saat saya mendengarkan dentuman lagu disko, datanglah dua cewek Cina yang sangat cantik dan seksi. Mereka mengaku bernama Su Ling dan Rose. Rose mendekati temanku Alex dan Su Ling langsung memeluk saya dan duduk di pangkuan saya sambil menciumi pipi saya. Dua gadis Cina tersebut mengajak kami ke sofa di lantai atas. Kami berpisah dengan Rose dan Alex sementara Su Ling mengajak saya ke suatu tempat.
Sambil mencari sofa yang masih kosong, saya dapat melihat banyak sekali cewek-cowok yang sedang bercinta. Ada cewek yang sedang mengoral penis cowoknya dan ada pula yang sedang bergoyang-goyang di atas tubuh cowoknya. Akhirnya kami menemukan sofa yang kosong dan Su Ling langsung mendorong tubuh saya ke atas sofa sehingga saya langsung jatuh telentang. Dengan sangat berpengalaman, Su Ling segera membuka celana saya dan seketika langsung keluarlah penis saya yang panjang tapi masih belum berdiri. Dengan sigapnya, Su Ling langsung mengulum penis saya sambil mendesis-desis. Tetapi desahannya tidak terlalu terdengar karena bercampur dengan irama lagu disko yang keras. Saya merasakan nikmat yang teramat sangat ketika ia menjilati penis saya sehingga membuat penis saya bertambah lama bertambah menegang dan memanjang.
Su Ling kemudian pindah posisi ke dekat saya tetapi dia masih asyik menjilati penis saya. Saya semakin horny dan Su Ling terus mempercepat jilatannya. Sampai akhirnya kira-kira 20 menit kemudian, saya menyemprotkan sperma saya karena jilatan-jilatannya sehingga mulut Su Ling dipenuhi oleh cairan sperma saya. Saya puas sekali dengan pelayanannya. Ketika ia melihat saya yang sedang tersenyum puas, ia langsung membuka pakaiannya sehingga dia telanjang total. Saya terkejut sekali karena ia membuka pakaiannya di tengah tengah hingar bingar ruangan diskotik tersebut. Tetapi saya yakin orang tidak begitu memperhatikan karena suasana saat itu sangat gelap, jadi hanya orang dalam jarak tertentu saja yang dapat melihat silhouette tubuh Su Ling yang bagaikan gitar spanyol.
Dia membuang pakaiannya ke meja dekat sofa dan langsung memelukku dan menciumi bibir serta mataku. Gosokan tubuhnya dan tubuhku membuat penisku bangun kembali dan aku kembali terangsang. Su Ling nampaknya tahu bahwa aku sudah terangsang karena ia dapat merasakan tegaknya penisku yang tepat berada di sekitar kemaluannya. Dengan tanpa menggunakan kondom, Su Ling langsung mulai memasukkan penisku kedalam liang kenikmatannya. Di saat penisku memasuki liang surgawinya, aku merasakan sensasi yang amat sangat dahsyat. Su Ling mulai memutar-mutarkan tubuhnya seakan-akan membentuk lingkaran dan dengan irama yang cepat dia menaik-turunkan badannya sehingga penisku seperti diurut-urut dan aku merasakan sensasi kenikmatan yang luar biasa.
Sambil naik turun dengan irama yang cepat, dia mendesis seperti ular sambil mengusap-usap dadanya yang lumayan besar. Dia mengusap-usap sambil sesekali memilin putingnya sehingga saya merasakan sensasi yang nikmat sekali. Saya tahu bahwa Su Ling memang benar-benar terangsang dan bukannya dibuat-buat, karena terbukti dari vaginanya yang sudah sangat basah dan mengakibatkan semakin lancarnya gosokan penisku di dalam liang vaginanya. Dia benar benar menghayati permainan ini dan saya pun semakin berani memegang tubuhnya dan mempercepat gerakan permainan kami sambil sesekali memegang payudaranya yang seksi dan proporsional itu. Su Ling terus menggenjot tubuh saya sampai suatu ketika Su Ling mendesah panjang "Hmm.., arrghh..", tubuhnya semakin bergetar hebat sambil memeluk tubuh saya.
Nampaknya dia sudah sampai pada saat klimaksnya karena saya dapat merasakan cairan kewanitaannya telah membanjiri penis saya. Tetapi hal itu tidak membuat dia menghentikan permainannya karena dia masih terus menggenjot tubuhku sehingga saya benar benar tidak tahan lagi dan ingin menyemprot vaginanya dengan sperma saya kembali. Sambil memegangnya kuat-kuat, saya mempercepat gerakan tubuh saya hingga akhirnya saya menyemprotkan sperma saya di dalam liang kenikmatannya sembari saya memeluk dan mengusap-usap rambut panjangnya sambil sesekali mencium bibirnya yang tipis.
Setelah kami bercinta selama 2 jam, kami akhirnya merapikan diri masing-masing dan saya mengenakan baju kembali, dan sebelum saya mencari Alex, saya memberikan 3 lembar uang ratusan RenMinBi (mata uang China) kepada Su Ling dan dibalasnya dengan ciuman bibir olehnya kepada saya. Kami berpelukan untuk beberapa menit dan Su Ling menemani saya mencari Alex. Akhirnya kami menemukan Alex yang telah selesai pula bercinta dengan Rose, dan setelah Alex memberikan uang kepada Rose, kami turun dari lantai ruangan atas dan bersama melanjutkan acara kami dengan berdansa mengikuti alunan irama disko.
Itulah pengalaman nyata saya bersama teman saya Alex di sebuah diskotik China. Jika anda penggemar seks dan sedang bertamasya ke Beijing, saya menyarankan anda pergi ke diskotik yang terkenal dengan sebutan THE NIGHTMAN. Untuk menemukan lokasi diskotik ini, sebut saja LAI-TE-MAN kepada sopir taksi dan mereka akan segera mengantarkan anda ke diskotik ini. Setelah anda sampai, anda dapat langsung menuju ke lantai paling atas dan anda akan mempercayai bahwa apa yang saya ceritakan ini benar benar terjadi dan bukan sekedar karangan fiksi belaka.
TAMAT
The security lovers
Di sebuah rumah yang besar dan luas di daerah Solo tinggallah pasangan muda, anak dari seorang pengusaha yang berhasil di bidang usahanya. Rumah ini baru saja selesai mereka bangun. Karena besar dan luasnya rumah ini maka mereka memakai beberapa orang pembantu dan tukang kebun. Selain itu di pintu gerbangnya ada pos satpam yang akan mengawasi tamu masuk. Karena mereka belum dikarunai anak maka ira tinggal dirumah dan suaminya rudi yang kekantor meneruskan usaha yang ditinggalkan ayahnya, bersama kakak-kakaknya.Didalam rumah yang besar dan banyak kamarnya itu, Ira merasa kesepian dan resah, ia memang berada dilingkungan yang serba megah namun kepuasan batin tidak ia dapatkan. Padahal ia dan Rudi baru 1 tahun menikah. Didalam kehidupan sex ia tidak ada masalah dan halangan. Rudi saat ini berusia 29 tahun dan Ira 26 tahun.
Sebagai layaknya pasangan muda, hampir setiap ada kesempatan mereka selalu melakukan hubungan badan di kamarnya yang serba lux itu. Tidak jarang mereka bepergian ke villanya di tawangmangu untuk melepaskan rasa suntuk dan melepaskan kepenatan setiap hari. Suatu malam, di rumah itu tanpa diketahui oleh Ira dan Rudi, diluar kamarnya ada sepasang mata yang mengintip dari balik jendela. Sepasang mata itu milik seorang lelaki yang biasanya bertugas sebagai satpam di rumahnya itu. Namanya Usup. Dari dulu semenjak Usup mulai bertugas di rumah itu Usup telah menaruh perhatian terhadap istri majikanya itu. Meskipun jika keluar rumah Ira selalu pakai pakaian celana panjang dan kepalanya tertutup selendang namun kecantikan dan kesintalan nyonya majikannya itu membuat Usup sulit tidur.
Usup dari balik jendela yang ditutup gordyn itu terus mengamati dan melihat tingkah laku suami istri itu. Malam itu Rudi dan Ira seperti bisa bermesraan dulu barulah mereka saling melepaskan pakaian masing-masing, untuk melakukan hubungan badan. Usup diluaran dengan nafas memburu melihat ketelanjangan suami istri itu. Namun yang terus diperhatikannya adalah sosok tubuh Ira, yang biasanya di luaran ia liat berpakain tertutup semua, namun di saat itu hampir seluruh bentuk tubuh Ira ia liat tanpa ada yang menutupnya.
Malam itu hampir dua jam Usup menyaksikan aksi pasangan muda itu bersebadan. Usup sempat pusing melihatnya. Dikepalanya terbayang kehalusan dan kesintalan tubuh majikannya itu. Bayangan itu terus bermain di pelupuk matanya. Pada suatu saat, Rudi karena ada urusan maka ia berangkat keluar negeri untuk beberapa saat.Maka ia tinggalkan Ira di rumah itu. Ia tidak kuatir sebab di rumah itu ada pembantu dan satpam yang siap mengamankan rumah dan isinya.
Siang itu, iseng-iseng Ira berkeliling rumah dan melihat bunga di pekarangannya. Lalu ia singgah di pos jaga Usup, saat itu Usup sedang akan duduk dan ia kaget karena tidak bisanya Ira singgah di pos nya.
" Selamat siang pak?" sapa Ira ramah.
"Siang juga bu?" jawab Usup.
"Bagaimana pak? apa ada hambatan?" tanya Ira
"Ooo.. tidak bu?" jawab usup lagi.
Lalu ia masuk ke ruang Usup itu dan duduk di dalamya. Didalam ruang itu lengkap ada kamar mandi dan ruang tidur satpam. Ira duduk dan berbicara dengan Usup panjang lebar tentang keamanan di rumah itu. Ira sempat memperhatikan Usup, ia akui Usup sebagai satpam amat berani dan memiliki otot yang kuat seperti tentara. Tubuhnya hitam legam dan wajah kerasnya terlihat.Dulunya Usup memang tentara dan karena suatu sebab ia di pecat, maka untuk menyambung hidupnya ia menjadi satpam.
Malam harinya, untuk menghilangkan kejenuhannya di rumah itu, ia berjalan-jalan di halaman itu dan membawa makanan kecil untuk Usup. Ia ke ruang satpam dan duduk didalamnya, Usup menjadi salah tingkah,
"Bu? saya tidak enak sama ibu masa, duduk di ruang ini?" kata Usup.
"Ohh ndak apa-apa la pak? moso.. duduk saja ndak boleh?"
" Saya takut nanti Pak Rudi marah," jawab Usup.
"Ooo itu to.. oo Mas Rudi sekarang sedang di Canada, jadi ndak apa kok pak.."terang Ira.
"Kalau Pak Usup keberatan saya disini, bapak saja yang kedalam, kan kita bisa bicara-bicara pak?" kata Ira.
"Baiklah buk.. "kata Usup tapi hari akan hujan tampaknya katanya lagi.
Lalu Ira berjalan kedalam rumahnya dan diikuti usup di belakang. Dari belakang ia perhatikan terus pinggul majikannya itu yang saat itu memakai celana tidur dan blouse dari sutra itu. Didalam salah satu ruangan di rumah itu, Ira dan Usup berbincang bincang berbagai hal, sampai tentang masalah dalam kamarnya. Sedang hari saat itu diluaran hujan deras. Karena suasana dan dinginya malam itu, ditambah lagi pembicaraan yang terlalu menyentuh tentang urusan ranjang, membuat Usup mengetahui rahasia kamar Ira dan Rudi itu. Usup merasa mendapatkan peluang untuk masuk kedalam pribadi Ira. Dengan berbagai cara dan rayuan, Usup pun telah dapat mengenggam tangan Ira dan memeluknya. Dengan cara yang lembut ia dapat mencium bibir Ira yang mungil itu. Ira sedikit menyesal karena ia telah jatuh dalam kelembutan yang di berikan Pak Usup.
Dengan kelihaian Usup mempermainkan Ira, maka Ira dapat ia giring kedalam salah satu kamar di rumah itu. Dikamar yang di peruntukan untuk tamu itu, Ira ia tuntun. Dalam kamar itu ia baringkan Ira dengan hati-hati dan ia raba buah dada Ira tanpa membuat Ira merasa menyesal. Lalu ia buka, blouse tidur dan BH yang menutupi dada Ira satu persatu. Dibelahan dada ira ia singgah dan memilin puting dan menggigit dada ira hingga memerah.Ira saat itu tidak sadar bahwa ia punya suami dan jatuh terlalu dalam. Dengan tangannya, Usup membuka celana tidur itu dan lalu CD Ira hingga terlihat bulu-bulu halus yang tertata rapi menutupi rongga vagina Ira.
Dengan leluasa jari tangan Usup masuk dan mempermainkan lobang vagina Ira hingga Ira ingin cepat di tuntaskan..
"Ahgg ghh pakk cepat pak.. " dengus ira saat itu.
Lalu Usup membuka seluruh pakainnya dan ia kini telah telanjang bulat. Usup yang selama ini hanya melihat ira telanjang saat bersenggama denga suaminya, kini Usup dapat melihat dari dekat dan merasakan kehangatan tubuh ira yang ia bayangkan selama ini. Usuppun lalu membuka kedua kaki Ira hingga bahunya dan ia arahkan penisnya yang tegak itu siap untuk masuk kedalam vagina Ira yang masih kecil itu. Dengan sedikit di paksa, lalu amblaslah penis Pak Usup kedalam lobang itu. Ira hanya menggigit bibir bawahnya menahan rasa nyilu dan perih saat di masuki kemaluan Usup itu. Beberapa saat lamanya usup terus menggenjot dan memaju mundurkan penisnya di dalam vagina Ira hingga Ira kini merasakan nikmat dan orgasme. Lalu usup pun memuncratkan maninya di dalam vagina ira.
Ia biarkan saja tumpah didalam dan Usuppun diam di atas tubuh Ira saat itu hingga ia tertidur. Ira pun tergolek bersimbah keringat, saat itu keringat Usup telah bercampur dengan ira dan tidak ada lagi yang membatasi kulit mereka. tubuh ira masih terhimpit dibawah dan lemas. malam itu Usup melakukan nya 2 kali hingga Ira tidak sempat menolak lagi.
Sejak saat itu, bila ada kesempatan disalah satu kamar rumah itu Ira maupun Usup berpacu dalam birahi. Rudi tidak tahu dan hanya mereka berdualah yang menyimpan rahasia itu, hingga saat ini.
Tamat
Sebagai layaknya pasangan muda, hampir setiap ada kesempatan mereka selalu melakukan hubungan badan di kamarnya yang serba lux itu. Tidak jarang mereka bepergian ke villanya di tawangmangu untuk melepaskan rasa suntuk dan melepaskan kepenatan setiap hari. Suatu malam, di rumah itu tanpa diketahui oleh Ira dan Rudi, diluar kamarnya ada sepasang mata yang mengintip dari balik jendela. Sepasang mata itu milik seorang lelaki yang biasanya bertugas sebagai satpam di rumahnya itu. Namanya Usup. Dari dulu semenjak Usup mulai bertugas di rumah itu Usup telah menaruh perhatian terhadap istri majikanya itu. Meskipun jika keluar rumah Ira selalu pakai pakaian celana panjang dan kepalanya tertutup selendang namun kecantikan dan kesintalan nyonya majikannya itu membuat Usup sulit tidur.
Usup dari balik jendela yang ditutup gordyn itu terus mengamati dan melihat tingkah laku suami istri itu. Malam itu Rudi dan Ira seperti bisa bermesraan dulu barulah mereka saling melepaskan pakaian masing-masing, untuk melakukan hubungan badan. Usup diluaran dengan nafas memburu melihat ketelanjangan suami istri itu. Namun yang terus diperhatikannya adalah sosok tubuh Ira, yang biasanya di luaran ia liat berpakain tertutup semua, namun di saat itu hampir seluruh bentuk tubuh Ira ia liat tanpa ada yang menutupnya.
Malam itu hampir dua jam Usup menyaksikan aksi pasangan muda itu bersebadan. Usup sempat pusing melihatnya. Dikepalanya terbayang kehalusan dan kesintalan tubuh majikannya itu. Bayangan itu terus bermain di pelupuk matanya. Pada suatu saat, Rudi karena ada urusan maka ia berangkat keluar negeri untuk beberapa saat.Maka ia tinggalkan Ira di rumah itu. Ia tidak kuatir sebab di rumah itu ada pembantu dan satpam yang siap mengamankan rumah dan isinya.
Siang itu, iseng-iseng Ira berkeliling rumah dan melihat bunga di pekarangannya. Lalu ia singgah di pos jaga Usup, saat itu Usup sedang akan duduk dan ia kaget karena tidak bisanya Ira singgah di pos nya.
" Selamat siang pak?" sapa Ira ramah.
"Siang juga bu?" jawab Usup.
"Bagaimana pak? apa ada hambatan?" tanya Ira
"Ooo.. tidak bu?" jawab usup lagi.
Lalu ia masuk ke ruang Usup itu dan duduk di dalamya. Didalam ruang itu lengkap ada kamar mandi dan ruang tidur satpam. Ira duduk dan berbicara dengan Usup panjang lebar tentang keamanan di rumah itu. Ira sempat memperhatikan Usup, ia akui Usup sebagai satpam amat berani dan memiliki otot yang kuat seperti tentara. Tubuhnya hitam legam dan wajah kerasnya terlihat.Dulunya Usup memang tentara dan karena suatu sebab ia di pecat, maka untuk menyambung hidupnya ia menjadi satpam.
Malam harinya, untuk menghilangkan kejenuhannya di rumah itu, ia berjalan-jalan di halaman itu dan membawa makanan kecil untuk Usup. Ia ke ruang satpam dan duduk didalamnya, Usup menjadi salah tingkah,
"Bu? saya tidak enak sama ibu masa, duduk di ruang ini?" kata Usup.
"Ohh ndak apa-apa la pak? moso.. duduk saja ndak boleh?"
" Saya takut nanti Pak Rudi marah," jawab Usup.
"Ooo itu to.. oo Mas Rudi sekarang sedang di Canada, jadi ndak apa kok pak.."terang Ira.
"Kalau Pak Usup keberatan saya disini, bapak saja yang kedalam, kan kita bisa bicara-bicara pak?" kata Ira.
"Baiklah buk.. "kata Usup tapi hari akan hujan tampaknya katanya lagi.
Lalu Ira berjalan kedalam rumahnya dan diikuti usup di belakang. Dari belakang ia perhatikan terus pinggul majikannya itu yang saat itu memakai celana tidur dan blouse dari sutra itu. Didalam salah satu ruangan di rumah itu, Ira dan Usup berbincang bincang berbagai hal, sampai tentang masalah dalam kamarnya. Sedang hari saat itu diluaran hujan deras. Karena suasana dan dinginya malam itu, ditambah lagi pembicaraan yang terlalu menyentuh tentang urusan ranjang, membuat Usup mengetahui rahasia kamar Ira dan Rudi itu. Usup merasa mendapatkan peluang untuk masuk kedalam pribadi Ira. Dengan berbagai cara dan rayuan, Usup pun telah dapat mengenggam tangan Ira dan memeluknya. Dengan cara yang lembut ia dapat mencium bibir Ira yang mungil itu. Ira sedikit menyesal karena ia telah jatuh dalam kelembutan yang di berikan Pak Usup.
Dengan kelihaian Usup mempermainkan Ira, maka Ira dapat ia giring kedalam salah satu kamar di rumah itu. Dikamar yang di peruntukan untuk tamu itu, Ira ia tuntun. Dalam kamar itu ia baringkan Ira dengan hati-hati dan ia raba buah dada Ira tanpa membuat Ira merasa menyesal. Lalu ia buka, blouse tidur dan BH yang menutupi dada Ira satu persatu. Dibelahan dada ira ia singgah dan memilin puting dan menggigit dada ira hingga memerah.Ira saat itu tidak sadar bahwa ia punya suami dan jatuh terlalu dalam. Dengan tangannya, Usup membuka celana tidur itu dan lalu CD Ira hingga terlihat bulu-bulu halus yang tertata rapi menutupi rongga vagina Ira.
Dengan leluasa jari tangan Usup masuk dan mempermainkan lobang vagina Ira hingga Ira ingin cepat di tuntaskan..
"Ahgg ghh pakk cepat pak.. " dengus ira saat itu.
Lalu Usup membuka seluruh pakainnya dan ia kini telah telanjang bulat. Usup yang selama ini hanya melihat ira telanjang saat bersenggama denga suaminya, kini Usup dapat melihat dari dekat dan merasakan kehangatan tubuh ira yang ia bayangkan selama ini. Usuppun lalu membuka kedua kaki Ira hingga bahunya dan ia arahkan penisnya yang tegak itu siap untuk masuk kedalam vagina Ira yang masih kecil itu. Dengan sedikit di paksa, lalu amblaslah penis Pak Usup kedalam lobang itu. Ira hanya menggigit bibir bawahnya menahan rasa nyilu dan perih saat di masuki kemaluan Usup itu. Beberapa saat lamanya usup terus menggenjot dan memaju mundurkan penisnya di dalam vagina Ira hingga Ira kini merasakan nikmat dan orgasme. Lalu usup pun memuncratkan maninya di dalam vagina ira.
Ia biarkan saja tumpah didalam dan Usuppun diam di atas tubuh Ira saat itu hingga ia tertidur. Ira pun tergolek bersimbah keringat, saat itu keringat Usup telah bercampur dengan ira dan tidak ada lagi yang membatasi kulit mereka. tubuh ira masih terhimpit dibawah dan lemas. malam itu Usup melakukan nya 2 kali hingga Ira tidak sempat menolak lagi.
Sejak saat itu, bila ada kesempatan disalah satu kamar rumah itu Ira maupun Usup berpacu dalam birahi. Rudi tidak tahu dan hanya mereka berdualah yang menyimpan rahasia itu, hingga saat ini.
Tamat
What have you done
Hari yang melelahkan. Benar-benar butuh refresment hari itu. Kulihat Oghe begitu menikmati tugasnya sebagai bartender. Terus terang aku tahu bahwa namanya Oghe hanya dari struk pembayaran. Hanya beberapa kalimat "Black Label double" pernah kuucapkan sebagai komunikasi nyata antara aku dengannya.
Malam itu malam minggu. Hard Rock Cafe cukup ramai. Tempat ini sejarah bagiku. Paling tidak aku kehilangan keperjakaanku gara-gara tempat ini beberapa tahun lalu. Suasana yang hiruk-pikuk di sana bukan merupakan gangguan pada penatnya tubuhku yang bukan main, sehabis dicabik-cabik seharian oleh monster-monster kapitalis lapar itu.
Memang sebagian orang menyangka hidupku enak, mungkin bukan sebagian, hampir setiap orang yang mengenalku lebih dari seminggu berpendapat demikian.
Star TV di pojokan bar menampilkan balap sepeda yang tidak berujung pangkal. Bule-bule itu minum dan tertawa, ditemani wanita mereka yang tidak kalah menggelikannya. Kadang-kadang aku berpikir dibayar pun tidak mau aku untuk tidur dengan mereka dengan wajah mengerikan yang mereka miliki. Buat mereka life style seperti ini murah bukan main. Uang kita bagai setumpuk kertas gurauan dengan angka nol berderet-deret.
Pukul 2 lewat. Kepalaku sudah berat. Hampir setengah botol kutenggak black label dari si Oghe. Gawat pikirku. Aku benar-benar tidak kuat untuk stir mobilku. HRC hampir tutup. Setelah tarik urat syaraf sebentar karena kartu ajaibku tidak mau digesek, akhirnya aku terbebas setelah mereka mengawalku ke mesin ATM di Sarinah bawah. Memang ini hari sialku.
Apa tidak ada yang bisa bikin aku lebih sial lagi? Kepalaku sudah berat bukan kepalang. Aku termenung sejenak berjongkok di depan mesin ATM itu.
"Hey Ricky."
Aku mendongakkan kepala. Kulihat sebuah Honda Civic berhenti di depanku. Felly menampakkan wajahnya di jendela belakang. Mobil itu penuh dengan manusia. Hampir setengah lusin dengan perbandingan yang tak jelas antara pria dan wanitanya.
Felly akhirnya turun dari mobil dan berjalan ke arahku.
"Hey, kenapa lo?"
"Hhh, nggak apa-apa," jawabku sambil berusaha berdiri dan menegak-negakkan badan. "Hanya sedikit over drive."
"Elo sendirian?"
Kujawab dengan anggukan lemah.
"Lo bawa mobil?" Ia menatapku cemas.
"He eh."
"Tunggu di sini sebentar." Ia berkata itu lalu berjalan menuju kawan-kawannya. Entah apa yang mereka bicarakan di sana.
Felly ini gadis baik. Pernah dengan setianya menemaniku beberapa tahun. Entah apa kurangnya gadis cantik ini hingga aku menyia-nyiakannya. Serong kiri kanan, cari di luaran. Main dobel. Sampai-sampai sempat aku berpacaran dengan 2 wanita lain sekaligus ketika aku berpacaran dengannya. Sampai ia tidak tahan dan memutuskan aku 2 tahun yang lalu. Sejak itu aku tak tahu kabar beritanya.
Entah apa yang dibicarakannya dengan teman-temannya. Yang jelas semenit kemudian ia telah kembali dan berusaha merangkulku. Terus terang untuk berdiri pun aku sulit saat itu. Ia memapahku berjalan menuju mobilku. Entah kapan ia mengambil kunci wrenglerku. Atau ia sekarang punya kepandaian mencopet?
Tahu-tahu aku didudukkan di bangku kiri. Ia sendiri kemudian mengambil duduk di bangku kanan dan mulai mengemudi. Kami keluar di jalan Sunda terus menuju Thamrin. Aku tertidur.
Jam 8 pagi aku terbangun. Panas, itu yang kurasakan. Matahari pagi begitu terik. Sejenak aku linglung. Detik berikutnya baru aku sadar di mana aku. Di Carport. Tapi rumah siapa ini? Rumah Felly?
Belum habis keherananku, tiba-tiba ada ketukan di kaca jendelaku. Seorang wanita tua berusaha berbicara denganku. Kubuka kaca jendela.
"Den ditunggu non Felly, katanya aden disuruh masuk."
"Iya Bik."
Aku merapihkan pakaianku, berjalan mengikuti bibik tua itu ke dalam.
"Silahkan duduk Den."
Aku duduk di ruang tamu. Lima menit aku terbengong-bengong sendiri. Sampai akhirnya Felly keluar dari kamarnya. Segar. Tampaknya ia baru selesai mandi. Dengan mengenakan daster pendek jauh di atas lutut model tank top. Aku tidak tahu namanya, menurutku itu daster.
Tampak dewasa sekali ia. Sangat berbeda dengan ketika kukenal ia 2 tahun yang lalu.
"Udah bangun?"
Kuberikan senyumku yang termanis.
"Masih saja jadi petualang," katanya sambil duduk di hadapanku, "Tapi masih tetap seperti dulu. Tanpa perhitungan."
Senyumku berubah kecut.
"Anyway, apa artinya aku ini. Sudah capek aku menasehatimu, tapi kelakuannmu tidak juga berubah."
"Okay Fel, Thanks and sorry for every trouble you got," kataku sambil bediri, bersiap untuk pulang.
Ketika melewatinya ia menangkap tanganku. Gosh, these girls are so easy.
"Duduklah dulu, kopimu sedang dibuatkan."
Masih pura-pura lesu, aku kembali ke tempat duduk asalku.
"Kamu kenapa lagi Rick?" Felly bertanya dengan lembut.
Ini yang kusukai dari cewek-cewek itu. Mereka punya hati. Sebenarnya tidak ada apapun yang mengganggu pikiranku. Aku bukan remaja frustasi yang melarikan diri ke dalam alkohol. Malah sebenarnya aku hanyalah Social Drinker yang hanya kebetulan agak terlalu social semalam. Aku masih jauh dari garis alkoholik. Tapi sengaja aku membuat diriku seolah-olah seorang yang sedang dalam trauma psikis yang hebat. Aku duduk. Menunduk lesu. Selama pacaran dengannya, ia sama sekali tidak tahu kalau aku suka minum.
"Sejak kapan kamu minum Rick?"
Aku tidak menjawab. Kubuat sikapku persis seorang remaja putus asa akibat problem rumah tangga menahun.
"Ok Ricky, Biar bagaimanapun.. kamu pernah menjadi seseorang yang sangat berarti bagiku," ia terdiam sebentar.
"Rick, aku harus pergi sekarang," ia diam sejenak, "Nanti sore kau boleh telepon aku."
"Thanks Fell," aku berdiri mendekat, kukecup keningnya dan kutinggalkan ia.
Kutinggalkan rumahnya menuju rumahku.
Ini yang kuheran. Sudah lama sebenarnya aku bosan dengannya. Tapi mengapa setiap ketemu dengannya aku selalu merasa membutuhkannya. Dulu waktu kami masih pacaran hampir selusin kali kami bubar dan balik lagi. Selalu saja kami gagal bubaran kalau kami saling bertemu. Dan sekarang kejadian lagi. Aku merutuki diriku sendiri. Ada apa sebenarnya dengan dirinya? Permainan Sex-nya? Tidak juga. Banyak cewek-cewekku yang jauh lebih menarik untuk kuajak ke tempat tidur. Entah mengapa aku tidak dapat lepas darinya.
Kalau aku tidak bertemu dengannya, tidak ada sama sekali rasa kehilangan atau kangen atau apalah namanya. Tapi entah mengapa hatiku (Sebagian temanku bilang aku tidak punya.. -Mereka Salah-) luluh kalau berhadapan dengannya.
Hari Senin di kantor.
"Pak Ricky, telepon dari Felly," Indri, sekretarisku di interkom.
Felly lagi. Bisa berkepanjangan kalau aku bicara dengannya. Terus terang hal terakhir yang kubutuhkan saat ini adalah berbicara dengannya.
"Bilang aku sedang keluar kantor," balasku di interkom, "Kamu ke sini sekarang, jangan lupa kunci pintu kalau masuk."
"Ah, Bapak."
Indri sekretaris terbaik yang kumiliki. Selain kapabilitasnya yang terjamin, blow job-nya juga bukan main. Tidak sampai satu menit ia sudah masuk dan mengunci pintu ruanganku. Mungkin a quicky morning akan melupakan Felly. Ia selalu sengaja memakai baju-baju kerja yang menonjolkan keindahan tubuhnya. dengan dada berukuran 34B. Tinggi 168 cm, berat proporsional dan sebuah fitnes center dengan rajinnya memahat tubuhnya beberapa kali dalam seminggu.
Setelah sampai di dekatku, aku memutar kursiku hingga menghadap ke samping. Kutarik tangannya ke selangkanganku. Ia tersenyum lalu berjongkok dan membuka ritsluiting celana panjangku. Dimasukkannya tangannya ke dalam celana dalamku, lalu ditariknya penisku, kemudian dikeluarkannya.
Ia mulai menjilatinya dengan pelan-pelan, lalu mengulum-ngulumnya sambil mengocok-ngocoknya, dihisap-hisapnya sambil matanya menatap ke wajahku, aku sampai merem melek merasakan kenikmatannya. Kususupkan tangan kananku ke balik kaus dalamnya, masuk ke dalam BH-nya. Buah dadanya yang berukuran sedang tapi padat, kuremas-remas sambil ia terus menghisap-hisap penisku yang semakin menegang.
Kuangkat kepalanya. Kucium bibirnya beberapa saat. Sambil menyingkap roknya yang pendek. Penisku hanya kuselipkan di antara celana dalamnya. Dan ia mulai menduduki penisku. Lalu aku mulai pelan-pelan memasukkan penisku ke liang surganya yang mulai basah. Ia mengerang kenikmatan. Kedua tangannya bertumpu di atas meja. Sambil dia maju-mundur, penisku seperti diremas-remas, dikocok-kocok, dipelintir-pelintir.
Sepuluh menit kami berada dalam posisi seperti itu. Aku merasa sudah tidak tahan lagi. Akhirnya aku meledak. Setelah ia merapihkan celanaku, ia membereskan pakaiannya sendiri yang berantakan. 15 menit dan ia telah duduk kembali di mejanya.
Pukul 12.00 waktu makan siang. Aku sudah beres-beres ketika interkom itu berbunyi lagi.
"Telepon Pak Ricky, dari Felly."
Shit..! Benar-benar aku ingin menghindar darinya.
"OK, sambungkan..!" Entah mengapa lidahku sulit diajak kompromi kalau sudah soal Felly.
"Hallo, Ricky, kamu kemaren kemana? Katanya mau telepon." Langsung nyerocos tanpa titik koma.
"Aku sekarang ada di Lobby bawah, gimana kalau kita makan siang?"
"Sorry Fell, kemaren ada trouble di server di Singapore," Aku menghela napas, "Ok 10 menit lagi aku ada di Lobby bawah."
Senang? Bingung? Kangen? segala macam perasaan bercampur aduk di kepalaku. Aku berpikir bahwa apa yang kulakukan dengan Indri tadi pagi dapat melupakan semuanya. Ternyata tidak. 2 tahun yang lalu aku pikir aku sudah terbebas darinya. Ternyata..?
Tidak ada yang jelek dari Felly. Hanya bosan. Itu saja. Mungkin benar apa yang diriset oleh siapa namanya, aku lupa, yang jelas pernah di-film-kan dengan judul "Someone Like You", bahwa kebiasaan sapi yang tidak mau mengawini sapi betina yang pernah di fertilisasi olehnya berlaku pada manusia.
Akhirnya kami makan siang bersama. Setengah jam kemudian aku telah lupa bahwa aku sudah tidak ingin lagi bertemu dengan Felly. Yang ada di otakku adalah bagaimana caranya membujuk Felly untuk mau menemaniku di tempat tidur nanti malam. Itu saja. Omongannya yang menceritakan pengalaman dua tahun berpisah denganku tidak kudengarkan.
Akhirnya acara makan siang selesai jam 14.00 dengan janji kami bertemu lagi nanti sepulangku dari kantor. What I need now is you in my bed.
Jam 14.30 aku kembali ke kantor. Dicemberuti oleh si Indri. Dia selalu cemberut kalau aku keluar bersama cewek. Tapi dia menyadari bahwa apa yang ada pada kami bukanlah cinta. Dan kami pernah membicarakan hal itu.
Jam 15.00 ditelan kesibukanku, aku telah melupakan Felly. Kisah anjing makan anjing lebih menarik bagiku. Tidak ada niat sedikitpun untuk menindak lanjuti pembicaraan kami. Sampai jam 5 sore, waktu karibku menelpon aku malah buat janji dengannya untuk clubbing di Zanzibar. Yang aku tidak habis pikir, besok bila Felly menelponku, aku akan memberinya sejuta alasan masuk akal tentang kemangkiranku dan dia akan memaafkan. Itu yang ada di otakku. Entah aku yang terlalu cerdik atau dia yang terlalu tolol. Ataukah memang Love is Blind.
Singkat cerita kami berempat dengan teman-temanku ke Zanzibar. Ketiga temanku berhasil mendapatkan DFA di sana. Aku juga dapat sebenarnya. Tapi entah mengapa aku tidak tertarik padanya. Dan teringat Felly. Segera kutinggalkan teman-temanku dan menuju rumahnya.
Jam 23.00.
Keterlambatanku dengan selalu menyalahkan kapitalis-kapitalis rakus itu, dimaafkannya dengan mudah. Bahkan ia tidak sadar bahwa aku telah berganti pakaian dengan waktu bertemu tadi siang. Kami mengobrol panjang lebar hingga tengah malam. Akhirnya dapat ditebak. I took her to the bed. Entah bagaimana ceritanya, kami 'jadian' lagi. Malam itu begitu indah. Entah mengapa rasanya lain sekali tubuhnya malam itu. Aku merasa benar-benar mencintainya. Tidak dapat dipungkiri.
3 kali kami melakukannya malam itu. Sampai pagi. Dengan janji kami jalan bareng lagi. Jam 6 pagi aku meninggalkan rumahnya. Baru 2 km dari rumahnya, aku memukul-mukulkan tanganku ke stir mobil ini. "What have you done you moron. Leave her Alone..!"
Tamat
Malam itu malam minggu. Hard Rock Cafe cukup ramai. Tempat ini sejarah bagiku. Paling tidak aku kehilangan keperjakaanku gara-gara tempat ini beberapa tahun lalu. Suasana yang hiruk-pikuk di sana bukan merupakan gangguan pada penatnya tubuhku yang bukan main, sehabis dicabik-cabik seharian oleh monster-monster kapitalis lapar itu.
Memang sebagian orang menyangka hidupku enak, mungkin bukan sebagian, hampir setiap orang yang mengenalku lebih dari seminggu berpendapat demikian.
Star TV di pojokan bar menampilkan balap sepeda yang tidak berujung pangkal. Bule-bule itu minum dan tertawa, ditemani wanita mereka yang tidak kalah menggelikannya. Kadang-kadang aku berpikir dibayar pun tidak mau aku untuk tidur dengan mereka dengan wajah mengerikan yang mereka miliki. Buat mereka life style seperti ini murah bukan main. Uang kita bagai setumpuk kertas gurauan dengan angka nol berderet-deret.
Pukul 2 lewat. Kepalaku sudah berat. Hampir setengah botol kutenggak black label dari si Oghe. Gawat pikirku. Aku benar-benar tidak kuat untuk stir mobilku. HRC hampir tutup. Setelah tarik urat syaraf sebentar karena kartu ajaibku tidak mau digesek, akhirnya aku terbebas setelah mereka mengawalku ke mesin ATM di Sarinah bawah. Memang ini hari sialku.
Apa tidak ada yang bisa bikin aku lebih sial lagi? Kepalaku sudah berat bukan kepalang. Aku termenung sejenak berjongkok di depan mesin ATM itu.
"Hey Ricky."
Aku mendongakkan kepala. Kulihat sebuah Honda Civic berhenti di depanku. Felly menampakkan wajahnya di jendela belakang. Mobil itu penuh dengan manusia. Hampir setengah lusin dengan perbandingan yang tak jelas antara pria dan wanitanya.
Felly akhirnya turun dari mobil dan berjalan ke arahku.
"Hey, kenapa lo?"
"Hhh, nggak apa-apa," jawabku sambil berusaha berdiri dan menegak-negakkan badan. "Hanya sedikit over drive."
"Elo sendirian?"
Kujawab dengan anggukan lemah.
"Lo bawa mobil?" Ia menatapku cemas.
"He eh."
"Tunggu di sini sebentar." Ia berkata itu lalu berjalan menuju kawan-kawannya. Entah apa yang mereka bicarakan di sana.
Felly ini gadis baik. Pernah dengan setianya menemaniku beberapa tahun. Entah apa kurangnya gadis cantik ini hingga aku menyia-nyiakannya. Serong kiri kanan, cari di luaran. Main dobel. Sampai-sampai sempat aku berpacaran dengan 2 wanita lain sekaligus ketika aku berpacaran dengannya. Sampai ia tidak tahan dan memutuskan aku 2 tahun yang lalu. Sejak itu aku tak tahu kabar beritanya.
Entah apa yang dibicarakannya dengan teman-temannya. Yang jelas semenit kemudian ia telah kembali dan berusaha merangkulku. Terus terang untuk berdiri pun aku sulit saat itu. Ia memapahku berjalan menuju mobilku. Entah kapan ia mengambil kunci wrenglerku. Atau ia sekarang punya kepandaian mencopet?
Tahu-tahu aku didudukkan di bangku kiri. Ia sendiri kemudian mengambil duduk di bangku kanan dan mulai mengemudi. Kami keluar di jalan Sunda terus menuju Thamrin. Aku tertidur.
Jam 8 pagi aku terbangun. Panas, itu yang kurasakan. Matahari pagi begitu terik. Sejenak aku linglung. Detik berikutnya baru aku sadar di mana aku. Di Carport. Tapi rumah siapa ini? Rumah Felly?
Belum habis keherananku, tiba-tiba ada ketukan di kaca jendelaku. Seorang wanita tua berusaha berbicara denganku. Kubuka kaca jendela.
"Den ditunggu non Felly, katanya aden disuruh masuk."
"Iya Bik."
Aku merapihkan pakaianku, berjalan mengikuti bibik tua itu ke dalam.
"Silahkan duduk Den."
Aku duduk di ruang tamu. Lima menit aku terbengong-bengong sendiri. Sampai akhirnya Felly keluar dari kamarnya. Segar. Tampaknya ia baru selesai mandi. Dengan mengenakan daster pendek jauh di atas lutut model tank top. Aku tidak tahu namanya, menurutku itu daster.
Tampak dewasa sekali ia. Sangat berbeda dengan ketika kukenal ia 2 tahun yang lalu.
"Udah bangun?"
Kuberikan senyumku yang termanis.
"Masih saja jadi petualang," katanya sambil duduk di hadapanku, "Tapi masih tetap seperti dulu. Tanpa perhitungan."
Senyumku berubah kecut.
"Anyway, apa artinya aku ini. Sudah capek aku menasehatimu, tapi kelakuannmu tidak juga berubah."
"Okay Fel, Thanks and sorry for every trouble you got," kataku sambil bediri, bersiap untuk pulang.
Ketika melewatinya ia menangkap tanganku. Gosh, these girls are so easy.
"Duduklah dulu, kopimu sedang dibuatkan."
Masih pura-pura lesu, aku kembali ke tempat duduk asalku.
"Kamu kenapa lagi Rick?" Felly bertanya dengan lembut.
Ini yang kusukai dari cewek-cewek itu. Mereka punya hati. Sebenarnya tidak ada apapun yang mengganggu pikiranku. Aku bukan remaja frustasi yang melarikan diri ke dalam alkohol. Malah sebenarnya aku hanyalah Social Drinker yang hanya kebetulan agak terlalu social semalam. Aku masih jauh dari garis alkoholik. Tapi sengaja aku membuat diriku seolah-olah seorang yang sedang dalam trauma psikis yang hebat. Aku duduk. Menunduk lesu. Selama pacaran dengannya, ia sama sekali tidak tahu kalau aku suka minum.
"Sejak kapan kamu minum Rick?"
Aku tidak menjawab. Kubuat sikapku persis seorang remaja putus asa akibat problem rumah tangga menahun.
"Ok Ricky, Biar bagaimanapun.. kamu pernah menjadi seseorang yang sangat berarti bagiku," ia terdiam sebentar.
"Rick, aku harus pergi sekarang," ia diam sejenak, "Nanti sore kau boleh telepon aku."
"Thanks Fell," aku berdiri mendekat, kukecup keningnya dan kutinggalkan ia.
Kutinggalkan rumahnya menuju rumahku.
Ini yang kuheran. Sudah lama sebenarnya aku bosan dengannya. Tapi mengapa setiap ketemu dengannya aku selalu merasa membutuhkannya. Dulu waktu kami masih pacaran hampir selusin kali kami bubar dan balik lagi. Selalu saja kami gagal bubaran kalau kami saling bertemu. Dan sekarang kejadian lagi. Aku merutuki diriku sendiri. Ada apa sebenarnya dengan dirinya? Permainan Sex-nya? Tidak juga. Banyak cewek-cewekku yang jauh lebih menarik untuk kuajak ke tempat tidur. Entah mengapa aku tidak dapat lepas darinya.
Kalau aku tidak bertemu dengannya, tidak ada sama sekali rasa kehilangan atau kangen atau apalah namanya. Tapi entah mengapa hatiku (Sebagian temanku bilang aku tidak punya.. -Mereka Salah-) luluh kalau berhadapan dengannya.
Hari Senin di kantor.
"Pak Ricky, telepon dari Felly," Indri, sekretarisku di interkom.
Felly lagi. Bisa berkepanjangan kalau aku bicara dengannya. Terus terang hal terakhir yang kubutuhkan saat ini adalah berbicara dengannya.
"Bilang aku sedang keluar kantor," balasku di interkom, "Kamu ke sini sekarang, jangan lupa kunci pintu kalau masuk."
"Ah, Bapak."
Indri sekretaris terbaik yang kumiliki. Selain kapabilitasnya yang terjamin, blow job-nya juga bukan main. Tidak sampai satu menit ia sudah masuk dan mengunci pintu ruanganku. Mungkin a quicky morning akan melupakan Felly. Ia selalu sengaja memakai baju-baju kerja yang menonjolkan keindahan tubuhnya. dengan dada berukuran 34B. Tinggi 168 cm, berat proporsional dan sebuah fitnes center dengan rajinnya memahat tubuhnya beberapa kali dalam seminggu.
Setelah sampai di dekatku, aku memutar kursiku hingga menghadap ke samping. Kutarik tangannya ke selangkanganku. Ia tersenyum lalu berjongkok dan membuka ritsluiting celana panjangku. Dimasukkannya tangannya ke dalam celana dalamku, lalu ditariknya penisku, kemudian dikeluarkannya.
Ia mulai menjilatinya dengan pelan-pelan, lalu mengulum-ngulumnya sambil mengocok-ngocoknya, dihisap-hisapnya sambil matanya menatap ke wajahku, aku sampai merem melek merasakan kenikmatannya. Kususupkan tangan kananku ke balik kaus dalamnya, masuk ke dalam BH-nya. Buah dadanya yang berukuran sedang tapi padat, kuremas-remas sambil ia terus menghisap-hisap penisku yang semakin menegang.
Kuangkat kepalanya. Kucium bibirnya beberapa saat. Sambil menyingkap roknya yang pendek. Penisku hanya kuselipkan di antara celana dalamnya. Dan ia mulai menduduki penisku. Lalu aku mulai pelan-pelan memasukkan penisku ke liang surganya yang mulai basah. Ia mengerang kenikmatan. Kedua tangannya bertumpu di atas meja. Sambil dia maju-mundur, penisku seperti diremas-remas, dikocok-kocok, dipelintir-pelintir.
Sepuluh menit kami berada dalam posisi seperti itu. Aku merasa sudah tidak tahan lagi. Akhirnya aku meledak. Setelah ia merapihkan celanaku, ia membereskan pakaiannya sendiri yang berantakan. 15 menit dan ia telah duduk kembali di mejanya.
Pukul 12.00 waktu makan siang. Aku sudah beres-beres ketika interkom itu berbunyi lagi.
"Telepon Pak Ricky, dari Felly."
Shit..! Benar-benar aku ingin menghindar darinya.
"OK, sambungkan..!" Entah mengapa lidahku sulit diajak kompromi kalau sudah soal Felly.
"Hallo, Ricky, kamu kemaren kemana? Katanya mau telepon." Langsung nyerocos tanpa titik koma.
"Aku sekarang ada di Lobby bawah, gimana kalau kita makan siang?"
"Sorry Fell, kemaren ada trouble di server di Singapore," Aku menghela napas, "Ok 10 menit lagi aku ada di Lobby bawah."
Senang? Bingung? Kangen? segala macam perasaan bercampur aduk di kepalaku. Aku berpikir bahwa apa yang kulakukan dengan Indri tadi pagi dapat melupakan semuanya. Ternyata tidak. 2 tahun yang lalu aku pikir aku sudah terbebas darinya. Ternyata..?
Tidak ada yang jelek dari Felly. Hanya bosan. Itu saja. Mungkin benar apa yang diriset oleh siapa namanya, aku lupa, yang jelas pernah di-film-kan dengan judul "Someone Like You", bahwa kebiasaan sapi yang tidak mau mengawini sapi betina yang pernah di fertilisasi olehnya berlaku pada manusia.
Akhirnya kami makan siang bersama. Setengah jam kemudian aku telah lupa bahwa aku sudah tidak ingin lagi bertemu dengan Felly. Yang ada di otakku adalah bagaimana caranya membujuk Felly untuk mau menemaniku di tempat tidur nanti malam. Itu saja. Omongannya yang menceritakan pengalaman dua tahun berpisah denganku tidak kudengarkan.
Akhirnya acara makan siang selesai jam 14.00 dengan janji kami bertemu lagi nanti sepulangku dari kantor. What I need now is you in my bed.
Jam 14.30 aku kembali ke kantor. Dicemberuti oleh si Indri. Dia selalu cemberut kalau aku keluar bersama cewek. Tapi dia menyadari bahwa apa yang ada pada kami bukanlah cinta. Dan kami pernah membicarakan hal itu.
Jam 15.00 ditelan kesibukanku, aku telah melupakan Felly. Kisah anjing makan anjing lebih menarik bagiku. Tidak ada niat sedikitpun untuk menindak lanjuti pembicaraan kami. Sampai jam 5 sore, waktu karibku menelpon aku malah buat janji dengannya untuk clubbing di Zanzibar. Yang aku tidak habis pikir, besok bila Felly menelponku, aku akan memberinya sejuta alasan masuk akal tentang kemangkiranku dan dia akan memaafkan. Itu yang ada di otakku. Entah aku yang terlalu cerdik atau dia yang terlalu tolol. Ataukah memang Love is Blind.
Singkat cerita kami berempat dengan teman-temanku ke Zanzibar. Ketiga temanku berhasil mendapatkan DFA di sana. Aku juga dapat sebenarnya. Tapi entah mengapa aku tidak tertarik padanya. Dan teringat Felly. Segera kutinggalkan teman-temanku dan menuju rumahnya.
Jam 23.00.
Keterlambatanku dengan selalu menyalahkan kapitalis-kapitalis rakus itu, dimaafkannya dengan mudah. Bahkan ia tidak sadar bahwa aku telah berganti pakaian dengan waktu bertemu tadi siang. Kami mengobrol panjang lebar hingga tengah malam. Akhirnya dapat ditebak. I took her to the bed. Entah bagaimana ceritanya, kami 'jadian' lagi. Malam itu begitu indah. Entah mengapa rasanya lain sekali tubuhnya malam itu. Aku merasa benar-benar mencintainya. Tidak dapat dipungkiri.
3 kali kami melakukannya malam itu. Sampai pagi. Dengan janji kami jalan bareng lagi. Jam 6 pagi aku meninggalkan rumahnya. Baru 2 km dari rumahnya, aku memukul-mukulkan tanganku ke stir mobil ini. "What have you done you moron. Leave her Alone..!"
Tamat
Langganan:
Postingan (Atom)